Anda di halaman 1dari 24

Ê Ê

   


 Ê  

Sejalan Pengertiannya sebagai Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara maka

APBN selalu menjadi tolak ukur akan kemajuan bangsa Indonesia. Pertumbuhan

pembangunan baik itu pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan infrastruktur

merupakan target dari adanya APBN itu sendiri.

Oleh karena itu menjadi tugas Pemerintah untuk menentukan kebijaksanaan di

bidang anggaran belanja agar stabilitas pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tetap

dapat di pertahankan tanpa adanya bantuan dari luar negeri, artinya besarnya

pengeluaran total tidak boleh melebihi besarnya pendapatan total (surplus).

Kebijakan yang di tetapkan pemerintah antara lain adalah kebijakan fiscal,

kebijakan moneter , kebijakan keuangan international dan kebijakan pemerataan

pendapatan. Kebijakan fiskal merujuk pada kebijakan yang dibuat pemerintah untuk

mengarahkan ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dan pendapatan (berupa

pajak) pemerintah. Instrumen utama kebijakan fiskal adalah pengeluaran dan pajak.

Perubahan tingkat dan komposisi pajak dan pengeluaran pemerintah dapat

mempengaruhi variabel-variabel berikut:.

1.‘ Permintaan agregat dan tingkat aktivitas ekonomi

c
.‘ Pola persebaran sumber daya

3.‘ Distribusi pendapatan

Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk

mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih

sejahtera. Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan

ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan

harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha

mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi

dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam

pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu

namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib

minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank

untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Tujuan ± tujuan dari

kebijakan di atas tentu saja untuk menjaga keseimbangan antara pendapatan dan

pengeluaran Negara yang tercatat di dalam APBN.

Ê
      

Dalam pembahasan makalah ini, penulis hanya melakukan penelitian atas

peranan pemerintah dalam APBN . Dimana peranan pemerintah dalam hal ini

presiden ³campur tangan´ dalam Rancangan APBN.


   


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca mengetahui arti dari

APBN itu sendiri. Selain itu pembaca dapat memahami sampai dimana Peranan

Pemerintah dalam hal ini presiden dalam Perancangan APBN.


   

Dalam penyusunan makalah ini, penulis mengumpulkan berbagai data dan

sumber pendukung dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library

research) dan wawancara. Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengumpulkan

dan mempelajari berbagai sumber kepustakaan yang relevan dengan pokok bahasan,

yang berupa buku-buku literatur, media cetak, literatur ilmiah, internet maupun

peraturan perundang-undangan. Penelitian ini berguna untuk memperoleh pengertian

dasar, landasan teori, dan konsep yang digunakan untuk memberikan tinjauan atas

permasalahan yang dibahas.


     


 Ê   

Dalam bab ini akan diuraikan latar belakang permasalahan, tujuan penulisan,

ruang lingkup pembahasan, metode pengumpulan data dan sistematika pembahasan.

!
 Ê   "  

Bab ini memaparkan tentang pengertian dari APBN itu sendiri. Dari bagaimana

proses penyusunan sampai pertanggung jawaban APBN yang berlaku di Indonesiaà

Struktur APBN. Serta Azas dan prinsip yang dianut oleh APBN kita.

0
 Ê    

Bab ini menjelaskan tentang kekuasaan atas pengelolaan keuangan Negara, dan

peranan presiden dalam peranan presiden dalam penyusunan dan penetapan,

0
pelaksanaan dan petanggungjawaban APBN. Pada bab III ini disertakan juga

flowchart atau bagan proses Penyusunan sampai pertanggung jawaban APBN.

[
 Ê #$%   

Bab ini kami memaparkan tentang kesimpulan dari seluruh isi makalah yang

disajikan. Pada bab ini kami juga menyertakan saran atau masukan yang positif

mengenai Peranan/´campur tangan´ Pemerintah dalam perancangan APBN.

