Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

HERNIA INGUINALIS
Di susun oleh Ida Anyes C,Amd .Kep
LAPORAN PROBITION DI RUANG KAMAR BEDAH
RUMAH SAKIT EMC SENTUL TAHUN 2018

[Pick the date]


KATA PENGANTAR

Makalah ini dipersiapkan untuk memenuhi sebagai persyaratan Tugas Pencernaan.


Dalam penulisan makalah ini, penulis dapat mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak. Maka sudah sewajarnya pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih
dan puji syukur kami limpahkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan,
ketabahan, dan kelapangan hati kepada penulis dalam menyelesaikan makalah pencernaan
ini..
Yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Semoga mendapat imbalan
yang berlipat ganda dari Allah SWT
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi kami pada khususnya. Dan kami juga menyadari masih ada kekurangan
dalam makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun akan kami
terima dengan senang hati

Bogor 7 November 2018

Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………... 2
Daftar Isi…………………………………………………………………………… 3
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………… 4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 4
1.3 Tujuan…………………………………………………………………………. 4
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 ……………..................................... 5
2.2...………………………………………………….......................... 5
2.3 ………………………………..................................................... 5
2.4.....................................……………………………….......... 6
2.5..............................................................................................
2.6...............................................................................................
2.7................................................................................................ 7
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian........................................................................................................... 8
3.2 Diagnosa keperawatan........................................................................................ 10
3.3 Intervensi keperawatan....................................................................................... 10
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………… 15
4.2 Saran…………………………………………………………………………. 15
Daftar Pustaka……………………………………………………………………. 16
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit herinia atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit
akibat turunya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita
hernia, memang kebanyakan lelaki, terutama anak – anak. Kebanyakan penderita,
akan merasakan nyeri, jika terjadi infeksi di dalamnya, misalnya jika anank – anak
penderita terlalu aktif.

Berasal dari bahasa latin, hernia yaitu menonjolnya isi suatu ringga melalui
jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu
membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di
daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.

Penyakit hernia banyak diderita oleh orang yang tinggal didaerah perkotaan yang
notabene penuh dengan aktivitas maupun kesibukan, dimana aktivitas tersebut
membutuhkan stamina yang tinggi. Jika stamina kurang bagus dan terus dipaksakan
maka penyakit hernia akan segera menghinggapi. Penjelasan mengenai penyakit
hernia dan proses keperawatannya dibahas pada bab selanjutnya.

B. RUMUSAN MASALAH
 Apa pengertian dari hernia!
 Apa etiologi dari hernia!
 Bagaimanakah klasifikasi dari hernia!
 Bagaimanakah penentuan stadium pada hernia!
 Bagaimanakah pathway dari hernia!
 Bagaimanakah gambaran patofisiologis dari hernia!
 Bagaimanakah pemeriksaan dignostik dan penatalaksanaan dari penyakit hernia!
 Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan hernia!
C. TUJUAN
 Mahasiswa mengerti tentang apa yang dimaksud dengan hernia!
 Mahasiswa mampu memahami tentang etiologi dari hernia!
 Mahasiswa mampu memahami klasifikasi dari hernia!
 Mahasiswa mampu mengidentifikasi tentang stadium pada hernia!
 Mahasiswa mampu memahami tentang pathway dari hernia!
 Mahasiswa mengerti tentang patofisiologi dari hernia!
 Mahasiswa mampu memahami tentang pemeriksaan diagnostic dan
penatalaksanaan dari penyakit hernia!
 Mahasiswa mampu memahami tentang asuhan keperawatan klien dengan
hernia!
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Secara umum Hernia merupakan produksi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai
organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilingi dan
kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut

Hernia adalah ; tonjolan keluarnya organ atau jaringan melalui dinding rongga dimana organ
tersebut seharusnya berada yang didalam dengan keadaan normal tertutup.

