Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

Ahlussunah: Salaf (Ibn Hanbal dan Ibn Taimiah)


Di Presentasikan Dalam Diskusi Mata Kuliah Ilmu Kalam semester 2 lokal II B

Di Susun Oleh : Kelompok 7

1. Auda Yaharta :
2. Fitrisa Syelitiar: 1710205059

Dosen Pengampu:

Bustian, S.Pdi, MA

MAHASISWA PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH/ ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

(IAIN) KERINCI

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“Ahlussunah: Salaf (Ibn Hanbal dan Ibn Taimiah)” dalam tugas mata kuliah Ilmu
Kalam.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan maupun kesalahan


dalam penulisan makalah ini sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang dari seluruh
pembaca.

Akhir kata, penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat


memberikan manfaat bagi pembaca. Penulis mengucapkan terima kasih dan
mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini.

Sungai penuh, April 2018

Penulis

Ttd

i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada awalnya ilmu kalam lahir banyak persoalan yang timbul
dikalangan masyarakat, karena itulah muncul berbagai pendapat dan
pemikiran, sehingga terbentuk aliran – aliran pemikiran para ulama.
Termasuk aliran teologi untuk menyelesaikan masalah-masalah kalam
tersebut.
Hal ini berdasarkan potensi yang dimiliki oleh setiap manusia terus
berkembang untuk mencari nilai kebaikan. Ilmu kalam dengan
perkembangannya menimbulkan permasalahan, kemudian berkembang
menjadi beberapa aliran disebabkan perbedaan yang dimulai oleh para
ulama kalam.
Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran salaf. Ada banyak
sekali ulama – ulama salaf yang tersebar di seluruh dunia. Pada makalah
ini akan dibahas dua ulama yaitu Imam Ahmad Bin Hanbali dan Ibnu
Taimiyah. Disamping biografi dan riwayat hidup dari dua ulama di atas
juga akan dibahas tentang pemikirannya, seperti Imam Ahmad Bin
Hanbali yaitu tentang ayat – ayat mutasyabihat dan status Al-qur’an
sedangkan ibnu Taimiyah tentang sifat-sifat Allah dan lainya.

i
1

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Salaf
Secara bahasa, kata salaf berarti “yang terdahulu”, lawan dari kata
khalaf, yang berarti “yang datang kemudian.” Kata salaf kemudian
digunakan sebagai nama dari salah satu aliran kalam yaitu aliran salaf.
Aliran ini muncul pada abad IV H/X M oleh para pengikut Imam Ahmad
bin Hanbal. Pendapat – pendapat yang dikemukakan oleh aliran ini,
demikian menurut para tokohnya, mengacu kepada pendapat Imam Ahmad
bin Hanbal yang berupaya menghidupkan kembali dan membela metode
serta akidah salaf. Istilah dan nama salaf merujuk kepada arti generasi
terdahulu, yaitu generasi sahabat, tabi’i, tabi’ dan tabiin. Aliran salaf
adalah aliran yang berupaya menghidupkan kembali metode serta
pemikiran kalam yang ditampilkan oleh generasi para sahabat dan tabiin.
Gerakan atau aliran salaf ini kemudian muncul dan
memperlihatkan diri lebih jelas perkembangan pemikiran Islam pada abad
VII H/XIII M di bawah upaya dan pengaruh Syaikh al-islam Muhy al-Din
bin Taimiyah.1
Ibrahim Madzkur menguraikan karakteristik ulama salaf sebagai
berikut :
1. Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) daripada dirayah
(aql)
2. Dalam persoalan cabang agama dan persoalan-persoalan
cabang agama, mereka hanya bertolak dari penjelasan dari Al-
qur’an dan sunah.

1
M. Amin Nurdin dan Afifi Fauzi Abbas, Sejarah Pemikiran Islam,(Jakarta: Amzah,
2015) hlm.197
2

3. Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut tentang


dzat Nya
4. Mereka memahami ayat – ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna
lahirnya, dan tidak berupaya untuk menakwilkannya.

Menurut Harun Nasution, secara kronologis salafiyah bermula dari Imam


Ahmad bin Hanbal. Lalu, ajarannya dikembangkan oleh Imam Ibn Taimiyah,
kemudian disuburkan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab dan berkembang
di dunia secara sporadis. Di Indonesia sendiri, gerakan ini berkembang lebih
banyak dilaksanakan oleh gerakan - gerakan Persatuan Islam atau
Muhammadiyah. 2

B. Ulama – ulama Salaf dan Pemikirannya.


1. Imam Ahmad bin Hanbali
A. Riwayat Singkat Hidup Imam Ahmad Ibn Hanbal
Ia dilahirkan di Baghdad tahun 164 H/780 M, dan
meninggal pada tahun 241 H/855 M. Ia sering dipanggil sebagai
Abu Abdullah karena salah seorang anaknya bernama Abdillah.
Namun, ia lebih dikenal dengan nama Imam Hanbal karena
merupakan pendiri Madzhab Hanbal.
Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah binti Abdul
Malik bin Sawadah bin Hindur Asy-Syaibani, bangsawan Bani
Amir. Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin
Anas bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin
Auf bin Ali bin Jadlah bin Asad bin Rabi Al-Hadis bin Nizar.
Ayahnya meninggal ketika Ibn Hanbal masih remaja. Namun, ia
telah memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada Ibn Hanbal pada
usia 16 tahun.

