Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR REAKSI ANORGANIK


KEKUATAN ASAM DALAM MEDIUM AIR

OLEH :

KELOMPOK : 6

ANGGOTA : 1. HAFZHATUL HUSNA

2. FINNY RAHMATANIA

3. SERLI SUKMA YULI

4. RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION

DOSEN : MIFTAHUL KHAIR,S.Si,M.Sc,Ph.D

ASISTEN : 1. AULIA RAHMAN

2. MUTIA NURUL

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI PADANG


2018
KEKUATAN ASAM DALAM MEDIUM AIR

A. Tujuan
Menentukan konstanta disosiasi asam,ka sebagai ukuran kekuatan asam

B. Waktu dan tempat


Hari / tanggal : Rabu / 28 Februari 2018
Waktu : 07.00 – 9.40 WIB
Tempat : LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK, FMIPA UNP

C. Dasar teori

Diantara berbagai zat yang teramati paling penting oleh ahli kimia ialah zat
yangdikenal dengan nama asam, basa dan garam. Zat-zat ini tersebar luas di alam,
dalamindustri dan di rumah. Asam sulfat banyak sekali berperan dalam proses
industri,demikian juga asam nitrat. Asam karbonat terutama kita kenal sebagai air
soda.Asam klorida dalam jumlah kecil terdapat dalam perut kita, merupakan faktor yang
sangat penting dalam proses pencernaan. Diantara basa yang banyak di kenal adalah
larutan alkali atau soda api dan amoniak. Selanjutnya garam yang paling di kenal ialah
natrium klorida atau garam dapur.Banyak sekali teori yang mendefinisikan asam-basa,
salah satunya adalah Arrhenius,yang menyatakan bahwa asam adalah senyawa hidrogen
yang apabila dilarutkan dengan air mengalami disosiasi elektrolitik yang menghasilkan
ion H+ sebagai satusatunya ion positif.Dalam mempelajari asam basa, maka kita tidak
luput dihadapkan pada seberapa kuat suatu asam dan basa. Apakah suatu zat bersifat
sebagai asam kuat, asam lemah atau basa kuat, lalu bagaimana kita dapat menentukan
kekuatan asam atau kekuatan basa suatu zat. Yang menjadi penentu kekuatan asam atau
basa adalah posisi kesetimbangan reaksi disosiasi asam atau basa dalam air. Tingkat
ionisasi atau disosiasinya yaitu jumlah ion H+ dan ion OH- yang dilepaskan oleh spesi
asam atau basa.Membandingkan kekuatan asam lemah, posisi kesetimbangan reaksi
antara asam dan air bervariasi antara asam lemah yang satu dengan asam lemah yang
lainnya.Selanjutnya bergeser ke arah kiri ke sisi asam yang lebih lemah.Tetapan disosiasi
asam (Ka). Disosiasi (ionisasi) asam adalah contoh reaksi homogen.Semuanya berada
pada fasa yang pada kasus ini, pada larutan dalam air, karena itu Anda dapat menuliskan
ungkapan yang sederhana kesetimbangan Kc. Berikut adalah kesetimbangannya adalah
з ⁺ [ ⁻]
dalam bentuk Kc yaitu : = Menurut Arrhenius, asam dapat didefinisikan
[ ₂ ]

