Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pencampuran adalah salah satu operasi farmasi yang paling umum.
Sulit untuk menemukan produk farmasi dimana pencampuran tidak dilakukan
pada tahap pengolahan. Pencampuran dapat didefinisikan sebagai proses di
mana dua atau lebih komponen dalam kondisi campuran terpisah atau kasar
diperlakukan sedemikian rupa sehingga setiap partikel dari salah satu bahan
terletak sedekat mungkin dengan partikel bahan atau komponen lain. Tujuan
pencampuran adalah memastikan bahwa ada keseragaman bentuk antara
bahan tercampur dan meningkatkan reaksi fisika atau kimia. Bentuk sediaan
semi padat digunakan ketika resep dokter memerlukan kombinasi dari dua
atau lebih salep atau krim dalam rasio tertentu atau penggabungan obat ke
dalam salep atau basis krim. Karena pencampuran langsung dari bahan-
bahan tidak selalu dapat dilaksanakan, penggabungan agen lain diperlukan
untuk memastikan partikel berukuran halus. Alat pencampur sediaan semi
padat diantaranya adalah spatula, mortar dan stamper, ointment slab, blender,
homogenizer, mixer, agitator mixers, shear mixers, ultrasonic mixers,
planatory mixer, double planetary mixers, sigma mixer, colloid mill, dan. triple-
roller mill. Proses pencampuran adalah salah satu operasi yang paling umum
digunakan dalam pembuatan sediaan farmasi. Berbagai macam bahan seperti
cairan, semi padat dan padat memerlukan pencampuran selama mereka
menjadi formulasi bentuk sediaan, karena itu, pilihan yang tepat dari
pencampuran adalah peralatan diperlukan mengingat sifat fisik dari bahan-
bahan seperti densitas, viskositas, pertimbangan ekonomi mengenai waktu
proses diperlukan untuk pencampuran dan daya serta biaya peralatan dan
pemeliharaan
Seiring dengan perkembangan di bidang obat, bentuk sediaan dalam
bidang farmasi juga semakin bervariasi. Sediaan obat tersebut antara lain
sediaan padat seperti serbuk, tablet, kapsul. Sediaan setengah padat seperti
salep, cream, pasta, suppositoria dan gel, serta bentuk sediaan cair yaitu
suspensi, larutan, dan emulsi. Dengan adanya bentuk sediaan tersebut
diharapkan dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi konsumen.

1
Salah satu contoh sediaan farmasi yang beredar di pasaran, Apotek, Instalasi
kesehatan, maupun toko obat adalah sediaan cair (liquid).
Dengan demikian pembuatan sediaan liquid dengan aneka fungsi
sudah banyak digeluti oleh sebagian besar produsen. Sediaan yang
ditawarkanpun sangat beragam mulai dari segi pemilihan zat aktif serta zat
tambahan, sensasi rasa yang beraneka ragam, hingga merk yang digunakan
pun memiliki peran yang sangat penting dari sebuah produk sediaan liquid.
Sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair, mengandung
satu atau lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium
yang homogen pada saat diaplikasikan. Sediaan cair atau sediaan liquid lebih
banyak diminati oleh kalangan anak-anak dan usia lansia, sehingga satu
keunggulan sediaan liquid dibandingkan dengan sediaan-sediaan lain adalah
dari segi rasa dan bentuk sediaan.
Sediaan cair juga mempunyai keunggulan terhadap bentuk sediaan
solid dalam hal kemudahan pemberian obat terkait sifat kemudahan mengalir
dari sediaan liquid ini. Selain itu, dosis yang diberikan relatif lebih akurat dan
pengaturan dosis lebih mudah divariasi dengan penggunaan sendok takar.
Dari penyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam
pembuatan sediaan liquid terdapat kelebihan dan kekurangan. Diharapkan
agar dapat mempertahankan kelebihannya, dan mengatasi kekurangan
tersebut dengan membuatnya lebih baik lagi, agar dapat diterapkan dalam
dunia kerja dan bisa didapatkan efek terapi yang diharapkan.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana teknik compounding untuk sediaan liquid ?
2. Apa masalah compounding untuk sediaan liquid ?
3. Bagaimana cara mengatasi masalah compounding untuk sediaan liquid ?

1.3. TUJUAN
1. Untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan dan teknik
compounding sediaan liquid.
2. Untuk mengetahui masalah apa yang terjadi pada proses compounding
sediaan liquid.
3. Mampu mengatasi masalah yang terjadi pada sediaan liquid.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI COMPOUNDING


Menurut USP 2004 Compounding merupakan proses melibatkan
pembuatan (preparation), pencampuran (mixing), pemasangan (asembling),
pembungkusan (packaging), dan pemberian label (labelling) dari obat atau
alat sesuai dengan resep dokter yang berlisensi atas inisiatif yang didasarkan
atas hubungan dokter/pasien/farmasis/compounder dalam praktek
profesional.

2.2. TEKNIK COMPOUNDING


Pencampuran merupakan salah satu pekerjaan yang sangat
umum dilakukan dalam kehidupan sehari-hari (Lachman,1989).
Pencampuran adalah proses yang menggabungkan bahan-bahan yang
berbeda untuk menghasilkan produk yang homogen. Pencampuran dalam
sediaan farmasi dapat diartikan sebagai proses penggabungan dua atau
lebih komponen sehingga setiap partikel yang terpisah dapat melekat pada
partikel dari komponen lain (Bhatt dan Agrawal, 2007).
Tujuan dilakukannya pencampuran selain menghomogenkan
bahan-bahan juga untuk memperkecil ukuran partikel, melakukan reaksi
kimia, melarutkan komponen, membuat emulsi, dan lain-lain, sehingga tidak
jarang dalam teknologi farmasi digunakan beberapa alat pencampur / mixer
dengan jenis yang berbeda untuk mengolah bahan-bahan obat. Tidak hanya
bahan-bahan obat yang akan mempengaruhi produk suatu obat, teknik
pencampuran pun dapat mempengaruhi produk obat yang dihasilkan.
Menurut Bhatt dan Agrawal (2007), beberapa contoh
pencampuran skala besar dalam bidang farmasi :
1. pencampuran bubuk/sebuk dalam pembuatan granul dan tablet
2. pencampuran kering (dry mixing) dalam proses kompresi langsung
sediaan tablet dan kapsul
3. pencampuran bubuk/serbuk dalam pembuatan sediaan kosmetik seperti
bedak

3
4. pembuatan serbuk yang larut dalam larutan untuk pengisian dalam kapsul
lunak dan sirup
5. pencampuran dua cairan yang tidak saling larut, seperti sediaan emulsi
Mekanisme pencampuran cairan secara esensial masuk dalam
empat kategori, yaitu : transpor bulk, aliran turbulen, aliran laminer, dan
difusi molekuler. Biasanya lebih dari satu dari proses – proses ini yang
dilakukan pada proses pencampuran (Lachman, 1989).
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pencampuran yaitu :
1. sifat fisik dari bahan yang akan dicampur, seperti kerapatan, viskositas,
dan kemampuan bercampur
2. segi ekonomi, menyangkut pemrosesan
3. waktu, waktu yang dibutuhkan untuk mencampur
4. alat, kemudahan mencampur, perawatan, dan pembersihannya
(Lachman, 1989).
Berdasarkan pengaturan penambahan suatu cairan atau larutan
serbuk berupa bahan pengikat dan reaksi mekanik maka proses
pencampuran terdiri dari low shear dan high shear. Shear adalah jumlah
tekanan mekanik pada rotor (Tousey, 2002).
Pada proses pencampuran solid-liquid, digunakan metode shear
mixing. Alat yang digunakan adalah shear nmixer. Mesin ini dirancang untuk
mengurangi ukuran partikel dan mencampur. Metode pencampuran ini
memiliki efisiensi yang lebih baik daripada metode pencampuran lain.
Kecepatan putaran mesin ini 3000-15000 rpm.
High shear adalah suatu metode pengadukan, dimana cairan
dengan kekentalan rendah (biasanya air) ditambahkan ke dalam campuran
serbuk yang telah mengandung pengikat yang kemudian dicampur dengan
sisa bahan dalam formulasi (Tousey, 2002). Namun, penggunaan high shear
mixing pada kondisi tertentu dapat digunakan untuk membantu serbuk yang
mempunyai karakteristik khusus/sulit tercampur terdispersi ke dalam cairan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencampuran Cair-Padat :
1. Bejana Pengaduk
Dalam industri kimia, bejana pengaduk merupakan tangki pengaduk
ataupun autoklaf. Penggunaan bejana ini disesuaikan dengan maksud
dan tujuan pencampuran. Misalnya untuk operasi kontinyu seringkali

