Anda di halaman 1dari 29

REFERAT TANAMAN HERBAL ANTIHIPERTENSI

Blok Kedokteran Herbal

Kelompok 2
Aurina Imah Haryoko (1513010019)
Paramita Anindya Hapsari (1513010042)

Tutor :
dr. Dyah Retnani Basuki, M.Kes, AAAK.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada ALLAH SWT atas berkat dan rahmat-
Nya saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul Tanaman Herbal
Hipertensi. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas persyaratan Blok
Kedokteran Herbal.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dokter


pembimbing di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas
bimbingannya selama ini.
Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, dan masih
banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu diharapkan bantuan dari
dokter pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan saran dan
masukan yang berguna bagi penulis.
Lepas dari segala kekurangan yang ada, saya berharap semoga referat ini
membawa manfaat bagi kita semua.

Purwokerto, 4 September 2018

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang
prevalensinya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan
data World Health Organization (WHO) ada satu miliar orang di dunia
menderita hipertensi dan dua per-tiga diantaranya berada di negara
berkembang dan diprediksi pada tahun 2025 ada sebanyak 29% orang
dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi (WHO, 2013).
Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke,
kelemahan jantung, penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dan
lain-lain yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti
otak, ginjal dan jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian.
Hipertensi atau yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu
faktor resiko paling berpengaruh penyebab penyakit jantung
(cardiovascular). Pengobatan hipertensi diperlukan untuk mengontrol
tekanan darah dengan menggunakan antihipertensi. Selain antihipertensi
yang biasa diberikan dokter (konvensional), ternyata banyak pasien
menggunakan herbal atau kombinasi konvensional-herbal. Faktanya,
terdapat rumah sakit yang melayani konsultasi herbal seperti RS Puri
Mandiri, dan RS Harapan Bunda. yang membuka Unit TCM (Traditional
Chinese Medicine) di wilayah Jakarta. Bangsa Indonesia telah lama
mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu
upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang
tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan keterampilan yang
secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 80%
penduduk dunia masih menggantungkan dirinya pada pengobatan
tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tanaman.
Beberapa tanaman alami telah diketahui memiliki fungsi untuk pengobatan
hipertensi. Diantara jenis tanaman tersebut adalah mengkudu, rosella,

3
seledri, bawang putih, kumis kucing dan daun salam. Oleh karena itu,
perlu diketahui deskripsi, kandungan kimia hingga posologi mengenai
ketiga tanaman tersebut.

B. Tujuan
1. Mengetahui tanaman herbal yang berfungsi untuk hipertensi.
2. Mengetahui deskripsi, taksonomi, kandungan kimia, indikasi, kontra
indikasi, toksisitas, posologi, efek samping, uji klinik dan uji preklinik
tanaman mengkudu, rosella, seledri, bawang putih, kumis kucing dan
daun salam

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. MENGKUDU (Morinda citrifolia L)
A. Deskripsi
Pohon tinggi 4-8 m. batang berkayu bulat, kulit kasar, penampang
batang muda segi empat, coklat kekuningan. Daun tunggal bulat telur,
ujung & pangkal runcing, tepi rata, panjang 10-40 cm, lebar 5-17 cm,
tangkai pendek berwarna hijau. Bunga majemuk berbentuk bonggol,
bertangkai di ketiak daun. Buah bonggol, permukaan tidak teratur,
berdaging panjang 5-10 cm, hijau kekuningan. Biji keras, segitiga,
coklat kemerahan. Simplisia berupa irisan buah, warna cokelat, bau
khas, rasa sedikit pahit, dengan ketebalan ± 1 cm, diameter 3-5 cm,
dengan tonjolan-tonjolan biji. Selain itu untu mengobati hipertensi ini
yang digunakan adalah buah dari mengkudu. (Kemenkes, 2016).

Gambar 1. Buah mengkudu


Sumber : Redriguez, 2008
B. Taksonomi
Klasifikasi dari tanaman mengkudu adalah :
sebagai berikut:
a. Kingdom : Plantae
b. Devisi : Magnoliophyta
c. Subdevisi : Angiospermae

5
d. Kelas : Magnoliopsida
e. Subkelas : Asteriidae
f. Ordo : Rubiales
g. Family : Rubiaceae
h. Genus : Morinda
i. Spesies : Morinda citrifolia, L.
C. Kandungan Kimia
Mengkudu (Morinda citrifolia L.) mengandung beberapa zat aktif
utama diantaranya Scopoletin, alkaloid seronin, plant sterois, alisarin,
lisin, sosium, asam kaprilat, arginin, pro-xeronin prokseronin,
antrakuinin, trace elements, fenilalanin, magnesium, terpenoid. Buah
mengkudu memiliki kandungan scopoletin, senyawa ini berfungsi
mengatur tekanan darah (Kemenkes, 2016).
D. Mekanisme Kerja
Buah mengkudu memiliki kandungan scopoletin, senyawa ini
berfungsi mengatur tekanan darah. Mekanisme kerja scopoletin untuk
menurunkan tekanan darah adalah sebagai vasodilator yang
menurunkan tekanan darah dengan merelaksasikan otot polos vaskuler
sehingga tekanan darah arteri menurun tekanan darah juga menurun.
Selain itu, mengkudu juga mengandung xeronine yang berfungsi
sebagai zat diuretik yaitu dengan mengurangi volume darah dengan
mengeluarkan simpanan natrium dari dalam tubuh. Mengkonsumsi
mengkudu sebanyak 2 ons dua kali sehari selama satu bulan mampu
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi (Kemenkes,
2016).
E. Uji Preklinik
Sediaan 70% ekstrak aqua-ethanol akar M. citrifolia pada sediaan
atrium kanan guinea-pig, Morinda menghambat kekuatan dan rate
kontraksi atrium. Pada sediaan aorta torakalis kelinci, Morinda
menghambat kontraksi yang ditimbulkan oleh phenylephrine (1.0 μM)
pada Kerb’s solutions dengan Ca++ normal dan tanpa Ca++- dan oleh

