Anda di halaman 1dari 36

REFERAT TANAMAN HERBAL HIPERLIPIDEMI

Blok Kedokteran Herbal

Kelompok 2

Faridah Azzah Sari (1513010035)


Glennis Widra Shintyalola (1513010040)

Tutor : dr. Dyah Retnani Basuki, M.Kes., AAAK.

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul Tanaman Herbal
Hiperlipidemi. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas persyaratan Blok
Kedokteran Herbal.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Dyah
Retnani Basuki, M.Kes., AAAK. sebagai pembimbing dalam pembuatan referat
ini. Tidak lupa terima kasih juga penulis sampaikan kepada dokter pembimbing di
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas bimbingannya
selama ini.
Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, dan masih
banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu diharapkan bantuan dari
dokter pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan saran dan
masukan yang berguna bagi penulis.
Lepas dari segala kekurangan yang ada, saya berharap semoga referat ini
membawa manfaat bagi kita semua.

Purwokerto, 3 Septeember 2018

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN..............................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................6
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................6
BAB III..................................................................................................................34
KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................34
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................35

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hiperlipidemia merupakan suatu kelainan metabolisme lipid yang
ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, dan
penurunan HDL di dalam serum (Departemen Kesehatan, 2013). Definisi
lain hiperlipidemia adalah salah satu faktor dari penyakit kardiovaskular
yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia yaitu sebesar
37%, kemudian disusul dengan golongan penyakit menular, kanker, luka-
luka, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis (WHO, 2014).

Prevalensi PJK di Indonesia adalah sebesar 1,5% atau diperkirakan


berjumlah 2.650.340 orang. Persentase tersebut dapat meningkat seiring
dengan bertambahnya umur, tertinggi pada kelompok umur 65-74 tahun
yaitu 2,0% dan 3,6%. Sedangkan prevalensi PJK menurut jenis kelamin,
untuk perempuan sebesar 1,6% dan untuk laki-laki sebesar 1,3%. Estimasi
jumlah penderita PJK terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Barat sebanyak
514.597 orang (14,1%), sedangkan jumlah penderita paling sedikit
ditemukan di Provinsi Papua Barat, yaitu sebanyak 6.690 orang (0,25%)
(PERKI, 2015).

Peningkatan kadar trigliserida dalam plasma berhubungan erat


dengan timbulnya Penyakit Jantung Koroner. Kadar trigliserida yang
tinggi biasanya diikuti dengan kadar kolesterol total yang tinggi dan kadar
kolesterol HDL yang rendah, kelainan metabolik ini disebut hiperlipidemia
(Zahrawardani dkk, 2013).

Hiperlipidemia dapat menyebabkan Penyakit Jantung Koroner


melalui proses yang disebut ateroskelrosis. Aterosklerosis merupakan
penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan lemak, trombosit,
neutrofil, monosit, dan makrofag pada dinding arteri. Pengobatan di

4
bidang medis memang tidak bisa dikesampingkan dalam penanganan
hipirlipidemia dan PJK, namun pasien harus berhadapan dengan berbagai
risiko timbulnya efek samping dari obat-obat tersebut, misalnya golongan
statin dan fibrat yang dapat menyebabkan hepatotoksik dan miopati. Selain
itu golongan niacin juga dapat menyebabkan efek samping rasa terbakar
pada dada dan wajah, hepatotoksik, gangguan gastrointestinal, serta
hiperurisemia (PERKI, 2015). Oleh karena banyaknya efek samping yang
dapat timbul dari penggunaan obat-obatan tersebut maka pengonsumsian
tanaman obat yang dapat menekan risiko penyakit kardiovaskular dapat
dipertimbangkan.
B. Tujuan

1. Mengetahui tanaman herbal yang berfungsi sebagai obat hiperglikemi

2. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra


indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman rosela

3. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra


indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman kunyit

4. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra


indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman bawang putih

5. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra


indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman seledri

6. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra


indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman belimbing wuluh

5
7. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman temulawak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. ROSELA (Hibiscus sabdarifa Linn.)

A. Nama Lain
Rosela memiliki beberapa nama lain yang disesuaikan dengan
daerah ditemukannya tanaman tersebut seperti Gamet walanda, kasturi
roriha, merambos ijo, kesew jawe, asam rejang, asam jarot
(Permenkes, 2016). Nama lain dari rosela di negara lain yaitu roselle,
rozelle, sorrel, queensland jelly plant, florida cranberry (Inggris);
oseille de guinea, oseille rouge (Prancis); rosa de Jamaica, vina,
vinuela (Spanyol); vinagreira, cururu azedo (Portugis); asam susur
(Malaysia); kachieb priew (Thailand); zuring (Belanda); karkade,
carcade (Afrika Utara) (Wibowo, 2009).
B. Bagian yang digunakan
Kelopak bunga (Permenkes, 2016)

6
C. Taksonomi

Gambar 2.1. Tanaman Rosela (Permenkes, 2016)

Kerajaan :Plantae
Divisi :Spermatophyta
Kelas :Dicotyledoneae
Ordo :Malvaceales
Famili :Malvaceae
Genus :Hibiscus
Spesies :Hibiscus sabdariffa L.
(Permenkes, 2016).
D. Deskripsi Tumbuhan
Rosela merupakan herba tahunan yang berupa semak, tumbuh
tegak tinggi dan dapat mencapai 3 m. Batang berbentuk bulat, berkayu
lunak, tegak bercabang-cabang berwarna merah. Daun bentuk bulat
telur dengan ujung tumpul, penulangan menjari, tepi daun bergerigi
dan pangkal berlekuk. Bunga rosela merupakan bunga tunggal yang
tumbuh pada ketiak daun, gugur dalam 24 jam setelah mekar, serta

7
diikuti dengan menurupnya kelopak tambahan sebagai pelindung biji
di dalamnya. Bunga rosela juga dapat disebut sebagai bunga duduk
karena ukuran dari tangkainya yang pendek. Pada tangkai bunga keluar
dari ketiak daun. Kelopak dari bunga rosela berbentuk lanset,
berdaging tebal dan berwarna merah tua. Tanaman rosela sangat
sensitif terhadap cuaca dingin, sehingga tanaman tersebut cukup baik
ditanam di daerah tropis maupun subtropis dengan ketinggian
maksimum 900 m dpl dan curah hujan 182 cm selama musim
pertumbuhannya. Suhu yang sesuai untuk tanaman rosela yaitu 25-27
derajat celcius (Permenkes, 2016).
E. Kandungan Kimia
Kelopak bunga mengandung senyawa antosianin, vitamin C, dan
B. Kandungan lainnya adalah kalsium, beta karoten serta asam amino
esensial. Rosela memiliki banyak unsur kimia yang menunjukkan
ektivitas farmakologis. Sebanyak 15-20% merupakan asam-asam
tumbuhan yang meliputi asam sitrat, asam malat, asam tartar dan asam
allo-hidroksisitrat. Kandungan lainnya yang dimiliki oleh H.
sabdariffa yaitu beberapa senyawa aktif di dalamnya seperti asam
organik (asam hidroksitrik, asam hibiscus), polisakarida (pektin), dan
flavonoid. Ekstrak H. sabdariffa baik menggunakan air dan etanol
keduanya mampu menurunkan kadar LDL-C, VLDL-C, trigliserida,
kolesterol total, dan peroksidasi lipid, dan mampu meningkatkan kada
HDL-C. Theaflavin dan katekin mampu membatasi penyerapan
kolesterol dan meningkatkan pembuangan kolesterol dari hati sehingga
kadar kolesterol terjaga (Permenkes, 2016).
F. Data Keamanan
LD50: di atas 5000 mg/kg BB per oral pada tikus. Pada dosis 15
mg/kg BB terlihat adanya perubahan kadar albumin, akan tetapi pada
gambaran histologi tidak terlihat adanya perubahan. Pada pria sehat,
dapat menurunkan kadar kreatinin, asam urat, sitrat, tartrat, kalsium,
natrium, kalium, dan fosfat pada urin (Permenkes, 2016).
G. Data Manfaat
1) Uji Praklinik:

