Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Tinnitus merupakan keluhan yang cukup banyak dihadapi dalam praktek sehari-hari baik
sebagai dokter umum ataupun dokter THT. Tinnitus sendiri bukanlah suatu penyakit, namun
merupakan salah satu gejala dari suatu penyakit. Tinitus dapat memberikan masalah yang serius
bagi penderita karena dapat memberikan pengaruh dalam berkonsentrasi, memberikan perasaan
cemas dan depresi, sehingga mengganggu kualitas hidup penderita

Tinnitus berasal dari bahasa latin ‘tinnire’ yang berarti dering atau membunyikan.
Tinnitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar, dapat beruba sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan ini dapat
berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya.Tinitus
sendiri dapat dirasakan terus-terusan ataupun hilang timbul.(buku ijo,http://www.aafp.org/afp/2004/0101/p120.html)

Sebanyak sepertiga dari populasi seluruh dunia setidaknya pernah mengalami tinnitus
sekali seumur hidup. Prevalensi di dunia diperkirakan sekitar 10,1 % - 14,5% dan sering terjadi
pada usia 10 – 70 tahun. Orang yang terpapar dengan suara mesin lebih sering mengalami hal ini
dibandingankan orang lainnya. Tinnituk menyerang setidaknya 37 juta orang di Amerika, dan 10
juta diantaranya sangat parah. Studi epidemiologi mengatakan tinnitus dapat dialami baik
perempuan maupun laki-laki dan pada semua ras. (http://bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/364/basics/epidemiology.html.)

Tinnitus dapat dibagi atas tinnitus objektif dan tinnitus subjektif.Hampir kasus tinnitus
yang dihadapi merupakan tinnitus subjektif yaitu suara tersebut hanya dapat didengar oleh pasien
sendiri. Kelainan telinga, terutama gangguan pendengaran, merupakan penyebab tinnitus
subjektf yang paling sering. Sedangkan penyebab tinnitus objektif ,suara tersebut dapat didengar
juga oleh pemeriksa, biasanya disebabkan oleh kelainan vaskuler dari atreri carotis atau vena
jugularis. (http://www.aafp.org/afp/2004/0101/p120.html)

Etiologi dari tinnitus sendiri sangat banyak dan untuk menangani kasus ini butuh
dilakukan intervensi lebih lanjut baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang, karena perlu diketahui penyebab dari tinnitus untuk menatalaksananya. Referat ini
berisikan tentang anatomi dan fisiologi telinga, definisi, patofisiologi, etiologi, anamnesis,
pemeriksaan penunjang, dignosis kerja, penatalaksanaan, dan pencegahan dari tinnitus.
BAB II

ANATOMI TELINGA DAN FISIOLOGI PENDENGARAN

II. 1 Anatomi Telinga

Telinga dibedakan atas bagian luar, tengah, dan dalam. Telinga berfungsi ganda yaitu
untuk keseimbangan dan untuk pendengaran. Membrana timpani memisahkan telinga luar dari
telinga tengah atau cavum timpani. Tuba auditiva (tuba Eustachius) menghubungkan telinga
dengan nasofaring. (buku ijo)

GambarII.1.An atomi Telinga


(http://www.utdol.com/online/content/images/pedi_pix/Normal_ear_anatomy.jpg)

a. Telinga luar
Telinga luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar meliputi daun telinga atau
pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang telinga atau membrana
timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Daun telinga berfungsi untuk
membantu mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang telinga.
Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara dan bagian
terpenting adalah liang telinga. Liang telinga berbentuk huruf S, dangan rangka tulang rawan
pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang.
Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm.
Pada sepertiga bagia luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi
kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. (buku ijo)

