Anda di halaman 1dari 18

DESTILASI FRAKSIONASI

I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini, kami diharapkan dapat :
1. Menjelaskan perbedaan prinsip destilasi secara fraksionasi dan batch
2. Mengetahui prinsip-prinsip kesetimbangan pada suatu campuran.
3. Melakukan pemisahan campuran biner dengan metode destilasi fraksionasi.
4. Menentukan kadar produk hasil pemisahan dengan menggunakan kurva
kalibrasi.

II. ALAT & BAHAN


A. Alat yang digunakan pada percobaan ini, antara lain:
- Rangkaian alat destilasi
- Piknometer
- Erlenmeyer
- Pipet ukur
- Gelas Kimia
- Gelas ukur
- Bulp
- Neraca digital
- Labu semprot
- Tempat penyimpanan bahan sisa

B. Bahan yang digunakan pada percobaan ini, antara lain:


- Etanol
- Aquadest
- Tissue
- Alumunium Foil
III. DASAR TEORI
A. Pengertian Destilasi Bertingkat
Destilasi bertingkat merupakan proses pemurnian zat/senyawa cair
dimana zat pencampurnya berupa senyawa cair yang titik didihnya rendah
dan tidak berbeda jauh dengan titik didih senyawa yang akan dimurnikan.
Dengan perkataan lain, destilasi ini bertujuan untuk memisahkan senyawa-
senyawa dari suatu campuran yang komponen-komponennya memiliki
perbedaan titik didih relatif kecil. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan
campuran aseton-metanol, karbon tetra klorida-toluen, dan lain-lain. Pada
proses destilasi bertingkat digunakan kolom fraksionasi yang dipasang pada
labu destilasi.
Tujuan dari penggunaan kolom ini adalah untuk memisahkan uap
campuran senyawa cair yang titik didihnya hampir sama/tidak begitu
berbeda. Sebab dengan adanya penghalang dalam kolom fraksionasi
menyebabkan uap yang titik didihnya sama akan sama-sama menguap atau
senyawa yang titik didihnya rendah akan naik terus hingga akhirnya
mengembun dan turun sebagai destilat, sedangkan senyawa yang titik
didihnya lebih tinggi, jika belum mencapai harga titik didihnya maka
senyawa tersebut akan menetes kembali ke dalam labu destilasi, yang
akhirnya jika pemanasan dilanjutkan terus akan mencapai harga titik
didihnya. Senyawa tersebut akan menguap, mengembun dan turun/menetes
sebagai destilat.
Proses ini digunakan untuk komponen yang memiliki titik didih yang
berdekatan. Pada dasarnya sama dengan destilasi sederhana, hanya saja
memiliki kondensor yang lebih banya sehingga mampu memisahkan dua
komponen yang memliki perbedaan titik didih yang bertekanan. Pada proses
ini akan didapatkan substan kimia yang lebih murni, kerena melewati
kondensor yang banyak.
Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi bertingkat
ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga
mampumemisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang
berdekatan.Untuk memisahkan dua jenis cairan yangsama-sama mudah
menguap dapatdilakukan dengan destilasi bertingkat. Destilasi bertingkat
sebenarnya adalah suatu proses destilasi berulang. Proses berulang ini terjadi
pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa plat dimana
pada setiap plat terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang lebih tinggi
lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap)
sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak dalam kondensat.
B. Karakteristik Bahan Olahan
Karakteristik bahan pada destilasi fraksionasi adalah cairan yang
mempunyai perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh yaitu sekitar 30 oC
atau lebih . Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak
mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam minyak mentah
C. Prinsip Destilasi fraksional
Destilasi terfraksi ini berbeda dengan destilasi biasa, karena terdapat
suatu kolom fraksionasi dimana terjadi suatu proses refluks. Proses refluks
pada destilasi ini dilakukan agar pemisahan campuran dapat terjadi dengan
baik. Kolom fraksionasi berfungsi agar kontak antara cairan dengan uap
terjadi lebih lama. Sehingga komponen yang lebih ringan dengan titik didih
yang lebih rendah akan terus menguap dam masuk kondensor. Sedangkan
komponen yang lebih besar akan kembali kedalam labu destilasi.
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya
kolom fraksionasi.Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan
suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya.Pemanasan yang berbeda-beda
ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di
bawahnya.Semakin ke atas, semakin tidak volatil cairannya.
Pemisahan campuran cairan menjadi komponen dicapai dengan
distilasi fraksional. Prinsip distilasi fraksional dapat dijelaskan dengan
menggunakan diagram titik didih-komposisi (Gambar 1). Dalam gambar ini,
kurva atas menggambarkan komposisi uap pada berbagai titik didih yang
dinyatakan di ordinat, kurva bawahnya menyatakan komposisi cairan. Bila
cairan dengan komposisi l2 dipanaskan, cairan akan mendidih pada b1.
Komposisi uap yang ada dalam kesetimbangan dengan cairan pada suhu b1
adalah v1. Uap ini akan mengembun bila didinginkan pada bagian lebih atas
di kolom distilasi (Gambar 2), dan embunnya mengalir ke bawah kolom ke
bagian yang lebih panas. Bagian ini akan mendidih lagi pada suhu
b2 menghasilkan uap dengan komposisi v2. Uap ini akan mengembun
menghasilkan cairan dengan komposisi l3. Jadi, dengan mengulang-ulang
proses penguapan-pengembunan, komposisi uap betrubah dari v1 ke v2 dan
akhirnya ke v3 untuk mendapatkan konsentrasi komponen A yang lebih
mudah menguap dengan konsentrasi yang tinggi.

