Anda di halaman 1dari 28

BAB IV

ALTERNATIF LOKASI DAN


PENGEMBANGAN KAWASAN

4.1. Skema Klasifikasi Pemilihan Usaha


Dalam pengkajian berbagai aspek yang berkaitan dengan penggunaan lahan, skala
atau kerincian, observasi selalu dipertimbangkan. Sebagai contoh, dalam kajian skala
regional (rekonans atau yang lebih kecil), informasi detail tentang penggunaan lahan
yang berukuran relatif kecil misalnya, sangat sulit untuk disajikan karena keterbatasan
skala dan resolusi. Demikian pula sebaliknya, untuk menyesuaikan tingkat kerincian
observasi dan grup penggunaan lahan, kemudian lahir klasifikasi sistematis
penggunaan lahan dengan level – level yang berbeda. Tabel sistem klasifikasi
penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Klasifikasi Penggunaan Lahan

Level 1 Level II Level III

Penggunaan
Tingkat modifikasi Penggunaan lahan fungsional lahan biofisik
ekosistem (tujuan penggunaan) (urutan
operasi)

Tidak
semakin ke bawah, modifaksi ekosistem

Tidak digunakan
digunakan
Konservasi
Total
total
Konservasi
Konservasi
Sebagian
sebagian
meningkat

Penggunaan
lahan Produksi
berdasarkan tanaman
ekosistem alami
Produksi
Koleksi/Pengumpulan hewani

Produksi
tanaman dan
hewani

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-1
Level 1 Level II Level III

Penggunaan lahan
Tingkat modifikasi Penggunaan lahan fungsional
biofisik (urutan
ekosistem (tujuan penggunaan)
operasi)

Produksi dan multipurpose Hutan alami


kehutanan Hutan tanaman
Peternakan skala
Produksi ternak
besar
Perladangan
berpindah
Penggunaan lahan
Pertanian sementara
berdasarkan
Produksi
ekosistem terkelola
pertanian Produksi Pertanian permanen
(managed
semakin ke bawah, modifaksi ekosistem meningkat

ecosystem) tanaman
Pertanian lahan
basah (sawah)
Produksi tanaman
terbatas
Penangkapan
Produksi perikanan
Akuakultur

Rekreasi (banyak
Rekreasi
sub-kelas)

Pertambangan
(mining)
Ekstraski mineral
Penggalian
(quarrying)
Perumahan Perumahan
Pemukiman dan Komersil Komersil
penggunaan lahan
yang terkait Pemukiman Industri Aktivitas industri
Infrastruktur
Infrastruktur
pemukiman
Penggunaan
Penggunaan terbatas karena
terbatas karena
keamanan
keaman
Fase
penggunaan Penggunaan lahan irigasi
lahan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-2
Untuk mengetahui kondisi lahan dan perencanaannya dapat dilihat dengan
menggunakan Peta RTRW Kabupaten Labuhanbatu Utara. Peta yang digunakan
sebagai parameter adalah Peta Penggunaan Lahan Eksisting sebagai peta dasar
dan Peta Rencana Pola Ruang Wilayah sebagai peta pembandingnya. Berdasarkan
kondisi eksisting yang ada diketahui lokasi kajian seluas 328,87 Ha yang terletak di
areal Kebun Membang Muda yang merupakan daerah perkebunan. Sedangkan pada
Peta Perencanaan Pola Ruang Kabupaten Labuhanbatu Utara mengalami alih fungsi
lahan. Dari lahan pertanian dan perkebunan mengalami perubahan lahan menjadi
kawasan pemukiman dan perkotaan. Hal tersebut dapat dilihat pada peta dibawah
ini:

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-3
Kondisi Exsisting
Areal Kajian

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-4
Kondisi Exsisting
Areal Kajian

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-5
Kondisi Rencana Pola
Ruang Areal Kajian