[
Ê Ê

   & $ 


    Ê

APBN (Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara) adalah adalah rencana

keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan

Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat

rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari -

31 Desember). APBN, Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban APBN setiap

tahun ditetapkan dengan Undang-Undang.

Ê
  % ' (   (   )   Ê

1. Penyusunan APBN

Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang APBN

kepada DPR. Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang-Undang

tentang APBN selambat-lambatnya  bulan sebelum tahun anggaran

dilaksanakan

. Pelaksanaan APBN

Setelah APBN ditetapkan dengan Undang-Undang, pelaksanaan APBN

dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. Berdasarkan perkembangan,

di tengah-tengah berjalannya tahun anggaran, APBN dapat mengalami

revisi/perubahan. Untuk melakukan revisi APBN, Pemerintah harus mengajukan

RUU Perubahan APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR. Dalam keadaan

‰
darurat (misalnya terjadi bencana alam), Pemerintah dapat melakukan

pengeluaran yang belum tersedia anggarannya.

3. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN

Selambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir, Presiden menyampaikan

RUU tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa

Laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan.


    Ê

Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah:

1.‘ Pendapatan Negara dan Hibah

Pendapatan Negara dan Hibah terdiri atas:

1.1‘Penerimaan Dalam Negeri, terdiri atas:

a.‘ Penerimaan Perpajakan, terdiri atas :

a)‘ Pajak Dalam Negeri, terdiri atas Pajak Penghasilan (PPh), Pajak

Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan

pajak lainnya.

b)‘ Pajak Perdagangan Internasional, terdiri atas Bea Masuk dan Tarif

Ekspor.

b.‘ Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), terdiri atas:

a)‘ Penerimaan SDA (Migas dan Non Migas)

Î
b)‘ Bagian Laba BUMN

c)‘ PNBP lainnya

1.‘Hibah

Hibah mempunyai pengertian bantuan yang berasal dari swasta, baik

dalam negeri maupun luar negeri, dan pemerintah luar negeri

.‘ Belanja Negara

Belanja terdiri atas dua jenis:

.1‘Belanja Pemerintah Pusat,

adalah belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan

Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah

(dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat

dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja

Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM,

Belanja Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan

Belanja Lainnya.

.‘Belanja Daerah,

adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk kemudian

masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja

Daerah meliputi:

a)‘ Dana Bagi Hasil

b)‘ Dana Alokasi Umum

c)‘ Dana Alokasi Khusus

d)‘ Dana Otonomi Khusus

å
3.‘ Pembiayaan

Pembiayaan meliputi:

3.1‘Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi,

Surat Utang Negara, serta penyertaan modal Negara

3.‘Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:

a)‘ Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program dan

Pinjaman Proyek

b)‘ Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh

Tempo dan Moratorium


  Ê

Dalam penyusunan APBN, pemerintah menggunakan 7 indikator perekonomian

makro, yaitu:

1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah

. Pertumbuhan ekonomi tahunan (%)

3. Inflasi (%)

4. Nilai tukar rupiah per USD

5. Suku bunga SBI 3 bulan (%)

6. Harga minyak indonesia (USD/barel)

7. Produksi minyak Indonesia (barel/hari)

ü

    Ê

1. Fungsi APBN

APBN merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan

negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan

pembangunan, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan

nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas

pembangunan secara umum.

APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi,

distribusi, dan stabilisasi. Semua penerimaan yang menjadi hak dan

pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam suatu tahun anggaran harus

dimasukkan dalam APBN. Surplus penerimaan negara dapat digunakan untuk

membiayai pengeluaran negara tahun anggaran berikutnya.

a.‘ Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar

untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan,

Dengan demikian, pembelanjaan atau pendapatan dapat

dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

b.‘ Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran negara dapat

menjadi pedoman bagi negara untuk merencanakan kegiatan pada tahun

tersebut. Bila suatu pembelanjaan telah direncanakan sebelumnya, maka

negara dapat membuat rencana-rencana untuk medukung pembelanjaan

tersebut. Misalnya, telah direncanakan dan dianggarkan akan membangun

proyek pembangunan jalan dengan nilai sekian miliar. Maka, pemerintah

*
dapat mengambil tindakan untuk mempersiapkan proyek tersebut agar bisa

berjalan dengan lancar.

