Anda di halaman 1dari 75

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG RESPONSE TIME

DALAM PENANGANAN GAWAT DARURAT DI RUANG


TRIAGE RSUD KARANGANYAR.

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Disusun Oleh :
SISWO NURHASIM
NIM. S11036

PROGAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa

karena berkat rahmat dan hidayah Nya. Penulis mampu menyelesakan skripsi

dengan judul ‘’ Pengetahuan Perawat Tentang Response Time Dalam Penanganan

Gawat Darurat Di Ruang Triage’’. Skripsi ini disusun sebagai salah satu

persyaratan dalam menempuh Progam Studi Ilmu Keperawatan STIKes Kusuma

Husada Surakarta. Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bimbingan,

dukungan, arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari tanpa

adanya bimbingan, dukungan dan arahan maka tidak sempurnya skripsi ini. Untuk

itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada

1. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Wahyu Rima Agustin, S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Ketua Program Studi S-1

Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

3. Wahyu Rima Agustin, S.Kep,. Ns, M.Kep, selaku Pembimbing Utama yang

telah memberikan bimbingan serta arahan selama proses pembuatan skripsi.

4. Maria Wisnu Kanita, S.Kep., Ns selaku Pembimbing Pendamping yang telah

memberikan bimbingan serta arahan selama proses pembuatan skripsi.

5. Aria Nurahman Hendra Kusuma, M.Kep., selaku pengganti Pembimbing

Pendamping yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama proses

pembuatan skripsi.

6. Kepada direktur RSUD Karanganyar yang telah bersedia memberikan izin

sebagai tempat penelitian.

iv
7. Semua Informan yang telah banyak membantu peneliti dalam penyelesaian

skripsi ini.

8. Orang tuaku tercinta dan tersayang Bapak Sukarno, Ibu Ngatini, Ahmat

Junaidi dan Rizki Afandi yang selalu memberikan dukungan, doa, materi dan

kasih sayangnya sepanjang waktu.

9. Sahabatku Roni Rohmat Wijaya, Abdul Rohim, Try Haryono dan Eko

Ardianto yang mendukung dan memberikan semangat dalam membuat skripsi

ini.

10. Teman-teman seperjuangan S-1 Keperawatan angkatan 2011 yang selalu

mendukung dan membantu dalam proses pembuatan skripsi ini.

11. Teman-teman Kost Jasmine atas dukungan dan semangat yang diberikan.

12. Semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material dalam

penyusunan skripsi ini, yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu.

Semoga segala bantuan dan kebaikan, menjadi amal sholeh yang akan

mendapat balasan yang lebih baik. Pada akhirnya penulis bersyukur pada Allah

SWT semoga skripsi ini dapat bermanfaat kepada banyak pihak dan tidak lupa

penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.

Surakarta, 8 Juli 2015

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii

SURAT PERNYATAAN................................................................................. iii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv

DAFTAR ISI .................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ix

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... x

ABSTRAK ....................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

1.1 Latar Belakang................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 4

1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 5

1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 7

2.1 Tinjauan Teori ................................................................................. 7

2.2 Kerangka Teori ................................................................................ 25

2.3 Fokus Penelitian .............................................................................. 26

2.4 Keaslian Penelitian .......................................................................... 27

vi
BAB III METODELOGI PENELITIAN ......................................................... 29

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian....................................................... 29

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 30

3.3 Populasi dan Sampel........................................................................ 30

3.4 Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data ................................... 31

3.5 Analisa Data .................................................................................... 36

3.6 Keabsahan Data ............................................................................... 38

3.7 Prinsip-prinsip Etika Penelitian ....................................................... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN ....................................................................... 41

4.1 Gambaran Lokasi Penelitian............................................................ 41

4.2 Gambaran Karakteristik Informan ................................................... 42

4.3 Hasil Penelitian................................................................................ 43

BAB V PEMBAHASAN ................................................................................. 51

5.1 Pengetahuan Perawat Tentang Triage ............................................. 51

5.2 Pengetahuan Response time Perawat Terhadap Pasien Gawat Darurat 54

BAB VI PENUTUP ......................................................................................... 61

6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 61

6.2 Saran ................................................................................................ 62

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Tabel Halaman

2.1 Triage Australia dan skala akuitasnya 12

2.2 Keaslian Penelitian 27

viii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Judul Gambar Halaman

2.1 Kerangka Teori ........................................ 25

2.1 Fokus Penelitian ...................................... 26

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Keterangan

1 Surat Ijin Studi Pendahuluan

2 Surat Balasan Ijin Studi Pendahuluan

3 Surat Ijin KesbangPol

4 Surat BAPPEDA

5 Surat Penjelasan Penelitian

6 Surat Persetujuan Menjadi Informan

7 Pedoman Wawancara

8 Transkrip Wawancara Informan 1

9 Transkip Wawancara Informan 2

10 Transkrip Wawancara Informan 3

11 Transkrip Wawancara Informan 4

12 Analisa Tematik

13 Data Demografi

14 Lembar Observasi

15 SOP IGD

16 Jadwal Penelitian

17 Lembar Konsultasi

18 Dokumentasi

x
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2015

Siswo Nurhasim
PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG RESPONSE TIME DALAM
PENANGANAN GAWAT DARURAT DI RUANG TRIAGE RSUD
KARANGANYAR.

ABSTRAK

Triage adalah suatu proses penggolongan pasien berdasarkan tipe dan


tingkat kegawatan kondisinya. Triage juga diartikan sebagai suatu tindakan
pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cidera yang di prioritaskan
ada tidaknya gangguan Airway (A), Breathing (B), dan Circulation (C) dengan
mempertimbangkan sarana, sumber daya manusia, dan probabilitas hidup
penderita, response time (kecepatan) yaitu suatu kemampuan untuk pelayanan
yang cepat (responsif). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana
pengetahuan perawat tentang response time dalam penanganan gawat darurat di
ruang triage RSUD Karanganyar.
Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan menggunakan
pendekatan deskriptif fenomenology, teknik analisa yang digunakan pada
penelitian ini adalah menggunakan metode collaizi. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan kriteria
informan perawat dengan kriteria bekerja di Rumah Sakit minimal selama 3
tahun, pendidikan minimal D3 keperawatan, sudah mendapat pelatihan BTCLS,
bersedia menjadi informan. Sampel dihentikan setelah data tersaturasi dengan
jumlah 4 Informan.
Kesimpulan berdasarkan analisis tematik dihasilkan tema berdasarkan
tujuan khusus pengetahuan perawat tentang Triage didapatkan tema 1)
Pengelompokan berdasarkan kegawatannya 2) Pembagian Triage. Tujuan khusus
pengetahuan Response time perawat terhadap pasien gawat darurat didapatkan
tema 1) Pengertian Response time 2) Waktu tanggap menurut prioritas warna 3)
Waktu tanggap menurut prioritas kegawatan 4) Faktor yang mempengaruhi
pengetahuan.
Kesimpulan dari penelitian ini pengetahuan perawat tentang response time
dalam penanganan gawat darurat di ruang triage sudah sesuai dengan standar IGD
RSUD Karanganyar.

Kata kunci : Pengetahuan perawat, Response time, Triage


Daftar pustaka : 20 (1998-2014)

xi
BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE
KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA

2015

Siswo Nurhasim
Nurses’ Knowledge of Response Time in Emergency Handling at the Triage
Room of Local General Hospital of Karangayar

ABSTRACT

Triage is a process of classifying the patients based on the type and the
level of their emergency conditions. Triage can also be defined as the grouping or
classification of the patients based in the injury severity, the availability of
disorder Airway (A), Breathing (B), and Circulation (C) by considering tools,
human resources, patients’ life probability, and response time (speed) i.e. the
quick service ability (responsive). The objective of this research is to investigate
the nurses’ knowledge of response time in emergency handling at the Triage
Room of Local General Hospital of Karanganyar.
This qualitative research used phenomenological descriptive approach.
The samples of the research were 4 nurses as informants and were taken by using
the purposive sampling technique. The criteria of the informants were as follows:
having the length of employment at the hospital of more than 3 years, holding the
education of background Diploma III in Nursing Science, having attended the
BTCLS training, willing to be the informants. The data of research were analyzed
by using the Collaizi’s method.
The result of research shows that on the special objective of the nurses’
knowledge of triage, there were two themes, namely: (1) emergency level-based
classification and (2) distribution of triage. Next, on the special objective of the
nurses’ knowledge of response time on the emergency patients there were four
themes: (1) the definition of response time, (2) emergency response time
according to color priority, (3) emergency response time according to emergency
priority; and (4) factor influencing knowledge.
Thus, the nurses’ knowledge of response time in emergency handling
corresponded to the emergency standard at the Emergency Installation of Local
General Hospital of Karanganyar.

Keywords : Nurses’ knowledge, Response Time, Triage


References : 20 (1998-2014)

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Triage berasal dari bahasa Perancis yaitu “Trier” yang berarti

membagi kedalam tiga kelompok (Departemen of Emergency Medicine

Singapore General Hospital (DEM SGH), 2005). Sistem ini dikembangkan di

medan pertempuran dan digunakan bila terjadi bencana. Di medan

pertampuran, triage digunakan untuk menentukan prioritas penanganan pada

perang dunia pertama. Klasifikasi ini digunakan oleh militer perang, untuk

mengidentifikasi dan melakukan pada tentara korban perang yang mengalami

luka ringan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan penanganan dapat

kembali ke medan perang (Dewi Kartika, 2013).

Triage juga diterapkan dalam lingkup bencana atau musibah

massal. Tujuan triage pada musibah massal adalah bahwa dengan sumber

daya yang minimal dapat menyelamatkan korban sebanyak mungkin. Pada

korban massal dengan korban puluhan atau mungkin ratusan dimana

penolong baik jumlah, sarana, kemampuan, dan prasarana belum mencukupi,

maka dianjurkan menggunakan teknik Simple Triage and Rapid Treatment

(START). Triage mulai digunakan di unit gawat darurat pada akhir tahun

1950 dan awal tahun 1960. Penggunaan triage di unit gawat darurat

disebabkan oleh peningkatan jumlah pasien di unit gawat darurat yang dapat

mengarah pada lamanya waktu tunggu penderrita dan keterlambatan didalam

1
2

penanganan kasus-kasus kegawatan. Triage adalah suatu proses

penggolongan pasien berdasarkan tipe dan tingkat kegawatan kondisinya

(Zimmermann dan Herr, 2006). Triage juga diartikan sebagai suatu tindakan

pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cidera yang di

prioritaskan ada tidaknya gangguan Airway (A), breathing (B), dan

circulation (C) dengan mempertimbangkan sarana, sumber daya manusia, dan

probabilitas hidup penderita, ruang triage tersebut berada di dalam ruang IGD

sehingga ruang IGD tersebut menjadi sangat penting karena merupakan

bagian utama penerimaan pasien di Rumah Sakit.