6
kadar K+ tinggi setara dengan verapamil. Pada sediaan aorta torakalis
tikus, Morinda juga merelaksasi kontraksi yang diinduksi oleh
phenylephrine (1.0 μM). Vasodilatasi ini tidak berubah dengan adanya
L-NAME (0.1 mM) atau atropine (1.0 μM) dan pengangkatan
endothelium. Hasil menunjukan bahwa efek spasmolitik dan
vasodilatasi, diduga terjadi melalui penghambatan kanal Kalsium dan
pelepasan Ca intra sel. Jus buah dibandingkan dengan furosemid per
oral 5 dan 10 mg/kg BB pada tikus untuk menguji efek diuretik. Jus
meningkatkan volume urin (6.82 + 1.18 ml/100 g/24 jam dan 7.87 +
1.15 ml/100 g/24 jam) dan meningkatkan indeks diuretik menjadi 2.04
dan 2.36 untuk 5 mL/ kgBB dan 10 mL/kg BB dibanding kontrol (107
+ 5.18 mmol/L). Walaupun ada penurunan ekskresi potasium namun
tidak bermakna (Kemenkes, 2016).
F. Uji Klinik
Studi Preliminary (Pre-Post) pada 10 subjek hipertensi berusia 28-56
tahun. Tiap subjek mendapat 2 x 200 jus sehari selama satu bulan.
Tekanan darah ratarata pre dan post adalah 144/83 mmHg dan 132/76
mmHg. Diduga mekanisme kerja dengan menghambat ACE dan
reseptor AT. Studi lain menggunakan 30 pria sebagai subyek. Data
yang diukur adalah tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan
sesudah pemberian ekstrak etanol mengkudu. Hasil menunjukkan
bahwa rerata tekanan darah setelah minum ekstrak mengkudu sebesar
111,10/69,75 mmHg lebih rendah daripada tekanan darah rata-rata
sebelum minum ekstrak etanol mengkudu yaitu sebesar 116,64/72,35
mmHg (p<0,05) diketahui bahwa ekstrak etanol buah mengkudu
menurunkan sistolik dan diastolik (Kemenkes, 2016).
G. Interaksi obat
Dengan obat ACE inhibitor, antagonis reseptor angiotensin II, diuretik
hemat kalium. Dapat mengurangi efek obat imunosupresan
(Kemenkes, 2016).

7
H. Indikasi
Hipertensi
I. Kontraindikasi
Kehamilan, laktasi, anak, hiperkalemia, alergi. Hati-hati terhadap
penderita gastritis karena bersifat asam. Dengan obat antidiabetes
dapat terjadi hipoglikemia dan hipotensi, karena dapat menurunkan
kadar glukosa dan kalium darah. Warna urin dapat menjadi merah
muda sampai merah kecoklatan (Kemenkes, 2016).
J. Efek samping
Sedasi, mual, muntah, alergi, hiperkalemia (Kemenkes, 2016).
K. Posologi
2x1 kapsul (250 mg ekstrak)/hari selama 30 hari (Kemenkes, 2016)
2. Kumis Kucing ( Orthosiphon Aristatus )
a. Deskripsi
Tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar di bagian buku-
bukunya, tinggi sampai 2 m. Batang bersegi 4 agak beralur, berambut
pendek atau gundul dan mudah dipatahkan. Helai daun berbentuk bulat
telur lonjong, atau belah ketupat, panjang 1 cm-10 cm, lebar 7,5 mm-5
cm. Urat daun sepanjang tepi berambut tipis atau gundul, kedua
permukaan berbintik-bintik, panjang tangkai 3 cm (Kemenkes RI,
2016).
Perbungaan berupa tandan yang keluar diujung cabang, panjang 7-
29 cm, ditutupi rambut pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi
putih, gagang rambut pendek dan jarang, panjang 1-5 mm. Kelopak
bunga berkelenjar, arat dan pangkal berambut pendek dan jarang
sedangkan di bagian paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota
berwarna ungu pucat atau putih, panjang 13-27 mm, di bagian atas
ditutupi rambut pendek yang berwarna ungu atau putih seperti kumis
kucing, panjang tabung 10-18 mm, panjang bibir 4,5-10 mm, helai
bunga tumpul, bundar. Benang sari lebih panjang dari tabung bunga
dan melebihi bibir bunga bagian atas. Bunga geluk berwarna coklat

8
gelap, panjang 1,75- 2 mm. Dikenal 3 varietas kumis kucing yaitu
yang berbunga biru, berbunga putih dengan batang serta tulang dan
tangkai bunga coklat kemerahan, dan yang berbunga putih (Kemenkes
RI, 2016).