c.‘ Fungsi pengawasan, berarti anggaran negara harus menjadi pedoman untuk

menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah negara sesuai dengan

ketentuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian akan mudah bagi rakyat

untuk menilai apakah tindakan pemerintah menggunakan uang negara

untuk keperluan tertentu itu dibenarkan atau tidak.

d.‘ Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk

mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya serta

meningkatkan efesiensi dan efektivitas perekonomian

e.‘ Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran negara harus

memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan

f.‘ Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah menjadi

alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental

perekonomian.

. Prinsip penyusunan APBN

Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:

a.‘ Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran.

b.‘ Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.

c.‘ Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan

penuntutan denda.

c
Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:

a.‘ Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan

b.‘ Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan

c.‘ Semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan

memperhatikan kemampuan atau potensi nasional

3.‘ Azas penyusunan APBN

APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:

a.‘ Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri

b.‘ Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas.

c.‘ Penajaman prioritas pembangunan.

d.‘ Menitik beratkan pada azas-azas dan undang-undang Negara.

cc
Ê Ê

Ê   


$    $  

Presiden selaku kepala pemerintahan memegang kekuasaan umum pengelolaan

keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kewenangan presiden

terhadap pengelolaan keuangan Negara yang dilimpahkan kepada pejabat negara,

meliputi kewenangan yang bersifat umum yang timbul dari Pengurusan umum, dan

kewenangan yang bersifat khusus yang timbul dari pengurusan khusus.

Kewenangan yang bersifat umum meliputi kewenangan untuk:

1.‘ Menetapkan Arah dan Kebijakan Umum (AKU);

.‘ Menetapkan strategi dan prioritas dalam pengelolaan APBN, antaralain

menetapkan:

a.‘ pedoman pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBN,

b.‘ pedoman penyusunan rencana kerja kementerian negara/lembaga,

c.‘ gaji dan tunjangan,

d.‘ pedoman pengelolaan penerimaan negara.

Kewenangan yang bersifat khusus meliputi kewenangan

membuatkeputusan/kebijakan teknis yang berkaitan dengan pengelolaan APBN,

antara lain menetapkan:


‘ keputusan sidang kabinet di bidang pengelolaan APBN,


‘ keputusan rincian APBN,

c
¦
‘ keputusan dana perimbangan, dan


‘ penghapusan aset dan piutang negara.

Dalam pelaksanaannya, kekuasaan presiden tersebut tidak dilaksanakan sendiri oleh

presiden, melainkan:

1.‘ Dikuasakan kepada menteri keuangan

.‘ Dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga negara dan lembaga pemerintah

non kementerian Negara

3.‘ Diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan daerah.

Pengelolaan keuangan negara secara teknis dilaksanakan melalui dua pengurusan,

yaitu pengurusan umum/administrasi yang mengandung unsur penguasaan dan

pengurusan khusus yang mengandung unsur kewajiban. Pengurusan umum erat

hubungannya dengan penyelenggaraan tugas pemerintah di segala bidang dan

tindakannya dapat membawa akibat pengeluaran dan atau menimbulkan penerimaan

negara.

Dalam pengurusan umum terdapat dua pejabat atau subjek pengurusan, yang

disebut otorisator dan ordonator.

1.‘ 3   

Otorisator adalah pejabat yang memperoleh pelimpahan wewenang untuk

mengambil tindakan-tindakan yang mengakibatkan adanya penerimaan dan/atau

pengeluaran negara. Tindakan-tindakan otorisator yang bisa berakibat penerimaan

dan/atau pengeluaran tersebut disebut otorisasi.

Otorisasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a.‘ otorisasi bersifat luas atau otorisasi umum

c0
b.‘ otorisasi bersifat sempit atau otorisasi khusus.

.‘ 3  

Ordonator adalah pejabat yang berwenang untuk melakukan pengujian dan pem-

bebanan tagihan yang diajukan kepada kementerian negara/lembaga sehubungan

dengan tindakan otorisator serta memerintahkan pembayaran dan atau menagih

penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran.

Secara garis besar, ordonator bertugas untuk menguji, meneliti dan mengawasi

penerimaan-penerimaan dan pengeluaranpengeluaran negara termasuk tagihan-

tagihan yang diajukan oleh pihak ketiga kepada pemerintah, apakah benar-benar

telah sesuai dengan otorisasi yang dikeluarkan oleh otorisator dan belum

kedaluwarsa. Apabila tagihan-tagihan tersebut telah memenuhi persyaratan, maka

ordonator mener-bitkan Surat Perintah Membayar (SPM) dan/atau Surat

Penagihan.

Sedangkan pengurusan khusus atau pengurusan komptabel mempunyai kewajiban

melaksana-kan perintah-perintah yang datangnya dari pengurusan umum.

Kewenangan pengurusan khusus atau pengurusan kebendaharaan (u able) di-

pegang oleh menteri keuangan, sesuai pasal 7 UU No. 1Tahun  4 yang menetapkan

bahwa menteri keuangan adalah Bendahara Umum Negara.

Bendahara uang dapat dikelompokkan lagi menjadi:

a.‘ Bendahara umum yaitu bendahara yang mengurusperbendaharaan negara baik

di bidang penerimaan maupun pengeluaran negara.

c[
b.‘ Bendahara khusus penerimaan yaitu bendahara yang hanya mengurus

penerimaan negara.

c.‘ Bendahara khusus pengeluaran yaitu bendahara yang hanya mengurus

pengeluaran negara.

Ê
  %   '   %  Ê 

Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN meliputi penegasan tujuan

dan fungsi penganggaran pemerintah, penegasan peran DPR dan pemerintah dalam

proses penyusunan dan penetapan anggaran, pengintegrasian sistem akuntabilitas

kinerja dalam sistem penganggaran, penyempurnaan klasifikasi anggaran, penyatuan

anggaran, dan penggunaan kerangka pengeluaran jangka menengah dalam

penyusunan anggaran.

Anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen, dan kebijakan ekonomi. Sebagai

instrumen kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan

dan stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai

tujuan bernegara. Dalam upaya untuk meluruskan kembali tujuan dan fungsi anggaran

tersebut perlu dilakukan pengaturan secara jelas peran DPR dan pemerintah dalam

proses penyusunan dan penetapan anggaran sebagai penjabaran aturan pokok yang

telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sehubungan dengan itu,

disebutkan bahwa belanja negara/belanja daerah dirinci sampai dengan unit

organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja. Hal tersebut berarti bahwa

setiap pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarkegiatan, dan antarjenis belanja

harus mendapat persetujuan DPR.


Masalah lain yang tidak kalah pentingnya dalam upaya memperbaiki proses

penganggaran di sektor publik adalah penerapan anggaran berbasis prestasi kerja.

Mengingat bahwa sistem anggaran berbasis prestasi kerja /hasil memerlukan kriteria

pengendalian kinerja dan evaluasi serta untuk menghindari duplikasi dalam

penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga/perangkat

daerah, perlu dilakukan penyatuan sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem

penganggaran dengan memperkenalkan sistem penyusunan rencana kerja dan

anggaran kementerian negara/lembaga/perangkat daerah. Dengan penyusunan rencana

kerja dan anggaran kementerian/lembaga/perangkat daerah tersebut dapat terpenuhi

sekaligus kebutuhan akan anggaran berbasis prestasi kerja dan pengukuran

akuntabilitas kinerja kementerian/lembaga/perangkat daerah yang bersangkutan.