IGD atau Instalasi Gawat Darurat, adalah layanan yang disediakan

untuk memenuhi kebutuhan pasien yang dalam kondisi gawat darurat dan

harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan darurat

yang cepat. Gawat suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong,

apabila tidak segera ditolong maka akan mengalami kecacatan atau kematian.

Darurat Suatu kondisi dimana korban harus segera di tolong tetapi penundaan

pertolongan tidak akan menyebabkan kematian/kecacatan.

Tahun 2007, data kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD)

di seluruh Indonesia mencapai 4.402.205 pasien (13,3% dari total seluruh

kunjungan di RSU) dengan jumlah kunjungan 12% dari kunjungan IGD

berasal dari rujukan dengan jumlah Rumah Sakit Umum 1.033 unit dari 1.319

unit Rumah Sakit yang ada. Jumlah yang signifikan ini kemudian

memerlukan perhatian yang cukup besar dengan pelayanan pasien gawat

darurat (Keputusan Menteri Kesehatan, 2009).


3

Instalasi Gawat Darurat sebagai gerbang utama penanganan kasus

gawat darurat di rumah sakit memegang peranan penting dalam upaya

penyelamatan hidup klien. Wilde (2009) telah membuktikan secara jelas

tentang pentingnya waktu tanggap (response time) bahkan pada pasien selain

penderita penyakit jantung. Mekanisme response time, disamping

menentukan keluasan rusaknya organ-organ dalam, juga dapat mengurangi

beban pembiayaan. Kecepatan dan ketepatan pertolongan yang diberikan

pada pasien yang datang ke IGD memerlukan standar sesuai dengan

kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan

gawat darurat dengan response time yang cepat dan penanganan yang tepat.

Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya

manusia dan manajemen IGD Rumah Sakit sesuai standar. (Kepmenkes,

2009).

Berdasarkan jurnal penelitian Wa Ode Nur Isnah Sabriyati dkk, 2012

yaitu “Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketepatan Waktu tanggap

penanganan kasus pada response time I di Instalasi Gawat Darurat bedah dan

non-bedah RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo” didapatkan hasil bahwa waktu

tanggap penanganan kasus IGD bedah yang tepat sebanyak 67,9% dan tidak

tepat 32,1%. Waktu tanggap penanganan kasus IGD Non-Bedah yang tepat

sebanyak 82,1% dan tidak tepat 17,9%. Tidak terdapat hubungan yang

bermakna antara pola penempatan staf dengan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus di IGD Bedah (p = 0,67) dan Non-Bedah (p = 0,062),

berdasarkan hasil jurnal tersebut bahwa terdapat hubungan yang bermakna


4

antara tingkat pengetahuan petugas kesehatan IGD terhadap tindakan triage

berdasarkan prioritas dan ada hubungan antara sikap petugas kesehatan IGD

terhadap tindakan triage berdasarkan prioritas sehingga pengetahuan tentang

response time untuk petugas kesehatan sangat penting untuk memberikan

asuhan keperawatan yang bermakna.

RSUD Karanganyar memiliki jumlah perawat yang bertugas di IGD

sebanyak 18 perawat dua diantaranya belum mengetahui tentang response

time pada penanganan pasien gadar di ruang triage. Saat dilakukan tanya

jawab tentang pengertian triage perawat mengerti dan mengungkapkan

bahwa triage adalah “penggolongan pasien berdasarkan tingkat

kegawatanya” namun ketika diberikan pertanyaan tentang apa itu response

time dan berapa waktu tanggap pada setiap pasien berdasarkan tingkat

kegawatdaruratan perawat menjawab “response time itu adalah waktu

tanggap, dan disini waktu tanggapnya 10 menit”.

Berdasarkan uraian pernyataan perawat tersebut dapat disimpulkan

bahwa response time perawat dalam penanganan triage belum sesuai dengan

ketentuan maka peneliti tertarik mengambil bagaimana pengetahuan perawat

tentang response time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage

RSUD Karanganyar.

1.2 Rumusan Massalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan

massalah pada penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan perawat tentang


5

response time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage RSUD

Karanganyar.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang response

time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage RSUD

Karanganyar.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang triage.

2. Untuk mengetahui pengetahuan response time perawat

terhadap pasien gawat darurat.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti

Menambah pengalaman dan wawasan peneliti dalam

keperawatan tentang pengetahuan dan response time dalam

penanganan pasien gawat darurat di ruang triage.

1.4.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan,

pengalaman, dan wawasan mengenai Pengetahuan perawat

tentang response time dalam penanganan gawat darurat di ruang

triage.
6

1.4.3 Manfaat bagi rumah sakit

`Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

masukan bagi perawat terhadap response time dalam penanganan

gawat darurat di ruang triage.

1.4.4 Manfaat bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai

referensi atau titik tolak tambahan bila diadakan penelitian lebih

lanjut khususnya bagi pihak lain yang ingin mempelajari

mengenai pengetahuan perawat tentang response time dalam

penanganan gawat darurat di ruang triage.

1.4.5 Manfaat bagi perawat

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perawat sebagai

motivasi untuk lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya

sebagai perawat khususnya perawat yang bekerja di IGD.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Triage

1. Pengertian

Triage diambil dari bahasa Perancis “Trier” artinya

mengelompokkan atau memilih (Ignatavicius, 2006 dalam

Krisanty, 2009). Triage mempunyai tujuan untuk memilih atau

menggolongkan semua pasien yang memerlukan pertolongan dan

menetapkan prioritas penanganannya (Oman, 2008). Triage

memiliki fungsi penting di IGD terutama apabila banyak pasien

datang pada saat yang bersamaan. Hal ini bertujuan untuk

memastikan agar pasien ditangani berdasarkan urutan

kegawatannya untuk keperluan intervensi. Triage juga diperlukan

untuk penempatan pasien ke area penilaian dan penanganan yang

tepat serta membantu untuk menggambarkan keragaman kasus di

IGD. (Gilboy, 2005).

Triage adalah suatu proses penggolongan pasien

berdasarkan tipe dan tingkat kegawatan kondisinya (Zimmermann

dan Herr, 2006). Triage juga diartikan sebagai suatu tindakan

pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cidera yang

7
8

diprioritaskan ada tidaknya gangguan Airway (A), Breathing (B),

dan Circulation (C) dengan mempertimbangkan sarana, sumber

daya manusia, dan probabilitas hidup penderita.

Triage di IGD Rumah Sakit harus selesai dilakukan dalam

15-20 detik oleh staf medis atau paramedis (melalui training)

sesegera mungkin setelah pasien datang begitu tanda

kegawatdaruratan teridentifikasi, penatalaksanaan dapat segera

diberikan untuk menstabilkan kondisi pasien. Dimana triage

dilakukan berdasarkan pada ABCDE, beratnya cedera, jumlah

pasien yang datang, sarana kesehatan yang tersedia serta

kemungkinan hidup pasien (Pusponegoro, 2010)

Sistem klasifikasi triage mengidentifikasi tipe pasien yang

memerlukan berbagai level perawatan. Prioritas didasarkan pada

pengetahuan, data yang tersedia, dan situasi terbaru yang ada.

Huruf atau angka yang sering digunakan antara lain sebagai

berikut.

a. Prioritas 1 atau emergency.

b. Prioritas 2 atau urgent.

c. Prioritas 3 atau nonurgent.

2. Prinsip Triage

Di Rumah Sakit, didalam triage mengutamakan perawatan

pasien berdasarkan gejala. Perawat triage menggunakan ABC

keperawatan seperti jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta


9

warna kulit, kelembaban, suhu, nadi, respirasi, tingkat kesadaran

dan inspeksi visual untuk luka dalam, deformitas kotor dan memar

untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan kepada pasien

di ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama

untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas atau sirkulasi

terganggu. Pasien-pasien ini mungkin memiliki kesulitan bernapas

atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima

pengobatan pertama. Pasien yang memiliki masalah yang sangat

mengancam kehidupan diberikan pengobatan langsung bahkan

jika mereka diharapkan untuk mati atau membutuhkan banyak

sumber daya medis (Bagus, 2007) .

Menurut Brooker, (2008). Dalam prinsip triage

diberlakukan sistem prioritas, prioritas adalah

penentuan/penyeleksian mana yang harus didahulukan mengenai

penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang

timbul dengan seleksi pasien berdasarkan: 1) Ancaman jiwa yang

dapat mematikan dalam hitungan menit, 2) Dapat mati dalam

hitungan jam, 3) Trauma ringan, 4) Sudah meninggal.

3. Prioritas Triage.

Triage adalah suatu proses penggolongan pasien

berdasarkan tipe dan tingkat kegawatan kondisinya (Zimmermann

dan Herr, 2006). Triage juga diartikan sebagai suatu tindakan

pengelompokkan penderita berdasarkan pada beratnya cidera yang


10

diprioritaskan ada tidaknya gangguan Airway (A), Breathing (B),

dan Circulation (C) dengan mempertimbangkan sarana, sumber

daya manusia, dan probabilitas hidup penderita.

Prioritas triage menurut (Mosby, 2008):

a. Prioritas pertama / immediate (MERAH)

Korban membutuhkan stabilisasi segera dan atau

dalam keadaan kritis akan tetapi masih memiliki harapan

untuk diselamatkan / dapat diatasi, seperti :

1) Syok oleh berbagai kausa

2) Trauma kepala dengan pupil anisokor

3) Perdarahan eksternal masif

4) Penurunan respon

5) Tension pneumothorax

6) Distress pernafasan (RR< 30x/mnt)

7) Perdarahan internal vasa besar dsb

b. Prioritas kedua / delayed (KUNING)

Korban membutuhkan pertolongan dan pengawasan

ketat tetapi perawatan dapat ditunda sementara selama 10

menit, tidak ada ancaman nyawa, seperti :

1) Korban dengan resiko syok.

