Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Satu hal yang tak dapat dilepaskan dari ekosistem adalah jumlah populasi
manusia yang kian meningkat dari waktu ke waktu akan dapat berakibat
menurunkan nilai ekosistem kita. Pemanfaatan berbagai sumber daya alam secara
tak terkendali dapat membawa ekosistem secara keseluruhan menjadi tidak
seimbang. Oleh sebab itu pengendalian jumlah populasi manusia perlu diatur
sedemikian rupa agar tak melampaui kemampuan alam untuk mendukungnya. Di
sini keanekaragaman hayati perlu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam
memperbaiki kehidupan di muka bumi.

Hukum alam menyebutkan bahwa siapa yang kuat, dialah yang akan
menang. Dari segi jumlah individu dan spesies, maka spesies yang memiliki lebih
banyak keturunan lebih kuat dari pada spesies yang sedikit keturunannya. Spesies
yang memiliki keturunan ’jarang’ akan memiliki peluang yang kecil untuk dapat
mengalahkan saingannya. Persaingan antar spesies akan muncul manakala kedua
populasi atau makhluk itu memperebutkan kebutuhan yang sama. Kebutuhan yang
dimaksudkan di sini antara lain berupa kebutuhan makanan, tempat hidup,
perlindungan akan keselamatan diri dan kelompoknya atau pengaruh iklim/cuaca,
pengaruh radiasi matahari dan sebagainya.

Komponen ekosistem yang berupa energi ini amat penting dalam


memelihara kelangsungan hidup komponen yang ada dalam ekosistem tersebut.
Dalam kajian ekosistem, komponen ekosistem alam berlaku hukum alam juga.
Hukum-hukum yang berkaitan dengan energi bagi makhluk hidup di antaranya
adalah hukum termodinamika pertama, hukum termodinamika kedua.

1
B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah peranan manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem?

C. Tujuan Penulisan

Menjelaskan bagaimana peranan manusia dalam menjaga keseimbangan


ekosistem

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Memelihara Lingkungan

Lingkungan yang kita tempati harus mempunyai peranan yang sangat penting.
Oleh karena lingkungan yang kita tempati haruslah bersih, sehat dan lestari demi
kenyamanan dan kebaikan bersama- sama. Ada berbagai hal yang dapat dilakukan
manusia untuk pelestarian lingkungan hidup. Beberapa hal yang dapat dilakukan
oleh manusia tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Menanam pohon di sekitar pemukiman

Upaya melestarikan lingkungan yang dapat dilakukan oleh manusia secara mudah
adalah membiasakan diri menanam pepohonan atau memelihara tanaman di
sekitar lingkungan tempat tinggal. Cara ini merupakan cara yang mudah dan
sederhana untuk menjaga agar lingkungan tetap sejuk dan juga asri. Dengan
demikian lingkungan di sekitar rumah bisa lestari. Selain itu, upaya ini juga bisa
dilakukan mulai dari diri sendiri. Namun akan lebih baik tentunya apabila
masyarakat melakukannya secara bersama- sama.

2. Membuat terasering atau sengkedan

Upaya yang kedua adalah membuat terasering atau sengkedan. Terasering atau
sengkedan ini dibuat pada lahan- lahan persawahan yang letaknya di wilayah
lereng atau laha yang bersifat miring. Oleh karena lahan yang miring rawan sekali
akan adanya longsor, maka terasering merupakan solusi yang sangat tepat untuk
menjaga agar tanah tetap terjaga dan dapat ditanami oleh berbagai macam
tumbuhan yang akan memenuhi kebutuhan manusia.

3
3. Menggunakan produk daur ulang

Menggunakan produk daur ulang juga akan bisa melestarikan lingkungan.


Mengapa? Karena dengan menggunakan produk daur ulang maka secara
otomatisa kita akan bisa mnegurangi sampah yang ada di sekitar kita. Manusia
memang mustahil apabila dalam keseharian tidak menghasilkan sampah. Kita bisa
membayangkan sendiri berapa juta ton sampah yang ajan diproduksi setiap
harunya oleh manusa. Dan untuk mengurangi penimbunan sampah yang besar-
besaran maka kita dapat memanfaatkannya dengan membuat berbagai macam
produk daur ulang.

