Anda di halaman 1dari 125

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI

PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN AIR SUMUR DI


WILAYAH SURABAYA BARAT BERBASIS APLIKASI
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

MUHAMMAD ALI AKBAR ARIBIYANTO

PROGRAM STUDI S1 ILMU DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
JULI 2016

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN... M. ALI AKBAR ARIBIYANTO


ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN... M. ALI AKBAR ARIBIYANTO


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI

Skripsi ini tidak dipublikasikan, namun tersedia di perpustakaan dalam


lingkungan Universitas Airlangga, diperkenankan untuk dipakai sebagai referensi
kepustakaan, tetapi pengutipan harus seizin penyusun dan atau harus
menyebutkan sumbernya sesuai kebiasaan ilmiah dan kelaziman mensitir atau
menyalin pendapat penulis lainnya. Dokumen skripsi ini merupakan hak milik
Universitas Airlangga.

iv

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PRAKATA

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pemetaan Tingkat Kesadahan Air Sumur di Wilayah Surabaya Barat
Berbasis Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG)
Skripsi ini terdiri atas beberapa bab, yaitu bab pendahuluan, tinjauan
pustaka, metode skripsi, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar
pustaka. Setiap isi dari bab tersebut terangkai secara komperehensif untuk
membahas persebaran tingkat sadah air sumur warga di wilayah Surabaya Barat
Berbasis Aplikasi Sistem Informasi Geografis.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Teknik (S.T) Bidang Ilmu dan Teknologi Lingkungan, sehingga disusun sesuai
dengan ketentuan teknis penyusunan yang ada di Program Studi S1 Ilmu dan
Teknologi Lingkungan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Airlangga. Semoga skripsi ini bermanfaat sesuai dengan tujuan dan
manfaatnya

Surabaya, Juli 2016


Penyusun

Muhammad Ali Akbar Aribiyanto

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penyusun dapat
menyelesaikan naskah skripsi ini dengan baik. Naskah skripsi ini tidak akan
selesai tanpa bimbingan, bantuan, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penyusun menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dra. Thin Soedarti, CESA, selaku dosen pembimbing I yang telah banyak
membantu dalam memberikan arahan dan saran dalam pelaksanaan penelitian
ini.
2. Drs. Trisnadi Widyaleksono C. P., M.Si. selaku dosen pembimbing II serta
Dosen Wali yang telah banyak membantu dalam memberikan arahan dan
saran dalam pelaksanaan penelitian ini.
3. Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA. selaku Dosen Penguji III yang telah
memberikan masukan dan memimpin sidang skripsi hingga selesai
4. Nita Citrasari, S. Si., M. T, selaku koordinator Mata Kuliah Proposal Skripsi
dan Skripsi yang senantiasa mendukung dalam pelaksanaan penelitian ini.
5. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Perak, Badan Kesatuan Bangsa
dan Politik, Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Badan Pembangunan
dan Pengembangan Kota Surabaya, dan Dinas Pertanian Kota Surabaya yang
banyak membantu dalam proses pendataan penelitian.
6. Masyarakat Wilayah Surabaya Barat yang telah bekerjasama dengan baik
selama proses pendataan penelitian.
7. Seluruh karyawan dan laboran Departemen Biologi yang senantiasa
memberikan bantuan selama proses penelitian.
8. Mardiyanto dan Yun Rita Sari Abidin selaku orang tua penyusun yang selalu
membantu dalam doa, motivasi, biaya, dan tenaga selama perjalanan
pendidikan penyusun.
9. Attar Hikmahtiar dan Reza Hikmahtiar yang telah membantu dalam proses
pengambilan air sampel penelitian.
10. Dewi Meidira Chairunnisa yang telah banyak membantu dalam proses
pemetaan.
11. Ella Yuliana Sinesh, Yohana Desy R., Januar Jody F. dan Larasati Vanessa
A., yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian penelitian
beserta seluruh keluarga besar Ilmu dan Teknologi Lingkungan angkatan
2012 (ENV12O) yang selalu mendukung dan berdiskusi.

vi

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Aribiyanto, M. A. A. 2016, Pemetaan Tingkat Kesadahan Air Sumur di Wilayah


Surabaya Barat Berbasis Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Skripsi ini di
bawah bimbingan Dra. Thin Soedarti, CESA. Dan Drs. Trisnadi Widyaleksono
Catur Putranto, M.Si., Program Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas
Airlangga

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi tingkat sadah tertinggi dan
terendah air sumur, nilai tingkat sadah air sumur, korelasi antara lima parameter
yang diujikan dengan tingkat sadah, sebaran tingkat sadah air sumur dan
pemetaan sebaran tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat berbasis
Sistem Informasi Geografis memudahkan dalam pemantauan. Parameter yang
diuji yaitu daya hantar listrik (DHL), total dissolved solid (TDS), salinitas, pH
yang analisisnya dilakukan di lokasi titik sampling serta kesadahan total dilakukan
analisis dengan metode titrasi kompleksometri yang dilakukan di laboratorium
Lingkungan Universitas Airlangga. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa tingkat
sadah tertinggi terletak di Kelurahan Kalianak dan terendah di Kelurahan
Sukomanunggal, Tanjungsari, Sonokwijenan, Manukan Wetan dan Manukan
Kulon. Tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat dari tidak sadah
sampai sangat sadah (2–12). Air sumur yang tergolong tidak sadah di Surabaya
Barat sebanyak 17 titik, sadah ringan sebanyak 20 titik, sadah menengah sebanyak
4 titik dan sadah sangat tinggi sebanyak 1 titik. Berdasarkan hasil statistik setiap
parameter memiliki korelasi positif terhadap tingkat sadah yang artinya setiap
parameter memiliki hubungan yang linier terhadap tingkat sadah. Pemetaan
tingkat sadah air dengan berbasis sistem informasi geografis di sumur wilayah
Surabaya Barat memudahkan dalam pemantauan bagi masyarakat Surabaya Barat

Kata Kunci : Pemetaan, tingkat sadah, air sumur, SIG, wilayah Surabaya
Barat

vii

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Aribiyanto, M. A. A., 2016, Well Water Hardness Level Mapping in Territory


West Surabaya Based on Aplications of Geographic Information System (GIS).
This script under the guidance of Dra. Thin Soedarti, CESA. and Drs. Trisnadi
Widyaleksono Catur Putranto M.Si., Department of Environmental Science and
Technology Unniversity of Airlangga.

ABSTRACT
This research aimed to determine the level highest and lowest which well water
hardness, score hardness well water,correlation of five parameters this research
with level hardness, distribution level hardness well water and benefit of mapping
level hardness water for people in Region West Surabaya with Aplication
Geographic Informatic System. The parameters were tested that electrical
conductivity(EC), total dissolved solids(TDS) ,salinity ,pH analyzes on located
sampling points and total hardness water analysis complexometric titration
method in laboratorium of environment, Faculty Science and Technology,
Airlangga University. Results this research were highest level hardness water on
village Kalianak and the lowest hardness on village Sukomanunggal,
Tanjungsari, Sonokwijenan, Manukan Wetan, Manukan Kulon. Level hardness
well water in region of West Surabaya have a level from no hardness until very
hardness. Water well were classified no hardness in region West Surabaya as
many 17 points, soft hardness many as 20 points, medium hardness many as 4
points and very high hardness 1 points. Based on results research each of
parameter have correlation positif with hardness level thats mean each of
parameter have correlation linear with hardness level. Mapping hardness well
water level with Geographic Information System in region West Surabaya make
easier to monitoring level hardness well water for people in region West
Surabaya.

Keywords : Mapping, Level hardness, well water, GIS and West Surabaya Area

viii

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. iii
LEMBAR PEDOMAN PENGGUNAAN SKRIPSI........................................ iv
PRAKATA ....................................................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ vi
ABSTRAK ....................................................................................................... vii
ABSTRACT ..................................................................................................... viii
DAFTAR ISI .................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................. 5
1.4 Hipotesis ............................................................................................... 6
1.5 Manfaat ................................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Surabaya Barat ........................................................ 7
2.2 Kebutuhan Air ...................................................................................... 12
2.3 Air Tanah .............................................................................................. 13
2.4 Air Sadah .............................................................................................. 13
2.4.1 Penyebab kesadahan air tanah .................................................. 15
2.4.2 Dampak air sadah ..................................................................... 15
2.5 Parameter Kesadahan air tanah ............................................................ 16
2.5.1 Kesadahan total ........................................................................ 16
2.5.2 Daya hantar listrik (DHL) ........................................................ 17
2.5.3 Total dissolved solid (TDS) ...................................................... 17
2.5.4 Salinitas .................................................................................... 18
2.5.5 Potensial hidrogen (pH) ............................................................ 19
2.6 Sistem Informasi Geografis .................................................................. 20
BAB III METODE PEMETAAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 23
3.2 Alat dan Bahan ..................................................................................... 24
3.2.1 Alat ........................................................................................... 24
3.2.2 Bahan ........................................................................................ 24
3.3 Cara Kerja ............................................................................................ 24
3.3.1 Ide penelitian ............................................................................ 26
3.3.2 Studi literatur ............................................................................ 27
3.3.3 Persiapan alat dan bahan .......................................................... 27
3.3.4 Pengambilan data...................................................................... 27
3.3.5 Analisis tingkat kesadahan air tanah ........................................ 28

ix

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

3.3.6 Pengolahan data ........................................................................ 29


3.3.7 Pembuatan peta ......................................................................... 33
3.4 Analisis Data ........................................................................................ 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 51
4.1 Nilai DHL, salinitas, TDS, pH dan kesadahan total air sumur penduduk di
wilayah Surabaya Barat ............................................................................. 53
4.1.1 Nilai DHL air sumur di wilayah Surabaya Barat ........................ 57
4.1.2 Nilai kesadahan total air sumur di wilayah Surabaya Barat ....... 61
4.1.3 Nilai TDS air sumur di wilayah Surabaya Barat ......................... 64
4.1.4 Nilai pH air sumur di wilayah Surabaya Barat ........................... 67
4.1.5 Nilai salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat ................... 69
4.2 Tingkat Kesadahan air sumur menggunakan parameter daya hantar listrik,
pH, kesadahan total, TDS dan salinitas ........................................... 72
4.3 Korelasi antara parameter DHL, TDS, salinitas, pH dan kesadahan total
dengan tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat ............ 75
4.3.1 Korelasi antara parameter DHL dengan tingkat sadah pada air sumur
warga. ....................................................................................... 75
4.3.2 Korelasi antara parameter TDS dengan tingkat sadah air sumur di
wilayah Surabaya Barat .............................................................. 77
4.3.3 Korelasi antara parameter salinitas dengan tingkat sadah air sumur di
wilayah Surabaya Barat .............................................................. 78
4.3.4 Korelasi antara parameter pH dengan tingkat sadah ................... 80
4.3.5 Korelasi parameter kesadahan total dengan tingkat sadah air sumur di
wilayah Surabaya Barat ................................................................... 81
4.4 Peta Pesebaran Tingkat Sadah Air Sumur di Surabaya Barat ............. 82
BAB V KESIMPULAN ................................................................................... 84
5.1 Kesimpulan ........................................................................................ 84
5.2 Saran ................................................................................................... 86
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 87
LAMPIRAN

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Peta Kota Surabaya ............................................................ 8