2) Multiple fraktur.

3) Luka bakar tanpa gangguan jalan nafas.

4) Gangguan kesadaran / trauma kepala.


11

5) Cidera vertebra tanpa gangguan pernafasan

Korban dalam keadaan ini harus segera diberikan

perawatan dan pengawasan akan timbulnya komplikasi.

c. Prioritas ke tiga / minimal (HIJAU)

Korban yang masih mampu berjalan, pemberian

pengobatan dapat ditunda selama 60 menit dan atau

tidak memerlukan pengobatan, seperti :

1) Fraktur minor

2) Luka minor / luka bakar minor

Korban dalam keadaan ini setelah dilakukan perawatan

luka, imobilisasi dan fiksasi dapat dipindahkan pada

akhir operasi lapangan.

d. Prioritas keempat / nol / expectant (HITAM)

Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka

sangat parah. Hanya perlu terapi suportif. Contoh henti

jantung kritis, trauma kepala berat.


12

Tabel 2.1 Triage Australia dan skala akuitasnya.

Tingkat Waktu perawatan Presentase tindakan


Sangat mengancam hidup Langsung 100
Sedikit mengancam hidup 10 menit 80
Beresiko mengancam hidup 30 menit 75
Darurat 60 menit 70
Biasa 120 menit 70

4. Proses Triage Keprawatan

Proses triage menurut (Rutenberg, 2009) mengikuti

langkah-langkah proses keperawatan yaitu tahap pengkajian,

penetapan diagnosa, perencanaan, intervensi, dan evaluasi.

a. Pengkajian

Ketika komunikasi dilakukan, perawat melihat

keadaan pasien secara umum. Perawat mendengarkan

apa yang dikatakan pasien, dan mewaspadai isyarat

oral. Riwayat penyakit yang diberikan oleh pasien

sebagai informasi subjektif. Tujuan informasi dapat

dikumpulkan dengan mendengarkan nafas pasien,

kejelasan berbicara, dan kesesuaian wacana. Temuan

seperti mengi, takipnea, batuk produktif (kering), bicara

cadel, kebingungan, dan disorientasi adalah contoh data

objektif yang dapat langsung dinilai. Informasi

tambahan lain dapat diperoleh dengan pengamatan

langsung oleh pasien. Lakukan pengukuran objektif

seperti suhu, tekanan darah, berat badan, gula darah,


13

dan sirkulasi darah. Aturan praktis yang baik untuk

diingat adalah bahwa perawatan apapun dapat

dilakukan dengan mata, tangan, atau hidung dengan

arahan yang cukup dari perawat .

b. Diagnosa

Dalam triage diagnosa dinyatakan sebagai

ukuran yang mendesak. Apakah masalah termasuk ke

dalam kondisi Emergency (mengancam kehidupan,

anggota badan, atau kecacatan). Urgent (mengancam

kehidupan, anggota badan, atau kecacatan) atau

nonurgen. Diagnosa juga meliputi penentuan kebutuhan

pasien untuk perawatan seperti dukungan, bimbingan,

jaminan, pendidikan, pelatihan, dan perawatan lainnya

yang memfasilitasi kemampuan pasien untuk mencari

perawatan.

c. Perencanaan

Dalam triage rencana harus bersifat kolaboratif.

Perawat harus dengan seksama menyelidiki keadaan

yang berlaku dengan pasien, mengidentifikasi faktor-

faktor kunci yang penting, dan mengembangkan

rencana perawatan yang diterima pasien. Hal ini sering

membutuhkan proses negosiasi, didukung dengan

pendidikan pasien. Adalah tugas perawat untuk


14

bertindak berdasarkan kepentingan terbaik pasien dan

kemungkinan pasien dapat mengikuti. Kolaborasi juga

mungkin perlu dengan anggota tim kesehatan lain juga.

d. Intervensi

Dalam analisis akhir, bisa memungkinkan

bahwa perawat tidak dapat melakukan apa-apa untuk

pasien. Oleh karena itu harus ada pendukung lain yang

tersedia, misalnya dokter untuk menentukan tindakan

yang diinginkan. Untuk itu, perawat triage harus

mengidentifikasi sumber daya untuk mengangkut

pasien dengan tepat. Oleh karena itu perawat triage

juga memiliki peran penting dalam kesinambungan

perawatan pasien. Protokol triage atau protap tindakan

juga dapat dipilih dalam pelaksanaan triage.

e. Evaluasi

Langkah terakhir dalam proses keperawatan

adalah evaluasi. Dalam konteks organisasi keperawatan,

evaluasi adalah ukuran dari apakah tindakan yang

diambil tersebut efektif atau tidak. Jika pasien tidak

membaik, perawat memiliki tanggung jawab untuk

menilai kembali pasien, mengkonfirmasikan diagnosa

urgen, merevisi rencana perawatan jika diperlukan,

merencanakan, dan kemudian mengevaluasi kembali.


15

Pertemuan ini bukan yang terakhir, sampai perawat

memiliki keyakinan bahwa pasien akan kembali atau

mencari perawatan yang tepat jika kondisi mereka

memburuk atau gagal untuk meningkatkan seperti yang

diharapkan. Sebagai catatan akhir, adalah penting

bahwa perawat triage harus bertindak hati-hati, Jika ada

keraguan tentang penilaian yang sudah dibuat,

kolaborasi dengan medis, perlu diingat perawat triage

harus selalu bersandar pada arah keselamatan pasien.

2.1.2 Response Time

1. Pengertian

Kecepatan yaitu suatu kemampuan untuk pelayanan yang

cepat (responsif). Pelayanan adalah suatu bagian atau urutan yang

terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang

lain atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pelayanan adalah usaha

melayani kebutuhan orang lain, sedangkan melayani adalah

membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan

seseorang. Pelayanan cepat menentukan kepuasan pasien. Berapa

lama pasien harus menunggu di loket pendaftaran hingga dia

mendapatkan kartu, demikian hal ketika menunggu untuk

diperiksa dokter, di apotik, dan di laboratorium. Kecepatan


16

Pelayanan yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam

waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan.

(Kepmen, 2003).

Kecepatan pelayanan dalam hal ini adalah pelaksanaan

tindakan atau pemeriksaan oleh dokter dan perawat dalam waktu

kurang dari 5 menit dari pertama kedatangan pasien di IGD,

Waktu tanggap pada sistem realtime, didefinisikan sebagai waktu

dari saat kejadian (internal atau eksternal) sampai instruksi

pertama rutin layanan yang dimaksud dieksekusi, disebut dengan

event response time. Sasaran dari penjadwalan ini adalah

meminimalkan waktu tanggap angka keterlambatan pelayanan

pertama gawat darurat/emergency response time rate

(WHO,1998).

2.1.3 IGD (Instalasi Gawat Darurat)

1. Pengertian

Menurut Azrul (1997) yang dimaksud gawat darurat

(emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang

dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera untuk menyelamatkan

kehidupan (life saving).

IGD atau instalasi gawat darurat, adalah layanan yang

disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang dalam kondisi

gawat darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk


17

mendapatkan penanganan darurat yang cepat. System pelayanan

menggunakan system triage, dimana pelayanan diutamakan bagi

pasien dalam keadaan darurat (emergency) bukan berdasarkan antrian.

Tujuan IGD adalah tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal

pada pasien secara cepat dan tepat serta terpadu dalam penanganan

kegawatdaruratan sehingga mampu mencegah resiko kecacatan dan

kematian.

2. Pelayanan yang diberikan di IGD adalah:

a. Ambulace 24 jam.

b. Bedah minor.

c. Ruang triage.

d. Ruang tindakan.

e. Ruang observasi.

f. Tim penanggulangan bencana.

3. Pelayanan yang dapat dilayani IGD adalah:

a. Pasien gawat darurat, tidak darurat, darurat tidak gawat, dan pasien

tidak gawat, tidak darurat oleh penyakit tertentu.

b. Pasien akibat kecelakaan (accident) yang menimbulkan cidera

fisik, mental, sosial, gangguan pernafasan, susunan saraf pusat,

system kardiovaskuler, trauma,berbagai luka, patah tulang, infeksi,

gangguan metabolisme, keracunan, kerusakan organ, dan lain

sebagainya.
18

c. Penanganan kejadian sehari-hari, korban musibah masal dan

bencana.

Kriteria tenaga yang bekerja di IGD adalah:

Bersertifikat ATLS (Advanced Trauma Life Support) yaitu pelatihan

tentang penanganan terhadap pasien korban kecelakaan, BTCLS

(Basic Trauma and Cardiac Life Support) yaitu pelatihan

kegawatdaruratan tentang penanganan kasus kardiovaskuler, dan

PPGD (Pertolongan pertama Gawat Darurat) yaitu pelatihan yang di

khususkan untuk menangani kasus gawat darurat.

2.1.4 Perawat

1. Pengertian Perawat

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat

baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku. (Menteri kesehatan, 2001).

Perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan

keperawatan yang memenuhi syarat serta berwenang di negeri

bersangkutan untuk memberikan pelayanan keperawatan yang

bertanggung jawab untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan

penyakit dan pelayanan penderita sakit (International Council of

Nursing, 1965).
19

2. Peran Perawat

Peran Perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh

orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan dalam sistem,

dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi

perawat maupun dari luar profesi keperawatan yang bersifat konstan.

Peran perawat menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan (1989):

a. Pemberi asuhan keperawatan

Memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia

yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan

dengan menggunakan proses keperawatan, dari yang

sederhana sampai dengan kompleks

b. Advokat pasien / klien

Menginterprestasikan berbagai informasi dari pemberi

pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan

persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada

pasien- mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien.

c. Pendidik/Edukator

Membantu klien dalam meningkatkan tingkat

pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang

diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien

setelah dilakukan pendidikan kesehatan.


