Anda di halaman 1dari 37

Berikut ini adalah penjelasannya 4 kompetensi guru profesional:

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menyangkut kemampuan seorang guru dalam memahami karakteristik atau kemampuan
yang dimiliki oleh murid melalui berbagai cara. Cara yang utama yaitu dengan memahami murid melalui
perkembangan kognitif murid, merancang pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi
hasil belajar sekaligus pengembangan murid.

2. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian ini adalah salah satu kemampuan personal yang harus dimiliki oleh guru
profesional dengan cara mencerminkan kepribadian yang baik pada diri sendiri, bersikap bijaksana serta
arif, bersikap dewasa dan berwibawa serta mempunyai akhlak mulia untuk menjadi sauri teladan yang
baik.

3. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah salah satu unsur yang harus dimiliki oleh guru yaitu dengan cara
menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik melalui cara
yang baik dalam berkomunikasi dengan murid dan seluruh tenaga kependidikan atau juga dengan orang
tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Apa si sebenarnya arti sukses? Sukses adalah kemampuan untuk menjalani hidup Anda sesuai
dengan keinginan Anda, melakukan apa yang yang paling dinikmati, dikelilingi oleh orang-orang
Anda senangi dan hormati. Kebanyakan orang yang menganggap pengertian sukses sebagai pada
saat kita wisuda, pada saat naik jabatan, atau pada saat menerima penobatan sebagai orang
teladan, orang terpandai atau sejenisnya. Sukses bukan dalam pengertian seperti itu.
Sukses itu bukan suatu tujuan akhir dengan kualitas seadanya dan menghalalkan segala cara
untuk mencapainya, tetapi sebagai suatu proses yang harus di lakukan setahap demi setahap, dan
hari demi hari , bahkan menit demi menit itulah menurut pandangan saya.

Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa kesuksesan dipandang dari seberapa besar materi
yang ia punya atau yang ia miliki, atau kepintaran atau hard skillss apa yang dia punya untuk
mencapai kata sukses. Untuk menjadi sukses kita bisa mlai dengan hal-hal kecil yang kita
mampu lakukan. Saya akan memberikan sebuah contoh yang sangat sering terjadi,Misalnya
seseorang yang kurang pandai di bidang tertentu saja , walaupun ia kurang menguasai suatu
materi tertentu tetapi setiap ujian di bidang yang dia kurang kuasai dia selalu percaya pada
kemampuan diri sendiri dan percaya pada tuhan yang selalu memberikan terang dan ia akhirnya
lulus tetapi hanya mendapat nilai C dan ada seseorang yang mendapa nilai A yang menjadikanya
dia menjadi panutan dan banyak menerima pujian dri orang – orang sekitarnya termasuk dosen
tetapi dalam ujian dia telah berbuat bbrapa kecurangan agar bisa menerima nilai A tersebut.
Pertanyaanya apakah orng yg mendapat nilai A itu lebih sukses? Menurut pandangan saya tidak,
Mungkin anak yang mendaapat nilai A lebih sukses dri anak yang mendapat C karena mendapat
nilai yang lebih baik dan banyak mendapat pujian tetapi ia hanya akan menerima kesuksesan
dalam arti palsu, Arti kesuksesan yang sebenarnya bias kita lihat dari orng yg mendapat nilai C
dikarenakan telah berusaha maksimal dengan kemampuan dirinya sendiri dan itu menjadikanya
sebagai orang yang sukses walaupun nilainya hanya C, tetapi kita bisa melihat proses
pembelajaranya setahap demi setahap untk mendapatkan nilai C trsebut. Saya pun yakin Anak
yang mendapat nilai C tersebut akan lebih besar kemungkinan mencapai kesuksesan yang
sesungguhnya, karna anak yang mendapat nilai c selalu percaya dengan kemampuany sendiri,
dan selalu berpegang teguh pada firman tuhan untk berbuat jujur dalam mengerjakan sesuatu, di
dunia yang lebih luas atau dunia kerja di masa yang akan datang kejujuran dan berpegang teguh
menolak godaan iblis akan lebih bsa diandalkan dari pada orng yang mengandalkan segala cara
untk mendapatkan sesuatu yang diinginkan bahkan cara yang salah yang membohongi dirinya
sendiri khususnya Tuhan.

Bukti lainya menurut saya adalah para wakil rakyat yang korupsi,menerima suap dan
mementingkan dirinya sendiri dibanding kepentingan rakyat, Pertanyaanya apakah mereka tidak
pintar dan tidak sukses? Sepertinya tidak mungkin jika orang tidak berpendidikan dapat menjadi
wakil rakyat , dan mereka pun sukses karna bsa menjadi slah satu orang penting di suatu Negara
dan dapat berguna dan bermanfaat bagi Negara, Tetapi menurut pndangan saya mereka itu hanya
memiliki kesuksesan yang palsu, apakah dengan cara korupsi itu dinamakan mereka telah
sukses? Sukses itu adalah proses kita setahap demi setahap untk berkembang dan dilandaskan
dalam firman tuhan, mnrt saya dengan orng yang memiliki keterbatasan pun seperti buta ,tuli
mereka lebih sukses dibandingkan pejabat daerah yang pntar yang memiliki gelar kemampuan
berpiir yang jauh lebihh dari orng buta tuli. Persepsi apa yang membuat saya dapat memberikan
pernyataan demikian? Persepsi saya adalah orng buta tuli tidak mengiginkan bahwa mereka ingin
diciptakan sebagai si bisu si tuli si buta dllnya,mereka sudah diciptakan oleh tuhan seperti
itu tetapi mereka ingin berusaha menjadi lebih baik, lebih bsa berguna bagi sesama, contoh
berusaha latihan berbicara sedikit demi sedikit walaupun mereka bisu, proses yang bertahap itu
yang dnamakan kesuksesan yang sesungguhnya. Itulah pandangan saya mengenai kesuksesan
yang sesungguhnya

MAKNA SUKSES

Setiap manusia pasti ingin sukses. Ada yang ingin memperoleh kesuksesan dari usahanya, ada
juga sukses dengan karirnya, atau bahkan suskes dalam membina rumah tangganya. Namun,
masih banyak dari kita yang belum tahu betul makna dari sebuah kesuksesan. Bahkan
sebagian besar orang selalu mengkaitkan kesuksesan hidup dengan keberhasilan secara
finansial. Lalu, apa sih makna dari kata sukses itu sendiri?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sukses berarti berhasil; beruntung. Sementara
menurut ensiklopedia bebas Wikipedia, sukses didefinisikan sebagai suatu kehormatan atau
prestise yang dikaitkan dengan pencapaian suatu kedudukan seseorang dalam status
sosialnya.

Tapi apakah kata berhasil atau beruntung sudah cukup memuaskan anda akan makna dari kata
sukses itu sendiri? Jika arti dari kata sukses hanya sekedar berhasil atau beruntung dari sisi
finansial, maka boleh jadi hanya sedikit sekali orang yang sukses di muka bumi ini. Semua
orang lalu akan berpendapat bahwa hanya orang-orang seperti Bill Gates lah orang yang
sukses. Dan jika melihat sukses dari segi karir, maka hanya orang-orang yang bisa menduduki
jabatan presiden, menteri atau pejabat tinggi negara lainnya lah yang telah mencapai
kesuksesan.
Namun ternyata makna sukses jauh lebih luas dari ulasan yang diuraikan di atas. Setelah
merenung dan memperhatikan serta bertanya-tanya kepada banyak pihak, akhirnya penulis
berkesimpulan bahwa seseorang dikatakan telah sukses jika orang tersebut telah memberikan
manfaat kepada dirinya sekaligus kepada orang lain atau lingkungannya. Terlepas dari masalah
bahwa orang tersebut berhasil atau tidak, baik dari segi finansial, karir dan sebagainya.
Terlepas pula dari masalah bahwa orang tersebut menjadi kaya atau tetap miskin, atau berhasil
menjadi pejabat tinggi maupun tetap menjadi pegawai rendahan. Pokoknya selama orang
tersebut telah memberikan manfaat bagi lingkungan dan dirinya, maka tidak ada kata lain
kecuali dikatakan bahwa orang tersebut telah sukses.

Untuk memperkuat hipotesa di atas, ada baiknya diberikan dua ulasan contoh dalam kehidupan
yang mudah-mudahan dapat memperkuat argumen di atas.

Contoh Kasus Pertama :

Di sebuah desa terpencil hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang janda tua beserta
seorang anaknya yang sulung. Anak kedua, ke tiga dan ke empat telah hidup berhasil di kota
besar. Si sulung hanya berprofesi sebagai petani meneruskan jejak ayahnya yang telah lebih
dahulu menghadap Sang Pencipta di kala si sulung dan adik-adiknya masih kecil. Sementara
ibunya sudah tidak sanggup lagi bekerja di sawah.

Suatu ketika ada perbincangan antara janda tua tersebut dengan salah seorang pemuka desa.
Berikut potongan dari isi perbincangannya :

Pemuka Desa :Ibu, kenapa kok anak sulung ibu hanya bekerja sebagai petani, sementara adik-
adiknya telah sukses di kota menjadi dokter, insinyur dan pejabattinggi di ibu kota? Apakah ibu
tidak kasihan melihat si sulung yang tidak sukses seperti adik-adiknya?

Janda Tua:Oh, tentu tidak. Bagi saya si sulung adalah anak saya yang paling sukses. Karena
berkat jasa dia lah, anak-anak saya yang sekarang hidup di kota besar telah berhasil. Si sulung
lah yang telah membiayai sekolah adik-adiknya hingga lulus manjadi sarjana dan dapat hidup
mandiri.

Contoh Kasus Kedua :


Suatu ketika ada sebuah pesawat melintas di atas samudra yang luas. Karena cuaca sedang
tidak bersahabat, sehingga menyebabkan pesawat tersebut lepas kendali dan akhirnya jatuh ke
laut. Semua awak dan penumpangnya mati tenggelam kecuali seorang penumpang yang
berhasil selamat karena sebelum pesawat tersebut tercebur ke laut, dia secara tidak sengaja
terpental ke luar pesawat dan akhirnya terapung-apung selama beberapa hari di tengah
samudra. Sampai pada akhirnya dia terbawa ombak dan terdampar di sebuah pulau kecil tak
berpenghuni.