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-6
Usaha yang akan dibangun akan diselaraskan dengan Rencana Struktur Ruang Kabupaten
Labuhanbatu Utara yakni sebagai areal pemukiman dan perkotaan. Berdasarkan klasifikasi
penggunaan lahan yang terdapat pada tabel 4.1, dapat dilihat areal pemanfaatan lahan di
Kebun Membang Muda seluas 328,87 Ha termasuk di dalam kategori Pemukiman dan
Penggunaan Lahan yang terkait.
Tabel 4.2
Klasifikasi Penggunaan Lahan
Level I Level II Level III
Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan Tinjauan RTRW
Tingkat Modifikasi Rencana Pengembangan
Fungsional (Tujuan Biofisik (Rencana Pola Ruang)
Ekosistem
Penggunaan) (Urutan Operasi)
Pemukiman dan Rekreasi Rekreasi (Banyak Sesuai dengan Pembangunan Waterpark
Penggunaan Lahan Sub Kelas) perencanaan pola ruang (Wahan Rekreasi)
yang terkait sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Ekstrasi Mineral Pertambangan dan Rencana kawasan Lokasi kajian tidak berada di
Penggalian peruntukan pertambangan lokasi pertambangan
sebagaimana dimaksud
dalam pasal 41 huruf e,
meliputi :
a. Batubara, terdapat di
Kecamatan Kualuh Selatan
dan Kualuh Hulu;
b. Minyak Bumi, terdapat di
Kecamatan Marbau dan
Aek Kuo.
Pemukiman Perumahan Perumahan Komplek Perumahan
Pemukiman perkotaan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a seluas
kurang lebih 3164 (tiga ribu
seratus enam puluh empat)
hektar, meliputi :
a. Kecamatan Aek Kuo
seluas kurang lebih 24 (dua
puluh empat) hektar;
b. Kecamatan Kualuh Hilir
seluas kurang lebih 271
(dua ratus tujuh puluh satu)
hektar;
c. Kematan Kualuh Hulu
seluas kurang lebih 619
(enam ratus sembilan
belas) hektar;
d. Kecamatan Kualuh
Leidong seluas kurang lebih
107 (seratus tujuh) hektar;

e. Kecamatan Kualuh
Selatan seluas kurang lebih
1629 (seribu enam ratus
dua puluh sembilan) hektar;
f. Kecamatan Marbau
seluas kurang lebih 197
(seratus sembilan puluh
tujuh) hektar; dan
g. Kecamatan NA IX-X
seluas kurang lebih 317
(tiga ratus tujuh belas)
hektar.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-7
Level I Level II Level III
Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan Tinjauan RTRW
Tingkat Modifikasi Rencana Pengembangan
Fungsional (Tujuan Biofisik (Rencana Pola Ruang)
Ekosistem
Penggunaan) (Urutan Operasi)
Komersil Komersil Sesuai dengan
perencanaan pola ruang
Hotel
sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Sesuai dengan
perencanaan pola ruang
Rest Area
sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Sesuai dengan
perencanaan pola ruang
SPBU
sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Sesuai dengan
perencanaan pola ruang Toko Souvenir dan Oleh -
sebagai kawasan oleh
pemukiman dan perkotaan
Sesuai dengan
perencanaan pola ruang
Plaza
sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Sesuai dengan
perencanaan pola ruang
Aek Kanopan Walk
sebagai kawasan
pemukiman dan perkotaan
Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor :
05/PRT/M/2008 tentang
Infrastruktur
Infrastruktur Pedoman Penyediaan dan Ruang Terbuka Hijau
Pemukiman
Penataan Ruang Terbuka
Hijau di Kawasan
Perkotaan
Sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 41 huruf i
berupa kawasan
peruntukan pertahanan dan
keamanan, meliputi :
a. Komando Distrik Militer
(KODIM) yang berada di
Penggunaan terbatas karena keamanan Kecamatan Kualuh Hulu; Tidak berada di lokasi kajian
b. Subdenfom yang berada
di Kecamatan Kualuh Hulu
c. Batalyon yang berada di
Kecamatan Kualuh Hulu;
dan
d. Koramil yang terdapat di
setiap ibukota kecamatan.
Fase Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan Irigasi

Berdasarkan tabel diatas diketahui sektor/unit usaha apa saja yang akan dibangun di
wilayah kajian.

