Anda di halaman 1dari 7

LAFAZ WADHIH DAN GHAIRU WADHIH

FIQH DAN USHUL FIQH

Di susun oleh :

Muhammad Haikal (170701088 )

Rahmad Hidayat (170701176 )

DOSEN PEMBIMBING : Dr. Andri Nirwana A.N., M.Ag.

ARSITEKTUR

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS UIN AR-RANIRY

DARUSSALAM, ACEH

2018/201
Pembahasan

Wadlih
Secara garis besar wadlih atau lafaz dari segi kejelasan artinya, terbagi kepada dua macam:
1. Lafaz yang telah terang artinya dan jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud,
sehingga atas dasar kejelasan itu beban hukum dapat ditetapkan tanpa memerlukan
penjelasan dari luar.
2. Lafaz yang belum terang artinya dan belum jelas penunjukannya terhadap makna yang
dimaksud kecuali dengan penjelasan dari luar lafaz itu.
Dalam wadlih atau kejelasan(lafaz yang jelas) itu para ulama ushul fiqh membagi
wadlih(kejelasan) ini menjadi 4(empat) macam,yaitu:
1. An-nash
Menurut bahasa, Nash adalah far’u asy-syai atau munculnya segala sesuatu yang nampak.
Kedudukan nash sama dengan zhahir yaitu wajib diamalkan petunjuknya atau dilalahnya
sepanjang tidak ada dalil yang menakwilkan, mentakshsis atau menasakhnya. Sebagaimana
dicontohkan dalam firman Allah dalam surat al-baqarah ayat 275, artinya:
Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual
beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka
orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
Secara nash, ayat tersebut bertujuan untuk menyatakan perbedaan nyata antara jual beli
dengan riba sebagai sanggahan terhadap pendapat orang yang menganggapnya sama. Hal ini
dapat dipahami dari ungkapan keseluruhan ayat tersebut.
1. Az-zhahir
Zhahir adalah suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar,
melalui bentuk lafaz itu sendiri. Sebagaimana dicontohkan dalam firman Allah SWT dalam surat
al-hasyr ayat 7, artinya :
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda)
yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul
kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras. Hukumannya.
Adalah jelas mewajibkan taat kepada rasulullah SAW.dalam segala perintah dan larangannya,
karena makna inilah yang segera dapat dipahami dari ayat. Dan itu bukan tujuan asal redaksi
kata, karena tujuan asal redaksi kata ialah apa yang oleh Rasulullah SAW.didatangkan kepada
kamu berupa harta fa’i ketika dibagikan, maka ambilah,dan apa yang dilarang oleh rasulullah
SAW, dalam hal fa’i maka jauhilah hal itu.

1. Mufassar
Mufassar adalah lafaz yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang jelas dan
tegas, sehingga petunjuknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis, namun pada masa
Rasulullah masih bisa dinasakh. Atas dasar definisi tersebut maka kejelasan petunjuk mufassar
lebih tinggi daripada bentuk zhahir dan nash. Hal ini karena petunjuk zhahir dan nash masih ada
kemungkinan ditakwil atau ditaksis, sedangkan pada mufassar kemungkinan tersebut sama sekali
tidak ada. Sebagai contoh firman Allah SWT pada surat Attaubah ayat 36, artinya :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan
Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan
yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun
memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa.
Lafaz “musyrikin” pada ayat tersebut pada mulanya dapat di taksis, namun dengan adanya
lafaz “kaafatan” kemungkinan itu menjadi tidak ada.

