Anda di halaman 1dari 14

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat Tanggal Lahir : Bekasi, 09 Juni 1994
Agama : Islam
Suku : Betawi
Pendidikan Terakhir : Sekolah Dasar
Status Pernikahan : Belum menikah
Pekerjaan : Buruh batu bata
Alamat : Kp. Cilangkara RT. 004/ 002 Desa Cilangkara, Bekasi
Tanggal Masuk RS : 17 September 2018
Tanggal Pemeriksaan : 6 Oktober 2018
Ruang Perawatan : Bangsal Melati II RS. Bhayangkara Tk. I
R. Said Sukanto
II. RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis : Pada tanggal 6 Oktober 2018 di bangsal Melati II RS.
Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
Alloanamnesis : Wawancara via telepon pada penyidik pasien pada
tanggal 6 Oktober 2018.
Rekam Medis Pasien : 987909

1
A. Keluhan Utama
Pasien datang ke Rumah Sakit diantar oleh pihak kepolisian karena bertingkah laku
yang tidak wajar.
B. Keluhan Tambahan
Pasien mengaku sering mendengar bisikan.
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien Tn. A, 24 tahun datang ke IGD RS. Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto
pada tanggal 17 September 2018 diantar oleh pihak kepolisian karena karena bertingkah
laku yang tidak wajar. Selain itu, pasien juga mengaku sering mendengar bisikan.
Menurut Berita Acara Polisi, pasien ditahan oleh kepolisian atas perkara
melakukan penganiayaan yang direncanakan yang mengakibatkan korban meninggal
dunia. Kejadian terjadi pada tanggal 27 November 2017 sekitar pukul 22.00 WIB.
Pasien menceritakan bahwa pasien bekerja sebagai buruh batu bata di kampung pasien.
Dalam lingkungan pekerjaan, pasien sering dikucilkan dan tidak dihargai oleh teman-
teman dikarenakan pasien merupakan orang yang tidak berpendidikan tinggi. Sejak saat
itu pasien sering merasa minder, sedih, menyalahkan diri sendiri, sering melamun dan
menyendiri, serta menjadi tidak percaya diri. Hingga pada bulan Agustus 2017, pasien
memutuskan untuk berhenti bekerja karena perasaan emosi yang tidak tertahankan
kepada teman-temannya.
Setelah 10 hari berhenti bekerja, pasien pergi ke Gunung Cikur, Gunung Salak,
dan Gunung Banten untuk menuntut ilmu hitam, pasien meyakini bahwa ilmu tersebut
dapat membuatnya kebal dan tidak dapat dilukaioleh orang-orang yang mengucilkan
dan tidak menghargainya. Saat di Gunung Banten, pasien menjelaskan bahwa kuncen
dari gunung tersebut menyuruh pasien untuk melakukan beberapa ritual sebagai syarat
untuk mendapatkan ilmu tersebut, yaitu membawa beberapa sesajen ke gunung tersebut
berupa ayam hitam, telur ayam, sereh, kemenyan, kembang tujuh rupa, dan harus
bertapa selama 1 bulan. Kemudian pasien memenuhi syarat tersebut.
Pada saat bertapa, pasien mengaku mendapat bisikan yaitu jika pasien ingin
menyempurnakan ilmu tersebut, pasien harus meminum 7 darah manusia. 1 bulan
kemudian setelah pasien selesai bertapa, pasien pulang ke rumah dan memulai untuk
mencari korban.
Setelah 1 minggu, pasien mendapati 1 korban untuk ia bunuh dan di minum
darahnya. Namun ternyata korban tersebut hanya di bacok dengan clurit di lengan kanan