4.2. Konsep Rencana Tapak


4.2.1. Konsep Pengembangan Kawasan
Seiring perkembangan kota dan proses alih fungsi lahan perkebunan menjadi lahan
terbangun untuk aktivitas non-pertanian, ada beberapa perubahan yang terjadi dalam
struktur sosial dalam masyarakat periurban. Perubahan ini terjadi terutama pada area
– area pengembangan. Biasanya pemilik lahan pertanian/perkebunan berada dalam

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-8
satu rumpun atau satu lokasi dalam suatu area tertentu yang kemudian secara hampir
bersamaan pula lahan pertanian mereka dijual. Kemudian karena tidak adanya
kelanjutan aktivitas ekonomi, mereka mencari kegiatan ekonominya masing-masing
secara berbeda. Oleh karena itu walaupun mereka masih dalam satu lokasi, adanya
perbedaan aktivitas ekonomi dan masuknya penduduk pendatang pada area mereka
membuat kekerabatan antar warga menjadi memudar. Perubahan tersebut dapat
dilihat pada gambar di bawah ini. Kehidupan masyarakat di Kecamatan Kualuh Hulu
juga tidak jauh dari sektor pertanian, subsektor tanaman pangan, holtikultura,
perkebunan, dan perikanan merupakan subsektor pertanian yang diusahakan
masyarakat disekitar Kecamatan Kualuh Hulu.

Gambar 4.1
Perubahan Aktivitas Ekonomi Penduduk
di Kecamatan Kualuh hulu

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-9
Gambar 4.2 Dampak Peralihan Lahan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-10
Dengan adanya perubahan tersebut juga akan mengakibatkan
transformasi/perubahan terhadap mata pencarian penduduk.

Lahan Pertanian Pemanfaatan Aset Pengembangan


dan Perkebunan dan Pembangunan Lahan Pemukiman
Pusat Pertumbuhan dan Perkotaan

Tahap
Transisi

Hal yang dapat dilakukan adalah dengan cara melakukan pengendalian terhadap
kegiatan alih fungsi lahan. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan
menetapkan program pengembangan kawasan. Pengembangan kawasannya terbagi
atas 3 (tiga) tahapan berdasarkan kepada waktu pemanfaatan lahan tersebut.
Tahapannya adalah sebagai berikut :

4.2.1.1. Rencana Pengembangan Jangka Pendek


Rencana pengembangan jangka pendek di areal kawasan Kebun Membang Muda
berdasarkan adanya perubahan fungsi lahan dari lahan Perkebunan dan Pertanian
menjadi Lahan Pemukiman dan Perkotaan. Pada rencana pengembangan jangka
pendek program pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Pemanfaatan Areal Perkebunan
Pemanfaatan areal perkebunan ini disebabkan proses peralihan alih fungsi lahan
pertanian dan perkebunan menjadi kawasan pemukiman dan perkotaan yang
cenderung lama sehingga areal perkebunan yang sekarang masih dapat
dimanfaatkan.
2) Pemanfaatan Rumah Sakit dan Mess Perkebunan Membang Muda
Rumah Sakit dan Mess Perkebunan Membang Muda dapat dipertahankan
terkait rencana pengembangan kawasan. Dimana Rumah Sakit dan Mess Kebun
Membang Muda dapat dijadikan Aset Fasos dan Fasum disekitar kawasan
pengembangan seluas 328,87 Ha.
3) Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan
Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki
fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction ),

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-11
yang menyebabkan berbagai macam pelaku usaha tertarik untuk menempati
lokasi tersebut dan dapat menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung
dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di daerah tersebut, walaupun
kemungkinan tidak adanya interaksi antara usaha-usaha tersebut. Pembangunan
yang dapat berperan sebagai pusat pertumbuhan kawasan adalah :
1. SPBU dan Fasilitas Pendukung
2. Waterpark dan Wahana Rekreasi
3. Toko Souvenir
4. Perumahan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-12
SPBU dan
Fasilitas
Penduku
Toko Pembangunan
ng
Souvenir Perumahan
Tahap I