Gambar 2. Kumis Kucing


b. Taksonomi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae (Menghasilkan biji)
Kelas : Dicotyledoneae (Biji berkeping 2)
Subkelas : Asteridae
Ordo : Lamiales
Famili : Lamiaceae
Genus : Orthosiphon
Spesies : Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.
c. Kandungan Kimia
Glikosid ortosifonin; Zat lemak; Minyak atsiri; Minyak lemak;
Saponin; Sapofonin; Garam kalium (Kemenkes RI, 2016).
Juga ditemukan senyawa golongan flavonoid.
- Sinensetin ( 5,6,7,3',4'- pentametoksi flavon )
- Tetrametilskutellarein (5,6,7,4'-tetra metoksi flavon)
- 5-hidroks i 6,7,3',4' tetrametoksi flavone.
- Salvigenin (5-hidroksi-6,7,4'-trimetoksi flavon)

9
- Kirsimaritin (5,6-dihidroksi-7,4'-dimetoksi flavon)
- Pilloin (5,3’-dihidroksi-7,4’-dimetoksi flavon)
- Rhamnazin (3,5,4'-trihidroksi-7,3'-dimetoksi flavon)

Juga ditemukan 9 macam golongan senyawa flavon dalam


bentuk aglikon, 2 macam glikosida flavonol, 1 macam senyawa
kumarin, asam kafeat dan 7 macam senyawa depsida turunan asam
kafeat, skutellarein, 6-hidroksiluteolin, sinensetin (Barnes et al,
2013)

d. Mekanisme Kerja
Methylripariochrome A telah dilaporkan memiliki beberapa
tindakan farmakologis yang berkaitan dengan aktivitas antihipertensi.
Pada penderita stroke, tikus hipertensi spontan, pemberian
metilripariokromene A subkutan menghasilkan reduksi kontinu pada
tekanan darah sistolik dan penurunan denyut jantung.
Methyilripariochromene A juga menekan agonis yang diinduksi
kontraksi pada aorta toraks tikus dan menurunkan kekuatan kontraktil
pada atrium babi guinea terisolasi tanpa secara signifikan
mempengaruhi laju denyut jantung (Barnes et al, 2013).
Mekanisme kerja untuk efek antihipertensi dari
methilripariochromene A ini, bagaimanapun tidak jelas. Migrasi
kandungan dari kumis kucing telah dilaporkan menunjukkan efek
supresif pada respon kontraktil pada aorta toraks tikus (Barnes et al,
2013).
e. Uji Pre klinik
Infusa 5% diberikan secara intravena pada kelinci memperlihatkan
efek diuretik. Efek diuretik juga diperlihatkan pada penelitian secara
subkutan sediaan ekstrak air pada kelinci dan anjing. Ekstrak kering
alkohol air diberikan secara peroral pada tikus terjadi peningkatan
jumlah urin dibandingkan air sebagai control. Selain itu terjadi
peningkatan sekresi natrium. Selain itu terjadi peningkatan sekresi

10
natrium, tetapi tidak mengganggu kadar kalium karena kadar Kalium
O. stamineus tinggi yaitu 600–700 mg/100 g daun segar (Kemenkes
RI, 2016).
Methylripariochromene A (MRC) yang diisolasi dari daun O.
Stamineus menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik dan laju
kerja jantung setelah pemberian secara subkutan pada SHRSP (Stroke-
prone spontaneously hypertensive rats). MRC menurunkan tekanan
kontraksi endothelium aorta torakalis tikus yang diinduksi oleh K+
tinggi, 1-fenilefrin atau prostaglandin F2α. MRC menghambat daya
kontraktil tanpa reduksi yang signifikan pada kontraksi atrium marmut
yang diisolasi. MRC meningkatkan jumlah urin dan sekresi Na+, K+,
dan Cl- selama 3 jam setelah pemberian oral pada tikus. Dapat
disimpulkan methylripariochromene A (MRC) memiliki khasiat yang
berhubungan dengan penurunan tekanan darah, seperti vasodilatasi,
penurunan curah (Kemenkes RI, 2016).
f. Uji klinik
Investigasi klinis persiapan teh java sangat terbatas. studi acak,
buta ganda, plasebo terkontrol, studi silang melaporkan tidak ada efek
pada output urin 12 dan 24 jam atau pada ekskresi sodium pada 40
sukarelawan sehat yang menerima 600 ml. infus daun orthosiphon
setiap hari selama empat hari (Barnes et al, 2013).
Sejumlah kecil studi yang tidak terkontrol telah mengeksplorasi
efek dari persiapan teh java dan melaporkan temuan yang saling
bertentangan. Sebuah penelitian yang melibatkan 67 pasien dengan
diatesis urat yang menerima teh java selama tiga bulan melaporkan
bahwa tidak ada efek yang diamati pada diuresis, filtrasi glomerulus,
konsentrasi osmotik, pH urin, kandungan plasma dan ekskresi kalsium,
fosfor anorganik (Barnes et al, 2013).
g. Indikasi
Efek diuretik, efek hipoglikemi, efek antihipertensi, efek
sitostatika, efek antimikroba (Kemenkes RI, 2016).