2
atas. Kemudian pasien langsung lari ke hutan karena karena takut dikejar warga dan
dan menjilat darah korban dari clurit tersebut.
Lalu 5 hari kemudian, pasien kembali menemukan korban di perkampungan
warga. Korban kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Pasien melukai dada korban
dengan clurit sampai akhirnya korban meninggal dunia. Saat itu ada saksi mata yang
melihat yaitu penjual bakso dan penjual hp. Karena ketakutan, pasien langsung kabur
dan lari ke Gunung Salak Cipancar untuk bersembunyi. Pasien bersembunyi di gunung
tersebut selama 6 bulan. Selama 6 bulan tersebut, pasien sering melakukan hal yang
tidak wajar, seperti memakan binatang secara hidup-hidup, hal tersebut dilakukan
karena pasien merasa ingin meminum darah terus-menerus. Karena merasa sudah lama
dan keadaan sudah aman, pasien pulang ke rumah dan tinggal selama 5 hari. Setelah 5
hari dirumah, pasien memutuskan untuk tinggal di pos ronda saja. Saat di pos ronda,
pasien ditangkap oleh polisi dan di tahan di Polsek Cikarang Selatan pada tanggal 8
September 2018. Selama di tahanan, pasien mengaku sering merasa dihantui oleh
bayangan korban yang telah dibunuhnya dengan merasa bahwa korban sering lewat di
belakang pasien dan memegang pundaknya.
Lalu 1 minggu kemudian, pasien dibawa ke RS Polri untuk dilakukan visum.
Saat ini pasien dalam keadaan fisik yang sehat. Pasien menyangkal riwayat trauma
kepala yang berarti dan kejang sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku memiliki
riwayat konsumsi rokok tetapi sangat jarang, namun riwayat alkohol ataupun zat adiktif
lainnya disangkal. Selama perawatan di Melati II, perawat mengatakan pasien dalam
keadaan tenang dan kooperatif jika diajak berbicara. Pasien juga mengaku sudah tidak
dihantui lagi oleh bayangan korban yang telah dibunuhnya.

D. Riwayat Gangguan Dahulu


1. Gangguan Psikiatri:
Menurut pasien, tidak ada riwayat gangguan psikiatrik yang pernah dialami
sebelumnya.
2. Gangguan Medik: Disangkal
3. Gangguan Zat Psikoaktif dan Alkohol:
Pasien memiliki riwayat konsumsi rokok tetapi sangat jarang, pasien hanya
merokok jika disuruh temannya saja. Riwayat panggunaan alkohol ataupun zat
adiktif lainnya disangkal.

3
Grafik Perjalanan Penyakit
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0

Series 1

Keterangan:
0 : Baseline. Sudah tidak terdapat gejala yang dikeluhkan pasien
1 : Terdapat gejala minimal
2 : Muncul gejala sedang yang cukup mengganggu kehidupan pribadi pasien
3 : Muncul gejala berat yang mengganggu kehidupan pasien

E. Riwayat Kehidupan Pribadi


 Riwayat Perkembangan Pribadi
a. Masa Prenatal dan perinatal
Pasien lahir pada tanggal 09 Juni 1994. Masa kehamilan cukup bulan dan persalinan
secara normal. Kondisi kesehatan ibu pasien selama kehamilan baik.
b. Masa kanak awal (0-3 tahun)
Pasien mengatakan bahwa sejak lahir ia diasuh oleh kakak dari ayahnya. Selama
masa ini, proses perkembangan dan pertumbuhan sesuai dengan anak sebayanya.
Pasien tidak pernah mendapat sakit berat, demam tinggi, kejang ataupun trauma
kepala. Tidak ada kelainan prilaku yang menonjol.
c. Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Menurut pengakuan pasien, tumbuh kembang baik dan normal seperti anak
seusianya. Pasien masuk Sekolah Dasar pada umur 6 tahun, namun hanya
menyelesaikan sampai kelas 1 SD dikarenakan keterbatasan biaya. Pasien tergolong
anak yang baik dan mudah bergaul.