8
Pemberian ekstrak kering kelopak bunga Hibiscus
sabdarifa (rosela) 500 dan 100 mg/kg BB pada tikus dengan diet
kolesterol tinggi selama 6 minggu dapat menurunkan kadar
kolesterol 22 dan 26%, sedangkan trigliserida turun sebesar 33 dan
28%. Sementara kadar high-density lipoprotein (HDL) tidak terjadi
perubahan nyata(Permenkes, 2016).
Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Ochani dan
D’Mello di India pada tahun 2009. Pada penelitian tersebut
menggunakan lima kelompok tikus. Kelompok pertama merupakan
kontrol yang normal. Kelompok kedua diberikan kolesterol
sebanyak 25mg/kg/hari dalam minyak. Kelompok ketiga diberikan
Lovastatin (10mg/kg/hari) bersama dengan kolesterol dalam
minyak. Kelompok keempat merupakan grup tes yang diberikan
ekstrak etanol dari kelopak bunga H. sabdariffa (500mg/kg/hari)
bersama dengan kolesterol dalam minyak. Kelompok terakhir yaitu
kelompok keenam yang diberikan ekstrak etanol dari daun H.
sabdariffa (500mg/kg/hari). Proses adaptasi dilakukan selama 8-10
hari, sedangkan perlakukan dilakukan selama 30 hari. Dari
percobaan tersebut didapatkan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwasannya pada kelompok yang diberikan ekstrak H. sabdariffa
dan Lovastatin menunjukkan penurunan yang signifikan pada total
kolesterol serum, LDL-C, VLDL-C, TAG, peningkatan HDL-C
serum saat dibandingkan dengan kelompok kontrol hiperlipidemik.
Pada kelompok yang diberikan ekstrak H.sabdariffa dan Lovastatin
juga menunjukkan penurunan yang signifikan pada Indeks
Aterogenik dan rasio dari LDL-C/HDL-C bila dibandingkan
dengan kelompok yang diinduksi kolesterol (Chairunnisa, 2015).
Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Gosain et al. tahun
2010, tikus yang mengalami hiperlipidemia diberikan ekstrak
etanol dari daun H. sabdariffa dengan tiga dosis (100, 200, 300
mg/kg/hari) secara oral dengan induksi kolesterol (2g/kg/hari)
secara oral. Obat pembanding yang digunakan adalah Atorvastatin

9
(10mg/kg/hari) yang diberikan secara oral kepada tikus coba. Pada
penelitian tersebut didapatkan hasil berupa pada dosis
200mg/kg/hari dan 300mg/kg/hari terjadi penurunan yang
signifikan pada kadar kolesterol serum sebanyak 18.5% dan 22%.
Penurunan juga terjadi pada kadar trigliserida serum sebanyak
15.6% dan 20.6%, LDL serum sebanyak 24% dan 30%, juga
VLDL serum sebanyak 15.5% dan 20.5%, seluruhnya bila
dibandingkan dengan kelompok yang diinduksi kolesterol. Pada
dosis 300mg/kg/hari diketahui bahwa dosis tersebut aman dan
merupakan dosis yang paling efektif.
2) Uji klinik:
Esktrak kering kelopak bunga H.sabdarifa 100 mg/hari
selama 1 bulan dapat menurunkan secara nyata kadar kolesterol
total dan trigliserida, meningkatkan kadar HDL. Sediaan kapsul
diberikan peroral pada 42 sukarelawan dengan umur 18-75 tahun
dengan kadar kolesterol 175-327 mg/dL selama 4 minggu.
Sukarelawan dibagi 3 kelompok masing-masing memperoleh 1, 2
dan 3 kapsul.
Pada minggu ke-2 terjadi penurunan kadar kolesterol pada
ketiga kelompok sekitar 7,08-8,2 % dibandingkan dengan baseline,
sedangkan pada minggu ke-4 penurunan terjadi sekitar 8,3-14,4%.
Penurunan nyata terlihat pada kelompok 2 yaitu 12% pada 71%
sukarelawan (Permenkes, 2016).
H. Indikasi
Indikasi dari penggunaan daun rosela yaitu untuk penyakit
Hiperlipidemia dan Hipertensi (Permenkes, 2016).
I. Kontra Indikasi
Kontraindikasi dari rosela yaitu pada anak-anak dan seseorang
yang memiliki riwayat alergi atau hipersensitif terhadap rosela atau
kandungannya (Permenkes, 2016).
J. Peringatan
Berdasarkan laporan kasus yang ada sebelumnya diketahui
bahwasannya penggunaan rosela dapat memicu terjadinya gastritis

10
erosif karena bersifat sangat asam. Pemberian pada dosis tinggi harus
diwaspadai (Permenkes, 2016).
K. Efek Samping
Walaupun rosela sering digunakan sebagai teh, data keamanan
yang dilaporkan masih terbatas (Permenkes, 2016).
L. Interaksi
Jika rosela dikonsumsi bersamaan dengan klorokuinolon maka
nantinya dapat menurunkan kadar klorokuinolon sehingga tidak
berefek. Asetaminofen ditambah dengan pemberian rosela dapat
mengubah waktu paruh obat asetaminofen pada sukarelawan. Rosela
memiliki aktivitas estrogen meskipun belum ada perubahan klinis yang
jelas. Interaksi dapat terjadi dengan senyawa estrogen lain (Permenkes,
2016).
M. Posologi
2 x 1 tea bag (6 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir air.
1 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016).
N. Cara Penyajian
Cara penyajian dari kelopak bunga rosela bisa dimanfaatkan
sebagai bahan untuk seduhan, seperti teh. Bentuk sediaan lain yang
kini sudah bisa didapatkan yaitu berupa sirup, selai, dan minuman lain.
Tanaman herba yang juga dikenal sebagai penghasil serat ini dapat
diolah menjadi campuran salad, puding, juga asinan (Wibowo, 2009).