4. Melarang keras pembabatan hutan

Pemerintah dan masyarakat harus menyadari betul bahwa keberadaan hutan


sangatlah penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh
karena itulah harus ada peraturan keras yang melarang mengenai pembabatan
hutan, oleh karena pembabatan hutan merupakan perbuatan yang sangat
merugikan. Pemerintah bisa menerapkan sansi hukum yang berat bagi para
pemusnah hutan.

5. Menerapkan sistem tebang pilih dan tebang tanam

Upaya yang bisa dilakukan untuk melestarikan lingkungan salah satunya adalah
menerapkan sistem tebang pilih dan juga tebang tanam. Hal ini akan sangat
berguna untuk menghindarkan hutan dari terjadinya esploitasi yang akan
merugikan hutan. apabila hutan rusak maka manusia juga yang pada akhirnya
akan menanggung akibatnya.

6. Membuat kebijakan yang pro akan lingkungan

Kebijakan yang pro lingkungan juga bisa dibuat oleh pemerintah dan dikerjakan
bersama- sama oleh masyarakat. Apabila masyarakat secara kolektif melakukan

4
kebijakan yang pro lingkungan maka tujuan untuk memperoleh lingkungan yang
asri ini tidak hanya menjadi wacana belaka.

7. Membuat hukum yang tegas

Sanksi hukum yang tegas bagi para pelaku kejahatan lingkungan juga akan sangat
membantu mewujudkan lingkungan hidup yang lestari. Hal ini dikarenakan
masyarakat yang berniat jahat kepada lingkungan tidak akan berbuat sesuatu yang
lebih jauh lagi mengingat adanya sanksi hukum yang besar. Dengan demikian
lingkungan akan lebih aman dan terlindungi.

8. Reklamasi pantai

Reklamasi pantai merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
melestarikan lingkungan, khususnya adalah lingkungan pantai. Karena lingkungan
pantai juga merupakan salah satun lingkungan yang penting untuk selalu dijaga
dan diolah dengan baik.

9. Membuat cagar alam dan juga suaka margasatwa

Melindungi tumbuh- tumbuhan dan juga binatang langka merupakan salah satu
hal yang sangat penting. Oleh karena itulah pembangunan hutan cagar alam dan
suaka margasatwa menjadi hal yang sangat penting pula, demi terciptanya
kelestarian lingkungan seperti yang diharapkan bersama.

10. Rehabilitasi lahan dan pengaturan tata guna lahan

Rehabilitasi lahan dan pengaturan tata guna lahan juga merupakan salah satu
upaya melestarikan lingkungan, mengingat lahan juga merupakan salah satu hal
yang sangat penting bagi manusia, binatang dan tumbuhan.

5
11. Menjaga daerah- daerah resapan air

Daerah- daerah resapan air perlu dijaga agar lingkungan mempunyai cukup air.
Karena air merupakan hal yang sangat penting.

12. Rotasi tanaman dan pemeliharaan taman kota

Rotasi tanaman dan pemeliharaan taman kota perlu dilakukan agar nantinya
lingkungan di sekitar daerah industri atau daerah padat polusi bisa terkurangi oleh
karena adanya tanaman- tanaman di sekitar mereka.

Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk pelestarian
lingkungan hidup baik yang ada di sekitar manusia maupun lingkungan hutan.
upaya- upaya tersebut bisa dimulai dari diri sendiri namun akan lebih baik lagi
jika dilakukan secara kolektif

B. Melakukan Pengurangan Bahan Bakar Fosil

Polusi udara menjadi penyumbang terbesar dalam pemanasan global.


Polusi ini lebih sering disebabkan oleh penggunaan emisi bahan bakar fosil untuk
keperluan sehari – hari. Penggunaan energi batubara untuk pembangkit tenaga
listrik, penggunaan bensin atau solar pada kendaraan bermotor, dapat
menghasilkan gas karbon monoksida (CO). Jenis zat ini dapat mengganggu
pernapasan manusia hingga menyebabkan terjadinya kanker paru – paru.

Untuk mengurangi dampak dari pencemaran adalah program reboisasi.