4
d. Masa kanak akhir dan remaja (12-18 tahun)
Pasien tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Pasien mengaku sering
membantu bibinya bekerja di sawah dan memulai bekerja sebagai buruh batu bata
untuk membantu biaya kehidupan.
e. Masa dewasa (>18 tahun)
Menurut pengakuan pasien, ia adalah sosok yang cenderung pendiam. Pasien cukup
semangat dalam bekerja serta mandiri. Pasien memiliki pergaulan yang kurang baik
dengan keluarga, teman-teman dan masyarakat.
 Riwayat Pendidikan
a. SD : Pasien menyelesaikan pendidikan hanya sampai kelas 1 SD .
b. SMP : -
c. SMA : -
d. Kuliah : -
 Riwayat Pekerjaan
Pada tahun 2007 saat pasien berusia 13 tahun, pasien memulai bekerja
sebagai buruh batu bata, namun pada saat baru memulai bekerja pasien hanya
melakukan pekerjaan ringan saja. Pada tahun 2017 pasien berhenti bekerja
dengan alasan sering merasa dikucilkan oleh teman kerjanya karena tingkat
pendidikan pasien yang rendah.
 Kehidupan Beragama
Pasien merupakan penganut agama Islam dan tidak taat dalam menjalankan
ibadah.
 Kehidupan Sosial dan Perkawinan
Pasien mengaku belum pernah menikah. Saat ini pasien hidup bersama kakak
dari ayahnya di daerah Cikarang.
 Riwayat Pelanggaran Hukum
Pada Oktober 2016, pasien pernah terlibat perkara pencurian sepeda motor di
daerah Cikarang Pusat dan di vonis hakim selama 18 bulan kurungan, namun pasien
mendapat remisi 1 bulan 15 hari di LP Cipayung. Pasien mengaku bahwa alasannya
mencuri sepeda motor karena merasa kesal selalu diejek oleh korban pencurian
dimana korban tersebut merupakan teman pasien.

5
F. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Pasien memiliki 1 kakak laki-
laki. Saat ini orang tua pasien sudah bercerai. Ini merupakan pernikahan kedua bagi
ayahnya, saat pernikahan pertama ayah pasien memiliki tiga orang anak. Kali ini
ayah pasien sudah menikah lagi dan memiliki satu orang anak. Sejak lahir pasien
tinggal dan diasuh oleh kakak dari ayah pasien dikarenakan orang tua pasien tidak
mau mengurus pasien karena masalah keterbatasan ekonomi. Pasien mengaku
jarang bertemu orang tuanya terutama ibu pasien, pasien mengatakan hanya sekali
bertemu ibunya saat berusia 13 tahun dan saat itu ibunya tidak mengakui bahwa
pasien adalah anaknya. Pasien juga mengaku, jika ia bertanya tentang ibunya,
keluarga tidak ada yang mau bercerita kepadanya masalah sebenarnya hingga
sekarang.

G. Genogram

Keterangan :
: Pasien
: Laki-Laki
: Perempuan
: Bercerai
: Laki-Laki meninggal
: Perempuan meninggal

6
H. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya dan merasa itu salah.
Pasien merasa siap bertanggung jawab atas konsekuensi dari apa yang telah ia lakukan.

I. Impian, Fantasi dan Cita-Cita Pasien


Pasien ingin menjadi orang yang lebih baik lagi dengan kembali ke jalan yang
benar dan berkeinginan untuk bekerja kembali.