Gambar 1. Diagram titik didih


Gambar 1 Diagram titik didih- komposisi larutan ideal campuran
cauran A dan B. Komposisi cairan berubah dari l1 menjadi l2 dan akhirnya l3.
Pada setiap tahap konsentrasi komponen B yang kurang mudah menguap
lebih tinggi daripada di fasa uapnya.Contoh soal 12.1 Distilasi fraksional
Tekanan uap benzen dan toluen berturut-turut adalah 10,0 x 104 N m-2 dan
4,0 x 104 N m-2, pada80°C. Hitung fraksi mol toluen dalam uap yang berada
dalam kesetimbangan dengan cairan yang terdiri atas 0,6 mol toluen dan 0,4
molar benzen. Hitung fraksi mol toluen x dalam fas uap.Jawab Dengan
bantuan hukum Raoult (bab 7.4(b)), komposisi uapnya dapat dihitung sebagai
berikut. Jumlah mol toluen di uap /jumlah mol benzen di uap = [0,60 x (4,0 x
104) ] / [ 0,40 x ( 10,0 x 104) ] = 0,60. Fraksi mol toluen di uap x adalah: x/(1
- x) = 0,60; x = 0,60 / (1,0 + 0,60) = 0,375.Bila dibandingkan dengan
komposisi cairan, konsentrasi toluen di fasa uap lebih besar menunjukkan
bahwa adanya pengaruh distilasi fraksional.

Kolom distilasi yang panjang dari alat distilasi digunakan di


laboratorium (Gambar 2) memberikan luas permukaan yang besar agar uap
yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat bersentuhan. Di puncak
kolom, termometer digunakan untuk mengukur suhu fraksi pertama yang
kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap A. Dengan berjalannya
distilasi, skala termometer meningkat menunjukkan bahwa komponen B yang
kurang mudah menguap juga ikut terbawa. Wadah penerima harus diubah
pada selang waktu tertentu. Bila perbedaan titik didih A dan B kecil, distilasi
fraksional harus diulang-ulang untuk mendapatkan pemisahan yang lebih
baik. Produksi minyak bumi tidak lain adalah distilasi fraksional yang
berlangsung dalam skala sangat besar.