4
dipergunakan tangki pengaduk, sedangkan untuk maksud pencampuran
bertekanan digunakan autoklaf.
Wadah pengaduk biasanya adalah berbentuk silinder terbuka atau
tertutup sedikit sesuai jenis reaksi yang akan dilangsungkan. Kebanyakan
dari wadah pengaduk dibuat dari bahan isolator ataupun semi konduktor.
Tangki pengaduk atau tanki reaksi biasanya didesain untuk melakukan
reaksi-reaksi pada tekanan diatas tekanan atmosfer, namun seringkali juga
digunakan untuk proses lain seperti pencampuran, pelarutan, penguapan,
ekstraksi ataupun kristalisasi.untuk pertukaran panas, tangki biasanya
dilengkapi dengan mantel ganda yang dilas atau disambung dengan flens,
atau dilengkapi dengan kumparan berbentuk pipa yang di las.
Untuk mencegah kerugian panas yang tidak dikehendaki, tangki
dapat diisolasi. Perlu diingat bahwa tangki pengaduk didesain sesuai dengan
keperluan, misalnya untuk reaksi dalam beberapa sistem operasi (terisolasi,
terbuka ataupun tertutup), proses kerja dan keperluan pengerjaan. Oleh
karena itu kadangkala tangki dilengkapi dengan berbagai lubang khusus.
Lubang-lubang khusus ini misalnya : sumbu pengaduk/penyekat, pipa
penyuling, alat ukur pengendali, saluran pemasukan dsb. (Lachman, 1989)

2.3. BENTUK SEDIAAN LIQUID


Bentuk sediaan liquid merupakan sediaan dengan wujud cair,
mengandung satu atau lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil
dalam medium, yang homogen pada saat diaplikasikan. Bentuk sediaan
liquid dalam konsistensi cairnya, memiliki keunggulan terhadap bentuk
sediaan solid dalam hal kemudahan pemberian obat terkait sifat kemudahan
mengalir dari sediaan liquid ini. Selain itu, dosis yang diberikan relative lebih
akurat dan pengaturan dosis lebih mudah divariasi dengan penggunaan
sendok takar. Namun, bentuk sediaan ini tidak sesuai untuk zat aktif yang
tidak stabil terhadap air. Dengan kemasan botol dan penggunaan sendok
takar untuk sediaan oral, maka tingkat kepraktisan bentuk sediaan ini relative
lebih rendah jika dibanding bentuk sediaan solid.
Untuk pemakaian topical, keunggulan bentuk sediaan liquid, jika
dibanding bentuk sediaan solid maupun semisolid, terletak pada daya sebar
dan bioadhesivitasnya, selama viskositasnya optimum. Namun terkait daya

5
lekat dan ketahanan pada permukaan kulit, bentuk sediaan liquid relative
lebih rendah jika dibanding bentuk sediaan semisolid. Hal ini terutama
berhubungan dengan tingkat viskositas dari kedua bentuk sediaan tersebut.
Ragam bentuk sediaan liquid yang akan didiskusikan dalam makalah ini
adalah larutan, emulsi dan suspensi.
1. LARUTAN
Larutan merupakan sediaan liquid yang mengandung satu atau
lebih zat aktif (solute) yang terlarut dalam medium/pelarut/solvent yang
sesuai. Medium/pelarut/solvent yang universal adalah air. Namun
demikian, ada berbagai jenis solvent lain yang digunakan, antara lain
minyak dan etanol. Kriteria yang berlaku untuk suatu sediaan larutan
adalah bahwa sediaan tersebut harus:
a. Aman dalam penggunaannya (tidak toksik, tidak iritatif, tidak
alergenik)
b. Homogen
c. Zat aktif harus terlarut sempurna dan stabil dalam medium
Dengan persyaratan yang mendasar dari larutan bahwa semua
komponen solute harus terlarut, maka kelarutan (solubility) suatu
bahan dalam medium memegang peranan penting. Yang dimaksud
dengan kelarutan (solubility) adalah ratio sejumlah solute yang larut
dalam pelarut yang sesuai.
d. Tidak boleh ada partikel yang mengapung, melayang, atau
mengendap pada sistem larutan
e. Viskositas dan daya sebar memungkinkan untuk penuangan maupun
aplikasi dengan mudah.
Dalam larutan oral, dikenal istilah sirup dan elixir. Istilah sirup
terkait dengan penggunaan gula dengan kadar 60-80%, sedangkan elixir
terkait dengan keberadaan etanol (dengan proporsi bervariasi) yang
berfungsi sebagai cosolvent.
Cosolvent merupakan bahan yang dapat membentu kelarutan
suatu solute dalam medium utamanya. Contoh cosolvent selain etanol
yang sering digunakan adalah propylene glycol, isopropyl alcohol.
Penggunaan cosolvent selain mempertimbangkan kadar dan kapasitas
cosolvensinya, juga harus mempertimbangkan faktor keamanan pada

6
pemakaian (tidak toksik), halal/tidaknya solvent tersebut saat digunakan
per oral (telan).
Sehubungan dengan pemakaian larutan oral, penggunaan sendok
takar memegang peranan penting, untuk memastikan kebenaran dosis
sediaan yang dikonsumsi oleh pasien. Sangat tidak dianjurkan untuk
menggunakan sendok makan atau sendok teh rumah tangga, mengingat
volume yang belum tentu sesuai dengan volume yang tertara sebagai
sendok makan (15 mL) atau sendok teh (5 mL) pada standar peresepan.
Di dalam Farmakope Indonesia edisi IV (1995) untuk merujuk takaran
sendok sudah digunakan istilah sendok besar (15 mL) dan sendok kecil (5
mL). Larutan tidak hanya digunakan untuk keperluan per oral saja, namun
juga parenteral dan topical. Larutan parenteral memerlukan tambahan
criteria khusus yaitu sterilitas dan bebas pyrogen.
(http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.id)

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain


sediaan larutan, antara lain:
1. Tujuan terapi dan jalur pemberian. Dalam tujuan terapi ini perlu
dipastikan:
a. Apakah dibutuhkan sediaan yang mampu memberikan onset
cepat,
b. Apakah perlu secara per oral atau parenteral.
c. Zat aktif apa yang sekiranya memberikan efikasi dan keamanan
dalam terapi tersebut.
2. Zat aktif dan pemilihan medium
a. Kelarutan zat aktif terpilih dalam medium yang sesuai.
b. Stabilitas zat aktif dalam medium
c. Kadar zat aktif yang akan diformulasikan
d. Kebutuhan peran viscocity enhancer atau cosolvent
e. Kebutuhan peran additives, seperti misalnya: gula/pemanis,
flavoring agent, coloring agent, preservative,antioksidant
3. Desain kemasan baik primer (yang bersentuhan dengan produk)
ataupun sekunder (yang mengemas kemasan primer).

7
Jenis Larutan
 Berdasarkan pemakaian:
1. Larutan oral
Adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat dengan/
tanpa aroma, pemanis, pewarna yang larut dalam air atau campuran
kosolven air yang pemakaiannya melalui oral. Contohnya : sirup, sirup
simpleks, eliksir.
a. Potiones (Obat Minum)
Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu
atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis,
atau pewarna yang larut dalam air atau berbentuk emulsi atau
suspensi.
b. Elixir
- Sediaan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan
(pemanis, pengawet, pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa
yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air-etanol.
- Etanol berfungsi untuk mempertinggi kelarutan obat. Elixir dapat
pula ditambahkan glycerol, sorbitol, atau propilenglikol.
c. Sirup
- Sirup simplex, mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0,25
%b/v
- Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau
tanpa zat tambahan, digunakan untuk pengobatan.
- Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat
pewangi atau penyedap lain. Penambahan sirup ini bertujuan
untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak.
d. Netralisasi
Obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam
dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat
netral. Mis; solutio citratis magnesii.
e. Saturatio
- Obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dan basa
tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan
jenuh dengan gas.