Sejalan dengan upaya untuk menerapkan secara penuh anggaran berbasis kinerja

di sektor publik, perlu pula dilakukan perubahan klasifikasi anggaran agar sesuai

dengan klasifikasi yang digunakan secara internasional. Perubahan dalam

pengelompokan transaksi pemerintah tersebut dimaksudkan untuk memudahkan

pelaksanaan anggaran berbasis kinerja, memberikan gambaran yang objektif dan

proporsional mengenai kegiatan pemerintah, menjaga konsistensi dengan standar

akuntansi sektor publik, serta memudahkan penyajian dan meningkatkan kredibilitas

statistik keuangan pemerintah.

Selama ini anggaran belanja pemerintah dikelompokkan atas anggaran belanja

rutin dan anggaran belanja pembangunan. Pengelompokan dalam anggaran belanja

rutin dan anggaran belanja pembangunan yang semula bertujuan untuk memberikan

penekanan pada arti pentingnya pembangunan dalam pelaksanaannya telah


menimbulkan peluang terjadinya duplikasi, penumpukan, dan penyimpangan

anggaran. Sementara itu, penuangan rencana pembangunan dalam suatu dokumen

perencanaan nasional lima tahunan yang ditetapkan dengan undang-undang dirasakan

tidak realistis dan semakin tidak sesuai dengan dinamika kebutuhan penyelenggaraan

pemerintahan dalam era globalisasi. Perkembangan dinamis dalam penyelenggaraan

pemerintahan membutuhkan sistem perencanaan fiskal yang terdiri dari sistem

penyusunan anggaran tahunan yang dilaksanakan sesuai dengan Kerangka

Pengeluaran Jangka Menengah a ediu Ter Exendiure Fraew ru sebagaimana

dilaksanakan di kebanyakan negara maju.

Walaupun anggaran dapat disusun dengan baik, jika proses penetapannya

terlambat akan berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya. Oleh karena

itu, diatur secara jelas mekanisme pembahasan anggaran tersebut di DPR, termasuk

pembagian tugas antara panitia/komisi anggaran dan komisi-komisi pasangan kerja

kementerian negara/lembaga/perangkat daerah di DPR.


         Ê 

Setelah APBN ditetapkan secara rinci dengan undang-undang, pelaksanaannya

dituangkan lebih lanjut dengan keputusan Presiden sebagai pedoman bagi

kementerian negara/lembaga dalam pelaksanaan anggaran. Penuangan dalam

keputusan Presiden tersebut terutama menyangkut hal-hal yang belum dirinci di

dalam undang-undang APBN, seperti alokasi anggaran untuk kantor pusat dan kantor

daerah kementerian negara/lembaga, pembayaran gaji dalam belanja pegawai, dan

pembayaran untuk tunggakan yang menjadi beban kementerian negara/lembaga.

Selain itu, penuangan dimaksud meliputi pula alokasi dana perimbangan untuk


provinsi/kabupaten/kota dan alokasi subsidi sesuai dengan keperluan

perusahaan/badan yang menerima.

Untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan APBN,

pemerintah pusat/pemerintah daerah perlu menyampaikan laporan realisasi semester

pertama kepada DPR pada akhir Juli tahun anggaran yang bersangkutan. Informasi

yang disampaikan dalam laporan tersebut menjadi bahan evaluasi pelaksanaan APBN

semester pertama dan penyesuaian/perubahan APBN pada semester berikutnya.

Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan

APBN ditetapkan tersendiri dalam undang-undang yang mengatur perbendaharaan

negara mengingat lebih banyak menyangkut hubungan administratif antarkementerian

negara/lembaga di lingkungan pemerintah.


       )   Ê

Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas

pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban

keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan

mengikuti standar akuntansi pemerintah yang telah diterima secara umum.

