Anda di halaman 1dari 27

REFERAT TANAMAN HERBAL AFRODISIAK

Blok Kedokteran Herbal

Kelompok 2

Muhammad Achya Farhany (1513010008)


Juniar Faiz Musafich (1513010025)

Tutor : dr. Dyah Retnani Basuki, M. Kes, AAAK.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul Tanaman Herbal Afrodisiak.
Referat ini disusun sebagai salah satu tugas persyaratan Blok Kedokteran Herbal.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. dr. Dyah
Retnani Basuki, M. Kes, AAAK., sebagai pembimbing dalam pembuatan referat
ini. Tidak lupa terima kasih juga penulis sampaikan kepada dokter pembimbing di
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas bimbingannya
selama ini.
Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, dan masih
banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu diharapkan bantuan dari
dokter pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan saran dan
masukan yang berguna bagi penulis.
Lepas dari segala kekurangan yang ada, saya berharap semoga referat ini
membawa manfaat bagi kita semua.

Purwokerto, 03 September 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................2


BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................4
A. Latar Belakang .........................................................................................4
B. Tujuan .......................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................6
1. Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) .........................................................6
2. Cabe Jawa (Piper retrifractum) .............................................................10
3. Bunga Cengkeh (Syzygii Aromatii Flos) ...............................................13
4. Purwoceng (Pimpella alpine Molk) .......................................................16
5. Som Jawa (Talinum paniculatum Gaertin)...........................................18
6. Biji Pala (Myristicae Fragransis Semen) ..............................................20
BAB III PENUTUP ..............................................................................................25
A. Kesimpulan .............................................................................................25
B. Saran .......................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................26

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disfungsi seksual lebih sering muncul pada laki-laki daripada
wanita. Sekitar 10% terjadi di segala umur, meningkat lebih dari 50%
pada laki-laki diantara mereka yang berumur 50 dan 70 tahun. Hal tersebut
terjadi karena jumlah sel Leydig menurun sekitar 40%, dan kekuatan
hormon pulsatile lutenizing melepaskan kekuatannya. Sejalan dengan
peristiwa ini, tingkat testosterone bebas menurun sekitar 1,2% per tahun
(Darwati, 2006).
Afrodisiak berasal dari nama Aphrodite, dewi kecantikan, cinta, dan
seks dalam mitos Yunani. Afrodisiak adalah semua bahan (obat dan
makanan) yang dapat membangkitkan gairah seksual (Pallavi et al., 2011).
Di Indonesia terdapat banyak bahan tanaman obat herbal alami yang dapat
digunakan sebagai obat kuat seperti pisang, lengkuas, tiram, kucai,
belimbing wuluh, ginseng, jahe, terong ungu, pare, adas, pasak bumi,
bawang putih dan biji selasih dan lainnya (Harmusyanto, 2013).
Afrodisiaka dapat digambarkan sebagai beberapa zat yang dapat
meningkatkan rangsangan seks dan atau kesenangan seksual. Afrodisiaka
dapat juga dipandang sebagai makanan, obat, adegan atau
perlengkapan yang dapat menimbulkan atau meningkatkan rangsangan
seksual atau libido. Gangguan seksual dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Seperti faktor psikologi (perasaan cemas, depresi, stress, takut
akan kegagalan seksual). Defisiensi androgen (defisiensi testosteron,
hiperprolactinemia). Penyakit kronis (diabetes mellitus, hipertensi).
Insufisiensi vaskuler (aterosklerosis, venous leakage). Penyakit penile
(Peyronie’s, priapism, phinosis, disfungsi otot polos). Penyakit neurologi
(Parkinson’s disease, stroke, trauma otak, Alzheimer’s disease) (Fauci
et al. 2008).
Gangguan seksual dipengaruhi juga oleh efek samping dari obat-
obatan antihipertensi, antiulcer, antidepresan, antiandrogen; gaya hidup

4
yang tidak sehat seperti kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan merokok;
penuaan yang diikuti dengan penurunan jumlah hormon; penyakit sistemik
meliputi penyakit kardiovaskuler, hati, ginjal, kanker, metabolik, pasca
transplantasi organ. Indonesia merupakan negara yang kaya akan beraneka
ragam macam tanaman berkhasiat yang dapat digunakan untuk
mengatasi berbagai macam penyakit serta obat yang dapat
meningkatkan gairah seksual (afrodisiak) (Fauci et al. 2008).