20

d. Koordinator

Mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi

pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian

pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan

kebutuhan klien.

e. Kolaborator

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim

kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan

lain-lain berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan

yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam

penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

f. Konsultan

Tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan

keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan

atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan

pelayanan keperawatan yang diberikan.

g. Peneliti

Mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang

sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian

pelayanan keperawatan.
21

2.1.5 Pengetahuan

1. Pengertian

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan

merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni

indera penglihatan, penciuman, rasa, dan dan raba. Namun

sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata

dan telinga tentang fakta dan kenyataan, selain itu juga

melalui pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan

baik bersifat formal ataupun informal. Pengetahuan

merupakan faktor dominan yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang.

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2003), pengetahuan yang

tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam)

tingkatan:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu

materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk

kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

kembali (recall) sesuatu yang telah diterima. Oleh

sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan


22

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur

bahwa orang tahu tengah apa yang dipelajari antara

lain Subjek: menyebutkan, menguraikan,

mendefinisikan menyatakan, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu

kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar.

Orang yang telah paham terhadap objek atau materi

dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,

menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan

untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini

dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-

hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk

menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam


23

komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu

struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu

sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan kata kerja, seperti dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan,

mengelompokkan dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan

untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-

bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan

untuk melakukan justifiksi atau penilaian terhadap

suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan

sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang

talah ada.
24

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), Faktor-faktor

yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai

berikut :

a. Tingkat pendidikan

Pendidikan merupakan upaya untuk

memberikan pengetahuan sehingga terjadi

perubahan perilaku positif yang meningkat.

b. Pengalaman

Sesuatu yang pernah dilakukan seseorang

akan menambah pengetahuan tentang suatu yang

bersifat informal.

c. Informasi

Seseorang yang mendapatkan informasi

lebih banyak akan menambah pengetahuan menjadi

lebih luas.

d. Budaya

Tingkah laku manusia atau kelompok

manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi

sikap dan kepercayaan.


25

2.2 Kerangka Teori

IGD (Instalasi Gawat Darurat)

Pengetahuan response time diruang


Peran Perawat: triage
a. Pemberi asuhan keperawatan
b. Advokat klien
c. Edukator
d. Koordinator
e. Kolaborator Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
f. Konsultan a. Pendidikan
g. Peneliti/pembaharuan b. Pengalaman
c. Informasi
d. Budaya

Pemberi asuhan keperawatan Response Time

Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan response time diruang


pengetahuan: triage
a. Pendidikan
b. Pengalaman
c.: yang
Informasi
tidak d
d. Budaya

: yang tidak diteliti.

: yang diteliti.

Gambar 2.1

Kerangka Teori Pengetahuan (Notoatmojo, 2003).


Response time (Purwadinata, 2001).
26

2.3 Fokus penelitian

Response time di ruang


Pengetahuan perawat
trage

Gambar 2.2

Fokus penelitian
27

2.4 Keaslian penelitian

NO Nama Judul Penelitian Metode Hasil


Peneliti Penelitian Penelitian
1. Wa Ode Nur Faktor-faktor Penelitian ini Waktu tanggap
Isnah yang dilakukan penanganan
Sabriyati, berhubungan dinstalasi kasus IGD bedah
Andi Asadul dengan ketepatan Gawat Darurat yang tepat
Islam, Waktu tanggap Bedah dan Non- sebanyak 67,9%
dan tidak tepat
Syafruddin penanganan Bedah Dr.
32,1%. Waktu
Gaus. kasus pada Wahidin tanggap
response time I Sudirohusodo penanganan
di instalasi gawat pada bulan Mei kasus IGD Non-
darurat bedah 2012 dengan Bedah yang tepat
dan non-bedah menggunakan sebanyak 82,1%
rsup dr. Wahidin desain cross dan tidak tepat
sudirohusodo sectional study 17,9%. Tidak
(Dempsey, terdapat
2002). hubungan yang
bermakna antara
pola penempatan
staf dengan
ketepatan waktu
tanggap
penanganan
kasus di IGD
Bedah (p = 0,67)
dan Non-Bedah
(p = 0,062).

2. Yanty Hubungan Penelitian ini Hasil penelitian


Gurning, tingkat menggunakan menunjukkan
Darwin pengetahuan dan desain bahwa ada
Karim, sikap petugas deskriptif hubungan yang
Misrawati. kesehatan igd korelatif, yaitu bermakna
terhadap untuk antara tingkat
tindakan triage mengetahui pengetahuan
berdasarkan hubungan petugas
prioritas tingkat kesehatan IGD
pengetahuan terhadap
dan sikap tindakan triage
petugas berdasarkan
kesehatan IGD prioritas dengan
terhadap P value < α
tindakan triage (0,036 < 0,05)
berdasarkan dan ada
28

prioritas. hubungan
Sampel antara sikap
penelitian petugas
berjumlah 32 kesehatan IGD
orang yang terhadap
terdiri dari 8 tindakan triage
orang dokter berdasarkan
dan 24 orang prioritas dengan
perawat di IGD P value < α
Rumah Sakit (0,006 < 0,05).
Eka Hospital
dengan
menggunakan
teknik total
sampling.

Table 2.2
Keaslian Penelitian.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan

study fenomenology penelitian kualitatif merupakan penelitian yang pada

umumnya menjelaskan dan memberi pemahaman dan interpretasi tentang

berbagai perilaku dan pengalaman manusia (individu) dalam berbagai bentuk

(Poerwandari, 2009). Peneliti mengambil metode kualitatif karena penelitian

ini dilakukan pada kondisi alamiah (natural setting), dimana peneliti sebagai

instrumen kunci, menggunakan data yang pasti dan untuk mendapatkan data

yang mendalam karena setiap keluarga atau orang mempunyai pengalaman

yang berbeda-beda.

Fenomenology adalah memberikan deskripsi, refleksi, interprestasi,

dan modus riset yang menyampaikan intisari dari pengalaman kehidupan

individu yang diteliti (Van Manen, 2007). Pendekatan deskriptif

fenomenology juga dinilai dapat menjelaskan fokus permasalahan

pengetahuan perawat tentang response time dalam penanganan gawat darurat

di ruang triage RSUD Karanganyar (Poerwadi, 2009).

Peneliti tertarik untuk meneliti pengetahuan perawat tentang response

time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage RSUD Karanganyar,

pendekatan yang digunakan adalah pendekatan study fenomenology

merupakan pendekatan yang tepat untuk penelitian ini kerena fenomenologi

29
30

adalah memberikan deskripsi, refleksi, interprestasi, dan modus riset yang

menyampaikan intisari dari pengalaman kehidupan individu yang diteliti.

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat) RSUD

Karanganyar dari tanggal 13 Februari 2015 sampai 16 Mei 2015.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di RSUD

Karanganyar khususnya perawat di IGD yang berjumlah 18 perawat. Teknik

pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive

sampling (teknik sampel bertujuan) yaitu pengambilan sampel diantara

populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti sehingga sampel tersebut

dapat mewakili karakteristik populasi (Nursalam 2009). Penelitian ini di

hentikan setelah tercapainya saturasi dengan jumlah 4 Informan. Informan

berasal dari perawat yang bekerja di IGD RSUD Karanganyar dengan

kriteria:

1. Perawat bekerja di IGD Rumah Sakit minimal selama 3 tahun.

2. Pendidikan minimal D3 keperawatan.

3. Sudah mendapat pelatihan BTCLS.

4. Bersedia menjadi informan.


31

3.3 Instrumen dan prosedur Pengumpulan Data

1. Instrumen

Instrumen dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :

a. Instrument inti

Peneliti dalam penelitian ini merupakan instrument/ alat dalam

penelitian, karena peneliti sebagai perencana, penafsir data

pengevaluasi hasil penelitian. Peneliti harus paham metode

penelitian, penguasaan teori wawancara terhadap bidang yang akan

diteliti, dan peneliti siap untuk memasuki obyek penelitian, baik

secara akademik maupun logistiknya.

b. Instrumen penunjang

Alat bantu dalam pengumpulan data yang digunakan yaitu:

1) Lembar alat pengumpul data (meliputi nama, umur,

alamat, pendidikan) untuk mencatat identitas informan,

alat tulis (buku dan bolpoin) untuk menulis hasil

wawancara antara peneliti dan informan.

2) Lembar pedoman wawancara sebagai pedoman dalam

mengajukan pertanyaan kepada informan, pertanyaan yang

diajukan pada informan diantaranya tentang pemahaman

tentang triage dan response time.

3) Alat perekam suara (voice recorder) untuk merekam

wawancara antara peneliti dan informan yang berupa

handphone karena hasil rekaman terdengar jelas.


32

4) Pedoman wawancara semi terstruktur yang terdiri dari

beberapa pertanyaan mengenai triage dan response time.

5) Camera digunakan untuk mendokumentasikan hasil

wawancara dengan informan. Proses dokumentasi ini

dengan cara memfoto informan dari belakang ketika

wawancara sedang berlangsung tanpa memperlihatkan

wajah sesuai dengan etika penelitian.

2. Prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data antara lain:

1) Wawancara Mendalam

Wawancara adalah tehnik pengumpulan data melalui

proses tanya jawab yang berlangsung satu arah, artinya

pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban

diberikan oleh yang di wawancarai (Fatoni 2006).

Sumber data yang sangat penting dalam penelitian

kualitatif adalah berupa manusia yang dalam posisi sebagai

narasumber atau informan. Untuk mengumpulkan informasi dari

sumber data ini diperlukan tehnik wawancara, yang dalam

penelitian kualitatif khususnya dilakukan dalam bentuk yang

disebut wawancara mendalam. Tehnik wawancara ini merupakan

teknik yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif

(Sutopo, 2006).

Tehnik pengambilan data kepada informan dengan cara

wawancara mendalam yaitu dengan memberi pertanyaan kepada


33

informan kemudian jawaban informan digali lebih mendalam

sampai tidak ada pendapat atau ide-ide baru dari informan.

2) Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang

dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-

pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran (Fatoni

2006). Menurut Sutopo (2006) observasi dibagi menjadi dua

yaitu tak berperan dan observasi berperan. Observasi berperan

meliputi observasi berperan aktif, dan observasi berperan penuh

(Sutopo, 2006).