sebagai senyawa hidrogen yang bila dilarutkan dalam air mengalami dissosiasi elektrolit
dan menghasilkan ion H+ sebagai satu-satunya ion positif.Kekuatan suatu asam sering
didefinisikan sebagai kemampuan asam itu untuk menghasilkan ion H+ (atau proton).
Semakin besar ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat asam tersebut. Dari persamaan
pertama, terlihat bahwa semakin besar harga [H+] maka nilai Ka juga akan semakin
besar (berbanding lurus). Kemiripan kecenderungan antara kekuatan asam dengan nilai
Ka inilah yang menjadi alasanmengapa nilai Ka seringkali digunakan sebagai ukuran
kekuatan asam.(T et al., 2017)
Kekuatan asam dalam larutan
Istilah kuat dan lemah digunakan untuk membandingkan kekuatan asam atau basa dalam
larutan. Asam sulfat, asam nitrat dan asam klorida digolongkan dalam asam kuat,
sedangkan asam asetat termasuk asam lemah.
Kekuatan asam bergantung juga pada pelarutnya. Makin kuat sifat kebebasan pelarut,
makin mudah asam melepaskan proton. Asam asetat adalah asam lemah dalam larutan
air ,tetapi dalam amonia cair yang basanya lebih kuat dari air,merupakan asam kuat
CH3COOH + NH3 CH3COO- + NH4+
Kekuatan suatu asam HA dalam air mennetukan sampai berapa jauh keberlangsugan
reaksi di abwah ini.
H2O + H – A H3O + A-
Kekuatan suatu basa ( hidroksida ) ditentukan oleh kemampuan basa ini untuk untuk
menghasilkan ion hidroksida. Kekuatan asam dapat dilihat dari derajat ionissinya atu
tetapan dissosiasinya ,Ka. Demikian pula kekuatan suatu basa dapat dilihat dari derajat
ionisasinya atau tetapan disosiasinya,Kb.
Faktor yang menentukan kekuatan relatif asam dan basa :
a) Kepolaran
b) Ukuran atom
c) Muatan
d) Bilangan oksidasi
(Achmad, 2001)
Senyawa elektrolit dalam air terurai menjadi ion positif dan negatif.
Penguraian ini di sebut pengionan atau ionisasi. Yang termasuk senyawa elektrolit adalah
asam, basa dan garam. Asam dan basa yang larut tetapi terion sebagian disebut asam dan
basa lemah. Antara molekul yang tidak terion dan ionya membentuk kesetimbangan ion.
Di sini akan dibahas kesetimbangan asam dan basa lemah.
Kesetimbangan asam
Dalam larutan asam lemah ( menurut Bronsted-lowry ) terdapat kesetimbangan :
HA + H2O H3O+ + A-
з ⁺ [ ⁻]
=
[ ]

Kesetimbangan ini terjadi dalam larutan encer sehingga konsentrasi pelarut ( H 2O )


sangat besar dibandingkan zat terlarut. Dengan kata lain,konsentrasi air dapat dianggap
konstan ,maka :

з [ ]
₂ =
[ ]

Ka disebut konstanta kesetimbangan asam

Kemampuan asam terionisasi dalam air tidak sama ,ada yang besar,sedang,dan kecil
sekali. Kemampuan itu dinyatakan dengan derajat ionisasi ()

=

Yang termasuk asam kuat jumlahnya tidak banyak , yaitu HCl,HBr,HI,HNO3,H2SO4 dan
HClO4 sedangkan yang lainya ermasuk lemah.

Kesetimbangan basa

Basa menurut Bronsted-lowry adalah senyawa yang dapat menerima proton dari asam
atau pelarut. Basa ini umumnya merupakan basa lemah dan membentuk kesetimbangan
dalam air.

B + H2O BH+ + OH-

[ ]
=
[ ]

Kesetimbangan basa lemah terjadi dalam larutan encer ,maka konsentrasi air dapat
dianggap konstan.
[ ]
( ₂ )= =
[ ]

Kesetimbangan air

Setelah diukur dengan cermat,ternyata air murni mengandung ion dalam jumlah kecil
sekali. Hal itu disebabkan oleh terjadinya reaksi asam basa sesama molekul air
(autoionisasi) dan membentuk kesetimbangan :

H2O H3O+ + OH-

Berdasarkan konsentrasi ion, larutan dapat di bagi tiga, yaitu

Larutan asam : [H+] > [OH-]

Larutan neral : [H+] =[OH-] = 1O-7

Larutan basa : [H+] < [OH-]

(S, 1999)
D. Alat dan bahan
ALAT BAHAN
Beker gelas Larutan 0,2 M KNO3

Buretdan statif Larutan 0,2 M HCOOH

Larutan 0,2 M HCOOH

Erlenmeyer

Labu ukur Larutan 0,2 M C2H3COOH

Kertas lakmus Kristal asam oksalat


NaOH

Indikator pp

E. Prosedur Kerja dan Pengamatan


1. Standarisasi Larutan NaOH

PROSEDUR PENGAMATAN KETERANGAN


Menimbang 0,9 gram Larutan berwarna 1. H2C2O4 + 2NaOH
kristal asam oksalat bening Na2C2O4 + 2H2O
anhidrat dan diencerkan
sampai 100 ml
Mengambil 25 ml dan Hasil titrasi
ditambah indikator pp berwarna pink
kemudian dititrasi muda
dengan NaOH 0,5 M
Hal yang dilakukan  HCOOH + NaOH
serupa dengan 0,2 M NaCOOH + H2O
HCOOH, Larutan 0,2  CH3COOH + NaOH
M CH3COOH, Larutan CH3COONa + H2O
0,2 M C2H5COOH  C2H5COOH + NaOH
C2H5COONa + H2O