8
- Pembuatan:
Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia.
Mis NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol.
Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia.
2/3 bagian asam masuk basa, gas dibuang seluruhnya. Sisa asam
dituang hati-hati lewat tepi botol, segera tutup dengan sampagne
knop sehingga gas yang terjadi tertahan.
f. Potio Effervescent
Saturatio yang CO2 nya lewat jenuh.
- Pembuatan :
i. Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio
ii. Langkah 3 : seluruh bagian asam dimasukkan ke dalam
basa dengan hati-hati, segera tutup dengan sampagne
knop.Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan,
menjaga stabilitas obat, dan kadang-kadang dimasudkan
untuk menyegarkan rasa minuman.
iii. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan
potio effervescent adalah :
iv. Diberikan dalam botol yang kuat, berisi kira-kira 9/10
bagian dan tertutup kedap dengan gabus atau karet yang
rapat. Kemudian diikat dengan sampagne knop.
v. Tidak boleh mengandung bahan obat yang sukar larut,
karena tidak boleh dikocok. Pengocokan menyebabkan
botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar.
- Penambahan Bahan-bahan
Zat-zat yang dilarutkan dalam bagian asam
 Zat netral dalam jumlah kecil. (jumlah besar dilarutkan dalam
asam sebagian dilarutkan dalam basa, berdasarkan
perbandingan jumlah airnya).
 Zat-zat mudah menguap.
 Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid
 Sirup
Zat-zat yang dilarutkan dalam bagian basa

9
 Garam dari asam yang sukar larut. Mis Natrii benzoas, Natrii
salisilas.
 Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam
kalium dan amonium harus ditambahkan ke dalm bagian
basanya, bila tidak akan terbentulk endapan kalium atau
amonium dari asam tartrat.
g. Guttae (drop)
- Obat tetes : sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspensi,
apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam.
- Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang
dihasilkan penetes baku yang disebutkan dalam Farmakope
Indonesia.
- Pediatric drop : obat tetes yang diguanakan untuk anak-anak
atau bayi.
2. Larutan topical
Adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali
mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol yang pemakaiannya
untuk bagian luar tubuh. Contohnya : Collyrium Guttae, Ophthalmicae,
Gargarisma, Guttae Oris, Guttae Nasalis, Inhalation, Injectiones ,
Lavement, Douche.(Syamsuni, 2006)
a. Collyrium
- Sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas zarah asing, isotonis
digunakan untuk membersihkan mata, dapat ditambahkan zat
dapar dan zat pengawet.
- Catatan :
- Pada etiket harus tertera : Masa penggunaan setelah tutup dibuka
dan ”obat cuci mata”.
- Collyrium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh
digunakan lama 2 jam setelah botol dibuka tutupnya. Yang
mengandung pengawet dapat digunakan paling lama 7 hari
setelah botol dibuka tutupnya.

10
b. Guttae ophthalmicae
Obat tetes mata : larutan steril bebas partikel asing merupakan
sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai
digunakan pada mata.
Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi, partikel halus
dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau
goresan pada kornea.
c. Gargarisma (Gargle)
Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa
larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan
dahulu sebelum digunakan.
Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau
pengobatan infeksi tenggorokan.
Penandaan : Petunjuk pengencern sebelum digunakan dan
”hanya untuk kumur, tidak ditelan”
d. Litus Oris
Oles bibir adalah sediaan cair agak kental dan pemakaiannya
secara disapukan dalam mulut.
Cth: Lar 10 % borax dalam gliserin
e. Guttae Nasales
Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan
cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung,
Dapat mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet.
Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai
cairan pembawa.
f. Inhalationes
Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut atau
disemprotkan dalam bentuk kabut ke dalam saluran pernafasan.
Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga
dapat mencapai bronkhioli.
Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas.
Penandaan : Pada etiket ditulis ”Kocok dahulu”

11
g. Epithema/Obat Kompres
Cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat
yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat
perbedaan tekanan osmose, digunakan untuk mengeringkan luka
bernanah.
Cth : Sol Rivanol, campuran Borwater-revanol

 Berdasarkan sistem pelarut dan zat terlarut :


1. Spirit
Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalcohol dari zat
yang mudah menguap, dari bahan-bahan yang berbau harum.
2. Tinctur
Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidroalkohol dibuat
dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.(M.Anief, 2007)
Dalam Farmakope Edisi III Kelarutan suatu zat yang tidak diketahui
secara pasti dapat dinyatakan dengan istilah sebagai berikut:
Jumlah bagian pelarut yang
Istilah kelarutan diperlukan untuk melarutkan 1 bagian
zat
Sangat mudah larut <1
Mudah larut 1- 10
Larut 10-30
Agak sukar larut 30-100
Sukar larut 100-1000
Sangat sukar larut 1000-10000
Praktis tidak larut >10000

2. EMULSI
Menurut FI III : 9 Emulsi adalah sediaan yang mengandung
bahan obat cair atau cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Menurut
th
RPS 18 : 298 Emulsi adalah suatu sistem terdispersi yang terdiri dari
paling sedikit 2 fase cairan yang tidak saling bercampur. Sebagian besar

12
dari emulsi konvensional dalam farmasi memiliki ukuran partikel
terdispersi dalam diameter dari 0,1 sampai 100 mm. Menurut Lachman :
1029 Emulsi adalah suatu campuran yang tidak stabil secara
termodinamika yang terdiri dari 2 cairan yang tidak saling bercampur.
Menurut Parrot : 354 Emulsi adalah suatu sistem polifase dari 2
campuran yang tidak saling bercampur. Salah satunya tersuspensi
dengan bantuan emulgator keseluruh partikel lainnya. Ukuran diameter
partikelnya 0.2 – 50 m. Menurut Physical Pharmacy : 522 Emulsi adalah
sistem yang tidak stabil secara termodinamika mengandung paling
sedikit dua fase cair yang tidak bercampur satu diantaranya terdispersi
sebagai globul-globul (fase pendispersi) dalam fase cair lainnya (fase
kontinyu) distabilkan dengan adanya bahan pengemulsi/emulgator.
Emulgator adalah suatu bahan yang dalam strukturnya memiliki
bagian yang lyofilik maupun lyofobik, yang mampu mengakomodasi
droplet-droplet cairan yang tidak saling campur, untuk dapat terdispersi
dengan stabil. Contoh dari emulgator adalah: Pulvis Gummi Arabicum
(PGA), Tween, dan Span.
HLB (hydrophyl-lipophyl balance) merupakan suatu tingkat
keseimbangan bagian hidrofil dan bagian lipofil dari suatu emulgator
dalam membentuk emulsi yang stabil. Untuk mendesain suatu emulsi,
seorang formulator perlu memahami HLB dari emulgator atau campuran
emulgator yang akan digunakan, untuk menstabilkan emulsi sesuai tipe
emulsi yang dikehendaki. Lebih daripada itu, beberapa fase minyak juga
mengindikasikan kebutuhan HLB (required HLB) yang harus dipunyai
oleh emulgator untuk menstabilkan emulsi pada dua jenis tipe emulsi.
Kriteria emulsi yang baik adalah:
a. Aman
b. Efektif dan efisien sesuai dengan tujuan terapi
c. Merupakan disperse homogen antara minyak dengan air
d. Stabil baik secara fisik maupun khemis dalam penyimpanan
e. Memiliki viskositas yang optimal, sehingga mampu menjaga stabilitas
dalam penyimpanan, serta dapat dituangkan dengan mudah
f. Dikemas dalam kemasan yang mendukung penggunaan dan stabilitas
obat.