11
h. Kontraindikasi
Penderita hipersensitivitas terhadap komponen aktif kumis kucing,
udem karena gangguan jantung atau ginjal (Kemenkes RI, 2016).
i. Interaksi Obat
Tidak ditemukan. Namun, mengingat tindakan farmakologis
didokumentasikan, potensi kumis kucing untuk mengganggu obat-
obatan lain yang diberikan bersamaan, terutama mereka dengan efek
yang sama atau berlawanan, harus dipertimbangkan (Barnes et al,
2013).
j. Efek Samping
Tidak ada efek samping pada penggunaan secara benar sesuai dengan
dosis terapi (Kemenkes RI, 2016).
k. Toksisitas
Kurangnya data keamanan dan toksisitas klinis untuk kumis kucing
dan penyelidikan lebih lanjut dari aspek-aspek ini sangat diperlukan
(Barnes et al, 2013).
l. Posologi
Dosis untuk pemberian oral untuk penggunaan tradisional yang
direkomendasikan dalam teks referensi hebal standar kontemporer
diberikan di bawah ini (Barnes et al, 2002) :
- Simplisia kering 2-3 g dalam 150 ml air dua hingga tiga kali sehari
infus.
- 3 x 1 kapsul (280 mg ekstrak)/hari.
3. Rosela ( Hibiscus sabdarifa Linn)
a. Deskripsi
Tumbuhan berupa semak, tumbuh tegak tinggi dapat mencapai 3
m. Batang berbentuk bulat, berkayu lunak, tegak bercabang-cabang
berwarna merah. Daun bentuk bulat telur dengan ujung tumpul dan tepi
daun bergerigi.Tangkai bunga keluar dari ketiak daun. Bunga tunggal,
kelopak bunga bentuk lanset, berdaging tebal, berwarna merah tua
(Kemenkes, 2016)

12
Gambar 2. Bunga Rosella

b. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub-kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus sabdariffa L
c. Kandungan Kimia
Kelopak bunga mengandung senyawa antosianin, vitamin C, dan
B. Kandungan lainnya adalah kalsium, beta karoten serta asam amino
esensial. Rosella memiliki banyak unsur kimia yang menunjukkan
ektivitas farmakologis.15-20% merupakan asam-asam tumbuhan yang
meliputi asam sitrat, asam malat, asam tartar dan asam (+)-allo-
hidroksisitrat (Kemenkes, 2016).
d. Mekanisme Kerja
Hibiscus mengandung anthocyanin yaitu flavonoid yang
mempunyai efek antioksidan. Pada jaringan binatang diamati adanya
efek hipotensi dan vasorelaksan, juga aktivitas kardioprotektif dan
inhibitor ACE (Kemenkes, 2016).

13
e. Uji Pre Klinik
Preklinik rosella memiliki aktivitas yang cukup banyak seperti
antipiretika, antibakterial, antioksidan, antihipertensi, antikolesterol
(Ajay et al., 2007).
f. Uji Klinik
Penderita hipertensi usia 30-80 tahun diberi infusa dosis 0,5 L
(setara dengan 9,6 mg antosianin), setiap hari sebelum sarapan, sebagai
kontrol kaptopril 2 kali 25 mg/hari. Infusa dapat menurunkan tekanan
sistolik 139,05 ke 123,73 mmHg, dan diastolik dari 90,8 ke 79,5
mmHg. Efek ini tidak berbeda dengan kapropril 50 mg. Ekstrak
hibiscus dapat menurunkan tekanan sistol dan diastol pada pasien
dengan hipertensi ringan hingga sedang. Dalam studi lain, ekstrak yang
telah distandarisasi dibandingkan efek hipotensinya dengan kaptopril,
penghambat enzim pengkonversi angiotensin (ACEI) (Kemenkes,
2016).
Uji klinik RCT dilakukan pada 65 orang usia 30–70 tahun dengan
pra- dan hipertensi ringan, yang tidak minum obat antihipertensi, diberi
teh Hibiscus 3 x 240 mL /hari atau plasebo selama 6 minggu. Setelah 6
minggu, teh Hibiscus menurunkan tekanan darah sistolik (SBP)
dibanding plasebo (−7.2 ± 11.4 vs. −1.3 ± 10.0 mm Hg; P = 0.030).
Tekanan Diastolik juga menurun walau tidak berbeda bermakna
dibanding plasebo (−3.1 ± 7.0 vs. −0.5 ± 7.5 mm Hg; P = 0.160), rerata
tekanan darah arteri berbeda borderline dibanding plasebo (−4.5 ± 7.7
vs. −0.8 ± 7.4 mm Hg; P = 0.054) (Kemenkes, 2016).
Orang dengan SBP yang lebih tinggi pada baseline menunjukkan
respons lebih besar terhadap terapi Hibiscus (r = −0.421 untuk
perubahan SBP; P = 0.010). Teh Hibiscus menurunkan tekanan darah
pada pra- dan hipertensi ringan. Pada 31 pasien dengan hipertensi
esensial moderat diberi Hibiscus vs. kontrol selama 12 hari,
menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik 11,2% dan tekanan
darah diastolik 10,7% . Studi RCT dilakukan pada 65 orang usia 30-70