Gambar 3.1 Plotting titik pengambilan sampel air sadah wilayah
Surabaya Barat .................................................................. 23
Gambar 3.2 Skema cara kerja pemetaan ............................................... 26
Gambar 3.3 Google Earth Kota Surabaya ............................................. 34
Gambar 3.4 Plotting lokasi pengambilan data primer ........................... 34
Gambar 3.5 Pemberian nama lokasi plotting......................................... 34
Gambar 3.6 Hasil plotting Kota Surabaya dengan aplikasi Google
Earth .................................................................................. 35
Gambar 3.7 Proses penyimpanan data hasil plotting............................. 36
Gambar 3.8 Pemberian nama file hasil plotting .................................... 36
Gambar 3.9 Tampilan awal Global Mapper .......................................... 37
Gambar 3.10 Proses pemilihan data yang dikonversi.............................. 38
Gambar 3.11 Proses export vector format .............................................. 38
Gambar 3.12 Pemilihan format pada proses export vector format .......... 39
Gambar 3.13 Proses penyimpanan data hasil dari export data ............... 39
Gambar 3.14 Tampilan titik plotting tempat sampling pada software
ArcGIS ............................................................................. 40
Gambar 3.15 Tampilan hasil dari memasukkan peta dasar ke dalam
ArcGIS .............................................................................. 41
Gambar 3.16 Tahapan untuk membuka Open attribute table. ................ 41
Gambar 3.17 Tahapan untuk melakukan Add fields pada ArcGIS .......... 42
Gambar 3.18 Proses pemberian nama pada menu Add Fields ............... 42
Gambar 3.19 Proses Editing .................................................................... 43
Gambar 3.20 Menu Start Editing ............................................................ 43
Gambar 3.21 Tampilan Open Atrribute Table pada bagian id telah
Terisi ................................................................................. 44
Gambar 3.22 Tampilan dari proses Join .................................................. 45
Gambar 3.23 Tampilan menu Join Data ................................................. 45
Gambar 3.24 Layout view hasil pemetaan tingkat sadah air sumur wilayah
Surabaya Barat ................................................................... 49
Gambar 4.1 Grafik korelasi antara nilai DHL dengan tingkat sadah .... 75
Gambar 4.2 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan TDS ............. 77
Gambar 4.3 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan salinitas........ 78
Gambar 4.4 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan pH ................ 79
Gambar 4.5 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan kesadahan total
........................................................................................... 80
Gambar4.6 Pemetaan tingkat air sadah di wilayah Surabaya Barat ..... 82

xi

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pembagian administrasi Kota Surabaya ................................... 10


Tabel 2.2 Kriteria kesadahan air tanah ..................................................... 16
Tabel 2.3 Klasifikasi air berdasarkan nilai DHL ...................................... 17
Tabel 2.4 Hubungan antara nilai TDS dengan nilai salinitas ................... 18
Tabel 2.5 Klasifikasi salinitas air ............................................................. 19
Tabel 2.6 Klasifikasi nilai pH ................................................................... 20
Tabel 3.1 Kriteria kesadahan air tanah ..................................................... 29
Tabel 3.2 Klasifikasi daya hantar listrik (DHL) air .................................. 30
Tabel 3.3 Klasifikasi total dissolved solid (TDS) air................................ 30
Tabel 3.4 Klasifikasi salinitas air ............................................................. 31
Tabel 3.5 Klasifikasi pH air ...................................................................... 32
Tabel 3.6 Penggolongan tingkat kesadahan ............................................. 32
Tabel 3.7 Informasi simbol kesadahan air (CaCO3) ................................. 47
Tabel 3.8 Informasi simbol daya hantar listrik (DHL) ............................. 47
Tabel 3.9 Informasi simbol total dissolved solid (TDS) ........................... 47
Tabel 3.10 Informasi simbol salinitas......................................................... 48
Tabel 3.11 Informasi simbol pH ................................................................. 48
Tabel 3.12 Informasi simbol tingkat sadah ................................................ 48
Tabel 3.13 Nilai koefisien korelasi dan kekuatan hubungan antara variabel
.................................................................................................. 50
Tabel 4.1 Nilai DHL, salinitas, TDS, pH dan kesadahan total air sumur
di wilayah Surabaya Barat ........................................................ 52
Tabel 4.2 Nilai DHL air sumur di wilayah Surabaya Barat ..................... 56
Tabel 4.3 Nilai kesadahan total air sumur di wilayah Surabaya Barat ..... 61
Tabel 4.4 Nilai TDS air sumur di wilayah Surabaya Barat ...................... 63
Tabel 4.5 Nilai pH air sumur di wilayah Surabaya Barat ........................ 66
Tabel 4.6 Nilai salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat ................ 69
Tabel 4.7 Tabel tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat ....... 71

xii

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Ringkasan Ilmiah ........................................................................ 90


Lampiran 2 Hasil dan Data Penentuan Titik Sampling Menggunkan Data GPS
serta Waaktu Pengambilan Sampel............................................. 96
Lampiran 3 Hasil Skor Tingkat Sadah Air Sumur di Wilayah Surabaya Barat
.......................................................................................................................... 98
Lampiran 4 Korelasi antara Parameter TDS dengan Tingkat Sadah.............. 99
Lampiran 5 Korelasi antara Parameter DHL dengan Tingkat Sadah ............. 100
Lampiran 6 Korelasi antara Parameter Kesadahan Total dengan Tingkat
Sadah ........................................................................................... 100
Lampiran 7 Korelasi antara Parameter pH dengan Tingkat Sadah ................ 101
Lampiran 8 Korelasi antara Parameter Salinitas dengan Tingkat Sadah ....... 101
Lampiran 9 Peta Jenis Tanah Kota Surabaya ................................................. 102
Lampiran 10 Peta Rencana Pola Ruang Kota Surabaya................................. 102
Lampiran 11 Data Curah Hujan di Kota Surabaya pada Bulan Maret – Mei
2016 .......................................................................................... 103
Lampiran 12 Dokumentasi Penelitian ............................................................ 104
Lampiran 13 Titik sampel di Kecamatan Sukomanunggal ............................ 105
Lampiran 14 Titik sampel di Kecamatan Tandes ........................................... 106
Lampiran 15 Titik sampel di Kecamatan Asemrowo ..................................... 107
Lampiran 16 Titik sampel di Kecamatan Benowo ........................................ 108
Lampiran 17 Titik sampel di Kecamatan Pakal ............................................ 109
Lampiran 18 Titik sampel di Kecamatan Sambikerep ................................... 110
Lampiran 19 Titik sampel di Kecamatan Lakarsantri .................................... 111
Lampiran 20 Data Pribadi Penyusun .............................................................. 112
Lampiran 21 Peta tingkat air sadah di wilayah Surabaya Barat ..................... 113
Lampiran 22 Peta sebaran klasifikasi tingkat sadah berdasarkan nilai
salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat ......................... 114
Lampiran 23 Peta sebaran klasifikasi tingkat sadah berdasarkan nilai TDS
air sumur wilayah Surabaya Barat ............................................ 115
Lampiran 24 Peta sebaran klasifikasi tingkat sadah berdasarkan nilai pH
air sumur di wilayah Surabaya Barat........................................ 116
Lampiran 25 Peta sebaran klasifikasi tingkat sadah berdasarkan nilai
kesadahan total air sumur di Wilayah Surabaya Barat ............ 117
Lampiran 26 Peta sebaran klasifikasi tingkat sadah berdasarkan nilai DHL
air sumur wilayah Surabaya Barat ............................................ 118

xiii

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Surabaya merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur dan termasuk Kota

terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 sekitar

3.181.325 jiwa. Jumlah tersebut akan semakin meningkat sesuai dengan

pertumbuhan kota Surabaya sebagai kota Metropolitan. Jumlah penduduk yang

tinggi membutuhkan kebutuhan pokok yang tinggi salah satu kebutuhan pokok

tersebut adalah kebutuhan air bersih. Peningkatan kebutuhan air bersih

mendorong manusia untuk berusaha meyediakan air bersih, dalam arti luas

peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas sosial yang berpengaruh pada

peningkatan kebutuhan air bersih. Perkembangan Pemukiman, industri dan

fasilitas - fasilitas lain yang banyak dibangun di Kota Surabaya mengalami

masalah penyediaan air bersih (Setiawan, 2003).

Keberadaan air bersih di daerah perkotaan menjadi sangat penting

mengingat aktivitas kehidupan masyarakat kota yang sangat dinamis. Pemenuhan

kebutuhan air bersih penduduk daerah perkotaan tidak dapat hanya mengandalkan

air dari sumber mata air langsung seperti air permukaan atau air hujan karena

kedua sumber air tersebut sebagian besar telah tercemar baik langsung maupun

tidak langsung dari berbagai macam aktivitas manusia. Air tanah merupakan salah

satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut, akan tetapi air tanah

1
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 2

mempunyai keterbatasan baik secara kualitas maupun kuantitas.(Kurniawan,

2008)

Air tanah adalah semua air yang terdapat di bawah permukaan yang dapat

dimanfaatkan untuk sumber air bagi aktivitas kehidupan. Air tanah berasal dari air

hujan dan air permukaan yang terkumpul di bawah permukaan tanah.

Pembentukan air tanah berawal dari proses infiltrasi kemudian meresap ke dalam

tanah. Kualitas air tanah sangat bergantung pada sifat lapisan tanahnya. Pada

umumnya kualitas air tanah lebih baik dibandingkan air permukaan, hal ini

dikarenakan pada air tanah telah terjadi proses penyaringan yang lebih sempurna

oleh tanah. Susunan unsur kimia air tanah tergantung pada lapisan tanah yang

dilalui. Air tanah yang melewati tanah kapur memiliki sifat sadah karena

mengandung Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3) (Abadi, 2011).

Air sadah adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation

penyebab kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh adanya logam-

logam atau kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan Mg. Penyebab

utama dari kesadahan adalah Ca dan Mg. Kesadahan dalam air sangat tidak

dianjurkan untuk dikonsumsi pada kegiatan rumah tangga maupun untuk kegiatan

industri. Rumah tangga yang menggunakan air dengan tingkat kesadahan yang

tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak karena sabun menjadi kurang

efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat oleh unsur Ca dan Mg

(Marsidi, 2001).

Air sadah yang dikonsumsi oleh masyarakat untuk minum dapat

menyebabkan masyarakat terkena penyakit kencing batu yang diakibatkan oleh

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 3

terbentuknya batu pada saluran kemih. Komposisi mineral pada air sadah yang

dapat mengakibatkan hiperekskeresi kalsium urin dan supersaturasi yang

merupakan proses awal terjadinya batu saluran kemih (Izhar dkk., 2007).

Berdasarkan dari permasalahan tentang efek air sadah bagi masyarakat,

penulis menilai sangat perlu dilakukan pemetaan untuk mengetahui lokasi air

tanah yang memiliki tingkat kesadahan tinggi terutama di wilayah Surabaya

Barat. Pemetaan lokasi air sadah dapat menggunakan berbagai macam cara salah

satunya dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG).

Penggunaan SIG meningkat tajam sejak tahun 1980. Peningkatan

pemakaian SIG terjadi di kalangan pemerintah, militer, akademis, atau bisnis

terutama di negara – negara maju. SIG merupakan kumpulan dari perangkat keras

komputer, perangkat lunak, data geografis, dan personal yang didesain untuk

memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisis dan

menampilkan semua bentuk informasi yang bersumber data geografis (Budiyanto,

2002).

SIG merupakan teknologi yang sangat diandalkan untuk perencanaan

pembangunan dan pengelolaan wilayah berkelanjutan. Teknologi SIG

dikembangkan untuk menangani data yang berbasis ruang atau lokasi yang

dibutuhkan dalam pembangunan. SIG dapat dimanfaatkan untuk memetakan

kondisi lingkungan, melakukan pengukuran – pengukuran, melakukan

monitoring, dan melakukan pemodelan (Rohmat, 2008).

SIG memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh pemetaan

secara konvensional. Efisiensi dan efektivitas dalam menyelesaikan dan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 4

memecahkan persoalan yang terkait dengan lokasi atau ruang menjadi pilihan

yang tepat. SIG dapat memproses pendataan dengan cepat dan biaya yang

diperlukan tidak terlalu besar untuk proses pemetaan (Rohmat, 2008).