13
Dalam emulsi dikenal istilah fase dispers dan medium pendispersi. Ada
dua jenis tipe emulsi secara umum, yaitu:
1. Tipe air/minyak (A/M).
Tipe A/M berarti air (fase terdispersi) terdispersi dalam minyak
(medium).
2. Tipe minyak/air (M/A).
Tipe M/A berarti minyak (fase terdispersi) terdispersi dalam air
(medium).
Secara khusus dikenal pula tipe air/minyak/air dan tipe
minyak/air/minyak.
Untuk membedakan tipe emulsi tersebut dapat dilakukan dengan
cara:
1. Pemberian pewarna yang larut pada salah satu fase, kemudian
dilakukan pengamatan secara mikroskopis terhadap kondisi
emulsi yang telah terwarnai salah satu fasenya.
Contoh: semisal digunakan methylen blue yang larut air, apabila
diamati melalui mikroskop, yang terwarnai adalah dropletnya,
maka emulsi tersebut bertipe A/M, begitu juga sebaliknya. Jika
digunakan Sudan III yang larut minyak, apabila diamati melalui
mikroskop, yang terwarnai adalah dropletnya, maka emulsi
tersebut bertipe M/A, begitu juga sebaliknya
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2
jenis pewarna tersebut.
2. Pengenceran dengan menggunakan cairan salah satu fase. Jika
cairan untuk mengencerkan tersebut bercampur dengan emulsi,
maka dapat dipastikan bahwa cairan tersebut berperan sebagai
medium pendispersi.
Catatan: untuk pemastian hasil, emulsi perlu ditest dengan 2
jenis cairan tersebut.
Sistem emulsi merupakan sistem dispersi yang diupayakan untuk
memanipulasi dalam waktu tertentu, dua cairan yang secara alami
tidak saling menyatu, sehingga suatu saat fase-fase dalam sistem
tersebut dapat memisah sesuai dengan kealamiannya (by nature).
(M.Anief, 2000)

14
3. SUSPENSI
Suspensi merupakan sediaan yang merupakan sistem dispersi
dari partikel zat aktif solid yang memiliki kelarutan yang rendah pada
medium. Yang diharapkan dari suatu sediaan suspensi adalah bahwa
sistem terdistribusi homogen saat digunakan.
Untuk itu yang menjadi criteria dalam sediaan suspensi adalah:
a. Aman
b. Efektif dan efisien
c. Partikel solid stabil secara kimia dalam medium
d. Partikel solid terdistribusi merata, tidak boleh cepat mengendap,
kalaupun mengendap dapat diredispersikan kembali dengan
penggojogan ringan
e. Tidak membentuk cake (endapan massif yang kompak pada dasar
botol yang tidak dapat diredispersikan kembali)
f. Partikel solid tidak mengapung (floating).
Suspensi didesain dalam dunia kefarmasian untuk
mengakomodasi penghantaran zat aktif solid yang perlu dihantarkan
dengan sediaan liquid, yang memiliki kelarutan yang rendah terhadap
medium. Dalam suspensi dikenal dua sistem yaitu:
1. Sistem flokulasi
Dalam sistem ini, saat tidak dilakukan intervensi mekanik apa pun,
partikel-partikel solid saling bergabung perlahan membentuk flok
dengan ikatan yang lemah. Dengan terbentuknya flok ini, maka flok
akan cepat mengendap dan supernatant/medium akan tampak relatif
jernih. Namun dengan adanya kerenggangan dalam struktur flok ini,
apabila sistem digojog, maka partikel akan mudah terdispersi
kembali.
2. Sistem deflokulasi.
Dalam sistem ini, partikel-partikel solid tidak membentuk flok, dan
sebagai akibat gravitasi, mengendap perlahan pada dasar.
Berhubung partikel tersebut mengendap perlahan, maka terjadi suatu
penataan partikel di dasar botol yang cenderung membuat endapan
menjadi kompak dan keras (terbentuk cake) yang relative sulit untuk

15
didispersikan kembali dengan penggojogan ringan. Kedua sistem
tersebut bukan merupakan suatu pilihan. Formulator perlu
mengakomodasi kebaikan dari dua sistem tersebut untuk sediaan
suspensi yang berkualitas (lama mengendap, sekalipun mengendap
dapat diredispersikan kembali dengan mudah, sehingga dalam
pemakaian/penggunaan obat dapat memberikan sejumlah partikel
yang terdistribusi homogen dalam medium) dalam penyimpanan
waktu yang dikehendaki..
Komposisi dari sediaan suspensi adalah:
1. Zat aktif dengan kelarutan yang rendah pada medium
2. Medium suspensi yang diharapkan (dapat berupa air atau minyak)
3. Wetting agent à surface active agent
Solid yang memiliki kelarutan yang rendah dalam medium
cenderung memiliki tegangan permukaan yang tinggi. Keperluan
menyertakan wetting agent disini adalah agar tegangan
permukaan solid dapat diturunkan, sehingga solid dapat terbasahi
dengan baik, dapat berada dalam medium, tidak terjadi
pengapungan partikel (floating).
4. Viscocity enhancer
Viscocity enhancer dibutuhkan untuk membentuk struktur
pembawa (structured vehicle) yang mampu menahan laju
pengendapan partikel. Semakin kental sistem, maka laju
pengendapan partikel akan semakin rendah (salah satu intepretasi
dari Hukum Stokes)
3. Agen pemflokulasi
Agen pemflokulasi dibutuhkan untuk menstimulasi partikel-partikel
membentuk flok, sehingga resiko terbentuknya cake dapat
dihindari. Namun, perlu diperhatikan penambahan agen
pemflokulasi ini, diarahkan untuk flokulasi yang terkendali
(controlled flocculation)
4. Additives
Sebagai additives disini dapat digunakan: gula (yang juga dapat
berfungsi sebagai viscocity enhancer) atau pemanis, pewarna,

16
antioksidant, pengawet (yang kesemuanya harus larut pada
medium).
Suspensi juga dapat digunakan secara oral, topical, maupun
parenteral. Namun hal yang perlu diperhatikan terutama dengan
penggunaan parenteral adalah kadar solid, ukuran partikel solid
(micro or nano sized) dan bentuk partikel solid (spheris), selain
sterilitas dan kondisi pyrogen-free. Demikian juga dengan
penggunaan topical yang ditujukan pada mata (ophthalmic
suspension), perlu juga melihat ukuran dan bentuk partikel, sealing
sterilitas. Dalam ophthalmic suspension, kondisi pyrogen free tidak
dipersyaratkan, mengingat pemberian dilakukan secara topical.
(Syamsuni, 2006)

2.4. TEKNIK COMPOUNDING SEDIAAN LIQUID


Formula Umum
R/ zat aktif
Pengental
Anti caplocking agent
Dapar
Pengawet
Antioksidan
Pemanis
Pewarna
Pewangi
Pembasah (jika perlu)
Solubilizer (jika perlu)
Komposisi umum sediaan larutan terdiri dari : bahan obat (solut) dan bahan
pelarut (solvent) serta bahan pembantu.
1. Bahan Obat
Prinsip cara melarutkan zat:
- Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol
- Zat-zat yanga agak sukar larut dilarutkan dengan pemanasan.
Masukan zat padat yang akan dilarutkan dalam erlenmeyer, setelah
itu dimasukan zat pelarutnya, dipanasi diatas tangas airdengan

17
digoyangkan sampai larut. Zat aktif yang hendak dilarutkan
dimasukan dalam erlenmeyer dahulu, mencegah jangan sampai ada
yang lengket pada leher erlenmeyer.
- Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukan dahulu
dalam erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih
lambat larutnya
- Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes besar
dalam erlenmeyer atau botol maka perlu dalam melarutkan digoyang-
goyangkan untuk mempercepat larutnya zat tersebut.
- Zat-zat yang mudah terurai dalam pemanasan dan dilarutkan secara
dingin. Zat tersebut contohnya: Hexaminum, Natrii bicarbonat, Cholarii
Hydras, Protagol, Luminal Natrium, Calsii Salisilat.
- Zat-zat yang mudah menguap bila dipanasi, dilarukan dalam botol
tertutup dan dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyangkan.
Zat tersebut ialah: Camphora, Thymol, Acidum Benzoicum, Acidum
Salicylicum.
Bahan obat dari sediaan liquid harus terlarut. Jika bahan obat sukar
untuk larut maka perlu penanganan khusus seperti :

Cara menaikkan kelarutan:


1. Penggantian bentuk yang tepat (like dissolves like)
2. Dilarutkan dalam pelarut campuran
3. Dibuat bentuk kompleks yang larut
4. Pengaturan pH
5. Penambahan solubilizing agent

Cara mempercepat kelarutan:


1. Memperkecil ukuran partikel
2. Pengadukan
3. Pemanasan

Cara menaikkan kelarutan:


a. Penggantian bentuk yang tepat (like dissolves like)
- solut polar larut dalam pelarut polar

18
- solut non polar larut dalam pelarut non polar
Contoh:
- garam alkaloid larut dalam pelarut polar
(Ephedrin HCl) (air)
- alkaloid base larut dalam pelarut non polar
(Ephedrin base) (minyak)
b. Dilarutkan dalam pelarut campuran
Phenobarbital, paracetamol, dll sukar larut dalam air  kelarutan
akan naik bila dilarutkan dalam pelarut campuran.
Contoh: Elixir Phenobarbital  pelarut: air, alkohol, gliserin
R/ Phenobarbital 0,3
Alkohol qs
Glycerin qs
Aquadest ad 100 ml
m.f. Solutio

c. Dibuat bentuk kompleks yang larut


Iodium sukar larut dalam air tetapi larut dalam larutan pekat KI atau
NaI  membentuk garam rangkap yang mudah larut.
Contoh: pembuatan Solutio Lugoli
R/ Iodide 50