Reboisasi adalah penanaman hutan gundul kembali. Selain reboisasi, pemerintah
pun mencanangkan program gerakan menanam satu juta pohon. Aksi ini didukung
penuh oleh masyarakat guna terwujudnya lingkungan yang hijau dan asri.

Zat yang dikeluarkan oleh emisi kendaraan bermotor sangat berbahaya


bagi lingkungan. Zat karbon yang terhirup ke dalam tubuh dapat mengganggu
sistem pernapasan, begitu pula pada persediaan udara bersih terlebih lagi di
perkotaan. Kepulan asap yang dikeluarkan oleh mesin kendaraan bermotor

6
kendaraan dapat mengganggu jarak pandang dan persediaan oksigen yang
semakin terbatas menjadikan udara tidak bersih lagi.

Penggunaan bahan bakar fosil dalam hal ini sebenarnya sangatlah berperan
penting. Namun karena penggunaan yang terlalu berlebihan maka dapat
mengakibatkan dampak negatif yang berlebih. Penggunaan yang terus menerus,
eksploitasi yang terus dilakukan dapat mengakibatkan jumlah persediaan energi
fosil semakin menipis, begitu pula pada tingkat pencemaran yang semakin tinggi,
akibatnya dampak dari global warming pun tak terhindarkan.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah bagaimana


masyarakat dapat menerapkan green lifestyle atau gaya hidup ramah lingkungan.
Apalagi sekarang banyak gerakan yang dilakukan oleh asosiasi peduli lingkungan
yang turut mendukung program ini terwujud dengan baik.

Kegiatan yang sering gencar dipromosikan adalah langkah hemat energi,


langkah ini ditujukan agar masyarakat menggunakan bahan bakar fosil sesuai
kebutuhan atau tidak berlebihan, begitu pula dengan penggunaan kendaraan
bermotor, sesuai kebutuhan.

Selain itu banyak pihak yang mempropagandakan aksi sepeda sehat, hal
ini dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Volume
kendaraan bermotor yang menumpuk dapat menyebabkan kemacetan, hal ini juga
dapat mengakibatkan penggunaan bahan bakar motor habis secara percuma dan
penumpukan karbonmonoksida di udara.

Dengan menggunakan sepeda untuk menempuh perjalanan, masyarakat


dapat menghemat pengeluaran ekonomi dan turut menempuh gaya hidup ramah
lingkungan karena sepeda tidak menggunakan bahan bakar.

Kendati demikian, masih banyak pihak yang tidak menghiraukan aksi


sehat ini, beberapa di antara masyarakat masih menggunakan kendaraan bermotor

7
untuk bepergian walau pun pada jarak yang dekat. Akibatnya kemacetan pun tak
terhindarkan.

Untuk mengatasi hal ini, Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangat diperlukan.
Adanya boulevard atau RTH di tengah kota turut menyumbang partisipasi aktif
mengurangi polusi udara. Pepohonan yang rindang ditanam di sisi kanan – kiri
jalan dapat mengurangi suplai karbondioksida dan melalui proses fotosintesis
dapat mengubahnya menjadi oksigen.

Dengan adanya berbagai program atau kegiatan positif tersebut diharapkan


mampu mengurangi dampak pemanasan global, sebagai akibat dari degradasi
kebersihan udara. Penanganan kondisi yang tanggap akan ramah lingkungan
mampu memberikan kontribusi nyata akan persediaan kebersihan udara untuk
manusia dan makhluk hidup lainnya.

C. Berhati-Hati Dalam Membuang Limbah

Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat karena sampah


merupakan tempat kehidupan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit
(bakteri patogen) dan juga serangga sebagai pemindah dan penyebar penyakit
(vektor). Oleh sebab itu sampah harus dikelola dengan baik agar tidak
mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat. Pengelolaan sampah yang
baik bukan saja untuk kepentingan kesehatan tetapi juga untuk keindahan
lingkungan. Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan sampai
dengan pemusnahan atau pengolahan sampah sedemikian rupa sehingga sampah
tidak mengganggu kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup.

Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut:

1. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah. Pengumpulansampah menjadi


tanggung jawab dari masing-masing rumah tangga atau institusi yang
menghasilkan sampah. Oleh sebab itu, mereka ini harus membangun atau
mengadakan tempat khusus untuk mengumpulkan sampah. Kemudian dari

8
masing-masing tempat pengumpulan sampah tersebut harus
diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) sampah, selanjutnya ke
tempat penampungan akhir (TPA). Mekanisme, sistem, atau cara
pengangkutannya untuk daerah perkotaan adalah tanggung jawab
pemerintah daerah setempat yang didukung oleh partisipasi masyarakat
produksi sampah, khususnya dalam hal pendanaan. Sedangkan untuk
daerah pedesaan pada umumnya sampah dapat dikelola oleh masing-
masing keluarga tanpa memerlukan TPS maupun TPA. Sampah rumah
tangga daerah pedesaan umumnya didaur ulang menjadi pupuk.
2. Pemusnahan dan Pengolahan Sampah.
Pemusnahan dan/atau pengolahan sampah padat ini dapat dilakukan
melalui berbagai cara, antara lain sebagai berikut:
 ditanam (landfill) yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang
ditanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.
 dibakar (inceneration) yaitu memusnahkan sampah dengan jalan
membakar didalam tungku pembakaran (incenerator).
 dijadikan pupuk (composting) yaitu pengolahan sampah menjadi
pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa
makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk. Di daerah pedesaan
hal ini sudah biasa sedangkan di daerah perkotaan hal ini perlu
dibudayakan. Apabila setiap rumahtangga dibiasakan untuk
memisahkan sampah organik dengan anorganik kemudian sampah
organik diolah menjadi pupuk tanaman, dapat dijual atau dipakai
sendiri. Sedangkan sampah anorganik dibuang dan akan segera
dipungut oleh para pemulung. Dengan demikian masalah sampah akan
berkurang. Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan
dengan dua tujuan:
1) Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis,
atau
2) Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak
membahayakan bagi lingkungan hidup.

9
3. Pencemaran lingkungan
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan
anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ± 80%,
sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai.
Pengomposan dapat mengendalikan bahaya pencemaran yang mungkin
terjadi dan menghasilkan keuntungan. Pengomposan merupakan
penguraian dan pemantapan bahanbahan organik secara biologis dalam
temperatur thermophilic (suhu tinggi) dengan hasil akhir berupa bahan
yang cukup bagus untuk diaplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat
dilakukan secara bersih dan tanpa menghasilkan kegaduhan di dalam
maupun di luar ruangan.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara
aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan
tambahan yang biasa digunakan aktivator kompos atau
menggunakan cacing guna mendapatkan kompos (vermicompost).
Keunggulan dari proses pengomposan antara lain teknologinya yang
sederhana, biaya penanganan yang relatif
rendah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak
(tergantung luasan lahan). Pengomposan secara aerobik paling banyak
digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak
membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan
dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan
udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan
mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mendegradasi
bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai
upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga
produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos yang dihasilkan dari
pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan
kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali

10
tanah petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai
pasca penambangan, dan sebagai media tanaman, serta mengurangi
penggunaan pupuk kimia. Bahan baku pengomposan adalah semua
material organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran
hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri
pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan bahan
baku pengomposan.
D. Penerapan Pgoram Pembangunan Berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan sebenarnya sejak sudah lama menjadi


perhatian para ahli. Namun istilah keberlajutan (sustainability) sendiri baru
muncul beberapa dekade yang lalu, walaupun perhatian terhadap keberlanjutan
sudah dimulai sejak Malthus pada tahun 1798 yang mengkhawatirkan ketersedian
lahan di Inggris akibat ledakan penduduk yang pesat. Satu setengah abad
kemudian, perhatian terhadap keberlanjutan ini semakin mengental setelah
Meadow dan kawan-kawan pada tahun 1972 menerbitkan publikasi yang berjudul
The Limit to Growth (Meadowet al.,1972 dalam Askar Jaya, 2004). Menurut
Brundtland Report dari PBB, 1987 Pembangunan berkelanjutan adalah proses
pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip “memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa
depan”. Pemenuhan kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan bagaimana
mengkonservasi stok kapital. Barbier (1993) merinci tiga jenis kapital, yaitu: man
made capital (Km), human capital (Kh), dan natural capital (Kn).