Gambar II.2 Daun telinga

b. Telinga Tengah
Telinga tengah terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis. Telinga tengah terdiri dari
kavitas timpani, yakni rongga yang terletak langsung di sebelah dalam membran timpani, dan
recessuss epitimpanicus. Kedepan telinga tengah berhubungan dengan nasofaring melalui tuba
auditiva. Kearah poterosuperior cavitas timpanica berhubungan dengan cellulae mastoidea
melalui antrum mastoideum. Cavitas timpanica dilapisi membran mukosa yang bersinambungan
dengan membran mukosa pelapis tuba auditiva, cellulae mastoidea, dan antrum mastoideum. Di
dalam telinga tengah terdapat(anatomi klinis dasar) :
• Ossicula auditoris (malleus, incus, stapes)
• Musculus stapedius dan musculus tensor timpani
• Chorda timpani, cabang nervus cranialis VII
• Plexus timpanicus pada promontorium
• Dinding-dinding Telinga tengah (Cavum Timpanica) (1)
Telinga tengah yang berbentuk seperti kotak sempit, memiliki sebuah atap, sebuah dasar, dan
empat dinding. Atapnya (dinding tegmental) dibentuk oleh selembar tulang yang tipis, yaitu
tegmen timpani, yang memisahkan cavum timpanica dari dura pada dasar fossa cranii media.
Dasarnya (dinding jugular) dibentuk oleh selapis tulang yang memisahkan cavum timpanica
dari bulbus superior vena jugularis interna. Dinding lateral (bagian berupa selaput) dibentuk
hampir seluruhnya oleh membrana timpanica; di sebelah superior, dinding ini dibentuk oleh
dinding lateral recessus epitimpanicus yang berupa tulang (manubrium mallei terbaur dalam
membrana timpanica, dan caput mallei menonjol ke dalam recessus epitimpanicus). Dinding
medial atau dinding labirintal memisahkan cavitas timpanica dari telinga interna. Dinding
anterior (dinding karotid) memisahkan cavitas timpanica dari canalis carotis, pada bagian
superior dinding ini terdapat ostium pharyngeum tubae auditoriae dan terusan musculus
tensor timpani. Dinding posterior (dinding mastoid) dihubungkan dengan antrum mastoid
melalui aditus dan selanjutnya dengan cellulae mastoideus; ke arah anteroinferior antrum
mastoideum berhubungan dengan canalis facialis

Gambar II.3 cavum timpani

Membrana timpani (eardrum)

Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang
telinga luar dari cavum timpanica. Membrana ini panjang vertikal rata-rata 9-10 mm dan
diameter antero-posterior kira -kira 8-9 mm, ketebalannya rata-rata 0,1 mm. Letak membrana
timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik
terhadap sumbu liang telinga dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal.
Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian :
1. Pars tensa, merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang
tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada sulkus
timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.
2. Pars flaksida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis
dari pars tensa dan pars flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :
1. Plika maleolaris anterior ( lipatan muka).
2. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang).
Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam dilapisi oleh set kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran
napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler
pada bagian dalam.
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo. Dan umbo bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu pada pukul
7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Refleks cahaya
(cone of light) ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran
timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut initah yang menyebabkan
timbulnya refleks cahaya yang berupa kerucut itu. Secara ktinis refleks cahaya ini dinilai,
misatnya bila letak refleks cahaya mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba eustachius.
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus
longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian
atas-depan, atas-betakang, bawah-depan serta bawah-belakang, untuk menyatakan letak
perforasi membran timpani. Pada pars flaksida terdapat daerah yang di sebut atik. Di tempat
ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan
antrum mastoid.
Gambar II.4 Membran timpani

c. Telinga dalam

Telinga dalan terdiri dari koklea yang beruba sua setengah lingkaran dan vestibuler yang
terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Puncak koklea disebut helikotrema yang
menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.

Pada irisan melintangg, koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah
bawah, dan skala media (duktus koklearis) dianaranyya. Skala vestibuli dan skala timpani
berisi perilimfa sedangkan skaa media berisi endolimfa. Dasr skala vestibuli disebul
Reisnsner’s membrane dan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini
terletak organ Corti. (buku ijo 13)

Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria
dan pada membaran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut
luar, dan kanalis Corti , yang membentuk organ Corti. (buku ijo 13)

Selain bagian pendengaran, bagian telinga dalam terdapat indera keseimbangan. Bagian ini
secara struktural terletak di belakang labirin yang membentuk struktur utrikulus dan sakulus
serta tiga saluran setengah lingkaran atau kanalis semisirkularis. Kelima bagian ini berfungsi
mengatur keseimbangan tubuh dan memiliki sel rambut yang akan dihubungkan dengan
bagian keseimbangan dari N. vestibulokoklearis.(buku ijo 13)
Gambar II.5 Koklea

II. 2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran
dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang
telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong sehingga
perilimf pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris
dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius
ampai ke kortteks pendengaran (area 39-40) di lobus tempoalis (buku ijo hal 13-14)
Gambar II.6 Fisiologi Pendengaran

BAB III

TINNITUS

III.1 Definisi
Tinnitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar, dapat beruba sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan ini dapat
berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, atau berbagai macam bunyi lainnya. Tinitus
biasanya didengar di satu telinga, kadang di keduanya. Jika tinnitus terdengar di tengah telinga,
berarti bunyi tersebut berada di pitch yang sama atau mengimplikasikan bahwa bbunyi ang di
dengar berasal dari sistem saraf pusat. (buku ijo, boeis)

Serangan tinitus dapat bersifat periodik ataupun menetap. Kita sebut periodik jika serangan
yang datang hilang timbul. Episode periodik lebih berbahaya dan mengganggu dibandingkan
dengan yang berifat menetap. Hal ini disebabkan karena otak tidak terbiasa atau tidak dapat
mensupresi bising ini. Tinitus pada beberapa orang dapat sangat mengganggu kegiatan sehari-
harinya. Terkadang dapat menyebabkan timbulnya keinginan untuk bunuh diri.(1,3 referat)