19
Potasium Iodide 100
Aquadest ad 1000 ml
m.f. Solutio
d. Pengaturan pH
- asam larut dalam suasana basa
- basa larut dalam suasana asam
e. Penambahan solubilizing agent
Penambahan zat tertentu yang dapat menaikkan kelarutan, misal:
Tween
Cara mempercepat kelarutan:
a. Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel  semakin cepat larut
Mengapa??
 ukuran partikel kecil  luas permukaan besar  kontak dengan
pelarut semakin besar  yang teramati: semakin cepat larut.
b. Pengadukan

Pengadukan mempercepat Pelarut jenuh diganti Solut semakin


penggantian pelarut di  dengan pelarut  cepat larut
permukaan solut belum jenuh

c. Suhu
- Eksotermik : suhu  kelarutan  H(–)
- Endotermik : suhu  kelarutan  H(+)

2. Bahan Pelarut
Menurut FI ed III: kecuali dinyatakan lain, yang disebut pelarut ialah air
suling. Pelarut yang biasa digunakan adalah:
 Air, untuk melarutkan bermacam-macam garam.
 Spiritus, untuk melarutkan kamfer, iodine, mentol.
 Gliserin, untuk melarutkan tannin, zat samak, boraks, fenol.
 Eter, untuk melarutkan kamfer, fosfor, sublimat.
 Minyak, untuk melarutkan kamfer, mentol.
 Paraffin liquidum, untuk melarutkan cera, cetasium, minyak-
minyak, kamfer, mentol, klorbutanol.
 Kloroform, untuk melarutkan minyak-minyak, lemak.

20
 Syarat bahan pelarut antara lain :
a. Bersih dan higienis.
b. Memiliki daya melarutkan solut yang besar.
c. Inert.
d. Bebas dari warna dan bau yang tidak dikehendaki.
3. Bahan pembantu
a. Anti caplocking
Untuk mencegah kristalisasi gula di cap botol maka umumnya
digunakan alkohol polyhydric seperti sorbitol, gliserol, atau
propilenglikol.
b. Pewangi
Flavour digunakan untuk menutupi rasa tidak enak dan membuat
agar obat dapat diterima oleh pasien terutama anak-anak. Dalam
pemilihan pewangi perlu dipertimbangkan, untuk siapa obat diberikan
dan berapa usia pengkonsumsinya. Anak-anak lebih menyukai rasa
manis atau buah-buahan sedangkan orang dewasa lebih menyukai
rasa asam. Flavour seperti asam sitrat garam dan momosodium
glutamat kadang-kadang juga digunakan. Flavouring agent dapat
tidak stabil secara kimiawi karena oksidasi, reduksi, hidrolisis, dan
adanya pengaruh pH
c. Zat pewarna
Zat pewarna ditambahkan untuk menutupi penampilan yang tidak
menarik atau meningkatkan penerimaan pasien. Zat warna yang
ditambahkan harus sesuai dengan flavour sediaan tersebut. Zat
warna harus nontoksik, noniritan dan dapat tersatukan dengan zat
aktif serta zat tambahan lainnya.
Dalam pemilihan zat warna harus dipertimbangkan juga masalah:
1. Kelarutan
2. Stabilitas
3. Ketercampuran
4. Konsentrasi zat warna dalam sediaan
d. Pengawet
Pengawet yang digunakan harus nontoksik, tidak berbau, stabil dan
dapat bercampur dengan komponen formula lain yang digunakan

21
selama pengawet ini bekerja dalam melawan mikroba potensial
spectrum luas. Alasan penggunaan bahan pengawet kombinasi untuk
meningkatkan kemampuan spectrum anti mikroba, efek yang sinergis
memungkinkan penggunaan pengawet dalam jumlah kecil sehingga
kadar toksisitasnya menurun pula dan mengurangi kemungkinana
terjadinya resistensi.
Kriteria untuk pengawet:
1. Harus efektif melawan mikroorganisme spectrum luas
2. Harus stabil secara fisik, kimia, dan secara mikrobiologi selama
life-time produk
3. Harus nontoksik, cukup larut, dapat tercampurkan dengan
komponen formula lain, pada konsentrasi yang digunakan
mempunya rasa dan bau yang dapat diterima pengguna.
e. Pemanis
Pemanis yang digunakan dalam sediaan diantaranya: glukosa,
sukrosa, sorbitol, manitol, xytol, garam Na dan Ca dari sakarin,
aspartam, thaumatin.
f. Antioksidan
Antioksidan yang ideal bersifat: nontoksik, noniritan, efektif pada
konsentrasi rendah, larut dalam fase pembawa dan stabil.
Contoh antioksidan adalah: asam askorbat, asam sitrat, Na
metabisulfit, Na sulfite
g. Dapar
Zat yang range pH stabilitasnya kecil, maka harus di dapar
dengan dapar yang sesuai dengan memperhatikan :
1. ketercampuran dengan kandungan larutan
2. inert
3. tidak toksik
4. kapasitas dapar yang bersangkutan.
Larutan yang mengandung asam kuat atau basa kuat adalah larutan
yang mempunyai kapasitas dapar. Kebanyakan dapar terdiri dari
campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan
garamnya. Buffer/ dapar adalah suatu material yang ketika dilarutkan
dalam suatu pelarut, senyawa ini mampu mempertahankan pH ketika

22
suatu asam atau basa ditambahakn. Buffer yang sering digunakan
adalah: karbonat, sitrat, glukonat, laktat, posfat atau tartrat.
Kriteria untuk buffer adalah:
a. mempunyai kapasitas yang cukup dalam rentang pH yang
diinginkan.
b. aman untuk penggunaan jangka panjang.
c. memiliki sedikit/ tidak ada efek yang mengganggu stabilitas
sediaan jadi.
d. dapat menerima flavouring dan warna dari produk.
(solutio.blogspot.com)

2. Teknik compounding sediaan liquid secara umum


a. Dengan cara sederhana
Misal: - Sirup simplex  melarutkan gula dalam air
- Solutio Acidi Borici  melarutkan Acidum boricum dalam
air.
b. Dengan reaksi kimia
Misal: - Solutio Lugoli  melarutkan Iod dalam larutan pekat kalium
iodida
- Solutio Magnesii citras  melarutkan Magnesium carbonat
dalam larutan asam citrat.
c. Dengan ekstraksi simplisia nabati
Misal :
- infusa daun sirih ( Piper betle folium).
- Cara Melarutkan Zat (M.Anief, IMO, 99)
1) Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol
2) Zat-zat yang agak sukar dilarutkan dengan pemanasan
3) Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu
dalam erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang
lebih lambat.
4) Untuk zat yang meleleh dalam air panas dan merupakan tetes
besar dalam dasar erlenmeyer atau botol maka perlu dalam
melarutkkan digoyang-goyangkan atau di gojok untuk
mempercepat larutnya zat tersebut.

23
5) Zat-zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh
dilarutkan dengan pemanasan dan dilarutkan secara dingin.
6) Zat-zat mudah menguap bila dipaanasi, dilarutkan dalam botol
tertutup dan dipanaskan serendah-rendahnya sambil digoyang-
goyangkan.
7) Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri, untuk meyakini
apakah sudah larut semua, dapat dilakukan ditabung reaksi lalu
bilas.
8) Perlu diperhatikan bahwa pemanasan hanya diperlukan untuk
mempercepat larutnya suatu zat, tidak untuk menambah
kelarutan, sebab bila keadaan menjadi dingin maka akan terjadi
endapan.
- Apabila meracik sediaan larutan, emulsi dan suspensi, peracik
menyiapkan 2% sampai 3% jumlah berlebih dari jumlah total.
Dalam meracik sediaan ini diperhatikan:
1) Untuk wadah unit-tunggal, berat dari tiap wadah yang terisi,
periksa berat, tidak kurang dari 100% dan tidak lebih dari
110% dari volume pada label.
2) Suspensi air disiapkan dengan menghaluskan campuran
serbuk menjadi pasta halus dengan bahan pembasah yang
tepat. Pasta ini diubah menjadi cairan free-flowing dengan
menambahkan pembawa secukupnya. Bagian pembawa
dipakai untuk mencuci mortir, atau bejana lain, untuk
mentransfer suspensi secara kuantitatif ke dalam botol yang
sudah dikalibrasi. Sediaan dapat dihomogenkan untuk
menjamin kehomogenan sediaan akhir.
3) Kurangi ukuran partikel menjadi ukuran terkecil yang layak
4) Larutan tidak mengandung bahan-bahan tidak larut yang
tampak.
5) Emulsi dan suspensi diberi label “Kocok sebelum dipakai”
3. Compounding process
Compounder mengingat langkah-langkah berikut untuk
meminimalkan kesalahan dan memaksimalkan tujuan penulis resep :

