Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 17 MODUL 1 “REKAM MEDIK”

Kelompok 4
Tutor : Dr. drg. Febrian

Ketua : Nadhila Hartari


Sekretaris Meja : Zhafarina Adani ‘Atika
Sekretaris Papan : Veby Rilian
Anggota :
Adzkia Rahmi Aulia
Annisa Achmadsyah Gewang
Dian Lestari
Dyana Putri
Luti Amara
Nurhayati
Rindang Paulina

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2018
MODUL 1
REKAM MEDIK
SKENARIO 1

GIGIKU TONGGOS
Fadil (11 tahun) bersama ibunya dating ke klinik dokter gigi untuk konsultasi mengenai
keadaan gigi depan atas yang terlihat maju.

Dokter gigi melakukan anamnesa, menanyakan riwayat gigi keluarganya dan diketahui
susunan gigi ayah dan ibunya normal. Hasil pemeriksaan intra oral gigi permanen telah erupsi
kecuali molar dua dan molar tiga. Terdapat diastema diantara gigi 11 dan 21, overjet 6,2 mm dan
overbite 4mm, relasi gigi molar atas dan molar bawah normal. Dokter gigi mencetak maksila dan
mandibular Fadil.

Dokter gigi juga melakukan foto intra oral dan ekstra oral lalu merujuk Fadil ke bagian
radiologi untuk rontgen foto panoramic dan sefalometri.

Ibu Fadil bingung dengan anjuran dokter gigi karena menyangka kasus anaknya sangat
parah. Bagaimana saudara mengatasi kebingungan ibu Fadil ?
I. TERMINOLOGI
-

II. IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apia saja pertanyaan anamnesa yang ditanyakan pada kasus Fadil ?


2. Apa saja pemeriksaan EO pada kasus Fadhil ?
3. Apa saja pemeriksaan IO pada kasus Fadhil ?
4. Apa saja pemeriksaan lain selain pemeriksaan IO dan EO ?
5. Apa fungsi dari rontgen foto ?
6. Bagaimana cara analisa sefalometri ?
7. Apa saja foto selain foto rontgen untuk kasus Fadhil ?
8. Mengapa maxila dan mandibula Fadil dicetak ?
9. Mengapa gigi depan Fadhil maju ?
10. Apa diagnosa maloklusi kasus Fadhil ?
11. Apa langkah untuk menentukan rencana perawatan ?
12. Apa perbedaan rekam medik umum dengan rekam medik ortodonti ?

