Anda di halaman 1dari 8

KEJANG DEMAM

No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 1 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Nama Kasus Kejang Demam

Kode ICD-10 R56.0

Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal > 38o C) akibat dari suatu proses ekstra kranial.
Definisi Kejang berhubungan dengan demam, tetapi tidak disebabkan infeksi
intrakranial atau penyebab lain seperti trauma kepala, gangguan
keseimbangan elektrolit, hipoksia atau hipoglikemia (Zainuddin et al., 2016).

Ada sejumlah rekomendasi penanganan kejang demam secara umum di


pelbagai pusat layanan kesehatan (Graves, Oehler, & Tingle, 2012) (Natsume
et al., 2017).

 Tes laboratorium rutin, elektroensefalografi, dan neuroimaging tidak


dianjurkan pada pasien dengan kejang demam sederhana (Tingkat
Bukti: C);

 Orangtua harus diyakinkan setelah kejang demam sederhana bahwa


tidak ada dampak negatif pada kecerdasan atau perilaku, dan tidak
ada peningkatan risiko kematian (Tingkat Bukti: B);

 Penggunaan obat antiepilepsi berkelanjutan atau intermiten jangka


Kunci Rekomendasi panjang setelah kejang demam sederhana pertama tidak dianjurkan
karena efek samping yang potensial (Tingkat Bukti: B);

 Penggunaan agen antipiretik pada onset demam tidak efektif untuk


mengurangi kekambuhan kejang demam sederhana (Tingkat Bukti:
A).

 Diazepam profilaksis dapat diberikan pada kriteria kasus berikut


(Tingkat Bukti: B):

o Anak dengan riwayat kejang demam 15 menit atau lebih


lama;

o Anak dengan kejang demam berulang, dengan dua dari


faktor berikut:
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 2 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

 Kejang fokal atau berulang dalam 24 jam;

 Adanya riwayat abnormalitas neurologis atau


gangguan tumbuh kembang;

 Riwayat keluarga dengan kejang demam atau


epilepsi;

 Kejang dalam satu jam setelah onset demam;

 Kejang muncul pada suhu tubuh di bawah 38˚C;

 Anak dengan riwayat kejang demam dapat menerima semua jenis


imunisasi yang tersedia jika tenaga kesehatan memahami baik
manfaat maupun risiko vaksin (Tingkat Bukti: A)

Keluhan utama adalah kejang. Anamnesis dimulai dari riwayat perjalanan


penyakit sampai terjadinya kejang. Perlu deskripsi kejang seperti tipe kejang,
lama, frekuensi dan kesadaran pasca kejang. kemudian mencari
kemungkinan adanya faktor pencetus atau penyebab kejang. Umumnya
kejang demam terjadi pada anak dan berlangsung pada permulaan demam
akut. Sebagian besar berupa serangan kejang klonik umum atau tonik klonik,
singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post iktal. Penting untuk
ditanyakan riwayat kejang sebelumnya, kondisi medis yang berhubungan,
obat-obatan, trauma, gejala infeksi, keluhan neurologis, nyeri atau cedera
akibat kejang. Riwayat kejang demam dalam keluarga juga perlu ditanyakan.
Anamnesis

Faktor Risiko

1. Demam

a. Demam yang berperan pada KD, akibat:

i. Infeksi saluran pernafasan

ii. Infeksi saluran pencernaan


KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 3 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

iii. Infeksi THT

iv. Infeksi saluran kencing

v. Roseola infantum/infeksi virus akut lain.

vi. Pascaimunisasi

b. Derajat demam:

i. 75% dari anak dengan demam ≥ 39˚C

ii. 25% dari anak dengan demam > 40˚C

2. Usia:

a. Umumnya terjadi pada usia 6 bulan – 6 tahun;

b. Puncak tertinggi pada usia 17 – 23 bulan;

c. Kejang demam sebelum usia 5–6 bulan mungkin disebabkan


oleh infeksi SSP1;

d. Kejang demam di atas umur 6 tahun, perlu dipertimbangkan


febrile seizure plus (FS+).

3. Genetik:

a. Risiko meningkat 2–3x bila saudara sekandung mengalami


kejang demam;

b. Risiko meningkat 5% bila orang tua mengalami kejang


demam.

Pemeriksaan fisik dimulai dengan tanda-tanda vital dan kesadaran. Pada


kejang
Pemeriksaan Fisik
demam tidak ditemukan penurunan kesadaran. Pemeriksaan umum
ditujukan untuk mencari tanda-tanda infeksi penyebab demam.

1
SSP: Sistem Saraf Pusat
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 4 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Pemeriksaan neurologi meliputi kepala, ubun-ubun besar, tanda rangsang


meningeal, pupil, saraf kranial, motorik, tonus otot, refleks fisiologis dan
patologis.

Kejang demam sederhana:

 Kejang umum tonik, klonik atau tonik-klonik;

 Durasi < 15 menit;

 Kejang tidak berulang dalam 24 jam.

Kriteria Diagnosis

Kejang demam kompleks:

 Kejang fokal atau fokal menjadi umum;

 Durasi > 15 menit;

 Kejang berulang dalam 24 jam.

