Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fungi (jamur) termasuk dalam phylum Thallophyta. Sebagaian besar hidup
sebagai saprophyts dan sebgian kecil sebagai parasit pada tumbuhan, hewan, dan
manusia. Fungi mempunyai dinding sel dan inti yang jelas. Dapat berupa sel
tunggal, misalnya ragi atau terdiri atas banyak sel. Yang terdiri atas banyak sel,
bentuknya memanjang berupa filament yang di sebut hyphe. Hyphe ini ada yang
bersektum ada yang tidak. Bila hyphe ini tumbuh dan bercabang-cabang,
terbentuklah tumbuhan yang di sebut myselium. Myselium yang menonjol dari
permukaan subtrat di sebut myselium haerial, myselium yang menembus ke
dalam subrat yang mengabsobsi zat makanan di sebut myselium vegetative.
Jamur yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia antara lain adalah
dermatofita (dermatophyte), bahasa yunani yang berarti tumbuhan kulit) dan
jamur serta ragi candida albican, yang menyebabkan terjadinya infeksi pada jamur
superficial pada kulit, rambut, kuku, dan selaput lendir. Jamur lainnya dapat
menembus jaringan hidup dan menyebabkan infeksi di bagaian dalam.
Mikosis sistemik di yakini paling berbahaya dari semua infeksi jamur. Hal
ini terutama karena mereka menyerang organ internal dengan langsung masuk
melalui paru-paru, saluran pencernaan atau influs. Ini dapat disebabkan oleh dua
kelompok jamur, jamur patogen primer atau jamur oportunistik. Contoh penyakit
jamur milik kelompok pertama meliputi blastomycosis,
histoplasmosis,paracoccidiodomycosis,dan coccidiomycosis. Jamur oportunistik
umumnya mempengaruhi orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah atau
dengan beberapa cacat metabolisme yang serius, penyakit yang termasuk dalam
kategori ini adalah kriptokosis, kandidiasis, asperigillosis. (Iindah
entjang,2001:153)
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan jamur ?
2. Jenis-jenis jamur mikosis sistemik ?
3. Bagaimana cara mendiaknosa penyakit yang di sebabkan oleh jamur ?
4. Bagaimana cara mengobati bagian tuhuh yang terserang jamur ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian jamur.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis jamur mikosis sistemik
3. Untuk menetahui cara mendiaknosa penyakit jamur.
4. Untuk mengetahui cara mengobati bagian tubuh yang terserang jamur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Jamur