Gambar 2 Alat destilasi


Pemisahan campuran dengan destilasi didasarkan pada perbedaan titik
didih. Cara ini dapat digunakan untuk memisahkan campuran yang
mempunyai titik didih berbeda. Campuran antara air dan bensin pun dapat
dipisahkan dengan cara destilasi. Semakin jauh perbedaan titik didih,
semakin mudah campuran tersebut dipisahkan.
D. Peralatan Destilasi Fraksionasi (skala industri)
Kolom fraksionasi: digunakan untukmemberikan luas permukaan
yang besar agar uap yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat
bersentuhan.dalam praktek, kolom tutup gelembung kurang efektif untuk
pekerjaan di laboratorium. Hasilnya relatif terlalu sedikit bila dibandingkan
dengan besar bahan yang tergantung di dalam kolom. Dengan kata lain kolom
tutup gelembung memiliki keluaran yang kecil dengan sejumlah besar bahan
yang masih tertahan di dalam kolom.
Keefektifan kolom ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
cara pengaturan materi di dalam kolom, pengaturan temperatur, panjang
kolom dan kecepatan penghilangan hasil destilasi. Satuan dasar efisiensi
adalah tinggi setara dengan sebuah lempeng teoritis (HETP atau H). Besarnya
H sama dengan panjang kolom dibagi dengan jumlah plat teoritis. Banyaknya
plat teoritis H bergantung pada sifat campuran yang dipisahkan.
E. Contoh Proses Destilasi Fraksionasi
Mula-mula minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa dalam
furnace (tanur) sampai dengan suhu ± 370°C.Minyak mentah yang sudah
dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam kolom fraksionasi pada bagian
flash chamber (biasanya berada pada sepertiga bagian bawah kolom
fraksionasi). Untuk menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka dibantu
pemanasan dengan steam (uap air panas dan bertekanan tinggi).
Minyak mentah yang menguap pada proses destilasi ini naik ke bagian
atas kolom dan selanjutnya terkondensasi pada suhu yang berbeda-beda.
Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun
ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan
naik ke bagian atas melalui sungkup-sungkup yang disebut sungkup
gelembung. Makin ke atas, suhu yang terdapat dalam kolom fraksionasi
tersebut makin rendah, sehingga setiap kali komponen dengan titik didih
lebih tinggi akan terpisah, sedangkan komponen yang titik didihnya lebih
rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian selanjutnya sehingga
komponen yang mencapai puncak adalah komponen yang pada suhu kamar
berupa gas.Komponen yang berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian
dicairkan dan disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).Fraksi minyak mentah
yang tidak menguap menjadi residu.Residu minyak bumi meliputi parafin,
lilin, dan aspal.Residu-residu ini memiliki rantai karbon sejumlah lebih dari
20.
Dalam proses distilasi bertingkat, minyak mentah tidak dipisahkan
menjadi komponen-komponen murni, melainkan ke dalam fraksi-fraksi,
yakni kelompok-kelompok yang mempunyai kisaran titik didih tertentu. Hal
ini dikarenakan jenis komponen hidrokarbon begitu banyak dan isomer-
isomer hidrokarbon mempunyai titik didih yang berdekatan. Proses distilasi
bertingkat ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
 Minyak mentah dipanaskan dalam boiler menggunakan uap air
bertekanan tinggi sampai suhu ~600oC. Uap minyak mentah yang
dihasilkan kemudian dialirkan ke bagian bawah menara/tanur distilasi.
 Dalam menara distilasi, uap minyak mentah bergerak ke atas melewati
pelat-pelat (tray). Setiap pelat memiliki banyak lubang yang dilengkapi
dengan tutup gelembung (bubble cap) yang memungkinkan uap lewat.
 Dalam pergerakannya, uap minyak mentah akan menjadi dingin. Sebagian
uap akan mencapai ketinggian di mana uap tersebut akan terkondensasi
membentuk zat cair. Zat cair yang diperoleh dalam suatu kisaran suhu
tertentu ini disebut fraksi.