III. 2 Klasifikasi Tinnitus

Berdasarkan objek yang mendengar, tinitus dapat dibagi menjadi tinitus objektif dan
tinitus subjektif.

a. Tinitus Objektif
Tinitus objektif adalah tinitus yang suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa dengan
auskultasi di sekitar telinga. Tinitus objektif biasanya bersifat vibratorik, berasal dari transmisi
vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga.
Umumnya tinitus objektif disebabkan karena kelainan vaskular, sehingga tinitusnya berdenyut
mengikuti denyut jantung. Tinitus berdenyut ini dapat dijumpai pada pasien dengan malformasi
arteriovena, tumor glomus jugular dan aneurisma. Tinitus objektif juga dapat dijumpai sebagai
suara klik yang berhubungan dengan penyakit sendi temporomandibular dan karena kontraksi
spontan dari otot telinga tengah atau mioklonus palatal. Tuba Eustachius paten juga dapat
menyebabkan timbulnya tinitus akibat hantaran suara dari nasofaring ke rongga tengah.
b. Tinitus Subjektif
Tinnitus objektif adalah tinnitus yang suaranya hanya dapat didengar oleh penderita saja.
Jenis ini sering sekali terjadi.tinitus subjektif bersifat nonvibratorik, disebabkan oleh proses
iritatif dan perubahan degeneratif traktus auditoris mulai sel-sel rambut getar sampai pusat
pendengaran.
Tinitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya. Beberapa pasien dapat
mengeluh mengenai sensasi pendengaran dengan intensitas yang rendah, sementara pada orang
yang lain intensitas suaranya mungkin lebih tinggi.2

Berdasarkan kualitas suara yang didengar pasien ataupun pemeriksa, tinitus dapat dibagi
menjadi tinitus pulsatil dan tinitus nonpulsatil.
a. Tinitus Pulsatil
Tinitus pulsatil adalah tinitus yang suaranya bersamaan dengan suara denyut jantung. Tinitus
pulsatil jarang dimukan dalam praktek sehari-hari. Tinitus pulsatil dapat terjadi akibat adanya
kelainan dari vaskular ataupun di luar vaskular. Kelaianan vaskular digambarkan dengan sebagai
bising mendesis yang sinkron dengan denyut nadi atau denyut jantung. Sedangkan tinitus
nonvaskular digambarkan sebagai bising klik, bising goresan atau suara pernapasan dalam
telinga. Pada kedua tipe tinitus ini dapat kita ketahui dengan mendengarkannya menggunakan
stetoskop.
b. Tinitus Nonpulsatil
Tinitus jenis ini bersifat menetap dan tidak terputuskan. Suara yang dapat didengar oleh
pasien bervariasi, mulai dari suara yang berdering, berdenging, berdengung, berdesis, suara
jangkrik, dan terkadang pasien mendengarkan bising bergemuruh di dalam telinganya.
Biasanya tinitus ini lebih didengar pada ruangan yang sunyi dan biasanya paling menganggu
di malam hari sewaktu pasien tidur, selama siang hari efek penutup kebisingan lingkungan dan
aktivitas sehari-hari dapat menyebabkan pasien tidak menyadari suara tersebut.4

Berdasarkan frekeunsinya, tinitus dapat dibagi menjadi tinitus nada tinggi dan tinitus
nada rendah.

III. 3 Etiologi
Tinitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari telinga dalam. Terutama
kerusakan dari koklea. Secara garis besar, penyebab tinitus dapat berupa kelainan yang

1. Kelainan telinga

2. Saraf, seperti multiple sclerosis, trauma kepala


3. Metabolik, seperti hiperlipidemia, defisiensi vitamin B12, diabetes melitus, hipertiroid

4. Psikogenik

5. Kelainan pembuluh darah, seperti bruit arterial, venus hums

6. Obat ototoksik, seperti aspirin, NSAIDs, aminoglikosida

7. Dan lain lain

Tinitus subjektif biasanya terjadi karena kelainan telinga. Penyebab tersering termasuk
presbiausis, tuli sensorineural, sumbatan serumen, infeksi teling atengah, perforasi membran
timpani, NIHL (Noice Induced Hearing Loss), otosclerosis, penyakit meniere, schanoma
vestibuler, dan obat ototoksik.
Tinitus objektif biasanya terjadi karena persepsi suara yang muncul dari muara yang
berdekatan, misalnya kontraksi otot atau bunyi pembuluh darah. Kelainan ini biasanya muncul
pada AVM, anemia, tirotoksikosis, hipertensi intrakranial, stenosis sebagian dari pembuluhd arah
leher, dan kontraksi otot (myoclonus palatal) seperti kontraksi tensor veli palatini ata tensor
timpani.( http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/364/basics/aetiology.html)

1. Tinitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang

a. Trauma kepala dan Leher


Pasien dengan cedera yang keras pada kepala atau leher mungkin akan mengalami tinitus
yang sangat mengganggu. Tinitus karena cedera leher adalah tinitus somatik yang paling umum
terjadi. Trauma itu dapat berupa Fraktur tengkorak, Whisplash injury.
b. Artritis pada sendi temporomandibular (TMJ)
Berdasarkan hasil penelitian, 25% dari penderita tinitus di Amerika berasal dari artritis sendi
temporomandibular.4 Biasanya orang dengan artritis TMJ akan mengalami tinitus yang berat.
Hampir semua pasien artritis TMJ mengakui bunyi yang di dengar adalah bunyi menciut. Tidak
diketahui secara pasti hubungan antara artritis TMJ dengan terjadinya tinitus.

2. Tinitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis


Tinitus juga dapat muncul dari kerusakan yang terjadi di saraf yang menghubungkan antara
telinga dalam dan kortex serebri bagian pusat pendengaran. Terdapat beberapa kondisi yang
dapat menyebabkan kerusakan dari n. Vestibulokoklearis, diantaranya infeksi virus pada n.VIII,
tumor yang mengenai n.VIII, dan Microvascular compression syndrome (MCV). MCV dikenal
juga dengan vestibular paroxysmal. MCV menyebabkan kerusakan n.VIII karena adanya
kompresi dari pembuluh darah. Tapi hal ini sangat jarang terjadi.

3. Tinitus karena kelainan vascular

Tinitus yang di dengar biasanya bersifat tinitus yang pulsatil. Akan didengar bunyi yang
simetris dengan denyut nadi dan detak jantung. Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan
tinitus diantaranya:
a. Atherosklerosis
Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk-bentuk deposit lemak lainnya,
pembuluh darah mayor ke telinga tengah kehilangan sebagian elastisitasnya. Hal ini
mengakibatkan aliran darah menjadi semakin sulit dan kadang-kadang mengalami turbulensi
sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya.
b. Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada pembuluh darah
koklea terminal.
c. Malformasi kapiler
Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara koneksi arteri dan vena
dapat menimbulkan tinitus.
d. Tumor pembuluh darah
Tumor pembuluh darah yang berada di daerah leher dan kepala juga dapat menyebabkan
tinitus. Misalnya adalah tumor karotis dan tumor glomus jugulare dengan ciri khasnya yaitu
tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa adanya gangguan pendengaran. Ini merupakan
gejala yang penting pada tumor glomus jugulare.

4. Tinitus karena kelainan metabolic


Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinitus. Seperti keadaan hipertiroid dan anemia
(keadaan dimana viskositas darah sangat rendah) dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi
turbulensi. Sehingga memudahkan telinga untuk mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan
tinitus pulsatil.
Kelainan metabolik lainnya yang bisa menyebabkan tinitus adalah defisiensi vitamin B12,
begitu juga dengan kehamilan dan keadaan hiperlipidemia.

5. Tinitus akibat kelainan neurologis

Yang paling umum terjadi adalah akibat multiple sclerosis. multiple sclerosis adalah proses
inflamasi kronik dan demyelinisasi yang mempengaruhi system saraf pusat. Multiple sclerosis
dapat menimbulkan berbagai macam gejala, di antaranya kelemahan otot, indra penglihatan yang
terganggu, perubahan pada sensasi, kesulitan koordinasi dan bicara, depresi, gangguan kognitif,
gangguan keseimbangan dan nyeri, dan pada telinga akan timbul gejala tinitus.

6. Tinitus akibat kelainan psikogenik

Keadaan gangguan psikogenik dapat menimbulkan tinitus yang bersifat sementara. Tinitus
akan hilang bila kelainan psikogeniknya hilang. Depresi, anxietas dan stress adalah keadaan
psikogenik yang memungkinkan tinitus untuk muncul.

7. Tinitus akibat obat-obatan

Obat-obatan yang dapat menyebabkan tinitus umumnya adalah obat-obatan yang bersifat
ototoksik. Diantaranya :
a. Analgetik, seperti aspirin dan AINS lainnya
b. Antibiotik, seperti golongan aminoglikosid (mycin), kloramfenikol, tetrasiklin, minosiklin.
c. Obat-obatan kemoterapi, seperti Belomisisn, Cisplatin, Mechlorethamine, methotrexate,
vinkristin
d. Diuretik, seperti Bumatenide, Ethacrynic acid, Furosemide
e. lain-lain, seperti Kloroquin, quinine, Merkuri, Timah

8. Tinitus akibat gangguan mekanik

Gangguan mekanik juga dapat menyebabkan tinitus objektif, misalnya pada tuba eustachius
yang terbuka sehingga ketika kita bernafas akan menggerakkan membran timpani dan menjadi
tinitus. Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot-otot palatum
juga akan menimbulkan tinitus.