Setelah dia siuman, lalu berusaha mencari bantuan dengan berkeliling pulau tersebut tidak
memperoleh hasil, akhirnya dia memutuskan untuk bertahan hidup dengan makanan seadanya
di pulau tersebut. Dia membangun tempat tinggal dari dahan dan ranting seadanya. Dia makan
dari tumbuhan dan hewan laut sesuai kemampuan dia. Sampai akhirnya tidak terasa dia sudah
tinggal selama 5 tahun di pulau tersebut.

Selama masa bertahan hidup di pulau tersebut, dia tetap menjaga keseimbangan alam di mana
dia hidup. Dia tidak membunuh hewan yang memang tidak dapat dia makan atau mengganggu
dia. Dia tidak merusak bebatuan dan tidak pula menebang pohon jika dia tidak membutuhkan.
Bahkan dia bercocok tanam dari biji-bijian buah yang dia makan. Atau dengan perkataan lain,
dia selalu bersahabat dengan alam pulau tersebut. Sampai pada akhirnya, dia tutup usia di
pulau tersebut tanpa ditemani sahabat dan kerabat.

Dari kasus kedua ini, jika definisi sukses selalu berkaitan dengan keberhasilan dan
keberuntungan secara finansial, karir, dan keluarga, maka hidup orang yang terdampar seperti
di atas sangat jauh dari kata sukes. Namun jika dilihat dari sudut pandang keberhasilan dia
dalam memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya, maka orang ini dapat dipastikan
sebagai orang sukses.

Jadi, akhirnya kita bisa merasakan bahwa kita yang mungkin hanya bekerja sebagai kuli
bangunan, atau penyapu jalanan, juga bisa dikatakan sukses. Atau seorang tukang becak tapi
dia berhasil menyekolahkan anaknya hingga menjadi orang, juga bisa dikatakan telah sukses.
Sementara di sisi lain, seorang pejabat tinggi negara yang lengkap dengan kekayaanya, tapi dia
hanya membuat kesulitan atau melakukan korupsi, tanpa memberikan solusi bagi kehidupan
orang banyak, maka dia belum dapat dikatakan sukses.

Pada akhirnya, marilah kita bersama-sama berintrospeksi, apakah kita telah sukses? Apakah
kehidupan yang telah kita lalui selama ini telah memberikan banyak manfaat bagi lingkungan
kita, atau justru malah kita yang hanya mengharapkan manfaat dari lingkungan di mana kita
hidup.

 Menempatkan diri dari sisi anak saat merencanakan pembelajaran, kira-kira cukup
senangkah kita dengan gaya pembelajaran yang akan kita sajikan.
 Keberadaannya di kelas bukan sekedar memberi tugas lalu ditinggal pergi begitu saja

 Keberadaan nya lengkap di kelas baik jiwa maupun raganya artinya guru juga diharapkan
bisa memotivasi siswa nya saat pembelajaran aktif sedang berlangsung
 Mengurangi metode ceramah
 Menjadikan acara tanya jawab dengan siswa berlangsung informal. Artinya jadikan
situasi tanya jawab berlangsung disela-sela siswa berdiskusi dan mengerjakan tugas.
 Meningkatkan penggunaan metode kerja kelompok yang di dalamnya siswa berdiskusi
bertukar pendapat dan bereksperimen
 Memberikan tugas yang menantang (dan bukan yang sulit) pada siswa
 Bersedia berbagi dengan guru lainnya. Sekolah yang baik membuat kelas-kelas
paralelnya maju bersama lewat perencanaan bersama antar guru yang mengajar di kelas
yang sama. Buang keinginan menjadi kelas ‘favorit’
 Berkemauan keras mencari sumber belajar atau media belajar yang alternative dan minim
ongkos serta biaya
 Tips Sukses Menjadi Guru Profesional, Baik, dan Menyenangkan
 Home Informasi Pendidikan Tips Tips Sukses Menjadi Guru Profesional, Baik, dan Menyenangkan

 Tips Sukses Menjadi Guru Profesional,


Baik, dan Menyenangkan
 Guru adalah profesi yang sangat mulia. Profesi guru merupakan pondasi awal kemajuan sebuah
negara. Karena profesi gurulah yang melahirkan profesi-profesi yang lain. Misalnya seorang
dokter, menteri, dan bahkan presiden tak luput dari didikan seorang guru. Maka, berbanggalah
anda jika anda seorang guru. Meskipun sekadar menjadi seorang guru honorer kita harus
berbangga dengan profesi ini, walaupun gaji seorang guru honorer tidaklah seberapa.

 Menjadi guru yang profesional merupakan suatu dambaan setiap guru. Bagaimana menjadi guru
profeional yang baik dan menyenangkan bagi siswa? Tentu anda harus giat berlatih untuk
mengasah kemampuan anda agar menjadi guru profesional, baik dan meneyenangkan.

 Guru yang baik sangat disenangi oleh peserta didik, apakah anda termasuk guru yang baik di
sekolah? Bagaimana sih kriteria guru yang baik dan juga profesional itu?

 Tips Sukses Menjadi Guru Profesional, Baik, dan Menyenangkan


 Tidak mudah menjadi guru yang baik, menyenagkan, dikagumi dan dihormati oleh anak didik,
masyarakat sekitar dan rekan seprofesi. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru
untuk mendapat pengakuan sebagai guru yang baik dan berhasil.

 #1 Tampil dengan Prima


 Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan
diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau
buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa
bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

 #2 Bijaksana
 Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa siswa yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang
berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat
lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah
bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-
pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang
memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.
 #3 Selalu Ceria
 Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak
menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang
mengajar.

 #4 Kendalikan Emosi
 Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku
siswa. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emasinya. Siswa yang kita
ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan
berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya
memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat
suasana menjadi tidak enak, siswa menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar
siswa untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

 #5 Menjawab Pertanyaan
 Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa. Jangan memarahi siswa yang yang
terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa dengan baik.
Jika suatu saat ada pertanyaan dari siswa yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah
untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha
mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita
mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk
menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan
bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak
yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika siswa sudah tidak
beranibertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil.

 #6 Malu dan Takut


 Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi guru yang baik, maka seorang guru harus
memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan
perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita
lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan
lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau
tidak.

 #7 Bersabar
 Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-
semboyan mengagungkan profesi guru tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau
menyejahterakan kehidupan guru. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan
membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari
instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha
mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merigikan orang lain dan tidak merugikan diri
sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj
berlalu.”

 #8 Tidak Sombong
 Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri
sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan
siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di
muka orang banyak. Namun pangillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak
berbicara dan berlaku kasar pada siswa.

 #9 Adil
 Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada siswa. Jangan
membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang pandai/kurang mampu
Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang
pandai.

ETOS KERJA DAN PROFESIONALISME GURU

A. Pengertian Etos Kerja


Kata etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang mempunyai arti sebagai sikap, kepribadian,
watak, karakter serta keyakinan tertentu. Dari kata etos terambil pula kata “etika” dan “etis” yang hampir
mendekati kepada makna ahlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik-buruk (moral), sehingga dalam
etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal,
lebih baik, dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sempurna.1[1]

Berdasarkan kamus Webster (2007), “etos” didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi
sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok, atau institusi. Jadi, etos kerja dapat diartikan
sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar
yang mewujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka (Sinamo, 2002). Banyak tokoh lain yang
menyatakan defenisi dari etos kerja Salah satunya ialah Harsono dan Santoso (2006) yang menyatakan
etos kerja sebagai semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu. Hal ini sesuai
dengan pendapat Sukriyanto (2000) yang menyatakan bahwa etos kerja adalah suatu semangat kerja yang
dimiliki oleh masyarakat untuk mampu bekerja lebih baik guna memperoleh nilai hidup mereka. Etos kerja
menentukan penilaian manusia yang diwujudkan dalam suatu pekerjaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu
golongan sosial. Dan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, etos berarti watak dasar suatu masyarakat.

1[1] Toto Tasmara, Membudidayak


Etos lebih lanjut diartikan sebagai kesanggupan memecahkan persoalan atau permasalahan yang dihadapi
yang didalamnya terdapat cara pandang terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya, misalnya cara
pandang terhadap urusan dunia, pendidikan, pekerjaan dan yang lain-lain yang digeluti.2[2]

Sedangkan secara istilah para ahli memberikan pengertian beragam. Menurut Frans Magnis
Suseno, etos adalah semangat dan sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang sejauh didalamnya
termuat tekanan moral dan nilai-nilai moral tertentu. Clifford Gertez mengartikan etos sebagai sikap yang
mendasar terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup. Dengan demikian etos menyangkut semangat
hidup, termasuk semangat bekerja, menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan keterampilan agar
dapat membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan.3[3]

Istilah etos lebih lanjut diformulasikan oleh David C.Mc. Clelland dengan istilah virus mental yang
berupa dorongan untuk hidup sukses yang kemudian disingkat dalam istilah Need for Achievement yang
berarti dorongan kebutuhan untuk meraih sukses atau prestasi yang lebih baik daripada sebelumnya.
Clelland lebih lanjut menegaskan bahwa etos itu berhubungan erat dengan usaha atau tindakan untuk
melakukan sesuatu secara lebih baik dari waktu ke waktu yang sudah dilakukan secara lebih efisien, lebih
cepat, hemat, hemat tenaga dengan hasil yang memuaskan.

Adapun kerja menurut W.J.S Purwadarminta yaitu perbuatan melakukan sesuatu atau sesuatu
yang dilakukan (diperbuat). Sedangkan menurut Toto Tasmara, kerja adalah semua aktifitas yang
dilakukan karena adanya dorongan untuk mewujudkan sesuatu dan dilakukan karena kesengajaan
sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas
(Toto Tasmara, 2002, hlm 24-25)

Bekerja mempunyai tujuan mencapai hasil baik berupa benda, karya atau pelayanan kepada
masyarakat. Pada manusia terdapat kebutuhan-kebutuhan yang pada saatnya membentuk tujuan-tujuan
yang hendak dicapai. Tujuan yang hendak dicapai bukan hanya berkaitan dengan fisik saja, tetapi juga
berhubungan dengan mental (jiwa) seperti pengakuan diri, kepuasan, prestasi, dan lain-lain.