SIG dapat diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan terutama pemetaan

dalam bidang lingkungan. Salah satu contoh SIG yang telah diterapkan dalam

bidang lingkungan adalah SIG dapat memetakan zonasi kondisi air tanah di

wilayah pesisir Surabaya Timur untuk memprediksi intrusi air laut di wilayah

pesisir Surabaya Timur (Octaviani, 2014).

Penerapan pemetaan SIG juga pernah dilakukan utuk melakukan pemetaan

air sadah di Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah.

Pemetaan tersebut dilakukan agar menginformasikan kepada masyarakat tentang

lokasi daerah yang memiliki kesadahan yang cukup tinggi, sehingga masyarakat

bisa menggunakan sumur yang tidak memiliki kesadahan yang tinggi di daerah

tersebut (Setyaningsih, 2014).

Pemetaan kesadahan air tanah menggunakan aplikasi SIG juga pernah

dilakukan oleh negara lain salah satunya India. Pemetaan tersebut dilakukan untuk

mengetahui lokasi kesadahan air tanah sehingga masyarakat terhindar dari

mengkonsumsi air yang memiliki nilai sadah yang tinggi (Krishnaraj dkk., 2015).

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan

tingkat kesadahan air tanah di Surabaya Barat berbasis aplikasi SIG sehingga

dapat memberikan informasi tentang tingkat kesadahan air tanah di Surabaya

Barat.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 5

1.2 Rumusan Masalah

1. Dimanakah lokasi tingkat sadah tertinggi dan terendah di wilayah

Surabaya Barat ?

2. Berapakah tingkat sadah air sumur penduduk di wilayah Surabaya

Barat ?

3. Adakah korelasi antara TDS, DHL, salintas, pH dan kesadahan total

terhadap tingkat sadah air ?

4. Bagaimana sebaran tingkat sadahan air sumur di Wilayah Surabaya

Barat ?

5. Apakah pemetaan sebaran kesadahan air sumur penduduk berbasis

sistem informasi geografis dapat memudahkan pemantauan tingkat

kesadahan air tanah di Wilayah Surabaya Barat ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mahasiswa mengetahui lokasi tingkat sadah tertinggi dan terendah air

sumur di wilayah Surabaya Barat.

2. Mahasiswa mengetahui tingkat kesadahan total air sumur penduduk

di Wilayah Surabaya Barat.

3. Mahasiswa mengetahui sebaran kesadahan air sumur di Wilayah

Surabaya Barat

4. Mahasiswa mengetahui adanya korelasi antara TDS, DHL, salinitas,

pH dan kesadahan total terhadap tingkat sadah air

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 6

5. Mahasiswa mengetahui pemetaan sebaran kesadahan air sumur

penduduk berbasis sistem informasi geografis dapat memudahkan

pemantauan tingkat kesadahan air di sumur penduduk Wilayah

Surabaya Barat.

1.4 Hipotesis

Ho : tidak ada kolerasi antara DHL terhadap tingkat sadah air

H1 : ada korelasi antara DHL terhadap tingkat sadah air

Ho : tidak ada korelasi antara TDS terhadap tingkat sadah air

H1 : ada korelasi antara TDS terhadap tingkat sadah air

Ho : tidak ada korelasi antara salinitas terhadap tingkat sadah air

H1 : ada korelasi antara salinitas terhadap tingkat sadah air

Ho : tidak ada korelasi antara pH terhadap tingkat sadah air

H1 : ada korelasi antara pH terhadap tingkat sadah air

Ho : tidak ada korelasi antara kesadahan total terhadap tingkat sadah air

H1 : ada korelasi antara kesadahan total terhadap tingkat sadah air

1.5 Manfaat

1. Memberikan informasi mengenai tingkat kesadahan total air sumur

penduduk di Wilayah Surabaya Barat

2. Memberikan tampilan informasi tingkat kesadahan total air sumur

penduduk di Wilayah Surabaya Barat dalam bentuk peta berbasis

sistem informasi geografis

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Surabaya Barat

Surabaya merupakan salah satu kota terbesar kedua di Indonesia. Surabaya

pada tahun 2013 memiliki jumlah penduduk sebesar 3.181.325 jiwa, dengan tingkat

pertumbuhan 1,6% per tahun (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Surabaya,

2013 dalam Indiarto dan Kustini, 2014). Surabaya juga mengalami pertumbuhan

yang pesat di bidang kegiatan industri, kependudukan, dan pemerintahan di Jawa

Timur. Keberhasilan pembangunan di Surabaya yang cukup tinggi disatu sisi

merupakan satu kemajuan yang sangat membanggakan. Namun keberhasilan

tersebut pada sisi lain menimbulkan dampak yaitu kebutuhan air masyarakat yang

semakin meningkat.

Berdasarkan pembagian wilayah secara administratif Kota Surabaya dibagi

menjadi 5 wilayah yaitu wilayah Surabaya Barat, Surabaya Timur, Surabaya Pusat,

Surabaya Selatan dan Surabaya Utara. Surabaya Barat terdiri dari 7 kecamatan yaitu

Tandes, Sukomanunggal, Asemrowo, Benowo, Pakal, Lakarsantri dan Sambikerep

(Dinas Cipta Karya, 2002).

Kota Surabaya terletak diantara 07o21’ – 07o21’ Lintang Selatan dan

112o36’ – 112o54’ Bujur Timur, merupakan kota terbesar kedua di Indonesia

setelah Jakarta. Batas-batas wilayah kota Surabaya adalah sebagai berikut (Dinas

Cipta Karya, 2002) :

7
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 8

Batas Utara : Selat Madura

Batas Selatan : Kabupaten Sidoarjo

Batas Timur : Selat Madura

Batas Barat : Kabupaten Gresik.

Berikut gambar 2.1 merupakan peta Kota Surabaya

Gambar 2.1 Peta Kota Surabaya

Topografi kota Surabaya terdiri dari daerah pantai dengan dataran terendah

antara 3 – 6 m di atas permukaan laut dan terdapat daerah berbukit di Surabaya

bagian selatan sekitar 20 – 30 m diatas permukaan laut.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 9

Surabaya yang merupakan kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia

setelah Jakarta telah terbagi menjadi beberapa area/ kawasan strategis yaitu: (Dinas

Cipta Karya, 2002).

1. Perumahana vertikal yang terdiri dari rumah susun (sederhana) maupun

apartemen atau kondominium (mewah).

2. Perumahan real estate yang tersebar di kawasan barat, timur dan selatan

kota.

3. Perumahan kampung yang terkonsentrasi di area pusat kota.

4. Area untuk kegiatan jasa dan perdagangan yang terkonsentrasi di

kawasan pusat kota dan sebagian di area perumahan yang berkembang

di kawasan barat dan timur kota.

5. Area untuk kegiatan industri dan pergudangan terkonsentrasi di

kawasan pesisir utara dan kawsan selatan kota yang berbatasan dengan

wilayah kabupaten Gresik dan Sidoarjo.

6. Wilayah pesisir yang dimanfaatkan untuk perumahan pesisir (kampung

nelayan), tambak garam dan ikan, pergudangan militer, industri kapal,

pelabuhan. Wisata serta jalan yang menghubungkan kota Surabaya dan

pulau Madura.

7. Ruang laut Surabaya yang dimanfaatkan untuk kegiatan pelayaran

interisulair maupun internasional serta dikembangkan untuuk kegiatan

penangkapan ikan tradisional dan wisata pantai di Kenjeran dan

sekitarnya.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 10

Berdasarkan pembagian secara administratif Kota Surabaya dibagi menjadi

31 kecamatan dan 163 kelurahan yang dibagi menjadi 5 wilayah yaitu Surabaya

Barat, Surabaya Timur, Surabaya Selatan, Surabaya Utara dan Surabaya Pusat.

Berikut ini merupakan data dari wilayah Surabaya yang dibagi berdasarkan wilayah

administrasi.

Tabel 2.1 Pembagian Administrasi Kota Surabaya

Kecamatan Luas Administrasi Pemerintahan


No Nama Km2 (Ha) % Kelurahan RW RT
Surabaya Pusat
1 Tegalsari 4,29 429 1,3 5 52 333
2 Genteng 4,04 404 1,22 5 62 318
3 Bubutan 3,86 386 1,17 5 53 405
4 Simokerto 2,59 259 0,8 5 61 367
Pabean
5 6,8 680 2,06 5 52 332
Cantikan
Surabaya Utara
6 Semampir 8,76 876 2,65 5 69 552
7 Krembangan 8,34 834 2,52 5 47 401
8 Kenjeran 7,64 764 2,31 4 35 363
9 Bulak 6,8 680 2,05 5 22 111
Surabaya Timur
10 Tambaksari 8,99 899 2,72 6 74 642
11 Gubeng 7,99 799 2,42 6 63 518
12 Rungkut 21,08 2108 6,3 6 68 370
Tenggilis
13 5,52 552 1,67 5 25 153
Mejoyo
14 Gunung Anyar 9,71 971 2,94 4 29 162
15 Sukolilo 23,69 2369 7,17 7 64 352
16 Mulyorejo 14,21 1421 4,3 6 54 278
Surabaya Selatan
17 Sawahan 6,39 639 2,1 6 71 554
18 Wonokromo 8,47 847 2,56 6 58 512

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 11

Lanjutan Tabel 4.2


Kecamatan Luas Administrasi Pemerintahan
No Nama Km2 (Ha) % Kelurahan RW RT
19 Karangpilang 9,23 923 2,79 4 29 183
20 Dukuh Pukis 9,94 994 3,01 4 31 154
21 Wiyung 12,46 1246 3,77 4 30 149
22 Wonocolo 6,78 678 2,05 5 43 225
23 Gayungan 6,07 607 1,84 4 33 166
24 Jambangan 4,19 419 1,27 4 24 113
Surabaya Barat
25 Tandes 11,07 1107 3,35 12 51 306
26 Sukomanunggal 9,23 923 2,79 5 34 362
27 Asemrowo 15,44 1544 4,67 5 18 117
28 Benowo 26,78 2678 8,1 5 25 140
29 Lakarsantri 20,43 2043 6,18 6 30 152
30 Pakal 19,01 1901 5,75 5 33 168
31 Sambikerep 16,05 1605 4,86 4 38 212
Jumlah 330,5 33048 100 163 1378 9160
Sumber : (Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Surabaya, 2012)

Kota Surabaya memiliki ketinggian tanah antara 0 – 20 meter di atas

permukaan laut, sedanggkan daerah pantai ketinggiannya berkisar antara 1 –3 meter

diatas permukaan laut. Kota surabaya merupakan dominan daerah dataran rendah

yang berkisar 80% merupakan endapan alluvial dan sisanya merupakan perbukitan

rendah yang dibentuk oleh tanah hasil pelapukan batuan tersier/tua. Dataran rendah

terbentuk dari endapan alluvial sungai dan endapan pantai. Bagian tengah Kota

Surabaya terbentuk oleh endapan Sungai Brantas beserta cabang-cabang sungainya

dan endapan Sungai Rowo. Endapan Sungai Brantas berasal dari letusan gunung-

gunung berapi yang berada di hulu dan beberapa perubahan bentuk kontur

sebelumnya. Endapan ini biasanya berupa pasir (0,075 mm – 0,2 mm ) dan kerikil

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 12

(2mm – 75 mm). Bagian timur dan utara sampai sepanjang Selat Madura dibentuk

oleh endapan pantai yang masuk ke daratan sampai sekitar 5 km. Endapan

pantainya terdiri dari lempung, lanau dan campuran keduanya (Bahri dan

Madlazim, 2012).