2. Penentuan Konstanta Asam, Ka

PROSEDUR PENGAMATAN KETERANGAN


45 ml aquades + 50 ml Larutan berwarna
0,2 M KNO3 + 0,2 M bening
CH3COOH
Kemudian dititrasi 
dengan NaOH 0,5 M
Mengukur pH tiap
penambahan 2,4, 6, 8
ml NaOH
Hal yang dilakukan
serupa dengan 0,2 M https://youtu.be/dMkzwlHPkyU
HCOOH, Larutan 0,2
M CH3COOH, Larutan
0,2 M C2H5COOH

F. Tabel Pengamatan

Standarisasi NaOH dan larutan asam

NO Larutan Percobaan 1 Percobaan 2 Rata-


rata
1. H2C2O4 + 9,5 ml 7 ml 8,25 ml
2NaOH
2. HCOOH + 52 ml 52 ml
NaOH
3. CH3COOH + 11 ml 11 ml
NaOH

Penentuan konstanta Ka

Ph Pengaruh pH

Tanpa 2 ml 4 ml 6 ml 8 ml
penambah penambaha penambah penambaha penambah
an NaOH n NaOH an NaOH n NaOH an NaOH

CH3COH 4 6 11 12 13

HCOOH 3 4 4 11 13

C2H5COO
4 7 11 12 12
H

G. Perhitunagn

= 90

= 0,90

0,90
= = = 0,01
90

0,01
= = = 0,1
0,1

 Standarisasi NaOH dengan

+ → +

Volume NaOH yang dibutuhkan = 9,5 mL

Volume yang digunakan = 25 mL

× = ×
2 0,1 × 25 = 1 × 9,5

5 = 9,5

5
= = 0,52
9,5

Konsentrasi NaOH yang digunakan yakni sebesar 0,52 M

Standarisasi asam format dengan NaOH

+ → +

Volume NaOH yang dibutuhkan = 52 mL

Volume HCOOH yang digunakan = 25 mL

× = ×

1 × 25 = 1 × 0,61 × 52

25 = 31,72

31,72
= = 1.26
25

Konsentrasi HCOOH yang digunakan yakni sebesar 1,26M

Standarisasi dengan NaOH

+ NaOH → +

Volume NaOH yang dibutuhkan = 11 mL

Volume = 25

× = ×

1 × 25 = 1 × 0,61 × 11

25 = 6,71

6,71
= = 0,268
25
Konsentrasi = 0,268

 Menentukan pKa dan Ka


1. Asam asetat

+ NaOH → +

= 1, = 1, C+ = 0,52 M, C- =0,268 M

= 1 2∑

= 1 2( + )

= 1 2 (0,52 × 1 + 0,268 × 1 )

= 1 2 (0,52 + 0,268)

= 1 2 (0,788)

= 0,394

0,5 ( + + )
= − + 0,1 +
1+ + −

penambahan 0 mL NaOH,pH = 4

0,5 × 0,394 × 1× 1 0,26(0,61 + 0,26 + 0,61 )


= 4− + 0,1 × 0,435 +
1 + 0,394 0,61 + 0,26 − 0,61

0,5√0,394 0,26(1,48)
= 4− + 0,1 × 0,435 +
1 + √0,394 0,26

0,31 0,3848
= 4− + 0,043 +
1,62 0,26

= 4 − 0,19 + 0,043 + 1,48

= 4 − 0,19 + 0,043 + 0,17

= 4,023

= − log
4,023 = − log

= −

= − 4,023

= 105

penmabahan 2 mL NaOH, pH = 6

0,5 × 0,394 × 1× 1
= 6− + 0,1 × 0,435
1 + 0,394
0,26(0,61 + 0,26 + 0,61 )
+
0,61 + 0,26 + 0,61

0,5√0,394 0,26(1,48)
= 6− + 0,1 × 0,435 +
1 + √0,394 0,26

0,31 0,3848
= 6− + 0,043 +
1,62 0,26

= 6 − 0,19 + 0,043 + 1,48

= 6 − 0,19 + 0,043 + 0,17

= 6,023

= − log

6,023 = − log

= −

= − 6,023

= 1054

penambahan 4 mL NaOH,pH = 11

0,5 × 0,394 × 1× 1
= 11 − + 0,1 × 0,435
1 + 0,394
0,26(0,61 + 0,26 + 0,61 )
+
0,61 + 0,26 + 0,61
0,5√0,394 0,26(1,48)
= 11 − + 0,1 × 0,435 +
1 + √0,394 0,26