Dari berbagai kutipan diatas kita dapat melihat bahwa kata etos dan kerja atau pekerjaan memiliki
hubungan yang sangat erat. Kedua kata tersebut secara substansial mengandung arti pekerjaan. Dengan
demikian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa etos kerja adalah semangat kerja yang terlihat dalam
cara seseorang dalam menyikapi pekerjaan, motovasi yang melatar belakangi seseorang melakukan suatu
pekerjaan. Dalam arti lain etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa/umat terhadap
kerja.4[4]

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa etos kerja guru adalah
karakteristik yang khas yang ditunjukan seorang guru menyangkut semangat, dan kinerjanya dalam
bekerja (mengajar), serta sikap dan pandangannya terhadap terhadap kerja. Etos kerja guru dalam
pengertian lain yaitu sikap mental dan cara diri seorang guru dalam memandang, mempersepsi,
menghayati sebuah nilai dari kerja.

B. Ciri-ciri Etos Kerja


Untuk melihat apakah seseorang mempunyai etos kerja yang tinggi atau tidak dapat dilihat dari
cara kerjanya. Keberhasilan peserta didik didukung oleh keteladan guru dalam berikap dan kebiasaannya
dalam mengajar. Menurut Muhaimin, etos kerja seseorang yang tinggi dapat diketahui dari cara kerjanya
yang memiliki tiga ciri dasar. Tiga ciri dasar tersebut yaitu: menjunjung mutu pekerjaan, menjaga harga
diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.5[5]

Sedangkan menurut Bachtiar Hasan dalam Alinda, etos kerja memiliki ciri-ciri, antara lain:

a. Memiliki standar kemampuan dalam bidang profesional, yang diakui oleh kelompok atau organisasi
profesi itu sendiri.
b. Berdisiplin tinggi (taat kepada aturan dan ukuran kerja yang berlaku dalam profesi yang bersangkutan).
c. Selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya, melalui pengalaman kerja dan melalui media
pembelajaran lainnya.6[6]

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja


Guru yang mempunyai etos kerja yang tinggi akan meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.
Setiap guru harus memiliki etos kerja yang tinggi guna melahirkan berbagai prestasi yang bermanfaat bagi
dirinya, siswa, dan masyarakat.

Di dalam melaksanakan pekerjaannya akan terlihat cara dan motivasi yang dimiliki seorang guru,
apakah ia bekerja sungguh-sungguh atau tidak, bertanggung jawab atau tidak. Cara seorang menghayati
dan melaksanakan pekerjaannya ditentukan oleh pandangan, harapan dan kebiasaan dalam kelompok
kerjanya. Oleh karena itu etos kerja seseorang dapat dipengaruhi oleh etos kerja kelompoknya.

Adapun faktor yang dapat menunjang dan meningkatkan etos kerja guru, yaitu:

a. Adanya tingkat kehidupan yang layak bagi guru.


b. Adanya perlindungan dan ketentraman dalam bekerja.
c. Adanya kondisi kerja yang menyenangkan.
d. Pemberian kesempatan berpartisipasi dan keikutsertaan dalam menentukan kebijakan.
e. Pengakuan dan penghargaan terhadap jasa yang dilakukan.
f. Perlakuan yang adil dari atasan
g. Sarana yang menunjang kebutuhan mental dan fisik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi etos kerja guru dalam proses pembelajaran:

a. Faktor personal meliputi skill, kemampuan, dan kepercayaan diri.


b. Faktor kepemimpinan meliputi kualitas dalam memberikan semangat, dorongan, arahan, dan dukungan.
c. Faktor sistem meliputi sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang diberikan rekan dalam satu tim.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat menurunkan etos kerja guru menurut William B. Cester
dalam Whjo Sumidjo diantaranya; kesenjangan, pemberian penghargaan yang tidak efektif, ketiadaan
otoritas, supervisi yang tidak seimbang, karir tidak fleksibel, keusangan personil, rekruitmen dan usaha
seleksi yang tidak produktif, ketidakadilan pemberian tugas dan kesempatan promosi.7[7]

D. Hubungan Etos Kerja dengan Profesionalisme Guru


Etos kerja guru yaitu segenap motivasi dan kecerdasan yang menjadi sehimpun perilaku kerja
yang positif, cara kerja yang profesional, serta budi pekerti luhur di dalam maupun di luar ruang kerja
guru. 8[8] Etos kerja lebih merujuk kepada kualitas kepribadian pekerja yang tercermin melalui unjuk kerja
secara utuh dalam berbagai dimensi kehidupannya. Dengan demikian, etos kerja lebih merupakan kondisi
internal yang mendorong dan mengendalikan perilaku pekerja ke arah terwujud kualitas kerja yang ideal.
Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan
kemampuannya secara terus menerus dan memiliki sistem budaya yang mampu memberikan pelayanan
yang memuaskan bagi yang dilayani.9[9] Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional, dan
profesional berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok yang disebut profesi, artinya pekerjaan
tersebut bukan pengisi waktu luang atau sebagai hobi belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan dan
isme sebagai pandangan hidup, maka profesionalisme dapat diartikan sebagai pandangan untuk selalu
berfikir, berpendirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, kerja keras, bekerja sepenuh waktu,
disiplin, jujur, loyalitas tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasilan pekerjaannya.

Tugas utama guru adalah sebagai pendidik profesional dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74
Tahun 2008 dalam Bab I, Pasal 1, Ayat (1) dikatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Edharmayati (2010), etos kerja memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap profesionalitas. Hubungan antara etos kerja dengan profesionalisme guru adalah
berbanding lurus, sehingga apabila seorang guru memiliki etos kerja yang tinggi maka guru tersebut
memiliki tingkat profesionalisme yang tinggi pula. Dari hasil penelitian tersebut, penulis berasumsi bahwa
etos kerja memiliki hubungan yang kuat terhadap kinerja, karena profesionalitas merupakan bagian dari
kemampuan dan kemampuan merupakan komponen dari kinerja.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yuyun, dkk (2013) mengenai pengaruh gaya
kepemimpinan kepala sekolah dan etos kerja guru terhadap kinerja guru menghasilkan bahwa etos kerja
guru berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja guru, sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan
etos kerja guru juga akan menyebabkan tingginya kinerja guru, begitu pula sebaliknya apabila etos kerja
guru menurun maka kinerja guru juga akan menurun. Etos kerja guru ini sangat berpengaruh terhadap
kinerja guru itu sendiri karena etos kerja guru merupakan sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran
sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Etos kerja mempunyai dasar dari
nilai budaya, yang mana dari nilai budaya itulah yang membentuk etos kerja masing-masing pribadi yang
mampu mempengaruhi kinerja dari diri pribadi itu sendiri. Pada penelitian ini, dikarenakan nilai korelasi
antara kinerja guru dengan etos kerja guru nilainya lebih besar daripada nilai korelasi kinerja guru dengan
gaya kepemimpinan kepala sekolah, maka variabel etos kerja lebih berpengaruh terhadap kinerja guru
daripada variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah. Hal ini terjadi karena etos kerja guru lebih
berhubungan dengan pribadi guru itu sendiri sehingga lebih mempengaruhi kinerja guru tersebut
daripada gaya kepemimpinan kepala sekolah yang berlainan pihak dengan guru tersebut.
Jadi dari beberapa penelitian di atas, terdapat hubungan berbanding lurus antara etos kerja
dengan profesionalisme guru dan kinerja guru. Sehingga apabila seorang guru memiliki etos kerja yang
tinggi maka profesionalisme dan kinerja guru akan tinggi, begitupula sebaliknya.

E. Kiat Meningkatkan Etos Kerja dan Profesionalisme Guru


Etos kerja guru dapat ditingkatkan terutama dengan adanya motor penggerak sekolah yaitu
kepala sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja guru. Adapun
cara meningkatkan etos kerja guru yang dilakukan oleh kepala sekolah:
a. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan
produktif.
b. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu.
c. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru di sekolah.
d. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Alex Nitisemito, ada sebelas cara yang dilakukan untuk meningkatkan etos
kerja, yaitu:

1. Memberikan gaji/upah yang cukup


Jumlah gaji yang diberikan mempunyai pengaruh terhadap semangat dan kegairahan kerja. Semakin
besar gaji yang diberikan guru-guru akan mendapat ketenangan dan semangat dalam melaksanakan
tugasnya.
2. Memperhatikan kebutuhan rohani
Selain kebutuhan gaji, kebutuhan rohani meliputi: kebutuhan untuk dihargai, berpatisipasi,
ketentraman jiwa, beribadah dan lain-lain.
3. Menciptakan suasana santai dan nyaman
Suasana kerja yang rutin sering menimbulkan ketegangan, kebosanan, dan kelelahan. Oleh karena
itu hendaknya diciptakan suasana santai pada waktu tertentu, misalnya saat bersosialisasi dan
berkomunikasi dengan rekan sejawat.
4. Memperhatikan harga diri
Menjaga harga diri guru salah satunya dengan mengajaknya berunding dalam menetapkan
kebijakan. Selain itu, setiap guru diberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang sesuai agar merasa
dihargai.
5. Menempatkan pada posisi yang tepat (sesuai bidangnya)
Posisi yang tepat atau sesuai dengan bidangnya akan membuat guru menjadi lebih menguasai
materi dan situasi dalam mengajar.
6. Memberikan kesempatan untuk maju
Pimpinan memberikan kesempatan dan memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi.
Dukungan dari lingkungan sekitar juga dibutuhkan untuk kemajuan dan prestasi kelak.
7. Memberikan rasa aman untuk menghadapi masa depan
Semangat dan gairah guru akan terpupuk jika mereka mempunyai perasaan aman terhadap masa
depan profesi mereka. Tunjangan kesehatan, maslahat tambahan, dan program pension dapat
memberikan rasa aman kepada guru.
8. Mengupayakan guru mempunyai loyalitas
Loyalitas guru terhadap sekolah dapat menimbulkan tanggung jawab dan menciptakan gairah dan
semangat kerja.
9. Ikut berpartisipasi dalam menetapkan kebijakan
Dengan melibatkan guru dalam penetapan kebijakan di sekolah akan menimbulkan rasa tanggung
jawab guru sehingga semangat dan kegairahan kerja meningkat.
10. Memberikan intensif yang terarah
Pemberian intensif yang terarah dapat meningkatkan semangat seseorang dalam bekerja dan
dengan demikian guru akan meningkatkan mutu kualitasnya dengan baik.
11. Memberikan fasilitas yang memadai
Fasilitas yang memadai juga dapat memacu semangat dalam bekerja, walau baaimanapun fasilitas
yang mendukung memberikan pengaruh terhadap sikap guru dalam mengajar.10[10]

Pengertian Etos Kerja Guru

Etos berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak,

karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi oleh

kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya, serta

sistem nilai yang diyakininya.