2.2 Kebutuhan Air

Sumber daya air adalah sumber potensi yang terkandung dalam air dan/atau

pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan

dan penghidupan manusia serta lingkungannya (Undang – Undang Sumber Daya

Air, 2004). Sumber daya air di daratan terdiri dari dua jenis yaitu sumber daya air

tanah dan sumber daya air permukaan. Air tanah merupakan air yang terdapat dalam

lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Air permukaan merupakan

semua air yang terdapat pada permukaan tanah (Undang – Undang Sumber Daya

Air, 2004).

Surabaya adalah Ibu Kota propinsi Jawa Timur yang merupakan kota

terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 3.181.325 jiwa.

Jumlah tersebut akan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan kota

Surabaya sebagai kota Metropolitan, sehingga hal ini berdampak pada kebutuhan

terhadap prasarana dan sarana penunjang perkotaan. Peningkatan kebutuhan air

bersih mendorong manusia untuk berusaha meyediakan air bersih dengan standar

kualitas dan kuantitas, dalam arti luas peningkatan jumlah penduduk dan aktifitas

sosial berpengaruh pada peningkatan kebutuhan air bersih. Kota Surabaya semakin

hari semakin berkembang. Pemukiman / industri dan fasilitas - fasilitas lain yang

banyak dibangun juga mengalami masalah penyediaan air bersih. Proses untuk

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 13

mewujudkan itu semua diperlukan analisis / penelitian / perencanaan dahulu untuk

pembangunan sistem distribusi air bersih agar peningkatan kesejahteraan dan

kesehatan masyarakat dapat diwujudkan salah satunya dengan pemenuhan sarana

kebutuhan air bersih (Setiawan, 2003).

2.3 Air tanah

Air tanah adalah air yang bergerak di dalam lapisan tanah yang terdapat di

dalam ruang-ruang antara butir-butir tanah yang dikenal dengan air lapisan dan di

dalam retakan-retakan dari batuan yang dikenal dengan air celah. Air tanah ada

yang terkekang dan air tanah bebas (Wahyudi, 2009).

Masyarakat umumnya mengambil air tanah dengan membuat sumur gali

dan sumur bor. Sumur gali adalah suatu konstruksi sumur yang paling umum dan

meluas. Sumur gali dan sumur bor digunakan untuk mengambil air tanah bagi

masyarakat kecil dan rumah – rumah perorangan sebagai sumber air bersih dengan

kedalaman 7 – 10 meter dari permukaan tanah. Sumur gali menyediakan air yang

berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dengan permukaan tanah, oleh karena

itu dengan mudah terkontaminasi (Afrizal dkk., 2013).

Sumur bor adalah suatu cara pengambilan air tanah dengan cara pengeboran

lapisan air tanah yang lebih dalam dibandingkan air sumur. Air sumur bor berasal

dari lapisan tanah yang jauh dari permukaan sehingga pengaruh kontaminasi lebih

sedikit (Entjang , 1978 dalam Oktaviani, 2014).

2.4 Air Sadah

Parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan

unsur Ca2+ dan Mg2+ dalam air yang keberadaannya biasa disebut dengan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 14

kesadahan air. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki untuk penggunaan di

rumah tangga maupun untuk konsumsi di industri. Air rumah tangga yang memiliki

tingkat kesadahan tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak. Hal ini

dikarenakan sabun jadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun

diikat oleh unsur Ca atau Mg. Tingkat kesadahan di berbagai tempat perairan

berbeda-beda. Pada umumnya air tanah mempunyai tingkat kesadahan yang tinggi.

Hal ini terjadi, karena air tanah mengalami kontak dengan batuan kapur yang ada

pada lapisan tanah yang dilalui air. Air permukaan tingkat kesadahan-nya rendah

(air lunak), kesadahan non karbonat dalam air permukaan bersumber dari calsium

sulfat yang terdapat dalam tanah liat dan endapan lainnya (Marsidi, 2001).

Tingkat kesadahan air dapat dinyatakan dalam satuan mg/L CaCO3 atau

ppm CaCO atau dalam satuan grain atau derajat. Hubungan antara satuan-satuan

tersebut adalah sebagai berikut :

1grain per US galon = 17,1 ppm CaCO3


100 ppm CaCO3 = 40 ppm kalsium
1 derajat (inggris) = 10 mg CaCO3/L air
1 derajat (Jerman ) = 10 mg CaCO3 = 17,8 mg CaCO3/L air
1 derajat (Perancis) = 10 mg CaCO3/ L air
Kesadahan air dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu kesadahan sementara

(temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara disebabkan oleh

garam-garam karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium dan

magnesium, kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan cara pemanasan.

Kesadahan tetap disebabkan oleh adanya garam-garam klorida (Cl-) dan sulfat

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 15

(SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan ini disebut juga kesadahan non

karbonat yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan, tetapi dapat

dihilangkan dengan cara pertukaran ion (Said, 2008).

2.4.1 Penyebab Kesadahan Air Tanah

Kesadahan di dalam air sangat dipengaruhi oleh keberadaan kalsium yang

bereaksi dengan karbondioksida. Karbondioksida merupakan gas yang mudah

terlarut ke dalam perairan, baik secara langsung karena terbawa air hujan, maupun

melalui respirasi tumbuhan dan hewan akuatik dari hasil proses dekomposisi bahan

organik. Karbondioksida bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (H2CO3)

(Effendi, 2003).

Asam karbonat ketika melewati perairan dengan dasar batuan kalkareus,

anorthite (CaAl2Si2O8), dan gipsum (CaSO4.2H2O) yang banyak mengandung

kalsium, maka akan terbentuk kalsium bikarbonat [Ca(HCO3)2]. Kalsium

bikarbonat bersifat larut dan mengakibatkan suatu perairan menjadi sadah. Kisaran

pH di perairan tersebut adalah 7 – 9 (Effendi, 2003).

2.4.2 Dampak Air Sadah

Tingkat kesadahan yang tinggi apabila dikonsumsi sebagai air minum dapat

mengganggu kesehatan dan menimbulkan endapan pada perkakas rumah tangga,

seperti ketel, peralatan lain yang berhubungan dengan pemasakan dan penyimpanan

air. Penggunaan air sadah untuk keperluan lain seperti cuci baju atau keperluan

rumah tangga lain akan menyebabkan konsumsi sabun lebih banyak, karena sabun

jadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat oleh unsur Ca

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 16

dan Mg. Akibat adanya masalah ini, persyaratan kesadahan pada air industri sangat

perlu diperhatikan. (Widayat, 2007).

2.5 Parameter Kesadahan Air Tanah

2.5.1 Kesadahan Total

kation-kation penyebab utama dari kesadahan Ca++, Mg++, Sr++, Fe++ dan

Mn++, sedangkan anion-anion yang biasa terdapat dalam adalah HCO3-, SO4, Cl-,

NO3-. kesadahan dalam air sebagian besar adalah berasal dari kontaknya air dengan

tanah yang mengandung kapur. kesadahan dalam air alam adalah disebabkan oleh

dua kation Ca2+ dan Mg2+. ketentuan standar dari Departemen Kesehatan Republik

Indonesia untuk kesadahan pada air minum adalah 500mg/l CaCO3. Hal tersebut

diperbahaturui dengan Kepmenkes RI No.907 Tahun 2002 bahwa persyaratan

kualitas air minum tidak boleh memiliki nilai kesadahan lebih dari 100 mg/l

(Krisna,2011). Tabel 2.2 merupakan tabel yang menerangkan tentang kriteria

kesadahan air tanah (Effendi,2003).

Tabel 2.2 Kriteria Kesadahan Air Tanah

No. Kesadahan (mg/L) Klasifikasi Perairan

1. 0 Tidak Sadah (no hardness)


2. < 50 Lunak (soft)
3. 50 – 150 Menengah (moderately hard)
4. 151 – 300 Sadah (hard)
5. >300 Sangat sadah (very hard)
Sumber : Effendi (2003)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 17

2.5.2 Daya Hantar Listrik (DHL)

Daya Hantar Listrik (DHL) adalah gambaran numerik dari kemampuan air

untuk meneruskan arus listrik. Oleh karena itu, semakin banyak kandungan ion dan

logam mineral yang terlarut di dalam air yang dapat terionisasi, semakin tinggi nilai

DHL. Rekativitas, bilangan valensi, dan konsentrasi ion – ion terlarut sangat

mempengaruhi nilai DHL dalam air. Asam, basa dan garam merupakan penghantar

listrik (konduktor) yang baik, sedangkan bahan organik, misalnya sukrosa dan

benzena yang tidak dapat mengalami disosiasi merupakan penghantar listrik yang

buruk (Effendi, 2003). Tabel 2.3 merupakan tabel yang menunjukkan klasifikasi air

berdasarkan nilai DHL.

Tabel 2.3 Klasifikasi air berdasarkan nilai DHL

No. DHL (μmhos/cm) Klasifikasi


1. < 1.500 Air Tawar
2. 1.500 – 5.000 Air Agak Payau
3. 5.000 – 15.000 Air Payau
4. 15.000 – 25.000 Air Asin
5. > 25.000 Air Sangat Asin
Sumber: Ashriyati (2011) dalam Octavia (2014)

2.5.3 Total Dissolved Solid (TDS)

Total Dissolved Solid (TDS) adalah ukuran zat terlarut yang terdiri dari zat

organik dan anorganik yang terdapat dalam larutan. TDS meter menggambarkan

jumlah zat terlarut dalam part per million (ppm) atau sama denan miligram per liter

(mg/l). Nilai TDS perairan sangat dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan dari

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 18

tanah dan pengaruh antropogenik ( berupa limbah domestik dan industri). Bahan –

bahan tersuspensi dan terlarut pada perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi

nilai TDS yang terlalu tinggi, terutama TSS, dapat meningkatkan nilai kekeruhan,

akibatnya penetrasi cahaya matahari terhambat ke dalam perairan dan

mengakibatkan proses fotosintesis di perairan terganggu (Effendi, 2003).

Air sadah memiliki nilai TDS yang tinggi karena air sadah banyak

mengandung mineral yang dapat mengakibatkan tingginya salinitas dan daya hantar

listrik. Hubungan antara TDS dan salinitas ditunjukkan dalam Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Hubungan antara nilai TDS dengan nilai salinitas

No. Nilai TDS (mg/L) Tingkat Salinitas


1 0 – 1.000 Air Tawar
2 1.001 – 3.000 Agak Payau (Slightly Saline)
3 3.001 – 10.001 Sedang/Payau (Moderately Saline)
4 10.001 – 100.000 Asin (Saline)
5 >100.000 Sangat Asin (Brine)
Sumber : Effendi (2003)

2.5.4 Salinitas

Definisi salinitas pertama kali dikemukakan oleh C. Forch, M Knudsen dan

S.Px. Sorensen pada tahun 1902. Salinitas didefinisikan sebagai berat dalam garam

dari semua zat padat yang terlarut dalam 1 kilo gram air laut. Nilai salinitas

dinyatakan dalam g/kg atau part per thousand yang disimbolkan o/oo (Arief, 1984).

Pada tabel 2.5 merupakan tabel klasifikasi salinitas air .

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 19

Tabel 2.5 klasifikasi salinitas air

No Salinitas (o/oo) Klasifikasi


1 <0,5 Air Tawar
2 0,5 – 15 Air Agak Payau
3 16 – 30 Air Payau
4 31 – 40 Air Asin
5 41 – 80 Air Sangat Asin
Sumber : Effendi (2003)

2.5.5 Potential Hidrogen (pH)

Derajat keasaman (pH) yang dipersyaratkan untuk air bersih adalah 6 – 9.

