Anda di halaman 1dari 3

A.

Hasil Pengamatan
No. Perlakuan Gambar

1. Pengambilan sampel

2. Pengumpulan sampel

Pencucian sampel dan sortasi


3.
basah

4. Perajangan sampel

5. Pengeringan sampel

6. Simplisia yang sudah keringa


B. Pembahasan
Secara umum, pembuatan simplisia harus melewati tahap sortasi basah,
pencucian, pengecilan ukuran, pengeringan, sortasi kering, serta
penyimpanan. Pada pembuatan simplisia harus dicuci terlebih dahulu dengan
air mengalir untuk mengurangi jumlah mikrobia yang menempel pada
tanaman obat.
Ada beberapa simplisia yang harus dirajang terlebih dahulu sebelum
dikeringkan, misalnya rimpan. Rimpang dapat dirajang dengan ketebalan
yang bervariasi, yaitu 3 – 4 mm untuk kencur dan 4 – 6 mm untuk temulawak.
Perajangan dapat digunakan dengan pisau, alat perajang singkong, atau
perajang otomatis. Apabila terlalu tebal, pengeringan simplisia sangat sulit.
Namun, jika dirajang terlalu tipis akan menyebabkan senyawa aktif berupa
minyak atsiri dapat menguap.
Pengeringan simplisia dapat dilakukan dengan cara alami maupun
buatan. Suhu optimum untuk pengeringan adalah tidak lebih dari 60oC, bahan
simplisia yang mengandung senyawa tidak tahan panas dan mudah menguap
dapat dikeringkan antara suhu 30oC – 45oC. Selain suhu, kelembaban akan
mempengaruhi proses pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara
alami atau buatan.
Pengeringan alami dengan cara menjemur merupakan pengeringan yang
pengerjaannya relatif mudah dan murah. Pengeringan dengan cara ini lebih
baik dilakukan pada simplisia yang keras seperti kayu dan memiliki senyawa
aktif yang relatif stabil.
Pengeringan alamiah sangat dipengaruhi oleh iklim, sehingga apabila
dilakukan saat turun hujan atau kelembaban udara tinggi akan mengakibatkan
bakteri, kapang, dan khamir dapat tumbuh subur pada simplisia sebelum
waktunya kering (Anonim, 1985). Kapang yang tumbuh pada simplisia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan simplisia dan terkadang merusak senyawa
aktif pada simplisia. Namun, bahaya lain yang dapat ditimbulkan adalah
munculnya metabolit toksik kapang yang tumbuh pada simplisia
Setelah dilakukan pengeringan, dilakukan sortasi kering untuk memilih
kualitas simplisia yang baik. Simplisia yang sudah disortir dapat ditempatkan
dalam wadah untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu. Wadah yang
digunakan bisa berupa drum, kaleng, atau gelas. Ada beberapa simplisia yang
sudah diawetkan semenjak proses pembuatannya. Pengawetan tersebut dapat
berupa pencelupan ke dalam air mendidih, direndam di dalam air kapur,
pencelupan di dalam pelarut yang mudah menguap, atau dimasak dengan
gula. Beberapa simplisia harus disimpan di dalam wadah berisi penjerap air
dan oksigen untuk mempertahankan mutunya saat disimpan.
Seluruh herba seledri mengandung glikosida apiin (glikosida flavon),
isoquersetin, dan umbelliferon. Juga mengandung mannite, inosite,
asparagine, glutamine, choline, linamarose, pro vitamin A, vitamin C, dan B.
Kandungan asam-asam dalam minyak atsiri pada biji antara lain : asam-asam
resin, asam-asam lemak terutama palmitat, oleat, linoleat, dan petroselinat.
Senyawa kumarin lain ditemukan dalam biji, yaitu bergapten, seselin,
isomperatorin, osthenol, dan isopimpinelin. Secara tradisional tanaman seledri
diguanakan sebagai pemacu enzim pencernaan atau sebagai penambah nafsu
makan, peluruh air seni, dan penurun tekanan darah. Di samping itu
digunakan pula untuk memperlancar keluarya air seni, mengurangi rasa sakit
pada rematik dan gout, juga digenakan sebagai anti kejang. Selebihnya daun
dan batang seledri digunakan sebagai sayur dan lalap untuk penyedap
masakan.