2.2 Klasifikasi

Banyak sekali penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam, sifat dan proses
terjadinya, berikut ini penjelasannya :

Macam – macam hernia :

a. Macam – macam hernia didasarkan menurut letaknya, seperti :


1. Inguinal. Hernia inguinal dibagi lagi menjadi :
 Indirek/ lateralis
Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda
spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada
spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria dan
wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat
menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotun. Umumnya pasien
mengatakan turun berok, burut, atau kelingsir atau mengatakan adanya
benjolan di selangkangan/ kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau
menghilang pada saat tidur dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat
benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali.

 Direk/ medialis
Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak
melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih
umum pada lansia, hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area
yang lemah ini karena defisiensi kengenital. Hernia ini disebut derekta
karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna sehingga meskipun
annulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap
akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan
sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus
dapat dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien terlihat adanya massa
bundar pada annulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien
tidur. Karena besarnya efek dari dinding posterior maka hernia ini jarang
sekali menjadi ireponibilis.
2. Femoral; hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada
wanita daripada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis
yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hamper tidak
dapat dihindari kandung kemih masuk kedalam kantung. Ada pasien yang
tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini.
3. Umbilikal : hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita
dan arena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien
gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah
sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena maslah
pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat, disteasi ekstrem atau
kegemukan.
4. Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang
lemah.

a. Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :


1. Hernia bawaan atau congenital
Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis ( indireks ) ; kanalis
inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan,
terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan
menarik peritoneum ke daerah dalam skrotum sehingga terjadi penonjolan
peritoneum yang disebut dengan prosesu vaginalis peritonei. Pada bayi yang
sudah lahir, umumnya proses ini telah mengalami obliterasi sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalaui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa
hal, kanalis ini tidak menutup, karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka
kanalis inguinalis kanan kebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka
biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang
terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bilas prosesus terbuka terus (
karena tidak mengalami obliterasi ) akan timbul hernia inguinalis lateralis
congenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena
merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan
tekanan intra- abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kambali dan
timbul hernia inguinalis lateralis akuista.

2. Hernia dapatan atau akuisita ( acquisitus = didapat )

b. Menurut stadiumnya , hernia dibedakan menjadi :


1. Hernia reponibel/ reducible, yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus
keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong
masuk. Tidak ada keluhan atau gejala obstruksi usus.
Hernia reponible tanda dan gejalanya :
 Pasien meras tidak enak ditempat penonjolan.
 Ada penonjolan di salah satu lokasi abdomen misalnya inguinal,
femoralis dan lain – lain. Penonjolan timbul saat mengejan BAB,
mengangkat beban berat ataupun saat aktivitas berat dan hilang pada
waktu istirahat baring.
 Kadang – kadang perut kembung
 Apabila terjadi perlengkapan pada kantung hernia dan isi hernia maka
tidak dapat dimasukkan lagi ( ireponible ).
2. Hernia ireponnible, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke
dalam rongga. Ini biasaanya disebabkan oleh perletakkan isi kantong pada
peritoneum kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta ( accretes =
pelekatan karena fibrosis ). Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda
sumbatan usus.
3. Hernia inkaserata, ( incarceration = terperangkap, cancer = penjara ), yaitu bila
isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong
terperangkap, tidah dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibatnya
yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis “hernia
inkarserata” lebih dimaksudkan untuk hernia ireponible dengan gangguan
pasase. Hernia inkaserata mempunyai tanda dan gejala :
 Adanya gambaran obstruksi usus dimana pasien mengalami obstipasi,
muntah, tidak flatus, perut kembung dan dehidrasi.
 Terjadi gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa.
 Bila lelah terjadi strangulasi, pasien mengalami nyeri hebat di daerah
hernia, dimana nyeri menetap karena rangsangan peritoneum . pada
pemeriksaan local dimukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan lagi
disertai nyeri tekan dan tergantung kejadian hernia.
 Dapat dijumpai tanda peritonitis atau abses local, keadaan ini
merupakan keadaan gawat darurat dan memerlukan pertolongan
segera.
4. Hernia strangulate, tingkatan hernia yang paling parah karena pembuli darah
sudah terjepit. Gangguan vaskularisasi disebut juga sebagai hernia stragulata.
Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerate, gejala lain juga
muncul, seperti demam dan dehidrasi. Hernia strangulate mengkibatkan
nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapatkan darah akibat
pembuluh darah yang memasok darahnya terjepit. Bila terus didiamkan lama –
lama pembulu darah di daerah tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan
racun yang kemudian akan menyebar ke pembulu darah. Sebagi akibatnya,
akan terjadi sepsis yaitu beredarnya kuman dan toxin di dalam darah yang
dapat mengancam jiwa. Sangat mungkin pasien tidak bisa tenang karena
merasakan nyeri yang luar biasa. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat
darurat karena perlu mendapatkan pertolongan segera.