B. Pemikiran Teori Ibn Hanbal


1. Tentang Ayat-ayat Mutasyabihat

2
Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam(Bandun: Pustaka Setia,2000) hlm.110
3

Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, Ibn Hanbal lebih


menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) daripada pendekatan
ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan dan
ayat-ayat mutasyabihat. Hal itu terbukti ketika ia ditanya
tentang penafsiran ayat berikut:

Artinya: “ (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang


bersemayam diatas Arsy.”(Q.S. Thaha [20]:5)

Dalam hal ini, Ibn Hanbal menjawab:

‫ْف ْال َع ْر ِش َعلَى ِإ ْست ََوى‬


َ ‫صفَة َحد ِبلَ شَآ َء َو َك َما شَآ َء َكي‬
ِ َ‫اصف ُي ْب ِلغُ َها َوال‬
ِ ‫َو‬

Artinya: “istawa diatas Arasy terserah pada Allah dan


bagaimana saja Dia khendaki dengan tiada batas dan tiada
seorang pun yang sanggup menyifatinya.”

Dan ketika ditanya tentang makna Hadits nuzul (Tuhan turun


ke langit dunia), ru’yah (orang-orang beriman melihat Tuhan
di akhirat), dan Hadits tentang telapak kaki Tuhan, Ibn Hanbal
menjawab:

Artinya: “kita mengimani dan membenarkannya, tanpa


mencari penjelasan cara dan maknanya.”

2. Tentang Status Al-Qur’an


Salah satu persoalan teologis yang dihadapi Ibn Hanbal, yang
kemudian membuatnya dipenjara beberapa kali, adalah tentag
status Al-Quran, apakah diciptakan (makhluk) yang karenanya
hadis (baru) ataukah tidak dicipakan yang karenanya Qadim?
Faham yang diakui oleh pemerintah, yakni Dinasti Abbasiyah
di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim,
dan Al-Wtsiq, adalah faham Mu’tazilah, yakni Al-Qur’an tidak
bersifat Qadim, tetapi baru dan diciptakan. Faham adanya
Qadim disamping Tuhan, berarti menduakan Tuhan, sedangkan
4

menduakan Tuhan adalah Syirik dan dosa besar yang tidak


diampuni Tuhan.3
Ibn Hanbal tidak sependapat dengan faham tersebut diatas.
Oleh karena itu, ia kemudian diuji dalam kasus mihnah oleh
aparat pemerintah. Pandangannya tentang status Al-Qur’an
dapat dilihat dari dialognya dengan Ishaq bin Ibrahim,
Gubernur Irak. Ia hanya mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak
diciptakan. Hal ini sejalan dengan pola pikirnya yang
menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah
kepada Allah dan Rasulnya4

2. Ibn Taimiyah
A. Riwayat Singkat Ibn Taimiyah
Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abi
Al Halim bin Taimiyah. Dilahirkan di Harran pada hari Senin
tanggal 10 Rabi’ul Awwal tahun 661 H dan meninggal dipenjara
pda malam Senin tanggal 20 Dzul Qoidah tahun 729 H.
Kewafatanya telah menggetarkan dada seluruh penduduk
Damaskus, Syam, dan Mesir, serta kaum muslimin pada umumnya.
Ayahnya bernama Syihabuddin Abdul Halim ibn Abdussalam ibn
Abdullah bin Taimiyah, seorang Syaikh, Khatib dan hakim di
Kotanya. Taimiyah merupakan murid yang muttaqi, wara, dan
zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa Tartas yang
berani. Ia dikenal sebagai seorang muhaddist mufassir, faqih,
teolog, bahkan memiliki pengetahuan luas tentang filsafat.5

B. Pemikiran teologi Ibn Taimiyah


Pikiran – pikiran Ibn Taimiyah, seperti dikatakan Ibrahim Madkur,
adalah sebagai berikut:

3
Abdul Rozak, dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, Op Cit, hlm 113-114
4
Harun Nasution, Teologi Islam:Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:
UI Press,1986), hlm. 62-63
5
Ahmadi Thaha, Ibn Taimiyah:Hidup dan Pemikirannya,(Surabaya: Bina Ilmu, 1982),
hlm. 36
5

a. Sangat berpegang teguh pada nash


b. Tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada akal
c. Berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu
agama.
d. Di dalam Islam yang diteladani hanya 3 generasi saja (sahabat
tabai’in, dan tabi’i tabi’in)
e. Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan
tetap mentanzihkan-Nya.6