Dalam undang-undang ini ditetapkan bahwa laporan pertanggungjawaban

pelaksanaan APBN disampaikan berupa laporan keuangan yang setidak-tidaknya

terdiri dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas dan catatan atas

laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintah. Laporan


keuangan pemerintah pusat yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan

harus disampaikan kepada DPR selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah

berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan, demikian pula laporan keuangan

pemerintah daerah yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan harus

disampaikan kepada DPRD selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah berakhirnya

tahun anggaran yang bersangkutan.

Dalam rangka akuntabilitas pengelolaan keuangan negara menteri/pimpinan

lembaga/gubernur/bupati/walikota selaku pengguna anggaran/pengguna barang

bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam Undang-

undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD, dari segi manfaat/hasil

(outcome). Sedangkan Pimpinan unit organisasi kementerian negara/lembaga

bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam Undang-undang

tentang APBN, demikian pula Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah bertanggung

jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang

APBD, dari segi barang dan/atau jasa yang disediakan (output). Sebagai

konsekuensinya, dalam undang-undang ini diatur sanksi yang berlaku bagi

menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota, serta Pimpinan unit organisasi

kementerian negara/lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan

penyimpangan kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan dalam UU tentang APBN

/Peraturan Daerah tentang APBD. Ketentuan sanksi tersebut dimaksudkan sebagai

upaya preventif dan represif, serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya Undang-

undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD yang bersangkutan.

c*
Selain itu perlu ditegaskan prinsip yang berlaku universal bahwa barang siapa

yang diberi wewenang untuk menerima, menyimpan dan membayar atau

menyerahkan uang, surat berharga atau barang milik negara bertanggungjawab secara

pribadi atas semua kekurangan yang terjadi dalam pengurusannya. Kewajiban untuk

mengganti kerugian keuangan negara oleh para pengelola keuangan negara dimaksud

merupakan unsur pengendalian intern yang andal.


&)¦ *Ê   Ê


JANU
MEI-
ARI- SEPTEMBER-DESEMBER
AGUSTUS
APRIL
(9)

(4)  


DPR „„ 
(8)    


(7)

 (11)
KEBINET/PRESI 
 
! "  
DEN     )
##$ 


%%#

 &
KEMENTERIAN   
PERENCANAAN
  
  

 (1 )
()

    
 ) 

 
  
'&  
 
KEMENTERIAN  )
  (
KEUANGAN
(5)  &
  &
   (
13)
 

(3) (1) (14)

(1)      

KEMENTERIAN   

    
NEGARA/LEMBA 
     
GA
 

DAERAH

c
Ê Ê#

$   + 

 $% 

Menurut Undang-undang yang berlaku, bahwa keuangan Negara adalah meliputi:


‘ Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai

dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang

yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan

kewajiban tersebut.

!
‘ Pemerintah adalah pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah.

0
‘ Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disebut DPR adalah Dewan

Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar

1945.

[
‘ Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi, Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah Kabupaten, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota sebagaimana

dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945.

,
‘ Perusahaan Negara adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya

dimiliki oleh Pemerintah Pusat.

-
‘ Perusahaan Daerah adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya

dimiliki oleh Pemerintah Daerah.


å
‘ Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disebut APBN, adalah

rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan

Perwakilan Rakyat.

.
‘ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disebut APBD, adalah

rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah.

/
‘ Penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara.

0
‘Pengeluaran daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah.


‘Pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai

penambah nilai kekayaan bersih.

!
‘Belanja negara adalah kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai

pengurang nilai kekayaan bersih.

0
‘Pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai

penambah nilai kekayaan bersih.

[
‘Belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai

pengurang nilai kekayaan bersih.

,
‘Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau

pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang

bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

Ê
  


‘ Menjaga kekayaan Negara dengan memberi masukan terhadap kondisi

keuangan Negara yang dikelola pejabat setempat.

0
!
‘ Menjalankan hak dan kewajiban dalam bidang keuangan bagi rakyat banyak

seperti hak-hak atas dana pembangunan desa, atau untuk kepentingan

sekolah.

[