Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil alamin, puji syukur atas segala rahmat dan nikmat Allah SWT
sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan lancar. Shalawat serta salam tak lupa pula
kita sanjungkan kepada baginda Muhammad Saw, kepada keluarga, sahabat, dan kita semua
selaku umatnya.

Makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen risiko
dengan tema Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Dalam makalah ini akan memabahas
tentang arti dari manajemen risiko, pentingnya manajemen risiko dalam keselamatan dan
kesehatan kerja dan lain sebaginya.

Dalam bekerja atau berusaha kita tidak akan luput dari adanya risiko atau sebab akibat
yang ditimbulkan dari pekerjaan kita, disetiap pekerjaan pasti memiliki risiko yang berbeda-
beda. Namun hal itu tidak dibiarkan saja dan mengacuhkan hal tersebut, kita selaku manusia
seyogyanya menagnani hal tersebut dengan seksama dan serius. Kita perlu adanya
penganggulangan risiko yang seakan-akan bisa terjadi dan yang terpenting dalam sebuah
perusahaan atau kerja perlu adanya manajemen risiko yang disusun dan direncanakan dalam
perusahaan atau kerja tersebut.

Manajemen risiko adalah kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak
diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan
adanya ketidakpastian. Untuk itu manajemen risiko sangatlah penting dalam perusahaan kerja
atau yang lainya. Semuanya akan di bahas singkat dalam makalah ini.

Dalam makalah ini masih banyak dari segala kekurangan dan kesalahan. Maka kami
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar dalam penulisan makalah jauh lebh baik
lagi. Dan kami sangat berterimakasih kepada Dosen pengampu mata kuliah Manajemen
Rsiko Kesehatan Lingkungan dan semua pihak yang telah membantu melancarkan
pembuatan makalah ini. Kami juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
digunakan dengan sebaik-baiknya Amin.
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Risiko dapat terjadi pada pelayanan, kinerja, dan reputasi dari institusi yang

bersangkutan. Risiko yang terjadi dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain

kejadian alam, operasional, manusia, politik, teknologi, pegawai, keuangan, hukum, dan

manajemen dari organisasi.

Suatu risiko yang terjadi dapat berasal dari risiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh

berbagai faktor. Risiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari risiko rendahnya mutu

pelayanan kepada publik. Risiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya

manusia yang dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatan fasilitas kantor. Risiko

yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut,

dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.

Risiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor publik yang

menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, risiko yang

dihadapi instansi Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karenanya,

pemahaman terhadap risiko menjadi keniscayaan untuk dapat menentukan prioritas

strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi.

Risiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran

dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah,

mengembangkan corporate governance, mengoptimalkan penyusunan strategic

management, mengamankan sumber daya dan asset yang dimiliki organisasi, dan

mengurangi reactive decision making dari manajemen puncak.

Menurut COSO, risk management (manajemen resiko) dapat diartikan sebagai

‘aprocess, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel,


applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events

that may affect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide

reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives.’[4] Definisi risk

management di atas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata-kata kunci sebagai

berikut:

- On going process Risk management dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor

secara berkala. Risk management bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali

(one time event).


- Effected by people Risk management ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di

lingkungan organisasi. Untuk lingkungan institusi Pemerintah, risk management

dirumuskan oleh pimpinan dan pegawai institusi/departemen yang bersangkutan.


- Applied in strategy setting Risk management telah disusun sejak dari perumusan

strategi organisasi oleh manajemen puncak organisasi. Dengan penggunaan risk

management, strategi yang disiapkan disesuaikan dengan risiko yang dihadapi oleh

masing-masing bagian/unit dari organisasi.


- Applied across the enterprise Strategi yang telah dipilih berdasarkan risk management

diaplikasikan dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh bagian/unit pada

organisasi. Mengingat risiko masing-masing bagian berbeda, maka penerapan risk

management berdasarkan penentuan risiko oleh masing-masing bagian.


- Designed to identify potential events Risk management dirancang untuk

mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial menyebabkan

terganggunya pencapaian tujuan organisasi.


- Provide reasonable assurance Risiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan

menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan pelayanan oleh organisasi dapat

berlangsung secara optimal.