Berikut ini merupakan pandangan Ibn Taimiyah tentang sifat-sifat


Allah:

a. Percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang Ia


sendiri atau rasul-Nya menyifati. Sifat-sifat yang dimaksud
adalah:
1) Sifat salbiyah
2) Sifat ma’ani
3) Sifat khabariah
4) Sifat dhafiah.
b. Percaya sepenuhnya terhadap nama – nama Nya, yang
Allah atau rasul-Nya sebutkan.
c. Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah tersebut
dengan:
1. Tidak mengubah maknanya pada makna yang tidak
dikehendaki lafaz
2. Tidak menghilangkan pengertian lafaz
3. Tidak mengingkarinya
4. Tidak menggambar-gambarkan bentuk Tuhan.
5. Tidak menyerupakan sifat – sifat-Nya dengan sifat-sifat
makhluk Nya.7

6
Ibid, Hlm.40
7
Abdullah Yusuf, Pandangan Ulama’ Tentang Ayat-ayat Mutasyabihat,(Bandung: Sinar
Baru, 1993) hlm.58-60
6

Hal ini disebabkan bahwa tiada sesuatupun yang dapat menyamai-Nya


bahkan yang menyerupai-Nya pun tidak ada. Berdasarkan alasan diatas, maka
IbnTaimiyah tidak menyetujui penafsiran ayat-ayat Mutasyabihat. Menurutnya,
ayat atau hadist yang menyangkut sifat-sifat Allah harus diterima dan diartikan
sebagaimana adanya, dengan catatan tidak men-tafsim-kan, tidak menyerupai-Nya
dengan makhluk, dan tidak bertanya-tanya tentangnya.

Ibn Taimiyah mengakui tiga hal dalam masalah keterpaksaan dan Ikhtiar
manusia yaitu sebagai berikut:

1. Allah pencipta segala sesuatu

2. Hamba pelaku perbuatan yang sebenarnya

3. Mempunyai kemauan serta kehendak secara sempurna, sehingga


manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya, Allah meridai perbuatan baik
dan tidak meridhoi perbuatan buruk.

Dikatakan oleh Watt bahwa pemikiran Ibn Taimiyah mencapai klimaknya


(puncaknya) dalam sosiologi politik yang mempunyai dasar teologi. Masalah
pokoknya terletak pada uayanya membedakan manusia dengan Tuhannya yang
mutlak.

Oleh karena itu, masalah Tuhan, katanya tidak dapat diperoleh dengan
metode rasional, baik dengan metode filsafat, maupun metode teologi. Juga bahwa
keinginan mistis manusia tidak menyatu dengan Tuhan adalah suatu yang
mustahil.

Oleh sebab itu, Ibn Taimiyah sangat tidak suka pada aliran filsafat yang
mengatakan Al-Qur’an berisi dalil Khitabi dan iqna’i (penenang dan pemuas hati),
aliran Mu’tazilah yang selalu mendahulukan dalil rasional daripda dalil Al-
Qur’an, sehingga banyak menggunakan ta’wil, ulama’ mempercayai dalil-dalil
Al-Qur’an, tetapi hanya dijadikan sebagai pangkal penyelidikan akal, meskipun
untuk memperkuat isi Kandungan Al-Qur’an, seperti Al-Maturidzi, yang
7

mempercayai dalil-dalil Al-Qur’an tetapi menggunakan pula dalil-dalil akal di


samping Al-Qur’an (seperti Asy-Asy’ari).8

8
Abdul Rozak, dan Rosihan Anwar, Op Cit, hlm.117
8

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
salaf adalah ulama terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk
pada generasi sahabat, tabi’i, dan tabi’ tabi’iin.
Imam hanbali adalah salah seorang tokoh salaf yang mempunyai
ciri khas dalam pemikirannya yaitu lebih menerapkan pendekatan lafdzi
daripada ta’wil, kemudian beliau menyerahkan makna-makna ayat dan
hadist mustyabihat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ibnu taimiyah merupakan tokoh salaf yang ekstrim karena kurang
memberikan ruang gerak leluasa pada akal. Ibnu taimiyah tidak
menyetujui penafsiran ayat-ayat mustasyabihat. Menurutnya, ayat atau
hadist yang menyangkut sifat-sifat Allahharus diterima dan diartikan
sebagaimana adanya, dengan catatan tidak men-tajsim-kan, tidak
menyerupakan-Nya dengan makhluk. Untuk memahami latar belakang
perkembangan, pemikiran dalam masyarakat islam salah satu cara yang
bisa digunakan yaitu dengan melihat materi agama yang menjadi
pemahaman umat islam merujuk pada Nash.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan
masih banyak terdapat kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
arahan baik saran maupun kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
penulisan makalah berikutnya.
9