Dari kata Etos ini, dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian

akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut

terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih

baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.

Dalam etos tersebut, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatu dan

menghindari segala kerusakan (fasad), sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi

bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari hasil pekerjaanya (no single defect).

Dan dari literatur lain juga disebutkan bahwa etos berarti ciri, sifat atau kebiasaan, adat

istiadat, atau juga kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang, suatu

golongan atau suatu bangsa (Mochtar Buchori, 1994). Dari kata etos terambil pula kata etika dan

etis yang mengacu kepada akhlak atau bersifat akhlaki, yakni kualitas esensial seseorang atau

kelompok, termasuk suatu bangsa (Muhaimin, 1998).

Jadi etos kerja guru dapat berarti ciri-ciri atau sifat (karakteristik) mengenai cara bekerja,

yang sekaligus mengandung makna kualitas esensialnya, sikap dan kebiasaanya serta

pandangannya terhadap kerja yang dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan dan
mengembangkan kegiatan pendidikan disekolahan dan menurut Toto Tasmara, bahwa etos kerja

adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, menyakini, dan

memberikan makna pada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang

optimal (high performance).

Sedangkan etos kerja dalam pandangan islam menyebutkan bahwa etos kerja muslim dapat

didefinisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa

bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga

sebagai suatu manifestasi dari amal saleh yang mempunyai nilai ibadah yangsangat luhur,

sebagaimana dalam Q.S Al kahfi: 110

“Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal

yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadah dengan sesuatu

apapun”. (Al Kahfi: 110)

Dari Ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau

kerja (praksis), inti ajarannya adalah bahwa seorang hamba itu dekat dan memperoleh ridho dari

Allah melalui bekerja atau amal salehnya dan dengan memurnikan sikap penyembahan hanya

kepada-Nya. Hal ini juga mengandung makna bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan

orientasi kerja (achievement orientation), sebagaimana juga dinyatakan dalam ungkapan bahwa

“penghargaan dalam islam berdasarkan amal” (Nurcholis Madjid, 1995) .

Tinggi atau rendahnya derajat taqwa seseorang juga sangat ditentukan oleh prestasi kerja

atau kualitas amal saleh sebagai aktualisasi dari potensi imannya. Oleh karena itu nilai- nilai

mendasar yang terkandung dalam ajaran islam tersebut hendaknya menjadi pandangan hidup

muslim yang seharusnya lebih menghargai dan concern terhadap kualitas proses dan produk kerja

ketimbang bersikap dan bekerja apa adanya untuk sekedar melaksanakan tugas dan kewajiban
yang bersifat rutinitas. Dan nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi kekuatan (pedorong) serta

sumber inspirasi bagi umat islam pada umumnnya dan para pendidik khususnya dalam upaya

peningkatan dan pengembangan kualitas pendidikan di sekolahan.

ETOS KERJA GURU

1. Pengertian Etos Kerja

“Etos” dari sudut pandang bahasa berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang bermakna watak

atau karakter. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:271) makna lengkap “etos” adalah

“karakteristik, sikap, kebiasaan, kepercayaan, dan seterusnya, yang bersifat khusus tentang

individu atau sekelompok manusia”. Dalam Webster’s News World Dictionary of the American

Languange (1980) dikemukakan istilah “etos” berhubungan dengan “etika”, “etis”, yakni “kualitas

esensial seseorang atau suatu kelompok atau organisasi.” Sedangkan (Echols dan Shadily

1994;219) mengartikan “etos” sebagai jiwa khas suatu kelompok manusia. Berdasarkan jiwa yang

khas itulah berkembang pandangan seseorang individu atau kelompok (organisasi) tentang sesuatu

yang baik dan sesuatu yang buruk.

Etos kerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993:271) diartikan sebagai “semangat

kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesuatu kelompok”. Dalam pengertian

seperti inilah, maka negara industri baru (INC = Newly Industrializing Countries) seputas

Indonesia, yaitu Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapore, seringkali disebut sebagai

“Little Dragong” (naga-naga kecil). Maksudnya, NIC adalah negara konfusionis, yaitu penganut

ajaran Kong Hu Cu, dengan naga sebagai binatang mitologis dalam sistem kepercayaan mereka.

Dengan ungkapan lain, sebutan itu menunjukkan anggapan bahwa NIC menjadi maju adalah

berkat ajaran atau etika Kong Hu Cu. Dengan begitu, maka untuk kemajuan negara-negara tersebut

; Kreditan, pujian, dan penghargaan diberikan kepada ajaran-ajaran Kong Hu Cu, dengan

pandangan yang hampir memastikanbahwa negara-negara itu maju karena ajaran filsuf Cina itu.

Selanjutnya kesimpulanpun dibuat bahwa etika Kong Hu Cu memang relevan, bahwa begitu

mendukung bagi usaha-usaha modernisasi dan pembangunan bangsa industrial (Tu Wei-Ming

1984:20). Disisi lain ternyata etos kerja sangat sarat dengan persoalan sikap yang ada pada
seseorang dalam melakukan kerjanya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Myrdal (dalam

Soebagio Atmowirio, 2000:214) bahwa etos kerja adalah sikap kehendak seseorang yang

diekspresikan lewat semangat yang didalamnya termuat tekanan-tekanan moral dan nilai-nilai

tertentu. Myrdal lebih jauh mengemukakan pula bahwa etos kerja merupakan sikap yang diambil

berdasarkan tanggung jawab moralnya :

a) kerja keras

b) efisiensi

c) kerajinan

d) tepat waktu

e) prestasi

f) energetic

g) kerja sama

h) jujur

i) loyal

Etos kerja yang jelas menggambarkan hal-hal yang bersifat normatif sebagai sikap kehendak

yang dituntut agar dikembangkan. Tindak lanjut dari etos kerja ini yaitu meningkatnya kualitas

kerja para guru sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam setiap semester maupun periode

tahunan.

Berdasarkan batasan diatas, etos kerja guru dapat dijadikan sebagai suatu pokok pikiran

utama dalam dunia pendidikan yang ada di Indonesia, dimana etos kerja guru tersebut dalam suatu

organisasi sekolah mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas proses

pelaksanaan tugas pembelajaran disatuan pendidikan sekolah. Dengan demikian, upaya untuk

meningkatkan mutu pendidikan dapat dicapai. Dengan begitu bangsa Indonesia dapat

mensejajarkan dirinya dengan bangsa-bangsa maju lainnya dikawasan Asia khususnya dan dunia

pada umumnya.

Etos kerja guru yang tinggi akan banyak menentukan keberhasilan usaha dan proses

pembelajaran di sekolah. Karena itu, masalah tersebut menarik untuk diperhatikan dan dianalisis

dalam suatu organisasi sekolah yang didalamnya menyangkut berbagai keputusan termasuk

keputusan para guru itu sendiri. Mengenai etos kerja ini, Soebagio Atmowirio (2000:232)
mengemukakan bahwa “etos kerja merupakan pandangan dan sikap seseorang dalam menilai apa

arti kerja sebagai bagian dari hidup dalam rangka meningkatkan kehidupannya”. Selanjutnya

Soebagio Admowirio (2000:233) secara lebih spesifik menjelaskan pengertian etos kerja sebagai

berikut : “Etos kerja adalah landasan untuk meningkatkan prestasi kerja/kinerja setiap Pegawai

Negeri Sipil (PNS)”. Mengacu pada batasan tersebut, maka etos kerja guru dalam menjalankan

tugasnya disekolah. Dalam hal ini etos kerja guru dipandang dari segi pelaksanaan tugas-tugas

profesionalisme.

2. Etos Kerja Guru

Dalam upaya meningkatkan etos kerja guru, menurut Wahjosumidjo (1999:92), bahwa

“kepala sekolah adalah seorang yang dapat menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah”. Jika

kepala sekolah cakap maka tentunya akan besar perhatiannya pada etos kerja baik yang

menyangkut guru maupun peserta didik sejak masuk sekolah sampai dengan kembali kerumah

masing-masing. Kepala sekolah juga berpikir dan berusaha bagaimana guru merasa nyaman di

sekolah, senang dalam bekerja dan memperoleh kesejahteraan yang memadai.

Sejalan dengan itu Sergiovanni (1987:269), menyebutkan: “School Improvement requires a

strong commitment from the principle”. Pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa

perbaikan sekolah itu sesungguhnya berada pada komitmen kuat kepala sekolah. Oleh sebab itu

kepala sekolah juga di tuntut untuk memiliki kemampuan, terampil, cerdas untuk mewujudkan

iklim kerja yang sehat, sehingga akan tercipta etos kerja pada guru di sekolah. Jika iklim suatu

organisasi dapat merangsang iklim kerja, tersedia sarana dan prasarana yang memadai bagi para

guru dan peserta didik, maka iklim kerja yang demikian akan memberikan sumbangan yang besar

bagi peningkatan etos kerja guru.

Disamping itu, guru sangat memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Terbukti bahwa peran dan fungsi guru di dalam proses belajar mengajar masih sangat dominan.

Dengan demikian agar tujuan pendidikan dapat berhasil baik dan optimal sangat tergantung pada

peran guru.

Dalam meningkatkan etos kerja, guru senantiasa diperhadapkan pada peningkatan kualitas

pribadi dan sosialnya. Jika hal ini dapat dipenuhi maka keberhasilan lebih cepat diperoleh, yaitu

mampu melahirkan peserta didik yang berbudi luhur, memiliki karakter sosial dan profesional
sebagaimana yang menjadi tujuan pokok pendidikan itu sendiri. Menurut Thoifuri (2007:3-4),

bahwa karakter pribadi dan sosial bagi guru dapat diwujudkan sebagai berikut:

1) Guru hendaknya pandai, mempunyai wawasan luas.


2) Guru harus selalu meningkatkan keilmuannya.
3) Guru meyakini bahwa apa yang disampaikan itu benar dan bermanfaat.
4) Guru hendaknya berpikir obyektif dalam menghadapi masalah.
5) Guru hendaknya mempunyai dedikasi, motivasi dan loyalitas.
6) Guru harus bertanggung jawab terhadap kualitas dan kepribadian moral.
7) Guru harus mampu merubah sikap siswa yang berwatak manusiawi.
8) Guru harus menjauhkan diri dari segala bentuk pamrih dan pujian.
9) Guru harus mampu mengatualisasikan materi yang disampaikan.
10) Guru hendaknya banyak inisiatif sesuai perkembangan iptek.