B. Tujuan
1. Mengetahui tanaman herbal yang berfungsi sebagai afrodisiak,
2. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman Pasak bumi,
3. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
Cabe jawa.
4. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
Bunga Cengkeh.
5. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
Purwoceng.
6. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
Som Jawa.
7. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
Biji pala.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pasak Bumi (Eurycoma longifolia)


A. Deskripsi
Pasak bumi (Eurycoma longifolia) adalah salah satu jenis tumbuhan
asli Indonesia. Namun tumbuhan ini juga tersebar di hutan hutan
Malaysia, Thailand, Philiphina, Vietnam dan Birma (Minorsky, 2004).
Pasak bumi merupakan salah satu tumbuhan yang tumbuh liar di hutan
hutan Indonesia. Pasak bumi merupakan tanaman yang tumbuh subur di
Kalimantan dan sangat terkenal dikalangan masyarakat Dayak
(Permenkes, 2016).
Pasak bumi tumbuh tegak lurus dan tidak bercabang tingginya bisa
mencapai 15 meter dengan diameter pohon mencapai 20 cm dan jarang
sekali mencapai daerah yang letaknya pada ketinggian 500 meter diatas
permukaan laut. Pasak bumi memiliki tipe daun majemuk dengan daun
berbentuk lanset atau bundar telur dan ujung sedikit meruncing. Tipe
perbungaan malai dan bunganya berwarna merah serta seluruh bagian
bunga berbulu halus, buahnya berwarna hijau ketika muda dan berubah
menjadi kuning kemerah merahan ketika masak. Akarnya tunggang dan
tumbuh tegak lurus menusuk kedalam tanah (Permenkes, 2016).
B. Taksonomi

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyte
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Ranunculales
Famili : Simaroubaceae
Genus : Eurycoma
Species : Eurycoma longifolia (BPOM RI, 2010).

6
Gambar 1. Pasak Bumi (BPOM RI, 2010)
C. Kandungan Kimia
Hasil menunujukkan bahwa di dalam ekstrak methanol akar pasak
bumi dilaporkan terkandung 65 ragam senyawa, termasuk di dalamnya
golongan quassinoid, canthin-6-one alkaloid, β-carboline alkaloid,
tirucallane-type triterpen, squalene derivatif, squalene-type triterpene
dan Lebih lanjut, dilaporkan pula bahwa di dalam fraksi polar akar
pasak bumi terkandung 22 macam senyawa yakni 13β,21-
dihydroxyeurycomanol 5α 14β 15β-trihydroxyklaineanone,
eurycomanol-2-O-β-D-glucopyranoside, natrium syringate, sodium p-
hydroxybenzoat, nikotinic acid, adenosin, guanosine, thymidine,
erythro-1-Csyringylglycerol, threo-1-C-syringylglycerol,
erythroguaiacylglycerol, threo-guaiacylglycerol, eurycomanone;
pasakbumin B, pasakbumin C, iandonone, threo-1,2-bis-(4-hydroxy-3-
methoxyphenyl) propane- 1,3-diol; canthin-6-one 9-O-β-
glucopyranoside, 9- hydroxycanthin-6-one 3N-oxide, picrasidine, 1-
hydroxycanthin-6-one (Permenkes, 2016).

7
D. Mekanisme Kerja
Alkaloid Eurikumanon dari tanaman pasak bumi ini yang diyakini
dapat bersifat afrodisiaka dengan merangsang libido (gairah seksual)
(Permenkes, 2016).
E. Uji Pre Klinik
Efek ekstrak E. longifolia per oral dengan dosis 2 x 200, 400 dan
800 mg/kg BB selama 10 hari sebelum dan selama pengujian terhadap
inisiasi kinerja seksual dan berat aksesori seksual pada tikus yang
dikastrasi. Sebagai kontrol testosterone 15 mg/kg BB/hari subkutan
selama 32 hari. Hasil menunjukkan bahwa E. longifolia meningkatkan
kinerja seksual secara tergantung dosis pada tikus yang diterapi E.
longifolia, tetapi lebih rendah dari kelompok testosterone dalam hal
mounting, intromission dan ejakulasi. E. Longifolia meningkatkan
pertumbuhan prostat bagian ventral dan vesikula seminalis dibanding
kontrol, tetapi pertumbuhan aksesori seksual pada fraksi butanol,
metanol, air dan kloroform dari E. longifolia 800 mg/kg BB lebih kecil
dari pada kelompok testosterone (Permenkes, 2016).
Studi ini memperlihatkan efek E. longifolia sebagai aphrodisiak.
Juga ada peningkatan sementara dalam persentase tikus yang berespon
pada pilihan yang benar setelah pemberian kronik 0,5 g/kg BB E.
longifolia, dengan skor > 50% pilihan benar setelah terapi 2 minggu dan
tidak ada peningkatan pada kontrol dan pilihan benar hanya 45-55%.
Disimpulkan E. longifolia meningkatkan kualitas seksual tikus, dan efek
aphrodisiac (Permenkes, 2016).
F. Uji Klinik
Kombinasi ekstrak Eurycoma longifolia dan Polygonum minus
(antioksidan) 300 mg digunakan sebagai aprodisiaka pada 12 laki-laki
berumur 40-65 tahun selama 12 minggu secara RCT, dengan kontrol
plasebo (14). Hasil menunjukkan peningkatan skor bermakna terhadap
fungsi ereksi maksimal (P < 0.05 ) (Permenkes, 2016).