Air yang memiliki pH lebih kecil dari 6 atau lebih besar dari 9 akan menyebabkan

korosi pada pipa – pipa air yang dapat membentuk senyawa kimia bersifat toksik

dan mengganggu kesehatan. Air akan bersifat asam atau basa tergantung besar

kecilnya pH. Nilai pH air yang berada di bawah pH normal, sifat air tersebut adalah

asam dan nilai pH air yang berada di atas pH normal sifat air tersebut adalah basa

(Amirah, 2012). Tabel 2.6 merupakan klasifikasi nilai pH pada suatu perairan.

Tabel 2.6 Klasifikasi nilai pH


No. Nilai pH Klasifikasi
1 0 – 5,9 Asam
2 6–9 Netral
3 9 – 14 Basa
Sumber : Aji (2013)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 20

2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)

Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) meningkat tajam sejak tahun

1980. Peningkatan pemakaian SIG ini terjadi di kalangan pemerintah, militer,

akademis atau bisnis terutama di negara-negara maju. Perkembangan teknologi

digital sangat besar peranannya, salah satunya adalah dalam perkembangan

penggunaan teknologi SIG untuk berbagai bidang. Hal ini dikarenakan teknologi

SIG banyak mendasarkan pada teknologi digital sebagai alat analisis (Budiyanto,

2002). Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arcview GIS.

SIG merupakan sebuah sistem yang saling berangkaian satu dengan lainnya.

SIG sebagai software yang memiliki kumpulan yang terorganisir dari perangkat

keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan personel yang didesain untuk

memperoleh, menyimpan, memperbaiki, memanipulasi, menganalisis dan

menampilkan semua bentuk informasi yang berreferensi geografi (Budiyanto,

2002).

Data spasial mempunyai dua bagian yang penting untuk membuatnya

berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut yang dapat

dijelaskan sebagai berikut (Puntodewo dkk., 2003) :

a. Informasi lokasi atau informasi spasial. Contoh yang umumnya adalah

informasi lintang dan bujur, termasuk dintaranya informasi datum dan

proyeksi. Contoh lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk

mengidentifikasi lokasi adalah kode pos.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 21

b. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial. Suatu lokasi

bisa mempunyai beberapa atribut atau properti yanng berkaitan

dengannya seperti vegetasi, populasi, pendapatan perkapita dan lain –

lain.

Data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format yaitu: (Puntodewo

dkk., 2003).

a. Vektor

Data format vektor, bumi kita direpresentasikan sebagai suatu mosaik

dari garis (arc/line), poligon (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal

dan berakhir pada titik yang sama), titik/point (node yang mempunyai label)

dan nodes ( merupakan titik perpotongan antara dua buah garis).

Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam

merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna

untuk analisis yang membutuhkan ketepatan lokasi. Contoh penggunaannya

adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur.

Kelemahan data vektor adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi

perubahan gradual.

b. Raster

Data raster (sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem

penginderaan jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan

sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element).

(Puntodewo dkk., 2003).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 22

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran

pixelnya. Resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan

bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Data raster sangat baik

untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti

jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah, dsb. Keterbatasan

utama dari data raster adalah terlalu besarnya ukuran file (Puntodewo dkk.,

2003).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB III

METODE PEMETAAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Kegiatan ini dilakukan selama 4 bulan, yaitu mulai bulan Maret 2016 sampai

dengan bulan Juni 2016. Pengambilan sampel dilakukan di sumur penduduk

wilayah Surabaya Barat. Analisis data dilakukan di lokasi pengambilan sampling

dan di Laboratorium Lingkungan Departemen Biologi, Fakultas Sains dan

Teknologi, Universitas Airlangga.

Titik Sampling
Gambar 3.1 Plotting titik pengambilan sampel air sadah wilayah Surabaya barat
(Sumber : Pemetaan dari Google Earth)

23
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 24

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan untuk pemetaan adalah alat tulis, flashdisk, kalkulator,

laptop, printer, plotter, software ArcGIS versi 10.2 , software Google Earth, pipet

ukur, tabung erlenmeyer, klem statis, termometer, meteran, botol sampel dari bahan

PP , tisu, conductivity meter, refraktometer, tali rafia, batu, meteran, dan GPS.

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bubuk indikator EBT,

larutan buffer pH 10, laru, kertas pH indikator, kertas label, air sampel dari lokasi

penelitian, akuades.,

3.3 Cara Kerja

Tahapan pelaksanaan kegiatan pemetaan ditunjukkan oleh Gambar 3.1

Ide
Pemetaan Kesadahan air tanah wilayah Surabaya Barat Berbasis Aplikasi Sistem
Informasi Geografis (SIG)

Studi Literatur

a. Air Tanah
b. Kesadahan Air Tanah
c. Penerapan SIG dalam pemetaan secara digital

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 25

Persiapan Alat dan Bahan

Pengambilan Data dan Pengambilan Sampel

a. Pengambilan sampel di daerah sumur untuk parameter Daya hantar listrik, total
dissolved solid, pH dan salinitas dianalisis secara langsung. Analisis kesadahan
total dilakukan di Laboratorium Lingkungan Departemen Biologi Fakultas Sains
dan Teknologi.
b. Data Primer yang terdiri dari kualitas air tanah yang meliputi parameter CaCO3,
Daya Hantar Listrik, Total Dissolved Solid, pH dan salinitas.
c. Data Sekunder yang meliputi curah hujan, RTRW Kota Surabaya, data geografis
dan peta wilayah Surabaya barat

Analisis Tingkat Kesadahan Air Tanah

Pengolahan Data

a. Pembuatan tabel data GPS


b. Pembuatan tabel parameter kualitas air tanah penduduk

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 26

Pembuatan Peta
a. Plotting lokasi sampling dengan Aplikasi Google Earth
b. Mengkonversi data dari Google Earth ke dalam bentuk .shp menggunakan
aplikasi Global Mapper v. 14.0
c. Pemetaan dengan menggunakan aplikasi ArcGIS 10.2

Analisis Data dan Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.2 Skema cara kerja pemetaan.

Penjelasan dari tahap kegiatan pada Gambar 3.1 dapat dijelaskan sebagai berikut :

3.3.1 Ide Penelitian

Ide tema pemetaan tentang kesadahan diambil dikarenakan bahayanya nilai

sadah yang tinggi bagi masyarakat, sehingga diperlukan suatu pemetaan lokasi nilai

tingkat kesadahan air tanah. Surabaya dipilih menjadi tempat lokasi penelitian

dikarenakan Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia dan memiliki

jumlah penduduk yang cukup tinggi. Oleh karena itu untuk lebih memperjelas

lokasi air sumur warga yang sadah perlu dilakukan pemetaan dengan menggunakan

aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) .

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 27

3.3.2 Studi Literatur

Studi literatur berfungsi sebaga acuan dalam penelitian ini, mulai dari tahap

awal sampai dengan pembuatan kesimpulan. Literatur yang digunakan dalam

pemetaan ini adalah jurnal, buku, maupun literatur lain yang dapat dipercaya

kebenarannya dan yang berkaitan dengan pemetaan ini. Studi literatur dalam

penelitian ini adalah air tanah, kesadahan air tanah, dan penerapan SIG dalam

pemetaan.

3.3.3 Persiapan Alat dan Bahan

a.Persiapan air sampel (Weaver dkk., 2007) :

1. 50 ml air sampel diencerkan dengan akuades sebanyak 50 ml, dimasukkan

ke dalam labu erlenmeyer 250 ml

2. Penyimpanan sampel dapat dilakukan dengna mengawetkan air sampel

dengan menyimpan air sampel pada suhu di bawah 4oC.

3.3.4 Pengambilan Data

Data Primer dalam penelitian yang dilakukan adalah hasil dari analisis

kesadahan air tanah di Kota Surabaya Barat dengan menggunakan parameter

CaCO3, DHL, TDS, Salinitas dan pH. Lokasi sampling ditentukan dengan

menggunakan metode purposive random sampling. Peneliti memilih metode

purposive sampling dikarenakan sampel purposive dilakukan secara acak tanpa

memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Sampel purposive merupakan

penentuan sampel dengan suatu pertimbangan tertentu ( Indriastoni dan Kustini,

2014).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 28

Pada pemetaan ini lokasi pengambilan sampling dilakukan di setiap sumur

di Kelurahan Surabaya Barat. Tiap titik sampling mewakili satu kelurahan di

wilayah Surabaya Barat. Total titik sampling sebanyak 42 titik sampling dari

keseluruhan sumur warga di Surabaya Barat. Parameter yang digunakan adalah

kesadahan total, Total Dissolved Solid (TDS), pH, salinitas, dan daya hantar listrik.

3.3.5 Analisis Tingkat Kesadahan Air Tanah

Analisis tingkat kesadahan air tanah dilakukan dengan cara sebagai berikut, antara

lain (Astuti dkk, 2015) :

1. CaCO3 (kesadahan total)

Pengukuran dilakukan dengan titrasi kompleksometri dengan EDTA. Adapun

langkah kerja yang dilakukan untuk analisis nilai air sadah adalah (Astuti dkk.,

2013) :

a. Air sampel sebanyak 25 ml diambil, dimasukkan ke dalam labu


erlenmeyer 250 ml, encerkan dengan aquades sampai volume total 50
ml.
b. Ditambahkan 1 ml larutan penyangga pH 10.
c. Ditambahkan indikator EBT sebesar 30 mg
d. Dilakukan titrasi dengan larutan baku Na2EDTA 0,01 M secara perlahan
sampai terjadi perubahan warna merah keunguan menjadi biru
e. Volume larutan baku Na2EDTA dicatat.
f. Hasil dari volume Na2EDTA yang digunakan dimasukkan kedalam

persamaan :

��.�
x VEDTA x MEDTA x 100

Keterangan :

Vc.u adalah volume larutan sampel (ml)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 29

VEDTA adalah volume rata-rata larutan baku Na2EDTA untuk titrasi

kesadahan total (ml)

MEDTA adalah molaritas larutan baku Na2EDTA untuk titrasi (mmol/ml)

3.3.6 Pengolahan Data

1. Kesadahan total (CaCO3)

Pengukuran tingkat kesadahan air tanah dilakukan dengan metode titrimetri.

Hasil tingkat kesadaham total dinyatakan dalam satuan milimol per liter (mmol/l).

Adapun skoring yang digunakan dalam pemetaan tingkat kesadahan total adalah

sebagai berikut

Tabel 3.1 Kriteria kesadahan air tanah


No. Kesadahan (mg/L) Skoring
1. 0 0
2. 0,1 – 50 1
3. 50 – 150 2
4. 151 – 300 3
5. >300 4
Sumber : (Effendi, 2003)

1. DHL (Daya Hantar Listrik)

Pengukuran nilai daya hantar listrik menggunakan electric conductivity meter.

Electric conductivity meter menyatakan kemampuan air sampel menyatakan

kemampuan air sampel menghantarkan listrik dalam satuan mikro ho (µmho) atau

mikro Siemens dalam tiap satu centimeter (µS/cm).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 30

Tabel 3.2 Klasifikasi daya hantar listrik (DHL) air


No. DHL (µmho/cm) Skoring
1 <1500 0
2 1500 – 5000 1
3 5.001 – 15.000 2
4 15.001 – 25.000 3
5 >25.000 4
Sumber : (Effendi, 2003)

2. TDS (Total Dissolved Solid)

Pengukuran TDS dilakukan untuk mengetahui data jumlah material yang

terlarut didalam air yang mencakup karbonat, bikarbonat, klorida, sulfat, fosfat,

nitrat, kalsium, magnesium, natrium, ion-ion organik dan lain-lain. Nilai TDS

dinyatakan dalam satuan mg/l. Pengukuran nilai TDS dapat dilakukan dengan cara

konduktivitas Listrik (Yuliandini dan Putra, 2013).