III. ANALISIS MASALAH

1. Apa saja pertanyaan anamnesa yang ditanyakan pada kasus Fadil ?


a. Identitas (nama, umur, jenis kelamin, suku dan alamat)
b. CC
c. PMH (penyakit sistemik)
d. FH
e. PDH
f. Kebiasaan buruk
2. Apa saja pemeriksaan EO pada kasus Fadhil ?
a. Kesimetrisan wajah
b. Bentuk kepala
c. Profil wajah
d. Bentuk wajah
e. Hubungan bibir
3. Apa saja pemeriksaan IO pada kasus Fadhil ?
a. OH pasien (gigi geligi, karies, tambalan dan oklusi)
b. Lidah
c. Palatum
d. Frenulum
e. Torus
4. Apa saja pemeriksaan lain selain pemeriksaan IO dan EO ?
a. Pemeriksaan umum
b. Analisa fungsional (TMJ, path of closure dan displacement mandibula)
c. Analisa model studi
d. Analisa rontgen foto
e. Analisa fotografi
5. Apa fungsi dari rontgen foto ?
a. Membantu menegakkan diagnosa
b. Pedoman untuk rencana perawatan
c. Melihat adanya kelainan patologis
d. Evaluasi hasil perawatan
e. Melihat pertumbuhan dan perkembangan kranofasial
6. Bagaimana cara analisa sefalometri ?
a. Menggambar jaringan lunak
b. Menentukan titik-titik jaringan keras
c. Menetukan dan menghitung sudut SNA, SNB, dan ANB
d. Menentukan sudut kecembungan
7. Apa saja foto selain foto rontgen untuk kasus Fadhil ?
a. Foto intraoral
b. Foto profil (frontal dan lateral)
8. Mengapa maxila dan mandibula Fadil dicetak ?
a. Mengetahui lengkung gigi
b. Sebagai acuan akurat dalam perawatan ortodonti
c. Untuk rekam medik
d. Perbandingan sebelum dan sesudah perawatan ortodonti
e. Menghitung ruang yang tersedia
9. Mengapa gigi depan Fadhil maju ?
a. Bad habit
b. Bentuk lengkung yang sudah protusif
c. Ukuran lidah yang lebih besar dari lengkung rahang
d. Kombinasi bentuk lengkung rahang dari ayah dan ibu
10. Apa diagnosa maloklusi kasus Fadhil ?
Maloklusi Kelas I tipe 2 Dewey dengan overjet 6,2 mm dan overbite 4 mm
11. Apa langkah untuk menentukan rencana perawatan ?
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan umum
c. Pemeriksan IO
d. Pemeriksaan EO
e. Pemeriksaan fungsional
f. Analisa model
g. Analisa radiografi dan fotografi
h. Diagnosa
12. Apa perbedaan rekam medik umum dengan rekam medik ortodonti?
a. Pada rekam medik ortodonti pertanyaan lebih fokus pada maloklusi dan
penyebab terjadinya maloklusi
b. Dokumen pada rekam medik berupa rontgen foto

IV. SKEMA

Fadil (11 tahun)



Ke dokter gigi

Pemeriksaan Subjektif Pemeriksaan Objektif Pemeriksaan Penunjang

CC: gigi terlihat maju

FH: susunan ayah ibu normal IO

- Gigi permanen telah Cetakan Rontgen Foto IO


erupsi kecuali M2 RA dan RB dan EO
dan M3
- Diastema gigi 11 Pano Sefalo
dan 21 ramic metri
- Overjet 6,2 mm
- Overbite 4 mm
- Relasi M normal

Anamnesa Umum Analisa Lokal Analisa Analisa Analisa

dan Model Radiologi Fotografi

Anamnesa Ortodonti Analisa IO Analisa EO Analisa Fungsional

Rekam Medik
V. LEARNING OBJEKTIF
1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Anamnesa Umum
dan Anamnesa Ortodonti
2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Analisa Lokal
(Analisa IO, Analisa EO dan Analisa Fungsional).
3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Analisa Model.
4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Analisa Radiologi.
5. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Analisa Fotografi.

VI. MENGUMPULKAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN, INTERNET, DAN


LAIN LAIN.

VII. SINTESA DAN UJI INFORMASI YANG TELAH DIPEROLEH.

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Anamnesa Umum dan


Anamnesa Ortodonti

Pencatatan identitas pasien meliputi :