Jamur dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang
agak berkaitan. Arti pertama adalah semua anggota kerajaan fungi dan beberapa
organisme yang pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan "jamur belah"
(Bacteria). Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan
menjadi sinonim bagi kapang. Arti terakhir adalahtubuh buah yang lunak atau
tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang biasanya
muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya.
Jamur dianggap sebagai tanaman yang sangat bervariasi baik dalam
bentuk, sifat dan siklus hidupnya. Namun sekarang para ahli botani mencoba
mendefinisikan jamur tersebut berdasarkan ciri-ciri umum yang
dimilikinya. Jamur adalah organisme eukariotik (mempunyai inti sejati) tidak
mempunyai klorofil, mempunyai spora, struktur somatik atau talus berupa sel
tunggal (uniseluler) dan umumnya berupa filamen atau benang-benang bercabang
(multisesuler), berkembang biak secara seksual dan aseksual, dinding sel
umumnya terdiri dari kitin dan selulosa atau keduanya.
Selain itu jamur juga dapat diartikan organisme yang tidak mempunyai
klorofil sehingga ia tidak mempunyai kemampuan untuk memproduksi makan
sendiri atau dengan kata lain jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida
sebagai sumber karbonnya. Oleh karena itu jamur memerlukan senyawa organik
baik dari bahan organik mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur
dikatakan heterotrof. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari
bahan organik mati seperti sisa-sisa hewan atau tumbuhan, dan dapat pula yang
hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup.Jamur hidup dan
memperoleh makanan dari bahan organik mati dinamakan saprofit, sedangkan
yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup dinamakan parasit.
Tubuh jamur terdiri atas dua tipe utama:
 Uniseluler
Tubuh uniseluler terdiri atas hanya satu sel, misalnya khamir (yeast).
 Multiseluler Tubuh multiseluler terdiri atas banyak sel-sel memanjang
yang disebut hifa (hyphae) yang terjalin satu sama lain membentuk talus
vegetatif yang disebut miselium (mycelium). Hifa dapat dibedakan
menjadi bersekat (septate) dan tidak bersekat
(aseptate atau coenocytic).Dalam hal hifa membentuk sekat, bagian hifa
yang dibatasi oleh sekat merupakan sel.
Beberapa kelompok jamur tertentu dapat mengalami dimorfisme, yaitu
pada kondisi tertentu berbentuk uniseluler dan pada kondisi lainnya berbentuk
multiseluler (membentuk hifa semu atau pseudohyphae). Hifa dapat bercabang
dan hifa cabang dapat saling bertemu dan kemudian menyatu melalui proses
anastomosis. Meselium dapat tersusun longgar maupun tersusun padat (disebut
plektenkima, plectenchymma), tetapi bukan merupakan jaringan sebagaimana
pada tumbuhan dan binatang.Plektenkima dapat berupa prosenkima (tersusun
agak longgar), pseudoparenkima (tersusun rapat, dinding hifa tidak menebal), dan
presudosclerenkima (tersusun rapat dan dinding hifa menebal).Meskipun telah
tersusun padat, plektenkima tidak mengalami diferensiasi fungsi sebagaimana
yang terjadi pada jaringan.
Plektenkima membentuk struktur khusus jamur berupa sklerotia
(sclerotia), pseudoslerotia (pseudosclerotia), jalinan miselial (myceliar strand) dan
rizomorf (rhizomorph), serta stromata.Sklerotia merupakan jalinan padat hifa
untuk mempertahankan diri. Bila jalinan padat hifa tersebut bercampur dengan
jaringan tumbuhan mati tempat tumbuh jamur maka disebut pseudoskleroria.
Jalinan miselial terjadi bila jamur menghadapi kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan atau menghadapi persaingan dengan koloni sesama spesies
maupun lain spesies. Pada jamur spesies tertentu, jalinan miselial tersebut tumbuh
lebih rapat dan lebih memanjang, tampak seperti akar, disebut rizomorf. Stromata
merupakan susunan hipa memadat sebagai dasar untuk membentuk organ
perkembangbiakan.
Sifat hidup jamur terbagi atas 3 bagian, yakni:
1. Saprofit yakni sebagai organisme saprofit fungi hidup dari benda-benda
atau bahan-bahan organik mati. Saprofit menghancurkan sisa-sisa bahan
tumbuhan dan hewan yang kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana.
Hasil penguraian ini kemudian dikembalikan ke tanah sehingga dapat
meningkatkan kesuburan tanah.
2. Parasit yakni fungi parasit menyerap bahan organik dari organisme yang
masih hidup yang disebut inang. Fungi semacam itu dapat bersifat parasit
obligat yaitu parasit sebenarnya dan parasit fakultatif yaitu organisme
yang mula-mula bersifat parasit , kemudian membunuh inangnya,
selanjutnya hidup pada inang yang mati tersebut sebagai saprofit.
3. Simbion yakni jamur dapat bersimbiosis dengan organisme lain.
Simbiosis dengan laga menghasilkan liken atau lumut kerak, sedangkan
simbiosis dengan akar tumbuhan konifer menghasilkan mikoriza.