8
Studi lain menggunakan 300 mg ekstrak air Eurycoma longifolia
atau plasebo selama 12 minggu terhadap 109 lakilaki usia 30-55 tahun.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas hidup melalui
kuisioner SF-36 dan Sexual Well-Being melalui International Index of
Erectile Function (IIEF) and Sexual Health Questionnaires (SHQ);
Seminal Fluid Analysis (SFA), massa lemak dan profil keamanan.
Kelompok perlakuan secara bermakna meningkatkan Physical
Functioning dari SF-36, dari baseline dibandingkan plasebo
(Permenkes, 2016).
G. Indikasi
Pasak bumi digunakan sebagai afrodisiak (Permenkes, 2016).
H. Kontra Indikasi
sebaiknya dikonsumsi dengan hati-hati dan tidak dalam jangka waktu
lama secara terus menerus(BPOM RI, 2010).
I. Interaksi Obat
Penggunaan bersamaan pasak bumi dengan substrat CYP2D6 dapat
meningkatkan substrat CYP2D6 dalam plasma (BPOM RI, 2010).
J. Efek Samping
Insomnia, gelisah, dan tidak sabar (Permenkes, 2016).
K. Toksisitas
Uji toksisitas akut terhadap tikus menunjukkan LDS0 ekstrak
alkohol 50% pasak bumi adalah 1500-2000 mg/kg BB dan ekstrak
airnya 3000 mg/kg BB. Pada uji toksisitas subakut ekstrak alkohol
dengan dosis 600 mg/kg BB/ hari menunjukkan gejala toksisitas,
sedangkan dosis 200 mg/kg BB/ hari tidak menunjukkan gejala
toksisitas, dan pada uji subakut yang lain gejala toksik tidak ditemukan
pada dosis 270-350 mg/kg BB/ hari dan gejala toksik terlihat pada
pemberian dosis 430 mg/kg BB/ hari. Gejala toksisitas subakut yang
diamati meliputi peningkatan berat liver, ginjal, limpa dan testis. Uji
toksisitas akut pada mencit dengan pemberian 50% ekstrak etanol pasak
bumi menunjukkan LDS0 sebesar 1,89 g/kg BB dengan pemberian

9
peroral, sedangkan urikomanon yang diberikan peroral bersifat toksik
dengan LD50 0,05 g/kg BB.
L. Posologi
1 x 1 kapsul (400 mg ekstrak batang/akar) (Permenkes, 2016).

2. Cabe Jawa (Piper Retrifractum)


A. Deskripsi
Tumbuhan menahun, percabangan tidak teratur, tumbuh memanjat,
melilit, atau melata dengan akar lekatnya, panjangnya dapat mencapai
10 m. Percabangan dimulai dari pangkalnya yang keras dan menyerupai
kayu. Daun tunggal, bertangkai, bentuk bulat telur sampai lonjong,
pangkal seperti jantung atau membulat, ujung agak runcing atau
meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin,
permukaan bawah berbintik-bintik, helaian daun liat seperti daging,
warna hijau, panjang 8,5-30 cm, lebar 3-13 cm, tangkai daun 0,5-3 cm
(Permenkes, 2016).
Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak
atau sedikit merunduk; ibu tangkai bunga 0,5-2 cm; daun pelindung
bentuk bulat telur sampai elips, 1-2 mm, berwarna kuning selama
perkembangan bunga; bulir jantan 2-8 cm; benang sari 2, jarang 3,
sangat pendek; bulir betina 1,5-3 cm; kepala putik 2-3, pendek, tumpul.
Buah majemuk, termasuk tipe buah batu, keras, berlekatan atau
bergerombol teratur dan menempel pada ibu tangkai buah, bentuk bulat
panjang sampai silindris dengan bagian ujung menyempit, warnabuah
merah cerah; biji berdiameter 2-3 mm (Permenkes, 2016).
B. Taksonomi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

10
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : piperales
Famili : piperaceae
Genus : piper
Spesies : piper retrifractum

Gambar 2. Cabe jawa (Permenkes, 2016)


C. Kandungan Kimia
Alkaloid: piperin, kavisin, piperidin, isobutildeka-trans-2-trans-4-
dienamida; saponin, polifenol, minyak atsiri, asam palmitat, asam
tetrahidropiperat, 1-undesilenil-3,4 metilendioksibenzena, dan sesamin
(Permenkes, 2016).
D. Mekanisme Kerja
Cabe jawa bersifat androgenik. Androgen digunakan untuk bahan-
bahan yang kerja biologiknya sama dengan testosterone. Fungsi utama
hormon testosteron adalah merangsang perkembangan dan aktivitas
organ-organ reproduksi dan sifat seks sekunder. Testosterone adalah
androgen utama pada kaum pria. Androgen diperkirakan bertanggung
jawab terhadap keagresifan dan tingkah laku seksual pada pria. Salah
satu sumber androgen di alam adalah buah cabe jawa (Permenkes,
2016).
Oleh karena itu cabe jawa bias digunakan sebagai aprodisiak karena
mempunyai efek androgenic, untuk anabolik, dan sebagai antivirus.