I. Essential Diagnostic
Yaitu berkaitan dengan pertimbangan essential untuk diagnosa suatu kasus
ortodontik.
Idealnya, memulai suatu kasus, harus melakukan :
1. Case History (riwayat kasus)
Yaitu pengumpulan informasi dari pasien dan / orang tua dan / kerabat
pasien untuk membantu dalam diagnosis kasus.
Ini terdiri dari :
A. Personal details
1. Nama Pasien : Nama pasien dicatat dengan benar sesuai dengan yang
dimaksud pasien
2. Umur : Pencatatan umur diperlukan untuk :
• Mengetahui apakah pasien masih dalam masa pertumbuhan atau sudah
berhenti
• Pertumbuhan gigi-geligi masih termasuk periode gigi susu/decidui,
campuran/mixed atau tetap/permanent.
• Gigi yang sudah erupsi sudah sesuai dengan umur pasien (menurut
umur erupsi gigi).
• Menetapkan jenis alat ortodontik yang tepat untuk digunakan (alat cekat
atau lepasan, alat aktif atau fungsional)
• Untuk memperkirakan waktu /lama perawatan yang diperlukan. Apakah
perawatan bisa segera dilaksanakan atau harus ditunda, berapa lama
dibutuhkan perawatan aktif dan berapa lama diperlukan untuk periode
retensi.
3. Jenis kelamin : Pencatatan jenis kelamin pasien diperlukan berkaitan segi
psikologi perawatan :
• Pasien wanita lebih sensitif dari pada pasien lelaki oleh karena itu
perawatan harus dilakukan dengan cara yang lebih lemah lembut dari
pasien lelaki.
• Pasien wanita lebih memperhatikan secara detil keteraturan giginya dari
pada pasin laki-laki.
• Pasien wanita biasanya lebih tertib lebih sabar dan lebih telaten dari
pada pasien lelaki dalam melaksanakan ketentuan perawatan.
4. Alamat : Pencatatan alamat (dan nomer telepon) diperlukan agar operator dapat
menghubungi pasien dengan cepat bila diperlukan . Sebaliknya pasien juga
diberi alamat (dan nomer telepon) operator untuk mempermudah komunikasi.
5. Pendidikan : Dengan mengetahui pendidikan pasien, operator dapat
menyesuaikan cara memberi penerangan, cara memotivasi pasien).
6. Suku bangsa : Pencatatan suku bangsa diperlukan karena suatu kelompok suku
bangsa atau ras tertentu akan mempunyai ciri-ciri spesifik yang masih termasuk
normal untuk kelompok tersebut (misalnya suku bangsa Negroid sedikit
protrusif masih termasuk normal).

2. Chief Complaint
- Harus ditulis dengan kata-kata pasien
- Harus disebutkan kondisi yang dirasakan pasien
- Persepsi orang tua terhadap maloklusi juga harus dicatat

3. Medical History
- pengetahuan pasien akan kesehatan umumnya harus didapat untuk
pemeriksaan
- pada kebanyakan kasus, perawatan ortodonti dapat dilakukan tetapi
tindakan pencegahan juga harus dipertimbangkan terutama dalam
melakukan ekstraksi
Contoh :
- Pemakaian antibiotik yang dibutuhkan pada pasien dengan
demam rematik/kelainan jantung saat pemakaian
molarband/pelepasannya. Jika gusi di daerah tersebut inflamasi/bleeding
harus diantisipasi
- Adanya gangguan mental, harus butuh management khusus
4. Dental History
- Umur erupsi
- munculnya gigi desidui dan permanen
- past dental history juga dapat membantu

5. Prenatal History
- lebih terkonsentrasi pada kondisi ibu selama kehamilan dan tipe
persalinannya.
- status gizi dan beberapa infeksi yang mungkin saja dialami dapat
mempengaruhi pembentukan gizi si anak.
- penggunaan beberapa obat/penggunaan yang berlebihan beberapa
vitamin juga dapat menghasilkan deformitas kongenital pada anak.
- untuk tipe persalinan, berkaitan misalnya tang-tang persalinan bisa saja
dapat melukai TMJ. Tekanan berlebihan dari tang pada regio TMJ dapat
mengakibatkan ankilosis dari sendi dan mempengaruhi terjadinya
retardasi pertumbuhan mandibula.

6. Postnatal History
- lebih terkonsentrasi pada pola makan (type of fiding), adanya bad habit
khususnya thumb sucking dan kejadian penting dari pertumbuhan
normal.
- bernafas lewat mulut / thumb sucking juga mendukung maloklusi.

7. Family History
- melihat adanya skeletal maloklusi khususnya skeletal kelas II dan
kongenital seperti cleft bibir dan palatum.

2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Anamnesa Ortodontik.