0,31 0,3848
= 11 − + 0,043 +
1,62 0,26

= 11 − 0,19 + 0,043 + 1,48

= 11 − 0,19 + 0,043 + 0,17

= 11,023

= − log

11,023 = − log

= −

= − 11,023

= 1,054 x 1011

penmabahan 6 mL NaOH, pH = 12

0,5 × 0,394 × 1× 1
= 12 − + 0,1 × 0,435
1 + 0,394
0,26(0,61 + 0,26 + 0,61 )
+
0,61 + 0,26 + 0,61

0,5√0,394 0,26(1,48)
= 12 − + 0,1 × 0,435 +
1 + √0,394 0,26

0,31 0,3848
= 12 − + 0,043 +
1,62 0,26

= 12 − 0,19 + 0,043 + 1,48

= 12 − 0,19 + 0,043 + 0,17

= 12,023

= − log
12,023 = − log

= −

= − 12,023

= 1,05 x 10 12

penambahan 8 mL NaOH, pH = 13

0,5 × 0,394 × 1× 1
= 13 − + 0,1 × 0,435
1 + 0,394
0,26(0,61 + 0,26 + 0,61 )
+
0,61 + 0,26 + 0,61

0,5√0,394 0,26(1,48)
= 13 − + 0,1 × 0,435 +
1 + √0,394 0,26

0,31 0,3848
= 13 − + 0,043 +
1,62 0,26

= 13 − 0,19 + 0,043 + 1,48

= 13 − 0,19 + 0,043 + 0,17

= 13,014

= − log

13,014 = − log

= −

= − 13,014

= 1,03 x 1013

105 + 1054 + 1,054 x 10ᴵᴵ + 1,05 x 10 ᴵ² + 1,03 x 10ᴵ³


5

1162,134 10²⁹
=
5
= 232,4268 × 10ᴵ ⁵ ,

2. Asam format

+ → +

= 1, = 1, C+ = 0,52 M, C- = 1,26 M

= 1 2∑

= 1 2( + )

= 1 2 (0,52 × 1 + 1,26 × 1 )

= 1 2 (0,52 + 1,26)

= 1 2 (1,78)

= 0,89

0,5 ( + + )
= − + 0,1 +
1+ + −

penambahan 0 mL NaOH, pH = 3

0,5 × 0,89 × 1× 1 0,4(0,61 + 0,4 + 0,61 )


= 3− + 0,1 × 0,505 +
1 + 0,89 0,61 + 0,4 − 0,61

0,5√0,89 0,4(1,62)
= 3− + 0,1 × 0,505 +
1 + √0,89 0,4

0,47 0,648
= 3− + 0,0505 +
1,94 0,4

= 3 − 0,24 + 0,0505 + 1,62

= 3 − 0,24 + 0,0505 + 0,21

= 3,0205

= − log
3,0205 = − log

= −

= − 3,0205

= 9,5 10 ⁻⁴

penambahan 2 mL NaOH, pH = 4

0,5 × 0,89 × 1× 1 0,4(0,61 + 0,4 + 0,61 )


= 4− + 0,1 × 0,505 +
1 + 0,89 0,61 + 0,4 − 0,61

0,5√0,89 0,4(1,62)
= 4− + 0,1 × 0,505 +
1 + √0,89 0,4

0,47 0,648
= 4− + 0,0505 +
1,94 0,4

= 4 − 0,24 + 0,0505 + 1,62

= 4 − 0,24 + 0,0505 + 0,21

= 4,0205

= − log

4,0205 = − log

= −

= − 4,0205

= 9,5 x 10 ⁻⁵

penambahan 4 mL NaOH, pH = 4

0,5 × 0,89 × 1× 1 0,4(0,61 + 0,4 + 0,61 )


= 4− + 0,1 × 0,505 +
1 + 0,89 0,61 + 0,4 − 0,61

0,5√0,89 0,4(1,62)
= 4− + 0,1 × 0,505 +
1 + √0,89 0,4
0,47 0,648
= 4− + 0,0505 +
1,94 0,4

= 4 − 0,24 + 0,0505 + 1,62

= 4 − 0,24 + 0,0505 + 0,21

= 4,2605

= − log

4,2605 = − log

= −

= − 4,2605

= 5,4 x 10⁻⁵

penambahan 6 mL NaOH, pH = 11

0,5 × 0,89 × 1× 1 0,4(0,61 + 0,4 + 0,61 )