11
Secara umum kandungan kimia yang berperan sebagai aprodisiaka
adalah turunan steroid, saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa lain yang
dapat melancarkan peredaran darah (Permenkes, 2016).
E. Uji Pre Klinik
Infusa buah cabe jawa dosis 0,21; 2,1 dan 21 mg/10 g BB yang
diberikan pada tikus putih jantan selama 33 hari, pembanding
metiltestosteron 12,5 μg/10 g BB, hasil dosis 2,1 mg/10 g BB
memberikan efek androgenik dan anabolik maksimal (Permenkes,
2016).
F. Uji Klinik
Ekstrak buah cabe jawa dosis 100 mg/hari diberikan pada 9 pria
hipogonad, hasil 7 dari 9 pria hipogonad mengalami peningkatan kadar
testosteron, bersifat androgenik lemah dan 9 pria tersebut meningkat
frekuensi koitusnya (Permenkes, 2016).
G. Indikasi
Cabe jawa mempunyai efek afrodisiak (Permenkes, 2016).
H. Kontra Indikasi
Alergi (Permenkes, 2016).
I. Interaksi Obat
Dapat meningkatkan absorpsi dan kadar obat fenitoin, propranolol
dan teofilin dalam darah apabila obat tersebut digunakan bersama
dengan herbal ini (Permenkes, 2016).
J. Efek Samping
Dapat menimbulkan respiratory distress syndrome bila terinhalasi
(Permenkes, 2016).

K. Toksisitas
Termasuk kategori toksik sedang. Uji toksisitas akut ekstrak ethanol
cabe jawa yang diberikan secara oral pada mencit menujukan
LD50 sebesar 3,32 mg/10 g. sedangkan uji sukronik yang dilakukan
selama 90 hari dengan dosis ekstrak ethanol cabe jawa 1,25; 3,75 dan

12
12,5 mg/200 g BB Tikus, menunjukan tidak menimbulkan kerusakan
pada organ penting (BPOM RI, 2010).
L. Posologi
1x1 kapsul (100 mg ekstrak)/hari.

3. Bunga Cengkeh (Syzygii Aromatii Flos)


A. Deskripsi
Habitus berupa pohon dengan tinggi mencapai 10 m. Batang berkayu,
bercabang banyak, berbentuk bulat dan mengkilap, saat masih muda
berwarna hijau, setelah tua berwarna keunguan. Daun tunggal, terletak
berhadapan, berbentuk bulat telur hingga bulat telur memanjang dengan
pangkal sangat runcing, ujung meruncing dan tepinya rata. Pertulangan
daun menyirip sedangkan permukaan atas mengkilap (BPOM RI, 2010).
Panjang daun 6-13 cm dan lebarnya 2,5-5 cm, panjang tangkai 1-2
cm, saat masih muda berwarna merah dan setelah tua berwarna hijau,
helaian daun seperti kulit dan berbintik-bintik kelenjar. Bunga
majemuk, berbentuk malai, tumbuh di ujung batang. Kelopak bunga
berbentuk corong, berjumlah 4 helai, tebal, berlekatan membentuk
tabung kelopak yang agak silindris atau bersegi 4, hijau kekuningan atau
kemerahan. Mahkota bunga berjumlah 4 helai saling berlekatan,
berbentuk tudung dengan panjang 4-5 mm, bagian ujung membulat,
warna kemerahan. Benang sari banyak, panjangnya ± 5 mm, terkumpul
dalam berkas, masing-masing berkas terdiri atas 10 benang sari.Tangkai
putik pendek, saat masih muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna
merah. Buah buni, berbentuk memanjang atau bulat telur terbalik,
panjangnya 2-2,5 cm dan berwarna merah kehitaman. Bijinya kecil,
berdiameter ± 4 mm dan berwarna cokelat muda. Akarnya berupa akar
tunggang dan berwarna cokelat, berbunga antara bulan April-September
(BPOM RI, 2010).

13
Gambar 3. Bunga Cengkeh (BPOM RI, 2010).
B. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium aromaticum L.
(BPOM RI, 2010).
C. Kandungan Kimia
Sterol/terpen, flavonoid, asam galotanin, kariofilen, vanilin,
eugenin, gum, resin dan minyak atsiri dengan kandungan senyawa fenol
yang sebagian besar terdiri dari eugenol bebas dan sedikit eugenol
asetat, seskuiterpen, sejumlah kecil ester nekton dan alkohol.
Minyak esensial bunga cengkeh kering mengandung beberapa senyawa
antara lain eugenol sebagai (Bhuiyan, 2010)
kandungan utama seluruh bagian tanaman, eukaliptol, 2-heptanol
asetat, kavikol, metil salisilat, kariofilen, benzen,1-etil-3-nitro dan asam
benzoat, 3-(1 -metiletil), eliksen, kariofilen oksida dan afarnesen
(Bhuiyan, 2010).