Pada penelitian ini pengolahan data termasuk kedalam

observasi tak berperan, peneliti sama sekali kehadirannya dalam

melakukan observasi tidak mengetahui oleh subjek yang diamati.

Disini peneliti benar-benar tidak melakukan peran sama sekali

sehingga apapun yang dilakukan peneliti sebagai pengamat tidak

akan mempengaruhi segalanya yang terjadi pada sasaran yang

diamati (Sutopo, 2006).

Observasi pada penelitian ini langsung dilakukan untuk

mengamati proses response time yang dilakukan perawat di

Ruang triage RSUD Karanganyar. Pada hal ini yang perlu

diamati adalah lama response time yang dilakukan perawat pada

pasien gawat darurat di Ruang triage, setelah itu didapatkan data


34

menganai response time perawat terhadap pasien gawat darurat

di Ruang triage.

3) Studi dokumentasi

Studi dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah

berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-

karya monumental dari seseorang (Sugiono 2009).

Studi dokumentasi penelitian ini dengan menyalin SOP

IGD RSUD Karanganyar tentang triage sehari-hari dan

dokumentasi informan berupa foto pada setiap wawancara

kepada informan. Dokumentasi ini dengan cara memfoto

informan dari belakang ketika wawancara sedang berlangsung

sesuai etika penelitian.

Dengan tahapan penelitian sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan

Setelah peneliti mendapat surat ijin penelitian dari

STIKes Kusuma Husada Surakarta, peneliti akan minta

ijin kepada RSUD Karanganyar untuk meneliti di tempat

tersebut, setelah mendapat ijin peneliti akan meminta ijin

kepada calon informan dan kontrak waktu selama 30-45

menit sesuai kriteria inklusi yang ada pada rencana

penelitian. Sebelum peneliti melakukan wawancara,

peneliti terlebih dahulu melakukan pendekatan kepada

informan, menjelaskan tujuan yang akan dilakukannya,


35

mengecek instrumen penunjang seperti alat perekam,

peneliti harus menguasai konsep, latihan wawancara

terlebih dahulu dan menguji coba wawancara terlebih

dahulu kepada perawat.

2. Tahap Pelaksanaan

Setelah itu wawancara secara mendalam

dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data dan

untuk memperkuat penelitiannya. Wawancara Semi

terstruktur, wawancara ini termasuk dalam kategori in-

dept interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih

bebas. Tujuan dari wawancara ini untuk menemukan

permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang

diajak wawancara dimintai pendapat, dan ide-idenya.

Dalam melakukan wawancara peneliti mendengarkan

secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh

informan. Urutan pertanyaan tergantung pada proses

wawancara dan jawaban tiap individu, wawancara ini

menggunakan pertanyaan terbuka (Open-ended

questions) dan menggunakan bantuan pertanyaan

wawancara yang telah disiapkan sebelumnya (Stars H,

2007).
36

3. Tahap Terminasi

Penulis menulis laporan, mendokumentasikan

hasilnya. Dalam penulisan laporan, peneliti harus mampu

menuliskan setiap frasa, kata dan kalimat serta pengertian

secara tepat sehingga dapat mendeskripsikan data dan

hasil analisa yang telah diambil. Penulis mencatat

kembali jika ada data tambahan, peneliti memberikan

reward kepada informan, peneliti menyatakan bahwa

penelitiannya sudah selesai kepada informan.

3.4 Analisa data

Analisa Data merupakan proses pengumpulan data, mengajukan

pertanyaan-pertanyaan dari peneliti dan menulis catatan singkat sepanjang

penelitian (Creswell, 2013). Teknik analisa yang dapat digunakan pada

penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Collaizi (Creswell,

2013). Alasan metode ini didasarkan dengan filosofi Husserl, yaitu suatu

penampakan fenomena informan, sehingga sangat cocok untuk memahami

arti dari suatu makna fenomena pengetahuan perawat tentang response time

dalam penanganan gawat darurat di ruang triage.

Adapun langkah-langkah analisa sebagai berikut :

1. Membuat transkip wawancara tentang pengetahuan perawat tentang

response time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage dari


37

informan dalam bentuk narasi yang bersumber dari wawancara

mendalam.

2. Membaca kembali secara keseluruhan transkip wawancara dari

informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman

informan tentang pengetahuan perawat tentang response time dalam

penanganan gawat darurat di ruang triage. Peneliti melakukan 3-4 kali

membaca transkrip untuk merasa hal yang sama seperti informan.

3. Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan

yang signifikan pengetahuan perawat tentang response time dalam

penanganan gawat darurat di ruang triage. Pernyataan-pernyataan yang

merupakan pengulangan dan mengandung makna yang sama atau mirip

maka pernyataan ini diabaikan.

4. Memformulasikan arti dari kata kunci dengan cara mengelompokkan

kata kunci yang sesuai pernyataan penelitian, selanjutnya

mengelompokkan lagi kata kunci yang sejenis sesuai dengan kriteria

informan yaitu perawat dengan kriteria bekerja di Rumah Sakit minimal

selama 3 tahun, pendidikan minimal D3 keperawatan, sudah mendapat

pelatihan BTCLS dan bersedia menjadi informan.Peneliti sangat

berhati-hati agar tidak membuat penyimpangan arti dari pernyataan

informan dengan merujuk kembali pada pernyataan informan yang

signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu

dengan yang lain.


38

5. Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa

kelompok tema. Setelah tema-tema terorganisir, peneliti memvalidasi

kembali kelompok tema tersebut dengan cara menanyakan kembali

hasil wawancara yang disampaikan informan apakah informan mau

menambahi atau mengurangi jawaban tersebut.

6. Mengintegrasikan semua hasil penelitian ke dalam suatu narasi yang

menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian pengetahuan

perawat tentang response time dalam penanganan gawat darurat di

ruang triage.

7. Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan

lalu diikutsertakan pada diskripsi hasil akhir penelitian.

3.5 Keabsahan Data

Dalam pengujian keabsahan data, metode yang digunakan pada penelitiam

ini meliputi :

1. Pengujian Transferability

Merupakan validitas eksternal, menunjukkan derajad ketepatan

atau dapat diterapkan hasil penelitian ke populasi di mana sampel

tersebut diambil. Peneliti dalam membuat laporan harus memberikan

uraian yang rinci, jelas sistematis dan dapat dipercaya (Rosbon, 2011).

2. Pengujian Dependebility

Peneliti melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.

Dimana pembimbing memantau aktivitas peneliti dalam melakukan


39

penelitian. Peneliti mulai menentukan masalah/fokus, memasuki

lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data,

melakukan uji keabsahan data, sampai membuat kesimpulan harus

dapat ditunjukkan (Creswell, 2013).

3. Pengujian Konfirmability

Penelitian ini telah disepakati oleh orang banyak. Dimana hasil

penelitiannya diuji dan dikaitkan dengan proses yang dilakukan

peneliti. Dalam penelitian jangan sampai prosesnya tidak ada,tetapi

hasilnya ada. Peneliti harus mendapatkan persetujuan dari informan dan

menyertakan surat-surat yang sudah diperolehnya (Creswell, 2013).

3.6 Prinsip-prinsip Etika Penelitian

1. Menghargai Harkat dan Martabat informan

Prinsip ini dapat dilakukan peneliti untuk memenuhi hak-hak

informan dengan cara menjaga kerahasiaan identitas informan seperti

menggunakan nama inisial kepada setiap Informan dan dokumentasi

dengan cara memfoto Informan dari belakang. Informan mempunyai

hak otonomi untuk menentukan keputusannya secara sadar dan

sukarela/ tanpa paksaan setelah diberikan penjelasan oleh peneliti dan

memahami bentuk informannya dalam penelitian yang dilakukan

Menjamin kerahasiaan (confidentiality) data, peneliti akan menyimpan

seluruh dokumen hasil pengumpulan data berupa lembar persetujuan

mengikuti penelitian, biodata, hasil rekaman dan transkrip wawancara


40

dan hasil rekaman diberi kode informan tanpa nama (hak anonymity),

untuk selanjutnya disimpan di dalam file khusus. Hal ini dilakukan

peneliti untuk menghormati prinsip privacy dan dignity.

2. Prinsip keadilan (Justice)

Merupakan hak untuk diperlakukan adil dan tidak dibeda-bedakan

diantara mereka selama kegiatan penelitian dilakukan (Kvale, 2011).

Setiap peneliti memberi perlakuan dan penghargaan yang sama dalam

hal apa pun selama kegiatan penelitian dilakukan tanpa memandang

suku, agama, etnis, dan kelas sosial

3. Persetujuan setelah penjelasan (Informed consent)

Merupakan persetujuan antara peneliti dan informan dengan

memberikan lembar persetujuan. Pernyataan persetujuan diberikan

kepada informan setelah memperoleh berbagai informasi berupa tujuan.

Jika informan setuju, maka diminta untuk menandatangani lembar

persetujuan (Kvale, 2011). Peneliti meminta persetujuan dari informan

terlebih dahulu (lisan atau tulisan) untuk berpartisipasi pada penelitian

yang akan dilakukan, peneliti memberkan informasi yang jelas kepada

informan.
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini menguraikan hasil penelitian tentang pengetahuan perawat

tentang response time dalam penanganan gawat darurat diruang triage RSUD

Karanganyar dari tanggal 13 Februari 2015 sampai 16 Mei 2015. Hasil penelitian

diuraikan menjadi 3 bagian. Pertama menjelaskan tentang gambaran lokasi penelitian.

Kedua menjelaskan tentang karakteristik informan yang terlibat secara langsung

dalam penelitian dengan singkat dan ketiga menguraikan hasil tematik tentang

pengalaman informan.

4.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karanganyar merupakan

Rumah Sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar. Rumah Sakit Ini

pada hakekatnya berawal dari sebuah Rumah Bersalin (RB) bernama RB

“Kartini” yang didiriksn pada tanggal 21 April 1960. RSUD Kabupaten

Karanganyar memenuhi syarat menjadi RSU kelas C berdasarkan analisis

organisasi, fasilitas dan kemampuan, dan dilakukan dengan Keputusan Menkes

Republik Indonesia Nomor 009-I/MENKES/1/1993, tentang Susunan Organisasi

dan Tata Kerja RSU Karanganyar. Sejak tanggal 2 Maret 2009 Rumah Sakit

Umum Daerah Kabupaten Karanganyar ditetapkan sebagai Badan Layanan

Umum Daerah (BLUD) dengan status BLUD penuh.