- Geared to achieve objectives Risk management diharapkan dapat menjadi pedoman

bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Risiko terdapat pada

tindakan manajemen dalam memamfaatkan sumber daya yang dimiliki (asset) dan
proses operasi berikut aktivitas pengendalian yang ada. Risiko-risiko kritis dan

signifikan yang tidak tertangani akan berdampak pada pencapaian tujuan-tujuan dari

setiap unit. Kegagalan pencapaian tujuan pada unit akan berpengaruh langsung pada

tidak terpenuhinya tujuan organisasi.

Setiap organisasi, baik pemerintah maupun swasta, tidak rentan terhadap risiko. Banyak

faktor penyebab terjadinya risiko baik yang berasal dari internal perusahaan maupun

lingkungan eksternal.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Makalah ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pentingnya penerapan

Manajemen Resiko Lingkungan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.


2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui tujuan utama program keselamatan dan kesehatan kerja
2. Untuk mengetahui kegunaan Manajemen resiko terhadap keselamatan dan

kesehatan kerja pada sektor bisnis.


3. Untuk mengetahui faktor risiko keselamatan dan kesehatan kerja.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Manajemen Resiko Mengenai Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Kerja

Istilah (risk) risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan

kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan
sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai

berikut:

- Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).

Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap

kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk

menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian

penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko

dengan tingkat kerugian. Dalam halchance of loss 100%, berarti kerugian adalah

pasti sehingga risiko tidak ada.

- Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).

Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol

dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara

kuantitatif.

- Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).

Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty

merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada

pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan

dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

- Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan

penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan).

Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai

disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

- Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko

adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan).


Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian tunggal,

tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.

Dari berbagai definisi diatas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan

terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan

kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Program Kesehatan Kerja mempunyai tujuan utama yaitu memberikan

perlindungan kepada pekerja dari bahaya kesehatan yang berhubungan dengan

lingkungan kerja dan promosi kesehatan pekerja. Lebih jauh lagi adalah menciptakan

kerja yang tidak saja aman dan sehat, tetapi juga nyaman serta meningkatkan

kesejahteraan dan produktivitas.

Kantor Perburuhan Internasional (ILO) pada tahun 2005 memperkirakan

bahwa diseluruh dunia setiap tahun 2.2 juta orang meninggal karena kecelakaan-

kecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja. Dan kematian-kematian akibat kerja

nampaknya meningkat. Lagi pula, diperkirakan bahwa setiap tahun terjadi 270 juta

kecelakaan-kecelakaan yang akibat kerja yang tidak fatal (setiap kecelakaan paling

sedikit mengakibatkan paling sedikit tiga hari absen dari pekerjaan) dan 160 juta

penyakit-penyakit baru akibat kerja.

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan permasalahan pemerintah,

pengusaha, pekerja dan keluarganya diseluruh dunia. Sementara beberapa industri

bersifat lebih berbahaya dari industri yang lain, kelompok pekerja migran dan pekerja

berpenghasilan kecil yang lain lebih banyak dihadapkan pada risiko mengalami

kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dan kesehatan yang kurang baik, karena

kemiskinan seringkali memaksa mereka untuk menerima pekerjaan yang tidak aman.
Berbagai pendekatan sering dilakukan dalam menghadapi risiko dalam organisasi atau

perusahaan misalnya:
a. Mengabaikan risiko sama sekali, karena dianggap merupakan hal yang diluar

kendali manajemen. Pendapat tersebut, merupakan cara pendekatan yang tidak

tepat, karena tidak semua risiko berada diluar jangkauan kendali organisasi /

perusahaan.
b. Menghindari semua kegiatan atau proses produksi yang memiliki risiko. Hal ini

merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan, karena semua aktivitas

ditempat kerja sampai tingkat tertentu selalu mengandung risiko.


c. Menerapkan Manajemen Risiko, dalam pengertian umum, risiko tinggi yang

dihadapi sebenarnnya merupakan suatu tantangan yang perlu diatasi dan melalui

suatu pemikiran positif diharapkan akan memberikan nilai tambah atau imbalan

hasil yang tinggi pula.