14
D. Uji Pre Klinik
Penelitian menggunakan 18 ekor tikus putih jantan dewasa dan 10
ekor tikus putih betina dewasa galur Wistar yang telah di adaptasi
selama 2 minggu. Tikus jantan dibagi dalam 3 kelompok secara acak,
masing-masing kelompok diberi larutan CMC 1 % (kontrol negatif),
Sildenafil sitrat (kontrol positif) dan ekstrak cengkeh dengan dosis
500mg/Kg BB dan diamati tingkah lakunya selama 6 hari berturut-turut.
Pengamatan yang dilakukan adalah pengenalan, penunggangan dan
kopulasi. Setiap pengamatan yang terjadi diberi skor 1. Data dianalisis
menggunakan ANOVA satu arah dengan menggunakan uji F, dan jika
bermakna dilanjutkan uji rentang ganda Duncan dengan nilai p < 0,05
(Tjandra, 2006).
Hasil pengamatan didapatkan perbedaan secara bermakna untuk
pengenalan (p = 0,004) dan penunggangan (p = 0,006) antara kelompok
perlakuan dan kontrol negatif. Sedangkan antara kelompok perlakuan
dan kontrol positif tidak berbeda bermakna. Kopulasi tidak dapat
diamati, karena tidak adanya kesediaan tikus betina untuk disetubuhi
tikus jantan (Tjandra, 2006).
E. Indikasi
Mambantu memelihara stamina pria (BPOM RI, 2012).
F. Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pada pasien dengan gangguan fungsi
liver, sedang mengkonsumsi paracetamol atau obat anti koagulan, serta
pasien yang hipersensitif terhadap tanaman suku Myrtaceae (BPOM RI,
2012).
G. Interaksi Obat
Penggunaan bersama dengan antikoagulan, agen platelet, agen
trombolitik dan heparin BM (berat molekul) rendah dapat meningkatkan
resiko pendarahan. Pada uji fenitoin dapat menghasilkan peningkatan
palsu kadar fenitoin. Metode uji yang lain diperlukan untuk menghindari
hal tersebut (BPOM RI, 2012).

15
H. Efek Samping
Belum pernah dilaporkan adanya efek samping atau baha terhadap
kesehatan pada penggunaan dosis terapi yang tepat. Reaksi alergi
terhadap eugenol jarang terjadi. Bentuk konsentrat minyak bunga
cengkeh dapat mengiritasi jaringan mukosa, serta dermatitis kontak
mungkin timbul (BPOM RI, 2012).
I. Toksisitas
LD50 eufenol pada mencit sebesar 1110mg/kg BB secara
intraperitoneal. Tidak dijumpai adanya kematian bila eugenol diberikan
secara peroral pada mencit. LD50 eugenol secara peroral adalah 2680
mg/kgBB, pada penggunaan secara intratrakea toksisitas bertambah
signifikan sehingga mencapai LD50 11 mg/kgBB. Dosis oral sebesar
35-70 mg/kgBB selama 8 minggu dapat ditoleransi dengan baik pada
tikus, dosis 105 mg/kgBB setelah 2-3 minggu menyebabkan kefatalan.
Dosis tunggal 140 mg menyebabkan kerusakan hati dan ginjal (BPOM
RI, 2012).
J. Posologi
Dosis harian : infusa 3-5 g simplisia diminum hangat 3 kali sehari
(BPOM RI, 2012).

4. Purwoceng (Pimpella alpine Molk)


A. Deskripsi
Purwoceng (Pimpella alpine Molk) adalah tanaman obat langka asli
Indonesia yang memiliki berbagai manfaat sebagai obat dan
dikategorisasikan hampir punah. Habitat asli tanaman purwoceng
hamper punah akibat kegiatan eksploitasi yang berlebihan. Tanaman
purwoceng sulit dibudidayakan diluar habitatnya dan memerlukan
persyaratan argonomis yang spesifik seperti area, tenaga, waktu, dan
biaya yang besar. Dengan demikian maka konservasi invitro merupakan
alternative yang dapat diterapkan agar tidak terjadi kepunahan
(Permenkes, 2016).

16
Purwoceng memiliki ciri – ciri, terna yang hamper menutupi tanah,
tidak memiliki batang hanya pokok akar dimana daun dan tunas tumbuh.
Daun majemuk, meyirip ganjil, tangkai silindris, massif, panjang daun
5 – 30 cm berwarna hijau. Bunga majemuk bentuk paying kelopak kecil,
berwarna hijau atau putih kehijauan, mahkota berbagi 5 kecil dan
berwarna putih. Buahnya berbentuk bulat panjang 1- 2 mm, permukaan
beralur, berwarna coklat. Akar tunggal, sedikit bercabang, berwarna
putih kecoklatan (Permenkes, 2016).
B. Taksonomi
Divisio : Spermatophyta
Class : Angiospermae
Class : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Pimpinella
Spesies : Pimpinella pruatjan Molk
Sinom : Pimpinella alpine Moolk

Gambar 4. Akar dan tanaman purwoceng (Darwati, 2006)

C. Kandungan Kimia
Kandungan yang dimiliki purwoceng adalah kumarin (Bergapten
dan Isobergapten serta xantotoksin, umbelliferon dan marmesin),
saponin, sterol (stigmasterol dan y-sitosterol), furanokumarin
(bergapten, isobergapten, psoralen, dan sfondin (Permenkes, 2016).