Karakter guru tersebut di atas merupakan ciri kehidupan seorang guru yang amat

fundamental dan dengan keprofesionalan guru itulah akan terjadi motivasi, dinamisasi dan

demokratisasi pemikiran yang akan mengarah kepada kreaktivitas yang konstruktif dalam

menciptakan etos kerja di masa kini dan masa yang akan datang. Untuk mewujudkan semua itu

tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak termasuk dari masyarakat.

Pada tataran implementasi etos kerja guru dapat terlihat dalam kegiatan guru pada saat

pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, itulah sebabnya untuk mengukur efektifitas etos kerja guru

perlu mengkomparasikan dengan kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah yang cakap

tentunya akan menaruh perhatian pada etos kerja bawahannya.

Salah satu teori berkaitan dengan peningkatan etos kerja sebagaimana yang dikemukan oleh

Mitchel,T.R dan Larson (1987:343) bahwa indikator-indikator atau ukuran-ukuran kinerja guru

meliputi :

a) kemampuan

b) prakarsa/inisiatif

c) ketepatan waktu

d) kualitas hasil kerja

e) komunikasi.
A. Kemampuan Guru

Broke dan Stoine (dalam Wijaya & Rusyan 1992:7-8), menjelaskan bahwa kemampuan

merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru atau tenaga kependidikan yang tampak

sangat berarti. Sedangkan Robins,1998:46 (dalam Sitio 2006), mendefinisikan kemampuan

adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.

Charles E. Jhonsons et al (1974:3) (dalam Wijaya dan A. Tabrani Rusyan 1992:8),

mendefinisikan bahwa kemampuan merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang

dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kemampuan merupakan salah satu hal

yang harus dimiliki dalam jenjang apapun karena kemampuan memiliki kepentingan tersendiri dan

sangat penting untuk dimiliki oleh guru. Berhasil tidaknya pendidikan pada sebuah sekolah salah

satu komponennya ialah guru itu sendiri.

B. Inisiatif Guru

Menurut kamus Bahasa Besar Indonesia inisiatif berarti usaha sendiri, langkah awal, ide

baru. Berinisiatif berarti mengembangkan dan memberdayakan sektor kreatifitas daya pikir

manusia, untuk merencanakan idea atau buah pikiran menjadi konsep yang baru yang pada

gilirannya diharapkan dapat berdaya guna dan bermanfaat.

Manusia yang berinisiatif adalah manusia yang tanggap terhadap segala perkembangan yakni

manusia yang pandai membaca, menghimpun dan meneliti, manusia yang inisiatif juga dapat

memanfaatkan setiap peluang di setiap pergantian waktu, dan menjadikannya sebagai kreasi yang

berarti.

Keistimewaan dari inisiatif ini sendiri yaitu mampu mencermati kreasi Tuhan, selanjutnya

menjadikan bahan renungan atau kreatifitas berpikir dalam semua waktu dan tempat, kemudian

membuat kreasi baru (karya baru) atau berinisiatif memproduksi semua potensi menjadi berdaya

guna.

C. Ketepatan Waktu Kerja

Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, sebelum masuk dalam sebuah organisasi pendidikan

seorang guru tentu mempunyai aturan, nilai dan norma sendiri, yang merupakan proses sosialisasi

dari keluarga atau masyarakatnya. Seringkali terjadi aturan, nilai dan norma diri yang tidak sesuai

dengan aturan-aturan sekolah yang ada. Hal ini menimbulkan konflik sehingga orang mudah
tegang, marah, atau tersinggung apabila orang terlalu menjunjung tinggi salah satu aturannya.

Misalnya, seorang guru yang selalu tepat waktu mengajar sementara itu iklim di sekolah kurang

menjunjung tinggi nilai-nilai penghargaan terhadap waktu. Jika guru tersebut memegang teguh

prinsip-prinsipnya sendiri, ia akan tersisih dari teman sekerjanya. Demikian sebaliknya, jika ikut

arus maka ia akan mengalami stres, oleh karenanya ia harus menyesuaikan diri; tidak ikut arus,

tetapi juga tidak kaku. Ia jika perlu mempelopori kepatuhan terhadap waktu kepada teman

sejawatnya.

Ketepatan waktu dalam melaksanakan tugas diartikan sebagai sikap seseorang atau

kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya

dengan pekerjaan, pengertian ketepatan waktu atau disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah

laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi. Niat untuk mentaati

peraturan menurut Suryohadiprojo (1989:65) merupakan suatu kesadaran bahwa tanpa didasari

unsur ketaatan, tujuan organisasi tidak akan tercapai. Hal itu berarti bahwa sikap dan perilaku di

dorong adanya kontrol diri yang kuat. Artinya,sikap dan perilaku untuk mentaati peraturan

organisasi muncul dari dalam dirinya. Niat juga dapat diartikan sebagai keinginan untuk berbuat

sesuatu atau kemauan untuk menyesuaikan diri dengan aturan-aturan. Sikap dan perilaku dalam

disiplin kerja ditandai oleh berbagai inisiatif, kemauan, dan kehendak untuk mentaati peraturan.

Artinya, orang yang dikatakan mempunyai disiplin yang tinggi tidak semata-mata patuh dan taat

terhadap peraturan secara kaku dan mati, tetapi juga mempunyai kehendak (niat).

D. Kualitas Hasil Kerja Guru

Pengertian kualitas hasil kerja disebut juga sebagai kinerja atau dalam bahasa Inggris disebut

dengan performance. Pada prinsipnya, ada istilah lain yang lebih menggambarkan pada “kualitas”

atau “prestasi” dalam bahasa Inggris yaitu kata “achievement”. Tetapi karena kata tersebut berasal

dari kata “to achieve” yang berarti “mencapai”, maka dalam bahasa Indonesia sering diartikan

menjadi “pencapaian” atau “apa yang dicapai”. (Ruky, 2001:15). Menurut Hasibuan (1990),

prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas

yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan, serta

waktu.
Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa kualitas kerja lebih menekankan pada hasil atau

yang diperoleh dari sebuah pekerjaan sebagai kontribusi pada sekolah atau standar pencapaian

hasil akhir dari guru-guru yang ada di sekolah dalam memnuhi kebutuhan dari peserta didik. Untuk

meningkatkatkan kualitas hasil kerja tentunya dipengaruhi oleh faktor organisasional (sekolah)

dan factor personal.

Faktor organisasional meliputi sistem imbal jasa, kualitas pengawasan, beban kerja, nilai dan

minat, serta kondisi fisik dari lingkungan kerja. Diantara berbagai faktor organisasional tersebut,

faktor yang paling penting adalah faktor sistem imbal jasa, dimana faktor tersebut akan diberikan

dalam bentuk gaji, bonus, ataupun promosi. Selain itu, faktor organisasional kedua yang juga

penting adalah kualitas pengawasan (supervision quality), dimana seorang bawahan dapat

memperoleh kepuasan kerja jika atasannya lebih kompeten dibandingkan dirinya.

Sementara faktor personal meliputi ciri sifat kepribadian (personality trait), senioritas, masa

kerja, kemampuan ataupun keterampilan yang berkaitan dengan bidang pekerjaan dan kepuasan

hidup. Untuk faktor personal, faktor yang juga penting dalam mempengaruhi prestasi kerja adalah

faktor status dan masa kerja. Pada umumnya, orang yang telah memiliki status pekerjaan yang

lebih tinggi biasanya telah menunjukkan prestasi kerja yang baik. Status pekerjaan tersebut dapat

memberikannya kesempatan untuk memperoleh masa kerja yang lebih baik, sehingga

kesempatannya untuk semakin menunjukkan prestasi kerja juga semakin besar.

Di samping itu juga prestasi kerja seseorang tergantung juga dari kesempatan, kapasitas, dan

kemauan untuk melakukan prestasi. Kapasitas terdiri dari usia, kesehatan, keterampilan,

inteligensi, keterampilan motorik, tingkat pendidikan, daya tahan, stamina, dan tingkat energi.

Kemauan terdiri dari motivasi, kepuasan kerja, status pekerjaan, kecemasan, legitimasi, partisipasi,

sikap, persepsi atas karakteristik tugas, keterlibatan kerja, keterlibatan ego, citra diri, kepribadian,

norma, nilai, persepsi atas ekspektasi peran, dan rasa keadilan. Sedangkan kesempatan meliputi

alat, material, pasokan, kondisi kerja, tindakan rekan kerja, perilaku pimpinan, mentorisme,

kebijakan, peraturan, prosedur organisasi, informasi, waktu, serta gaji yang didapatkan.

E. Komunikasi Guru

Komunikasi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan kerja. Hal ini mudah

dipahami sebab komunikasi yang tidak baik bisa mempunyai dampak yang luas terhadap
kehidupan organisasi, misalnya konflik antar guru, dan sebaliknya komunikasi yang baik dapat

meningkatkan saling pengertian, kerjasama dan juga kepuasan kerja. Mengingat yang bekerjasama

dalam suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan merupakan sekelompok sumber daya

manusia dengan berbagai karakter, maka komunikasi yang terbuka harus dikembangkan dengan

baik. Dengan demikian masing-masing pegawai dalam organisasi mengetahui tanggung jawab dan

wewenang masing-masing. Guru-guru yang mempunyai kompetensi komunikasi yang baik akan

mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerjanya

menjadi semakin baik. Komunikasi memegang peranan penting di dalam menunjang kelancaran

aktivitas pegawai di sekolah. Adapun komunikasi yang di bangun di sekolah ini antara lain:

a. Komunikasi ke bawah (downward communication) atau komunikasi kepala sekolah dengan para

guru dan staf tata usaha.

Yaitu komunikasi yang datang dari kepala sekolah SMP Negeri 5 Bitung kepada seluruh

warga sekolah dan bersifat intern. Seperti instruksi tugas, rasionalisasi pekerjaan, informasi,

idiologi, dan balikan.

b. Komunikasi keatas (upward communication) atau komunikasi guru dan karyawan kepada kepala

sekolah.

Adalah arus komunikasi yang bergerak dari bawah keatas. Pesan yang disampaikan antara

lain laporan pelaksanaan pekerjaan, keluhan guru, sikap dan perasaan guru tentang kendala yang

dihadapi pada proses kegiatan belajar mengajar, pengembangan media pembelajaran, informasi

tentang pembagian jadwal mengajar dan hasil yang dicapai oleh siswa, dll.

c. Komunikasi Horisontal (horizontal comunication)

Komunikasi yang di bangun di antara para guru-guru mata pelajaran, guru kelas dalam

rangka kerja yang sama demi untuk meningkatkan hasil belajar siswa serta kemajuan sekolah.