2.2 Mikosis Sistematik


Mikosis sistemik merupakan mikosis yang menyerang alat-alat dalam,
seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus, dan
vagina. Sedangkan beberapa jenis mikosis sistemik antara lain sebagai berikut :
1. Nocardiosis
Nocardiosis adalah mikosis yang menyerang jaringan subcutian dimana
terjadi pembengkakan jaringan yang terkena dan terjadinya lubang – lubang yang
mengeluarkan nanah dan jamurnya berupa granula.Terdapat di tanah sebagai
saprofit.
 Penyebabnya adalah Nocardia asteroidas Jamurnya masuk kedalam
jaringan subcutan karena trauma ( luka) karena itu biasanya mengenai kaki
dan tangan. Pada tempat itu kemudian terjadi pembengkakan, infeksi yang
bernanah dan terjadinya lubang-lubang ( sinus) yang mengeluarkan nanah
yang berisi jamurnya. Bila jamurnya masuk kedalam darah, dapat
menyerang organ lain, misalnya otak dan paru- paru. Nocardiosis biasanya
berlangsung kronis.
 Bahan untuk pemeriksaan dilaboratorium berasal dari granula yang keluar
dari jaringan yang terinfeksi. Dilalkukan pemeriksaan dengan mikroskop
dan perbenihan sabouraud.(Iindah entjang,2001:159)
 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya nocardia asteroids dalam
contoh cairan tubuh atau jaringan yang di ambil dari penderita.
 Pengobatan
Pengobatan yang diberikan meliputi : pemberian antibiotik (biasanya
dengan sulfonamide) selama 6 bulan atau lebih. Terkadang diberikan lebih
dari 1 antibiotik.
 Morfologi
Jamur Nocardia berukuran diameter < 1 mikron, bersifat gram positif,
koloni nocardia bersifat aerob.

B. Candidiasis
Candidiasis adalah mikosis yang menyerang kulit atau jaringan yang lebih
dalam lagi.Banyak di temukan pada manusia sebagai saprofit.
 Penyebabnya adalah candida albicans.Jamur ini sering kali terdapat pada
mukosa mulut, oropharynx, dan tractus gastrointestinal orang sehat (flora
normal). Candidiasis dapat mengenai kulit, kuku atau organ tubuh, seperti
ginjal, jantung, dan paru- paru.Candidiasis dapat pula terjadi pada selaput
lendir mulut dan vagina. Infeksi karena candida sp. Terjadi karena adanya
faktor predisposisi, misalnya diabetes, AIDS daerah kulit yang lembab dan
obesitas.
 Candidiasis pada mukosa mulut dan vagina sering kali terjadi karena
pengobatan antibakteri yang lama, yang menyebabkan berkurangnya flora
normal didaerah tersebut.(Iindah entjang,2001:160)

 Diagnosis
Bahan pemeriksaan berasal dari swep vagina, sputum, LCS, skretmata dan
mukosa mulut. Pemeriksaan langsung dengan pulasan gram dan KOH
10% secara mikroskopik tampak spora yang berbentuk oval, pada pulasan
gram bersifat gram positif. Ditemukan Blastospora, Klamidospora,
Pseudohifa.
o Infeksi fisual pada mukosa koral untuk identifikasi adanya lesi
o Pemeriksaan hapusan pada lesi dengan mikroskop untuk mengidentifikasi
adanya candida albicans.
o Pengkajian tentang riwayat penyakit dan kesehatan dapat sangat
membantu
o Jika di duga infeksi telah menyebar ke esophagus dan lambung dapat
dilakukan pemeriksaan endoskopi.

 Pengobatan
Candidiasis di mulut dapat di obati dengan anti jamur berbentuk obat
kumur atau gel. Lama waktu pengobatan berkisaran 1-2 minggu.
Candidiasis di sekitar kelamin dapat di obati dengan anti jamur berbentuk
cream, supositoria, serta tablet.
 Morfologi
Candida dikenal sebagai jamur dimorfik karena mampu membentuk sel
lagi dan hifa semu. Sel ragi atau blastospoa/baltokonidia merupakan sel
bulat atau oval dengan atau tanpa tunas. Hifa semu terbentuk dengan cara
elongasi sel ragi yang membentuk rantai yang rapuh. (Inge
Sutanto,2009:327)