Anamnesis adalah salah satu cara pengumpulan data status pasien yang didapat
dengan cara operator mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
keadaan pasien :
Anamnesis meliputi :
1. Keluhan Utama (chief complain/main complain) :
Keluhan utama adalah alasan/motivasi yang menyebabkan pasien datang
untuk dirawat. Dari keluhan yang telah dikemukakan itu akan dapat diketahui:
• Apa sebenarnya yang pasien inginkan untuk mendapat perbaikan dari
operator/dokter gigi
• Apakah keluhan itu memungkinkan untuk ditanggulangi dengan perawatan
ortodontik ?
• Apakah keluhan itu menyangkut faktor esteik atau fungsional (bicara ,
mengunyah) ?
• Keluhan utama bisanya diikuti oleh keluhan sekunder yaitu keluhan yang baru
disadari setelah mendapat penjelasan dari operator: Apakah ada keadaan lain
yang tidak disadari oleh pasien yang merupakan suatu kelainan yang
memungkinkan untuk dirawat secara ortodontik ? Jika ada ini perlu dijelaskan
dan dimintakan persetujuan untuk dirawat.

Contoh : Pasien datang ingin merawatkan gigi depan rahang atas dan bawah yang
dirasakan tidak teratur dan terlalu maju sehingga mengganggu penampilan. Dari
hasil pemeriksaan pendahuluan untuk mencocokkan apa yang dikeluhkan pasien
dengan keadaan yang sesungguhnya, ditemukan pula adanya ectopic kaninus
kanan atas dan deep overbite anterior, kelainan ini perlu dijelaskan dan
dimintakan persetujuan untuk dirawat , setelah disetujui pasien, dicatat sebagai
keluhan sekunder.

Dari pernyataan itu dapat ditarik kesimpulan atau diagnosis bahwa


keluhan utama pasien adalah merupakan kasus :
• Crowding / gigi berjejal
• Protrusif / gigi merongos / tonggos
• Melibatkan gigi-gigi depan pada rahang atas dan bawah
• Menggagu estetik
Dengan keluhan sekunder :
• Ectopic kaninus kanan atas dan deep over bite anterior.

2. Riwayat Kasus (Case History)

Pasien dengan protrusif maksila (klas II divisi 1) bisa ditetapkan sebagai


kasus yang disebabkan oleh faktor keturunan atau bukan, dengan melakukan
anamnesis untuk menelusuri riwayat kasusnya:
- Jika keadaan orang tuan dan saudara-saudaranya mempunyai
kemiripan dengan pasien kasus ini disebabkan oleh faktor
keturunan.
- Jika orang tua dan saudara-saudaranya tidak protrusif tetapi dari
riwayat kasus didapatkan pasien mempunyai bad habit menghisap ibu jari pada
masa kecilnya maka kasus ini disebabkan oleh faktor kebiasaan buruk / bad habit.
Disini dimaksudkan agar operator dapat menelusuri riwayat
pertumbuhan dan perkembangan pasien yang melibatkan komponen
dentofasial sampai terjadinya kasus maloklusi seperti yang diderita pasien
saat ini.

Riwayat kasus dapat ditelusuri dari beberapa aspek :