III. STATUS MENTAL


A. DEKSRIPSI UMUM
1. Penampilan
Pasien laki-laki berusia 24 tahun dengan penampakan fisik sesuai dengan
usianya. Kulit berwarna sawo matang. Pasien memiliki rambut cukup panjang,
bergelombang, berwarna hitam kecoklatan, memiliki tato di tangan dan kirinya,
serta terlihat eksentrik. Pada saat wawancara, pasien berpakaian cukup rapi dan
bersih. Pasien cukup baik dalam merawat diri dan menjaga kebersihan.
2. Kesadaran
Composmentis
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
a. Sebelum wawancara : Pasien tampak sedang menyapu ruang perawatan
b. Selama wawancara : Pasien tampak tenang dan menjawab pertanyaan
dengan spontan
c. Sesudah wawancara : Pasien berinteraksi dengan pasien lainnya
4. Sikap terhadap pemeriksa
Selama wawancara pasien menunjukkan kontak mata yang baik dan bersikap
kooperatif dalam menjawab pertanyaan dari pemeriksa
5. Pembicaraan
Pasien dapat menceritakan kehidupan pasien secara spontan, lancar dengan
artikulasi cukup jelas.

B. ALAM PERASAAN (EMOSI)


1. Suasana perasaan (mood) : eutim (saat pemeriksaan)
2. Afek Ekspresi : luas (saat pemeriksaan)
3. Keserasian : serasi (saat pemeriksaan)

7
C. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi : Ada
Halusinasi Auditorik : Pasien mengaku mendengar bisikan yang meyuruh
pasien untuk meminum 7 darah manusia jika ingin menyempurnakan ilmunya.
Halusinasi Taktil : Pasien merasa bahwa korban yang telah dibunuhnya
sering lewat di belakang pasien dan memegang pundaknya.
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada

D. SENSORIUM DAN KONGNITIF (FUNGSI INTELEKTUAL)


1. Taraf Pendidikan : Sekolah Dasar kelas 1
2. Pengetahuan Umum : Kurang baik
3. Kecerdasan : Kurang baik
4. Konsentrasi : Baik
5. Orientasi
a. Waktu : Baik (Pasien dapat menyebutkan pemeriksaan pada pagi hari)
b. Tempat : Baik (Pasien tahu bahwa sekarang berada di Rumah Sakit)
c. Orang : Baik (Pasien dapat mengenal dirinya orang-orang sekitarnya)
6. Daya Ingat
Jangka Panjang : Baik (Pasien dapat mengingat tanggal kelahiran pasien)
Jangka Pendek : Baik (Pasien dapat mengingat alamat rumahnya)
Segera : Baik (Pasien dapat menyebutkan 3 benda yang ditunjuk oleh
pemeriksa)
7. Pikiran abstraktif : Baik (Pasien dapat menyebutkan persamaan buah apel dan
jeruk).
8. Visuospasial : Baik (Pasien dapat menggambarkan bentuk yang diminta oleh
pemeriksa).
9. Kemampuan menolong diri : Baik (Pasien tidak membutuhkan bantuan orang lain
untuk makan, mandi serta berganti pakaian).

8
E. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
Kontinuitas : Tidak terganggu
Hendaya Bahasa : Tidak ada
2. Isi Pikir
Preokupasi : Tidak ada
Waham:
- Waham bizzare : Pasien meyakini bahwa dengan menuntut ilmu hitam tersebut
dapat membuatnya kebal dan tidak dapat dilukai oleh orang-orang yang
mengucilkan dan tidak menghargai pasien.
Obsesi : Tidak ada
Kompulsi : Tidak ada
Fobia : Tidak ada

F. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, selama pemeriksaan dilakukan pasien bersikap tenang dan tidak menunjukkan
gejala agresif serta tidak marah.

G. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial : Baik (Pasien dapat membedakan perbuatan baik dan buruk)
2. Uji daya nilai : Baik (Pasien menjawab ketika diberikan simulasi jika
menemukan handphone dijalan)
3. RTA : Terganggu