41
42

RSUD Karanganyar mempunyai IGD dan terdapat 18 perawat yang bekerja di

IGD tersebut, IGD tersebut terdapat 8 ruangan, 4 ruangan tindakan berdasarkan

triage, 1 ruang isolasi, 1 ruangan administrasi, 1 ruangan perawat dan 1 kamar

mandi pasien. IGD tersebut memiliki SOP triage sehari-hari dan dalam

melakukan tindakan triage masih melakukan seleksi pada pasien secara cepat dan

tepat menurut kriteria true emergency dan false emergency. IGD tersebut

memiliki prasarana yang memadai seperti bed pasien disetiap ruangan, kursi roda,

tabung oksigen dan prasarana penunjang lainya.

4.2 Gambaran Karakteristik Informan

4.2.1 Informan 1

Ny. D berjenis kelamin perempuan usia 37 tahun, pendidikan terakhir

yaitu S1 Keperawatan. Pengalaman kerja selama 14 tahun di ruang IGD. Ny.

D sudah menjadi pegawai tetap di IGD RSUD Karanganyar, sudah pernah

mengikuti pelatihan kegawatdaruratan.

4.2.2 Informan 2

Tn. Y berjenis kelamin laki-laki usia 33 tahun, pendidikan terakhir

yaitu S1 Keperawatan. Pengalaman kerja selama 3 tahun di ruang IGD. Tn. Y

sudah menjadi pegawai tetap di IGD RSUD Karanganyar, sudah pernah

mengikuti pelatihan kegawatdaruratan.


43

4.2.3 Informan 3

Tn. A berjenis kelamin laki-laki usia 35 tahun, pendidikan terakhir

yaitu S1 Keperawatan. Pengalaman kerja selama 5 tahun di ruang IGD. Tn. Y

sudah menjadi pegawai tetap di IGD RSUD Karanganyar, sudah pernah

mengikuti pelatihan kegawatdaruratan.

4.2.4 Informan 4

Tn. W berjenis kelamin laki-laki usia 28 tahun, pendidikan terakhir

yaitu S1 Keperawatan. Pengalaman kerja selama 4 tahun di ruang IGD. Tn. Y

sudah menjadi pegawai tetap di IGD RSUD Karanganyar, sudah pernah

mengikuti pelatihan kegawatdaruratan.

4.3 Hasil penelitian.

4.3.1 Pengetahuan perawat tentang triage.

Hasil penelitian untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang triage

didapatkan 2 tema yaitu 1) Pengertian Triage 2) Pembagian triage. Berikut

ungkapan dari informan:

1. Pengertian riage

Tema Pengertian triage ini didapatkan sub tema 1) Pengelompokkan

berdasarkan kegawatannya 2) Pengelompokan berdasarkan kualifikasi berat

ringannya kasus, dapat ditemukan dalam ungkapan Informan:

“…pengelompokan berdasarkan kegawatdaruratan pasien (I1)”


“Triage itu adalah suatu tindakan atau tempat dimana pasien di
golongkan dari tingkat kegawatan (I2)”
44

“…proses pengelompokkan itu berdasarkan kegawatdaruratan pasien


(I4)”

Informan 1, 2 dan 4 mengungkapkan bahwa triage itu adalah pengelompokan

berdasarkan kegawatannya. Berbeda dengan informan 3, berikut ungkapanya:

“Triage itu pembedaan pasien berdasarkan kualifikasi berat ringanya


kasus yang diderita pasien (I3)”

Pertisipan ke 3 mengungkapkan bahwa triage adalah pengelompokan

berdasarkan kualifikasi berat ringanya kasus.

2. Pembagian triage

Tema Pembagian triage ini didapatkan 5 sub tema 1) Tempat 2)

Prioritas 3) Warna prioritas 4) Kondisi pasien 5) Prinsip triage, dapat

ditemukan dalam ungkapan partisipan:

“Triage itu kan ada yang menurut tempat pasien yang gawat darurat,
yang gawat darurat sekali, gawat biasa, dan pasien yang sudah
meninggal (I2)”

“Itu ada tiga tempat umum, dilokasi kejadian suatu kecelakaan, kedua
di pos medis, dilokasi bencana (I3)”

“…triage tempatnya itu ada beberapa yang pertama di IGD terus


selain di IGD itu juga ada di tempat bencana juga di medan
pertempuran (I4)”

Informan 2, 3, dan 4 mengungkapkan bahwa Pembagian triage itu

berdasarkan tempat. Informan 2 mengungkapkan bahwa triage itu ada tiga

yaitu pasien yang gawat darurat, pasien yang gawat darurat sekali, pasien

gawat darurat biasa dan pasien yang sudah meninggal. Informan 3


45

mengungkapkan bahwa triage itu ada tiga yaitu di lokasi kejadian kecelakaan,

dipos medis dan di lokasi bencana. Informan 4 mengungkapkan bahwa triage

ada tiga yaitu di IGD, ditempat terjadi bencana dan di medan pertempuran.

“Emergency, Urgent, Nonurgent (I1)”

Informan 1 mengungkapkan bahwa pembagian triage itu berdasarkan prioritas

yaitu Emergency, Urgent, Nonurgent..

“Merah, kuning, hijau, hitam (I1)”

“Merah, kuning, hijau, hitam (I2)”

“Hitam, merah, kuning, hijau (I3)”

“setahu saya itu ada merah, kuning, hijau, hitam (I4)”

Informan 1, 2. 3, dan 4 juga mengatakan pembagian triage berdasarkan warna

prioritas.

“…sesuai kondisi pasien kita harus memprioritaskan A, B, C nya dulu


(I1)”

“…dimana teorinya pasien yang sudah mengalami suatu kegawatan


itu kan tergantung dari jenis-jenis kondisi pasien (12)”

Informan 1 dan 2 mengatakan pembagian triage berdasarkan kondisi pasien.

Informan 1 mengatakan bahwa pasien yang harus diprioritaskan adalah A, B,

C nya dahulu. Informan 2 mengatakan bahwa pasien yang diprioritaskan

tergantung dari jenis kondisi pasien tersebut.

“prinsipnya itu harus segera ditangani pasien yang gawat dahulu


(I4)”
46

Informan 4 mengatakan pembagian triage berdasarkan kondisi pasien dimana

yang pasien gawat terlebih dahulu yang harus ditangani.

4.3.2 Pengetahuan response time perawat terhadap pasien gawat darurat.

Hasil penelitian untuk mengetahui pengetahuan response time perawat

terhadap pasien gawat darurat didapatkan 4 tema 1) Pengertian Response time

2) Waktu tanggap menurut prioritas warna 3) Waktu tanggap menurut

prioritas kegawatan 4) Faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Berikut

ungkapan informan:

1. Pengertian response time

Tema Pengertian response time didapatkan sub tema 1) Pengertian

response time 2) Waktu tanggap menurut prioritas warna ditemukan dalam

ungkapan informan:

“…waktu yang kita gunakan untuk menangani pasien dari pasien


masuk sampai kita pindahkan dibangsal (I1)”

“Waktu tanggap pasien dimana dari pasien datang kita layanin


sampai dipindahkan dibangsal (I2)”

“waktu tanggap darurat untuk menangani suatu pasien (I3)”

Informan 1, 2, dan 3 mengungkapkan bahwa pengertian response time waktu

tanggap untuk menangani pasien.

“kecepatan melakukan tindakan kepada pasien (I4)”

Berbeda dengan informan 4 yang mengungkapkan response time itu adalah

kecepatan melakukan tindakan.


47

2. Waktu tanggap menurut prioritas warna

Tema waktu tanggap menurut prioritas warna didapatkan sub tema 1)

Merah 2) Kuning 3) Hijau 4) Hitam, ditemukan dalam ungkapan informan:

“merah itu harus cepat, merah secepatnya (I3)”

“terus merah yang harus didahulukan (I3)”

“Kalau merah itu langsung mas tidak boleh menunggu (I4)”

Informan 3 dan 4 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut prioritas warna

merah harus dilakukan tindakan secepatnya. Informan tiga menyebutkan

warna merah itu harus dilakukan tindakan seceparnya dan harus didahulukan.

Informan empat menyebutkan warna merah harus dilakukan tindakan

langsung tanpa harus menunggu.

“kuning itu harus cepat tapi tidak begitu secepat yang merah, kalau
yang kuning itu cepet tapi tidak harus dilakukan tindakan (I2)”

“…kalau kuning 10-15 menit (I3)”

“…terus kuning yang mengancam (I3)”

“…kalau yang kuning itu kan gawat tapi tidak darurat mas misal
kalau ditunda 5-10 menit (I4)”

Informan 2, 3 dan 4 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut prioritas

warna kuning bisa menunggu. Informan tiga menyebutkan warna kuning bisa

menunggu 10-15 menit dan warna kuning mengancam. Informan empat

menyebutkan warna kuning gawat tetapi tidak darurat dan memiliki waktu

tunggu 5-10 menit.

“…hijau kan biasa santai (12)”


48

“…kalau hijau tidak begitu prioritas untuk dilakukan Triage (I3)”


“terus yang hijau bisa menunggu (I3)”

“untuk hijau itu kan tidak gawat tidak darurat jadi kalau
penangananya ditunda setengah jam pun tidak apa-apa (I4)”

Informan 2 menyebutkan warna hijau bisa santai, informan 3 menyebutkan

bahwa warna hijau tidak begitu prioritas dilakukan triage dan bisa menunggu,

informan 4 menyebutkan bahwa warna hijau tidak gawat dan tidak darurat

jika dilakukan penundaan penanganan selama 1 jam pun tidak apa-apa.