2.3 Etiologi
 Proses vaginalis yang terbuka
 Peningkatan tekanan di dalam rongga perut
 Kehamilan
 Batuk kronis
 Pekerjaan mengangkat benda berat
 Mengejan pada saat defekasi
 Kelemahan otot dinding perut karena usia
2.4 Patofisiologi

Kongenital,
Akuisita

Defek dinding Mengejan saat BAB, angkat


abdomen barang berat, aktivitas berat

HERNIA

REPONIBLE : IREPONIBLE : INKARSERATA: STRANGULATA:

 Pasien merasa  Apabila terjadi  Gangguan  Obstipasi


tidak enak di perlekatan keseimbangan  Muntah
tempat pada kantung cairan &  Tidak flatus
benjolan. hernia dan isi elektrolit asam  Perut kembung
 Terdapat hernia maka basa.  Dehidrasi
penonjolan di tidak dapat  Dapat dijumpai  Nyeri hebat di
salah satu dimasukkan tanda peritonitis tempat hernia
abdomen. lagi. terjadi abses
 Benjolan local.
hilang saat
istirahat
baring.
 Perut kembung

GANGGUAN RASA GANGGUAN CAIRAN NYERI


NYAMAN DAN ELEKTROLIT
2.5 Penatalaksanaan Medis

1. Terapi konservatif/ non bedah : penggunaan alat penyangga bersifat sementara


seperti pemakaian sabuk/ korset pada hernia ventralis. Dilakukan reposisi postural
pada pasien dengan hernia inkarserata yang tidak menunjukkan gejala operatif.
2. Terapi umum dalah terapi operatif.
3. Jika usaha reposisi berhasil dapat dilakukan operasi herniografi efektif.
4. Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan
setelah 5 menit di evaluasi kembali.
5. Jika ternyata pada operasi dinding perut kurang kuat sebaiknya digunakan marleks
untuk menguatkan dinding perut setempat.
6. Pengobatan dengan pemberian obat anti nyeri, misalnya asetoninofen, antibotik
untuk membasmi infeksi dan obat pelunak tinja.
7. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan
dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan
mengejan selama BAB. Hindari kopi –kopi , the, coklat, cola, minuman
berakohol.
8. Hindari aktivitas – aktivitas yang berat.

2.6 Komplikasi

1. Hernia berulang
2. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau syaraf jika pasien laki – laki.
3. Perdarahan yang berlebihan/ infeksi luka bedah.
4. Setelah herniografi dapat terjadi hematoma.
5. Fostes urin dan feses.
6. Residip
7. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