17
D. Uji Preklinik
Penelitian pada tikus jantan usia 40 hari menunjukan bahwa
pemberian ekstrak purwoceng 25 mg selama 63 hari meningkatkan
spermatogenesis, meningkatkan jumlah dan motilitas sperma dibanding
control aquades (P<0.01) (Permenkes, 2016)
E. Uji Klinik
Penelitian dilakukan terhadap 40 laki – laki usia 40 tahun dibagi
dalam 2 kelompok. Kelompok pertama diberikan kapsul placebo, dan
kelompok kedua kapsul ekstrak purwoceng 50 mg/hari untuk 15 hari.
Dan hasilnya purwoceng meningkatkan kadar LH, indeks androgen
bebas dan indeks defisiensi androgen (Permenkes, 2016).
F. Indikasi
Aprodisiak dan disfungsi ereksi (Permenkes, 2016).
G. Kontraindikasi
Gagal ginjal, hipertensi, kelainan jantung (Permenkes, 2016).
H. Interaksi obat
Belum diketahui (Permenkes, 2016).

I. Efek samping
Belum diketahui (Permenkes, 2016).

5. Som Jawa (Talinum paniculatum Gaertin)


A. Deskripsi
Herba menahun tinggi bisa mencapai 75 cm. Batang bulat berkayu,
warna ungu. Daun tunggal, bentuk bulat telur memanjang, pangkal
tumpul, tepi rata, permukaan mengkilat dan berwarna hijau. Bunga
majemuk dengan tipe malai. Mahkota berjumlah lima, bentuk bulat telur
dan warna merah kecoklatan. Biji bulat kecil dan berwarna kemerahan.
Akarnya berbentuk seperti akar gingseng, akar berdaging rasanya manis
(Permenkes, 2016).

18
B. Taksonomi
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Anak – klas : Caryophyllida
Bangsa : Caryophyllale
Suku : Portulacacea
Marga : Talinum
Jenis : Talinum paniculatum (Jacq.) Gaertn,
Talinum triangulare (Jacq.) Willd

Gambar 5. Som Jawa (Permenkes, 2016)


C. Kandungan kimia
Saponin, flavonoid, dan tanin (Permenkes, 2016)
D. Uji Preklinik
Pemberian infusa Som Jawa dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB
bahan diberikan selama 50 hari pada mencit (satu siklus
spermatogenesis). Hasil, dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB dapat
meningkatkan motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05)
(Permenkes, 2016).
E. Indikasi
Disfungsi ereksi dan aprodisiak (Permenkes, 2016).
F. Kontraindikasi
Belum diketahui (Permenkes, 2016).

19
6. Biji Pala (Myristicae Fragransis Semen)

A. Deskripsi Tanaman
Habitus berupa pohon, tinggi mencapai 15 m, bertajuk rimbun.
Batang tumbuh tegak, berkayu, bulat, percabangan simpodial dan
berwarna putih susu. Daunnya tunggal berbentuk lonjong, ujung dan
pangkal runcing, tepi rata dengan panjang 8-10 cm dan lebar 3-5 cm,
pertulangan menyirip, mengkilat, hijau. Bunga majemuk, berbentuk
malai, tumbuh di ketiak daun, bunga jantan berbentuk periuk, bunga
betina 1-2 helai, daun pelindung bulat, mahkota bertajuk dan berwarna
kuning. Buah licin, agak bulat, berwarna kuning, panjang 3-6 cm, lebar
3-5,5 cm. Biji kecil, bulat telur, kulit arilus berwarna putih kekuningan
kemudian berubah menjadi merah tua, mengkilat dan berbau wangi,
berwarna hitam kecokelatan. Akar tunggang berwarna putih susu
(BPOM RI, 2010).
B. Taksonomi
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Sub kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub kelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famili : Myristicaceae
Genus : Myristica
Spesies : Myristica fragrans houtt
(Marzuki, 2008)

