Anda di halaman 1dari 6

LUKA ROBEK

No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 1 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Nama Kasus Luka Robek

Kode ICD-10 Sesuai dengan lokasi/wilayah luka1.

Definisi Luka robek adalah kerusakan pada integritas jaringan kulit oleh sebak
rudapaksa benda tumpul maupun benda tajam di luar kepentingan terapi
oleh staf medis tersertifikasi.

Anamnesis Temukan riwayat rudapaksa pada pasien, dengan detail:

 Penyebab dan mekanisme terjadinya luka;

 Waktu dan tempat terjadinya luka;

 Kondisi awal luka (kotor, keberadaan benda asing);

 Pertolongan pertama yang telah diberikan;

 Kondisi penyerta saat kejadian (pingsan, muntah, pusing, dsb);

 Riwayat imunisasi/vaksinasi tetanus.

Kunci Rekomendasi Pertimbangkan hal-hal berikut saat menangani luka robek (Forsch, Little, &
Williams, 2017):

 Luka yang tidak terinfeksi yang disebabkan oleh benda bersih dapat
mengalami penutupan primer hingga 18 jam setelah cedera. Luka
kepala dapat diperbaiki hingga 24 jam setelah cedera (Tingkat Bukti:
B);

 Menggunakan air keran yang dapat diminum, bukannya air garam


steril untuk irigasi luka, tidak meningkatkan risiko infeksi (Tingkat
Bukti: A);

 Penggunaan sarung tangan pemeriksaan non steril bersih daripada


sarung tangan steril selama perbaikan luka tidak secara signifikan
meningkatkan risiko infeksi (Tingkat Bukti: A);

1
Daftar lengkap dapat diakses melalui URL: https://www.icd10data.com/ICD10CM/Index/L/Laceration
LUKA ROBEK
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 2 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

 Jika tidak ada kekhawatiran untuk kompromi pembuluh darah ke


jaringan sekitar, anestesi lokal yang mengandung epinefrina dalam
konsentrasi hingga 1: 100.000 aman untuk digunakan dalam
perbaikan laserasi jari, termasuk untuk blok anestesi jari (Tingkat
Bukti: B).

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik meliputi status umum seperti kesadaran dan tanda-tanda
vital.

Status lokal luka robek termasuk kondisi perdarahan, dimensi luka, jaringan
yang terlibat, dan area tubuh yang terdampak.

Kriteria Diagnosis -

Diagnosis Kerja Luka robek

Diagnosis Banding Luka sayat, luka tusuk

Pemeriksaan Dilakukan jika dipertimbangkan perlu, misalnya pada pasien-pasien dengan


Penunjang komorbiditas seperti penyakit atau kondisi yang menyebabkan penurunan
imunitas, ada cedera yang memerlukan pemeriksaan penunjang seperti
pencitraan radiologi di mana perencanaan rujukan perlu dipertimbangkan.
LUKA ROBEK
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 3 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Algoritma
LUKA ROBEK
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 4 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Terapi Apabila terdapat gangguan kesadaran, penilaian dan tatalaksana triase


kegawatdaruratan diperlukan pada awal.

Tatalaksana awal luka robek adalah kontrol perdarahan. Setelah perdarahan


berhasil dikontrol, maka prioritas berikutnya dekontaminasi luka.

Pemberian antibiotik profilaksis tidak diperlukan pada kasus luka robek


sederhana, yang bukan luka gigitan dalam rangka menurunkan angka infeksi
luka (Cummings & Del Beccaro, 1995). Angka infeksi paling rendah
didapatkan dengan pemberian antibiotik oleh/salep yang mengandung
bacitracin dan neomycin (Hood, Shermock, & Emerman, 2004).

Apabila luka melibatkan jaringan yang lebih dalam dibandingkan kulit atau
melibatkan organ/bagian organ pada wajah, tatalaksana rujukan
direkomendasikan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut pada rumah
sakit yang berkompetensi.

Melakukan kontrol nyeri saat penjahitan luka sangat penting. Anestesi


infiltrasi dengan lidocaine atau prilocaine dianjurkan. Apabila pasien
memiliki ketakutan pada jarum, penggunaan anestesi topikal bisa
dipertimbangkan, dan tidak wajib menggunakan yang berbahan dasar kokain
(Tayeb, Eidelman, Eidelman, McNicol, & Carr, 2011).

Luka dilakukan jahitan, sambungan dengan plaster jaringan, atau metode


aposisi rambut untuk menyatukan dua sisi luka sesuai dengan kondisi dan
keadaan luka.