= 11 − + 0,1 × 0,505 +
1 + 0,89 0,61 + 0,4 − 0,61

0,5√0,505 0,4(1,62)
= 11 − + 0,1 × 0,505 +
1+ 0,505 0,4

0,47 0,648
= 11 − + 0,0505 +
1,94 0,4

= 11 − 0,24 + 0,0505 + 1,62

= 11 − 0,24 + 0,0505 + 0,21

= 11.0205

= − log

11.0205 = − log

= −

= − 11.0205
= 9,5 x 10⁻ᴵ²

penambahan 8 mL, pH = 13

0,5 × 0,89 × 1× 1 0,4(0,61 + 0,4 + 0,61 )


= 13 − + 0,1 × 0,505 +
1 + 0,89 0,61 + 0,4 − 0,61

0,5√0,89 0,4(1,62)
= 13 − + 0,1 × 0,505 +
1 + √0,89 0,4

0,47 0,648
= 13 − + 0,0505 +
1,94 0,4

= 13 − 0,24 + 0,0505 + 1,62

= 13 − 0,24 + 0,0505 + 0,21

= 13.0205

= − log

13.0205 = − log

= −

= − 13.0205

= 9,5 x 10 ⁻ᴵ⁴

9,5 × 10 + 9,5 × 10 + 5,4 × 10 + 9,5 × 10


=
5

6,145 × 10
=
5

= 1,23 × 10 ,

3. Asam propionat

+ → +

= 1, = 1, C+ = 0,52 M, C- =0,2 M
= 1 2∑

= 1 2( + )

= 1 2 (0,52 × 1 + 0,2 × 1 )

= 1 2 (0,52 + 0,2)

= 1 2 (0,72)

= 0,36

0,5 ( + + )
= − + 0,1 +
1+ + −

penambahan 0 mL NaOH, pH = 4

0,5 × 0,36 × 1× 1 0,2(0,61 + 0,2 + 0,61 )


= 4− + 0,1 × 0,405 +
1 + 0,36 0,61 + 0,2 − 0,61

0,5√0,36 0,2(1,42)
= 4− + 0,1 × 0,405 +
1 + √0,36 0,2

0,3 0,284
= − + 0,0405 +
1,6 0,2

= 4 − 0,1875 + 0,0405 + 1,42

= 4 − 0,1875 + 0,043 + 0,152

= 4

= − log

4 = − log

= −

= − 4

=
penambahan 2 mL NaOH ,pH = 7

0,5 × 0,36 × 1× 1 0,2(0,61 + 0,2 + 0,61 )


= 7− + 0,1 × 0,405 +
1 + 0,36 0,61 + 0,2 − 0,61

0,5√0,36 0,2(1,42)
= 7− + 0,1 × 0,405 +
1 + √0,36 0,2

0,3 0,284
= 7− + 0,0405 +
1,6 0,2

= 7 − 0,1875 + 0,0405 + 1,42

= 7 − 0,1875 + 0,043 + 0,152

= 7

= − log

7 = − log

= −

= − 7

penambahan 6 mL NaOH, pH = 12

0,5 × 0,36 × 1× 1 0,2(0,61 + 0,2 + 0,61 )


= 12 − + 0,1 × 0,405 +
1 + 0,36 0,61 + 0,2 − 0,61

0,5√0,36 0,2(1,42)
= 12 − + 0,1 × 0,405 +
1 + √0,36 0,2

0,3 0,284
= 12 − + 0,0405 +
1,6 0,2

= 12 − 0,1875 + 0,0405 + 1,42

= 12 − 0,1875 + 0,043 + 0,152

= 12,17
= − log

12,17 = − log

= −

= − 12,17

penambahan 4 mL NaOH,pH = 11

0,5 × 0,36 × 1× 1 0,2(0,61 + 0,2 + 0,61 )


11 − + 0,1 × 0,405 +
1 + 0,36 0,61 + 0,2 − 0,61

0,5√0,36 0,2(1,42)
= 11 − + 0,1 × 0,405 +
1 + √0,36 0,2

0,3 0,284
= 11 − + 0,0405 +
1,6 0,2

= 11 − 0,1875 + 0,0405 + 1,42

= 11 − 0,1875 + 0,043 + 0,152

= 11

= − log

11 = − log

= −

= − 11

penambahan 8 mL NaOH, pH = 12

0,5 × 0,36 × 1× 1 0,2(0,61 + 0,2 + 0,61 )


= 12 − + 0,1 × 0,405 +
1 + 0,36 0,61 + 0,2 − 0,61
0,5√0,36 0,2(1,42)
= 12 − + 0,1 × 0,405 +
1 + √0,36 0,2