“…hitam sudah meninggal (I2)”

“hitam bisa menunggu (I3)”

“Triage nilai hitam nilainya nol (I3)”

“…dan untuk hitam tadi itu kan pasien yang sudah meninggal nah ini
penanganan terakhir sendiri mas (I4)”

Informan 2 menyebutkan bahwa warna hitam pasien sudah meninggal,

informan 3 menyebutkan bahwa warna hitam bisa menunggu dan nilai Triage

hitam nol, dan untuk informan 4 menyebutkan bahwa warna hitam itu adalah

pasien yang sudah meninggal dan penangananya terakhir sendiri.

3. Waktu tanggap menurut prioritas kegawatan.

Tema waktu tanggap menurut prioritas kegawatan didapatkan sub

tema 1) Jenis kegawatan, ditemukan dalam ungkapan informan:

“Emergency kurang dari 5 menit Urgent berarti ada toleransi lebih,


pokoknya sebisa mungkin harus segera ditangani (I1)”
49

Informan 1 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut prioritas kegawatan

yaitu Emergency kurang dari 5 menit Urgent itu ada toleransi lebih dan sebisa

mungkin harus ditangani segera.

4. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Tema Faktor yang mempengaruhi pengetahuan didapatkan 4 sub tema

1) pendidikan 2) pengalaman 3) informasi 4) budaya, ditemukan dalam

ungkapan informan:

“…pendidikan berpengaruh sekali ya (I1)”

“Pendidikan itu juga kan mempengaruhi (I2)”

“Sangat-sangat mempengaruhi dari pendidikan (I3)”

“Ya jelas to mas dapat mempengaruhi (I4)”

Informan 1, 2, 3, dan 4 menyebutkan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi

pengetahuan.

“perawat pengalamannya kurang otomatis mempengaruhi Response


time (I1)”

“Pengalamankan lama bekerja di IGD itu juga kan mempengaruhi


(I2)”

“Pengalaman tentu saja sangat kita butuhkan (I3)”

“Pengalaman juga sangat mempengaruhi (I4)”

Informan 1, 2, 3, dan 4 menyebutkan bahwa pengalaman sangat

mempengaruhi pengetahuan dan sangat dibutuhkan.

“Informasi itu kan bisa dilakukan dari teman yang lama dan yang
baru bisa saling memberikan informasi (I2)”
50

“…update informasi sangat diperlukan (I3)”


“informasi yang didapatkan juga akan mempengaruhi juga (I4)”
Informan 2 menyebutkan bahwa informasi dapat didapatkan dari teman yang

sudah lama bekerja, informan 3 menyebutkan bahwa update informasi sangat

diperlukan, informan 4 menyebutkan bahwa informasi dapat mempengaruhi

pengetahuan.

“Budaya itu kan paling dilihat dari rutinitasnya (I2)”


“… ya berpengaruh semua (I4)”

Informan 2 menyebutkan bahwa budaya dapat dilihat dari rutinitansnya,

informan 3 menyebutkan bahwa budaya mungkin tidak begitu mempengaruhi

pengetahuan, informan 4 menyatakan bahwa budaya mempengaruhi

pengetahuan.
BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Pengetahuan perawat tentang triage.

5.1.1 Pengertian triage

Hasil wawancara dari informan 1, 2, dan 4 dapat disimpulkan

bahwa triage adalah pengelompokkan berdasarkan kegawatan pasien.

Sedangkan hasil wawancara informan 3 dapat disimpulkan bahwa triage

adalah pengelompokan berdasarkan kualifikasi berat ringannya kasus. Hal

ini sama dengan yang diungkapkan oleh Zimmermann dan Herr, (2006)

bahwa triage adalah suatu proses penggolongan pasien berdasarkan tipe

dan tingkat kegawatan kondisinya.

5.1.2 Pembagian triage

Informan 4 mengungkapkan bahwa triage ada tiga yaitu di IGD,

ditempat terjadi bencana dan dimedan pertempuran. Hal ini sama dengan

ungkapan Dewi Kartika, (2013) bahwa triage digunakan untuk

menentukan prioritas penanganan pada perang dunia pertama. Klasifikasi

ini digunakan oleh militer perang, untuk mengidentifikasi dan melakukan

pada tentara korban perang yang mengalami luka ringan dengan tujuan

setelah dilakukan tindakan penanganan dapat kembali ke medan perang.

Triage juga diterapkan dalam lingkup bencana atau musibah massal dan

pada akhir tahun 1950 mulai digunakan pada unit gawat darurat di Rumah

Sakit.

51
52

Informan 2 mengungkapkan bahwa triage itu ada tiga yaitu pasien

yang gawat darurat, pasien yang gawat darurat sekali, pasien yang gawat

darurat biasa dan pasien yang sudah meninggal. Hal ini sudah sesuai

dengan SOP IGD triage sehari-hari dan dalam melakukan tindakan triage

masih melakukan seleksi pada pasien secara cepat dan tepat menurut

kriteria true emergency dan false emergency, ditempatkan sesuai ruang

pelayanan yang terpisah di IGD.

Informan 3 mengungkapkan bahwa triage itu ada tiga yaitu di

lokasi kejadian kecelakaan, dipos medis dan di lokasi bencana. Hal ini

belum sesuai yang ungkapan Dewi Kartika, (2013) bahwa triage

digunakan pada 3 tempat yaitu pada medan pertempuran, lokasi bencana

masal dan unit gawat darurat di Rumah Sakit.

Informan 1 mengungkapkan bahwa pembagian Triage itu

berdasarkan prioritas yaitu Emergency, Urgent, Nonurgent. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Dewi Kartikawati N. (2011) bahwa Triage dibagi

menjadi 3 prioritas yaitu Prioritas 1 atau Emergency, Prioritas 2 atau

Urgent dan Prioritas 3 atau Nonurgent.

Informan 1, 2, 3 dan 4 juga mengatakan pembagian triage

berdasarkan warna prioritas. Hal ini sudah sesuai dengan Prioritas triage

menurut (Mosby, 2008) bahwa triage dibagi menjadi 4 prioritas warna

yaitu: Prioritas pertama / immediate (MERAH), Prioritas kedua / delayed

(KUNING), Prioritas ke tiga / minimal (HIJAU), Prioritas keempat / nol /

expectant (HITAM).
53

Informan 1 dan 2 mengatakan pembagian triage berdasarkan

kondisi pasien. Informan 1 mengatakan bahwa pasien yang harus

diprioritaskan adalah A, B, C nya dahulu. Informan 2 mengatakan bahwa

pasien yang diprioritaskan tergantung dari jenis kondisi pasien tersebut.

Hal ini sesuai dengan ungkapan Zimmermann dan Herr, (2006). Triage

juga diartikan sebagai suatu tindakan pengelompokkan penderita

berdasarkan pada beratnya cidera yang diprioritaskan ada tidaknya

gangguan Airway (A), Breathing (B), dan Circulation (C) dengan

mempertimbangkan sarana, sumber daya manusia, dan probabilitas hidup

penderita, dan juga ungkapan Pusponegoro, (2010) bahwa

penatalaksanaan dapat segera diberikan untuk menstabilkan kondisi

pasien.

Triage dilakukan berdasarkan pada ABCDE, beratnya cedera,

jumlah pasien yang datang, sarana kesehatan yang tersedia serta

kemungkinan hidup pasien, serta ungkapan Bagus, (2007) bahwa perawat

memberikan prioritas pertama untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas

atau sirkulasi terganggu. Pasien-pasien ini mungkin memiliki kesulitan

bernapas atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima

pengobatan pertama. Pasien yang memiliki masalah yang sangat

mengancam kehidupan diberikan pengobatan langsung bahkan jika

mereka diharapkan untuk mati atau membutuhkan banyak sumber daya

medis .
54

Informan 4 mngetakan pembagian triage berdasarkan kondisi

pasien dimana yang pasien gawat terlebih dahulu yang harus ditangani.

Hal ini sesuai dengan ungkapan Brooker, (2008). Dalam prinsip triage

diberlakukan sistem prioritas, prioritas adalah penentuan/penyeleksian

mana yang harus didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada

tingkat ancaman jiwa yang timbul dengan seleksi pasien berdasarkan: 1)

Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit, 2) Dapat

mati dalam hitungan jam, 3) Trauma ringan, 4) Sudah meninggal.

5.2 Pengetahuan response time perawat terhadap pasien gawat darurat.

5.2.1 Pengertian response time.

Informan 1, 2, dan 3 mengungkapkan bahwa pengertian response

time waktu tanggap untuk menangani pasien sampai dipindahkan ke

bangsal. Hal ini belum sesuai dengan Kepmen, (2003) kecepatan yaitu

suatu kemampuan untuk pelayanan yang cepat (responsif). Pelayanan

adalah suatu bagian atau urutan yang terjadi dalam interaksi langsung

antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik dan

menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

pelayanan adalah usaha melayani kebutuhan orang lain, sedangkan

melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan

seseorang. Pelayanan cepat menentukan kepuasan pasien. Pelayanan yaitu

target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah

ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan.


55

Informan 4 mengungkapkan bahwa response time itu adalah

kecepatan melakukan tindakan. Hal ini sesuai dengan WHO, (1998)

pengertian response time adalah pelaksanaan tindakan atau pemeriksaan

oleh dokter dan perawat dalam waktu kurang dari 5 menit dari pertama

kedatangan pasien di IGD, Sasaran dari penjadwalan ini adalah

meminimalkan waktu tanggap angka keterlambatan pelayanan pertama

gawat darurat/emergency response time rate.

5.2.2 Waktu tanggap menurut prioritas warna.

Informan 3 dan 4 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut

prioritas warna merah harus dilakukan tindakan secepatnya. Informan 2, 3

dan 4 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut prioritas warna kuning

bisa menunggu informan 2 mengatakan waktu tunggu 10-15 menit,

informan 4 mengatakan waktu tunggu 5-10 menit. Informan 4

menyebutkan bahwa prioritas warna hijau tidak terlalu diprioritaskan

karena sifatnya tidak gawat dan tidak darurat dan penanganannya ditunda

selama setengah jam pun tidak apa-apa. Informan 4 menyatakan bahwa

warna hitam itu adalah prioritas paling akhir dilakukan karena warna hitam

itu menandakan pasien sudah meninggal. Hal ini sesuai dengan prioritas

triage menurut Mosby, (2008) yang menyatakan bahwa: prioritas pertama

/ immediate (MERAH) korban membutuhkan stabilisasi segera dan atau

dalam keadaan kritis.

