Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

II.1. Keselamatan Kerja

Keselamatan Kerja adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja dan

pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dalam

lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan

kerja dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.

Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila

timbul kecelakaan kerja. Namun patut disayangkan tidak semua perusahaan memahami arti

pentingnya keselamatan kerja dan bagaimana mengimplementasikannya dalam lingkungan

perusahaan.

Keselamatan kerja adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang yang bekerja dalam

lingkungan perusahaan, terlebih yang bergerak di bidang produksi khususnya,

pentingnya memahami arti keselamatan kerja dalam bekerja kesehariannya untuk

kepentingannya sendiri atau memang diminta untuk menjaga hal-hal tersebut untuk

meningkatkan kinerja dan mencegah potensi kerugian bagi perusahaan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa penting perusahaan berkewajiban

menjalankan prinsip K3 di lingkungan perusahaannya. Patut diketahui pula bahwa ide tentang

K3 sudah ada sejak 20 (dua puluh) tahun lalu, namun sampai kini masih ada pekerja dan

perusahaan yang belum memahami korelasi K3 dengan peningkatan kinerja perusahaan,

bahkan tidak mengetahui aturannya tersebut. Sehingga seringkali mereka melihat peralatan K3

adalah sesuatu yang mahal dan seakan-akan mengganggu proses berkerjanya seorang pekerja.

Untuk menjawab itu kita harus memahami filosofi pengaturan K3 yang telah ditetapkan

pemerintah dalam undang-undang.


Tujuan Pemerintah membuat aturan K3 dapat dilihat pada Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun

1970 tentang keselamatan kerja, yaitu:

 mencegah dan mengurangi kecelakaan

 mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran

 mencegah dan mengurangi bahaya peledakan

 memberi kesempatan atau jalan menyelematkan diri pada waktu kebakaran atau

kejadian-kejadian lain yang berbahaya

 memberikan pertolongan pada kecelakaan

 memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerjaan

 mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar-luaskan suhu, kelembaban, debu,

kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran

 mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun

psikhis, peracunan, infeksi dan penularan

 memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai

 menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik

 menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup

 memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban

 memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses

kerjanya

 mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau batang;

 mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

 mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan

penyimpanan barang

 mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya


 menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya

kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

Dari tujuan pemerintah tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa dibuatnya aturan

penyelenggaraan K3 pada hakikatnya adalah pembuatan syarat-syarat keselamatan kerja

sehingga potensi bahaya kecelakaan kerja tersebut dapat dieliminir.

II. 2. Dasar Hukum Peraturan K3

Berbicara penerapan K3 dalam perusahaan tidak terlepas dengan landasan hukum

penerapan K3 itu sendiri. Landasan hukum yang dimaksud memberikan pijakan yang jelas

mengenai aturan apa dan bagaimana K3 itu harus diterapkan. Adapun sumber hukum

penerapan K3 adalah sebagai berikut:

1. UU RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

2. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

3. Undang-Undang UAP tahun 1930.

4. Peraturan Uap Tahun 1930.

5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per –01/MEN/1980

tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan.

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per – 04/MEN/1980

tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadan api ringan.

7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per – 01/MEN/1982

tentang bejana tekanan.

8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per –04/MEN/1985

tentang pesawat tenaga dan produksi.

9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per –05/MEN/1985

tentang pesawat angkut-angkut.


10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per–02/MEN/1989

tentang pengawasan instalasi penyalut petir.

11. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per-088/MEN/1999

tentang penanggulangan kebakaran di tempat kerja.

12. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per-187/MEN/1999

tentang pengendalian bahan kimia berbahaya.

13. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per –75/MEN/2002

tentang pemberlakuan SNI No. SNI 04-0225-2000 mengenai persyaratan

umum instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja.

14. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan dan Pengawasan

Ketenagakerjaan Nomor 113 tahun 2006 tentang PWedoman dan Pembinaan

Teknis Petugas K3 Ruang Terbatas.

15. Keputusan DIrektur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor

Kep-45/DJPPK/X/2008 tentang pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Bekerja pada Ketinggian dengan menggunakan akses tali.

16. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI no. Per08/Men/VII/2010

tentang Alat Pelindung Diri

Semua produk perundang-undangan pada dasarnya mengatur tentang kewajiban

dan hak Tenaga Kerja terhadap Keselamatan Kerja untuk:

 Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli

keselamatan kerja;

 Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;

 Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang

diwajibkan;
 Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan

kerja yang diwajibkan;

Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan kerja serta

alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus

ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat

dipertanggungjawabkan.

II.3. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

H.W. Heinrich dengan Teori dominonya menggolongkan penyebab kecelakaan

menjadi 2, yaitu:

1. Unsafe Action (Tindakan Tidak Aman)

Unsafe action adalah suatu tindakan yang memicu terjadinya suatu kecelakaan

kerja. Contohnya adalah tidak mengenakan masker, merokok di tempat yang

rawan terjadi kebakaran, tidak mematuhi peraturan dan larangan K3, dan lain-

lain. Tindakan ini bias berbahaya dan menyebabkan terjadinya kecelakaan.

2. Unsafe Condition (Kondisi Tidak Aman)

Unsafe Condition berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat

menyebabkan terjadinya kecelakaan. Banyak ditemukan bahwa penyebab

terciptanya kondisi yang tidak aman ini karena kurang ergonomis. Unsafe

condition ini contohnya adalah lantai yang licin, tangga rusak, udara yang

pengap, pencahayaan kurang, terlalu bising, dan lain-lain.

Selanjutnya Frank Bird Mengembangkan teori Heinrich tersebut. Frank Bird

menggolongkan penyebab terjadinya kecelakaan adalah sebab langsung (immediate cause) dan

factor dasar (basic cause). Penyebab langsung kecelakaan adalah pemicu yang langsung
menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut, misalkan terpeleset, kejatuhan suatu benda, dan

lainlain. Sedangkan penyebab tidak langsung adalah merupakan factor yang memicu atau

memberikan kontribusi terhadap terjadinya kecelakaan tersebut. Misalnya tumpahan minyak

yang menyebabkan lantai licin, kondisi penerangan yang tidak baik, atau terburu-buru.

Meskipun penyebab tidak langsung hanyalah sebagai penyebab atau pemicu yang

menyebabkan terjadinya kecelakaan, namun sebenarnya hal tersebutlah yang harus dianalisa

secara detail mengapa faktor pemicu tersebut dapat terjadi.

Jenis Penyebab dapat dibagi menjadi beberapa, yaitu :

1. Penyebab Langsung (Immediate Causes)

Penyebab langsung kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan di rasakan

langsung, yang di bagi 2 kelompok:

a. Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu Perbuatan berbahaya dari dari manusia

yang dalam bbrp hal dapat dilatar belakangi antara lain:

 Cacat tubuh yang tidak kentara (bodilly defect)

 Keletihan dan kelesuan (fatigiue and boredom)

 Sikap dan tingkak laku yang tidak aman

 Pengetahuan.

b. Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan menyebababkan

kecelakaan, terdiri dari:

 Mesin, peralatan, bahan.

 Lingkungan

 Proses pekerjaan

 Sifat pekerjaan

 Cara kerja
2. Penyebab Dasar (Basic causes).

Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu

a. Faktor manusia/personal (personal factor)

 Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi

 Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill.

 Stres.

 Motivasi yang tidak cukup/salah

b. Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)

 Faktor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll.

 Faktor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst

 Faktor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga.

 Ergonomi dan psikososial.

Menurut Henrich faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-

tindakan tidak aman (unsafe acts) 80 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafecondition) 20%.

Faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-tindakan tidak aman (unsafe

acts) 85 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 15 %. Faktor utama yang

menyebabkan kecelakaan adalah:

 Lingkungan kerja

 Metode kerja

 Pekerja sendiri

Namun pada akhirnya semua kecelakaan baik langsung maupun tidak langsung, di

akibatkann kesalahan manusia. Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/

aktifitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya,

akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini mungkin,
kecelakaan/ potensi kecelakaan kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-tidaknya

dikurangi dampaknya.

Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan

secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan

sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Salah satu bentuk keseriusan itu adalah

resourcing, baik itu finansial dan MSDM.

Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut:

1. Kelelahan (fatigue)

2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe

working condition)

3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya (pre-

cause) adalah kurangnya training

4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.

Hubungan antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang

cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work),

pekerjaan yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan

yang harus diawali dengan “pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya

sebuah pekerjaan dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang

dimaksud. Penyebab-penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam

sebuah rangkain sebab-akibat (cause consequences chain).

II. 4. Alat Pelindung Diri

Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya bertujuan untuk mencegah dan

mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Untuk mewujudkan tujuan

tersebut maka, di setiap tempat kerja diwajibkan memenuhi syarat Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3) yang ditetapkan dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1970 beserta
peraturan pelaksanaannya. Penggunaan alat pelindung diri (APD) merupakan upaya

pengendalian yang banyak digunakan di industri-industri, namun tidak sedikit industri-

industri yang belum menggunakan alat pelindung diri sebagai salah satu pengendalian

bahaya di tempat kerja.

Upaya pengendalian bahaya harus didukung dengan kebijakan perusahaan maupun

program-program K3 lainnya, seperti diadakannya pelatihan, pengawasan, sehingga

pekerja dapat meningkatkan pemakaian alat pelindung diri agar lebih optimal dan

terciptanya suasana kerja yang sehat, aman, dan nyaman.

APD sendri merupakan suatu alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi

seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau

kecelakaan kerja. APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja

apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik.

Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai

usaha terakhir. Penggunaan APD telah diatur pada UU No. 1 Tahun 1970 pasal 12 yang

mengatur mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja untuk memakai alat pelindung diri.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum merekomendasikan penggunaan

APD adalah sebagai berikut:

a) Identifikasi dan evaluasi potensi bahaya di tempat kerja.

Pemakaian APD harus disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada di tempat

kerja yang didapatkan dari hasil evaluasi dalam pemantauan lingkungan kerja.

b) Pemilihan APD yang tepat dan sesuai

Pemilihan APD disesuaikan dengan kebutuhan dan kuuran tenaga kerja serta

dengan standar yang ditentukan.

c) Pemeliharaan APD
APD yang dipakai memiliki masa pemakaiannya masing-masing sesuai

spesifikasi, sehingga perlu adanya tata cara pemeliharaan APD yang benar.

d) Pendidikan dan pelatihan penggunaan APD

Penjelasan tentang potensi bahaya di tempat kerja, resiko bahaya tersebut, dan

cara pengendalian bahaya tersebut dengan pemakaian APD yang benar

melalui pendidikan dan pelatihan harus disampaikan agar APD berfungsi

efektif dan maksimal.

e) Kesadaran manajemen dan tenaga kerja

Pemakaian APD memerlukan kedisiplinan dan kesadaran dari tenaga kerja dan

kesadaran pada segi pembinaan dan pengawasan dari manajemen.

Jenis dan Fungsi Alat Pelindung Diri

A. Pelindung Kepala

Alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, kejatuhan, terpukul,

atau terpapar dari bahan-bahan berbahaya di tempat kerja, baik bahan kimia, suhu ekstrim,

atau mikroorganisme. Contoh: helm pengaman, topi atau tudung kepala, dll

B. Pelindung Mata dan Muka

Berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya. Contoh:

kacamata pengaman, goggles, tameng muka, dll

C. Pelindung Telinga

Berfungsi melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan. Contoh: sumbat

telinga dan penutup telinga.

D. Pelindung Pernapasan
Berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan

sehat atau dengan menyaring cemaran bahan-bahan berbahya di udara. Contoh: masker,

respirator, katrit, kanister, dll.

E. Pelindung Tangan

Berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan berbahaya seperti

suhu ekstrim, arus listrik, bahan kimia, atau trauma fisik dan mikroorganisme. Contoh:

sarung tangan logam, kulit, atau berpelapis karet.

F. Pelindung Kaki

Berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa atau berbenturan dengan benda-benda

berat, atau trauma fisik lain, serta suhu ekstrim dan bahan kimia atau mikroorganisme.

Contoh: sepatu keselamatan dengan bahan dan disain khusus.