H. TILIKAN : Derajat 1 (Pasien menyangkal sepenuhnya terhadap penyakitnya)

I. REABILITAS
Pemeriksa memperoleh kesan bahwa tidak seluruhnya jawaban pasien dapat dipercaya.

9
IV. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
a) Kesadaran Umum : Baik
b) Kesadaran : Composmentis
c) Tanda-tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
RR : 20 x/menit
HR : 86 x/menit
Suhu : 36,6 oC
d) Sistem Kardiovaskuler : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
e) Sistem Respirasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
f) Sistem Gastrointestinal : Bising usus normal, timpani disemua kuadran
g) Sistem Ekstremitas : akral hangat, edema (-).
B. Status Neurologik
Tidak dilakukan pemeriksaan neurologis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes Psikologi: Berdasarkan hasil pemeriksaan pskologi (Tes IQ) dapat disimpulkan
bahwa taraf intelegensi secara umum berada dalam kategori Borderline (IQ: 70) berada
dalam ambang batas antara bawah rata-rata.

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


 Pasien Tn. A berusia 24 tahun datang ke Rumah Sakit diantar oleh pihak kepolisian
karena bertingkah laku yang tidak wajar.
 Pada pasien terdapat perilaku yang aneh yaitu menjilat darah dari clurit korban yang
telah dibunuhnya.
 Pasien memiliki penampilan yang eksentrik, seperti tato pada tangan kanan dan kiri,
kemudian perawatan diri yang kurang saat datang ke rumah sakit.
 Pasien sering merasa minder, sedih, menyalahkan diri sendiri, sering melamun dan
menyendiri, menjadi tidak percaya diri, dan kehilangan minat untuk bekerja akibat
dikucilkan dan tidak dihargai oleh teman-temannya.

10
 Pada pasien terdapat halusinasi auditorik: pasien mendengar bisikan yang
menyuruh pasien untuk meminum 7 darah manusia jika ingin menyempurnakan
ilmunya.
 Pada pasien terdapat halusinasi taktil: pasien merasa bahwa korban yang telah
dibunuhnya sering lewat di belakang pasien dan memegang pundaknya.
 Pada pasien terdapat waham bizzare: Pasien meyakini bahwa dengan menuntut ilmu
hitam tersebut dapat membuatnya kebal dan tidak dapat dilukai oleh orang-orang
yang mengucilkan dan tidak menghargai pasien.
 Tidak terdapat riwayat penyakit yang berarti terhadap gangguan psikiatri pasien.
Riwayat trauma kepala dan kejang disangkal.
 Tilikan pasien derajat 1.

VI. FORMULA DIAGNOSTIK


1. Setelah wawancara, pasien ditemukan adanya sindroma atau perilaku dan psikologi
yang bermakna secara klinis dan menimbulkan penderitaan (distress) dan
ketidakmampuan/hendaya (disability/impairment) dalam fungsi serta aktivitasnya
sehari-hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan
jiwa yang sesuai dengan definisi yang tercantum dalam PPDGJ III.
2. Pasien ini tidak termasuk gangguan mental organik karena pada saat di periksa
pasien dalam keadaan sadar, tidak ada kelainan secara medis atau fisik yang
bermakna dan tidak adanya penurunan fungsi kognitif. (F0)
3. Pasien tidak termasuk dalam gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
karena pasien mengkonsumsi rokok, namun tidak pada alkohol dan zat
psikotropika. (F1)
4. Pasien termasuk dalam kriteria gangguan skizotipal karena didapatkan adanya 3
gejala khas yang memenuhi kriteria umum diagnosis gangguan skizotipal, yaitu
didapatkan adanya perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik, dan ganjil,
hubungan sosial yang buruk dengan orang lain, dan menarik diri, serta memiliki
kepercayaan yang aneh atau pikiran yang bersifat magik yang mempengaruhi
perilaku. (F2).
5. Pasien ini termasuk dalam gejala afektif/mood suasana perasaan karena terdapat
adanya gejala afektif yang menonjol (F3).

