Anda di halaman 1dari 1

Hubungan Hijab dengan Perilaku – Wajib Tahu

Seringkali kita mendengar orang berbicara,”Si Fulan berjilbab, tapi kelakuannya wah…”’ Atau “Untuk
apa berhijab jika kelakuannya buruk, lebih baik jilbabin hati aja dulu”. Benar nggak ya seperti itu? Buat
yang berhijab, kata-kata itu seperti merendahkan. Sedangkan bagi yang tetat tidak mau menutup aurat,
hal tersebut adalah alasan. Sebaiknya kita pahami dulu arti hijab, jilbab, kewajiban berjilbab, perilaku
atau akhlak, dan akhlak yang baik menurut Islam. Selanjutnya kita akan memahami hakikat hubungan
hijab dengan perilaku.

Hijab dan Jilbab


Perbedaan hijab, jilbab, dan tudung tidak terlalu signifikan. Hijab menunjukkan pembatas yang
melindungi semua yang berada di baliknya. Pembatas bisa saja berupa pakaian yang menutup
muslimah. Tugasnya adalah melindungi tubuh muslimah agar tidak semua orang bisa melihatnya.
Namun, pembatas dapat juga berupa kain atau tembok dalam masjid, misalnya yang melindungi shaf
kaum wanita di bagian belakang. Sementara jilbab mengacu kepada kerudung yang dijulurkan dari
kepala hingga menutupi dada. Artinya jilbab adalah hijab. Hijab belum tentu jilbab. Namun, di
Indonesia kita saat ini lebih mengenal hijab sebagai pakaian penutup aurat secara lengkap mulai dari
atas kepala hingga menutup kaki.

Kewajiban menutup aurat sangat jelas. Perintah berhijab dalam Al Qur’an terutama merujuk kepada
surat Al Ahzab (33) ayat 59 dan surat An Nur (24) ayat 31. Perintah bagi seluruh muslimah tanpa
terkecuali. Syarat pakaian hijab jelas sesuai dengan ciri-ciri hijab syar’i, di antaranya hanya
memperlihatkan telapak tangan dan wajah, menutupi kaki (sesuai hadist tentang berhijab yang benar),
tidak menarik perhatian, sederhana, jilbab menutup dada, tidak membentuk ciri-ciri jilbab punuk unta,
dan lain-lain. Melaksanakan perintah pertanda bahwa seseorang beriman kepada Allah.

Perilaku atau Akhlak


Sementara ibadah adalah realisasi hubungan manusia dengan Allah dan akhlak atau perilaku adalah
realisasi hubungan manusia dengan manusia. Setiap muslim selain diwajibkan beribadah juga
diwajibkan untuk berakhlak baik atau berperilaku baik terhadap sesama manusia untuk mendapatkan
keridhaan Allah. Dalam Al Qur’an, pedoman tentang akhlak sangat lengkap. Mulai dari adab
bertetangga, orang tua dan anak, dan berbagai situasi. Islam mengatur semua sisi mulai dari jual beli
hingga masuk ke dalam toilet. umumnya pedoma tentang perilaku yang baik terdapat dalam Al Qur’an
surat Al Isra dan Al Maidah.

Seperti harus amanah, jujur, berkata lemah lembut terhadap sesame, dan seterusnya. Namun dalam
pelaksanaannya akhlak dan perilaku bias dengan perilaku berdasarkan adat istiadat. Misalnya, anjuran
untuk berkata lemah lembut (QS Al Baqoroh ayat 83) diartikan khusus bagi muslimah saja. Lemah
lembut diartikan sebagai bersuara pelan. Padahal maksudnya adalah berkata baik dan tidak menyakiti
dan ini berlaku pada semua muslim laki-laki dan perempuan.

Hubungan Hijab dengan Perilaku


Berdasarkan uraian di atas berarti hijab dan perilaku adalah dua hal yang berbeda. Namun keduanya
adalah kewajiban untuk dilaksanakan. Tidak ada yang lebih baik dalam pelaksanaan. Orang yang telah
berhijab dengan benar dan niat benar, berarti sudah berusaha melaksanakan perintah Allah. Dengan
demikian, tentunya orang tersebut akan berusaha menjalankan semua perintah lain termasuk perbaikan
akhlak dan ibadah.

Sementara, perbaikan tidak selalu langsung sempurna. Sebagai manusia, hubungan dengan manusia lain
tentunya punya salah. Manusia tidak ada yang sempurna. Sebaik apapun seseorang berusaha, tetap ada
yang salah di mata orang lain. Orang yang mengatakan akan menjilbabi hatinya dulu bahkan belum
tentu melakukannya. Mereka tentunya tidak termotivasi.

Nah, sudah tahu kan hubungan hijab dengan perilaku atau hubungan hijab dengan akhlak? Mana yang
lebih baik tentunya kita bisa menilainya sendiri.