2. KUNYIT (Curcuma domestica Val.)


A. Deskripsi
Merupakan tumbuhan berbentuk semak tinggi ±70 cm, batang
semu, tegak, bulat, membentuk rimpang, berwarna hijau kekuningan.
Daun tunggal membentuk lanset memanjang. Helai daun 3-8, ujung
dan pangkal daun runcing, tepi rata, panjang 20-40 cm, lebar 8-12 cm.
Pertulangan daun menyirip, daun berwarna hijau pucat. Bunga
majemuk berambut bersisik. Panjang tangkai 16-40 cm. panjang
mahkota 3 cm, lebar 1 cm, berwarna kuning. Kelopak silindris,
bercangap 3, tipis dan berwarna ungu. Pangkal daun pelindung putih.
Akar serabut berwarna coklat muda. Rimpang warna kuning jingga,

11
kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan
(Permenkes, 2016).
B. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica Val.
(BPOM RI, 2008)

Gambar 2.2. Kunyit (BPOM RI, 2008)

C. Kandungan Kimia
Kurkuminoid yaitu campuran dari kurkumin (diferuloilmetan),
monodeksmetoksikurkumin dan bisdesmetoksikurkumin. Struktur
fenolnya memungkinkan untuk menghilangkan radikal bebas. Minyak
atsiri 5,8% terdiri dari a-felandren 1%, sabinen 0,6%, sineol 1%,
borneol 0,5%, zingiberen 25%, dan seskuiterpen 53%. Mono- dan
seskuiterpen termasuk zingiberen, kurkumen, α- dan β- turmeron
(Permenkes, 2016).
D. Mekanisme Kerja
Kunyit berpotensi sebagai hepatoprotektor dengan mekanisme
yang melibatkan enzim gluthation (GSH). Peran kunyit dalam
memperbaiki fungsi hati melalui perbaikan aktivitas enzim gluthation
peroksidase sehingga mampu menangkap radikal bebas (Aswani,
2016).
E. Uji Pre Klinik

12
Pemberian ekstrak Curcuma longa (kunyit) 200 mg/kg BB pada
tikus menunjukkan aktivitas antihiperkolesterolemia, menurunkan
LDL tanpa mempengaruhi HDL. Ekstrak etanol rimpang kering dosis
30 mg/kg BB diberikan intragastrik pada tikus setiap 6 jam selama 48
jam, memperlihatkan aktivitas antihiperkolesterolemia.
Kelinci yang dibuat aterosklerosis yang diberi diet tinggi kolesterol
dan ekstrak C. longa menunjukkan efek antioksidan yang positif
dibanding kelompok kontrol. Kurkumin memobilisasi α-tokoferol dari
jaringan lemak, sehingga melindungi dari kerusakan oksidatif yang
diproduksi selama pembentukan aterosklerosis.
Kurkumin meningkatkan transpor kolesterol LDL & VLDL dalam
plasma, sehingga meningkatkan kadar α-tokoferol.
Mekanisme kerja :
Kandungan kurkumin meningkatkan aktivitas kolesterol-7α-
hidroksilase dan meningkatkan katabolisme kolesterol. Pada jaringan
dan mikrosom hati tikus, kandungan demethoxycurcumin,
bisdemethoxycurcumin, dan acetylcurcumin menghambat lipid
peroksidase (Permenkes, 2016).
F. Uji Klinik

Uji acak terkontrol terhadap subyek DM tipe-2 menunjukkan


pemberian kapsul yang mengandung kombinasi ekstrak C. longa (200
mg/kapsul) dan bawang putih (200 mg/kapsul) dengan dosis 2,4 g per
hari selama 12 minggu menunjukkan perbaikan profil lipid (penurunan
kolesterol total, LDL, trigliserid), penurunan glukosa darah puasa dan
penurunan kadar HbA1C (Permenkes, 2016).
Sebanyak 10 sukarelawan sehat yang diberi 500 mg curcumin
selama 7 hari menghasilkan penurunan bermakna kadar lipid peroksida
serum (33%) dan peningkatan HDL kolesterol (29%) serta penurunan
kadar serum kolesterol total (12%) (Permenkes, 2016).
G. Toksisitas

13
Kunyit telah dikonsumsi di seluruh dunia dan tidak ada laporan
toksisitas sejauh ini. Pada percobaan pada tikus, kurkumin ditemukan
berbahaya jika digunakan sampai dosis 2 g/kg walau tanpa ada
kematian. Dosis tunggal akut 500 mg/kg BB tidak dapat menginduksi
micronucleated polychromic erythrocytes tapi menyebabkan aberasi
kromosomal yg lebih tinggi (Negi, et al., 2008). Pemberian ekstrak
etanol rimpang kunyit maupun curcumin secara per oral pada uji
intoksikasi akut pada tikus, marmut dan monyet menunjukkan bahwa
ekstrak etanol rimpang kunyit dan curcumin bersifat tidak toksik. Hal
tersebut mendukung hasil penelitian sebelumnya bahwa LD50
curcumin pada tikus lebih besar dari 5 g/kg bb dan pada mencit lebih
dari 2 g/kg bb. Pemberian 2 g/kg bb dan 5 g/kg bb curcumin secara per
oral pada tikus tidak menimbulkan efek toksik (Winarsih et al, 2012).
Tabel 2.1. Uji toksisitas

(Winarsih et al, 2012).

H. Interaksi Obat
Kontraindikasi pada pasien yang mengalami obstruksi saluran
empedu, penyakit batu empedu, hiperasiditas lambung, tukak lambung
dan pasien yang hipersensitif terhadap tanaman ini. Penggunaan pada
pasien batu empedu harus di bawah pengawasan dokter. Tidak
direkomendasikan untuk digunakan pada masa kehamilan. Kunyit
dapat mengakibatkan efek emenagogik dan abortif dikarenakan
aktivitas stimulasi uterin (BPOM RI, 2012).
I. Interaksi Obat
Dapat meningkatkan aktivitas obat antikoagulan, antiplatelet,
trombolitik, sehingga meningkatkan risiko perdarahan. Interaksi

14
kurkumin dengan herbal yang lain: orang sehat diberi 2 g kurkumin
dikombinasi dengan 20 mg piperin, bioavailabilitas kurkumin
meningkat 20 kali (Permenkes, 2016).
J. Efek Samping
Masalah pencernaan dapat terjadi bila digunakan secara berlebihan
atau melebihi dosis (Gruenwald, 2004)
K. Indikasi
Dislipidemia, hiperkolesterolemia (Grade C) (Permenkes, 2016).
L. Posologi
2x 1 tablet (300 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016).

3. BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn. )

A. Nama Lain
Bawang putih, bawang basihong, lasun, lasuna, palasuna, dasun,
bawang handak, bawang pulak, ghabang pote, kesuna, lasuna mabida,
lasuna mawuru, yantuna mopusi, pia moputi (Kemenkes RI, 2016).

B. Deskripsi
Bentuk berupa umbi lapis, warna putih atau putih keunguan, bau
khas, rasa agak pahit. Umbi berlapis majemuk berbentuk hampir
bundar, garis tengah 4-6 cm, terdiri dari 8-20 siung seluruhnya diliputi
3-5 selaput tipis serupa kertas berwarna putih, tiap suing diselubungi 2
selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar.
Bau khas aromatik tajam, rasa agak pedas lama kelamaan
menimbulkan rasa agak tebal di bibir, warna kekuningan. Merupakan
tanaman perennial tinggi 25-70 cm, memiliki batang yang lurus kaku
atau sedikit membengkok. Daun memiliki permukaan yang datar dan
lebar dari 4-25 mm (Permenkes, 2016).

C. Taksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Liliales
Suku : Liliaceae
Marga : Allium

15
Jenis : Allium sativum L

Gambar 2.3. Bawang Putih (Permenkes, 2016)


D. Bahan yang digunakan
Umbi lapis (Permenkes, 2016).
E. Kandungan Kimia
Alliin (alkilsistein sulfoksida), allylalliin, profenil alliin, dan allisin
(termasuk gama glutamil). Umbi yang telah kering dan kemudian
dilembabkan kembali dengan ragi akan menghasilkan minyak yaitu
oligosulfida, ajoens (dialkiltrithiaalkana-monoksida) dan vinil dithiin
fruktosa, saponin allisin, dan selenium (Permenkes, 2016).
F. Data Keamanan
LD50 3034 mg/kg BB pada kelinci, per oral. Allii sativi bulbus
(bawang putih) tidak mutagenik secara in vitro. Dapat menyebabkan
ulkus pada gaster. Karsinogenitas, mutagenitas, teratogenitas, dan
gangguan fertilitas. Tidak diketahui toksisitas oral dari umbi bawang
putih. Pada tikus menyebabkan perubahan pada hati, berat paru-paru,
menurunnya jumlah sel darah merah, dan sel darah putih (Kemenkes
RI, 2016).

G. Uji Pre Klinik


1) Uji praklinik:
Pada cell line binatang dan manusia, terlihat penurunan lemak
jaringan vaskular, pembentukan fatty streak, dan ukuran plak
aterosklerotik (Permenkes, 2016).
2) Uji klinik:

16
Sebuah meta-analisis mereview 16 uji klinik random
dengan control (14 paralel dan 2 cross-over) dari 952 subjek
tentang efek Bulbus Allii sativi terhadap lipid dan lipoprotein
serum. Dosis serbuk A. sativum (bawang putih) 600–900 mg/hari,
atau umbi segar 10 g atau minyak 18 mg, atau ekstrak (dosis tidak
disebut). Median lama terapi 12 minggu (Permenkes, 2016).
Subjek yang mendapat A. sativum (serbuk/bukan serbuk)
menunjukkan rerata penurunan kolesterol total 12%, dan trigliserida
serum 13% (hanya serbuk). Namun kualitas uji klinik kurang baik.
Minyak bawang putih 0.25 mg/kg BB (15 g minyak setara 30 g umbi
untuk BB 61 kg) menurunkan kadar kolesterol 18% setelah
penggunaan 8 bulan (dari rerata 298 ke 244 mg/dL). Pemberian umbi
10 g setelah makan pagi selama 2 bulan menurunkan kadar
kolesterol 15% (pada pasien dengan kolesterol 160-250 mg/dL).
Pada 50 pasien dengan rerata kadar kolesterol 213 mg/dL penurunan
kadar kolesterol total 16%. Pada uji klinik lain, A. sativum 7.2 g
setiap hari selama 6 bulan pada 41 hiperkolesterolemia sedang
(kolesterol darah 220-290 mg/dL) dibanding plasebo menunjukkan
penurunan kolesterol total 6.1%, dan kadar LDL 4% (Permenkes,
2016).
Kajian sistematik terhadap potensi menurunkan lipid terhadap 8
studi dari 500 subyek yang mendapat serbuk A. sativum 600-900 mg
menghasilkan penurunan serum kolesterol dan trigliserida sebesar 5-
20%, dan disimpulkan bahwa serbuk bawang putih berpotensi
menurunkan kadar lemak darah (Permenkes, 2016).
Mekanisme kerja: aktivitas antikolesterolemia dan
antihiperlipidemia diduga karena kandungan diallil disulfida dan
trisulfida yang menghambat hepatichydroxy-methylglutaryl-CoA
(HMG-CoA) reductase dan peningkatan ekskresi garam empedu ke
dalam feses dan mobilisasi lemak jaringan ke dalam sirkulasi
(Permenkes, 2016).

17
H. Indikasi
Hiperlipidemia (Grade B), aterosklerosis (Grade C) (Permenkes,
2016).
I. Kontra Indikasi
Alergi terhadap bawang putih (Permenkes, 2016).
J. Peringatan
Mengkonsumsi dalam jumlah yang besar akan meningkatkan resiko
pendarahan pascaoperasi. Hati-hati pada kehamilan dan laktasi
(Permenkes, 2016).

K. Efek Samping
Gastritis. Makan umbi segar, ekstrak atau minyak dalam keadaan
perut kosong dapat menimbulkan heartburn, nausea, vomitus dan
diare. Nafas dan keringat bau bawang putih. Orang yang belum pernah
memakai obat ini mengalami sedikit alergi (Permenkes, 2016).
L. Interaksi
Pasien dalam terapi warfarin harus diperingatkan bahwa
mengkonsumsi Allii Sativi Bulbus akan meningkatkan waktu
pendarahan. Waktu lamanya pendarahan telah dilaporkan meningkat
2x untuk pasien. Tidak boleh diberikan bersamaan dengan
antikoagulan dan antitrombotik clopidogrel karena dapat
meningkatkan risiko perdarahan (Permenkes, 2016).
M. Posologi
Hiperlipidemia: tablet, kapsul, dan serbuk kering (mengandung aliin
terstandar 1,3%) 3 kali 300 mg/hari. Untuk profilaksis aterosklerosis 3-
5 mg aliin/hari (setara dengan 1 siung atau 0,5-1g serbuk kering).
Dosis rata-rata 4 g/hari bawang putih segar atau 8mg/hari minyak
atsiri. Satu butir bawang putih segar 1-2 kali/hari (Kemenkes RI,
2016). Dapat juga dikonsumsi 1 x 1 kapsul lunak (500 mg ekstrak)/hari
(Permenkes, 2016).

N. Cara Penyajian

18
Sesuai posologi, dengan bentuk sediaan tablet, kapsul, dan serbuk
kering (Permenkes, 2016).

4. HERBA SELEDRI (Apium graveolens L.)


A. Deskripsi
Seledri (Apium graveolens L.) adalah tanaman sayuran bumbu
berbentuk rumput yang berasal dari benua Amerika. Tanaman seledri
memiliki tinggi 25-100 cm dengan bau aromatik yang khas. Batang
bersegi dan beralur membujur. Memiliki bunga yang banyak dengan
ukuran yang kecil. Bunga-bunga tersebut berwarna putih kehijauan.
Seledri dapat tumbuh pada dataran rendah sampai tinggi, dan optimal
pada ketinggian tempat 1.000-1.200 m dpl, suhu udara 15-
240C. Tanaman seledri juga dapat dikembangkan pada daerah tropis
seperti di Indonesia. Sebagai tanaman subtropis seledri membutuhkan
sinar matahari yang cukup sekitar 8 jam/hari (Permenkes, 2016).
Tanaman seledri (Apium graveolens L.) termasuk tanaman dikotil
(biji berkeping dua) dan merupakan tanaman setahun atau dua tahun,
yang berbentuk rumput atau semak. Tanaman seledri tidak bercabang,
susunan tubuhnya terdiri dari akar, batang, daun, bunga dan buah
seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.4. Seledri (Permenkes, 2016)


1) Akar
Akar tanaman seledri (Apium graveolens L.) yaitu akar
tunggang dan memiliki serabut akar yang menyebar kesamping
dengan radius sekitar 5-9 cm dari pangkal batang dan akar dapat
menembus tanah sampai kedalaman 30 cm, berwarna putih

19
kotor. Akar seledri berfungsi untuk menyerap unsur hara dan air
dari dalam tanah serta menopang berdirinya tanaman di atas
tanah.
2) Batang
Batang seledri tidak berkayu, berbentuk persegi, beralur,
beruas, tidak berambut, bercabang banyak, dan berwarna hijau
dengan pangkal berwarna putih.
3) Daun
Daun seledri berwarna hijau muda sampai tua, bentuknya
menyirip ganjil, tepi daun beringgit, ujung daun meruncing, dan
helai daun tipis. Rata-rata daun berukuran panjang dan lebar
sekitar 2-7,5 x 2,5 cm, daun memiliki tangkai dengan panjang 1-
2,7 cm. Merupakan daun majemuk dengan anak daun 3-7 helai
daun.
4) Bunga
Bunga tanaman seledri merupakan bunga majemuk
berbentuk payung berjumlah 8-12 buah kecil-kecil berwarna
putih tumbuh dipucuk tanaman tua. Pada setiap ketiak daun
dapat tumbuh sekitar 3-8 tangkai bunga, pada ujung tangkai
bunga ini membetuk bulatan. Setelah bunga dibuahi akan
terbentuk bulatan kecil hijau sebagai buah muda, setelah tua
buah berubah warna menjadi coklat muda
5) Buah
Buah tanaman seledri berbentuk bulatan kecil hijau sebagai
buah muda, selanjutnya berubah menjadi coklat muda. Biasanya
buah terletah di ujung tangkai bunga (Sudarsono et al., 1996).