9. Tinitus akibat gangguan konduksi

Gangguan konduksi suara seperti infeksi telinga luar (sekret dan oedem), serumen impaksi,
efusi telinga tengah dan otosklerosis juga dapat menyebabkan tinitus. Biasanya suara tinitusnya
bersifat suara dengan nada rendah.

10. Tinitus akibat sebab lainnya

a. Tuli akibat bising


Disebabkan terpajan oleh bising yang cukup keras dan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Umumnya terjadi pada kedua telinga.
Terutama bila intensitas bising melebihi 85db, dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor
pendengaran korti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat korti untuk
reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000Hz sampai dengan 6000Hz. Yang terberat kerusakan alat
korti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000Hz.
b. Presbikusis
Tuli saraf sensorineural tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris kanan dan kiri,
presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000Hz atau lebih. Umumnya merupakan akibat dari
proses degenerasi. Diduga berhubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan,
metabolisme, aterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. Menurunnya
fungsi pendengaran berangsur dan kumulatif. Progresivitas penurunan pendengaran lebih cepat
pada laki-laki disbanding perempuan.
c. Sindrom Meniere
Penyakit ini gejalanya terdiri dari tinitus, vertigo dan tuli sensorineural. Etiologi dari penyakit
ini adalah karena adanya hidrops endolimf, yaitu penambahan volume endolimfa, karena
gangguan biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada membrane labirin1,4,5,6

Gambar III. 1 Etiologi tinitus

III. 4 Patofisiologi Tinitus

Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditoris yang menimbulkan perasaan adanya
bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal dari bunyi eksternal yang ditransformasikan,
melainkan berasal dari sumber impuls abnormal di dalam tubuh pasien sendiri. Impuls abnormal
itu dapat ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai
intensitas. Tinitus dengan nada rendah seperti bergemuruh atau nada tinggi seperti berdenging.
Tinitus dapat terus menerus atau hilang timbul. (buku ijo hal 111-112)
Tinitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena
gangguan konduksi. Tinitus yang disebabkan oleh gangguan konduksi, biasanya berupa bunyi
dengan nada rendah. Jika disertai dengan inflamasi, bunyi dengung ini terasa berdenyut (tinitus
pulsatil). (buku ijo hal 111-112)
Tinitus dengan nada rendah dan terdapat gangguan konduksi, biasanya terjadi pada sumbatan
liang telinga karena serumen atau tumor, tuba katar, otitis media, otosklerosis dan lain-lainnya.
Tinitus dengan nada rendah yang berpulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini
yang penting pada tumor glomus jugulare. (buku ijo hal 111-112)
Tinitus objektif sering ditimnbulkan oleh gangguan vaskuler. Bunyinya seirama dengan
denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan aterosklerosis. Gangguan mekanis dapat juga
mengakibatkan tinitus objektif, seperti tuba eustachius terbuka, sehingga ketika bernapas
membran timpani bergerak dan terjadi tinitus. (buku ijo hal 111-112)
Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius, serta otot-otot palatum dapat
menimbulkan tinitus objektif. Bila ada gangguan vaskuler di telinga tengah, seperti tumor karotis
(carotid body tumor), maka suara aliran darah akan mengakibatkan tinitus juga. (buku ijo hal 111-112)
Pada intoksikasi obat seperti salisilat, kina, streptomisin, dehidro-streptomisin, garamisin,
digitalis, kanamisin, dapat terjadi tinitus nada tinggi, terus menerus atupun hilang timbul. Pada
hipertensi endolimfatik, seperti penyakit meniere dapat terjadi tinitus pada nada rendah atau
tinggi, sehingga terdengar bergemuruh atau berdengung. Gangguan ini disertai dengan vertigo
dan tuli sensorineural.(buku ijo hal 111-112)
Gangguan vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang stres akibat gangguan
keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme atau saat hamil dapat
juga timbul tinitus dan gangguan tersebut akan hilang bila keadaannya sudah normal kembali
(referat)