Hukum mufassar wajib diamalkan secara qath’i, sepanjang tudak ada dalil yang me-nasakh-
nya. Lafaz mufassar tudak mungkin dipalingkan dari arti zhahirnya, karena tidak mungkin
ditakwil dan ditakshsis, melainkan hanya bisa di-nasakh atau diubah apabila aada dalil yang
mengubahnya.
Dengan demikian dilalah mufassar lebih kuat daripada dilalah zhahir dan dilalah nash. Maka
daripada itu apabila ada pertentangan antara dilalah mufassar dengan dilalah zhahir dan nash
maka dilalah mufassar-lah yang harus didahulukan.
1. Muhkam
Muhkam adalah suatu lafaz yang menunjukkan makna dengan dilalah tegas dan jelas secara
qath’i, dan tidak mempunyai kemungkinan ditakwil, ditakshsis dan di-nash meskipun pada masa
Nabi, lebih-lebih setelah masa Nabi. Contohnya seperti pada firman Allah dalam surat An-Nur
ayat 4, artinya :
dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan
mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya.
dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.
Kata “Abada” (selama-lamanya) yang tersebut dalam ayat itu menunjukkan bahwa tidak
diterima kesaksiannya itu berlaku untuk selamanya, dalam arti tidak dapat dicabut. Ketentuan
lafaz muhkam bila menyangkut hukum adalah wajib, sehingga tidak mungkin tidak dipahami
dan di nasakh oleh dalil lain. Penunjukkan lafaz muhkam atas hukum lebih kuat dibandingkan
dengan tiga bentuk lafaz sebelumnya, sehingga bila berbenturan pemahaman antara lafaz
muhkam dengan yang lain, lafaz muhkam harus didahulukan.
Ghairu Wadhih
Ghairu wadhih atau lafaz yang tidak jelas artinya. Maksudnya nash yang bentuknya itu
sendiri tidak bisa menunjukkan kepada adrti yang dimaksud daripadanya, bahkan untuk
memahami maksud daripadanya memerlukan faktor dari luar. Ghairu wadhih terbagi menjadi 4 :
1. Khafi
Pengertian khafi menurut bahasa adalah tidak jelas atau tersembunyi, sedangkan menurut
istilah adalah suatu lafaz yang maknanya menjadi tidak jelas karena hal baru yang ada di luar
lafaz itu sendiri sehingga arti lafaz itu perlu diteliti secara mendalam. Misalnya, arti pencuri
dalam surat Al-maidah ayat 38, artinya :
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Secara umum pengertian pencuri cukup jelas, yaitu orang yang mengambil harta orang lain
secara sembunyi dari tempat penyimpanan yang layak baginya. Ketidak jelasan timbul ketika
menerapkan ayat itu kepada tukang copet yang secara lihai bisa memanfaatkan kelalaian
seseorang untuk menguras harta seseorang,apakah hal itu termasuk ke dalam pengertian pencuri
atau tidak? Untuk mencari jawabannya adalah dengan jalan ijtihad, dengan meneliti apakah
pengertian itu termasuk ke dalam pengertian ayat sesuai dengan cara suatu lafal yang
menunjukkan suatu pengertian.
1. Musykil
Musykil adalah lafaz yang tidak jelas pengertiannya, dan ketidakjelasan itu disebabkan oleh
lafaz untuk beberapa pengertian yang berbeda sehingga untuk mengetahui pengertian mana yang
dimaksud dalam sebuah redaksi memerlukan indikasi atau dalil dari luar seperti lafaz musytarak
(lafaz yang diciptakan untuk beberapa pengertian yang berbeda hakikatnya). Misalnya, lafaz
quru’ (jamak dari qur’an) dalam surat Al-baqarah ayat 228, artinya :
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[142]. tidak
boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka
beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa
menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak
yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami,
mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.
Kata “quru’” dalam ayat tersebut dalam pemakaian bahasa Arab bisa berarti masa suci dan
bisa pula berari masa haid. Imam syafi’i mengartikannya dengan masa suci, sedangkan Abu
hanifah mengartikannya dengan masa haid. Masing-masing mengambil kesimpulan berbeda itu
didasarkan kepada qarinah atau dalil dari luar yang berbeda pula. Begitulah setiap lafaz musykil
dalam Al-qur’an dan Sunnah, untuk memahaminya memerlukan upaya ijtihad dalam mencari
pengertiannya. Dan apabila ditinjau dari segi kekuatan, musykil lebih tinggi kadarnya daripada
khafi.