B. Taksonomi

Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Viridiplantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Super ordo : Asteranae
Ordo : Apiales
Famili : Apiaceae

20
Genus : Apium
Spesies : Apium graveolens L.
(Kemenkes RI, 2016).
C. Kandungan kimia
Flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak atsiri 0,033%, flavor-
glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin, zat pahit, vitamin
(A,B,C). Setiap 100 g herba seledri mengandung air 93 ml, protein 0,9
g, lemak 0,1 g, karbohidrat 4 g, serat 0,9 g, kalsium 50 mg, besi 1 mg,
fosfor 40 mg, yodium 150 mg, kalium 400 mg, magnesium 85 mg,
vitamin A 130 IU, vitamin C 15 mg, riboflavin 0,05 mg, tiamin 0,03
mg, nikotinamid 0,4 mg. Akar mengandung asparagin, manit, minyak
atsiri, pentosan, glutamin, dan tirosin. Ekstrak diklorometan akar
seledri mengandung senyawa poliasetilen falkarinol, falkarindiol,
panaksidiol dan 8-O-metilfalkarindiol. Biji mengandung apiin, minyak
atsiri, apigenin, alkaloid. Senyawa yang memberi bau aromatic adalah
ftalides (3- butilftalid & 5,6-dihidro turunan sedanenolid) (Permenkes,
2016).
D. Data keamanan
LD50 peroral pada tikus > 5 g/kg BB. Tidak toksis pada pemberian
subkronik dengan dosis per oral 5 g/kg BB pada tikus (Permenkes,
2016).
E. Data manfaat
Pemberian intravena ekstrak daun seledri pada anjing dapat
menurunkan tekanan darah. Efek hipotensif juga ditunjukkan oleh
pemberian intravena pada anjing dan kelinci. Telah dibuktikan pula
adanya efek menurunkan tekanan darah pada 16 orang laki-laki
bertekanan darah tinggi yang diberi 40 ml campuran ekstrak seledri
dan madu atau sirup secara oral 3 kali sehari. Senyawa
ftalid terkandung dalam minyak atsiri biji mempunyai efek sedatif
spasmolitik pada mencit .
Seluruh bagian tanaman berefek me-nurunkan tekanan darah pada
hewan yang dibuat hipertensi. Pada pemberian intravena apigenin 10
mg/kg pada anjing dan kelinci dapat menurunkan tekanan darah dari

21
120 mmHg menjadi 70 mmHg. Efek tersebut dapat dilihat pada anjing
dengan hipertensi esensial.
Pemberian per-oral dan intravena cairan segar seluruh bagian
tanaman dapat menurunkan tekanan darah anjing sampai sebesar 50%.
Efek penurunan tekanan darah tersebut disebabkan karena terjadinya
stimulasi pada reseptor kimia (chemoreceptor) pada "carotid body" dan
"aorticarch". Dan efek ini ada kaitannya dengan sistem syaraf
simpatik.
Apigen diketahui pula dapat berefek pada pelebaran pembuluh
darah perifer. Apiin dan Apigenin yang diberikan peroral dapat
merupakan antagonis eksitasi mencit yang diberi kokain.
Minyak atsiri biji berefek antikejang (trianquilizer dan
anticonvulsant) pada mencit, sedangkan alkaloid yang terdapat pada
biji seledri mempunyai potensi sebagai penenang dan anti kejang pada
mencit. Indeks terapi efek penenang daripadanya relatif tinggi. Minyak
atsiri biji seledri dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans
dan Histoplasma capsulatum. Minyak atsiri seledri bersama dengan
asam ferulat mempunyai aksi saling menguatkan efek anti jamur.
Bijinya tidak terbukti berpotensi sebagai anti malaria dan seluruh
herba juga tidak terbukti berpotensi sebagai antibiotik. Sucapigraveol
mempunyai peran pada peningkatan jumlah urine dan penurunan urea
dari anion klorida. Komponen terpenoid minyak atsiri dapat
menyebabkan kontraksi uterus, baik pada keadaan hamil maupun tidak
hamil. Alkaloid dan beberapa senyawa kumarin kemungkinan
mempunyai efek sebagai tranquilizer (Sudarsono et al., 1996).
Pada penelitian Saragih (2009) menunjukkan pemberian infus daun
seledri menyebabkan penurunan kadar kolestrol serum darah marmot
yang hiperkolestrolemi. Penelitian Febrina et al (2009) menunjukkan
bahwa aktivitas antihiperlipidemia ekstrak etanol herba seledri dosis
50 mg/kg BB dapat menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan
LDL-kolesterol plasma secara signifikan, dan meningkatkan kadar
HDL-kolesterol plasma (Saragih, 2009).

22
Penelitian yang dilakukan Umarudin et al., dengan perlakuan
pemberian ekstrak tanin seledri (Apium graviolens L) pada tikus putih
hiperkolestrolemi secara oral selama 14 hari menunjukkan adanya efek
signifikan menurunkan kadar kolesterol total dan LDL. Akan tetapi
ekstrak tanin seledri tidak berpengaruh siginifikan terhadap kadar
trigliserida dan HDL. Berdasarkan penelitian tersebut dosis yang
paling efektif untuk menurunkan kadar kolesterol total dan LDL yaitu
75 mg/kgBB/hari (Umarudin et al., 2012).
F. Kontraindikasi
Karena diuretik kuat maka tidak digunakan pada gangguan ginjal
akut, infeksi ginjal, dan kehamilan. Buah seledri mengandung
fuanokumarin yang berefek fototoksik dan dapat memicu terjadinya
reaksi alergi (Permenkes, 2016).
G. Peringatan
Herba seledri segar lebih dari 200 g sekali minum dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah secara tajam sehingga
mengakibatkan syok. Dosis 200 g juga menyebabkan efek diuretik.
Biji seledri menimbulkan fotosensitisasi, perlu menggunakan tabir
surya bila kena sinar matahari (Permenkes, 2016).
H. Efek samping
Penderita yang sensitif terhadap tanaman Apiaceae bisa
menyebabkan dermatitis alergika. Beberapa senyawa kumarin
kemungkinan mempunyai efek tranquilizer (Permenkes, 2016).
I. Interaksi
Meningkatkan efek obat antihipertensi dan diuretik. Biji seledri
dapat mengencerkan darah, sehingga tidak digunakan pada orang yang
menggunakan pengencer darah, termasuk aspirin, dan Warfarin. Pasien
yang menggunakan diuretik tidak boleh mengkonsumsi biji seledri
(Permenkes, 2016).
J. Dosis
3 x 1 tablet (2 g serbuk biji)/hari. 3 x 1 kapsul (100 mg ekstrak
herba)/hari (Permenkes, 2016).

5. BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi)


A. Nama Lain

23
1) Creole : bimbling plum, blimblin English : bilimbi, cucumber tree,
tree sorrel
2) Filipino : kamias
3) French : blimblim, blinblin, carambolier bilimbi
4) Indonesian : belimbing asam, belimbing wuluh
5) Khmer : tralong tong
6) Malay : belimbing asam, belimbing buloh, billingbilling
7) Spanish : grosella china, mimbro, pepino de Indias, tiriguro
8) Thai : kaling pring, taling pling (Roy et al., 2010).
B. Deskripsi
Averrhoa bilimbi merupakan buah lokal dari Asia Tenggara
termasuk ke dalam famili Oxalidaceae. Tanaman ini memiliki
komponen aktif yaitu tanin, sulfur, asam format dan flavonoid.
Metabolit sekunder dari tanaman ini adalah flavonoid, tanin dan
saponin. Averrhoa bilimbi telah banyak dimanfaatkan secara empiris
sebagai obat tradisional untuk mengobati kolesterol, hipertensi, batuk
rejan dan sariawan. (Mokhtar and Aziz, 2016).
C. Taksonomi

Gambar 2.5. Averrhoa bilimbi (Roy et al., 2010).

Kingdom : Plantae
Phylum : Spermatophyta
Subphylum : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Order : Geraniales
Family : Oxalidaceae
Genus : Averrhoa
Species : Averrhoa bilimbi
(CABI, 2017).
D. Morfologi
Pohon belimbing wuluh dapat tumbuh 5-10 m dengan batang
utama pendek berbenjol-benjol, cabang rendah, batangnya

24
bergelombang dan tidak rata. Daunnya majemuk menyirip, 21-45
pasang anak daun. Anak daun bertangkai pendek, bulat telur, ujung
runcing, pangkal membulat, tepi rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm,
berwarna hijau.
Bunga kecil berkelompok, keluar pada batang dan menggantung,
panjang 5-20cm, mahkota bunga berjumlah 5, panjang kelopak bunga
5-7 mm; helaian mahkota bunga berbentuk elips; panjang 13-20 mm,
berwarna ungu gelap dan bagian pangkalnya ungu muda; benang sari
semuanya subur.
Buah belimbing wuluh berbentuk elips hingga seperti torpedo
dengan panjang 4-10 cm. Warna buah ketika muda hijau, dengan sisa
kelopak bunga menempel diujungnya. Jika masak buahnya berwarna
kuning pucat. Daging buahnya berair dan sangat asam. Kulit buah
berkilap dan tipis. Bijinya kecil (6 mm) berbentuk pipih dan berwarna
coklat, serta tertutup lendir (Mario, 2011).
E. Kandungan Kimia
Pengujian fitokimia menunjukkan adanya unsur fitokimia seperti
alkaloid, tanin, saponin, flavonoid, glikosida jantung, triterpen, fenol,
karbohidrat namun tidak adanya fitosterol dalam ekstraksi berbeda
(Hasanuzzaman et al., 2013). Flavonoid pada belimbing wuluh
mengandung komponen fenol yang berperan sebagai antihiperlipidemi.
Kandungan kimia konstituen Averrhoa bilimbi adalah:
1) Asam amino
2) Asam sitrat
3) Cyanidin-3-h-D-glucoside
4) Fenol, ion kalium, gula
5) Vitamin A

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder dari tanaman


yang terdiri dari kelompok ikatan polifenol yang memiliki struktur
benzo-�-pyrone. Flavonoid memiliki fungsi antibakteri, antioksidan,
antikanker. Kelarutan dari senyawa ini berperan penting pada efek
terapinya. Semakin rendah kelarutannya di air dan ditambah daya
absorpsi yang rendah pada intestinal akan mengurangi efek toksik
akut dari konsumsi flavonoid. Absorpsi flavonoid pada tubuh

25
tergantung pada ukuran molekul, konfigurasi, lipofilisitas, kelarutan,
dan pKa. Flavonoid, contohnya quercetin, ditransportasikan melewati
intestinal tenue oleh Na+-dependent glucose cotransporter (SGLT1).

Gambar 2.6. Flavonoid (Cushnie et al., 2005).

Adapun mekanisme alternatif metabolisme flavonoid yaitu


dihidrolisis oleh lactase phloridzin hydrolase (LPH). Setelah dipecah,
kemudian substrat diabsorpsi melalui intestinum tenue. Setelah di
absorpsi,flavonoid dikonjugasi oleh hepar dengan proses
lucuronidation, sulfation, methylation atau dimetabolisme menjadi
komponen fenol yang kecil. Ekstrak etanol belimbing wuluh secara
signifikan menurunkan kadar lemak (Kumar et al., 2013).

F. Uji Klinis
Uji klinis yang dilakukan pada tikus hiperlipidemia yang diinduksi
triton menunjukkan bahwa belimbing wuluh serta ekstraknya memiliki
aktivitas antihiperkolesteronemik yang baik. Fraksi aktif menunjukkan
adanya aktivitas pada dosis rendah 0.8 mg/kg. Komponen aktif
diisolasi dari fraksi aktif dan menunjukkan adanya aktivitas optimal
pada dosis 0.3 mg/kg. Belimbing wuluh (125mg/kg) dan ekstrak cair
(50mg/kg) ditemukan efektif dalam menurunkan kadar lemak pada
tikus dengan kadar lipid tinggi.
Penelitian lain yang meneliti profil lipid tikus diabetes yang
diinduksi streptozosin menunjukkan efektif. Ekstrak etanol belimbing
wuluh menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap indeks

26
aterogenik dan kolesterol HDL dan menurunkan kadar peroksidase
lipid ginjal (Roy et al., 2010).

G. Mekanisme Kerja
Ekstrak air buah belimbing wuluh dapat menjadi antihiperlipidemi
karena mengandung flavonoid dan terpenoid. Flavonoid merupakan
pereduksi LDL dalam tubuh dengan meningkatkan reseptor LDL di
hepar dan mengikat apolipoprotein B. Flavonoid dapat menurunkan
kadar kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim HMG
Co-A reduktase yang mengubah HMG Co-A menjadi mevalonat.
Mekanisme kerja ini mirip dengan obat konvensional golongan
simvastatin.
Terpenoid merupakan antihiperlipidemia dengan mekanisme
sebagai ligan bagi PPAR (peroxisome proliferator-activated receptor)
dan mirip dengan obat antihiperlipidemia golongan fibrat (Azhary et
al., 2017).
H. Toksisitas
Pemberian secara oral pada mencit selama 15 hari tidak memberikan
gejala toksik hingga dosis 1g/kg (Ambili et al., 2009).
I. Indikasi
Dislipidemia, hiperkolesterolemia. (Roy et al., 2010).
J. Efek Samping
Penelitian terhadap ekstrak air belimbing waluh menunjukkan
adanya pengaruh terhadap indeks organ ginjal, hepar, jantung dan
paru-paru. Namun diperlukan penelitian lebih lanjut secara
histopatologi untuk mengetahui secara spesifik terhadap organ tersebut
(Azhary et al., 2017).
K. Posologi
Pada penelitian A K Azeem et al. (2015) terdapat penurunan
kolesterol total trigliserida yang signifikan pada tikus yang diberikan
secara per oral dengan dosis 400mg/kg. Pada dosis tersebut juga
didapatkan peningkatan HDL yang signifikan. Respon positif juga
terlihat pada kadar LDL dan VLDL.

6. TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb)

27
A. Deskripsi
Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia, banyak ditemukan
terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta,
Bali, sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan
Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan (Bintari, 2013).
Temulawak berbatang semu, tingginya dapat mencapai 2 m, berwarna
hijau atau coklat gelap, rimpang berkembang sempurna, bercabang-
cabang kuat, berwarna hijau gelap, bagian dalam berwarna jingga,
rasanya agak pahit. Setiap individu tanaman mempunyai 2-9 daun,
berbentuk lonjong sampai lanset, berwarna hijau atau coklat keunguan
terang sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18 cm, panjang
tangkai daun (termasuk helaian) 43-80 cm. Perbungaan berupa bunga
majemuk bulir, muncul di antara 2 ruas rimpang (lateralis), bertangkai
ramping, 10-37 cm berambut, daun-daun pelindung menyerupai sisik
berbentuk garus, berambut halus, panjang 4-12 cm, lebar 2-3 cm.
Bentuk bulir lonjong, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, berdaun
pelindung banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan
mahkota bunga, berbentuk bulat telur sungsang (terbalik) sampai bulat
memanjang, berwarna merah, ungu atau putih dengan sebagian dari
ujungnya berwarna ungu, bagian bawah berwarna hijau muda atau
keputihan, panjang 3-8 cm, lebar 1,5-3,5 cm (Permenkes, 2016).
Dalam keadaan utuh atau dipotong-potong temulawak memiliki
bau aromatik, rasa yang tajam dan pahit. Dalam bentuk kepingan
temuawak ringan, keras, rapuh, berwarna coklat kuning sampai coklat
(BPOM RI, 2010).
B. Taksonomi
Temulawak yang mempunyai nama ilmiah Curcuma xanthorrhiza
Roxb adalah tanaman obat-obatan yang tergolong dalam suku temu-
temuan (Zingiberacea). Temulawak banyak ditemukan di hutan-hutan
daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan
sekitar pemukiman, teutama pada tanah yang gembur, sehingga buah

28
rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Daerah tumbuhnya
selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian
tanah 1.500 meter di atas permukaan laut (Bintari, 2013).
Menurut Bintari (2013) klasifikasi temulawak adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Keluarga : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb

Gambar 2.7. Temulawak (Permenkes, 2016).


C. Nama Daerah
Temulawak, koneng gede, temu labak (Permenkes, 2016).

D. Nama Asing

Gelbwurzjavanische (Jerman), Temu Lawas (Malaysia),Curcuma


(Inggris) (BPOM RI, 2010).
E. Bagian yang digunakan
Rimpang (Permenkes, 2016).

29
F. Kandungan Kimia
Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid (0,8-2%) terdiri
dari kurkumin dan demetoksikurkumin, minyak atsiri (3-12%) dengan
komponen α-kurkumen, xanthorizol, β-kurkumen, germakren,
furanodien, furanodienon, arturmeron, β-atlantanton, d-kamfor. Pati
(30-40 %) (periksa kandungan kimia, karena ini mungkin tertukar
dengan kunyit) (Permenkes, 2016).
G. Mekanisme Kerja
Mekanisme kurkumin dalam temulawak untuk menurunkan
kolesterol adalah karena fungsinya sebagai kolagoga (perangsang
empedu). Aktivitas kolagoga rimpang temulawak ditandai dengan
meningkatnya produksi dan sekresi empedu, dengan meningkatnya
pengeluaran cairan empedu maka akan menurunkan kadar kolesterol
yang tinggi (Anggraini & Wahyuni, 2012).
Kandungan kurkumin dan flavonoid pada temulawak mekanisme
kerjanya dapat menurunkan kadar kolesterol total darah serupa dengan
mekanisme atorvastatin yaitu menghambat enzim HMG CoA reduktase
dan meningkatkan jumlah reseptor LDL di hati. Mekanisme penurunan
kadar kolesterol ini diduga disebabkan karena komponen metabolit
sekunder temulawak memiliki efek yang baik bagi metabolisme lipid.
Flavonoid dan kurkumin yang merupakan derivat fenolik pada
temulawak bekerja dengan menghambat kerja enzim HMG CoA
reduktase sehingga sintesis kolesterol menjadi terhambat. Komponen
fenolik tersebut juga diduga kuat menstimulasi sintesis reseptor LDL di
permukaan sel hati yang meningkatkan ambilan LDL dari sirkulasi
sehingga kadar kolesterol dalam darah dapat direduksi (Dyaningratri,
2014).
H. Uji Preklinis
Penelitian efek C. xanthorrhiza terhadap lipid serum dan hepar,
HDL-kolesterol dan apolipoprotein (apo) A-I, dan enzim lipogenik hati
pada tikus dilakukan dengan memberikan diet bebas kolesterol. C.

30
Xanthorrhiza menurunkan kadar trigliserida serum, fosfolipid,
kolesterol hati, dan meningkatkan kadar HDL-kolesterol dan apo A-I
serum, dan menurunkan aktivitas fatty acid synthase hati. Pada tikus
yang diberi diet tinggi-kolesterol, C. xanthorrhiza tidak menekan
peningkatan kolesterol serum, walaupun menurunkan kolesterol hati.
Kurkuminoid dari C. xanthorrhiza tidak mempunyai efek bermakna
pada lipid serum hati (Permenkes, 2016).
Efikasi C. xanthorrhiza dalam menurunkan lipid darah dievaluasi
pada 40 kelinci yang dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapat diet
isoaterogenik tanpa curcuma, rendah curcuma (2 g/kg BB), medium
curcuma (3 g/ kg BB) dan tinggi curcuma (4 g/kg BB) selama 120 hari.
C. Xanthorrhiza tidak mempengaruhi makan, konsumsi protein dan
lemak dan ekskresi protein (P > 0,05), tetapi secara bermakna (P <
0,05) meningkatkan ekskresi lemak. Kadar kolesterol menurun 46,6 ;
56,4 dan 63,2% dan kadar HDL meningkat 9,9; 14,5 dan 21,9% pada
pemberian 2, 3 and 4 g/kg BB curcuma. C. xanthorrhiza menurunkan
secara bermakna (P < 0.05) kadar LDL dan (P < 0.01) kadar trigliserida
20,4 ; 28,5 dan 29,5% pada pemberian 2, 3 dan 4 g/kg BB curcuma.
Inhibitor reduktase HMG-CoA meningkat secara bermakna (P < 0.05)
dengan curcuma. Peroksidasi lipid dicegah pada pemberian 3 dan 4
g/kg BB curcuma. Peningkatan ekskresi lemak dimediasi melalui
akselerasi metabolisme lipid dari jaringan ekstrahepatik ke hepar,
sehingga meningkatkan ekskresi kolesterol melalui empedu ke dalam
feses. C. xanthorrhiza potential sebagai fitoterapi untuk aterosklerosis
dan gangguan kardiovaskuler (Permenkes, 2016).
I. Toksisitas
LD50 ekstrak etanol per oral pada mencit: > 5 g/kg BB. LD50
kurkumin per oral pada tikus dan guinea pig: > 5 g/kg BB. Uji klinik
fase I yang dilakukan pada 28 orang sehat dengan dosis sampai 8000
mg/hari selama 3 bulan tidak menunjukkan efek toksik. Dari lima

31
penelitian pada manusia dengan dosis 1125-2500 mg kurkumin per hari
tidak menunjukkan adanya toksisitas (Permenkes, 2016).
J. Interaksi Obat
Menurut penelitian yang telah dilakukan waspadai penggunaan
temulawak bersamaan dengan obat pengencer darah (Permenkes, 2016).
K. Indikasi
Indikasi penggunaan temulawak adalah untuk hiperlipidemia,
penurun kolesterol (Permenkes, 2016).