C. Actinomycosis
Atinomycosis adalah mikosis yang ditandai dengan adanya jaringan
granulomatous, bernanah disertai terjadinya abscess dan fistula.
 Penyebab Actinomyces bovis.
Jamur ini pada manusia sehat sering terdapat juga pada mukosa mulut dan
tonsil sebagai flora normal.
Actinomycosis sering menimbulkan banyak abscess yang saling
berhubungan melalui sinus – sinus dan terjadinya fistula external yang
megeluarkan cairan sanguinopurulent ( nanah campur darah) berisi granula –
granula. Ada 3 tipe atinomycosis yaitu :
o Cervicofacial ( 50% dari kasus )
Pada tipe cervicofacial, jamur masuk tubuh melalui selaput lendir mulut
atau pharynx.Dalam perkembangan penyakitnya bisa mengenai tulang
tengkorak atau terjadi fistula menembus kulit.
o Abdominal ( intestinal 20%-30% dari kasus )
Pada tipe abdominal ( intestinal ), jamur masuk ke tubuh melalui appendix
atau caecum, terjadi dimana jaringan radang pada quadrant kanan bawah
abdomen diikuti terjadinya sinus-sinus, baik internal maupun eksternal
dalam perkembangan penyakitnya sering mengenai liver, spleen, dan paru-
paru.
o Pulmonal ( 15% dari kasus )
Tipe pulmonal bisa terjadi secara primer dimana jamurnya masuk bersama
udara pernapasan atau secara sekunder berasal dari penyebaran tipe
cervicofacial.Tipe pulmonal di tandai dengan adanya batuk, banyak
sputum, hemoptysis, demam, sesak napas dan keringat malam, diikuti
terjadinya abscess dan sinus-sinus eksternal yang mengeluarkan
granulanya bersama nanah yang berwarna mirip belerang.
 Bahan pemeriksaan untuk laboratorium adalah nanah bersama granula
untuk di lihat dengan mikroskop dan pembenihan. (Iindah
entjang,2001:160-161)

 Diagnosis
Pemeriksaan pus ( nanah ) dari lesi yang berupa granula actinomycosis (
sulfur granules ).
 Pengobatan
Bakteri actinomycosis umumnya sensitif terhadap penisilin, yang sering di
gunakan untuk mengobati aktinomikosis.Dalam kasus alergi penisilin,
doksisiklin digunakan. Sulfonamid dapat digunakan sebagai alternative
dengan dosis harian total 2-4 gram. Respon terhadap terapi lambat dan
mungkin memakan waktu berbulan-bulan.
 Morfologi
Actinomyces israelii tumbuh sebagai hifa halus dengan garis tengah 0,5-1
mikron pada biakan anaerob. (Inge Sutanto,2009:327)

D. Maduromycosis (Madura foot)


Merupakan mikosis pada kaki yang ditandai dengan terjadinya massa
granulomatous yang biasanya meluas ke jaringan lunak dan tulang kaki.(Iindah
entjang,2001:161-162)
Gejalanya dimulai dengan adanya infeksi pada jaringan subkutan yang
disebabkan oleh jamur Eumycotic mycetoma atau kuman (mikroorganisme) mirip
jamur yang disebut Actinomycotic mycetoma.Tanda-tanda awal adanya benjolan
(nodul) di bawah kulit kemudian membesar, merah, meradang.lesi pada tapak
kaki bagian belakang, timbul massa granulomatous dan abses yang kemudian
terjadi sinus-sinus yang mengeluarkan nanah dan granula.(Iindah
entjang,2001:161-162)
Penyakit ini terutama ditemukan di daerah tropic yang kering dan jarang hujan.
Madura food juga ditemukan di Indonesia, asia selatan, dan di amerika di daerah
teropik dan subtropiknya.(Inge Sutanto,2009:327)
 Penyebabnya ada 2 yaitu : yang pertama antinomikotin (bacterial
mycetoma) yang di sebabkan oleh jamur golongan schizmycophyta yaitu
:actinomyces, nocardia dan Streptomyces .yang keduamaduromikotik (
fungal mycetoma atau eumycetoma ) disebabkan oleh jamur
golongan eumycophyta diantaranya adalah madurella mycetomatis,
scedosprium apiospermum (pseudollescheriaboydii), madurella grisea,
leptosphaeria sinegalensis.(Inge Sutanto,2009:327)
 Diagnosis
Ditandai dengan pembengkakan seperti tumor dan adanya sinus yang
bernanah.Jamur masuk ke dalam jaringan subkutan melalui trauma,
terbentuk abses yang dapat meluas sampai otot dan tulang.Jamur terlihat
terlihat sebagai granula padat dalam nanah. Jika tidak diobati maka lesi-
lesi akan menetap dan meluas ke dalam dan ke perifer sehingga berakibat
pada derormitas.
 Pengobatan
Obat untuk infeksi yang disebabkan oleh A. israelii ialah penisilin dosis
yang tinggi.Sulfa dan streptomisin dipakai pada infeksi Nocardia dan
Streptomyces. Pengobatan untuk misetoma maduromikotok adalah secara
bedah, yaitu dengan melakukan ekstirpasi jaringan yang ada kelainannya
atau amputasi bagian tubuh.(Inge Sutanto,2009:329)
 Morfologi
Hifa jamur membentuk gumpalan yang disebut butiran – butiran jamur
atau granula yang merupakan koloni jamur di dalam jaringan atau abses.
Butir – butir jamur dapat berwarna putih, kekuning – kuningan, tengguli
hitam atau berwarna lain. Jamur ini terdiri dari hifa yang halus ( lebarnya
kurang dari 1 mikron ) penyakitnya disebut misetoma aktinomikotik dan
jamur hifa yang kasar ( lebarnya lebih dari 1 mikron ) penyakitnya disebut
misetoma maduro mikotik.