3. Fungsi dan Manfaat Etos Kerja Guru

Pada umumnya berbicara etos kerja sangat terkait dengan peningkatan kualitas kerja

seseorang dalam suatu kekuatan. Itulah sebabnya, menurut Soebagio Atmowirio sebagaimana

dikemukakan diatas mengatakan bahwa etos kerja itu merupakan landasan untuk meningkatkan

unjuk kerja guru. Etos kerja dengan demikian berfungsi secara fundamental sebagai landasan

pencapaian unjuk kerja yang tinggi.


Dalam hal etos kerja ini, Triguno (2002:9) menyatakan bahwa “program peningkatan etos

(budaya) kerja memiliki arti yang sangat fundamental bagi setiap organisasi, karena akan merubah

sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas kerja atau unjuk kerja yang

lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan”. Lanjut Triguno, manfaat yang didapat dari

membudayanya etos kerja antara lain sebagai berikut: menjamin hasil kerja dengan kualitas yang

lebih baik, membuka seluruh jaringan komunikasi, keterbukaan, kebersamaan, kegotong-

royongan, kekeluargaan, menemukan kesalahan dan cepat memperbaiki, cepat menyesuaikan diri

dengan perkembangan dari luar (faktor eksternal seperti pelanggan, teknologi, sosial, ekonomi,

dan lain-lain), mengurangi laporan berupa data-data dan informasi yang salah dan palsu. Selain

manfaat diatas, etos kerja yang tinggi pada dasarnya akan menjadikan tingkat efesiensi dalam

melakukan pekerjaan tinggi, kerajinan meningkat atau tingkat absensi kurang, sikap tepat waktu

atau disiplin, bersedia untuk melakukan perubahan atau fleksibel, kegesitan dalam

mempergunakan kesempatan-kesempatan yang muncul, siap bekerja, dan sikap bekerjasama.

Hal diatas senada dengan Triguno (2002:9) yang menyatakan bahwa terciptanya etos kerja

yang tinggi yang disebutnya sebagai budaya kerja akan meningkatkan kepuasan kerja, pergaulan

yang lebih akrab, disiplin meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan berkurang

(efisien), tingkat absensi turun, ingin belajar terus, ingin memberikan yang terbaik bagi organisasi

dan lain-lain.

Selanjutnya Wolseley & Campbell (dalam Triguno, 2002: 9-10) menyatakan sebagai berikut :

1) Orang yang terlatih melalui kelompok budaya kerja akan menyukai kebebasan, pertukaran

pendapat, terbuka bagi gagasan-gagasan baru dan fakta baru dalam usahanya untuk mencari

kebenaran, mencocokkan apa yang ada padanya dengan kedahsyatan dan daya imajinasi seteliti

mungkin dan seobjektif mungkin.

2) Orang yang terlatih dalam kelompok budaya kerja akan memecahkan permasalahan sebara

mandiri dengan bantuan keahliannya berdasarkan metode ilmu pengetahuan, dibangkitkan oleh

pemikiran yang kritis kreatif, tidak menghargai penyimpangan akal bulus dan pertentangan.

3) Orang yang terdidik melalui kelompok budaya kerja berusaha menyesuaikan diri antara kehidupan

pribadinya dengan kebiasaan sosialnya, baik nilai-nilai spiritual maupun standar-standar etika

yang fundamental untuk menyerasikan kepribadian dan moral karakternya.


4) Orang yang terdidik dalam kelompok budaya kerja mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan

umum dan keahlian-keahlian khusus dalam mengelola tugas atau kewajiban dan bidangnya,

demikian juga dengan hal berproduksi dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.

5) Orang yang terlatih dalam kelompok budaya kerja akan memahami dan menghargai

lingkungannya seperti alam, ekonomi, sosial, politik, budaya dan menjaga kelestarian sumber-

sumber alam, memelihara stabilitas dan kontinuitas masyarakat yang bebas sebagai suatu kondisi

yang harus ada.

6) Orang yang terlatih dalam kelompok budaya kerja berpartisipasi dengan loyal kepada kehidupan

rumah tangganya, sekolah, masyarakat dan bangsanya, penuh tanggung jawab sebagai manusia

merdeka dengan mengisi kemerdekaannya, serta memberi tempat secara berdampingan kepada

oposisi yang bereaksi dengan yang memegang kekuasaan sebaik mungkin.

Dari keenam manfaat budaya kerja atau etos kerja sebagaimana dikemukakan Wolseley &

Campbell di atas, jelaslah bahwa peningkatan etos kerja ini menjadi mutlak sekaligus pilihan

orientasi bangsa kini dan dimasa depan. Hal ini penting, mengingat bahwa bangsa Indonesia

memang menderita kelemahan etos kerja (Louis Kraar dalam majalah Reader’s Digest edisi

1988:44), keberhasilan Jepang, Cina dan Korea, misalnya dalam membangun perekonomian

mereka adalah karena etos kerja yang memiliki bangsa-bangsa itu tinggi. Artinya etos kerja

memberikan manfaat yang signifikan terhadap pencapaian prestasi kerja atau untuk unjuk kerja

guru tinggi dan berkualitas.

4. Langkah-langkah Pengembangan Etos Kerja Guru

Pengembangan etos kerja pada dasarnya merupakan suatu upaya yang bersifat wajib

dilakukan oleh setiap guru, kepala sekolah maupun staf administrasi. Usaha untuk

mengembangkan etos kerja guru terfokus pada peningkatan produktifitas mengajar yang dilakukan

oleh guru di sekolah. Secara umum menurut Triguno (2002: 141-142) upaya yang harus ditempuh

dalam pengembangan etos kerja tersebut adalah sebagai berikut :

1) Peningkatan produktifitas melalui penumbuhan etos kerja.Tumbuhnya etos kerja akan

memberikan suatu formulasi baru dalam meningkatkan potensi pribadi yang dimiliki oleh setiap

guru di jenjang pendidikan formal.


2) Sistim pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan yang memerlukan berbagai

keahlian dan ketrampilan yang dapat meningkatkan kreativitas, produktivitas, kualitas, dan

efisiensi kerja.

3) Dalam melanjutkan dan meningkatkan pembangunan khususnya dalam bidang pendidikan

sebaiknya nilai budaya Indonesia terus dikembangkan dan dibina guna mempertebal rasa harga

diri dan nilai pendidikan sangat dibutuhkan dalam mengedepankan etos kerja para guru yang ada

di lembaga pendidikan.

4) Disiplin nasional harus terus dibina dan dikembangkan untuk memperoleh sikap mental manusia

yang produktif.

5) Menggalakkan partisipasi masyarakat, meningkatkan dan mendorong agar terjadi perubahan

dalam masyarakat tentang tigkah laku, sikap serta psikologi masyarakat. Dampak dari etos kerja

para guru yang ada dalam suatu lembaga pendidikan formal tidak lain adalah sebagaimana paparan

tersebut diatas. Contoh yang positif terhadap masyarakat tentang cara dalam meningkatkan etos

kerja yang diharapkan.

6) Menumbuhkan motifasi kerja, dari sudut pandang pekerja, kerja berarti pengorbanan, baik itu

pengorbanan waktu senggang atau kenikmatan hidup lainnya, semantara itu upah merupakan ganti

rugi dari segala pengorbanannya itu. Bagi guru, dimensi seperti yang diharapkan diatas sangat

memberi peluang yang besar dalam meningkatkan etos kerjanya.

Upaya-upaya pengembangan etos kerja diatas paling tidak harus terus dilakukan secara

teratur dan berkesinambungan untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Tanpa dilakukan secara

teratur, mustahil suatu jenis pekerjaan dapat memberikan suatu peningkatan hasil dan kondusifitas

pekerjaan dapat berjalan dengan baik. Upaya seperti ini perlu direalisasikan apabila tujuan-tujuan

yang telah disepakati tercapai dalam suatu tatanan pekerjaan dalam rangka membentuk sikap

mental dan etos kerja lebih bersifat produktif. Relefansi peningkatan etos kerja guru ini karena

sekolah sebagai organisasi yang melibatkan tenaga kerja manusia, khususnya dalam meningkatkan

produktifitas kerja sesuai dengan target waktu dan usaha yang ditetapkan oleh setiap sekolah

sebagai sebuah organisasi.

Suatu hal yang menarik jika dicermati secara serius, bahwa lembaga pendidikan sekarang ini

sangat antusias untuk mengubah tatanan kerja yang kurang kondusif, menjadikan sekolah sebagai
lembaga yang benar-benar kondusif dengan etos kerja anggota organisasinya yang ideal

sebagaimana batasan yang dikemukakan diatas. Langkah-langkah seperti itu merupakan suatu

upaya untuk meningkatkan etos kerja seorang guru sebagai pekerja pendidikan. Bagi guru, etos

kerja bukan hal yang baru, sebab etos kerja sudah merupakan tuntutan profesionalisme seorang

guru. Etos kerja yang tinggi sudah harus menjadi komitmen guru ketika dia harus mengabdikan

dirinya dalam suatu kegiatan mengajar, mendidik dan memimpin, serta mengelolah anak didik di

sekolah. Artinya bahwa etos kerja telah ada pada guru ketika dia telah diperhadapkan dengan jenis

pekerjaan tersebut, hanya saja tingkat pengembangan etos kerja yang ada perlu dikembangkan

sesuai dengan yang diharapkan.

Barometer sikap mental seorang guru dapat meningkatkan etos kerjanya sangat terkait

dengan seberapa besar pengorbanannya dalam melakukan upaya-upaya perbaikan dalam

pelaksanaan tugasnya (Triguno 2002:3). Lanjut Triguno, hal tersebut dapat dilihat dari sejauh

mana tingkat komitmen diri para guru untuk menumbuhkan etos kerja sebagaimana yang

diharapkan, meningkatkan disiplin kerja sesuai dengan aturan yang telah disepakati, serta

menumbuhkan sikap-sikap inovatif dalam pekerjaannya. Untuk itulah dalam konteks lembaga

sekolah, perlu adanya motifasi yang kuat dari dalam diri maupun dari luar diri guru untuk

mengembangkan etos kerja yang maksimal. Peningkatan etos kerja merupakan bagian dari

motivasi yang kuat dalam memberikan dorongan pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang

dalam perencanaan dan program yang terpadu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi eksteren

maupun interen organisasi.