14
tahun dengan SBP 120-150 mm Hg dan DBP < 95 mmHg. Subjek tidak
makan obat antihipertensi atau obat lain yang mempengaruhi tensi.
Studi RCT untuk melihat efektivitas terapi, tolerabilitas, dan keamanan,
juga efek terhadap elektrolit dan efek penghambat ACE dari ekstrak
kering calyx H. sabdariffa (HsHMP) dibanding lisinopril pada pasien
hipertensi (HT) (Kemenkes, 2016).
Pasien berusia, 25-61 tahun, dengan hipertensi stadium I atau II,
diterapi setiap hari selama 4 minggu dengan HsHMP (250 mg
anthocyanins/dosis), atau 10 mg lisinopril. Analisis pada 171 subjek
(100 kelompok HsHMP), menunjukkan bahwa HsHMP menurunkan
tensi dari 146,48/97,77 menjadi 129,89/85,96 mmHg, penurunan
absolut 17,14/11,97 mmHg (11,58/12,21 %, p < 0,05). Efektivitas terapi
65,12 % dengan tolerabilitas dan keamanan 100 % (Kemenkes, 2016).
Penurunan tensi dan efektivitas terapi lebih rendah dari lisinopril (p
< 0,05). Dengan HsHMP terjadi peningkatan kadar chlorine serum dari
91,71 menjadi 95,13 mmol/L (p = 0,0001), kadar sodium menunjukkan
tendensi penurunan (139,09 menjadi 137.35, p = 0,07), kadar potassium
tidak berubah. Aktivitas ACE plasma dihambat HsHMP dari 44,049
menjadi 30,1 Units (Us; p = 0.0001). kesimpulan, HsHMP
memperlihatkan efekivitas antihipertensi, juga menurunkan aktivitas
ACE plasma secara bermakna, serta memperlihatkan tendensi
penurunan kadar Na serum tanpa mempengaruhi kadar potassium (K).
Studi RCT dilakukan pada pasien berusia 30-80 tahun dengan diagnosis
hipertensi tanpa terapi minimal 1 bulan, untuk membandingkan
efektivitas antihipertensi dan tolerabilitas ekstrak terstandar H.
sabdariffa dalam bentuk infusa 10 g calyx kering/hari (dalam air 0,51
setara 9,6 mg anthocyanins), sebelum makan pagi, dan captopril 2 x 25
mg/hari, selama 4 minggu. Analisis 39 kelompok H. sabdariffa dan 36
captopril menunjukkan bahwa H. sabdariffa menurunkan tekanan
sistolik dari 139,05 menjadi 123,73mm Hg (p < 0,03) dan tekanan
darah diastolik dari 90,81 menjadi 79,52mm Hg (p < 0,06). Tidak ada

15
perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p > 0,25). Rate efektivitas
terapi pada H. sabdariffa 0,7895 dan pada captopril 0,8438 (Chi2, p >
0,560),dan tolerabilitas 100% pada keduanya. Efek natriuretik diamati
pada ekstrak H. Sabdariffa. Ekstrak terstandar mengandung 9,6 mg
anthocyanin, dan captopril 50 mg/hari, tidak menunjukkan perbedaan
bermakna efek hipotensif, efektivitas antihipertensi, dan tolerabilitas
(Kemenkes, 2016).
g. Indikasi
Hipertensi ringan dan sedang (Grade B)
h. Kontraindikasi
Bunga rosella kontraindikasi terhadap anak anak.
i. Interaksi Obat
Menurunkan kadar fluorokuinolon sehingga tidak berefek.
Asetaminofen ditambah dengan pemberian rosela dapat mengubah
waktu paruh obat asetaminofen pada sukarelawan. Rosela memiliki
aktivitas estrogen meskipun belum ada perubahan klinis yang jelas.
Interaksi dapat terjadi dengan senyawa estrogen lain (Kemenkes, 2016).
Tes histologi: Rosela mempunyai efek antikanker pada studi
laboratorium dan hewan coba dan secara teoritis dapat berinteraksi
dengan senyawa antineoplastik (Kemenkes, 2016).
Tes fungsi ginjal: pada pria sehat, mengkonsumsi Rosela yang
dapat menyebabkan penurunan konsentrasi kreatinin, asam urat, sitrat,
tartrat, kalsium, natrium, kalium, dan fosfat pada urin, tetapi bukan
oksalat (Kemenkes, 2016).
j. Efek Samping
Walaupun rosela sering digunakan sebagai teh, data keamanan
yang dilaporkan masih terbatas. Rosela seharusnya dihindari oleh
pasien yang mempunyai alergi atau hipersensitif terhadap rosela atau
kandungannya. Pemberian pada dosis tinggi harus hati-hati (Kemenkes,
2016).
k. Toksisitas

16
Dosis 50 dan 100 mg/kg BB meningkatkan enzim AST, ALT serta
ALP. Ketigaya merupakan indikator kerusakan hepatosit jika terjadi
perubahan aktivitas enzim tersebut akan mengakibatkan kerusakan
jaringan dan gangguan fungsi seluler (Kemenkes, 2016).
l. Posologi
3 x 1 tea bag (3 g serbuk)/hari, seduh dalam 1 cangkir air 1 x 1
kapsul (500 mg ekstrak)/hari (Kemenkes, 2016).
4. Bawang Putih (Allium Sativum)
a. Deskripsi
Bawang putih (Allium sativum L.) adalah herba semusim
berumpun yang mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Tanaman ini
banyak ditanam di ladang-ladang di daerah pegunungan yang cukup
mendapat sinar matahari (Syamsiah dan Tajudin, 2003). Adapun
morfologi dari tanaman bawang putih (Allium sativum L.) ialah
sebagai berikut :
a. Daun
Berupa helai-helai seperti pita yang memanjang ke atas. Jumlah
daun yang dimiliki oleh tiap tanamannya dapat mencapai 10 buah.
Bentuk daun pipih rata, tidak berlubang, runcing di ujung atasnya
dan agak melipat ke dalam (arah panjang/membulur).
b. Batang
Batangnya merupakan batang semu, panjang (bisa 30 cm) tersusun
pelepah daun yang tipis, namun kuat.
c. Akar
Terletak di batang pokok atau di bagian dasar umbi ataupun
pangkal umbi yang berbentuk cakram. Sistem perakarannya akar
serabut, pendek, menghujam ke tanah, mudah goyang dengan air
dan angin berlebihan.
d. Siung dan Umbi
Di dekat pusat pokok bagian bawah, tepatnya diantara daun muda
dekat pusat batang pokok, terdapat tunas, dan dari tunas inilah

17
umbi-umbi kecil yang disebut siung muncul. Hampir semua daun
muda yang berada di dekat pusat batang pokok memiliki umbi.
Hanya sebagian yang tidak memiliki umbi (Syamsiah dan Tajudin,
2003).