Menurut Perman et al., (1996) dalam Fauzi (2004), setidaknya ada tiga
alasan utama mengapa pembangunan ekonomi harus berkelanjutan. Pertama,
menyangkut alasan moral. Generasi kini yang menikmati barang dan jasa yang
dihasilkan dari sumberdaya alam dan lingkungan memiliki kewajiban moral untuk
menyisakan layanan sumberdaya alam tersebut untuk generasi mendatang.
Kewajiban moral tersebut mencakup tidak mengkestraksi sumberdaya alam yang
merusak lingkungan sehingga menghilangkan kesempatan bagi generasi
mendatang untuk menikmati layanan yang sama. Kedua, menyangkut alasan

11
ekologi. Keanekaragaman hayati, misalnya, memiliki nilai ekologi yang sangat
tinggi sehingga aktivitas ekonomi semestinya tidak diarahkan pada hal yang
mengancam fungsi ekologi tersebut. Ketiga, menyangkut alasan ekonomi. Alasan
dari sisi ekonomi memang masih menjadi perdebatan karena tidak diketahui
apakah aktivitas ekonomi selama ini sudah atau belum memenuhi kriteria
berkelanjutan. Dimensi ekonomi keberlanjutan sendiri cukup kompleks, sehingga
sering aspek keberlanjutan dari sisi ekonomi ini hanya dibatasi pada pengukuran
kesejahteraan antargenerasi (intergenerational welfare maximization).

Konsep Pembangunan Berkelanjutan


Konsep pembangunan berkelanjutan sebenarnya merupakan konsep yang
sederhana tetapi kompleks. Menurut Heal, 1998 dalam Fauzi, 2004 konsep
keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi, yaitu dimensi waktu
karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi di masa
mendatang, dan dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumberdaya
alam dan lingkungan.
Pezzey (1992) melihat aspek keberlanjutan dari sisi yang berbeda. Dia
melihat bahwa keberlanjutan memiliki pengertian statik dan dinamik.
Keberlanjutan statik diartikan sebagai pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan
dengan laju teknologi yang konstan, sementara keberlanjutan dinamik diartikan
sebagai pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat
teknologi yang terus berubah (Fauzi, 2004).
Dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, terdapat dua kaidah
yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan,
yaitu (Pearce dan Turner, 1990):

1. Untuk sumberdaya alam yang terbarukan (renewable resources):


Lajupemanenan harus lebih kecil atau sama dengan laju regenerasi
(produksilestari).
2. Untuk masalah lingkungan: Laju pembuangan (limbah) harus lebih kecil
atau setara dengan kapasitas asimilasi lingkungan.

12
Aspek operasional dari konsep keberlanjutan ini dapat dipahami lebih jauh dengan
adanya lima alternatif pengertian sebagaimana yang diuraikan Perman et al.,
(1996) dalam Fauzi (2004), sebagai berikut:

1. Suatu kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang


diperoleh masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan konsumsi
tidak menurun sepanjang waktu (non-declining consumption).
2. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam dikelola
sedemikian rupa untuk memelihara kesempatan produksi di masa
mendatang.
3. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam (natural capital
stock) tidak berkurang sepanjang waktu (non-declining).
4. Keberlanjutan adalah kondisi dimana sumberdaya alam dikelola untuk
mempertahankan produksi jasa sumberdaya alam.
5. Keberlanjutan adalah kondisi dimana kondisi minimum keseimbangan
dandaya tahan (resilience) ekosistem terpenuhi.

Selain definisi operasional diatas, Haris (2000) dalam Fauzi (2004) melihat bahwa
konsep keberlanjutan dapat diperinci menjadi tiga aspek pemahaman, yaitu:

1. Keberlanjutan ekonomi, yang diartikan sebagai pembangunan yang


mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara
keberlanjutan pemerintahan dan menghindari terjadinya
ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan
industri.
2. Keberlanjutan lingkungan: Sistem yang berkelanjutan secara lingkungan
harus mampu memelihara sumberdaya yang stabil, menghindari
eksploitasi sumberdaya alam dan fungsi penyerapan lingkungan. Konsep
ini juga menyangkut pemeliharaan keanekaragaman hayati, stabilitas
ruang udara, dan fungis ekosistem lainnya yang tidak termasuk kategori
sumber-sumber ekonomi.