Dari pembahasan tersebut di atas, menurut penulis setiap orang pasti punya masalah dengan

semangat kerja? Jangan gundah gulana, anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya

problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya! Hampir semua orang pernah mengalami

gairah kerjanya melorot.

Cara terbaik untuk mengatasinya, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu

motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja. Secara sistematis, Jansen (2010:24)

memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai “Delapan Etos Kerja Profesional”

yaitu:

 Etos pertama: Kerja adalah rahmat.


Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, guru sampai buruh kasar

sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya

menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun. Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan

kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan,

punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu

anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat itu dengan

bekerja ogah-ogahanan

 Etos kedua: Kerja adalah amanah.

Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah

amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah

dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja

sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.

 Etos ketiga: Kerja adalah panggilan.

Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma. Seperti darma Yudistira

untuk membela kaum Pandawa. Seorang perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit.

Seorang guru memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya. Seorang penulis

menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat.

Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri,

“I’m doing my best!” Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik

mutunya.

 Etos keempat: Kerja adalah aktualisasi.

Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri.

Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan

potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih

menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekerjaan.

Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja,

misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa percaya diri ketika berjumpa dengan
temannya. “Perkenalkan, nama Saya Zakir Hubulo,S.Sos,M.Pd Guru Profesional Sosiologi

sekaligus Waka Hubmas MA Yaspib Bitung.(Mantap To...)

 Etos kelima: Kerja itu ibadah.

Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua pekerjaan yang halal merupakan

ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi

mencari uang atau jabatan semata. Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:

Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak

tiang yang tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat langsung oleh orang yang berdiri

di samping tiang. Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah membuat ukiran indah di

tempat yang tak terlihat? Ia menjawab, “Manusia memang tak bisa menikmatmnya. Tapi Tuhan

bisa melihatnya.” Motivasi kerjanya telah berubah menjadi motivasi transendental.

 Etos keenam: Kerja adalah seni.

Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun, semua adalah seni. Kesadaran ini akan

membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi. Jansen mencontohkan Edward

V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih

penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.

“Antusiaslah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi,”

katanya. Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun

menyebut rumus-rumus fisika yang sangat rumit itu dengan kata sifat beautiful.

 Etos ketujuh: Kerja adalah kehormatan.

Serendah apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga

kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Jansen

mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap

bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis

merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum. Semua novelnya menjadi karya

sastra kelas dunia.

 Etos kedelapan: Kerja adalah pelayanan.

Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu suar, semuanya bisa

dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama. Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup
seorang lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya. Bagi kebanyakan

orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu kematian. Namun bagi

dia, tidak. Ia pergi ke lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi. Sambil menggembalakan

domba, ia memunguti biji oak, lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang

membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah

meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! Sungai-sungai mengalir lagi.

Tanah yang semula tandus menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak

ia kenal.

Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu bersumber pada kecerdasan

emosional spiritual. Ia menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di semua pekerjaan.

“Asalkan pekerjaan yang halal,” katanya. “Umumnya, orang bekerja itu hanya untuk mencari gaji.

Padahal pekerjaan itu punya banyak sisi. Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga

mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30-40 tahun untuk bekerja. Setelah itu

pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan Tuhan. Manusia itu makhluk pencari makna. Kita

harus berpikir, untuk apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itukan waktu yang sangat lama.

Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan. Pertama, mencari

pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai

kegiatan yang menyenangkan.

Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan kedua: kita harus belajar

mencintai pekerjaan. Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya

dengan benar. “Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya.

Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi

kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Dalam dunia kerja, banyak

masalah yang bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak

menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi.Namun, justru dari sini kita

akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan.

Harapan penulis, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi guru-guru

dan mahasiswa pascasarjana jurusan manajemen pendidikan.


Urgensi Membaca
Posted by Redaksi on 4 Maret 2017 in Suara mahasiswa berkarya | Views

Membaca maupun menulis merupakan jalan dalam meretas dan mengembangkan pengetahuan,
dengannya memperoleh dan menyebarkan ilmu. Bahkan risalah pertama yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad yaitu ”Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan” (QS. Al-
‘alaq : 1) menunjukkan membaca adalah sesuatu yang penting, sehingga harus menjadi
kebutuhan klasik bagi manusia selaku makhluk yang dianugerahi akal.

Bagi hewan, sebagai makhluk yang hidup menurut tabi’at alamiahnya masing-masing perlu
membaca lingkungannya sebagai upaya untuk mempertahan hidup. Sedangkan bagi manusia
membaca adalah kebutuhan. Hal ini adalah karena membaca; pertama untuk meningkatkan
kapasitas diri dalam segala interaksinya (hablumminallah, hablumminannas dan lingkungan
sekitar), kedua untuk meningkatkan kualitas diri dalam ketiga hubungan tersebut
dan ketiga untuk meneguhkan konsep hidup.

Disisi lain dengan segala kompleksitas dan tantangan hidup yang semakin melejit dari hari ke
hari agaknya setiap orang memang butuh meningkatkan (baca; kapasitas dan kualitas) diri untuk
menjawab setiap tantangan-tantangan baru yang memungkinkan muncul dalam setiba-tiba
waktu. Kapasitas diri adalah luasnya “daya jual” seseorang, sedangkan kualitas diri adalah
bermutunya “daya jual” seseorang.

Sebagai contoh, seseorang yang menekuni ilmu kedokteran, ia perlu banyak membaca segala
literatur yang berkaitan dengan ranah keilmuannya sebagai konsep yang mendukung
spesifikasinya keilmuannya tersebut. Maka jika nanti menjadi seorang dokter yang handal,
dengan kualitasnya akan berimbas kepada meningkatnya kapasitas diri.

Kemudian, berkenaan dengan konsep hidup. Satu hal yang tak terpungkiri bahwa hidup kita
tidak selamanya stabil, kadang bergejolak dan tidak jarang juga penuh hentakan. Tentunya hal
itu akan menjadikan semangat hidup kita fluktuatif (naik-turun) seiring dengan apa yang kita
kehendaki. Sebagai contoh, dalam hal beragama; maka akan mempengaruhi semangat
menghambakan diri kita kepada-Nya.

Disinilah peran membaca dalam meneguhkan konsep hidup. Berkaitan dengan hal ini, bagus bagi
kita meneladani Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad. Kita bisa meresapi bagaiamana suka duka,
cobaaan hingga ujian dakwah yang beliau tempuh namun sama sekali tidak menyulutkan
semangat beliau dalam menjalankan titah Allah. Kisah-kisah hidup beliau dapat kita transfer
dalam diri kita sebagai peneguh keimanan kita.

Membaca disini tidak hanya dalam artikulasi yang sempit, membaca bukan hanya pada yang
bersifat kontekstual melainkan dalam segala tatanan ruang dan waktu. Sebagai contoh,
masyarakat perlu membaca program-program dan kredibilitas calon pemimpin yang akan
dipilihnya untuk memastikan program kerjanya adalah yang paling dinanti-butuhkan masyarakat,
sekaligus kredibilitasnya untuk memastikan keteguhannya dalam mewujudkan program-program
tersebut.

Membaca juga dapat kita sejajarkan dengan kata belajar, karena inti dari belajar dan membaca
adalah untuk mengetahui hal-hal yang masih tersembunyi di kepala ataupun menguatkan hal
yang sebelumnya telah diketahui. Belajar harus disertai dengan mengikuti, menyimak, menelaah
kemudian menangkap maksud kata per-kata yang disampaikan, baik secara tertulis
(tekstual) maupun yang terdengar (verbal). Seseorang yang mengikuti, menyimak menelaah itu
adalah bagian dari membaca sebelum ia menarik kesimpulan.

Menurut Ibnu ‘Utsaimin ayat pertama yang diturunkan tersebut mengandung pengertian bacalah
dengan memohon pertolongan dengan menyebut nama Allah yang menciptakan segala sesuatu.
“Ini adalah surat yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah pada masa awal kenabian,
ketika beliau belum mengetahui apa itu Al-Kitab dan apa itu iman” (Taisirul Karimir Rahman,
4/477).[khw]

HAKIKAT MEMBACA
September 16, 2014 by nurul rifky huba tagged Bahasa Indonesia

1 Vote

Pengertian Membaca

Membaca merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa dan merupakan bagian atau
komponen dari komunikasi tulisan. Dalam hal ini penulis menyampaikan idenya melalui tulisan
dan pembaca menemukan dan memahami ide tersebut melalui membaca. Adapun kemampuan
bahasa pokok atau keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi,
yaitu:

 keterampilan menyimak/mendengarkan (Listening Skills,)


 keterampilan berbicara (Speaking Skills),
 keterampilan membaca (Reading Skills), dan
 keterampilan menulis (Writing Skills).

Setiap guru Bahasa Indonesia haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca
adalah suatu metode yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan
kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau
tersirat pada lambang-lambang tertulis. Tarigan (2008:7) berpendapat bahwa membaca adalah
suatu proses yang yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan
yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau tulis. Suatu prosesyang
menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihatdalampandangan
sekilas dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui.

Hal senada juga diungkapkan oleh Finochiaro dan Bonomo (dalam Tarigan 2008:9), mereka
mengatakan bahwa, membaca adalah “Bringing meaning to and getting meaning from printed or
written material”. Memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan
tertulis. Hal ini jelas sekali bagi kita bahwa membaca merupakan suatu proses yang bersangkutan
dengan bahasa. Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Smith (dalam Tarigan, 1991:42)
menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses pengenalan, penafsiran, dan penilaian terhadap
gagasan-gagasan yangberkenaan dengan bobot mental ataupun kesadaran total diri pembaca.
Dengan demikian membaca dapat diartikan sebagai suatu proses yang bersifat kompleks yang
bergantung pada perkembangan bahasa seseorang, latar belakang pengalaman, kemampuan
kognitif, dan sikap pembaca terhadap bacaan. Kemampuan membaca dengan demikian dapat
diartikan sebagai penerapan dalam rangka mengenali, menginterpretasi, dan mengevaluasi
gagasan atau ide yang terdapat dalam bacaan.