Tabel 3.3 Klasifikasi total dissolved solid (TDS) air


No. Nilai TDS (mg/L) Skoring
1 0 – 1.000 0
2 1.001 – 3.000 1
3 3.001 – 10.001 2
4 10.001 – 100.000 3
5 >100.000 4
Sumber : (Effendi, 2003)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 31

3. Salinitas

Analisis salinitas air menggunakan peralatan yaitu refractometer. Nilai salinitas

dinyatakan dalam satuan o/oo. Berikut ini merupakan kriteria salinitas air:

Tabel 3.4 Klasifikasi salinitas air


No Salinitas (o/oo) Skoring
1 <0,5 0
2 0,5 – 15 1
3 16 – 30 2
4 31 – 40 3
5 41 – 80 4
Sumber : (Effendi, 2003)

4. pH

Analisis nilai pH dilakukan dengan mencelupkan kerta pH indikator ke dalam

air sampel. Adapun klasifikasi nilai pH adalah sebagai berikut :

Tabel 3.5 Klasifikasi pH air


No. Nilai pH Skoring
1 7,0 – 7,39 0
2 7,4 – 7,79 1
3 7,8 – 8,19 2
4. 8,2 – 8,59 3
5. 8,6 – 9,0 4
Sumber : (Said dan Ruliasih, 2008)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 32

Berdasarkan penilaian dari data skoring masing – masing parameter yang

digunakan dilakukan analisis tingkat kesadahan dengan menggunakan persamaan

(Ashriyati, 2011) :

TS = SP1 + SP2 + SP3 + SP4 +SP5

Keterangan :

TS = Tingkat Kesadahan

SP1 = Skoring Parameter Kesadahan Total

SP2 = Skoring Parameter Daya Hantar Listrik

SP3 = Skoring Parameter TDS

SP4 = Skoring Parameter Salinitas

SP5 = Skoring Parameter pH

Nilai TS yang diperoleh, selanjutnya digolongkan pada tingkat kesadahan

yang terjadi pada titik lokasi sampel tersebut, penggolongan tingkat sadah

digolongkan berdasarkan pada Tabel 3.6

Tabel 3.6 Penggolongan tingkat kesadahan

No. Nilai Tingkat Kesadahan Tingkat Kesadahan

1. 0–3 Tidak sadah


2. 4–6 Sadah rendah
3. 7–9 Menengah
4. 10 – 12 Sadah tinggi
5. 13 – 15 Sadah sangat tinggi
Sumber : (Ashriyati, 2011)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 33

3.3.7 Pembuatan Peta

Pembuatan peta menggunakan aplikasi software ArcGIS versi 10.2.

pembuatan peta diperlukan data yaitu berupa koordinat titik lokasi sumur gali.

Adapun tahapan dalam pembuatan peta kesadahan air tanah di Kota Surabaya

Barat adalah.

a. Plotting lokasi titik sampling

Plotting lokasi dengan menggunakan aplikasi Google Earth yang selanjutnya

dilakukan eksport data dengan menggunakan Global Mapper.

Tahapan yang perlu dilakukan dalam plotting lokasi adalah sebagai berikut.

1. Download Google aplikasi di laptop.

2. Buka aplikasi Google Earth dan cari lokasi Kota Surabaya.

3. Hasil dari proses tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Google Earth Kota Surabaya (Sumber : Pemetaan dari Google Earth)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 34

4. Proses selanjutnya adalah dengan plotting peta dengan meletakkan placemark

pada Google Earth dengan cara klik tambahkan kemudian klik penanda letak.

Gambar 3.4 Plotting lokasi pengambilan data primer (Sumber : Google Earth)

5. Hasil dari proses tersebut tampilan di Google Earth adalah sebagai berikut.

Gambar 3.5 Pemberian nama lokasi plotting (Sumber : Google Earth)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 35

6. Langkah selanjutnya adalah dengan mengganti nama pada penanda letak

sesuai dengan tanda yang diinginkan seperti (1,2,3, dst...) , pada garis lintang

dan garis bujur diisikan hasil koordinat pada GPS diukur. Tekan oke atau

enter.

7. Proses nomor 6 diulang dengan cara mengisi lokasi yang ingin di plotting

dengan penanda letak. Lakukan sampai semua lokasi yang ingin di plotting

berhasil di plotting.

Gambar 3.6 Hasil plotting Kota Surabaya dengan aplikasi Google Earth (Sumber

: Google Earth)

8. Proses selanjutnya adalah menyimpan data plotting dengan cara seperti pada

gambar berikut.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 36

Gambar 3.7 Proses penyimpanan data hasil plotting (Sumber : Google Earth)

9. Simpan data hasil plotting dengan format .kml dan diisi nama data sesuai

dengan yang diinginkan.

Gambar 3.8 Pemberian nama file hasil plotting (Sumber : Google Earth)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 37

10. Proses selanjutnya adalah mengkonversi data dari format .kml menjadi .shp.

Mengkonversi data ini diperlukan untuk melakukan pemetaan menggunakan

aplikasi ArcGIS 10.2 pengkonversian data dari kml. menjadi .shp

menggunakan aplikasi Global Mapper. Langkah – langkah yang dilakukan

untuk melakukan konversi data adalah sebagai berikut.

11. Buka aplikasi Global Mapper.

Gambar 3.9 Tampilan awal Global Mapper (Sumber : Global Mapper)

12. Buka file yang ingin dikonversi dengan cara klik Open Your Own Data Files,

selanjutnya pilih data yang ingin di konversi, lalu klik open.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 38

Gambar 3.10 Proses pemilihan data yang dikonversi (Sumber : Global Mapper)

13. Proses selanjutnya melakukan eksport data menjadi shapefile dengan langkah

– langkah sebagai berikut.

Gambar 3.11 Proses export vector format (Sumber : Global Mapper)

14. Pada tampilan tersebut kemudian klik export vector format... dan ubah data

menjadi shapefile.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 39

Gambar 3.12 Pemilihan format pada proses export vector format (Sumber : Global
Mapper)

15. Proses setelah memilih shapefile adalah klik ok dan pilih expert point

kemudian ganti nama dengan Lokasi Sampling, save dengan menggunakan

tipe data save ESRI Shape file .shp kemudian klik save. Hasil dari

penyimpanan ini dapat digunakan untuk aplikasi ArcGIS.

Gambar 3.13 Proses penyimpanan data hasil dari export data (Sumber : Global
Mapper)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 40

b. Pemetaan dengan menggunakan software ArcGIS 10.2. software arcGIS

merupakan software yang dapat mengolah peta. Pemetaan kesadahan air

dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut :

1. Buka file titik sampling yang sudah berubah format menjadi .shp. Cara

membuka file yaitu pada pojok kanan terdapat menu catalog, pilih data titik

sampling yang diinginkan, kemudian klik tahan icon ke bagian tengah.

Gambar 3.14 Tampilan titik plotting tempat sampling pada software ArcGIS
(Sumber : Global Mapper)

2. Buka peta dasar Surabaya dengan cara yang sama seperti menambahkan titik

plotting.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 41

Gambar 3.15 Tampilan hasil dari memasukkan peta dasar ke dalam ArcGIS
(Sumber : Global Mapper)

3. Proses selanjutnya adalah memasukkan data atribut dari Ms. Excel ke dalam

peta menggunakan joint and relate. Langkah – langkah memasukkan atribut ke

peta adalah klik kanan pada layer kemudian pilih open attribute tabel .

Gambar 3.16 Tahapan untuk membuka Open attribute table (Sumber : ArcMap
10.2)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 42

4. Pada open attribute tabel klik tabel option lalu klik add fields

Gambar 3.17 Tahapan untuk melakukan Add fields pada ArcGIS (Sumber :
ArcMap 10.2)

5. Pada menu add fields pada bagian nama diisi dengan “id”, selanjutnya klik Ok.

Gambar 3.18 Proses pemberian nama pada menu Add Fields (Sumber : ArcMap
10.2)

6. Proses mengubah nilai pada kolom id agar tidak 0 diperlukan cara yaitu proses

editing seperti pada Gambar 3.19, proses berikutnya yaitu dapat dilihat pada

Gambar 3.20, berikutnya klik lokasi sampel lalu klik ok.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 43

Gambar 3.19 Proses Editing (Sumber : ArcMap 10.2)

Gambar 3.20 Menu Start Editing (Sumber : ArcMap 10.2)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 44

Gambar 3.21 Tampilan Open Atrribute Table pada bagian id telah terisi (Sumber
: ArcMap 10.2)

7. Pada layer – titik point pada bagian lokasi sampling klik kanan, kemudian pilih

joint and relates, lalu pilih join... Tampilan dari proses tersebut ditampilkan

pada Gambar 3.22. Pada Gambar 3.23 pada menu nomor dipilih browser dan

masukkan file MS.Excel yang digunakan untuk atribut data. Format yang

dibutuhkan untuk MS. Excel adalah .csv.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 45

Gambar 3.22 Tampilan dari proses Join (Sumber : ArcMap 10.2)

Gambar 3.23 Tampilan menu Join Data (Sumber : ArcMap 10.2)

8. Data atribut dari excel tertampil pada tabel layer. Selanjutnya layer yang

memuat data atribut dari Ms. Excel tersebut diexport ke dalam file .shp baru

agar data atributnya tetap melekat pada layer.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 46

c. Atribut pada ArcGIS

Tahapan selanjutnya setelah melakukan memasukkan data dari MS.Excel

ke ArcGIS dilakukan adalah mengatur tampilan pada peta sehingga informasi

yang ingin disampaikan lebih informatif. Langkah – langkah yang perlu

dilakukan untuk mengatur tampilan pada ArcMapper adalah

1. Pada project yang telah dibuka ditambahkan layer yang merupakan hasil

export sebelumnya. Proses pengerjaan yang dilakukan sama seperti

pada proses sebelumnya yaitu dengan klik add data, kemudian pilih file

dengan nama “lokasi sampling”.

2. Pada proses pengaturan bentuk dan warna yang digunakan dengan

memilihi salah satu simbol pada symbol selector.

3. Bentuk dan size dari masing- masing tombol harus sesuai.

4. Proses selanjutnya yang dilakukan adalah menyesuaikan bentuk, warna,

dan ukuran masing – masing simbol yang telah dilakukan sebelumnya,

kemudian klik Ok.

Tata cara pemberian informasi yang tertera dalam peta dapat dilihat
pada Tabel 3.6 ; Tabel 3.7 ; Tabel 3.8 ; Tabel 3.9; Tabel 3.10

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 47

Tabel 3.7 Informasi simbol kesadahan air (CaCO3)


No. simbol CaCO3 (mg/L) Skor
1. 0 0
2. < 50 1

3. 50 – 150 2

4. 151 – 300 3
5. >300 4

Sumber : (Effendi, 2003)

Tabel 3.8 Informasi simbol daya hantar listrik (DHL)


No. Simbol DHL (µmho/cm) Skor
1. <1500 0

2. 1500 – 5000 1
3. 5.000 – 15.000 2
4. 15.000 – 25.000 3
5. >25.000 4
Sumber : (Effendi, 2003)

Tabel 3.9 Informasi simbol total dissolved solid (TDS)


No. simbol Nilai TDS (mg/L) Skor
1. 0 – 1.000 0

2. 1.001 – 3.000 1

3. 3.001 – 10.00 2

4. 10.001 – 100.000 3

5. >100.000 4

Sumber : (Effendi, 2003)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 48

Tabel 3.10 Informasi simbol salinitas


No. Simbol Salinitas (o/oo) Skor
1. <0,5 0
2. 0,5 – 15 1
3. 16 – 30 2
4. 31 – 40 3
5. 41 – 80 4
Sumber : (Effendi, 2003)

Tabel 3.11 Informasi simbol pH


No. Simbol Nilai pH Skor
1. 7,0 – 7,39 0
2. 7,4 – 7,79 1
3. 7,8 – 8,19 2
4. 8,2 – 8,59 3
5. 8,6 – 9,0 4
Sumber : (Said dan Ruliasih, 2008)

Tabel 3.12 Informasi simbol tingkat sadah


No. Simbol Klasifikasi Skor
1. Tidak sadah 0
2. Sadah ringan 1
3. Sadah menengah 2
4. Sadah tinggi 3
5. Sadah sangat tinggi 4
Sumber : (Ashriyati,2011)

d. Memberikan informasi gambar peta sebelum dicetak agar lebih mudah dalam

pembacaan peta.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 49

1. Pilih menu view kemudian layout view atur garis tepi peta, posisi peta, judul peta,

kotak legenda, dan kop kepala peta ndengan menggunakan toolbar drawing,

layout, dan Tools.