Aspek ekonomi, sosial dan legal merupakan beberapa hal yang berkaitan

dengan penerapan manajemen risiko. Dampak finansial akibat peristiwa kecelakaan

kerja, gangguan kesehatan atau sakit akibat kerja, kerusakan atau kerugian aset, biaya

premi asuransi, moral kerja dan sebagainya, sangat mempengaruhi produktivitas.

Demikian juga aspek sosial dan kesesuaian penerapan peraturan perundang undangan

yang tercermin pada segi kemanusiaan, kesejahteraan dan kepercayaan masyarakat

memerlukan penyelenggaraan manajemen risiko yang dilaksanakan melalui

partisipasi pihak terkait.

Manajemen risiko kesehatan di tempat kerja mempunyai tujuan:

meminimalkan kerugian akibat kecelakaan dan sakit, meningkatkan

kesempatan/peluang untuk meningkatkan produksi melalui suasana kerja yang aman,

sehat dan nyaman, memotong mata rantai kejadian kerugian akibat kegagalan

produksi yang disebabkan kecelakaan dan sakit, serta pencegahan kerugian akibat

kecelakaan dan penyakit akibat kerja.


Secara sistematik dilakukan pengendalian potensi bahaya serta risiko dalam

proses produksi melalui aktivitas :

a. Identifikasi bahaya
b. Penilaian pajanan
c. Karakterisasi risiko
d. Penilaian risiko
e. Pengendalian risiko untuk mencegah atau mengurangi kerugian
f. Pemantauan dan peninjauan ulang
B. Metode Pengendalian Potensi Bahaya
1. Identifikasi Bahaya

Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah

identifikasi atau pengenalan bahaya kesehatan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi

faktor risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik, kimia, biologi, ergonomik, dan

psikologi yang terpajan pada pekerja. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini

diperlukan pengamatan terhadap proses dan simpul kegiatan produksi, bahan baku

yang digunakan, bahan atau barang yang dihasilkan termasuk hasil samping proses

produksi, serta limbah yang terbentuk proses produksi. Pada kasus terkait dengan

bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan material safety data sheets (MSDS) untuk

setiap bahan kimia yang digunakan, pengelompokan bahan kimia menurut jenis bahan

aktif yang terkandung, mengidentifikasi bahan pelarut yang digunakan, dan bahan

inert yang menyertai, termasuk efek toksiknya. Ketika ditemukan dua atau lebih

faktor risiko secara simultan, sangat mungkin berinteraksi dan menjadi lebih

berbahaya atau mungkin juga menjadi kurang berbahaya. Sebagai contoh, lingkungan

kerja yang bising dan secara bersamaan terdapat pajanan toluen, maka ketulian akibat

bising akan lebih mudah terjadi.

2. Penilaian Pajanan

Proses penilaian pajanan merupakan bentuk evaluasi kualitatif dan kuantitatif

terhadap pola pajanan kelompok pekerja yang bekerja di tempat dan pekerjaan

tertentu dengan jenis pajanan risiko kesehatan yang sama. Kelompok itu dikenal juga
dengan similar exposure group (kelompok pekerja dengan pajanan yang sama).

Penilaian pajanan harus memenuhi tingkat akurasi yang adekuat dengan tidak hanya

mengukur konsentrasi atau intensitas pajanan, tetapi juga faktor lain.

Pengukuran dan pemantauan konsentrasi dan intensitas secara kuantitatif saja

tidak cukup, karena pengaruhnya terhadap kesehatan dipengaruhi oleh faktor lain itu.

Faktor tersebut perlu dipertimbangkan untuk menilai potensial faktor risiko

(bahaya/hazards) yang dapat menjadi nyata dalam situasi tertentu.

Risiko adalah probabilitas suatu bahaya menjadi nyata, yang ditentukan oleh

frekuensi dan durasi pajanan, aktivitas kerja, serta upaya yang telah dilakukan untuk

pencegahan dan pengendalian tingkat pajanan. Termasuk yang perlu diperhatikan juga

adalah perilaku bekerja, higiene perorangan, serta kebiasaan selama bekerja yang

dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

3. Karakterisasi Risiko

Tujuan langkah karakterisasi risiko adalah mengevaluasi besaran (magnitude)

risiko kesehatan pada pekerja. Dalam hal ini adalah perpaduan keparahan gangguan

kesehatan yang mungkin timbul termasuk daya toksisitas bila ada efek toksik, dengan

kemungkinan gangguan kesehatan atau efek toksik dapat terjadi sebagai konsekuensi

pajanan bahaya potensial. Karakterisasi risiko dimulai dengan mengintegrasikan

informasi tentang bahaya yang teridentifikasi (efek gangguan/toksisitas spesifik)

dengan perkiraan atau pengukuran intensitas/konsentrasi pajanan bahaya dan status

kesehatan pekerja.