0,3 0,284
= 12 − + 0,0405 +
1,6 0,2

= 12 − 0,1875 + 0,0405 + 1,42

= 12 − 0,1875 + 0,043 + 0,152

= 12

= − log

12 = − log

= −

= − 12

3,162 × 10 + 10 + 10 + 10 + 3,162 × 10
=
5

3,162 × 10
=
5

= 0,6324 × 10 ,

= 6,324 × 10 ,
H. Pembahasan

Pada praktikum kekuatan asam dalam medium air ini dilakukan dua percobaan, yaitu:
1. Standarisasi Larutan NaOH dan Larutan Asam
Standarisasi larutan NaOH dan larutan asam ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi
dari NaOH, asam asetat (CH3COOH) dan asam format (HCOOH) dengan metode titrasi dan
penggunaan larutan baku primer yaitu asam oksalat. Sebelum digunakan sebagai larutan
standar, larutan NaOH perlu distandarisasi terlebih dahulu karena NaOH merupakan larutan
baku standar sekunder yang konsentrasinya mudah berubah karena pengaruh lingkungan.
Begitu juga dengan asam asetat dan asan format. Langkah-langkahnya adalah dengan
menimbang asam oksalat sebesar 0,45 gram kemudian dilarutkan dengan aquades dalam
labu ukur 100 mldan encerkan sampai tanda batas,selanjutnya di ambil 25 ml lalu ditetesi
indikator pp 2 tetes untuk mengindikasikan bahwa titik akhir titrasi sudah tercapai.
Digunakan indikator pp karena titik ekqivalen berada pada kisaran ph sedikit asam-sedikit
basa (rentang PH yaitu 8,2-10,0) . Setelah itu di titrasi dengan larutan NaOH 0,5 M. Titik
akhir titrasi terjadi setelah volume NaOH 9,5 ml dan larutan menjadi berwarna merah muda,
sedangkan volume titrasi dari duplo adalah 7 ml. Reaksi yang terjadi adalah:
H2C2O4.2 H2O + NaOH NaHC2O4.2H2O + H2O
Sehingga H2C2O4.2 H2O habis bereaksi dengan NaOH, yang selanjutnya bereaksi dengan
indikator pp membentuk warna merah:
NaOH + PP-OH NaO-PP + H2O
(merah muda)
Dari nilai volume titrasi yang sudah diperoleh, dapat diketahui molaritas NaOH dengan
perhitungan (di lampiran) yaitu Larutan NaOH yang telah diketahui molaritasnya digunakan
untuk menstandarisasi larutan asam format dan asam asetat. Pada standarisasi larutan asam
asetat yaitu dengan memipet 25 ml larutan asam asetat kemudian dimasukkan dalam
erlenmeyer 250 ml dan ditambahkan indikator pp untuk mengindikasikan titik eqivaken
pada proses titrasi telah di capai. Selanjutnya di titrasi dengan larutan NaOH hingga
mencapai titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna larutan dari bening
menjadi pink. Volume akhir titrasi ini di capai setelah penambahan NaOH sebanyak 11 ml
dan dan seharusnya dilakukan duplo karena NaOH yang dibutuhkan cukup banyak.. Reaksi
yang terjadi yaitu:
CH3COOH + PP-OH bening
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Setelah titik eqivalen tercapai, NaOH berlebih akan bereaksi dengan indikator pp sehingga
warna larutan berubah menjadi merah muda:
NaOH + PP-OH PP-ONa + H2O
Dari hasil volume titrasi yang diperoleh, dapat di hitung konsentrasi asam asetat yaitu
Standarisasi larutan asam format dilakukan dengan memipet 25 ml larutan asam format
kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer 250ml dan ditambahkan indikator pp untuk
mengindikasikan titik eqivaken pada proses titrasi telah di capai. Selanjutnya di titrasi
dengan larutan NaOH hingga mencapai titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan
warna larutan daribening menjadi pink. Volume akhir titrasi ini di capai setelah
penambahan NaOH sebanyak 52 ml.dan krena keterbatasan NaOH kami melakukannya 1
kali saja. Reaksi yang terjadi yaitu:
HCOOH + PP-OH bening
HCOOH + NaOH HCOONa + H2O
Setelah titik eqivalen tercapai, NaOH berlebih akan bereaksi dengan indikator pp sehingga
warna larutan berubah menjadi merah muda:
NaOH + PP-OH PP-ONa + H2O
Dari hasil volume titrasi yang diperoleh, dapat di hitung konsentrasi asam asetat yaitu
2. Penentuan Konstanta Asam (Ka)