a. URINE : protein, darah, uro/bilirubin yang mereduksi ( DM ), analisa asam (
Penyebab metabolic ), kultur ( ISK ).
b. Darah : BUN, Kreatinin, ( Kelainan ginjal ), elektrolit ( komplikasi muntah ),
status asam basa ( komplikasi muntah ), uji fungsi hati ( Penyakit Hepar )
c. Pemeriksaan Radiologi/ endoskopi :
 Foto abdomen ( terlentang dan tegak ) obstruksi.
 Foto abdomen kontras : stenosis pilorik, hepertropi, invaginasi.
 USG : stenosis pilorik, hipertrofi, invaginasi.
2.8 Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi : mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan adanya bengkak, ada atau tidak
benjolan.
2. Auskultasi : bising usus, hiperelastisitas didapatkan pada auskultasi abdomen pada
hernia yang mengalami obstruksi usus.
3. Perkusi : kembung, bila perkusi perut kembung maka harus dipikirkan
kemungkinan hernia strangulate. Hipertimpani, terdengar pekak.
4. Palpasi : turgor kulit & massa.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

1. Identitas Pasien
Pengkajian meliputi nama, tempat lahir, tanggal lahir, jenis kelamin, status
perkawinan, agama, suku, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2. Keluhan Utama
Pada pasien keluhan utamanya adalah benjolan yang timbul bergantung pada
keadaan isi hernia, ada tidaknya perlekatan maupun komplikasi yang telah
terjadi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Aktivitas/ istirahat
Benjolan pada perut atau isi perut keluar. Benjolan semakin terlihat bila
tekanan dalam rongga perut besar, biasanya benjolan tersebut semakin
besar/ terlihat jika mengangkat beban beat, mengejan, batuk, atau buang
air besar dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk.
1. Nyeri
 P ( Pemicu )
Pada pasien hernia akan terasa nyeri jika benjolan tertekan atau
disentuh.
 Q ( quality )
Biasanya pada pasien hernia rasa nyeri terasa tajam seperti
terbakar.
 R ( region )
Nyeri hernia pada bagian tergantung dari letak hernia. Misalnya
daerah lipatan paha, perut, diafragma, umbilical.
 S ( severity )
Pada pasien hernia biasanya retensitas/ keparahan sangat buruk.
 T ( Time )
Pada pasien hernia, terasa nyeri pada saat benjolan ditekan juga
saat beraktifitas serta mengejan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien pernah rawat inap di rumah sakit, dengan diagnose apa dan
bagaimna penanganannya saat itu..
5. Kebiasaan yang Dilakukan
Apakah pasien sering bekerja dengan aktifitas yang berat dan membutuhkan
tenaga yang besar, seringkah mengangkat beban berat.
6. ROS ( Review Of System )
 Pernafasan ( breathing )
Pada pasien hernia diafragmatika akan mengalami sesak nafas.
 Cardiovaskuler ( blood )
Terjadi takikardi pada pasien hernia
 Persyarafan ( brain )
Keadaran penurunan akibat nyeri tekan epigastrika/ distensi
abdominal.
 Perkemihan ( bladder )
 Pencernaan ( bowel )
Klien mengalami penurunan nafsu makan.
 Tulang ( bone )
 Karena nyeri dan kelemahan, aktivitas klien terganggu.

ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah


1. DS : pasein mengeluh nyeri pada Informasi Nyeri
benjolan saat disentuh/ ditekan. reseptor/ rangsangan
DO : terdapat benjolan, wajah
menyeringai, berkeringat, bising Thalamus
usus positif.
P : nyeri pada benjolan yang Syaraf asenden
ditekan.
Q: nyeri tajam seperti di tusuk – Ada sensasi
tusuk.
R : pelipatan paha Nyeri
S: retensitas sangat keras
T: pada saat di tekan
2. DS : pasien mengeluh mual, Kontraksi dari otot perut Gangguan
muntah ,kembung. keseimbangan cairan
DO: muntah 2x24 jam, Relaksasi di kardia
membrane mukosa kering, turgor lambung
kulit menutun, dehidrasi
Eshopagus

Laring

Faring

Muntah
3. DS : pasien mengeluh nyeri pada Rangsangn dari luar Gangguan rasa
bagian operasi. nyaman
DO: wajah menyeringai, Substansi prostaglandin,
keringat banyak, terdapat luka. serotonin, bradikinin