4. Penilaian Risiko

Rincian langkah umum yang biasanya dilaksanakan dalam penilaian risiko meliputi :

a. Menentukan personil penilai


Penilai risiko dapat berasal dari intern perusahaan atau dibantu oleh petugas lain

diluar perusahaan yang berkompeten baik dalam pengetahuan, kewenangan

maupun kemampuan lainnya yang berkaitan. Tergantung dari kebutuhan, pada

tempat kerja yang luas, personil penilai dapat merupakan suatu tim yang terdiri

dari beberapa orang.

b. Menentukan obyek/bagian yang akan dinilai

Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian /

departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya. Penentuan obyek

ini sangat membantu dalam sistematika kerja penilai.

c. Kunjungan / Inspeksi tempat kerja

Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu “walk through survey / Inspection” yang

bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail. Dalam kegiatan ini

prinsip utamanya adalah melihat, mendengar dan mencatat semua keadaan di

tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan, proses, bahan, jumlah pekerja,

kondisi lingkungan, cara kerja, teknologi pengendalian, alat pelindung diri dan

hal lain yang terkait.

d. Identifikasi potensi bahaya

Berbagai cara dapat dilakukan guna mengidentifikasi potensi bahaya di tempat

kerja, misalnya melalui :

1) inspeksi / survei tempat kerja rutin


2) informasi mengenai data keelakaan kerja dan penyakit, absensi
3) laporan dari (panitia pengawas Kesehatan dan Keselamatan Kerja) P2K3,

upervisor atau keluhan pekerja


4) lembar data keselamatan bahan (material safety data sheet)
5) dan lain sebagainya
Selanjutnya diperlukan analisis dan penilaian terhadap potensi bahaya tersebut

untuk memprediksi langkah atau tindakan selanjutnya terutama pada

kemungkinan potensi bahaya tersebut menjadi suatu risiko.


e. Mencari informasi / data potensi bahaya
Upaya ini dapat dilakukan misalnya melalui kepustakaan, mempelajari MSDS,

petunjuk teknis, standar, pengalaman atau informasi lain yang relevan.


f. Analisis Risiko
Dalam kegiatan ini, semua jenis resiko, akibat yang bisa terjadi, tingkat

keparahan, frekuensi kejadian, cara pencegahannya, atau rencana tindakan untuk

mengatasi risiko tersebut dibahas secara rinci dan dicatat selengkap mungkin.

Ketidaksempurnaan dapat juga terjadi, namun melalui upaya sitematik, perbaikan

senantiasa akan diperoleh.


g. Evaluasi risiko
Memprediksi tingkat risiko melalui evaluasi yang akurat merupakan langkah

yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian risiko. Kualifikasi dan

kuantifikasi risiko, dikembangkan dalam proses tersebut. Konsultasi dan nasehat

dari para ahli seringkali dibutuhkan pada tahap analisis dan evaluasi risiko.
h. Menentukan langkah pengendalian
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya risiko membahayakan bagi

kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu ditentukan

langkah pengendalian yang dipilih dari berbagai cara seperti :


Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya risiko membahayakan bagi

kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu ditentukan

langkah pengendalian yang dipilih dari berbagai cara seperti :


1) Memilih teknologi pengendalian seperti eliminasi, substitusi, isolasi,

engineering control, pengendalian administratif, pelindung peralatan/mesin

atau pelindung diri.


2) Menyusun program pelatihan guna meningkatka pengetahuan dan pemahaman

berkaitan dengan risiko


3) Menentukan upaya monitoring terhadap lingkungan / tempat kerja.
4) Menentukan perlu atau tidaknya survailans kesehatan kerja melalui pengujian

kesehatan berkala, pemantauan biomedik, audiometri dan lain-lain.