a. Riwayat Gigi-geligi (Dental History): Anamnesis riwayat gigi-geligi
dimaksudkan untuk mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan gigi-
geligi pasien sampai keadaan sekarang sehingga dapat diketahui mulai sejak
kapan dan bagai mana proses perkembangan terbentuknya maloklusi pasien.
Meliputi riwayat pada :
• Periode gigi susu (Decidui Dentition) : Untuk mengetahui adakah poses
pertumbuhan dan perkembangan maloklusi pasien dimulai pada periode
ini ?
- Adakah gigis (rampant caries) pada waktu masa gigi susu ?
- Adakah karies pada sela-sela gigi-gigi (proximal caries) pada waktu
gigi susu ? Di daerah mana ?
- Apakah karies ini ditambalkan ke dokter gigi?
- Penahkah mendapat benturan (trauma) pada gigi-gigi susu? Di
bagian mana ?
• Periode gigi campuran (Mixed Dentitition) : Adakah proses pergantian
dari gigi susu ke gigi permanen ini sebagai penyebab terjadinya maloklusi?
Perlu diketahui kemungkinan adanya persistensi / prolonged retensi
bahkan prematur loss.
- Ketika gigi-gigi susu mulai goyah apakah dicabutkan kedokter gigi
secara teratur ?
- Adakah gigi-gigi yang sampai kesundulan / persistensi? Di daerah
mana ?
- Adakah gigi susu yang karies besar tidak dirawat. Adakah sisa-sisa
akar gigi susu yang tertinggal pada saat gigi permanen mulai
erupsi ?
- Adakah gigi-gigi permanen yang terlambat tumbuh (terlalu lama
ompong)
• Periode gigi permanen (Permanent Dentition) : Untuk mengetahui apakah
maloklusi pasien dimulai pada periode ini ?
- Adakah karies pada gigi permanen. Apakah sudah ditambal /
apakah mendapat perawatan syaraf (endodontik) ?
- Adakah gigi permanen yang telah dicabut ? Kapan ? Karena apa ?
Apakah ada gigi yang telah dicabut dibiarkan tidak diganti dalam
waktu yang lama ?
- Adakah gigi tidak bisa tumbuh / impaksi ? Apakah sudah dicabut
atau agenese ?
- Adakah benturan / trauma pada gigi-gigi permanen , dibagian
mana ?
b. Riwayat Penyakit (Desease History) :
Anamnesis Riwayat penyakit tujuannya untuk mengetahui :
- Adakah penyakit yang pernah / sedang diderita pasien dapat menggangu
proses pertumbuhan, perkembangan rahang dan erupsi normal gigi-geligi,
sehingga diduga sebagai penyebab maloklusi.
- Adakah penyakit yang diderita pasien dapat mengganggu / menghambat
proses perawatan ortodontik yang akan dilakukan.
- Adakah penyakit yang kemungkinan dapat menular kepada operator
- Perlu diketahui pada umur berapa dan berapa lama penyakit itu diderita
pasien dan apakah sekarang masih dalam perawatan dokter, dokter siapa ?
- Penyakit yang dimaksud antara laian :
• Penyakit kekurangan gizi pada masa kanak-kanak
• Tonsilitis atau Adenoiditis
• Hypertensi atau penyakit Jantung
• Hepatitis atau Lever
• Asthma
• Tubercolosis
• HIV atau AIDS
• Allergi terhadap obat tertentu
• Dll.

c. Riwayat keluarga (Family History) :


Tujuan dari anamnesis riwayat keluarga adalah untuk mengetahui apakah
maloklusi pasien merupakan faktor herediter (keturunan) yang diwariskan dari orang
tua. Untuk iru perlu ditanyakan keadaan gigi-geligi kedua orang tua dan saudara
kandung pasien.

⇒ Contoh : Umur Susunan Gigi-geligi


Orang tua : - Ayah : 38 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif
- Ibu : 35 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif

Saudara: - Anak I (♂) : 19 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif


- Anak II (♀ ) : 17 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif
- Anak III (♀) : 15 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif
- Anak IV((♂) : 13 tahun Teratur / Berjejal / Renggang, Protrusif / Retrusif
- Dst.

d. Kebiasaan buruk (Bad habit ) :


Anamnesis bad habit dinamaksudkan untuk mengetahui etiologi maloklusi pasien
apakah berasal dari suatu kebiasaan buruk yang telah / sedang dilakukan pasien.
Untuk itu tanyakan kepada pasien atau orang tuanya tentang :
- Jenis : Bad habit apa yang telah dilakukan ?
- Kapan : Umur berapa bad habit dilakukan, apakah sekarang masih
dilakukan ?
- Durasi : Dari sejak kapan sampai kapan dilakukan ?
- Frekuensi : Berapa kali per jam / perhari dilakukan ?
- Intensitas : Seberapa kuat / keras dilakukan ?
- Posisi : Bagaimana dan di bagian mana dilakukan ?
- Apakah ada hubungan anatara bad habit yang dilakukan dengan keadaan
maloklusi pasien.
3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang Analisa Lokal (Analisa IO,
Analisa EO dan Analisa Fungsional).