Merangsang delta A & C

Mengembalikan informasi
kepada cortex bahwa ada
nyeri

Gangguan rasa nyaman

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyei berhubungan dengan tekanan intra abdominal yang ditandai dengan raut
wajah kesakitan, menangis, merintih, tekanan darah meningkat, nadi
meningkat, pernapasan meningkat.
2. Gangguan volume cairan dan elektrolit berhubingan dengan output yang
berlebih yang ditandai dengan turgor kulit menurun, membrane mukosa
kering.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflex
spasme otot sekunder akibat operasi yang ditandai dengan individu
mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman dengan kondisinya, pernafasan
meningkat, tekanan darah meningkat.

3.3 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tgl/ Rancan Tindakan Rasional


waktu
1. Dx : Nyei b/d tekanan intra  Mengkaji nyeri  Perubahan
abdominal yang ditandai pasien ( karakteristik
dengan raut wajah kesakitan, P,Q,R,S,T ) nyeri
menangis, merintih, tekanan merupakan
darah meningkat, nadi terjadinya abses
meningkat, pernapasan  Menempatkan  Posisi nyaman
meningkat. pasien pada membantu
posisi supinasi mengurangi
TUJUAN : rasa nyeri
Setelah dilakukan tindakan  Mengajarkan  Membantu
keperawatan 1x24 jam maka teknik relaksasi memberikan
nyeri berkurang, dan pasien keadaan relaks.
bisa beradaptasi dengan nyeri.  Berkolaborasi  Membantu
dengan tim menghilangkan
Kriteria Hasil medis lainnya nyeri
 Nyeri berkurang dengan
 Distensi abdomen ( - ) memberikan
analgesik
2. Dx : Gangguan volume cairan  Mencatat  Membantu
dan elektrolit b/d output yang haluaran dalam
berlebih yang ditandai dengan menghitung
turgor kulit menurun, haluaran dan
membrane mukosa kering. menggantinya
dengan input
TUJUAN : yang seimbang.
Setelah dilakukan tundakan  Observasi TTV  Menentukan
1x2 jam maka cairan pasien derajat
mendekati normal kekurangan
cairan
Kriteria Hasil :  Hindarkan  Mengurangi
 Turgor kulit membaik makanan & resiko
 Mual, muntah ( - ) minuman yang terjadinya
merangsang kehilangan
mual. cairan yang
banyak
 Pantau tanda  Mencegah
dehidrasi terjadinya
dehidrasi
 Memberikan  Menaikkan
perawatan pada kelembapan
kulit dan mulut kulit dan
mukosa bibir

3. Dx: Gangguan rasa nyaman  Mengkaji nyeri  Perubahan


nyeri b/d trauma jaringan dan pasien ( nyeri
reflex spasme otot sekunder P,Q,R,S,T ) menunjukkan
akibat operasi yang ditandai terjadinya
dengan individu mengatakan perubahan
bahwa dirinya tidak nyaman abses
dengan kondisinya,  Observasi TTV  Menentukan
pernafasan meningkat, tindakan
tekanan darah meningkat. keperawatan
selanjutnya
TUJUAN:  Mengajarkan  Meningkatkan
Setelah dilakukan tindakan teknik relaksasi relaksasi
keperawatan 1x24 jam pasien  Memberikan  Mengurangi
melaporkan nyeri abdomen analgesic rasa nyeri..
berkurang. kolaborasi dngan
tim medis
Kriteria Hasil:
 Nyeri berkurang
 Pasien dapat
mendemontrasikan
rasa nyeri yang
sebelumnya dirasakan.
BAB 4

Penutup
4.1 Kesimpulan

4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin arif,sari kumala.2011.gangguam gastrointestinal aplikasi asuhan keperawatan
medikal bedah.jakarta:salemba

Yudha komara Egi.2008.kapita selekta penyakit dengan implikasi keperawatan edisi


2.jakarta:EGC

Carpenito,J,L .1999. ”Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan “ Edisi 2