III.5 Diagnosa

Untuk mendiagnosis pasien dengan tinitus, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang baik.
a. Anamnesis
Anamnesis adalah hal yang sangat membantu dalam penegakan diagnosis tinitus. Dalam
anamnesis banyak sekali hal yang perlu ditanyakan, diantaranya:
- Kualitas dan kuantitas tinitus
- Lokasi, apakah terjadi di satu telinga ataupun di kedua telinga
- Sifat bunyi yang di dengar, apakah mendenging, mendengung, menderu, ataupun mendesis dan
bunyi lainnya
- Apakah bunyi yang di dengar semakin mengganggu di siang atau malam hari
- Gejala-gejala lain yang menyertai seperti vertigo dan gangguan pendengaran serta gangguan
neurologik lainnya.
- Lama serangan tinitus berlangsung, bila berlangsung hanya dalam satu menit dan setelah itu
hilang, maka ini bukan suatu keadaan yang patologik, tetapi jika tinitus berlangsung selama 5
menit, serangan ini bias dianggap patologik.
- Riwayat medikasi sebelumnya yang berhubungan dengan obat-obatan dengan sifat ototoksik
- Kebiasaan sehari-hari terutama merokok dan meminum kopi
- Riwayat cedera kepala, pajanan bising, trauma akustik
- Riwayat infeksi telinga dan operasi telinga

Tinnitus and Significant Medical History

History Detail
Onset Gangguan pendengaran yang progresif dan umur lanjut mengarah
ke presbiakusis. Onset bisa berhubungan dengan pemaran bising
yang lama atau trauma kepala.
Lokasi Tinitus unilateral dapat disebabkan karena sumbatan serumen, otitis
externa, dan otitis media. Tinitus dengan tuli sensorineural unilateral
merupakan tanda dari neuroma akustik.
Frekuensi Tinitus yang berkelanjutan sering bersamaan dengan gangguan
pendengaran. Tinitus episodeik berhubungan dengan penyakit
meniere. Tinitus yang pulsatile berkatian dengan pembuluh darah.
Characteristics (i.e., pitch, Tinitus nada rendah mengarah ke penyakit meniere, tinitus nada
complexity) tinggi mengarah ke tuli sensorineural.
Adanya vertigo, aura, dan gangguan Meniere's disease
pendegaran sensorineural
History Detail
Adanya obat ototoksik/ faaktor lain Noise-induced or medication-induced hearing loss

Hyperlipidemia, kelainan tiroid, Can be potential contributing causes.


defisiensi vitamin B12, anemia
Lain-lain Significance to the patient. Management depends on how the tinnitus
affects the patient's quality of life.

Tabel III. 1 Anamnesis tinitus (http://www.aafp.org/afp/2004/0101/p120.html)

b. Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan fisik dan penunjang yang baik, diharapkan sesuai dengan diagram berikut:

ear exam-->(audible sounds)-+-->sync w/respiration-->patent eustachian


| | tube
| |
| |
| |
| +-->sync w/pulse-->aneurysm, vascular tumor,
v | vascular malformation,
(no audible sounds) | venous hum
| |
| |
| |
| +-->continuous-->venous hum, acoustic
| emissions
|
|
v
neurological exam-->(normal)-->audiogram
| |
| |
| +-->normal-->idiopathic tinnitus
| |
| |
| +-->conductive hearing loss
v | |
(brain stem signs) | v
| | impacted cerumen, chronic
| | otitis, otosclerosis
| |
v |
multiple sclerosis, +-->sensorineural hearing loss
tumor, ischemic |
infarction v
BAER Test
|
v
+---------+--------------+
| |
| |
v v
abnormal (neural) normal cochlear
| |
| |
| |
v v
acoustic neuroma noise damage
other tumors ototoxic drugs
vascular compression labyrinthitis
Meniere's Disease
perilymph fistula
presbycusis
(http://www.bixby.org/faq/tinnitus/diagnose.htm)
Diagram III. 1 Pemeriksaan fisik dan penunjang tinitus

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan tinitus dimulai dari pemeriksaan auskultasi dengan
menggunakan stetoskop pada kedua telinga pasien. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk
menentukan apakah tinitus yang didengar pasien bersifat subjektif atau objektif. Jika suara tinitus
juga dapat didengar oleh pemeriksa, artinya bersifat subjektif, maka harus ditentukan sifat dari
suara tersebut. jika suara yang didengar serasi dengan pernapasan, maka kemungkinan besar
tinitus terjadi karena tuba eustachius yang paten. Jika suara yang di dengar sesuai dengan denyut
nadi dan detak jantung, maka kemungkinan besar tinitus timbul karena aneurisma, tumor
vaskular, vascular malformation, dan venous hum. Jika suara yang di dengar bersifat kontinua,
maka kemungkinan tinitus terjadi karena venous hum atau emisi akustik yang terganggu.
Pada tinitus subjektif, yang mana suara tinitus tidak dapat didengar oleh pemeriksa saat
auskultasi, maka pemeriksa harus melakukan pemeriksaan audiometri. Hasilnya dapat beragam,
di antaranya:
- Normal, tinitus bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebabnya.
- Tuli konduktif, tinitus disebabkan karena serumen impak, otosklerosis ataupun otitis kronik.
- Tuli sensorineural, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan BERA (Brainstem Evoked Response
Audiometri). Hasil tes BERA, bisa normal ataupun abnormal. Jika normal, maka tinitus mungkin
disebabkan karena terpajan bising, intoksikasi obat ototoksik, labirinitis, meniere, fistula
perilimfe atau presbikusis. Jika hasil tes BERA abnormal, maka tinitus disebabkan karena
neuroma akustik, tumor atau kompresi vaskular.