Waterpark
dan
Wahana Mess
Rekreasi Membang
Muda

Rumah
Sakit

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-13
4.2.1.2. Rencana Pengembangan Jangka Menengah
Rencana Pengembangan jangka menengah merupakan tahapan lanjutan dari
pengembangan jangka pendek. Dimana konsep pengembangannya mulai
menonjolkan kawasan tersebut menjadi kawasan Pemukiman dan Perkotaan
dengan menerapkan program pengembangan sebagai berikut :
1) Pemanfaatan Areal Perkebunan
Pada perencanaan pembangunan jangka menengah ini masih adanya
pemanfaatan areal perkebunan walaupun areal perkebunan tersebut sudah
mengalami pengurangan luas disebabkan adanya pengembangan kawasan
pada jangka pendek dan jangka menengah ini, tetapi masih terdapat areal
perkebunan yang masih dapat dimanfaatkan.
2) Pemanfaatan Areal Rumah Sakit dan Mess Membang Muda
Areal Rumah Sakit dan Mess Membang Muda merupakan aset dari Fasos dan
Fasum pengembangan kawasan tersebut. Dimana pada perencanaan
pengembangan jangka menengah ini sudah mengalami peningkatan dalam hal
luas dan pelayanan untuk pengembangan rumah sakit, sedangkan untuk Mess
Membang Muda dialihkan Menjadi Perumahan.
3) Pembangunan Identitas Kawasan
Membangun Kawasan Perdagangan dan Jasa (Pusat Kegiatan Lokal) yang
merupakan pusat segala fasilitas kawasan dan merupakan daerah dengan daya
tarik tersendiri dengan aksesibilitas yang tinggi. Sesuai dengan arahan RTRW
No.05 Tahun 2015 perencanaan pembangunannya antara lain adalah sebagai
berikut :
a. Pembangunan Balai Latihan Kerja Modern
b. Pembangunan Gedung Olahraga dan Kesenian
c. Pembangunan Kawasan Pusat Kegiatan Lokal (Pusat Perdagangan dan
Jasa)
4) Pembangunan Pusat Pertumbuhan Kawasan
Melanjutkan Program Pembangunan Rumah (Pembangunan Rumah Tahap II)

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-14
Kawasan
Perdagangan
dan Jasa
SPBU

Perumahan
Tahap 1

Waterpark
Perumahan
Tahap II

Toko Rumah
Souv Sakit
enir

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-15
4.2.1.3. Rencana Pengembangan Jangka Panjang
Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang merupakan tahap terakhir dari
peralihan lahan pertanian dan perkebunan menjadi lahan peruntukan pemukiman
dan perkotaan. Program pengembangan untuk jangka panjang adalah sebagai
berikut :
1) Pembangunan Fasilitas Perkotaan.
a. Pembangunan Hotel berbintang
b. Pembangunan Plaza
Dengan peralihan kawasan menjadi daerah perkotaan mengakibatkan aktivitas
dan konsumsi penduduk akan meningkat. Sehingga diperlukan sarana berupa
Hotel dan Plaza/Mall untuk mengatasi permasalahan tersebut.
2) Pembangunan Perumahan
Dengan dibangunnya pusat – pusat pertumbuhan diharapkan semakin
banyaknya jumlah pendatang yang akan menetap di kawasan tersebut.
Sehingga diperlukan pembangunan perumahan secara berkelanjutan untuk
mengatasi hal tersebut.

Sesuai dengan prinsip dan konsep awal perancangan, maka konsep rencana tapak dibuat
dengan mengusung konsep tertentu guna mendukung suksesnya program pembangunan.
Rencana tapak kawasan ini terbagi atas tiga kriteria peruntukan, yakni untuk pembangunan
jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Penyusuna rencana tapak (site) ini
juga terkait dengan arahan pola ruang RTRW Kabupaten Labuhanbatu Utara tahun 2015 –
2035. Rencana tapak kawasan ini mengacu kepada jenis usaha yang akan dikembangkan.
Jenis usaha yang akan dikembangkan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3
Klasifikasi Usaha Berdasarkan Pemanfaatan Lahan
Usaha Jangka
Usaha Jangka Pendek Usaha Jangka Panjang
No Menengah
(O – 7 ) Tahun (14 – 21) Tahun
(8 – 14 ) Tahun
1 Pemanfaatan Areal Kebun
2 Pemanfaatan Fasilitas Rumah Sakit dan Mess Membang Muda
3 SPBU Plaza
Kawasan Perdagangan dan Jasa (Pusat Kegiatan
4 Toko Souvenir
Lokal)