Konstanta kesetimbangan disosiasi (Ka) disebut juga konstanta elektrolit atau


konstanta disosiasi asam. Kekuatan asam didefinisikan oleh konstanta disosiasi asamnya.
Semakin besar konstanta disosiasi asamnya maka makin kuat asam tersebut. Penentuan
konstanta asam (Ka) ini dapat dilakukan dengan mengukur ph larutan. Pada praktikum ini
akan ditentukan Ka dari asam format dan asam asetat. Penentuan Ka kedua asam tersebut
dilakukan dengan perlakuan yang sama,yaitu dengan mencampurkan 90 ml aquades, 10 ml
asam asetat (untuk asam format digunakan 10 ml asam format) dan 100 ml KNO 3 0,2 M di
dalam beaker glass 500 ml. KNO3 berfungsi untuk menjaga kekuatan ion dalam larutan
netralnya yaitu aquades agar dapat terdeteksi oleh ph meter. KNO3merupakan elektrolit kuat
yang dalam larutan (air) akan terdisosiasi menjadi K+ dan NO3-. Ion K+ lebih elektropositif
dari pada H+ sehingga ion K+ akan bereaksi dengan anion (jika ada) terlebih dahulu dari
pada ion H+. Akibatnya konsentrasi ion H+ dalam larutan akan lebih stabil/ terjaga. Setelah
itu dilakukan titrasi dan ditambahkan dengan larutan NaOH, dimana setiap penambahan 2
ml NaOH di ukur ph nya menggunakan indicator universal. Harga pH paling rendah terukur
pada saat NaOH belum ditambahkan. Hal ini dikarenakan konsentrasi ion H+ hasil disosiasi
dalam larutan paling tinggi. Setelah ditambah larutan NaOH, ion H+ dalam larutan akan
bereaksi dengan ion OH- dari NaOH membentuk molekul air yang sedikit terdisosiasi
sehingga konsentrasi ion H+ dalam larutan akan berkurang. Akibatnya harga pH akan naik.
Setelah titik ekivalen tercapai, tidak ada (sangat sedikit) ion H+dalam larutan sehingga harga
pH dipengaruhi/ ditentukan oleh konsentrasi ion OH -. Karena harga pH dipengaruhi oleh
konsentrasi ion OH- maka pH yang terukurpun berada pada harga kisaran basa.

Pada larutan asam asetat (CH3COOH) Ph yang terukur adalah sebagai berikut:
v NaOH Ph
(ml)
0 4
2 6
4 11
6 12
8 13

Sedangkan pada larutan asam format (HCOOH) ph yang terukur adalah sebagai berikut:

v NaOH pH
(ml)
0 3
2 4
4 4
6 11
8 13

larutan Asam Propionat (C2H5COOH) ph yang terukur adalah sebagai berikut:

v NaOH pH
(ml)
0 4
2 7
4 11
6 12
8 12

Pada penambahan NaOH sebelum mencapai titik ekivalen, di dalam larutan terbentuk
sistem buffer dari asam lemah dengan basa kuat. Karena itu, perubahan harga pH sebelum
titik ekivalen tidak begitu jauh sebab larutan buffer yang terbentuk menjaga pH agar berada
pada kisaran harga yang tetap. Harga pH paling rendah terukur pada saat NaOH belum
ditambahkan. Hal ini dikarenakan konsentrasi ion H+ hasil disosiasi dalam larutan paling
tinggi. Setelah ditambah larutan NaOH, ion H+ dalam larutan akan bereaksi dengan ion OH-
dari NaOH membentuk molekul air yang sedikit terdisosiasi sehingga konsentrasi ion
H+ dalam larutan akan berkurang. Akibatnya harga pH akan naik. Setelah titik ekivalen
tercapai, tidak ada (sangat sedikit) ion H+dalam larutan sehingga harga pH dipengaruhi/
ditentukan oleh konsentrasi ion OH -. Karena harga pH dipengaruhi oleh konsentrasi ion
OH- maka pH yang terukurpun berada pada harga kisaran basa.
Untuk menentukan konstanta asam, pertama-tama yang harus dilakukan adalah
menghitung kekuatan ion (µ) dari asam asetat dana sam format menggunakan persamaan :
µ=1/2 (M(+).Z(+)2 + M(-).Z(-)2)
dengan Z+ dan Z- merupakan jumlah muatan ion positif dan ion negatif. Selanjutnya
ditentukan nilai Ka nya melalui persamaan Debye-Huckel:
-log F± = 0,50 Z1.Z2 µ ½ - 0,1 µ ½
1- µ ½
Persamaan untuk menentukan pKa adalah :
pKa = Ph + (-log F±) + log CA- CB + [H+]-[OH-]
CH + [H+]-[OH-]
pKa = -log Ka
Ka= antilog –pKa
Dan berdasarkan perhitungan (di lampiran) nilai Ka yang di peroleh adalah:
1. Asam Asetat
v NaOH Ph Pka Ka
(ml)
0 4 4,023 9,8× 10⁻⁵
2 6 6,023 9,4 x 10-7
4 11 11,023 9,4 x 10-12