E. Coccidioidomycosis
Merupakan mikosis yang mengenai paru-paru yang disebabkan
olehCoccidioides immitis.Jamur dimorfik yang terjadi di alam bebas. Penyakit ini
dikenal dalam dua bentuk Coccidioidoides imitis primer biasanya mengenai paru
dengan gejala menyerupai infeksi paru oleh organisme lain. Dan Coccidioidoides
imitisprogresif adalah penyakit yang bila tidak di obati, berlangsung fatal.(Inge
Sutanto,2009:376) Coccidioidoides imitis menimbulkan infeksi pada binatang
pengerat, ternak ( sapi, beri-beri) dan anjing. Menimbulkan infeksi kepada
manusia bersama udara pernafasan yang mengandung sporanya.Penyakit ini
sering mewabah dimusim panas dimana banyak debu berterbangan yang
mengandung spora jamurnya.

 Penyebab ialah Coccidioidoides imitis,jamur dimorfik yang terdapat


dialam bebas. Gejalnya mirip dengan pneumonia yang lain, berupa batuk
dengan atau tanpa sputum yang biasanya disertai dengan pleuritis.
 Bahan pemeriksaan laboratorium diambil dari sputum atau cairan pleura
untuk dilihat dengan mikroskop dan pembenihan.(Iindah
entjang,2001:162)
 Diagnosis
- Tes darah – untuk memeriksa adanya antibodi untuk melindungi terhadap
jamur
- Analisis atau budaya dahak – untuk mencari keberadaan jamur di sputum
(lendir atau dahak yang dipilih, diproduksi ketika anda batuk)
 Pengobatan
- Coccidioidoides imitis primer kebanyakan dapat sembuh sendiri.
- Coccidioidoides imitis progresif pengobatan diberikan dengan amfoterisin-
B secara intravena, pemberian itrakonazol dan derivate azol lain.
 Morfologi
C.imitis adalah jamur dimorfik. Di tanah dan didalam biakan pada suhu
kamar C.imitis membentuk koloni filamen. Hifa jamur ini membentuk
artospora dan mengalami frekmentai. Artospora ringan, mudah dibawa
angin dan terhirup kedalam paru. Pada suhu 370C,C.imitis membentuk
koloni yang terdiri atas sferul yang berisi endospora. (Inge
Sutanto,2009:377)