Diagnosis Kerja Kejang Demam Sederhana & Kejang Demam Kompleks

1. Meningitis;

Diagnosis Banding 2. Epilepsi;

3. Gangguan metabolik/elektrolit.

Pemeriksaan lebih diarahkan pada pelacak penyebab demam, dapat


melakukan pemeriksaan penunjang sederhana seperti pemeriksaan darah
Pemeriksaan rutin dan urine rutin jika diindikasikan.
Penunjang
Apabila dirasakan perlu untuk pemeriksaan penunjang lanjutan seperti
pungsi lumbal dan elektrolit, pertimbangkan rujukan ke rumah sakit.
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 5 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Algoritma

Mengatasi Kejang Akut:

1. Diazepam per rektal (0,5mg/kgBB) atau BB < 10 kg diazepam rektal 5


mg , BB > 10 kg diazepam rektal 10 mg, atau lorazepam (0,1 mg/kg)
Terapi
harus segera diberikan jika akses intravena tidak dapat diperoleh
dengan mudah. Jika akses intravena telah diperoleh diazepam lebih
baik diberikan intravena dibandingkan rektal. Dosis pemberian IV
0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan maksimum pemberian 20 mg. Jika
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 6 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

kejang belum berhenti diazepam rektal/IV dapat diberikan 2 kali


dengan interval 5 menit. Lorazepam intravena, setara efektivitasnya
dengan diazepam intravena dengan efek samping yang lebih
minimal (termasuk depresi pernapasan) dalam pengobatan kejang
akut.

2. Jika dengan 2 kali pemberian diazepam rektal/intravena masih


terdapat kejang dapat diberikan fenitoin IV dengan dosis inisial 20
mg/kgBB, diencerkan dalam NaCl 0,9% dengan pengenceran 10 mg
fenitoin dalam 1 ml NaCl 0,9%, dengan kecepatan pemberian
1mg/kgBB/menit, maksimum 50 mg/menit, dosis inisial maksimum
adalah 1000 mg. Jika dengan fenitoin masih terdapat kejang, dapat
diberikan fenobarbital IV dengan dosis inisial 20 mg/kgBB, tanpa
pengenceran dengan kecepatan pemberian 20 mg/menit. Jika
kejang berhenti dengan fenitoin maka lanjutkan dengan pemberian
rumatan 12 jam kemudian dengan dosis 5-7 mg/kgBB/hari dalam 2
dosis. Jika kejang berhenti dengan fenobarbital, maka lanjutkan
dengan pemberian rumatan 12 jam kemudian denagn dosis 4-6
mg/kgBB/hari dalam 2 dosis.

Terapi pencegahan kejang berulang:

1. Profilaksis intermiten dengan diazepam oral/rektal, dosis 0,3


mg/kgBB/kali tiap 8 jam, hanya diberikan selama episode demam,
terutama dalam waktu 24 jam setelah timbulnya demam.

2. Profilaksis berkesinambungan dengan fenobarbital dosis 4-6


mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis atau asam valproat dengan dosis 15-40
mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis. Profilaksis hanya diberikan pada
kasus-kasus tertentu seperti kejang demam dengan status
epileptikus, terdapat defisit neurologis yang nyata seperti cerebral
palsy. Profilaksis diberikan selama 1 tahun.
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 7 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak keluarga mengatasi

pengalaman menegangkan akibat kejang demam dengan memberikan


informasi

mengenai:

1. Prognosis dari kejang demam.

Edukasi 2. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan


intelektual akibat kejang demam.

3. Kejang demam kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan


otak.

4. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.

5. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan tidak adanya manfaat


menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu.

Pada umumnya progonosis pada kebanyakan kasus baik. Beberapa kasus


memiliki prognosis serangan ulang yang lebih tinggi bila melihat onset
Prognosis
serangan pertama & riwayat keluarga dengan kejang demam (Pavlidou,
Tzitiridou, Kontopoulos, & Panteliadis, 2008).
KEJANG DEMAM
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 8 dari 8
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Semua pasien dengan kejang demam akut mendapatkan terapi diazepam


Indikator Mutu
per rektal dengan segera (100%).

Graves, R. C., Oehler, K., & Tingle, L. E. (2012). Febrile seizures: risks,
evaluation, and prognosis. American family physician, 85(2), 149–53.
Diambil dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22335215

Natsume, J., Hamano, S., Iyoda, K., Kanemura, H., Kubota, M., Mimaki, M., …
Sugie, H. (2017). New guidelines for management of febrile seizures in
Japan. Brain and Development, 39(1), 2–9.
https://doi.org/10.1016/j.braindev.2016.06.003

Referensi Pavlidou, E., Tzitiridou, M., Kontopoulos, E., & Panteliadis, C. P. (2008).
Which factors determine febrile seizure recurrence? A prospective
study. Brain and Development, 30(1), 7–13.
https://doi.org/10.1016/J.BRAINDEV.2007.05.001

Zainuddin, A. A., Oendari, A., Putri, A., Pamungkas, A., Natsir, B., Hartono, D.,
… Salinah; (2016). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter. Ikatan Dokter
Indonesia, 406–408. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004