Gambar 4. Bawang Putih


b. Taksonomi
Klasifikasi bawang putih, yaitu :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Liliales
Suku : Liliaceae
Marga : Allium
Jenis : Allium sativum
c. Kandungan Kimia
Enzim (allinase, peroxidase, myrosinase), Volatile oils 0,1-0,36%.
Juga ditemukan: protein (glutamyl peptides), amino acids (arginine,
glutamic acid, asparagic acid, methionine, threonine), minerals,
vitamins, lipids, prostaglandins) (Barnes et al, 2013).
d. Mekanisme Kerja
Aktivitas antikolesterolemia dan antihiperlipidemia diduga karena
kandungan diallil disulfida dan trisulfida yang menghambat
hepatichydroxy- methylglutaryl-CoA (HMG-CoA) reductase dan

18
peningkatan ekskresi garam empedu ke dalam feses dan mobilisasi
lemak jaringan ke dalam sirkulasi (Kemenkes RI, 2016).
e. Uji pre Klinik
Pada cell line binatang dan manusia, terlihat penurunan lemak
jaringan vaskular, pembentukan fatty streak, dan ukuran plak
aterosklerotik (Kemenkes RI, 2016).
f. Uji klinik
Sebuah meta-analisis mereview 16 uji klinik random dengan
control (14 paralel dan 2 cross-over) dari 952 subjek tentang efek
Bulbus Allii sativi terhadap lipid dan lipoprotein serum. Dosis serbuk
A. sativum (bawang putih) 600–900 mg/hari, atau umbi segar 10 g
atau minyak 18 mg, atau ekstrak (dosis tidak disebut). Median lama
terapi 12 minggu.
Subjek yang mendapat A. sativum (serbuk/bukan serbuk)
menunjukkan rerata penurunan kolesterol total 12%, dan trigliserida
serum 13% (hanya serbuk). Namun kualitas uji klinik kurang baik.
Minyak bawang putih 0.25 mg/kg BB (15 g minyak setara 30 g umbi
untuk BB 61 kg) menurunkan kadar kolesterol 18% setelah
penggunaan 8 bulan (dari rerata 298 ke 244 mg/dL). Pemberian umbi
10 g setelah makan pagi selama 2 bulan menurunkan kadar kolesterol
15% (pada pasien dengan kolesterol 160-250 mg/dL). Pada 50 pasien
dengan rerata kadar kolesterol 213 mg/dL penurunan kadar kolesterol
total 16%. Pada uji klinik lain, A. sativum 7.2 g setiap hari selama 6
bulan pada 41 hiperkolesterolemia sedang (kolesterol darah 220-290
mg/dL) dibanding plasebo menunjukkan penurunan kolesterol total
6.1%, dan kadar LDL 4%.
Kajian sistematik terhadap potensi menurunkan lipid terhadap 8
studi dari 500 subyek yang mendapat serbuk A. sativum 600-900 mg
menghasilkan penurunan serum kolesterol dan trigliserida sebesar 5-
20%, dan disimpulkan bahwa serbuk bawang putih berpotensi
menurunkan kadar lemak darah (Kemenkes RI, 2016).

19
g. Indikasi
Banyak sifat farmakologis telah didokumentasikan untuk bawang
putih dan kandungannya secara in vitro dan in vivo (hewan), yaitu
antihipertensi, penurun lipid, aktivitas anti aterogenik, antitumorigenik,
imunomodulator dan antimikroba (Barnes et al, 2013).
h. Kontraindikasi
Terjadi peningkatan risiko perdarahan dengan penggunaan
suplemen bawang putih pada pasien yang menjalani operasi, iritasi
gastrointestinal dapat terjadi secara partikular jika cengkeh dimakan
mentah oleh individu yang tidak terbiasa menelan bawang putih
(Barnes et al, 2013).
i. Interaksi Obat
Potensi untuk persiapan bawang putih untuk mengganggu obat-
obatan lain yang diberikan bersamaan, terutama yang memiliki efek
serupa (seperti antiplatelet dan antikoagulan) atau efek yang
berlawanan, harus dipertimbangkan (Barnes et al, 2013).
j. Efek Samping
Gastritis. Makan umbi segar, ekstrak atau minyak dalam keadaan
perut kosong dapat menimbulkan heartburn, nausea, vomitus dan
diare. Nafas dan keringat bau bawang putih. Orang yang belum pernah
memakai obat ini mengalami sedikit alergi (Kemenkes RI, 2016).
k. Toksisitas
Bawang putih umumnya dianggap tidak beracun. Efek merugikan yang
telah dilaporkan pada manusia termasuk sensasi terbakar di mulut dan
saluran pencernaan, mual, diare dan muntah (Barnes et al, 2013).
l. Posologi
1 x 1 kapsul lunak (500 mg ekstrak)/hari (Kemenkes RI, 2016).
5. Seledri ( Apium graveolens L )
a. Deskripsi
Terna tumbuh tegak, tinggi sekitar 50 cm dengan bau aromatik
yang khas. Batang persegi, beralur, beruas, tidak berambut, bercabang

20
banyak, berwarna hijau. Daun majemuk menyirip ganjil dengan anak
daun 3-7 helai. Anak daun bertangkai 1-2,7 cm, helaian daun tipis dan
rapuh, pangkal dan daun runcing, tepi beringgit, panjang 2-7,5 cm,
lebar 2-5 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau keputihan. Bunga
berbentuk payung 8-12 buah, kecil-kecil berwarna putih, mekar secara
bertahap. Buah kotak, berbentuk kerucut, panjang 1-1,5 mm, berwarna
hijau kekuningan (Kemenkes, 2016).

