Anda di halaman 1dari 6

SERANGAN ASMA

No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 1 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Nama Kasus Serangan Asma

J45.*1 (dengan eksaserbasi akut)


Kode ICD-10
J45.*2 (dengan status asmatikus)

Serangan asma atau eksaserbasi akut asma merupakan kondisi di mana


penderita asma mendapatkan serangan peradangan akut pada jalan napas
Definisi yang menjadi bengkak dan meradang, berkontraksinya otot di sekitar
saluran napas, serta produksi mukosa berlebih yang menyebabkan
penyempitan bronkus.

 Menghirup agonis beta2 aksi pendek merupakan pilar terapi asma


akut (Tingkat Bukti: C);

 Inhaler dengan menggunakan spacer setara dengan menebulasikan


terapi agonis beta2 aksi pendek pada anak-anak dan dewasa (Tingkat
Bukti: A);

 Pengobatan/pemberian agonis beta2 jangka pendek berkelanjutan


dapat mengurangi angka rawat inap pada pasien dengan asma akut
yang berat (Tingkat Bukti: A);
Kunci Rekomendasi
 Pengobatan antikolinergik inhalasi meningkatkan fungsi paru dan
menurunkan angka rawat inap pada anak-anak usia sekolah dengan
eksaserbasi asma berat (Tingkat Bukti: A)

 Pemberian kortikosteroid sistemik dalam satu jam setelah pasien


tiba di UGD menurunkan angka perlunya rawat inap (Tingkat Bukti:
A)

 Kortikosteroid oral dan parenteral sama efektifnya dalam mencegah


rawat inap pada anak-anak (Tingkat Bukti: B)

Pada pengkajian awal, dapat dilakukan anamnesis singkat mengenai riwayat


Anamnesis serangan asma sebelumnya (periode, intensitas, perawatan/pengobatan),
paparan terhadap potensi alergen tertentu, penyakit infeksi baru-baru saja,
obat-obat yang sedang dikonsumsi, kegiatan fisik, stres dan emosi
SERANGAN ASMA
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 2 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

(Indinnimeo, Chiappini, Miraglia Del Giudice, & Italian Panel for the
management of acute asthma attack in children Roberto Bernardini, 2018).

Pemeriksaan fisik meliputi, sekurang-kurangnya:

 Inspeksi untuk melihat penggunaan otot tambahan untuk upaya


bernapas;

 Auskultasi apakah ada suara napas tambahan, misalnya mengi,


namun perlu diingat bahwa tidak semua serangan asma harus
Pemeriksaan Fisik ditemukan mengi (Gong, 1990);

 Denyut nadi;

 Saturasi oksigen;

Jika tersedia Peak Flow Meter, gunakan untuk mengukur PEF1.

 Serangan asma ringan, apabila FEV/PEF ≥ 40%;

Kriteria Diagnosis  Serangan asma berat, apabila FEV/PEF < 40%;

 Potensi tinggi atau telah mengalami henti napas.

Diagnosis Kerja Status asmatikus

Paling umum pada dewasa:

 PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik);

Diagnosis Banding  CHF (Gagal Jantung Kongestif);

 GERD (Penyakit Refluks Gastroesofageal);

 Obstruksi mekanis pada jalan napas (misal tumor atau benda asing);

1
PEF: Peak expiratory flow
SERANGAN ASMA
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 3 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

 Kerusakan pita suara.

Paling umum pada anak:

 Aspirasi benda asing menyebabkan obstruksi jalan napas;

 Pneumonia/bronkitis;

 Fibrosis kistik;

 Displasia bronkopulmoner (pada bayi prematur), dan

 Sindrom diskinesia siliaris primer.

Sesuai dengan kondisi lain yang menyertai pasien. Pemeriksaan hitung jenis
Pemeriksaan leukosit untuk melihat keberadaan menguji keberadaan eosinofilia dan
Penunjang neutrofilia (Fahy, 2009) tidak dianjurkan dikerjakan di Puskesmas dengan
sumber daya yang terbatas.
SERANGAN ASMA
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 4 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Algoritma
SERANGAN ASMA
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 5 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Prinsip terapi pada asma menyesuaikan dengan pengkajian status asma.


Pemberian terapi (sesuai algoritma) bertumpu pada penggunaan:

Terapi 1. Agonis Beta2 Kerja Pendek, baik melalui inhalasi maupun nebulasi;

2. Kortikosteroid sistemis, baik secara oral maupun parenteral;

3. Pertimbangan terapi tambahan.

Edukasi pada asma meliputi:

1. Mengenai terapi dan pengobatan yang dibawa pulang;

2. Mengenai pencegahan asma termasuk menghindari pencetus dan


Edukasi perokok pasif;

3. Apa yang dilakukan jika muncul serangan kembali;

4. Pertimbangan rujukan ke spesialis paru jika pertimbangan klinis


mengarahkan demikian.

Pada serangan ringan, kebanyakan kasus membaik dengan terapi awal dan
memiliki prognosis yang baik. Namun pada kasus serangan berat, atau
Prognosis
terdapat komplikasi lain, maka kasus kemungkinan memiliki prognosis
buruk.

Seluruh kasus asma dikategorikan sebagai kasus ringan, sedang atau berat
Indikator Mutu
(85%).

Fahy, J. V. (2009). Eosinophilic and Neutrophilic Inflammation in Asthma:


Insights from Clinical Studies. Proceedings of the American Thoracic
Society, 6(3), 256–259. https://doi.org/10.1513/pats.200808-087RM

Gong, H. (1990). Wheezing and Asthma. Clinical Methods: The History,


Referensi Physical, and Laboratory Examinations. Butterworths. Diambil dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21250199

Indinnimeo, L., Chiappini, E., Miraglia Del Giudice, M., & Italian Panel for the
management of acute asthma attack in children Roberto Bernardini, T.
I. P. for the management of acute asthma attack in children R. (2018).
Guideline on management of the acute asthma attack in children by
SERANGAN ASMA
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 6 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Italian Society of Pediatrics. Italian journal of pediatrics, 44(1), 46.


https://doi.org/10.1186/s13052-018-0481-1