A. Analisa IO
Pemeriksaan untuk analisa intraoral ini meliputi pemeriksaan pada :
1. Lidah
Pemeriksaannya meliputi bentuk, warna dan konfigurasinya.
Ukuran lidah yang tidak rata diperkirakan dengan bantuan lateral
chepalogram. Makroglossia biasanya memperlihatkan kesan batas
lateralnya, dimana pada lidah terlihat tampilan bergigi.
Lingual frenulum juga harus dilihat dan diperiksa.

2. Bibir dan Frenulum Bukalis


Pada frenelum labialis RA, adalah penyebab umum terjadinya
maloklusi. Suatu jaringan fibros yang tebal, dan frenelum labialis yang
rendah akan menghalangi I central untuk saling mendekat sehingga terjadi
midline diastema.
Suatu frenektomy diindikasikan ketika frenulumnya melekat
terlalu dalam dengan extension fiber ke papilla interdental. Blanch test
dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis dimana bibir atas
melekat diatas hingga keluar.

3. Gingiva
Pemeriksaannya meliputi tipe (tebal dengan fibrous/tipis),
inflamasi, dan mukogingiva lesi. Pada anak-anak umumnya generalisasi
marginal gingivitis karena akumulasi dental plak. Yang dapat diatasi
dengan OH yang baik, sedangkan pada pasien dewasa harus dilakukan
scalling+kuretase dan terkadang dibutuhkan mukogingival surgeri.
Lesi lokal gingiva dapat terjadi karena occlusal trauma, fungsi
abnormal karena obat, contohnya dilantin. Pada pasien yang bernafas
lewat mulut, open lip posture dapat menyebabkan kekeringan pada mulut
sehingga terjadi anterior marginal gingivitis.
Gingivitis kontraindikasi untuk perawatan ortodonti.

4. Palatum
Palatum mukosa diperiksa untuk :
a. Melihat patologik palatal swelling : indikative terhadap
displaced/impaksi, kista, etc.
b. Adanya trauma deep bite
c. Kedalaman palatum dan variasi bentuk yang berhubungan
dengan bentukan wajah.
d. Melihat adanya cleft dari sudut yang berbeda
e. Rugae, dapat digunakan sebagai kriteria diagnostik untuk
proklinasi anterior.

5. Tonsil dan Adenoid


Meliputi ukuran dan inflamasi pada tonsil. Inflamasi yang lama
pada tonsil menyebabkan perubahan lidah dan postur rahang, sehingga
terjadi ketidakseimbangan orofasial sehingga terbentuk wajah adenoid.

6. Pemeriksaan Gigi Geligi


Meliputi pemeriksaan.
a. Status dental, contoh : jumlah gigi, erupsi, missing.
b. Dental dan anomali oklusal.
Gigi yang karies harus dirawat dulu sebelum perawatan
ortho. Gigi-gigi harus diperiksa untuk malformasi lain, hiplopasia,
restorasi, pemakaian dan discolorisasi.
c. Assesment (perkiraan) dari basis apikal
- Sagital plane : cek hubungan molar clas I,II,III
- Vertikal plane : overjet, overbite (deep bite, openbite).
- Tranverse plane : diperiksa lateral shift dan crossbite.
d. Midline wajah harus tepat dengan midline gigi.
e. Ketidakteraturan gigi secara individual.
Contoh : - rotasi
- displacement
- fraktur
f. Bentuk dan kesimetrisan lengkung atas dan bawah.