13
3. Keberlanjutan sosial: Keberlanjutan secara sosial diartikan sebagai sistem
yang mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan social termasuk
kesehatan, pendidikan, gender, dan akuntabilitas politik

E. Pajak Ekologi
Bidang yang mengalami perbenturan paling keras dengan urusan
lingkungan hidup adalah ekonomi. Sebagian besar termologi ekonomi, mulai dari
yang Marxis sampai Monetarian terbukti gagal mempertemukan kepedulian
lingkungan dengan kenyataan praktik berekonomi di dunia nyata.
Perusahaan harus mengalokasikan biaya ekstra untuk memperoleh air
bersih atau me-lakukan treatment untuk udara dan air yang tercemar. Hal ini
tentunya diikuti dengan terjadinya krisis sosial budaya termasuk kesehatan
masyarakat di sekitar perusahaan tersebut. Biosfer bumi merupakan sumber dan
tata kehidupan yang memberikan manfaat ekologi (ecological benefit), manfaat
ekonomi (economical benefit), dan manfaat sosial (social benefit). Tiga pilar ini
merupakan rantai keberlangsungan bagi kehidupan manusia dan pembebanan
yang paling mempengaruhi kesejahteraan manusia adalah bersumber pada ekologi
yang memberi efek pada kemakmuran ekonomi, sosial budaya. Ekonomi tidak
akan bergerak tanpa sumber daya alam.
Berbeda dengan pembangunan yang secara drastis mengubah dan
menghilangkan nilai ekologi suatu sumber daya, perkembangan lingkungan justru
memerlukan waktu jangka panjang. Banyak komponen lingkungan adalah milik
umum seperti laut, udara, angin dan air, namun manfaat dan kerugian lingkungan
selalu berada di luar perhitungan (externality) biaya perusahaan. Lingkungan
tunduk kepada hukum alam seperti keterkaitan keanekaragaman hayati yang tidak
masuk perhitungan ekonomi pasar, tetapi ketiadaan fungsi alam ini jelas
menimbulkan distorsi ekonomi. Ekologi harus dipandang sebagai aset utama di
dalam proses ekonomi yang berdampak pada kehidupan sosial budaya manusia.
Dari sekian banyak jenis pajak yang diberlakukan oleh pemerintah, tidak
ada yang dikhususkan untuk mengganti kerusakan udara, air, tanah, hutan, pesisir
dan laut. Industri secara sadar harus menginternalkan berbagai eksternalitas yang

14
ditimbulkan melalui retribusi, pajak, pengutan dan iuran lingkungan (pajak
ekologi), dalam komponen harga melalui kebijaksanaan ekonomi makro. Industri
masa datang harusnya mampu berproduksi dalam jangka panjang dengan tetap
memelihara ekosistemnya. Untuk melestarikan ekosistem, kegiatan pembangunan
industri harus mencegah pencemaran, mengurangi emisi-emisi, melestarikan
keanekaragaman hayati, menggunakan sumber daya biologi terpulihkan secara
berkelanjutan dan mempertahankan keterpaduan ekosistem-ekosistem lain dalam
ekosistem besar biosfer bumi.
Menurut Prof. Dr. PJA Adriani, pajak adalah iuran Negara (yang
dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-
peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk
dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum
berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Dari definisi tersebut, salah satu ciri pajak adalah bahwa pajak dipungut
berdasarkan undang-undang (UUD 1945 Pasal 23 A). Dalam kaitannya dengan
‘Pajak Ekologi’, kita perlu menilik UUD 1945 Pasal 33 Ayat 2 dan 3.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh Negara (2). Bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-
besarnya untuk kepentingan rakyat. (3)
Interpretasinya adalah bahwa Negara sebagai ‘pemilik’ Indonesia wajib
melindungi alam Indonesia ini. Dari mulai air, tanah, hutan, juga udara.
Pemerintah perlu menetapkan sebuah aturan khusus yang memiliki fungsi sebagai
filter untuk meminimalisir kerusakan lingkungan tersebut. Dan salah satunya
adalah penetapan Pajak Ekologi.
Lantas kita bertanya, bagaimana aplikasi pajak ekologi ini? Contoh hal
kecilnya adalah penggunaan kendaraan bermotor. Dalam setiap pembelian
kendaraan bermotor juga harus ditetapkan pajak ekologi. Selain itu, setiap
kilometer penggunaannya wajib direkapitulasi untuk pembayaran pajak tiap
bulannya. Misal, 1000 km/bulan. Pastinya dari jumlah kilometer ini, kita bisa
menghitung jumlah BBM yang digunakan. Yang selanjutnya bisa dikalkulasi