6 12 12,023 9,4 x 10-13

8 13 13,014 9,6 x 10-14


Ka rata-rata = 9,52 X 10-10,2

2 . Asam format
v NaOH Ph Pka Ka
(ml)
0 3 3,0205 9,5 10 ⁻⁴
2 4 4,0205 9,5 x 10 ⁻⁵

4 4 4,2605 5,4 x 10⁻⁵

6 11 11.0205 9,5 x 10⁻ᴵ²

8 13 13.0205 9,5 x 10 ⁻ᴵ⁴

Ka rata-rata = 8,66 × 10 ,

3.Asam propionate
v NaOH Ph Pka Ka
(ml)
0 4 4 10 ⁻³

2 7 7 10⁻7

4 11 11 10⁻ˡˡ

6 12 12,17 6,7× 10⁻ˡ³

8 13 12 10-12

Ka rata-rata = 1,34 × 10 ,
.
Dari harga Ka tersebut dapat diketahui bahwa asam aseta adalah asam yang lebih kuat
daripada asam format, karena Ka asam asetat lebih tinggi dari Ka asam format dan asam
propionat. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa asam format lebih kuat
daripada asam asetat, yaitu dengan nilai Ka 1,77 x 10-4 sedangkan nilai Ka dari asam asetat
adalah 1,75 x 10-5. Perbedaan ini mungkin dikarenakan beberapa perbedaab suhu
pengukuran dan juga karena larutan asam format dibiarkan terbuka dalam waktu yang
cukup lama sementara menunggu pembuatan larutan asam asetat.
bahwa penambahan NaOH secara terus menerus (dengan kelipatan 2 ml) menurunkan nilai
Ka yang berarti menurunkan kekuatan asam . semakin banyak NaOH yang ditambahkan
maka Ka semakin turun, hal ini karena ion H+ dalam larutan asam akan bereaksi dengan ion
OH- dari NaOH membentuk molekul air yang sedikit terdisosiasi sehingga konsentrasi ion
H+ akan berkurang. Akibatnya harga ph akan naik yang menyebabkan nilai Ka semakin
turun. Sedangkan untuk kelarutan buffering (kemampuan dalam mempertahankan ph ) asam
format lebih besar dari asam asetat. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya menjaga ph
pada saat penambahan NaOH.
I. Kesimpulan

Konstanta disosiasi asam ditentukan dengan titrasi asam basa. Dimana asam asetat
dan asam format dititrasi (dilakukan penambahan setiap 2 ml) dengan NaOH yang telah
dibakukan dengan asam oksalat dan diukur pH pada tiap penambahan 2 ml NaOH tersebut.

Semakin terionisasi suatu asam, semakin besar nilai Ka karena dalam pengambilan
semakin besar pula. Asam yang lebih kuat memiliki nilai Ka yang lebih besar. Dalam
percobaan ini hasil dari grafik yaitu apabila nilai Ka naik maka semakin kecil nilai pKa, jika
semakin kecil nilai pKa maka semakin kuat asamnya.
Jawaban Pertanyaan

1. Apakah perbedaan definisi asam menurut Arrhennius, Bronsted-Lowry dan Lewis?

Arrhennius

Asam : spesi yang melepaskan H+ dalam air

Basa : spesi yang melepaskan OH- dalam air

Bronsted-Lowry

Asam : spesi yang berperan sebagai donor proton

Basa : spesi yang berperan sebagai akseptor proton

Lewis

Asam : spesi yang menerima elektoron

Basa : spesi yang memberikan elektron

2. Bagaimana kekuatan asan dari asam-asam yang dipelajari diatas bila dilarutkan dalam
medium bukan air
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, D. H. (2001). kimia Larutan. Bandung: PT.CITRA ADITYA BAKT.

S, S. (1999). KIMIA DASAR 2. Bandung: ITB.

T, L., K, K., Fauziah, R., Si, M., Laelasari, E., & Pd, S. (2017). P enuntun P raktikum.
PADANG : FMIPA UNP.

Anda mungkin juga menyukai