(5 Waterpark dan Wahana Hotel Berbintang


Rekreasi
6 Perumahan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-16
No Klasifikasi Jenis Usaha Asumsi Pengembangan
Pengembangan kawasan
1 Usaha Jangka Pendek SPBU dan Fasilitas 1. Pemanfaatan pembukaan
( 0 – 7 ) Tahun Pendukung jalan lingkar (Rencana
Pola Ruang RTRW
Kabupaten Labura)
2. Dengan dibukanya jalan
lingkar mengakibatkan
kebutuhan akan bahan
bakar akan meningkat
3. Kebutuhan akan sarana
dan prasarana SPBU yang
Lengkap ( SPBU dengan
Klasifikasi A)
Toko Souvenir 1. Perencanaan
pembangunan
dillaksanakan berada di
jalan lintas sumatera
2. Penempatan lokasi berada
di pinggir jalan raya
dimaksudkan untuk
memudahkan pemasaran
3. Menampung Kreativitas
UMKM di Lokasi Sekitar
4. Mobilitas tinggi ( Jumlah
kendaraan 600 – 800
unit/Jam)
Waterpark dan 1. Pembangunan direncakan
Wahana rekreasi berada di jalan lintas
Sumatera
2. Lokasi Pusat Hiburan yang
sejenis berada jauh dari
pusat Kota selama ini
(Kurang lebih 45 Km)
3. Dilokasi pengembangan
terdapat banyak sekolah

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-17
sehingga dapat bekerja
sama yang saling
menguntungkan (38.444
Jumlah Siswa di sekitar
Kawasan)
4. Ketentuan klasifikasi
penggunaan Lahan
Pembangunan 1. Sesuai dengan arahan
Perumahan RTRW no 05 tahun 2015 –
2035 (Adanya rencana
pembangunan areal
pemukiman seluas 619 Ha)
2. Mendukung Rencana alih
fungsi lahan dari areal
perkebunan menjadi areal
Pemukiman dan Perkotaan
3. Meningkatnya kebutuhan
akan tempat tinggal
Pengembangan Kawasan Pusat 1. Ditetapkan oleh RTRW no.
jangka Menengah Kegiatan Lokal 5 tahun 2015 pasal 59
(Kawasan
Perdagangan dan
Jasa)
Pembangunan
Perumahan
Pengembangan Areal
Rumah sakit
Pengembangan Plaza 1. Fasilitas kota Modern
Jangka Panjang
Hotel Berbintang 1. Sarana kawasan
Perkotaan dan pemukiman
2. Kebutuhan Kota
Perdagangan

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-18
PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-19
Program Luas
No Penggunaan Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang
Pengembangan (Ha)
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035
1 Pemanfaatan Perkebunan
2 Pemanfaatan Fasilitas
Rumah Sakit dan Mess
Perkebunan
a. Rumah Sakit 3
b. Mess Perkebunan
Pembangunan SPBU dan
3 4
Fasilitas Pendukung
Pembangunan
4 Waterpark d an Wahana 5
Rekreasi Fasilitas
Pembangunan Toko Utama
5 1
Souvenir
6 Pembangunan
Perumahan
a.Tahap I 60
b.Tahap II 75
c.Tahap III 60
Pembangunan CBD dan
7 35
Pergudangan
8 Pembangunn Plaza/Mall 7
Pembangunan Hotel
9 5
Berbintang
10 Kawasan Terbuka Hijau 35
Zona Publik (Aek
11 5
Kanopan Walk)
Fasilitas
Tempat Pembuangan
12 Pendukung 8
Sementara
Infrastruktur Jalan dan
13 25
Fasilitas Pendukung Lain

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-20
Kondisi eksisting lokasi kajian saat ini masih berupa areal perkebunan dan berada dekat
dengan areal jalan raya (jalinsum). Rencana lahan yang akan dikembangkan seluas 328,87
Ha berada di lokasi afdeling I dan Afdeling II Kebun Membang Muda milik PTP Nusantara –
III. Kondisi eksisting lokasi kajian dapat dilihat pada gambar berikut :

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-21
4.3. Analisa dan Konsep Penzoningan
 Analisa pendekatan
Tujuan :
o untuk perletakkan zona-zona kegiatan berdasarkan karakter dari kegiatan
tersebut.

Dasar pertimbangan :
o Kegiatan dalam tapak yang beraneka ragam
o Kebutuhan kenyamanan dalam berkegiatanTingkat kebisingan pada lingkungan
sekitar tapak.

Penzoningan secara horizontal didasarkan pada sifat kegiatan, yaitu :


Zona publik, ruang-ruang yang bersifat umum ditempatkan pada zona yang mudah
dicapai pengunjung dari pintu masuk.