Pasien dengan luka terkontaminasi atau berisiko tinggi (misal karena adanya
tusukan dalam) yang belum mendapatkan booster tetanus dalam lebih dari
lima tahun harus mendapatkan vaksinasi tetanus. Pasien yang belum pernah
mendapatkan sekurang-kurangnya tiga dosis vaksin tetanus atau yang
riwayat status vaksinasinya tidak diketahui harus menerima imonuglobulin
tetanus. Pasien dengan luka kecil dan bersih hanya perlu mendapatkan
vaksin tetanus jika mereka tidak pernah mendapatkan booster vaksin
tetanus dalam lebih dari sepuluh tahun. Imoglobulin tetanus tidak diindikasi
bagi luka kecil yang bersih (Centers for Disease Control and Prevention,
2015).
LUKA ROBEK
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 5 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

Terapi untuk menanggulangi nyeri pasca tindakan tergantung pada sensasi


nyeri pasien. Pasien dengan nyeri ringan – sedang dengan skor VAS2 antara 1
dan 6 saat kontrol perawatan luka diterapi menggunakan parasetamol dan
OAINS3 . Nanti jika nyeri di atas 7, maka memerlukan tatalaksana anti nyeri
dengan opioid dan disarankan dilakukan rujukan ke rumah sakit (Berben et
al., 2011).

Untuk manajemen nyeri pada anak, staf medis dapat mengikuti panduan
WHO (World Health Organization, 2012).

Edukasi Pasien diberikan edukasi mengenai perhatian umum yang dilakukan pada
perawatan luka, dan menghindari informasi yang keliru mengenai
perawatan luka (Pieper et al., 2007).

Prognosis Sebagian besar baik pada kasus tanpa komplikasi.

Indikator Mutu Infeksi daerah operasi pasca penanganan luka robek (5%)

Referensi Berben, S. A. A., Kemps, H. H. L. M., van Grunsven, P. M., Mintjes-de Groot,
J. A. J., van Dongen, R. T. M., & Schoonhoven, L. (2011). [Guideline
’Pain management for trauma patients in the chain of emergency
care’]. Nederlands tijdschrift voor geneeskunde, 155(18), A3100.
Diambil dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21771359

Centers for Disease Control and Prevention. (2015). Epidemiology and


Prevention of Vaccine Preventable Diseases. In J. Hamborsky, A.
Kroger, & C. Wolfe (Ed.), Epidemiology and Prevention of Vaccine-
Preventable Diseases (13 ed.). Washington D.C: Public Health
Foundation. https://doi.org/10.1016/B978-012374410-4.00443-X

Cummings, P., & Del Beccaro, M. A. (1995). Antibiotics to prevent infection


of simple wounds: A meta-analysis of randomized studies. American
Journal of Emergency Medicine. https://doi.org/10.1016/0735-
6757(95)90122-1

Forsch, R. T., Little, S. H., & Williams, C. (2017). Laceration Repair: A Practical
Approach (Vol. 95). Diambil dari

2
VAS: Skala analog visual
3
OAINS: Obat Anti-inflamasi non-Steroid
LUKA ROBEK
No. Dokumen :
No. Revisi :
PPK
Tanggal Terbit :
Halaman 6 dari 6
PUSKESMAS dr. Suprabandari
IMOGIRI 1 NIP. 197107102002122007

https://www.aafp.org/afp/2017/0515/p628.pdf

Hood, R., Shermock, K. M., & Emerman, C. (2004). A Prospective,


Randomized Pilot Evaluation of Topical Triple Antibiotic Versus
Mupirocin for the Prevention of Uncomplicated Soft Tissue Wound
Infection. American Journal of Emergency Medicine.
https://doi.org/10.1016/j.ajem.2003.09.009

Pieper, B., Sieggreen, M., Nordstrom, C. K., Freeland, B., Kulwicki, P.,
Frattaroli, M., … Bednarski, D. (2007). Discharge Knowledge and
Concerns of Patients Going Home With a Wound. Journal of Wound,
Ostomy and Continence Nursing, 34(3), 245–253.
https://doi.org/10.1097/01.WON.0000270817.06942.00

Tayeb, B. O., Eidelman, A., Eidelman, C. L., McNicol, E. D., & Carr, D. B.
(2011). Topical anaesthetics for pain control during repair of dermal
laceration. In B. O. Tayeb (Ed.), Cochrane Database of Systematic
Reviews. Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
https://doi.org/10.1002/14651858.CD005364.pub2

World Health Organization. (2012). WHO guidelines on the pharmacological


treatment of persisting pain in children with medical illnesses. Geneva:
World Health Organization. Diambil dari www.who.int