 Fraksi yang mengandung senyawa-senyawa dengan titik didih tinggi akan
terkondensasi di bagian bawah menara distilasi. Sedangkan fraksi
senyawa-senyawa dengan titik didih rendah akan terkondensasi di bagian
atas menara.Sebagian fraksi dari menara distilasi selanjutnya dialirkan ke
bagian kilang minyak lainnya untuk proses konversi.
F. Aplikasi dari Destilasi Bertingkat
Contoh destilasi bertingkat adalah pemisahan campuran alkohol-air
titik didih alkohol adalah 78 o C dan titik didih air adalah 100 o C. Campuran
tersebut dicampurkan dalam labu didih.Pada suhu sekitar 78 o C alkohol mulai
mendidih tetapi sebagian air juga ikut menguap. Oleh karena alkohol lebih
mudah menguap, kadar alkohol dalam uap lebih tinggi daripada kadar
alkohol dalam campuran semula. Ketika mencapai kolom fraksionasi, uap
mengembun dan memanaskan kolom tersebut.Setelah suhu kolom mencapai
78o C, alkohol tak lagi mengembun sehingga uap yang mengandung lebih
banyak alkohol naik ke kolom di atasnya, sedangkan sebagian air turun ke
dalamlabu didih. Proses seperti itu berulang beberapa kali ( bergantung pada
banyaknya plat dalam kolom), sehingga akhirnya diperoleh alkohol yang
lebih murni.
Contoh lain dari Destilasi bertingkat adalah pemurnian minyak bumi,
yaitu memisahkan gas, bensin, minyak tanah, dan sebagainya dari minyak
mentah. Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam.Minyak
bumi yang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude
oil). Minyak mentah dapat dibedakan menjadi:
 Minyak mentah ringan (light crude oil) yang mengandung kadar logam
dan belerang rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas
rendah).
 Minyak mentah berat (heavy crude oil) yang mengandung kadar logam
dan belerang tinggi, memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan
agar meleleh.
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan
komponen utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana,
aromatik, dan senyawa anorganik. Meskipun kompleks, untungnya terdapat
cara mudah untuk memisahkan komponen-komponennya, yakni berdasarkan
perbedaan nilai titik didihnya. Proses ini disebut distilasi bertingkat. Untuk
mendapatkan produk akhir sesuai dengan yang diinginkan, maka sebagian
hasil dari distilasi bertingkat perlu diolah lebih lanjut melalui proses konversi,
pemisahan pengotor dalam fraksi, dan pencampuran fraksi.
IV. PROSEDUR KERJA
a. Membuat Kurva Kalibrasi
- Aquadest disiapkan kemudian diukur suhunya
- Piknometer kosong ditimbang setelah bersih dan kering
- Aquadest dimasukkan ke dalam piknometer hingga penuh, kemudian
ditimbang
- 5 buah erlenmeyer disiapkan
- Campuran etanol-air dibuat dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu:
Volume Volume
Nomor
Ethanol Aquadest
1 25ml 5ml
2 20 ml 10 ml
3 15ml 15 ml
4 10 ml 20 ml
5 5 ml 25 ml
- Densitas masing-masing sampel diukur dengan menggunakan
piknometer yang telah dikalibrasi.
b. Proses Pemisahan Komponen
- Campuran ethanol-air disiapkan sebanyak 5 liter (2 L etanol dan 3 L
air)
- 50 ml sampel feed diambil, kemudian diukur densitasnya
- Air pendingin dari thermostat dialirkan kedalam kolom destilasi
fraksionasi
- Tuas dari off ke on diangkat hingga line menyala
- Tombol start ditekan hingga lampu indicator menyala
- J1 diatur ke 1, kemudian dimutar J2 sebanyak 4 kali
- Reflux control diatur dengan R = 5 dan L (start) = 20 kemudian D
(stop) = 2
- Proses pemisahan diamati pada alat Destilasi Fraksionasi
- Volume Destilat dan Bottom Product diukur
- Densitas Destilat dan Bottom Product diukur
- Mengolah data hasil percobaan
V. DATA PENGAMATAN
 RD = 5, L = 20, D = 4
 Kurva Kalibrasi Berat Jenis Ethanol
Volume Berat
Piknometer kosong +
Volume Volume (g)
sampel
Ethanol (mL) Aquadest (mL)
Piknometer + sampel 1 25 5 47,3817
Piknometer + sampel 2 20 10 47,4846
Piknometer + sampel 3 15 15 47,5633
Piknometer + sampel 4 10 20 47,6613
Piknometer + sampel 5 5 25 47,3652