15
jumlah polutan yang telah mencemari udara. Dalam hal ini, sistem yang
digunakan adalah official assesstment pada awalnya, dan lambat laun menuju self
assessment, wajib pajak berada dalam posisi yang aktif. Dan penetapan tarif pajak
ekologi individu (pemakaian kendaraan bermotor, dsb) tentu harus beda dengan
tarif pajak ekologi industry/pabrik. Karena tarif pajak yang digunakan adalah tarif
pajak progresip proporsional, yaitu tarif pemungutan pajak dengan prosentase
yang naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar
pengenaan pajak, namun kenaikan prosentase untuk setiap jumlah tertentu tetap.
Bagaimana jika ada yang protes? Apakah pemungutan pajak ekologi telah
memenuhi syarat-syarat pemungutan pajak? Jelas Iya! Dari segi syarat keadilan,
maka pemungutan pajak ekologi memenuhi syarat ini. Mengapa? Memang terlihat
pemilik kendaraan misalnya, memiliki keuntungan dari penggunaannya. Tetapi ia
telah mencemari udara yang dihirup oleh semua orang. Polutan tesebut
terakumulasi di udara dan menurunkan kualitas lingkungan. Oleh karena itulah, ia
harus membayar pajak ekologi yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan kualitas ekologi.
Dilihat dari syarat Yuridis pun telah jelas. Dan sungguh, pemungutan
pajak ekologi tidak akan melanggar syarat ekonomis pemungutan pajak. Hal ini
tidak akan mengganggu kestabilan perekonomian. Malah mampu menciptakan
kesadaran lingkungan. Dengan penetapan pajak ekologi, masyarakat akan
menimbang lebih lanjut jika ingin membeli kendaraan bermotor. Pembelian yang
tidak efektif dan tidak urgent hanya akan menambah beban pajak. Masyarakat
akan lebih sadar asas manfaat. Secara tidak langsung, hal ini mampu mendidik
masyarakat bawah untuk lebih ekonomis.
Kerusakan lingkungan seperti hutan dan lainnya juga bisa diminimalisir.
Perusahaan-perusahaan kayu, bubur kertas, dan lainnya yang menggunakan kayu
sebagai bahan bakunya akan memberikan input ‘dana segar’ dari kegiatannya.
Kemudian dana ini digunakan untuk merebosiasi hutan yang telah rusak atau
malah membuat hutan produksi sendiri. Coba bandingkan efektivitas penerapan
pajak ekologi dengan undang-undang yang mengatur penyewaan hutan ke pihak
swasta. Tapi memang official pemungut pajak harus kompeten di bidangnya dan

16
mampu menciptakan kesadaran lingkungan bagi para pengusaha tersebut untuk
kemudian berubah menjadi self assessment ketika kesadaran itu telah terbentuk.
Dan asas pemungutan pajak yang dipakai tentu adalah asas domisili.
Perusahaan/individu manapun yang berdomisili di Indonesia berhak dikenakan
pajak ini.
Dan perlu diperhatikan bahwa peran pemerintah sangat besar di sini untuk
menyosialiasikan penerapan pajak ekologi itu. Bukan sekedar ‘himbauan’ tapi
sebuah ‘keharusan’. Konsistensi para pemungut pajak juga diharapkan, agar
nantinya dana dari pajak ini dapat disalurkan dengan benar. Jika benar terealisasi,
maka akan banyak perubahan positif dalam kualitas lingkungan juga kualitas
bangsa Indonesia.
F. Penegakan Hukum Lingkungan
Sebagaimana telah di uraikan di atas, bahwa tujuan Perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup adalah:
1. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
2. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia.
3. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian
ekosistem.
4. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup.
5. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup.
6. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa
depan.
7. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai
bagian dari hak asasi manusia.
8. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
9. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan
10. Mengantisipasi isu lingkungan global.