1. Mujmal
Mujmal menurut istilah ulama Ushul ialah lafaz yang bentuknya tidak dapat menunjukkan
pengertian yang dikandung olehnya dan tidak terdapat petunjuk-petunjuk lafaz atau keadaan
yang dapat menjelaskannya. Jadi sebab kesamaran dalam mujmal ini bersifat lafdzi, bukan sifat
yang baru datang. Yang temasuk al-mujmal ialah lafaz-lafaz yang pengertian bahasanya dipindah
oleh syari’ untuk pengertian-pengertian istilah syara’ secara khusus. Seperti lafaz shalat,
menurut bahasa berarti doa, tetapi menurut istilah syara adalah ibadah khusus yang segala
sesuatunya dijelaskan oleh Rasulullah. Dengan demikian dapat dikatakan mujmal lebih tinggi
kadar khafanya daripada musykil, sebab penjelasan mujmal diperoleh dari syara’ bukan hasil
ijtihad.
1. Mutasyabih
Mutasyabih ialah lafaz yang petunjuknya memberikan arti yang dimaksud oleh lafaz itu
sendiri, sehingga tidak ada di luar lafaz yang dipergunakan untuk memberikan petunjuk tentang
artinya dan juga syara’ tidak menerangkan tentang artinya. Contohnya dalam surat Al-mujadilah
ayat 7, artinya :
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit
dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan
tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula)
pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada
bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada
mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui segala sesuatu.
Ayat yang mengandung lafaz yang mutasyabih seolah-olah menyerukan Tuhan dengan
makhluk-Nya seperti lafaz tangan, mata dan Allah berada di dekat manusia, tidak mungkin
diketahui arti dan maknanya melalui bahasa karena Allah mahasuci dari kemiripan dengan
makhluk-Nya.
Dalam mengahadapi lafaz mutasyabih ini, para ulama berbeda pendapat. Para ulama salaf
hanya menyerahkan kepada Allah saja, karena Allah yang Mahatahu tentang arti dan maknanya,
sedangkan manusia mengimaninya dan tidak mencari-cari takwilnya. Namun, para ulama khalaf
berusaha untuk menghilangkan kesamarannya dengan mencari takwil yang tepat. Umpamanya
lafaz yad (tangan) ditakwil-kan dengan kekuasaan, lafaz ain (mata) ditakwilkan dengan
pengawasan, dan lafaz yang menggambarkan Allah beserta manusia ditakwilkan dengan
pengetahuan-Nya maha meliputi. Maka dengan cara ini barulah hilang kesamaran lafaz
mutasyabihat.
Kesimpulan

Tingkatan kejelasan dari suatu lafaz terbagi menjadi empat bagian yaitu lafaz zhahir, lafaz nash,
lafaz mufassar dan yang terakhir adalah lafaz muhkam. Masing-masing mempunyai kedudukan
penting dalam menafsirkan suatu redaksi. Sedangkan tingkatan ketidakjelasan dari suatu lafaz
juga terbagi menjadi empat tingkatan yaitu lafaz khafi, lafaz musykil, lafaz mujmal dan lafaz
mutasyabih.
Daftar Pustaka :
Syafe’i, Rahmat, Ilmu Ushul Fiqih,CV Pustaka Setia, Bandung, 2007.
Aminudin, Ahyar, Ushul Fiqih II, CV Pustaka Setia, Bandung, 1989.
Effendi, Satria, Pengantar Ushul Fiqih, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008.
Kaidah-kaidah Hukum Islam: (ilmu ushulul fiqh)/oleh Abdul Wahhab Khallaf; Penerjemah,
Noer Iskandar al-Barsany, mOh. Tolchah Mansoer, Ed. 1., Cet.8. Jakarta , Jakarta, 2002.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Ushulul Fiqh, Gema Risalah Pers, Cet. I. Bandung, 1996.
Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh Jilid 2, Kencana Prenada Media Group,. Ed.1, Cet. 4. Jakarta .
2008.