24
a. Pertimbangkan kecocokan resep yang akan diracik dengan
syarat-syarat keamanan dan tujuan pemakaian.
b. Kerjakan perhitungan yang penting untuk mendapatkan jumlah
bahan-bahan yang diperlukan.
c. Identifikasi alat-alat yang diperlukan
d. Pakai pakaian yang tepat dan cuci tangan
e. Bersihkan daerah peracikan dan alat yang diperlukan
f. Hanya satu resep yang harus diracik pada satu waktu dalam
suatu peracikan yang ditentukan.
g. Kumpulkan semua bahan-bahan untuk meracik resep
h. Racik sediaan dengan mengikuti catatan formulasi (formulation
record), Proses meracik (lanjutan)
i. Nilai variasi berat, kecukupan pencampuran, kejernihan, bau,
warna, konsistensi, dan pH setempatnya.
j. Bubuhi keterangan catatan racikan dan jelaskan rupa sediaan
k. Beri label wadah resep dengan memasukkan item berikut: a)
nama sedaan, b) nomor identifikasi internal, c) initial
compounder, d) penyimpanan yang diperlukan, dan pernyataan
yang diperlukan berdasarkan undang-undang.
l. Tandatangani dan beri tanggal resep yang menegaskan bahwa
semua prosedur telah dikerjakan untuk menjamin keseragaman,
identitas, kekuatan, kuantitas, dan kemurnian.
m. Bersihkan semua peralatan dan simpan dengan tepat.

2.5. PROBLEM COMPOUNDING PADA SEDIAAN LIQUID


A. Pengatasan kontaminasi mikroba
Dalam rangka mengoptimalkan metode untuk mengendalikan
kontaminasi mikroba obat-obatan, perlu untuk memahami sumber-
sumber dan rute dari mana kontaminasi mungkin berasal.
Kontaminasi mikroba dari bahan baku selalu akan ditransfer ke
produk, sedangkan kontaminasi lebih lanjut mungkin diperoleh dari
peralatan dan lingkungan, dari operator proses dan bahan kemasan.
Contoh sediaan liquid yang berpotensi besar terkontaminasi
mikroba adalah sediaan sirup. Sirup adalah sediaan yang komposisi

25
terbesar pada umumnya adalah air sebagai pelarut. Karena
komposisi terbesar dari sediaan ini adalah air maka, sirup rentan
sekali terkontaminasi oleh mikroba sebab air adalah media yang
sesuai untuk pertumbuhan mikroba.
Untuk mengantisipasi tumbuhnya mikroba pada sediaan
selalu di lengkapi dengan zat pengawet atau zat anti bakteri. Selain
itu tetap menjaga stabilitas dari sediaan salah satunya dengan cara
memperkecil ukuran partikel sehingga zat mudah terlarut. Zat aktif
stabil pada pH tertentu. Oleh karena itu diperlukan dapar untuk
mempertahankan pH sediaan. Untuk kontaminasi mikroba pada alat
ataupun kemasan biasanya digunakan uji sterilitas.
(bloomefield,2007)
B. Pengatasan problem oksidasi
Selain kontaminasi mikroba problem yang sering terjadi pada
compounding sediaan adalah terjadinya oksidasi atau interaksi
sediaan dengan oksigen bebas di udara. Untuk mencegah terjadinya
oksidasi antara produk dengan oksigen bebas tersebut maka
biasanya pada waktu pengemasan dibuat sedemikian rupa, sehingga
terdapat sedikit mungkin oksigen pada wadah obat cairan. Cara lain
untuk menghindari terjadinya oksdasi adalah dengan penambahan
bahan anti oksidan pada produk obat yang dapat mengurangi
oksigen bebas.
C. Pengatasan problema pembuatan suspensi dan emulsi
a. Pengatasan problema pembuatan suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan
suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta
menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan
salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.
1. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi
adalah:
 Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang
partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan
suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan

26
perbandingan terbalik dengan luas penampangnya.
Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan
keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar
ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.
 Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan
aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan
kecepatan alirannya makin turun (kecil).
 Jumlah Partikel / Konsentrasi
Apabila di dalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah
besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan
gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara
partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan
terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu
makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan
terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
 Sifat / Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari
beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak
terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi
interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan
yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan
tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat
mempengaruhi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan
menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill
dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat
dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat
larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini
sering disebut sebagai suspending agent (bahan
pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam
air (hidrokoloid).
b. Pengatasan problema pembuatan emulsi
Emulsi merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya
terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil. Untuk

27
menyatukan sistem dua fase tersebut distabilkan dengan
penambahan emulgator. Emulsi dikatakan tidak stabil bila
mengalami hal-hal seperti dibawah ini :
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan,
dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak
daripada lapisan yang lain. Creaming bersifat reversibel
artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali.
2. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi
karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan
koalesen (menyatu). Sifatnya irreversibel (tidak bisa
diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena:
a. Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan PH,
penambahan CaO / CaCL2
b. Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan,
pendinginan dan pengadukan.
Untuk dapat mencegah terjadinya koalesensi dapat
ditambahkan emulgator atau surfaktan yang cocok. Surfaktan
menstabilkan emulsi dengan cara menempati antar-
permukaan tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat
batas fisik di sekeliling partikel yang akan berkoalesensi.
3. Inversi fase yaitu peristiwa berubahnya tipe emulsi W/O
menjadi O/W atau sebaliknya dan sifatnya
irreversible.(Syamsuni,2006)

28
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Suspensi Oral


Resep Standar (ForNas hal. 66)
Komposisi tiap 5 mL mengandung Chloramphenicoli Palmitas setara dengan :
Chloramphenicolum 125 mg
Carboxy Methyl Cellulosum Natrium 50 mg
Polysorbatum-80 25 mg
Propylenglycolum 1g
Sirup simplex 1,5 g
Aqua destilata ad 5 mL

Resep rancangan
Dr. Rosina
SIP : 11/04/091/10
SID : 012/04/094/10
Jl. Arjuna no.80 A Batu
Praktek Sore : 15.00 – 20.00
No.24 Malang, 10-12-
2012
R/ Susp. Klomramfenikol 120 mL
Pewarna qs
Pengaroma qs
S t dd 1 C
S
Pro : Shendy
Usia :
Alamat : Jl. Progo18. Malang

29
Monografi
a. Chloramphenicolum Palmitas / Chloramphenicolum Palmitat (FI IV hal. 195)
Pemerian : Serbuk hablur, halus seperti lemak, putih, bau lemah, hampir
tidak berwarna dan berasa
Kelarutan : Tidak larut dalam air, mudah larut dalam asetat & dalam
kloroform, larut dalam eter, agak sukar larut dalam etanol, sangat sukar larut
dalam heksana
Khasiat : Antibiotik
Dosis lazim : 1x pakai = 250-500 mg, 1xH = 1 g- 2 g
b. Carboxy Methyl Cellulosum Natrium (FI IV hal.175)
Pemerian : Serbuk atau granul, putih sampai krem, higroskopik
Kelarutan : mudah terdispersi dalam air membentuk larutan kolodial, tidak
larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain
Khasiat : Suspending Agent, penstabil suspensi (konsentrasi 0,1-1,0 %)
c. Polysorbatum-80 (FI III hal.509)
Pemerian : Cairan jernih seperti minyak, jernih, berwarna kuning muda
hingga coklat muda, bau khas lemah, rasa pahit dan hangat
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larutan tidak berbau dan praktis
tidak berwarna, larut dalam etanol, dalam etil asetat tidak larut dalam minyak
mineral.
Khasiat : Zat tambahan (pembasah)
d. Propylenglycolum (FI III hal.534)
Pemerian : Cairan kental, jernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, menyerap air pada udara lembab
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan
kloroform, larut dalam eter, dan dalam beberapa minyak esensial
e. Syrup symplex (FI III hal.567)
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna
Pembuatan : Larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil paraben 0,25
% b/v qs ad diperoleh 100 bagian sirup (terdiri dari 64 bagian gula dan 36
bagain air (pH ned, 516)
f. Aqua destilata (FI III gal. 96)
Pemerian : cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Khasiat : zat pembawa