Berat jenis Air (27OC) 0,9965 g/mL

Berat jenis Ethanol 0,79 g/mL

Berat Molekul Air 18 g/mol

Berat Molekul Ethanol 46,07 g/mol

 Penentuan Berat Jenis Feed, Bottom Product, dan Destilat proses Destilasi
Fraksionasi

Pikno + Pikno kosong Berat sampel Volume


Sampel
sampel (g) (g) (g) pikno (mL)

Feed 47,4775 22.9409 24,5366 25


Destilat 47,3689 22.9409 24,4280 25
Bottom
47,6805 22.9409 24,7396 25
Product
VI. PERHITUNGAN
1. Menentukan Berat Jenis deret standar
 Sampel 1
(Massa pikno + sampel 1) − (Massa pikno kosong)
=
Volume piknometer
(47,3817 − 22,9409) gram
=
25 mL
= 0,9776 gram/mL

Untuk sampel yang lainya dapat dilihat pada tabel berikut,


Tabel 1. Hasil perhitungan Berat Jenis deret standar
Volume
Piknometer kosong Volume Volume Berat Jenis
Berat (g)
+ sampel Ethanol Aquadest (g/mL)
(mL) (mL)
Piknometer + 0.977632
25 5 47,3817
sampel 1
Piknometer + 0.981748
20 10 47,4846
sampel 2
Piknometer + 0.984896
15 15 47,5633
sampel 3
Piknometer + 0.988816
10 20 47,6613
sampel 4
Piknometer + 0.976972
5 25 47,3652
sampel 5

2. Menentukan Fraksi mol Ethanol pada setiap sampel


 Sampel 1
volume Eth x Bj Eth
 mol Ethanol = BM Eth
25 mL x 0,79 g/mL
=
46,07 g/mol

= 0,428 mol

𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑝𝑑 𝑠𝑢ℎ𝑢 27℃ × 𝑣_𝑎𝑖𝑟


 Mol air = 𝐵𝑀 𝐴𝑖𝑟
g
0,9965 ×5 mL
mL
= g
18
mol

= 0,276 mol
𝑚𝑜𝑙 𝐸𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙
 Fraksi mol Ethanol = 𝑚𝑜𝑙 𝐸𝑡ℎ𝑎𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑜𝑙 𝑎𝑖𝑟
0,428 𝑚𝑜𝑙
= (0,428 +0,276)𝑚𝑜𝑙

= 0,607

Fraksi mol etanol untuk sampel 2-6 dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel 2. Hasil perhitungan Fraksi Mol Dalam Campuran

Volume
Fraksi mol
No Volume Volume mol Ethanol mol Air
Ethanol
Ethanol Aquadest
(mL) (mL)
1 25 5 0.428695 0.276806 0.607646838

2 20 10 0.342956 0.553611 0.382521537

3 15 15 0.257217 0.830417 0.236492507

4 10 20 0.171478 1.107222 0.134103488

5 5 25 0.085739 1.384028 0.058335165

3. Mencari Fraksi Ethanol pada Feed, Bottom Product, dan Destilat


dengan cara plot Berat Jenis pada grafik X Eth vs Bj
 Feed

(Massa pikno+sampel )−(Massa pikno kosong)


= Volume piknometer

(47,4775−22,9409) gram
= 25 mL

= 0,9814 gram/mL
 Bottom Product
(Massa pikno+sampel )−(Massa pikno kosong)
= Volume piknometer

(47,6805−22,9409)gram
= 25 mL

= 0,9895 gram/mL
 Destilat
(Massa pikno+sampel )–(Massa pikno kosong)
= Volume piknometer
(47,3689−22,9409)gram
= 25 mL

= 0,97712 gram/mL

Tabel 3. kurva standar berat jenis vs fraksi mol etanol air

Berat Jenis
No sampel Fraksi mol Eth
(g/mL)
0.607646838 0.977632
1
0.382521537 0.981748
2
0.236492507 0.984896
3
0.134103488 0.988816
4
0.058335165 0.976972
5