Diagram III.2 Pendekatan diagnosis tinitus (http://www.aafp.org/afp/2004/0101/p120.html#afp20040101p120-f1)

Pada tinitus objektif, perlu dilakukan pemeriksaan berupa CT scan, MRI, ataupun MRA
(Megnetic Resonance Angiography). Dengan pemeriksaan tersebut, pemeriksa dapat menilai ada
tidaknya kelainan vaskular (Diagram III.2), kelainan kontraksi otot stapedius (Daiagram
III.2),kelainan pada saraf pusat (Diagram III.1) . Kelainannya dapat berupa multipel sklerosis,
infark dan tumor. (referat)

III.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenumena
psikoakustik murni,sehingga tidak dapat diukur. Prinsipnya prlu diketahui penyebab dari tinitus
agar pengobatan sesuai dengan penyebabnya, namun kadang enyebabbnya sukar diketahui.

Penatalaksanaan brtujun untuk menghilangkan penyebab tinitus atau mengurangi


keparahan akibat tinitus. Pada tinitus yang jelas diketahui penyebabnya baik lokal maupun
sistemik, biasanya tinitu dapat dihilangkan bila kelainan penyebabnya dapat diobati. Pada tinitus
yang penyebabnya tidak diketahui penatalaksanaan lebih sulit dilakukan.

Ada banyak pengobatan tinitus objektif tetapi tidak ada pengobatan yang efektif untuk
tinitus subjektif. Pada umumnya pengobatan gejala tinitus dapat dibagi dalam 4 cara yaitu :
1. Elektrofisiologik yaitu dengan membuat stimulus elektro akustik dengan intensitas suara yang
lebih keras dari tinitusnya, dapat dengan alat bantu dengar atau tinitus masker.
2. Psikologik, dengan memberikan konsultasi psikologik untuk meyakinkan pasien bahwa
penyakitnya tidak membahayakan dan dengan mengajarkan relaksasi setiap hari.
3. Terapi medikamentosa, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang jelas diantaranya untuk
meningkatkan aliran darah koklea, tranquilizer, antidepresan, sedatif, neurotonik, vitamin, dan
mineral.
4. Tindakan bedah dilakukan pada tinitus yang telah terbukti disebabkan oleh akustik neuroma.

Pasien tinitus sering sekali tidak diketahui penyebabnya, jika tidak tahu penyebabnya,
pemberian antidepresan dan antiansietas sangat membantu mengurangi tinitus. Hal ini
dikemukakan oleh Dobie RA, 1999. Obat-obatan yang biasa dipakai diantaranya Lorazepam atau
klonazepam yang dipakai dalam dosis rendah, obat ini merupakan obat golongan benzodiazepine
yang biasanya digunakan sebagai pengobatan gangguan kecemasan.

lainnya adalah amitriptyline atau nortriptyline yang digunakan dalam dosis rendah juga, obat ini
adalah golongan antidepresan trisiklik.4
Pasien yang menderita gangguan ini perlu diberikan penjelasan yang baik, sehingga rasa takut
tidak memperberat keluhan tersebut. Obat penenang atau obat tidur dapat diberikan saat
menjelang tidur pada pasien yang tidurnya sangat terganggu oleh tinitus itu. Kepada pasien harus
dijelaskan bahwa gangguan itu sukar diobati dan dianjurkan agar beradaptasi dengan gangguan
tersebut.
Pada pasien yang mengalami gangguan pendengaran seperti presbikusis ataupun tuli
sensorineural, sebaiknya menggunakan alat bantu dengar untuk memperbaiki kualitas hidup
pasien.
Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff, berdasar pada model
neurofisiologinya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik dan medikamentosa bila
diperlukan. Metode ini disebut dengan Tinnitus Retraining Therapy. Tujuan dari terapi ini adalah
memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara lingkungan yang
mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai hasil modifikasi hubungan system auditorik ke sistem
limbik dan system saraf otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinitus dengan
sempurna, tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan toleransi
terhadap suara. Biasanya pasien menggunakan terapi ini selma 1 sapai 2 tahun, dan keberhasilan
dari terapi ini tergantung dari masing- masing pasien.
TRT biasanya digunakan jika dengan medikasi tinitus tidak dapat dikurangi atau dihilangkan.
TRT adalah suatu cara dimana pasien diberikan suara lain sehingga keluhan telinga berdenging
tidak dirasakan lagi. Hal ini bisa dilakukan dengan mendengar suara radio FM yang sedang tidak
siaran, terutama pada saat tidur. Bila tinitus disertai dengan gangguan pendengaran dapat
diberikan alat bantu dengar yang disertai dengan masking.8
TRT dimulai dengan anamnesis awal untuk mengidentifikasi masalah dan keluhan pasien.
Menentukan pengaruh tinitus dan penurunan toleransi terhadap suara sekitarnya, mengevakuasi
kondisi emosional pasien, mendapatkan informasi untuk memberikan konseling yang tepat dan
membuat data dasar yang akan digunakan untuk evaluasi terapi.