30
Perhitungan Bahan
1. Chloramphenicolum = 125 mg/5mL x 120 mL = 3 g
1,74 g chloramphenicolum palmitat ~ 1 g chloramphenicolum
1,74 g / 1g = x / 3 g
x = 5,22 g
2. CMC-Na = 50 mg / 5 ml x 120 mL = 1200 mg = 1,2 g
Air yang dibutuhkan untuk pumbuatan CMC-Na =
1,2 g / x = 1 g / 20 mL
x = 24 mL
3. Polysorbatum-80 = 25 mg / 5 ml x 120 mL = 600 mg
4. Propylenglykolum = 1 g / 5 ml x 120 mL = 24.000 mg = 24 g = 24,84 mL
( Bj = 1,035)
5. Syrup symplex = 1,5 g / 5 ml x 120 mL = 36.000 mg = 36 g = 36 mL

Cara Pembuatan
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Disetarakan timbanagn
3. Dikalibrasi botol 120 mL
4. Ditimbang CMC-Na 1,2 g, disisihkan
5. Dimasukan aquadest 24 mL kedalam mortir
6. Ditaburkan CMC-Na sedikit demi sedikit kedalam mortir yang berisi aquadest
tadi, ditunggu hingga mengembang dan membentuk mucilago
7. Ditimbang kloramfenikol 5,22 g, disisihkan
8. Diukur syrup symplex 36 mL dimasukan kedalam gelas ukur berukuran 100
mL
9. Ditimbang polysorbatum-80 600 g, diukur propylenglycol 24,84 mL,
dimasukan kedalam cawan penguap
10. Dimasukan kloramfenikol sedikit demi sedikit ke dalam mortir no. 6, digerus
kuat ad homogen
11. Ditaburkan polysorbatum sedikit demi sedikit ke dalam mortir no.6, sambil
digerus kuat ad homogen
12. Ditambahkan syrup symplex 36 mL ke dalam mortir no.6 sambil gerus ad
halus homogen

31
13. Ditambahkan sisa aquadest edikit demi sedikit ad tanda kalibrasi, ditetesi
pewarna orange secukupnya dan ditambah pengaroma secukupnya sesuai
kenginan, digerus ad homogen
14. Dimasukan ke dalam botol, di tutup, diberi etiket putih (oral)

Pembahasan
Hasil sediaan suspensi baik

3.2. EMULSI
Resep standart (Fornas hal 13)
R/ Oleum Ricini 30
PGA 10
Sach. Alb 15
Aqua ad 250

Resep rancangan
R/ Oleum Ricini 30
PGA 10
Sach. Alb 15
Pengaroma jeruk 10 gtt
Pewarna kuning qs
Aqua ad 250
S.1.dd.1.c.o.n

Monografi :
a. Oleum Ricini / Minyak Jarak (FI IV. Halaman 631)
Pemerian : cairan kental, transparan, kuning pucat atau hampir tidak
berwarna, bau lemah, bebas dari bau asing dan tengik; rasa khas.
Kelarutan : larut dalam etanol; dapat bercampur dengan etanol mutlak,
dengan asam asetat glasial, dengan kloroform dan dengan air.
Khasiat : laksativum / pencahar.
b. Gom Arab / Acasia (FI IV. Halaman 718)
Pemerian : serbuk, putih atau putih kekuningan; tidak berbau.

32
Kelarutan : larut hampir semua dalam air, tetapi sangat lambat, meninggalkan
sisa bagian tanaman dalam jumlah sangat sedikit, dan memberikan cairan
seperti mucilage, tidak berwarna / kekuningan, kental, lengket, transparan,
bersifat asam lemah terhadap kertas lakmus biru, praktis tidak larut dalam
eter dan etanol. Terdiri dari 40% PGA yang dilarutkan dalam 1,5 bagian air.
c. Sacharum Album (FI III. Halaman 334)
Pemerian : hablur tidak berwarna, serta warna putih, tidak berbau rasa
manis.
Kelarutan : larut dalam 0,5 bagian air dan dalam 370 bagian etanol 95% P.

Perhitungan Bahan
a. Oleum Ricini = 30 / 250 x 30 = 3,6 gram
b. PGA = 10 / 250 x 30 = 1,2 gram
Air untuk PGA = 1,2 x 1,5 = 1,8 mL
c. Sach. Alb = 15 / 250 x 30 = 1,8 gram
d. Pengaroma jeruk = 10 / 250 x 30 = 1,2 tetes = 2 tetes

Cara pembuatan
1. Disiapkan alat dan bahan, dikalibrasi botol 30 mL.
2. Gerus 1,2 g PGA dalam mortir dengan air 1,8 mL air sampai terbentuk
mucilago, tambahkan 2,4 g ol.ricini, digerus homogen sampai terbentuk
korpus emulsi dan tidak ada tetes minyak di mortir.
3. Ditambahkan sisa ol.ricini sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai dimortir
tidak terlihat tetes minyak.
4. Ditimbang sach alb 1,8 g diletakkan di cawan, ditambahkan aquades 1 mL air
diaduk ad homogen, dimasukkan ke mortir no.3.
5. Ditambahkan air sedikit demi sedikit ad encer, diaduk ad homogen.
6. Ditambahkan pewarna secukupnya, diaduk ad homogen.
7. Dimasukkan ke dalam botol, ditambahkan sisa aquades ad 30 mL +
pengaroma jeruk 2 tetes, dikocok ad homogen.
8. Botol diberi cup, diberi etiket putih dan tanda “kocok dahulu”.

33
Pembahasan :
Pada saat pembuatan emulsi ol.ricini dilakukan langkah – langkah sesuai dengan
langkah - langkah yang ada di cara pembuatan di atas. Hasilnya sediaan yang
dibuat tercampur secara homogen dan sesuai dengan yang diinginkan. Warna
dan aroma sediaan yang dibuat juga sudah sesuai. Maka cara pembuatan yang
dirancang seperti di atas bisa digunakan untuk membuat emulsi ol.ricini yang
baik.

3.3. INFUS
Formula standar
R/ Glukosa 25 g
NaCl 2,25 g
A.P.I. ad 500 mL

Rancangan formula
Dr. Fiant SIP. 005/IDI/2010
Jl. Syehk Yusuf No 15 Kendari
Telp. (0401) 31934
No. 01 Kendari,
22/09/2012
R/ Glukosa 25 g
NaCl 2,25 g
A.P.I. ad 500 mL
Fac 100 mL
Pro : Arka
Umur : 20 Tahun
Alamat : Jl. Asrama Haji
Keterangan :
R/ : Recipe : Ambillah
Pro : Pronum : Untuk
Fac : Fac : Dibuat
A.P.I. : Aqua Pro Injeksi : Air Untuk Injeksi

34
Glukosa (FI Edisi III hal. 268)
Nama resmi : GLUCOSUM
Sinonim : Glukosa
Rumus Molekul : C6H12O6H2O
Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran putih, tidak
berbau, rasa manis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih,
agak sukar larut dalam etanol (95 %) P mendidih, sukar larut dalam etanol (95 %)
P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
K/P : Kalorigenikum, yakni zat yang dapat meningkatkan atau
menghasilkan energi.

NaCl (FI Edisi III Hal. 403)


Nama Resmi : NATRII CHLORIDUM
Sinonim : Natrium Klorida
Rumus Molekul: NaCl
Pemerian : Hablur heksahedral, tidak berwarna atau serbuk hablur putih,
tidak berbau, rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan
lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol (95 %).
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
K/P : Sumber ion klorida dan ion natrium

A.P.I (FI Edisi III Hal. 97)


Nama Resmi : AQUA PRO INJECTION
Sinonim : Air untuk injeksi
Pemerian : Keasaman–kebasaan, amonium, besi, tembaga, timbal,
kalsium klorida, nitrat, sulfat, zat teroksidasi memenuhi syarat yang tertera pada
aqua destilata.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup kedap, jika disimpan dalam wadah
tertutup kapas berlemak harus digunakan dalam waktu 3 hari setelah
pembuatan.
K/P : Untuk pembuatan injeksi

35
Perhitungan Bahan
1. Glukosa = 25 / 500 x 100 = 5 gram
2. NaCl = 2,25 / 500 x 100 = 0.45 gram
Dalam Farmakope Indonesia Edisi III halaman 19, volume tambahan yang
dianjurkan adalah 2% dari volume yang akan dibuat, maka :
Glukosa = 2 / 100 x 5 = 0,1 gram
Total = 5 + 0,1 = 5,1 gram
NaCl = 2 / 100 x 0,45 = 0,009 gram
Total = 0,45 + 0,009 = 0,459 gram
3. A.P.I = 100 – ( 5,1 + 0,459 ) = 94,441 mL.