Berdasarkan penjelasan di atas penulis dapat menarik pengertian bahwa membaca adalah
aktivitas memaknai sesuatu yang tersirat dalam yang tersurat dalam bentuk tulisan sehingga
memiliki satu makna yang utuh dan mampu menyampaikan pesan yang ditulis oleh penulis.
Makna bacaan tidak terdapat pada aksara-aksara yang ada pada halaman tersebut, akan tetapi
berada pada pemikiran pembaca tersebut. Dengan pengalaman dan wawasan yang berbeda-beda
setiap individu, interpretasi yang diberikan oleh setiap individu pun akan berbeda.

1. Aspek-aspek Membaca

Membaca merupakan keterampilan kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan-


keterampilan yang lebih kecil lainnya. Menurut Boughton (dalam Tarigan, 2008: 12) bahwa,
secara garis besar terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu:

 Keterampilan Mekanis (Mechanical Skills)

Keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) dapat dianggap berada pada urutan yang
lebih rendah (lower order). Aspek ini mencakup:

 pengenalan bentuk huruf,


 pengenalan unsur-unsur linguistik,
 pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi (kemampuan menyuarakan
bahan tertulis), dan
 kecepatan membaca ke taraf rendah.
 Keterampilan Pemahaman (Comprehension Skills)

Keterampilan yang bersifat pemahaman (comprehension skills) dapat dianggap berada pada
urutan yang lebih tinggi(higher order). Aspek ini mencakup:

 memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal),


 memahami signifikansi atau makna (antara lain maksud dan tujuan pengarang
relevansi/keadaan kebudayaan, reaksi pembaca),
 evaluasi atau penilaian (isi, bentuk), dan
 kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.

Menurut Tarigan (2008:13) untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam keterampilan
mekanis, aktifitas yang paling sesuai adalah membaca nyaring (reading aloud) dan membaca
bersuara (oral reading). Sedangkan untuk keterampilan pemahaman (comprehension skills) yang
paling tepat adalah membaca dalam hati (silent reading), yang dapat dibagi sebagai berikut.

 Membaca ekstensif

Membaca ekstensif dapat dibagi atas:

 Membaca telaah isi, mencakup:


 Membaca survei, yaitu membaca dengan meneliti terlebih dahulu apa yang akan kita
telaah dengan jalan melihat judul yang terdapat dalam buku-buku yang ada hubungannya,
kemudian memeriksa atau meneliti bagan skema yang bersangkutan.
 Membaca sekilas (skimming),yaitu membaca yang membuat kita bergerak dengan cepat
melihat, memperlihatkan bahan tertulis untuk mencari arti, mendapatkan
informasi/penerangan.
 Membaca dangkal, yaitu membaca untuk memperoleh pemahaman yang tidak mendalam
dari suatu bacaan.

 Membaca intensif

Membaca intensif dapat pula dibagi atas:

 Membaca telaah isi mencakup:


 Membaca teliti, yaitu membaca yang menuntut suatu pemutaran atau pembalikan
pendidikan yang menyeluruh.
 Membaca pemahaman, yaitu membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan
memahami dan menguasai isi bacaan.
 Membaca kritis, yaitu membaca yang dilakukan secara bijaksana, penuh tenggang hati,
mendalam, evaluatif, serta analitis dan bukan hanya mencari kesalahan.
 Membaca ide, yaitu membaca yang ingin mencari, memperoleh serta memanfaatkan ide-
ide yang terdapat pada bacaan.
 Membaca telaah bahasa, yang mencakup:
 Membaca bahasa asing, yaitu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah
memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata.
 Membaca sastra, yaitu membaca yang bercermin pada karya sasta dari keserasian
keharmonisan antara bentuk dan keindahan isi.

1. Tujuan Membaca

Setiap kegiatan pasti memiliki arah dan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan merupakan dasar
setiap kegiatan dan tujuan merupakan motivasi yang paling kuat untuk melakukan suatu
tindakan. Demikian dengan halnya membaca, menentukan tujuan membaca merupakan hal
penting bagi pembaca. Dengan mengetahui tujuan dari membaca akan mempermudah pembaca
dalam menentukan pemahaman, menentukan cara dan waktu yang tepat.

Menurut Tarigan (2008: 9-10) ada beberapa tujuan penting membaca adalah:

 membaca untuk memperoleh rincian atau fakta-fakta,


 membaca untuk memperoleh ide-ide utama,
 membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita,
 membaca untuk menyimpulkan,
 membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasi jenis bacaan,
 membaca untuk menilai, dan
 membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Anderson (1990:106), bahwa ada tujuh keterampilan
membaca pemahaman, yaitu sebagai berikut.

 pengetahuan makna kata,


 pengetahuan tentang fakta,
 pengetahuan menentukan tema pokok,
 kemampuan mengikuti hal yang mengatur sebuah wacana,
 kemampuan memahami hubungan timbal balik,
 kemampuan menyimpulkan, dan
 kemampuan melihat tujuan pengarang.

Pendapat lain diungkapkan oleh Rahmawati (dalam Wiryodjoyo 2012: 28) yang menyatakan
bahwa tujuan membaca yaitu: (1) untuk kesenangan, (2) penerapan praktis, (3) mencari
informasi khusus, (4) mendapat gambaran umum, dan (5) mengevaluasi secara kritis.

Berdasarkan uraian tujuan membaca di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca berbeda-
beda sesuai dengan kebutuhan pembaca. Tujuan dasar dari membaca sebenarnya adalah untuk
memahami isi bacaan dan memperoleh informasi untuk memperluas pengalaman dan
pengetahuan.

TEKNIK MEMBACA ALBA

Tahapan
Terdapat dua tahapan dalam menggunakan teknik ALBA. Tahap pertama diberi nama TLT
(Tunjuk, Lafalkan, Tirukan). Pengajar menunjuk huruf atau rangkaian beberapa huruf,
kemudian pengajar melafalkan huruf atau rangkaian beberapa huruf yang ditunjuk tersebut.
Setelah itu siswa diminta untuk menirukan atau mengucap ulang bunyi huruf atau rangkaian
beberapa huruf yang dilafalkan pengajar. Lakukan langkah ini berulang-ulang sampai siswa dapat
melafalkan huruf atau rangkaian beberapa huruf yang ditunjuk oleh pengajar tanpa harus diberi
contoh terlebih dahulu oleh pengajar. Jangan lanjutkan ke halaman berikutnya, bila halaman ini
belum dikuasai dengan baik oleh siswa. Tahapan ini khusus dilakukan pada halaman yang diberi
kode TLT di bagian atas halaman.

Tahap kedua diberi nama BMD (Baca, Mandiri, Dampingi). Tahapan ini khusus dilakukan pada
halaman yang diberi kode BMD di bagian atas halaman. Berikan kesempatan kepada siswa untuk
membaca sendiri rangkaian huruf yang ada di halaman ini. Lakukan membaca halaman ini
sedikitnya tiga kali. Bila terjadi keraguan atau kesalahan jangan langsung dibetulkan. Gunakan
halaman TLT sebagai pengingat.

Urutan
Materi dalam teknik ALBA telah disusun secara sistematis dari yang sederhana ke yang kompleks.
Oleh karena itu gunakan teknik ALBA ini secara berurutan dimulai dari Buku 1 sampai dengan
Buku 5 .

Durasi Waktu
Waktu yang digunakan dalam menggunakan teknik ALBA tidak lebih dari 15 menit setiap sesi.
Dalam satu hari dapat dilakukan lebih dari satu sesi. Jangan terlalu lama karena siswa akan cepat
jenuh, kecuali siswa meminta tambahan waktu. Durasi waktu yang diperlukan agar siswa dapat
membaca dengan lancar untuk masing-masing buku kurang lebih 6 jam. Dengan demikian Buku
1 sampai dengan Buku 5 dapat diselesaikan dalam durasi waktu kurang lebih 30 jam. Waktu yang
singkat bukan ?

Hakikat Membaca Permulaan


Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi murid sekolah dasar kelas
awal (Kelas I dan Kelas II). Tujuan membaca permulaan adalah agar murid dapat mengenal huruf,
serta membaca kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat.

Secara teoretik proses membaca permulaan dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama
disebut Visual Memory (VM). Pada tahap ini huruf, suku kata, kata, dan kalimat terlihat sebagai
lambang grafis. Tahap kedua disebut Phonological Memory (PM). Pada tahap ini terjadi proses
pembunyian lambang grafis yang sudah terekam pada tahap VM. Tahap ketiga disebut Semantic
Memory (SM). Pada tahap ini terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat.
Merujuk pada proses tersebut membaca permulaan dapat didefinisikan sebagai aktivitas visual
yang merupakan proses menerjemahkan simbol tulis ke dalam bunyi [3]. Simbol tulis tersebut
berupa huruf, suku kata, kata, dan kalimat.

Karakteristik Materi ALBA


Materi alba disusun berdasarkan teori Connectionism yang dikembangkan oleh Thorndike. Teori
ini menjelaskan bahwa konsep yang akan dipelajari murid harus dikaitkan dengan konsep
sebelumnya. Semakin kuat kaitannya, maka akan semakin baik hasil belajarnya. Koneksi ini akan
semakin kuat melalui latihan (law of exercise). Penguasaan materi yang lebih mudah akan
menuntun penguasaan materi selanjutnya yang lebih sukar.

Berdasarkan pemahaman terhadap teori tersebut, materi alba memiliki karakteristik sebagai
berikut: (1) disusun dari yang sederhana ke yang kompleks secara berjenjang dengan
memperhatikan materi sebelumnya; dan (2) mengutamakan latihan melalui pengulangan suku
kata.

istematika Buku ALBA


Materi alba disajikan dalam lima buku. Buku 1 dan Buku 2 berisi latihan membaca permulaan
untuk suku kata yang diakhiri oleh huruf vokal. Buku 3 dan Buku 4 berisi latihan membaca
permulaan untuk suku kata yang diakhiri oleh huruf konsonan dan suku kata yang mengandung
konsonan ganda. Buku 5 berisi latihan membaca permulaan untuk suku kata yang mengandung
huruf kapital.

Setiap suku kata pada masing-masing buku terdiri atas empat latihan. Latihan 1, memperkenalkan
suku kata. Latihan 2 dan 3, menyediakan materi latihan berupa suku kata yang dirangkai menjadi
kata. Latihan 4 menyediakan materi latihan berupa kalimat.

Materi dalam buku alba telah disusun secara sistematis dari yang sederhana ke yang kompleks.
Oleh karena itu gunakan buku alba secara berurutan dari Buku 1 sampai dengan Buku 5. Bila
murid belum lancar membaca pada salah satu buku, jangan dilanjutkan ke buku berikutnya.