Dalam rangka untuk mencapai tujuan tersebut perangkat peraturan perundang


Perundang-undangan (hukum lingkungan) sebagai salah satu sarana dan menurut

17
Friedman (2001 :273) ada 4 (empat) fungsi sistim hukum, yaitu : Pertama sebagai
sistem kontrak social, kedua, sebagai sarana penyelesaian sengketa; ketiga,
sebagai bagian dari perencanaan sosial dalam kebijakan public, yang disebut
dengan social engineering function; dan keempat, sebagai social maintenance,
yakni sebagai fungsi pemeliharaan ketertiban atau status quo. Tujuan hukum
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ialah menciptakan keseimbangan
kemampuan lingkungan yang serasi (environmental harmony).

Upaya-upaya konkrit oleh hukum untuk menciptakan keserasian lingkungan


harus kelihatan melalui fungsinya, menurut N.H.T. Siahaan (2002 :379) adalah
sebagai berikut :

1. Sebagai landasan interaksional terhadap lingkungan (basic to environment


interactive).
2. Sebagai sarana control atas setiap interaksi terhadap lingkungan ( a tool of
control);
3. Sebagai sarana ketertiban interaksional manusia dengan manusia lain,
dalam kaitannya dengan kehidupan lingkungan ( a tool of social order);
4. Sebagai sarana pembaharuan ( a tool of social engineering) menuju
lingkungan yang serasi, menurut arah yang dicita-citakan (agent of
changes).

Instrumen hukum melalui fungsi-fungsinya itu akan menjadi pedoman bagi


prinsip yang dapat diterapkan berupa pembangunan berwawasan lingkungan.
Hukum dapat memainkan fungsinya terutama sebagai control dan menjadi
kepastian bagi masyarakat dalam menciptakan keserasian antara aksi
pembangunan yang diteruskan serta ditingkatkan demi mencapai taraf
kesejahteraan dan kemakmuran di satu pihak, dengan pemanfaatan sumber daya
alam yang serba terbatas di lain pihak. Menurut fungsinya sebagai sarana
pembaharuan dan pembangunan ( a tool of social engineering), hukum dapat
diarahkan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keseimbangan
ekosistem tidak bersifat statis, melainkan dapat berubah-ubah (dinamis),
perubahan ini dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan
manusia. Kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem
diantaranya (1) penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan, (2)
perburuan hewan secara terus-menerus, dan (3) penggunaan pupuk yang
berlebihan. Untuk menanggulangi rusaknya keseimbangan ekosistem, dapat
dilakukan dengan upaya-upaya berikut (1) pembuatan suaka margasatwa, (2)
pembuatan cagar alam, (3) perlindungan hutan, (4) pembuatan taman nasional, (5)
pembuatan taman laut, (6) pembuatan kebun binatang, dan (7) penerapan
pertanian organik.
B. Saran

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia. Manusia memiliki akal
pikiran. Karunia itu kemudian digunakan dalam berperilaku dalam kesehariannya
di muka bumi ini. Oleh karena itu, manusia yang hidup di bumi ini harus selalu
menjaga kelestarian alam sekitar.

19
DAFTAR PUSTAKA

https://ilmugeografi.com/biogeografi/pelestarian-lingkungan

http://kabarkampus.com/2014/04/pengurangan-bahan-bakar-fosil-dan-upaya-
pencegahan-polusi-udara-untuk-mengurangi-dampak-pemanasan-global/

http://kumpulanpertanyaanpenting.blogspot.com/2014/11/bagaimana-cara-cara-
pengolahan-sampah-yang-baik-agar-tidak-menggangu-kesehatan-masyarakat.html

https://anshor83.wordpress.com/2012/02/02/pembangunan-berkelanjutan-
kebijakan-implementasi-dan-tantangannya-di-indonesia/

https://reinvandiritto.blogspot.com/2008/09/pajak-ekologi.html

https://profsyamsularifin.wordpress.com/2011/12/26/perundang-undangan-
perlindungan-dan-pengelolaan-lingkungan-hidup/

20

Anda mungkin juga menyukai