2. Setelah jadi sesuai yang diinginkan maka pilih file kemudian export map ketik

nama yang diinginkan seperti ”Peta Tingkat Air Sadah Air Sumur di Wilayah

Surabaya Barat” kemudian pilih format gambar menjadi JPEG/JPG kemudian

save. Hasil dari proses tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.24.

Gambar 3.24 Layout view hasil pemetaan tingkat sadah air sumur wilayah
Surabaya Barat

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 50

3.4 Analisis Data

Analisis regresi dan korelasi dikembangkan untuk mengkaji dan mengukur

keterkaitan/ hubungan secara statistik antara dua variabel/ lebih. Hubungan yang

didapat biasanya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik. Dalam analisis

regresi, suatu persamaan yang berperan untuk untuk menaksir dikembangkan untuk

menjelaskan pola atau sifat fungsional keterkaitan antara variabel. Variabel yang

ditaksir disebut variabel tak bebas dan diplotkan dalam sumbu Y. Sedangkan

variabel yang mempengaruhi perubahan pada variabel tak bebas disebut variabel

bebas dan diplotkan pada sumbu X (Wibowo, 2001). Nilai koefisien korelasi

hubungan antara 2 variabel dapat dinyatakan oleh Tabel 3.13.

Tabel 3.13 Nilai koefien korelasi dan kekuatan hubungan antara variabel
Nilai koefisien korelasi (r) Keterangan
1 Hubungan positif sempurna
0,6-1 Hubungan positif baik
0-0,6 Hubungan positif lemah
0 Tidak terdapat hubungan linier
(-0,6)-0 Hubungan negatif lemah
(-1) – (-0,6) Hubungan negatif baik
-1 Hubungan negatif sempurna
Sumber: Wibowo (2001)

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian tingkat sadah air sumur di Surabaya Barat dilakukan

sampling sebanyak 42 titik sampling yang mewakili 42 Kelurahan dalam 7

Kecamatan yaitu Kecamatan Sukomanunggal, Tandes, Benowo, Sambikerep,

Lakarsantri, Pakal dan Asemrowo.

Kecamatan Sukomanunggal terdiri dari 5 kelurahan yang terdiri dari

Kelurahan Sukomanunggal, Simomulyo, Tanjungsari, Putatgede dan

Sonokwijenan yang disimbolkan pada peta dengan titik sumur S1, S2, S3, S4 dan

S5. Kecamatan Tandes terdiri dari 12 Kelurahan yang terdiri dari Kelurahan Tandes

Lor, Karangpoh, Balongsari, Gedangasin, Buntaran, Bibis, Gadel, Tubanan,

Manukan Kulon, Manukan Wetan, Banjarsugihan dan Tandes Kidul yang

disimbolkan pada peta dengan titik S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S13, S14, S15,

S16 dan S17. Kecamatan Benowo terdiri dari 5 Kelurahan yang terdiri dari

Kelurahan Kandangan, Klakahrejo, Sememi, Tambakosowilangun dan

Romokalisari yang disimbolkan pada peta dengan titik S18, S19, S20, S21 dan S22.

Kecamatan Sambikerep terdiri dari 4 Kelurahan yang teridiri dari Kelurahan

Bringin, Made, Sambikerep dan Lontar yang masing - masing Kelurahan

disimbolkan dengan titik sampling S23, S24, S25 dan S26. Kecamatan Lakarsantri

terdiri dari 6 Kelurahan yang terdiri dari Kelurahan Lidah Wetan, Lidah Kulon,

Sumur Welut, Bangkingan, Jeruk dan Lakarsantri. Kelurahan tersebut ditandai pada

peta dengan simbol S27, S28, S29, S30, S31 dan S32. Kecamatan Pakal terdiri dari

5 Kelurahan yang terdiri dari Kelurahan Babat jerawat, Pakal, Benowo,

51
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 52

Sumberrejo dan Tambakdono yang pada lokasi titik sampling disimbolkan dengan

S33, S34, S35, S36 dan S37. Kecamatan Asemrowo terdiri dari 5 Kelurahan yaitu

Kelurahan Tambaklangon, Greges, Kalianak, Asemrowo dan Genting yang setiap

Kelurahan disimbolkan pada peta dengan titik S38, S39, S40, S41 dan S42.

Penelitian ini dilakukan dengan mengukur nilai TDS, DHL, salinitas, pH dan

kesadahan total. Setiap sumur titik sampling mewakili 1 Kelurahan di Surabaya

Barat.

4.1 Nilai DHL, Salinitas, TDS, pH dan kesadahan total air sumur

penduduk di wilayah Surabaya Barat

Penelitian ini dilakukan dengan mengukur nilai TDS, DHL, salinitas, pH

dan kesadahan total. Setiap sumur titik sampling mewakili 1 Kelurahan di Surabaya

Barat. Hasil dari penelitian sampling dan analisis dari nilai tiap parameter yang

diteliti dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Nilai DHL, salinitas, TDS, pH dan kesadahan total air sumur di wilayah
Surabaya Barat
Parameter
Sampel ke-

Kesadahan
Salinitas TDS DHL pH
Titik

total
rerata

rerata

rerata

rerata

rerata

o
/oo mg/l µS/cm mg/l
SD SD SD SD SD
I 0 0 500 493 620 603 7,4 7,4 128 84
S1
II 0 0 485 10,6 585 24,7 7,4 0 40 62,23

S2 I 0 0 545 544 734 735 7,2 7,1 96 102

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 53

Parameter

Sampel ke-
Kesadahan
Salinitas TDS DHL pH
Titik

total

rerata

rerata

rerata

rerata

rerata
o
/oo mg/l µS/cm mg/l
SD SD SD SD SD
II 0 0 543 1,41 736 1,41 7 0,141 108 8,485
I 0 0 550 548 684 659 6,9 6,9 88 64
S3
II 0 0 545 3,54 634 35,4 6,9 0 40 33,94
I 0 0 530 532 684 669 7,3 7,3 100 100
S4
II 0 0 534 2,83 654 21,2 7,3 0 100 0
I 0 0 592 579 685 709 7,2 7,2 112 116
S5
II 0 0 565 19,1 732 33,2 7,2 0 120 5,657
I 0 0 503 549 865 880 7,7 7,7 128 126
S6
II 0 0 595 65,1 894 20,5 7,7 0 124 2,828
I 0 0 595 589 550 518 7,6 7,65 104 114
S7
II 0 0 583 8,49 486 45,3 7,7 0,071 124 14,14
I 0 0 885 890 883 1194 8,2 8,2 116 120
S8
II 0 0 894 6,36 1505 440 8,2 0 124 5,657
I 0 0 553 549 934 934 7,9 7,9 136 132
S9
II 0 0 545 5,66 934 0 7,9 0 128 5,657
I 0 0 437 436 769 771 7,6 7,6 112 106
S10
II 0 0 434 2,12 773 2,83 7,6 0 100 8,485
I 0 0 475 473 852 894 8,2 8,15 108 110
S11
II 0 0 471 2,83 935 58,7 8,1 0,071 112 2,828
I 0 0 872 875 836 861 7,4 7,4 108 124
S12
II 0 0 878 4,24 886 35,4 7,4 0 140 22,63
I 0 0 878 871 1545 1345 7,9 7,9 136 122
S13
II 0 0 864 9,9 1145 283 7,9 0 108 19,8
I 0 0 628 625 1413 1413 7,8 7,75 132 122
S14
II 0 0 621 4,95 1413 0 7,7 0,071 112 14,14
I 0 0 507 504 958 916 7,1 7,1 120 128
S15
II 0 0 501 4,24 873 60,1 7,1 0 136 11,31
I 0 0 475 473 1464 1456 7,7 7,75 136 134
S16
II 0 0 471 2,83 1448 11,3 7,8 0,071 132 2,828
I 0 0 548 571 862 927 7,5 7,5 120 114
S17
II 0 0 594 32,5 992 91,9 7,5 0 108 8,485
I 0 0 767 777 1375 1359 8,2 8,25 116 108
S18
II 0 0 787 14,1 1343 22,6 8,3 0,071 100 11,31
S19 I 0 0 1580 1585 2115 2128 7,7 7,7 144 150

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 54

Parameter

Sampel ke-
Kesadahan
Salinitas TDS DHL pH
Titik

total

rerata

rerata

rerata

rerata

rerata
o
/oo mg/l µS/cm mg/l
SD SD SD SD SD
II 0 0 1590 7,07 2140 17,7 7,7 0 156 8,485
I 0 0 656 654 1175 1160 7,6 7,6 128 132
S20
II 0 0 652 2,83 1144 21,9 7,6 0 136 5,657
I 0 0 532 507 848 696 7,8 7,8 108 114
S21
II 0 0 482 35,4 543 216 7,8 0 120 8,485
I 0 0 532 532 1154 1251 7,8 7,8 140 144
S22
II 0 0 532 0 1347 136 7,8 0 148 5,657
I 0 0 343 329 376 327 7,7 7,85 148 136
S23
II 0 0 315 19,8 278 69,3 8 0,212 124 16,97
I 0 0 1100 1100 910 907 7,6 7,6 168 164
S24
II 0 0 1100 0 903 4,95 7,6 0 160 5,657
I 0 0 893 892 794 759 7,6 7,55 120 120
S25
II 0 0 890 2,12 724 49,5 7,5 0,071 120 0
I 0 0 524 520 910 794 8 8 132 128
S26
II 0 0 515 6,36 677 165 8 0 124 5,657
I 0 0 619 615 640 593 7,3 7,3 124 120
S27
II 0 0 611 5,66 545 67,2 7,3 0 116 5,657
I 0 0 868 844 2232 2272 7,8 7,75 216 218
S28
II 0 0 820 33,9 2312 56,6 7,7 0,071 220 2,828
I 0 0 921 907 2423 2418 7,7 7,7 120 110
S29
II 0 0 892 20,5 2412 7,78 7,7 0 100 14,14
I 0 0 850 918 2141 2197 7,8 7,75 108 114
S30
II 0 0 985 95,5 2253 79,2 7,7 0,071 120 8,485
I 0 0 1480 1535 2340 2376 7,8 7,8 340 336
S31
II 0 0 1590 77,8 2412 50,9 7,8 0 332 5,657
I 0 0 1325 1389 2131 2022 7,7 7,65 320 320
S32
II 0 0 1452 89,8 1912 155 7,6 0,071 320 0
I 0 0 1910 1915 2340 2350 9 9 172 182
S33
II 0 0 1920 7,07 2360 14,1 9 0 192 14,14
I 0 0 285 321 529 576 7,7 7,65 164 150
S34
II 0 0 356 50,2 622 65,8 7,6 0,071 136 19,8
I 0 0 503 473 811 816 8 7,95 156 152
S35
II 0 0 442 43,1 820 6,36 7,9 0,071 148 5,657
S36 I 0 0 2850 2855 1970 1972 7,6 7,6 180 172

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 55

Parameter

Sampel ke-
Kesadahan
Salinitas TDS DHL pH
Titik

total

rerata

rerata

rerata

rerata

rerata
o
/oo mg/l µS/cm mg/l
SD SD SD SD SD
II 0 0 2860 7,07 1973 2,12 7,6 0 164 11,31
I 0 0 1180 1180 1455 1625 7,8 7,8 168 164
S37
II 0 0 1180 0 1795 240 7,8 0 160 5,657
I 0 0 570 546 783 864 7,4 7,4 120 122
S38
II 0 0 521 34,6 945 115 7,4 0 124 2,828
I 0 0 396 404 734 763 7,6 7,65 128 128
S39
II 0 0 411 10,6 792 41 7,7 0,071 128 0
I 2 2 5780 5805 8550 9230 8,1 8,1 480 540
S40
II 2 0 5830 35,4 9910 962 8,1 0 600 84,85
I 0 0 437 436 769 771 7,6 7,6 112 106
S41
II 0 0 434 2,12 773 2,83 7,6 0 100 8,485
I 0 0 1420 1410 1260 1410 7,8 7,8 148 152
S42
II 0 0 1400 14,1 1559 211 7,8 0 156 5,657
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong rendah
: Tingkat sadah tergolong menengah
: Tingkat sadah tergolong tinggi

Berdasarkan tabel 4.1, sebanyak 17 sumur yang termasuk kategori air tidak

sadah, 20 sumur tergolong sadah ringan, 4 sumur tergolong sadah menengah, dan

1 sumur tergolong sadah tinggi. Penilian tingkat sadah air sumur warga di Surabaya

Bara berdasar pada penjumlahan skoring yang dilakukan terhadap setiap parameter.