11
6. Pasien tidak termasuk kedalam gangguan neurotik, gangguan somatoform dan
gangguan terkait stress (F4).
Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan dengan penemuan bermakna dengan
urutan untuk evaluasi multiaksial, seperti berikut:
 Aksis I (Gangguan Klinis dan Gangguan Lain yang Menjadi Fokus)
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah memiliki riwayat
trauma kepala, kejang, dan kelainan fisik yang bermakna. Pasien juga tidak
menggunakan zat psikoaktif. Sehingga gangguan mental dan perilaku akibat
gangguan mental organik dan penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami gangguan skizotipal
karena didapatkan adanya perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik, dan
ganjil, hubungan sosial yang buruk dengan orang lain, dan menarik diri, serta
memiliki kepercayaan yang aneh atau pikiran yang bersifat magik yang
mempengaruhi perilaku pasien. Dari hal tersebut, kriteria diagnostik menurut
PPDGJ III pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan dalam F21.
Gangguan Skizotipal.
 Aksis II (Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental)
Berdasarkan anamnesis yang didapatkan pasien termasuk dalam gangguan
kepribadian skizoid karena pasien cenderung selalu melakukan aktivitas sendiri,
tidak memiliki hubungan pribadi yang akrab terutama pada keluarga, dan terdapat
perilaku yang aneh (eksentrik) pada pasien. Dari hal tersebut, kriteria diagnostik
menurut PPDGJ III pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan dalam
F60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid.
 Aksis III (Kondisi Medis Umum)
Tidak ada diagnosis aksis III
 Aksis IV (Problem Psikososial dan Lingkungan)
a. Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial, yaitu pasien sering dikucilkan dan
tidak dihargai oleh teman-teman kerjanya karena tingkat pendidikan pasien
yang rendah.
b. Masalah pendidikan, yaitu karena kurangnya pendidikan pada pasien
menyebabkan menurunnya taraf intelegensi yang dapat mempengaruhi
bagaimana pasien bereaksi terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi.

12
c. Masalah primary support group (keluarga), kurangnya kedekatan pasien antara
orang tua dan saudaranya membuat pasien kurang mendapat dukungan untuk
melakukan hal-hal positif dan dalam pemecahan masalah.
 Aksis V (Penilaian Fungsi secara Global)
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assement of
Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan GAF pada saat pemeriksaan
didapatkan 40-31, beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi.

Evaluasi Multiaksial
Aksis I : F21. Gangguan Skizotipal
Aksis II : F60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis aksis III
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial, masalah pendidikan, dan
masalah primary support group (keluarga).
Aksis V : GAF 40-31, beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi.

VII. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja : F21. Gangguan Skizotipal
Diagnosis banding : F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Sanationam : Dubia ad malam
Ad Fungsionam : Dubia ad malam

IX. TERAPI
a. Rawat inap
Untuk mencegah kejadian yang dapat merugikan atau mencederai orang lain dan
diri pasien.
b. Psikofarmaka
Pasien tidak diberikan terapi pengobatan.

13
PILIHAN PENGOBATAN :
Oral Olanzapine 1 x 10 mg. Obat APG-2 yang memiliki efek samping
ekstrapiramidal yang minimal. Pada kondisi pasien yang kurus, olanzapine
memiliki efek samping sistem endokrin sehingga akan menambah nafsu makan
pasien. Dapat diberikan apabila pasien dapat mengonsumsi obat secara oral dan
teratur.
c. Non-medikamentosa
Psikoedukasi
1. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dialami pasien.
2. Mengingatkan pasien tentang pentingnya minum obat sesuai aturan.
3. Menjelaskan bahwa pentingnya memikirkan suatu pemecahan masalah yang
tidak berisiko dan merugikan orang lain.
4. Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa dukungan keluarga akan
membantu keadaan pasien.

Psikoterapi
1. Ventilasi : Pasien diberikan kesempatan untuk menceritakan
masalahnya.
2. Sugesti : Menanamkan kepada pasien bahwa gejala-gejala
gangguannya akan hilang atau dapat dikendalikan.
3. Reassurance : Memberitahukan kepada pasien bahwa minum obat
sangat penting untuk meringankan/menghilangkan gejala.

14