Penzoningan secara vertikal didasarkan pada tingkat kebisingan dari


banyaknya kegiatan, yaitu :
Zona bawah, merupakan zona yang memiliki tingkat kebisingantertinggi karena
adanya kegiatan yang melibatkan para pengunjung.
Zona transisi, merupakan zona peralihan antara zona bawah danzona tenang.
Zona atas, zona paling atas dan merupakan zona tenang karenamembutuhkan
banyak privasi dan ketenangan yang tinggi

 Konsep Perencanaan
Pemisahan antara zona publik, semi publik, dan private ke dalam bentuk
penzoningan horizontal dan vertikal.
Zona publik di letakkan sebagai kegiatan penunjang lainnya yang melibatkan
pengunjung.
Zona semi publik merupakan area penerimaan, parkir dan openspace.
Zona private, merupakan area yang digunakan sebagai fungsikegiatan utama
Zona service, merupakan area yang digunakan kegiatan pelayanan maupun
perawatan bangunan.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-22
Zona
Private

Zona Semi Publik


dan Publik

4.4. Analisa dan Konsep Tata Massa Bangunan


 Analisa pendekatan
Dasar pertimbangan :
o Efisiensi dan efektifitas lahan.
o Kesesuaian dengan bentuk tapak, konsep orientasi, dan view.
o Kebutuhan ruang kegiatan yang ditampung.
o Intergritas terhadap lingkungan sekitar.
o Kondisi bentuk tapak Kawasan yang tidak berkontur memungkinkan
pengaplikasian semua bentuk tata masa dasar dapat diaplikasi.

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-23
PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-24
4.5. Analisa dan Konsep Sirkulasi Internal
 Analisa pendekatan
Tujuan :
o memperoleh pola sirkulasi internal yang nyaman dan tidak membingungkan bagi
pengguna bangunan serta tidak terjadi crossing antara jalur sirkulasi pengunjung
dan jalur sirkulasi service.

Dasar pertimbangan :
o Kelancaran, kenyamanan dan keamanan.
o Pemisahan jalur sirkulasi pengunjung dan jalur sirkulasi service.

Konsep Perencanaan
o Penambahan area parkir.
o Pemisahan area sirkulasi antara sirkulasi pengunjung dan sirkulasi service.
o Perletakan area bongkar muat barang diletakkan di area sirkulasi service
dengan tujuan efisiensi tapak.

sirkulasi

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-25
4.6. Analisa dan Konsep Orientasi Bangunan
 Analisa pendekatan
Tujuan :
o menentukan arah orientasi bangunan agar didapatkan nilai view yang optimal
sehingga dapat menjadikan bangunan sebagai daya tarik bagipara pengunjung
dan pengguna jalan.

Dasar pertimbangan :
o Orientasi bangunan diarahkan keseluruh arah yang strategis yang
memudahkan pengenalan dan menangkap massa.
o Sebagai focal point pada awal ruas jalan.
o Orientasi tertinggi dapat dilihat dari pada bangunan

 Konsep Perencanaan
Secara garis besar, orientasi utama bangunan diarahkan ke arah jalan raya lintas
sumatera dari jalan Lintas kisaran menuju Rantau Parapat. alternative orientasi
bangunan jikadilihat dari lokasi jalan lintas.

Jalan Lintas
Sumatera
Kisaran Rantau
Parapat

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-26
4.7. Analisa dan Konsep View
 Analisa pendekatan
Tujuan :
o mendapatkan arah pandang (view) yang terbaik, baik view daridalam keluar
atau dari luar ke dalam sehingga dapat menjadikan point ofinterest kawasan.

Dasar pertimbangan :
o View dari dalam site
o View dari luar site

 Konsep Perencanaan
View keluar bangunan merespon tuntutan dari analisa konsep yaitu
ke arah jalan Lintas Sumatera (Jalinsum Kisaran – Rantau Parapat) sehingga
diharapkan nilai ekspose bangunan dapat menarik perhatian pengunjung.Pada
bagian belakang diberikan pagar pembatas antara tapakbangunan dengan
permukiman dan juga sebagai batas site

Dari arah
dalam

Dari arah
Luar

***BAB IV***

PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-27
PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Professional Appraisers & Consultants IV-28