Selain terapi diatas, pasien yang mengalami tinitus juga harus diberikan edukasi –
edukasi seperti :

a. Menghindari pemakaian obat- obat ototoksis seperti aspirin, NSAIDs

b. Hindari suara suara ang keras atau bising. Jika harus terpapar, maka gunakan alat
pelindung diri berupa ear plug.

c. Kurangi makanan bergaram dan berlemak karena dapat meningkatkan tekanan darah
yang merupakan salah satu penyebab tinnitus.
d. Modifikasi gaya hidup, kurangi kebiasaan merokok dan minum kafein yang
merupakan faktor yang memperparah tinitus
e. Olahraga dan hindari stress.
Berdasarkan Chicago Dizziness and Hearing Association dengan versi yang telah
diperbaharui pada tanggal 26 oktober 2008, berikut diagram penatalaksaan tinitus: 9

Tinnitus Management Flow Sheet


Chicago Dizziness and Hearing, Version Oct 26, 2008

Tinnitus (noise in ear)

Interview
Audiogram,
Tinnitus matching, Had diagnostic workup?
OAE f.
ABR Anxiolytics (Klonazepam,
Aplrazolam)
ECOG
MRI if unilateral Antidepressants
g. Anxious, (Effexor, Nortriptyline, Paxil)
Anxious, depressed, sleepless? Sedatives (Lunesta, Klonazepam,
h. depressed
Trazedone)
i.

Devices:
Masking (household noises, Tinnitus
Patient wishes to try CD’s)
Betahistine
Ear meds Medication, TRT, devices Hearing aid
Dyazide j. Masker
Conditioning device (Neuromonics,
similar)
Neurontin,
Topamax, Anticonvulsan Schedule for TRT
Oxcarbamazine

Psychological Hypnosis,
Niacin 50 bid management Biofeedback
Pavabid 150 BID
Vasoactive
Persantine 25 TID
Trental 400 TID Neuroprobe 500
Electrical stimulators
Not appropriate for Ultrasonic
everyone (Ultraquiet,
Medrol dose pack Steroid Hisonic)

Ginkgo Surgery (last resort)


Acupuncture Alternative
Lipoflavenoid
s
Cochlear nerve section
Labyrinthectomy
Electrical stimulator implant
Sumber : http://www.dizziness-and-balance.com/disorders/hearing/pdfs/tinnitus%20management.pdf

BAB IV

KESIMPULAN

Tinitus merupakan salah satu gejala dari suatu penyyakit. Keluhan ini sering dialami oleh
hampir seluruh populasi di dunia, terlebih yang berumur 40-70 tahun. Sebagian besar kasus,
keluhan ini tidak mengganggu, namun tidak jarang keluhan ini menurunkan kualitas hidup
seseorang, membuat pasien depresi.

Tinitus dibagi menjadi tinitus subjektif dan tinitus objektif. Tinitus subjektif sering
dikeluhkan oleh pasien. Penyebab dari tinitus dapat disebabkan karene kelainan pada telinga
(mekanik maupun non mekanik), kelainan saraf, kelainan metabolik, kelainan pembuluh darah,
psikogenik, obat ototoksik, dan lain lain.

Perlu dilakukan anamnesis yang mendalam, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang untuk mengetahui penyebab dari tinitus. Jika penyebab dari tinitus diketahui, maka
penatalaksanaan dari keluhan ini dapat tepat sasaran dan keluhan dapat hilang.

Penatalaksanaan dari tinitus beragam, yaitu dari konseling psikologik yang berguna untuk
memberikan pengertian kepada pasien tentang tinitus ini dan cara menanganinya,
elektrofisiologik yang dapat menggunakan alat bantu dengar, terapi medikamentosa, dan
tindakan bedah.

Terapi yang saat ini sedang dikembangkan adalah TRT (Tinnitus Retraining Therapy)
dimana terapi ini menggabungkan terapi konseling dan terapi masking. Terapi ini membuat
pasien menjadi tidak sadar akan tinitusnya karena prosess habituasi. Terapi ini dilakukan 1-2
tahun.