5) Menyelenggarakan prosedur tanggap darurat / emergensi dan pertolongan

pertama sesuai dengan kebutuhan.


i. Menyusun pencatatan / pelaporan
Seluruh kegiatan yang dilakukan dalam penilaian risiko harus dicatat dan disusun

sebagai bahan pelaporan secara tertulis. Format yang digunakan dapatdisusun

sesuai dengan kondisi yang ada.


j. Mengkaji ulang penelitian
Pengkajian ulang perlu senantiasa dilakukan dalam periode tertentu atau bila

terdapat perubahan dalam proses produksi, kemajuan teknologi, pengembangan

informasi terbaru dan sebagainya, guna perbaikan berkelanjutan penilaian risiko

tersebut.

5. Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko ditujukan untuk mencegah terjadinya pajanan bahaya kesehatan,

atau menurunkan tingkat pajanan sampai pada tingkat yang dapat diterima (acceptable

level). Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung keadaan pada

saat tersebut. Hirarki yang disarankan dalam pengendalian secara umum adalah;

pengendalian secara teknis, pengendalian secara administratif, dan yang terakhir

adalah penggunaan alat pelindung diri (personal protective equipment).

Pada kasus pajanan kimia maka hirarki yang disarankan adalah: substitusi bahan yang

berbahaya dengan yang tidak atau kurang berbahaya, pengendalian teknik seperti

penyempurnaan ventilasi, perbaikan prosedur kerja dengan tujuan menurunkan

pajanan, dan penggunaan alat pelindung diri.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Manajemen risiko tidak semata berlaku di sektor bisnis, namun semakin mendesak untuk

diapplikasikan di sektor publik. Banyak argumen pendukung, dan tampaknya faktor

utama adalah perubahan lingkungan dan sumber daya yang terbatas bagi pencapaian

tujaun organisasi.

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa

1. Tujuan utama dari program keselamatan dan kesehatan kerja adalah memberikan

perlindungan kepada pekerja dari bahaya kesehatan dan keselamatan yang

berhubungan dengan lingkungan kerja.. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan

mengelola risiko yang teridentifikasi di lingkungan kerja.


2. Manajemen resiko mempunyai banyak kegunaan, baik dalam sektor bisnis maupun

dalam sektor publik. Salah satunya ada dalam program keselamatan dan kesehatan

kerja, berfungsi untuk mengidentifikasi resiko yang akan di timbulkan dalam

lingkungan kerja. Dapat digunakan untuk memprediksikan tingkat resiko melalui

evaluasi yang akurat dalam menentukan penilaian resiko, baik berupa kualitas resiko

maupun kuantitas resiko, identifikasi faktor risiko kesehatan yang dapat tergolong

fisik, kimia, biologi, ergonomik, dan psikologi yang terpajan pada pekerja.
3. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini diperlukan pengamatan terhadap proses

dan simpul kegiatan produksi, bahan baku yang digunakan, bahan atau barang yang

dihasilkan termasuk hasil samping proses produksi, serta limbah yang terbentuk

proses produksi. Pada kasus terkait dengan bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan

material safety data sheets (MSDS) untuk setiap bahan kimia yang digunakan,

pengelompokan bahan kimia menurut jenis bahan aktif yang terkandung,

mengidentifikasi bahan pelarut yang digunakan, dan bahan inert yang menyertai,

termasuk efek toksiknya. Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara

simultan, sangat mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin

juga menjadi kurang berbahaya. Jadi manajemen resiko berperan penting dalam

program keselamatan dan kesehatan kerja.

B. Saran
Untuk mengurangi potensi bahaya kecelakaan kerja, maka perlu diadakan

manajemen resiko lingkungan pada tahap perencanaan pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiono S. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan. Semarang, 2005.


2. Mansur M. Manajemen Risiko Kesehatan di Tempat Kerja. Maj Kedokt

Indon, Volum: 57, Nomor: 9, September 2007


3. Organisasi Perburuhan Internasional. “Hidup Saya, Pekerjaan Saya,

Pekerjaan yang Aman” Jakarta, Kantor Perburuhan Internasional, 2008


4. World Health Organization. Deteksi dini penyakit akibat kerja. Wijaya C

(Ed.) Suyono J (Alih bahasa). Jakarta: EGC; 1993.