L. Efek Samping
Penggunaan temulawak dalam dosis besar atau pemakaian
berkepanjangan dapat mengakibatkan iritasi membran mukosa lambung
(BPOM RI, 2010). Temulawak tidak dapat digunakan pada penderita
radang saluran empedu akut (Permenkes, 2016).
M. Kontraindikasi
Temulawak tidak dapat digunakan pada penderita obstruksi saluran
empedu. Hati-hati menggunakan temulawak pada penderita gastritis dan
nephrolithiasis (Permenkes, 2016).
N. Dosis
2 x 1 kapsul (500 mg ekstrak)/hari (Permenkes, 2016).

32
33
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dari refrat diatas, maka dapat disimpulkan
bahwasannya hiperlipidemi adalah suatu kelainan metabolisme lipid yang
ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, dan
penurunan HDL di dalam serum. Tatalaksana medis yang biasa digunakan
adalah dengan menggunakan golongan statin yang berfungsi dalam
menurunkan kadar lipid di dalam darah. Pada perkembangannya,
masyarakat kini lebih banyak beralih menggunakan tanaman herbal karena
dirasa lebih aman. Pengobatan herbal pada penyakit hiperglikemi dapat
menggunakan beberapa tanaman herbal yang mudah ditemukan sehari-hari
seperti bunga rosela, temulawak, bawang putih, belimbing wuluh dan
kunyit. Hal tersebut disebabkan karena adanya berbagai macam
kandungan penting yang berfungsi untuk menurunkan kadar lipid dalam
darah, dimana efeknya juga hampir sama dengan penggunaan obat
konvensional yang berfungsi untuk penurun lipid di dalam darah.
B. Saran

1. Diharapkan pembaca mampu mengetahui tanaman herbal yang


berfungsi sebagai hiperlipidemi setelah membaca referat ini.
2. Diharapkan referat ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca.
3. Diharapkan pembaca lebih banyak membaca dan menambah wawasan
pembaca.
4. Diharapkan makalah ini dapat menjadi bahan pustaka untuk keperluan
yang semestinya.
5. Perlu telaah lebih lanjut untuk mengetahui manfaat tanaman obat.

34
DAFTAR PUSTAKA

A K. Azeem & Vrushabendraswami, B.(2015). Hypolipidemic evaluation of


Averrhoa bilimbi leaf ethanolic extracts on streptozotocin induced diabetic
rats. JIPBS; Vol 2 (4): 649-652.
Ambili S., Subramoniam A., Nagarajan N. (2009). Studies on the
Antihyperlipidemic Properties of Averrhoa bilimbi Fruit in Rats. Planta
Med; 75(1) : 55-58.
Aswani, Tuti. (2016). Pengaruh Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) dan Kunyit
(Curcuma longa) terhadap Peningkatan Aktivitas Enzim GSH-Px pada
Hati Tikus yang Diinduksi Parasetamol.[Thesis]
Azhary, B., Luliana, S., Robiyanto. (2017). Uji Aktivitas Antihiperkolesterolemia
Ekstrak Air Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn.) Pada
Pemodelan Tikus Jantan Galur Wistar Hiperkolesterolemia. Traditional
Medicine Journal; 22(1).
BPOM RI. (2008).Curcuma domestica Val. Jakarta: Badan POM RI - Direktorat
Obat Asli Indonesia
CABI. 2017. Averrhoa bilimbi. http://www.cabi.org/isc/datasheet/8081.
Chairunnisa, Nurul Hidayah. (2015). Effectivity of Roselle Extract (Hibiscus
Sabdariffa L.) As A Treatment For Hyperlipidemia. J Majority. Fakultas
Kedokteran. Universitas Lampung
Cushnie, T.P.Tim., Lamb, Andrew J. (2005). Antimicrobial Activity of Flavonoids.
26. 343-356.
Gosain S, Ircchiaya R, Sharma PC. (2010). Hypolipidemic Effect Of Ethanolic
Extract From The Leaves Of Hibiscus sabdariffa L. In Hyoerlipidemic
Rats. Acta Poloniae Pharmaceutica. Polish Pharmaceutical Society.
Gruenwald, Joerg., et.al (2004).PDR for Herbal Medicines, Third edition. New
Jersey, Medical Economics Company, 231-232
Hasanuzzaman et al. (2013). Evaluation of total phenolic content, free radical
scavenging activity and phytochemical screening of different extracts of
Averrhoa bilimbi (fruits). International Current Pharmaceutical Journal;
2(4): 92-96.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri kesehatan
Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Formularium Obat
Herbal Asli Indonesia Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

35
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Formularium Obat Herbal
Asli Indonesia. Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional,
Alternatif, dan Komplementer: Jakarta.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Formularium Obat Herbal
Asli Indonesia. Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif,
dan Komplementer: Jakarta.XKumar, S., Pandey K, Abhay. (2013).
Chemistry and Biological Activities of Flavonoids: An Overview; 1-17.
Mokhtar and Aziz. (2016). Antimicrobial Properties of Averrhoa bilimbi Extracts
at Different Maturity Stages. J Med Microb Diagn; 5(3).
Parikesit, Mario. (2011). Khasiat dan manfaat belimbing wuluh. Stomata :
Surabaya
Roy, A., T., Lakshmi. (2010). Averrhoa bilimbi Linn–Nature’s Drug Store- A
Pharmacological Review. Int. J. Drug Dev. & Res:3 (3): 101-106.

Saragih. (2009). Pengaruh Pemberian Infus Daun Seledri (Apium graviolens L)


Terhadap Kadar Kolesterol Serum Darah Marmut (Cavia cobaya). (Skripsi).
Medan : Universitas Sumatera Utara.
Sudarsono, Pudjoanto, A., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I. A., Drajad,
M., Wibowo, S., dan Ngatidjan (1996). Tumbuhan Obat, Hasil Penelitian,
Sifat-sifat dan Penggunaan, Pusat Penelitian Obat Tradisional, UGM,
Yogyakarta.
Umarudin, Susanti, R. and Yuniastuti, A. (2012) ‘Efektifitas ekstrak tanin seledri
terhadap profil lipid tikus putih hiperkolesterolemi’, Unnes Journal of Life
Science, 1(2), pp. 78–85
Wibowo, Trimanto. (2009). Pengaruh pemberian seduhan kelopak rosela
(Hibiscus sabdariffa) terhadap kadar trigliserida darah Tikus putih (Rattus
norvegicus) (Skripsi). Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret
Winarsih et al. (2012). Uji Toksisitas Akut Ekstrak Rimpang Kunyit pada Mencit :
Kajian Histopatologis Lambung, Hati dan Ginjal. Jurnal Veteriner. Vol. 13
No. 4: 402-409

36