Berat Jenis Vs Fraksi mol et-OH


0.99

0.985
Berat Jenis (g/mL)

0.98

0.975

0.97

0.965 y = -0.0211x + 0.988


R² = 0.8555
0.96
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7
Fraksi Mol Etanol
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat untuk tiap sampel memiliki
fraksi mol Ethanol yaitu:
Tabel 4. Fraksi mol Etanol dari tiap Sampel

Berat Jenis Fraksi mol


Sampel
(g/mL) Eth
Feed 0,9814 0,280
Destilat 0,9771 0,393
Bottom Product 0,9895 0,046

4. Mencari jumlah stage/plat yang tepat agar campuran EtOH-Air


dapat terpisah secara maksimal

𝑋𝐷
YD =
𝑅𝐷 + 1
0,393
=
4+1

= 0,0786

Coker, 2009 ©
1

0.9

0.8

0.7
Mole fraction of ethanol in vapor, y

0.6

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0
XU 0.1 XU X
0 0.2 0.3 0.4
D 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Mole fraction of ethanol in liquid, x
VII. PEMBAHASAN
Zulfiah (331 16 017)
Praktikum kali ini kami melakukan percobaan destilasi fraksionasi.
Distilasi bertingkat / fraksionasi adalah proses pemisahan komponen-
komponen cair dua atau lebih dari suatu larutan berdasarkan perbedaan
titik didihnya yang berdekatan. Distilasi ini juga dapat digunakan untuk
campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20OC dan bekerja pada
tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah.
Bahan yang digunakan dan diamati pemisahannya yaitu campuran
etanol dengan air. Pada awal percobaan campuran etanol dan air
inidipanaskan dalam labu destilasi pada rangkaian alat destilasi fraksionasi.
Suhu pemanasan dijaga pada 80oc. Hal ini bertujuan agar ethanol menguap
secara maksimal. Setelah mencapai titik didihnya yaitu 78.6OC, ethanol
akan mulai menguap dan masuk menuju kolom fraksionasi pada alat.
Didalam kolom ini terjadi proses refluk. Proses refluk ini dilakukan agar
pemisahan antara campuran ethanol dan air dapat terjadi dengan baik. Pada
percobaan ini uap yang keluar dari kolom menuju kondenser sebanyak 1
kali sedangkan uap yang kembali menuju kolom sebanyak 4 kali untuk
dilakukan proses refluk kembali di dalam kolom. Dimana jika semakin
besar perbandingan antara uap yang masuk dan keluar kolom maka akan
didapatkan destilat (etanol) yang memiliki kemurnian tinggi. Uap ethanol
yang telah keluar dari dalam kolom selanjutnya akan masuk kedalam
kondenser dan dikondensasi menjadi cairan yang akan ditampung pada
penampung destilat. Sedangkan fraksi berat yang berupa uap air akan
dikembalikan kedalam labu destilasi. Destilat dapat keluar karena adanya
dorongan dari pompa yaitu pompa refluks dari akumulator ke tray teratas.
Pada destilasi fraksionasi pemisahan yang diperoleh akan lebih
murni dibandingkan dengan destilasi sederhana. Pada percobaan ini
terlebih dahulu menentukan konsentrasi umpan melalui kurva kalibrasi
hubungan antara densitas vs konsentrasi etanol dari variasi volume etanol
dengan konsentrasi 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ml. Kurva ini juga merupakan
acuan untuk menentukan konsentrasi pada bottom dan destilat. Pada
destilasi fraksinasi ini alat dihubungkan dengan alat pengendalian proses
suhu (T1) atau temperature indicate adapun fungsi dari T1 ini adalah untuk
memberikan informasi suhu yang ada pada alat destilasi-sehingga suhu
dapat dikontrol.
Dimana fraksi mol yang diproleh secara teori (perhitungan
matematis) dan praktek (kurva) berbeda. Fraksi mol etanol yang diperoleh
dari hasil perhitungan dalam umpan sebesar 0.280 dan sisanya adalah air.
Fraksi mol dalam bottom product sebesar 0.046, artinya semua etanol yag
ada dalam campuran belum terpisah secara maksimal. Sedangkan fraksi