Cara Kerja Pembuatan Infus


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Lakukan perhitungan bahannya.
3. Timbang glukosa 5,1 gram di dalam gelas kimia 100 mL.
4. Diambil NaCl 0,9 % sebanyak 0,459 ml dengan menggunakan spoit 3 cc.
5. Diambil A.P.I 96,33 mL dengan menggunakan gelas ukur.
6. Kalibrasi botol infus.
7. Botol infus dibebas sulfurkan dengan cara botol infus direndam dengan
larutan sulfur dengan glukosa.
8. Glukosa yang telah ditimbang dilarutkan dengan sedikit A.P.I, kemudian
diaduk hingga larut.
9. Masukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan tambahakn dengan larutan NaCl
0,9 % sebanyak 0,459 mL, lalu tambahkan dengan A.P.I sampai tanda batas.
10. Masukkan ke dalam botol infus kemudian ditutup dengan penutup karet dan
aluminium foil, lalu diikat dengan tali godam
11. Sterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit
12. Setelah steril, dikeluarkan lalu diberi etiket, brosur dan kemasan.

PEMBAHASAN
Pembuatan sediaan yang akan digunakan untuk infus harus dilakukan dengan
hati-hati untuk menghindari kontaminasi atau adanya bahan asing. Cara
pembuatan obat yang baik (CPOB) mempersyaratkan tiap wadah akhir infus
harus diamati secara fisik dan tiap wadah yang menunjukan pencemaran bahan

36
asing yang terlihat secara visual harus ditolak. Selain itu syarat sediaan steril
infus adalah harus bebas pirogen. Dimana bebas pirogen dapat diartikan bahwa
sediaan yang bebas dari cemaran mikroorganisme yang dapat menyebabkan
terjadinya panas atau demam. Sebelum wadah digunakan, wadah haruslah
dibebas sulfurkan terlebih dahulu dengan merendam penutup wadah infus yang
terbuat dari karet dalam larutan belerang (sulfur praecipitatum) dan natrium
carbonat (Na2CO3).
Air yang digunakan untuk infus biasanya Aqua Pro Injeksi ini dibuat
dengan menyuling kembali air suling segar dengan alat gelas netral atau wadah
logam yang cocok untuk labu. Hasil sulingan pertama di buang dengan sulingan
selanjutnya ditampung dan segera digunakan. Bila segera digunakan untuk
disterilan dengan cara sterilisasi A (sterilisasi basah atau disebut dengan
sterilisasi panas lembab karena sterilisasi ini dilakukan di dalam autoklaf dengan
menggunakan uap air bertekanan) atau C (penyaringan bakteri kecil) setelah
ditampung.
Pertama-tama dilakukan yakni mensterilkan semua alat-alat yang
dilakukan di dalam autoklaf pada suhu 1210 C selama 15 menit, selanjutnya
dilakukan penimbangan bahan. Pertama ditimbang glukosa sebanyak 5,1 gram
di dalam gelas kimia 100 mL dan dilarutkan dengan Aqua Pro Injeksi
secukupnnya hingga larut lalu aduk hingga dengan batang pengaduk. Setelah
larut tambahkan larutan NaCl 0,9 % sebanyak 0,495 mL dengan menggunakan
spoit 3 cc, aduk hingga homogen setelah itu masukkan ke dalam labu ukur 100
mL. Kemudian cukupkan volumenya dengan Aqua Pro Injeksi hingga 100 mL,
goyangkan labu ukur agar bahan tercampur homogen.
Setelah larutan tersebut di buat, siapkan wadahnya. Botol infus dikalibrasi
dengan menggunakan Aqua Destillata hingga 100 mL, keluarkan isinya lalu
masukkan larutan yang telah dibuat tadi. Tutup botol dengan penutup karet dan
dilapisi dengann aluminium foil dan ikat dengan talli godam sekuat mungkin.
Tujuannya agar pada saat disterilkan dalam autolaf volume infus tidak berkurang,
kemudian diadakan uji kelayakan dan kejernihan larutan infus yang telah dibuat
dengan cara melihat jernih atau keruhnya larutan infus yang telah dibuat. Setelah
itu uji adanya bahan-bahan asing yang berwarna putih dengan menggunakan
sebuah alat yang berlatar hitam sehingga dengan alat tersebut kita dapat melihat

37
jika ada bahan-bahan asing yang berwarna putih yang melayang-layang dalam
larutan tersebut.
Selanjutnya uji bahan-bahan asing berwarna hitam dengan
menggunakan alat-alat berlatar putih, dengan alat ini jika masih ada bahan-
bahan asing berwarna hitam akan dapat terlihat dengan jelas. Kemudian
dilakukan uji kebocoran jika larutan infus yang dibuat bocor maka volume infus
tersebut berkurang ataupun bertambah, hal ini dapat dilihat dengan adanya
tanda kalibrasi 100 mL yang telah dibuat dengan menggunakan etiket. Larutan
infus dapat berkurang akibat adanya kebocoran sehingga air akan keluar dari
wadah infus dan bertambahnya larutan infus tersebut bisa disebabkan masuknya
uap air pada saat dilakukan sterilisasi, setelah itu beri etiket, brosur dan
kemasan.

3.4. INJEKSI
Injeksi Cyanocobalamin

Petunjuk pembuatan
1. Gunakan item 5 yang telah mendidih, pakai item 6 dengan dialirkan, dan
lakukan hal ini sepanjang proses pembuatan.
2. Ambil 0,9 L item 5 dan campurkan item 1 hingga 4 didalamnya, lakukan
hingga terbentuk disolusi.
3. Check ph 4.0-5.5.
4. Filter sampai 0.45 µm prefiltter dan 0.22 µm, untuk melakukan sterilisasi.
5. Isi 10.0 mL pada vial yang telah di sterilisasi (2000C selama 4 jam). Jangan di
sterilisasi autoklaf.

38
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan yang dapat kami tarik dari makalah ini
yaitu :
1. Teknik compounding secara umum dapat dilakukan dengan cara : sederhana,
reaksi kimia, dan ekstraksi simplisia nabati.
2. Yang menjadi problem dalam compounding sediaan liquid diantaranya :
pengatasan kontaminasi mikroba, pengatasan oksidasi sediaan, serta
pengatasan problem pembuatan emulsi dan suspensi.

4.2 Saran
Untuk meminimalkan kesalahan sebaiknya dalam compounding,
compounder perlu kiranya memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi
proses mulai dari pembacaan resep sampai pada pemberian etiket sediaan yang
nantinya diserahkan kepada pasien.

39
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta, 298

Anonim. 2007. Mixing Technologies in the Pharmaceutical and Medicinal


Industries. A White Paper. Charles Ross and Son Company.

Dirjen Binfar. Pedoman Pencampuran Obat Suntik dan Penanganan Sediaan


Sitostatiska. Depertamen Kesehatan RI. 2009

Bhatt, Bhawna and Agrawal, S.S . 2007. Pharmaceutical Engineering – Mixing.


Delhi Institute of Pharmaceutical Science and Research Sector – 3. Pushp
Vihar. New Delhi

Gennaro, Alfonso R., (2000), Remington: The Science and Practice of


Pharmacy20th edition, Philadelphia College of Pharmacy and Science:
Philadelphia

Jenkins, Glenn L., (1957), Scoville’s the Art of Compounding Nineth edition, The
McGraw-Hill Book Company, Inc: USA

Lachman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jakarta : UI
Press.
Lachman, L, Lieberman, H.A, Kanig, J.L. 1989. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Martin, W., (1971), Dispending of Medication 7th edition, Marck Publishing


Company: USA

Moh. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.

Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.


Tousey. 2002. The Granulation Process 101 – Basic Technologies for Tablet
Making. Pharmaceutical Technology page 8-1.

Parrot, Eugene L., (1968), Pharmaceutical Technology, Burgess Publishing


Company: Iowa

40