20
Gambar 6. Biji Pala (Permenkes, 2016)
C. Simplisia
Berupa biji berbentuk bulat telur, warna cokelat kemerahan, bau
khas, rasa agak pahit, pedas dan menimbulkan rasa kelat, panjang 2-3
cm, lebar 1,5-2 cm; warna permukaan luar cokelat muda, cokelat kelabu
dengan bintik dan garis-garis kecil berwarna cokelat tua atau cokelat tua
kemerahan; permukaan luar juga beralur dangkal, membentuk anyaman
seperti jala. Biji terdiri atas endosperm berwarna cokelat muda, diliputi
oleh perisperm tipis berwana cokelat tua; perisperm menembus
endosperm dengan banyak lipatan, embrio kecil, terbenam di dalam
endosperm, terletak dekat liang biji. Jika ditekan biji bagian dalam yang
memar mengeluarkan minyak (BPOM RI, 2010).
D. Habitat Tumbuhan
Tumbuhan ini memerlukan banyak hujan. Daerah yang memenuhi
syarat tersebut adalah kepulauan Banda yang memiliki curah hujan rata-
rata 2.659 mm setahun. Di daerah ini hampir tiap bulan turun hujan,
sehingga tanah perkebunannya jarang mengalami kekeringan,
tumbuhan pala dapat menyesuaikan diri dengan berbagai macam tanah,
terutama dengan tanah yang kaya akan humus dan gembur. Garis tengah
tajuk pohon tergantung pada kesuburan tanah. Di kepulauan Banda tajuk
pohon tidak ada yang melebihi 10-12 m, tetapi di pegunungan muda
yang subur seperti di pulauTernate, ditemukan pohon pala yang bergaris
tengah sampai 20 m dan tinggi satu setengah kalinya (BPOM RI, 2010).

21
E. Kandungan Kimia
Minyak esensial biji pala mengandung senyawa antara lain
monoterpen hidrokarbon: sabinen, apinen, p-pinen, kamfen, p-simen, p-
felandren, y-terpinen, limonen, mirsen; monoterpen alkohol: 1,8sineol;
turunan fenil propana: miristisin, elemisin, safrol; turunan terpen:
linalool, geraniol, 4terpineol; dan asam lemak. Sedangkan biji pala
mengandung sejumlah senyawa predominan yaitu turunan alilbenzen
dan propilbenzen (miristisin, safrol, eugenol dan turunan lainnya); asam
lemak: asam laurat, miristat, pentadekanoat, palmitat, heptadekanoat,
stearat, oleat. Senyawa lain yang terkandung dalam biji adalah saponin,
polifenol, tanin, epikatekin, triterpenoat sapogenin (Muchtaridi et al.,
2010).
F. Efek Farmakologi
Ekstrak etanol 50% biji pala dosis 100, 250 dan 500 mg/kg BB/hari
diberikan selama 7 hari secara peroral pada tikus jantan yang normal
secara seksual, kemudian dilakukan pengamatan terhadap perilaku
kawin, libido, efek samping tukak lambung dan efek samping lainnya
pada hewan uji dibandingkan dengan obat standar sildenafil sitrat 5 mg/
kg BB. Hasil menunjukkan bahwa pemberian ekstrak dosis 500 mg/kg
BB secara signifikan meningkatkan frekuensi mounting (jumlah
tunggangan selama kawin), frekuensi intromission, intromission
latency, ereksi, refleks penis, serta menurunkan secara signifikan
mounting latency dan interval pasca ejakulasi. Selain itu, tidak
ditemukan efek samping akibat pemberian ekstrak maupun adanya
toksisitas akut pada dosis tersebut. Hasil ini mengindikasikan bahwa
ekstrak pala menunjukkan peningkatan signifikan dan berkelanjutan
terhadap aktivitas seksual pada tikus jantan normal (Tajuddin et al.,
2005).
G. Indikasi
Membantu memelihara stamina pria (BPOM RI, 2010).

22
H. Kontraindikasi
Tidak boleh digunakan selama masa kehamilan dan menyusui
(Permenkes, 2016).
I. Peringatan
Penggunaan dosis besar biji pala dapat menimbulkan mual, muntah,
flushing (muka kemerahan), mulut kering, takikardi, stimulasi sistem
saraf yang mungkin disertai kejang seperti epilepsi, miosis, midriasis,
euforia dan halusinasi. Dosis besar juga dapat menimbulkan efek
psikoaktif (Aronson, 2009).
J. Efek yang Tidak Diinginkan
Belum pernah dilaporkan adanya efek samping atau bahaya terhadap
kesehatan pada penggunaan dosis terapi yang tepat. Dapat memicu
alergi dermatitis kontak bagi individu yang sensitif serta diare dan rasa
panas pada lambung atau perut.

