Anda di halaman 1dari 2

Nama : Yonimah Nurul Husna

NIM : 12030117410012

Mewaspadai Risiko Sistematik Perusahaan Pembiayaan


A. Mengapa banyak perusahaan pembiayaan tutup?
 Tata kelola perusahaan yang buruk, yatitu adanya keserakahan sehingga terjadi gagal
bayar medium term no tes (MNT) PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan dan kredit
macet di beberapa bank.
 Bank kian selektif dalam memberikan pembiayaan ke multifinance. Ketentuan
permohonan minimum Rp 100M tidak mudah dipenuhi karena lebih dari 20%
perusahaan yang modalnya dibawah Rp 100M.
 Bank semakin selektif dengan hanya memberikan kredit kepada nasabah multifinance
yang lancar saja. Karena ketika bank memberikan kredit kepada nasabah yang tidak
lancar dalam pembayarannya maka akan mempengaruhi peningkatan resiko pada
bank.
 Pengawasan terintegrasi belum belum sepenuhnya efektif di OJK. Hal itu terlihat dari
pengawasan dan pengaturan antar bank dan industri keuangan non bank (IKNB)
belum terintegrasi dengan baik. Sehingga terjadi kasus multipladge dan brancasurance
(Jiwasraya).
 Skema ponzy : adanya masalah likuiditas dan rendahnya kepercayaan bank terhadap
multifinance sehingga multifinance yang mengalami kekurangan dana akan
mengalami beban overhead yang akan mengakibatkan terjadinya financial distress.
 Praktik multipledge yang terjadi pada multifinance akan mengakibatkan kehancuran
dan kebangkrutan perusahan.
 Jumlah multifinance sangat banyak dengan struktur modal yang sangat kecil
 Munculnya LSM yang melindungi para penunggak kredit motor dan mobil yang akan
bernegosiasi dengan multifinance agar dapat menyerahkan motor ataupun mobil
sehingga membuat biaya operasional multifinance akan membengkak.

B. Solusi yang harus dilakukan :


 Multifinance harus memulihkan kepercayaan perbankan atau kreditor, membenahi
tatakelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang sehat.
 Multifinance harus menguatkan permodalan dan kapasitas kepemilikan dengan
membuat semacam peta jalan (road map) prndanaan dalam jangka panjanag.
 Semua pihak harus bersama-sama menjaga dampak sistematik multifinance tidak
terjadi. Bank-bank tidak harus menutup ketat aliran kredit kepada multifinance karena
tidak semua multifinance melakukan praktik yang buruk.
 Bisnis model multifinance harus segera diubah sejalan dengan hadirnya teknologi
finansial (fintech)
 Dilakukan penutupan terhadap multifinance yang sakit dan tidak punya masa depan
sehingga hanya akan ada multifinance yang sehat, kuat, dan transparan dengan
tatakelola yang baik.
 Tindakan tegas harus terus dilakukan oleh Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia
(APPI) dan pihak kepolisian untuk mencegah timdakan anrkrisiris LSM.
 OJK harus memperbaiki kinerjanya dengan meningkatkan pengawasan dan
pengaturan industri keuangan non bank dan perbankan secara terintegrasi.