mol dalam destilat sesbesar 0.393, hal ini menunjukkan bahwa destilat
yang diperoleh belum mencapai kemurnian yang diharapkan karena masih
terdapat sekitar 0.607 fraksi mol air didalamnya. Hal tersebut disebakan
karena semakin lama waktu pemisahan maka suhu dalam kolom
fraksionasi semakin tinggi, sehingga suhu dalam plat terakhir telah
melewati suhu didih etanol. Walaupun sebenarmya belum mencapai suhu
didih air, akan tetapi diketahui bahwa pada setiap suhu larutan meiliki
tekanan uap atau vapor preassure, termasuk juga air yang memungkinkan
terjadi penguapan saat tekanan uapnya sama dengan kondisi lingkungan
saat itu sehingga air dapat lolos melalui kolom fraksionasi hal ini juga
berkaitan den nilai refliks yang didapatkan.
Cahyaningsih Dwi Putri Vitandy (331 16 034)
Destilasi fraksionasi merupakan suatu teknik pemisahan untuk
larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh yaitu
sekitar 30°C. Dalam distilasi fraksionasi pemisahan parsial diulang berkali-
kali dimana setiap kali terjadi pemisahan lebih lanjut.Distilasi fraksionasi
ini berbeda dengan distilasi biasa, karena terdapat suatu kolom fraksionasi
dimana terjadi suatu proses refluks. Proses refluks pada proses ini
dilakukan agar pemisahan campuran dapat terjadi dengan baik. Kolom
fraksionasi berfungsi agar kontak antara cairan dengan uap terjadi lebih
lama. Komponen yang lebih ringan dengan titik didih yang lebih rendah
akan terus menguap dan masuk ke kondensor. Sedangkan komponen yang
lebih besar akan kembali ke labu distilat. Sehingga hasil destilat yang
diperoleh lebih murni.
Pada praktikum ini, digunakan campuran etanol-air dengan
perbandingan 2L etanol dn 3L air. Pada awal percobaan dilakukan
pemasanan dalam labu destilasi pada alat destilasi fraksionasi, suhu
pemanasan di jaga pada 80 ˚C, yang bertujuan agar etanol dapat menguap
secara maksimal setelah mencapai titik didihnya yaitu 78,6 ˚C.
Berdasarkan perhitungan berat jenis yang dilakukan, untuk Feed 0,9814
g/mL, Destilat 0,9771 g/mL, dan Bottom Product 0,9895 g/mL.
Pada destilasi kraksionasi ini, jumlah stage yang terdapat pada
kolom destilasi yakni sebanyak 7 kolom fraksionasi, sehingga akan
ditentukan kesetimbangan pada setiap kolom destilasi pada kurva
kesetimbangan dengan menggambarkannya pada diagram McCabe-Thiele.
Dari hasil gambar pada diagram McCabe-Thiele diperoleh nilai stage yakni
6 kolom.Adapun yang mempengaruhi jumlah stage yang kadang lebih
ataupun kurang ketika digambarkan pada diagram ialah disebabkan oleh
pengaturan suhu pemanas yang sulit dikendalikan dan masih terdapatnya
campuran etanol-air yang didalam alat destilat pada praktikum
sebelumnya sehingga komposisi dari campuran dalam alat destilasi
berubah.
VIII. KESIMPULAN
1. Perbedaan destilasi fraksionasi dan destilasi sederhana adalah adanya
kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap
dengan suhu yang berbeda-beda setiap platnya. Pemanasan yang
berbeda-beda ini bertujuan agar tingkat kemurnian yang dihasilkan
lebih tinggi
2. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh fraksi mol
untuk umpan yaitu 0,28, residu 0,046, dan 0,393 untuk destilat.
3. Jumlah stage yang diperoleh berdasarkan grafik kesetimbangan yaitu 6.

IX. DAFTAR PUSTAKA


 Anonymous.2016.Laporan Resmi Distilasi Fraksionasi.
https://www.scribd.com/doc/312664935/
 Deviana W S.2015.Laporan Distilasi Fraksionasi.
http://wahyusisilia.blogspot.co.id/2015/
 Appendix_M_Phase-VLE-diagrams/Figure_M-39_Ethanol-water-
mixture.xls.http://booksite.elsevier.com/9780750685245/appendices/