Informan tiga menyebutkan warna kuning bisa menunggu 10-15

menit dan warna kuning mengancam. Informan empat menyebutkan warna


56

kuning gawat tetapi tidak darurat dan memiliki waktu tunggu 5-10 menit.

Hal ini sesuai dengan prioritas triage menurut Mosby, (2008) yang

menyatakan bahwa: prioritas kedua / delayed (KUNING) korban

membutuhkan pertolongan dan pengawasan ketat tetapi perawatan dapat

ditunda sementara selama 10 menit.

Informan 3 menyebutkan bahwa warna hijau tidak begitu prioritas

dilakukan triage dan bisa menunggu, informan 4 menyebutkan bahwa

warna hijau tidak gawat dan tidak darurat jika dilakukan penundaan

penanganan selama 1 jam pun tidak apa-apa. Hal ini sesuai dengan

prioritas triage menurut Mosby, (2008) yang menyatakan bahwa: prioritas

ke tiga / minimal (HIJAU) korban yang masih mampu berjalan, pemberian

pengobatan dapat ditunda selama 60 menit dan atau tidak memerlukan

pengobatan. Berbeda dengan pernyataan informan 2 menyebutkan warna

hijau bisa santai dan tidak sesuai teori.

Informan 2 menyebutkan bahwa warna hitam pasien sudah

meninggal, informan 3 menyebutkan bahwa warna hitam bisa menunggu

dan nilai triage hitam nol, dan untuk informan 4 menyebutkan bahwa

warna hitam itu adalah pasien yang sudah meninggal dan penangananya

terakhir sendiri. Hal ini sesuai dengan prioritas triage menurut Mosby,

(2008) yang menyatakan bahwa: prioritas keempat / nol / expectant

(HITAM) kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah.

Hanya perlu terapi suportif.


57

Hasil observasi didapatkan response time penanganan pasien di

IGD dari pasien datang sampai selesai ditangani lebih dari 30 menit.

Perawat sangat berperan penting dalam response time dalam penanganan

gawat darurat di ruang triage, karena salah satu peran perawat adalah

sebagai pemberi asuhan keperawatan.

5.2.3 Waktu tanggap menurut prioritas kegawatan.

Informan 1 menyebutkan bahwa waktu tanggap menurut prioritas

kegawatan yaitu Emergency kurang dari 5 menit Urgent itu ada toleransi

lebih dan sebisa mungkin harus ditangani segera. Pernyataan informan

sesuai dengan pernyataan Dewi Kartikawati N. (2011) Sistem klasifikasi

triage mengidentifikasi tipe pasien yang memerlukan berbagai level

perawatan. Prioritas didasarkan pada pengetahuan, data yang tersedia, dan

situasi terbaru yang ada. Huruf atau angka yang sering digunakan antara

lain sebagai berikut:

a. Prioritas 1 atau emergency.

b. Prioritas 2 atau urgent.

c. Prioritas 3 atau nonurgent.

5.2.4 Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.

Menurut informan 1, 2, 3 dan 4 menyatakan bahwa pendidikan,

pengalaman, informasi, dan budaya itu sangat berpengaruh terhadap

pengetahuan perawat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Menurut Sitorus

(2011), bahwa meskipun untuk lulusan Program Diploma III disebut juga

sebagai perawat profesional pemula yang sudah memiliki sikap


58

profesional yang cukup untuk menguasai ilmu keperawatan dan

ketrampilan profesional yang mencakup ketrampilan teknis, intelektual,

dan interpersonal dan diharapkan mampu melaksanakan asuhan

keperawatan profesional berdasarkan standar asuhan keperawatan dan etik

keperawatan. Namun pendidikan keperawatan harus dikembangkan pada

pendidikan tinggi sehingga dapat menghasilkan lulusan yang memiliki

sikap, pengetahuan dan ketrampilan profesional agar dapat melaksanakan

peran dan fungsinya sebagai perawat professional, maka pendidikan

sangat mempengaruhi pengetahuan.

Hal ini berbeda dengan penelitian Vitrise Maatilu dkk (2014)

faktor-faktor yang berhubungan dengan response time perawat pada

penenganan pasien gawat darurat di IGD RSUP Prof. dr. R. D. Kandau

manado yang menyebutkan bahwa tidak adanya hubungan antara

pendidikan perawat dengan response time perawat pada penanganan

pasien gawat darurat.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Sastrohadiwiryo (2002), bahwa

semakin lama seseorang bekerja semakin banyak kasus yang ditanganinya

sehingga semakin meningkat pengalamannya, sebaliknya semakin singkat

orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang ditanganinya, maka

pengalaman atau lama bekerja sangat mempengaruhi pengetahuan.

Hal ini berbeda dengan penelitian Vitrise Maatilu dkk (2014)

faktor-faktor yang berhubungan dengan response time perawat pada

penenganan pasien gawat darurat di IGD RSUP Prof. dr. R. D. Kandau


59

manado yang menyebutkan bahwa tidak adanya hubungan antara lama

bekerja perawat (pengalaman perawat) dengan response time perawat pada

penanganan pasien gawat darurat.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), bahwa

seseorang yang mendapatkan informasi lebih banyak akan menambah

pengetahuan menjadi lebih luas, maka informasi sangat mempengaruhi

pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003),

bahwa tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi

kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan, maka budaya sangat

mempengaruhi pengetahuan.
BAB VI

PENUTUP

Bagian ini merupakan bagian akhir dari laporan hasil penelitian yang

menjelaskan kesimpulan dan saran. Simpulan yang dibuat berdasarkan kategori

yang ada dan tema-tema yang telah ditemukan dalam penelitian tentang

engetahuan perawat tentang triage dan pengetahuan response time perawat

terhadap pasien gawat darurat. Saran pada bab ini dibuat bagi rumah sakit,

institusi pendidikan, peneliti lain, peneliti dan perawat.

6.1 Kesimpulan

6.1.1 Tujuan khusus pengetahuan perawat tentang triage didapatkan tema

1) Pengelompokan berdasarkan kegawatannya

2) Pembagian triage

6.1.2 Tujuan khusus yang kedua pengetahuan response time perawat terhadap

pasien gawat darurat didapatkan tema

1) Pengertian response time

2) Waktu tanggap menurut prioritas warna

3) Waktu tanggap menurut prioritas kegawatan

4) Faktor yang mempengaruhi pengetahuan.

Kesimpulan dari penelitian ini pengetahuan perawat tentang response time dalam

penanganan gawat darurat di ruang triage sudah sesuai dengan standar IGD

RSUD Karanganyar.

60
61

6.2 Saran

6.2.1 Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan

bagi perawat terhadap response time dalam penanganan gawat darurat di

ruang triage.

6.2.2 Institusi pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan,

pengalaman, dan wawasan mengenai Pengetahuan perawat tentang

response time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage.

6.2.3 Peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi

atau titik tolak tambahan bila diadakan penelitian lebih lanjut khususnya

bagi pihak lain yang ingin mempelajari mengenai pengetahuan perawat

tentang response time dalam penanganan gawat darurat di ruang triage.

6.2.4 Peneliti

Menambah pengalaman dan wawasan peneliti dalam keperawatan

tentang pengetahuan dan response time dalam penanganan pasien gawat

darurat di ruang triage.

6.2.5 Perawat

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perawat sebagai motivasi

untuk lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya sebagai perawat

khususnya perawat yang bekerja di IGD.


DAFTAR PUSTAKA

Australasian College for Emergency Medicine: The Australian Triage Scale.


http://www.acem.org.au/open/documents/triage.htm. Diunduh 17
Desember 2014.

Bagus B (2007) Pengetahuan dan Ketrampilan Perawat dalam hubungan


Kepuasan Pasien dalamPelayanan Rawat Inap di Magelang.

Brooker. C (Editor). (2009). Ensiklopedia Keperawatan (Churchill Livingstone’s

Creswell, J. W. (1998). Qualitative Inguiry and Research Design: Choosing


Among Five Traditions. Thousand Oaks.s. California: SAGE Publication,
Inc.

Creswell, J. W. (2013). Qualitative Inquiry & research design: Choosing among


five approaches. Thousand Oaks: sage publication Ltd

Departement Kesehatan RI. (2006). Sistem penanggulangan gawat darurat


(SPGD). Jakarta: Departement Kesehatan.

Departement Kesehatan RI. (2009). Petunjuk teknis penggunaan DAK bidang


kesehatan. Jakarta: Departement Kesehatan.

Department of Emergency Medicine. 2005. Triage Course Manual. Edisi ke-3.


Singapore General Hospital: Tidak dipublikasikan.

Gibson , J.L, Ivansevich, dan Donely. (2007) Organization, terjemahan. Edisi


kelima. Cetakan Delapan. Erlangga. Jakarta.

Kartikawati, N. Dewi. 2013. Buku Ajar Dasar-dasar Keperawatan Gawat


Darurat. Salemba Medika: jakarta.

Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia.(2009). Standar Instalasi Gawat


Darurat (IGD) Rumah Sakit. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.

Notoatmodjo. S (2002) Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi . Jakarta


PT Rineka Cipta.

Notoatmodjo. S (2003) Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. PT Rineka


Cipta.

Nursalam 2009, konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu kesehatan,


Salemba Medika, Jakarta.
Oman, Chathleen Jane, Koziol M & linda J.S (2008) Panduan Belajar
Keperawatan Emergensi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

PERMENKES RI NO. 1239. (2001). Tentang Registrasi dan Praktek perawat.


Pusponegoro Aryono D. dr. Sp.B(K)-BD (2010) kasus trauma adalah
“silent disaster” Penerbit : Bandung.

Smeltzer, S.C.V., Bare, B.G., Keperawatan Medikal Bedah Bruner Suddarth, Alih
Bahasa : Monica Ester, EGC; Jakarta. 2002.

Van Manen, M. (2007). Researching lived experience: human scince for action
sensitive pedagogy. London, DN. Althouse.

Wilde, E. T, 2009. Do Emergency Medikal System Response Times Matter for


Health Outcomes?. Colombia University : New York.

Zimmermann & Heer. 2006. Triage Nursing Secret. Philadelphia: Elsevier


Mosby.