23
K. Interaksi Obat
Jangan mengkonsumsi simplisia ini bersamaan dengan obat diare,
clozaril, haldol, navane dan zyprexa. Dapat berinteraksi dengan
penghambat monoamine oksidase (Permenkes, 2016).
L. Toksisitas Serbuk biji
Pala dosis 500 mg/kg BB/hari dan 1000 mg/ kg BB/hari diberikan
secara peroral bersama makanan pada tikus galur Wistar selama 42 hari,
kemudian tikus dikorbankan pada hari ke-43 dan dilakukan pengamatan
histopatologi ginjal. Hasil menunjukkan bahwa ginjal sediaan. tikus
yang diberi perlakuan ekstrak mengalami distorsi struktur kortikal
ginjal, vacuolations (rongga) muncul pada stroma dan tampak adanya
nekrosis sel, disertai perubahan atropi dan degeneratif dibandingkan
dengan kontrol.14 Dosis lebih dari 5 g serbuk biji atau aril buah pala
dapat mengakibatkan kepanikan akut, ansietas, kelemahan, pandangan
ganda, mengantuk, rasa haus luar biasa, halusinasi, sakit kepala, nyeri
ulu hati, mual, sakit perut. Dosis lebih tinggi dari 7 g dapat menimbulkan
delirium, letargi, koma, dilatasi pupil, bradipnea dan bahkan kematian
(Permenkes, 2016).
M. Dosis Dosis harian
Infusa/ dekokta: 1%, 50-200 mL/hari Ekstrak cair: 1-2 kali sehari
Minyak esensial: 1-3 tetes secara peroral, 2-3 kali sehari Sirup: 10-40
mL/ hari Tingtur: 2-10 mL/ hari (Permenkes, 2016).
N. Penyimpanan
Simpan pada wadah yang tertutup rapat, di tempat yang sejuk dan
kering, terlindung dari cahaya matahari dan suhu tidak lebih dari 25°C
(Gruenwald, 2007).

24
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penulis menuliskan beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan referat ini
sebaagai berikut :
1. Afrodisiaka dapat digambarkan sebagai beberapa zat yang dapat
meningkatkan rangsangan seks dan atau kesenangan seksual.
Afrodisiaka dapat juga dipandang sebagai makanan, obat,
adegan atau perlengkapan yang dapat menimbulkan atau
meningkatkan rangsangan seksual atau libido.
2. Beberapa tanaman herbal yang berfungsi sebagai afrodisiaka adalah
Pasak Bumi, Cabe Jawa, Cengkeh, Som Jawa, Purwoceng, dan Biji
Pala.

B. Saran
1. Diharapkan pembaca mampu mengetahui tanaman herbal yang
berfungsi sebagai afrodisiak setelah membaca referat ini.
2. Diharapkan referat ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca.
3. Diharapkan makalah ini dapat menjadi bahan pustaka untuk keperluan
yang semestinya.
4. Perlu telaah lebih lanjut untuk mengetahui manfaat tanaman obat.

25
DAFTAR PUSTAKA

Badan POM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal, Vol. 5, Edisi I, Direktorat Obat Asli
Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,
Jakarta

Badan POM RI. 2012. Acuan Sediaan Herbal, Vol. 7, Edisi I, Direktorat Obat Asli
Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,
Jakarta

Bhuiyan MNI, Begum J, Nandi NC, Akter F. Constituents of the essential oil from
leaves and buds of clove (Syzigium caryophyllatum (L.) Alston). Afr J
Plant Sci. 2010; 4(11): 451-454.

Darwati, I. & I. Roostika. 2006. Status Penelitian Purwoceng (Pimpinella alpina


Molk.) di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah. 12 (No. 1)

Fauci et al. 2008. Severe Sepsis and Septic Shock. Harison’s: Principles of Internal
Medicine 17th Ed. USA: The McGraw Hill Companies
Hapsoh, Hasanah, 2011. Budidaya tanaman obat dan rempah. Medan: USU Press

Harmusyanto, R. 2013. Studi Mengenai Efek Daun Katuk (Sauropus androgynus


(L.) Merr.) Terhadap Libido Kelinci Jantan (Oryctolagus cuniculus)
Sebagai Afrodisiak : Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas
Surabaya
Hipogonad, Laporan Penelitian, Departemen Biologi Kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Jaelani. 2009. Aroma Terapi. Jakarta: Pustaka Populer Obor

Marzuki, I., M.R. Uluputty., A.A. Sandra., dan M. Surahman. 2008. Karakterisasi

Morfoekotipe dan Proksimat Pala Banda (Myristica fragrans Houtt). Bul.

Agron. Vol. 36, No. 2: 146-152.

26
Medlineplus. 2011. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/aboutmedlineplus.html.
Retrieved from National Institute of Health:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/patientinstructions/000386.ht
m
Muchtaridi, Subarnas A, Apriyantono A, Mustarichie R. 2010. Identification of
compounds in the essential oil of nutmeg seeds (Myristica fragrans Houtt.)
that inhibit locomotor activity in mice. Int J Mol Sci. 11:4771-4781
Pallavi KJ, Ramandeep S, Sarabjeet S, Karam S, Mamta F, Vinod S. 2011.
Aphrodisiac agents from Medicinal Plants: A Review, J. Chem. Pharm.
Res., 3(2): 911-921
Permenkes. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6
Tahun 2016 tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia
Rachmadi, A. 2008. Kadar Gula Darah dan Kadar Hormon Testosteron Pada Pria
Penderita Diabetes Melitus Hubungannya Dengan Disfungsi Seksual dan
Perbedaannya dengan yang Tidak Mengalami Disfungsi Seksual [tesis].
Universitas Diponegoro, Semarang

Tjandra, Kristin. 2006. Pengaruh Ekstrak Cengkeh (Syzygium Aromaticum (L.)


Merr. & Perry) Terhadap Libido Tikus Putih Jantan Dewasa (SKRIPSI)

27