Gambar 5. Seledri

b. Taksonomi
Kingdom : Plantarum
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Umbelliferales
Famili : Umbelliferae
Genus : Apium
Species : Apium graveolens L
c. Kandungan Kimia
Flavonoid, saponin, tannin 1%, minyak atsiri 0,033%, flavor-
glukosida (apiin), apigenin, kolin, lipase, asparagin, zat pahit, vitamin
(A,B,C). Setiap 100 g herba seledri mengandung air 93 ml, protein 0,9

21
g, lemak 0,1 g, karbohidrat 4 g, serat 0,9 g, kalsium 50 mg, besi 1 mg,
fosfor 40 mg, yodium 150 mg, kalium 400 mg, magnesium 85 mg,
vitamin A 130 IU, vitamin C 15 mg, riboflavin 0,05 mg, tiamin 0,03
mg, nikotinamid 0,4 mg (Kemenkes, 2016).
Akar mengandung asparagin, manit, minyak atsiri, pentosan,
glutamin, dan tirosin. Ekstrak diklorometan akar seledri mengandung
senyawa poliasetilen falkarinol, falkarindiol, panaksidiol dan 8-O-
metilfalkarindiol. Biji mengandung apiin, minyak atsiri, apigenin,
alkaloid. Senyawa yang memberi bau aromatic adalah ftalides (3-
butilftalid & 5,6-dihidro turunan sedanenolid) (Kemenkes, 2016).
d. Mekanisme Kerja
Memberikan efek dilatasi pada pembuluh darah dan menghambat
angiotensin converting enzyme (ACE) sehingga mampu menurunkan
tekanan darah tinggi pada penderita hipertensi apabila mengkonsumsi
tanaman Daun Seledri (Apium graveolens L) Sebagai Terapi Non-
Farmakologi Pada Hipertensi secara rutin setiap hari
(Antika&Mayasari, 2016)
e. Uji Pre Klinik
Infusa daun seledri 20; 40% dosis 8 mL/ekor pada tikus putih
dengan pembanding furosemida dosis 1,4 mg/ekor, dapat
memperbanyak urin secara bermakna. Pemberian perasan daun seledri
menurunkan tekanan darah kucing sebesar 13-17 mmHg. Pada
penelitian lain ekstrak daun seledri menurunkan tekanan darah kucing
sebesar 10-30 mmHg (Kemenkes, 2016).
f. Uji klinik
Yang melibatkan 49 penderita hipertensi diberi tingtur (setara 2
g/mL ekstrak herba seledri) 3 kali sehari 30-45 tetes. Hasil,
memberikan efek terapetik pada 26,5%, efek moderat pada 44,9% dan
tidak memberikan efek pada 28,6%. Penambahan madu dan sirup pada
jus herba segar dosis 40 mL/3 x sehari menunjukkan efektivitas

22
pengobatan pada 14 dari 16 kasus hipertensi sedangkan 2 kasus tidak
efektif (Kemenkes, 2016).
g. Indikasi
Hipertensi
h. Kontraindikasi
Karena diuretik kuat maka tidak digunakan pada gangguan ginjal
akut, infeksi ginjal, dan kehamilan. Buah seledri mengandung
fuanokumarin yang berefek fototoksik dan dapat memicu terjadinya
reaksi alergi (Kemenkes, 2016).
i. Interaksi Obat
Meningkatkan efek obat antihipertensi dan diuretik. Biji seledri
dapat mengencerkan darah, sehingga tidak digunakan pada orang yang
menggunakan pengencer darah, termasuk aspirin, dan Warfarin. Pasien
yang menggunakan diuretik tidak boleh mengkonsumsi biji seledri
(Kemenkes, 2016).
j. Efek Samping
Penderita yang sensitif terhadap tanaman Apiaceae bisa
menyebabkan dermatitis alergika. Beberapa senyawa kumarin
kemungkinan mempunyai efek tranquilizer (Kemenkes, 2016).
k. Toksisitas
Potensi ketoksikan akut oral > 2500 mg/kgBB (Aini, 2017).
l. Posologi
3 x 1 tablet (2 g serbuk biji)/hari. 3 x 1 kapsul (100 mg ekstrak
herba)/hari (Kemenkes, 2016).
6. Daun Salam (Syzygium polyantha)
a. Deskripsi
Tanaman salam tumbuh pada ketinggian 5 meter sampai 1.000
meter diatas permukaan air laut. Bunga tanaman salam kebanyakan
adalah bunga banci dengan kelopak dan mahkota dengan masing-
masing terdiri atas 4-5 daun kelopak dan jumlah daun mahkota yang
sama, kadang-kadang berlekatan. Bunganya memiliki banyak benang

23
sari, kadang-kadang berkelopak berhadapan dengan daun-daun
mahkota.
Daun salam memiliki bentuk daun yang lonjong sampai elip atau
bundar telur sungsang dalam pangkal lancip, sedangkan ujungnya
tumpul dengan panjang 50 mm sampai 150 mm, lebar 35 mm sampai
65 mm dan terdapat 6 – 10 urat daun lateral. Panjang tangkai daun 5
mm sampai 12 mm (Utami, 2013).