B. Analisa EO
1. Forehead / Kening
Estetika prognosis dari kasus ortodontik dilihat dari profil yang
dipengaruhi oleh bentuk kening dan hidung.
Untuk suatu wajah yang harmoni, ketinggian dari kening (jarak dari hairline ke
glabella) harus sama dengan jarak glabella - subnasal dan subnasal ke menton (dagu).
2. Hidung
Ukuran, bentuk, dan posisinya harus menghasilkan penampilan estetik
untuk prognosa yang baik.

3. Lips / Bibir
Panjang bibir, lebar, lengkung bibir, harus dicek. Pada wajah yang
seimbang, panjang bibir atas 1-3, dan bibir bawah dan dagu 2-3 dari tinggi bibir
bawah.
Insisal edege gigi RA harus terlihat 2 mm saat istirahat. Bibir dapat
diklasifikasikan :
a. Competent Lips : Berkontak saat relaksasi
b. Incompetent Lips : Tidak dapat berkontak ketika otot-otot dalam
posisi rileks dan lipseal hanya dapat dicapai dengan
kontraksi aktif orbicularis oris dan otot mentalis.
c. Potentially Competent : Lipseal terhalang karena protrusi maxilla atas.
d. Everted Lips : Adanya hipertrofi lips dengan jaringan berlebih
tapi tonicity otot lemah.

C. Analisa Fungsional
Membentuk fungsi normal dari sistem stomatognasi yang memperlihatkan pertumbuhan
normaldan pembentukan orofasial kompleks.

Sebuah analisa fungsional, mencakup tentang :


1. Penilaian postural rest position dan maximum intercuspation
2. Pengujian TMJ
3. Pengecekan Orofacial Disfungsi

1. Penilaian / Pengukuran Postural Rest Position dan Maximum Intercuspation.

Postural Rest Position (PRP) :


- posisi mandibula yang sinergis dan antagonis sistem orofacial
adalah pada dasar tonus dan dalam keadaan dinamis dan seimbang
(balanced dinamically).
- posisi mandibula berada pada otot-otot yang dekat dengan rahang
dan yang membuka, dalam kondisi minimal kontaksi untuk
menjaga postur mandibula.

Pada posisi PRP ini, ada sebuah space yang terbentuk antara RA
dan RB yang dikenal dengan interoklusal clearance / freeway space.
Normalnya 3mm pada regio caninus. Posisi ini harus didapatkan dengan
pasien dalam keadaan rileks, dan tegap dengan tidak menyender.
Kemudian kepala dan pandangan pasien harus lurus ke depan. Kepala
harus sejajar dengan lantai, Frankfurt Horizontal Plane // dengan lantai.

Ada beberapa metode pengukurannya untuk mendapatkan RRP :


a. Metode Fonetik
Pasien diminta mengucapkan huruf “M / kata missisippi” berulang-
berulang. Mandibula kembali ke PRP 1-2 detik setelah latihan.

b. Metode Perintah (command methode)


Pasien diminta untuk memperlihatkan beberapa fungsi seperti menelan
dan akhirnya secara spontan mandibula akan berada pada keadaan rest position.

c. Non command Methode


Mengajak pasien berbicara dan mengobservasi bicaranya dan menelan
ketika ia distracted.
Ketika bicara / bercakap-cakap, otot-otot pasien akan relaks dan mandibula akan
berada pada posisi PRP.

d. Combine Methode
Contohnya Tapping Test.
Dapat merilekskan otot-otot. Disini, dokter gigi memegang dagu dengan
jari dan jempol, dan kemudian membuka dan menutup mulut dengan pasive
dengan tinggi frekuensi yang konstan sampai otot-otot nya rileks.
Untuk pengukuran rest position ini ada 2 metode :
a. Intraoral methods
- direct method : menggunakan sliding caliper untuk mengukur
interocclusal clearance pada regio C
- indirect method : cetakan untuk melihat free way space.