F. Sporotrichosis
Merupakan mikosis yang bersifat granulomatous menimbulkan terjadinya
benjolan gumma, ulcus dan abses yang biasanya mengenai juga kulit dan kelenjar
lympha superfisial.
 Penyebabnya adalah Sporotrichum schenckii. Terdapat di alam
bebas,S.schenckii sering terdapat di tanah dan tumbuhan-tumbuhan yang
sudah lapuk.(Inge Sutanto,2009:333). Gejala awalnya berupa benjolan
(nodul) di bawah kulit kemudian membesar, merah, meradang, mengalami
nekrosis kemudian terbentuk ulcus. Nodul yang sama terjadi sepanjang
jaringan lympha.(Iindah entjang,2001:163)
 Diagnosis
Dokter Anda dapat mendiagnosa sporotrichosis dengan mengambil
riwayat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan fisik.Sampel kulit,
nanah, aspirasi abses, sputum dan bahan klinik lainya dapat diambil untuk
pengujian. Sporotrichosis biasanya didiagnosis ketika dokter memperoleh
swab atau biopsi dari lokasi yang terinfeksi dan mengirimkan sampel ke
laboratorium untuk kultur jaringan.
 Pengobatan
Terapi antijamur adalah pengobatan andalan untuk semua bentuk
sporotrichosis.
 Morfologi
Biakan jamur pada suhu kamar membentuk koloni filamen putih dengan
hifa halus dan spora yang tersusun meneyrupai bunga pada ujung
konidiofora. Pada suhu 37oC biakan membentuk koloni ragi dengan
blastospora yang bulat atau lonjong .
G. Blastomycosis
Merupakan mikosis yang menyerang kulit, paru-paru, viscera, tulang dan
sistem saraf.Penyebabnya adalah Blastomyces dermatitidis danBlastomyces
brasieliensis. Blastomycosis kulit gejalanya brupa papula atau pustula yang
berkembang menjadi ulcus kronis dengan jaringan granulasi pada alasnya. Kulit
yang sering terkena adalah wajah, leher, lengan dan kaki. Bila menyerang organ
dalam, gejalanya mirip tuberculosis.(Iindah entjang,2001:159)
Penyakit ini terdapat di amerika utara, kanada dan afrika.Di Indonesia
belum di temukan.(Inge Sutanto,2009:378)
 Diagnosis
o Bahan klinis
o Kerokan kulit, dan bronkus cairan fleura dan darah , sumsum tulang urin
dan bioksi jaringan dari berbagai organ dalam.
o Miroskopik langsung A kerokan kulit harus diperiksa menggunakan KOH
10% dan tinta parker atau calcofluor white mounts.
o B eksudat dan cairan tubuh harus disentrifugasi dan sedimenya diperiksa
dengan menggunakan KOH 10% dan tinta parker atau calcofluor white
mounts.
o C potongan jaringan harus diwarnai dengan PASdigest, Grocott’s
methenamine silver ( GMS ) atau pewarnaan gram. Histopatologi sangat
berguna dan merupakan satu dari cara yang paling penting untuk
memperingatkan laboratorium bahwa mereka mungkin menangani sesuatu
yang berpotensi sebagai patogen. Potongan jaringan menujukan sel seperti
ragi yang besar, dasarnya besar, kuncupunipolar, berdiameter 8-15 mm.
perhatikan : potongan jaringan perlu diwarnai dengan cara Grocott’s
methenamine silver untuk dapat melihat sel seperti ragi dengan jelas, yang
sering kali sulit dilihat pada sediaan H&E.

 Pengobatan
Amphotericin B (0,5 Mg/kg per hari selama sepuluh minggu ) tetap
merupakan obat pilihan bagi pasien infeksi akut yang mengancam jiwa
dan mereka dengan meningitis. Pasien dengan kafitas paru dan lesi
ditempat selain paru dan kulit membutuhkan terapi yang lebih lama.
Itraconazoleoral ( 200 mg/ hari untuk paling sedikit selama tiga bulan )
adalah obat pilihan bagi pasien dengan bentuk blastomycosis yang indolen
: meskipun demikian jika pasien lambat memberikan respon, dosis harus
ditingkatkan menjadi 200 mg 2 kali sehari.
 Morfologi
B. Dermatitidis adalah jamur dimorfik dan terdapat di alam bebas. Dalam
biakan pada suhu 37oC dan di jaringan manusia. Jamur tumbuh sebagai sel
ragi, berdinding tebal dan berkembang biak dengan membentuk tunas
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Indah Entjang.Bandung 2001.Mikrobiologi dan Parasitologi untuk akademi


keperawatan .Citra aditya bakti
Inge Sutanto.Jakarta 2009. Parasitologi Kedokteran.FKUI