Gambar 6. Daun Salam


b. Taksonomi
Secara ilmiah, daun salam bernama Eugenia polyantha wigh dan
memiliki nama ilmiah lain, yaitu Syzygium polyantha wight. dan
Eugenia lucidula miq. Tanaman daun salam diklasifikasikan ke dalam
kingdom Plantae, superdivisi Spermatophyta, kelas Dicotiledonae,
ordo Myrtales, famili Myrtaceae, spesies Syzygium polyanthu (Utami
2013).
c. Kandungan Kimia
Daun salam banyak mengandung flavonol, triterpen, tannin,
polifenol, dan alkaloid serta minyak atsiri terdiri dari sequesterpen,
lakton dan fenol (Andrianto, 2012).
d. Mekanisme Kerja

24
Kandungan minyak atsiri yang terdapat pada daun salam adalah
sitral dan eugenol yang berfungsi sebagai anestetik dan antiseptik.
Flavonoid dalam daun salam memiliki efek antimikroba, antiinflamasi,
merangsang pembentukkan kolagen, melindungi pembuluh darah,
antioksidan dan antikarsinogenik (Andrianto, 2012).
Senyawa golongan terpenoid, fenolik (misalnya eugenol), tanin
dan flavonoid bertanggungjawab terhadap efek antihipertensi. Eugenol
memiliki vasorelaksan sehingga memiliki kemampuan untuk
menurunkan tekanan darah. Kemampuan daun salam dalam
menurunkan tekanan darah melibatkan penghambatan reseptor beta-
adrenergik dan kolinergik melalui produksi nitrit oksid.
e. Uji Pre Klinik
Ekstrak daun salam yang dilarutkan pada pelarut air yang diujikan
pada mencit jantan secara in vivo mampu mereduksi rata-rata tekanan
darah. Kemampuan ekstrak air dan ekstrak metanol pada dosis 20-100
mg/KgBB dalam menurunkan tekanan darah. Kemampuan dalam
menurunkan tekanan darah dipengaruhi dosis (dose dependent).
Ekstrak air memiliki kemampuan yang lebih poten dibandingkan
ekstrak metanol dengan onset yang lebih cepat (Utami, 2013)
f. Toksisitas
Keamanan daun salam telah diujikan ketoksikan akutnya dengan
ekstrak kering daun mimba (Azadirachta indica) dan daun salam
(Sizygium polyantha) pada mencit, bahwa secara histopatologis tidak
menunjukkan efek toksisitas pada jantung, paru, usus, limpa, dan
ginjal (Utami 2013)
g. Posologi
Cara pemakaian daun salam sebagai penanganan antihipertensi
yaitu siapkan 1 genggam daun salam atau sekitar 10 – 15 lembar daun
salam muda yang sudah di cuci dan siapkan 300 ml atau 3 gelas air.
Rebus daun salam dalam air, tunggu beberapa saat sampai air menjadi
150 ml. Setelah dingin air rebusan dapat diminum. Air rebusan salam

25
diminum 2 kali sehari sebelum makan pada pagi dan sore hari (Utami
2013).

26
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang
prevalensinya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Hipertensi atau
yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko
paling berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardiovascular).
Pengobatan hipertensi diperlukan untuk mengontrol tekanan darah dengan
menggunakan antihipertensi.
Mengkudu, rosela, bawang putih, seledri, daun salam, dan kumis
kucing merupakan salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan
sebagai obat anti hipertensi.
B. Saran
1. Diharapkan pembaca mampu mengidentifikasi tanaman herbal yang
dapat digunakan sebagai obat antihipertensi.
2. Diharapkan pembaca lebih banyak mencari referensi mengenai
tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai obat antihipertensi
3. Diharapkan makalah ini dapat menjadi bahan pustaka untuk keperluan
yang semestinya.

27
DAFTAR PUSTAKA

Antika, I. D. and Mayasari, D. (2016) Efektivitas Mentimun ( Cucumis sativus L )


Dan Daun Seledri ( Apium graveolens L ) Sebagai Terapi Non-Farmokologi
Pada Hipertensi Effectiveness of Cucumber ( Cucumis sativus L ) And
Celery ( Apium graveolens L ) As Non-Pharmacology Therapy To
Hypertension, 5, pp. 119–123.

Adrianto, A.W.D., 2012, Uji Antibakteri Ekstrak Daun Salam (Eugenia


polyanthum Weight) dalam Pasta Gigi Terhadap Pertumbuhan
Streptococcus mutans, Skripsi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember, Jember, hal. 39.

Ajay, M., Chai, H.J., Mustafa, A.M., Gilani, A.H. and Mustafa, M.R., 2007.
Mechanisms of the anti-hypertensive effect of Hibiscus sabdariffa L.
calyces. Journal of Ethnopharmacology, 109(3), 388-393

Barnes, J., Anderson, L.A., & Phillipson, J.D. 2002. Herbal Medicines, Edisi II.
London : Pharmaceutical Press.

Lilia Nur Aini (2017) Uji Toksisitas Akut Sediaan Kombinasi Eksrtrak Daun
Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.), Herba Seledri (Apium
graveolens L.), Dan Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Pada Tikus
Betina Galur Wistar, Skripsi, p. 312673.

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Peraturan


Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 Tentang
Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

Utami P, Puspaningtyas DE. 2013. The miracle of herbs. Jakarta: AgroMedia


Pustaka

Organization WH. A global brief on Hypertension: silent killer, global


publichealth crises (World Health Day 2013). Geneva: WHO. 2013.

28
29