Suatu sumur tergolong tidak sadah ketika penjumlahan skor dari tiap parameter

berkisar 0 – 3, tingkat sadah ringan ketika penjumlahan menunjukkan angka 4 – 6,

tingkat sadah menengah ketika penjumlahan dari tiap parameter menunjukkan

angka 7 – 9, tingkat sadah tergolong tinggi ketika penjumlahan menunjukkan angka

10 – 12. Tingkat sadah tergolong sangat tinggi ketika angka penjumlahan tiap

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 56

parameter skoring sebesar 13 – 15. Nilai parameter DHL, TDS, salinitas, kesadahan

total dan pH pada umumnya berbanding lurus atau linier, ketika DHL tinggi, nilai

TDS, kesadahan totalm pH dan salinitas tinggi. Hal ini serupa dengan pernyataan

Morintoh (2003) yang menyatakan bahwa nilai DHL, salinitas, kesadahan total, pH

dan TDS berbanding lurus atau linier.

4.1.1 Nilai DHL air sumur di wilayah Surabaya Barat

Nilai persebaran DHL air sumur di wilayah Surabaya Barat dapat dilihat
pada Tabel 4.2

Tabel 4.2 Nilai DHL air sumur di wilayah Surabaya Barat


DHL
Titik

Keca-
Nama wilayah
matan I II Rerata SD Skor
S1 Simomulyo 620 585 602,5 24,749 0
Sukomanunggal

S2 Sukomanunggal 734 736 735 1,4142 0

S3 Tanjungsari 684 634 659 35,355 0

S4 Sonokwijenan 684 654 669 21,213 0

S5 Putatgede 685 732 708,5 33,234 0

S6 Tandes Lor 865 894 879,5 20,506 0


S7 Karangpoh 550 486 518 45,255 0
S8 Balongsari 883 1505 1194 439,82 0
S9 Gedangasin 934 934 934 0 0
S10 Buntaran 769 773 771 2,8284 0
Tandes

S11 Bibis 852 935 893,5 58,69 0


S12 Gadel 836 886 861 35,355 0
S13 Tubanan 1543 1145 1344 281,43 0
S14 Manukan kulon 1413 1413 1413 0 0
S15 Manukanwetan 958 873 915,5 60,104 0
S16 Banjarsugihan 1464 1448 1456 11,314 0
S17 Tandes Kidul 862 922 892 42,426 0
Beno

S18 Kandangan 1375 1343 1359 22,627 0


wo

S19 Klakahrejo 2115 2140 2127,5 17,678 1

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 57

Lanjutan Tabel 4.2


DHL
Titik Keca-
Nama wilayah
matan I II Rerata SD Skor
S20 Semami 1175 1144 1159,5 21,92 0
S21 Tambakosowilangun 848 543 695,5 215,67 0
S22 Romokalisari 1154 1347 1250,5 136,47 0
S23 Bringin 376 278 327 69,296 0
Sambikerep

S24 Made 910 903 906,5 4,9497 0

S25 Sambikerep 795 724 759,5 50,205 0

S26 Lontar 910 677 793,5 164,76 0

S27 Lidah Wetan 640 545 592,5 67,175 0


Lakarsantri

S28 Lidah Kulon 2232 2312 2272 56,569 1


S29 Sumur welut 2423 2412 2417,5 7,7782 1
S30 Bangkingan 2141 2253 2197 79,196 1
S31 Jeruk 2340 2412 2376 50,912 1
S32 Lakarsantri 2131 1912 2021,5 154,86 1
S33 Babat Jerawat 2340 2360 2350 14,142 1
S34 Pakal 529 622 575,5 65,761 0
Pakal

S35 Benowo 811 820 815,5 6,364 0


S36 Sumberrejo 1970 1973 1971,5 2,1213 1
S37 Tambakdono 1455 1795 1625 240,42 1
S38 Tambak langon 783 945 864 114,55 0
Asemrowo

S39 Greges 734 792 763 41,012 0


S40 Kalianak 8550 9910 9230 961,67 2
S41 Asemrowo 769 773 771 2,8284 0
S42 Genting 1260 1559 1409,5 211,42 0
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong rendah
: Tingkat sadah tergolong tinggi

Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pada Kecamatan Sukomanunggal

memiliki nilai dari hasil tiap parameter paling rendah dibandingkan dengan nilai

parameter yang terdapat pada Kelurahan lain yang berada di wilayah Surabaya

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 58

Barat. Nilai DHL yang terdapat di Kelurahan Simomulyo merupakan sumur dengan

nilai DHL terendah dibandingkan dengan sumur yang berada di Kelurahan lain di

Kecamatan Sukomanunggal. Di Kelurahan Simomulyo nilai DHL pada sampel ke

1 sebesar 620 µS/cm dan pada sampel ke 2 sebesar 585 µS/cm sehingga memiliki

besar rerata dari sampel tersebut sebesar 602,5 µS/cm dan simpangan deviasi

sebesar 24,74874. Kelurahan Sukomanunggal memiliki nilai DHL tertinggi di

Kecamatan Sukomanunggal. Nilai DHL yang berada di Kelurahan Sukomanunggal

pada sampel ke-1 sebesar 734 µS/cm dan pada sampel ke-2 sebesar 736 µS/cm

sehingga didapatkan besar rerata dari sumur tersebut sebesar 735 µS/cm dengan

simpangan deviasi sebesar 1,414214 µS/cm.

Nilai DHL yang terdapat di Kecamatan Tandes memiliki kisaran rerata

sebesar 771 µS/cm – 1456 µS/cm. Nilai DHL terendah di Kecamatan Tandes

terletak pada sumur yang berada di Kelurahan Buntaran dengan nilai DHL pada

sampel ke- 1 sebesar 769 µS/cm dan pada sampel ke - 2 sebesar 773 µS/cm sehingga

didapatkan nilai rerata DHL sebesar 771 µS/cm dengan simpangan deviasi sebesar

2,828427 µS/cm. Nilai DHL tertinggi pada Kecamatan Tandes terletak pada

Kelurahan Banjarsugihan dengan hasil analisis pada sampel ke- 1 sebesar 1464

µS/cm dan pada sampel ke-2 sebesar 1448 µS/cm dengan nilai simpangan deviasi

11,31371 dan rerata sebesar 1456 µS/cm.

Pada Kecamatan Benowo terdapat 5 Kelurahan dengan nilai DHL yang

memilki kisaran rerataan 695,5 µS/cm – 1359 µS/cm. Nilai DHL terendah di

Kecamatan Benowo terletak pada Kelurahan Tambakosowilangun dengan sampel

ke – 1 sebesar 848 µS/cm dan sampel ke -2 sebesar 482 µS/cm sehingga didapatkan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 59

nilai rerata 695,5 482 µS/cm dengan simpangan deviasi sebesar 215,6676. Nilai

DHL tertinggi di Kecamatan Benowo terletak di Kelurahan Kandangan dengan

nilai rerata DHL sebesar 1359 µS/cm dan simpangan deviasi sebesar 22,62742 .

Kecamatan Sambikerep memiliki 4 Kelurahan dengan nilai DHL terendah di

Kelurahan Bringin. Pada sampel ke -1 didapatkan nilai DHL sebesar 327 µS/cm

dan sampel ke-2 sebesar sebesar 724 µS/cm sehingga didapatkan rerata DHL

sebesar 327 µS/cm dan nilai simpangan deviasi sebesar 69,29646. Kelurahan

tertinggi nilai DHL terletak di Kecamatan Sambikerep terletak di Kelurahan Made

dengan nilai pada sampel ke-1 sebesar 910 µS/cm dan pada sampel ke-2 sebesar

903 µS/cm dengan rerata sebesar 759 µS/cm dan simpangan deviasi sebesar

49,494747. Pada Kecamatan Lakarsantri nilai DHL tertinggi terletak pada titik

sumur S31 atau sumur yang berada di Kelurahan Jeruk. Nilai DHL pada hasil

analisis dan sampling ke – 1 didapatkan sebesar 2340 dan pada sampel ke – 2

sebesar 2376 µS/cm dengan rerata sebesar 2376 µS/cm dan simpangan deviasi

sebesar 50,91169. Nilai DHL terendah di Kecamatan Lakarsantri terletak di

Kelurahan Lidah Wetan dengan nilai DHL pada sampling ke – 1 sebesar 640 µS/cm

dan pada sampling ke -2 sebesar 545 µS/cm dengan rerata sebesar 592,5 µS/cm dan

simpangan deviasi sebesar 67,17514.

Pada Kecamatan Pakal nilai DHL terendah terdapat pada Kelurahan Pakal

yang memiliki nilai DHL pada pengambilan sampel ke – 1 529 µS/cm dan analisis

pada sampling ke – 2 sebesar 622 µS/cm sehingga mendapatkan rerata sebesar

575,5 µS/cm dan simpangan deviasi sebesar 65,76093. Nilai DHL tertinggi di

Kecamatan Pakal terdapat di Kelurahan Babat Jerawat dengan nilai DHL pada

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 60

pengambilan sampel pertama sebesar 2340 µS/cm dan nilai DHL pada sampel

kedua sebesar 2360 µS/cm sehingga didapatkan simpangan deviasi sebesar

14,14214 dan rerata sebesar 2350 µS/cm.

Pada Kecamatan Asemrowo sumur yang memiliki nlai DHL tertinggi

terletak di Kelurahan Kalianak dengan nilai DHL pada pengambilan sampel

pertama sebesar 8550 µS/cm dan pada pengambilan kedua sebesar 9910 µS/cm

dengan nilai rerata sebesar 9230 dan simpangan deviasi sebesar 961,6652. Nilai

DHL terendah di Kecamatan Asemrowo terletak di Kelurahan Asemrowo dengan

nilai DHL pada pengambilan sampel pertama sebesar 769 µS/cm dan pada

pengambilan sampel ke dua sebesar 773 µS/cm sehingga didapat rerata sebesar 771

µS/cm dan simpangan deviasi sebesar 2,828427. Nilai DHL yang tinggi pada air

sumur dapat disebabkan oleh air jebakan (connet water), yakni air laut yang

terjebak dalam air tanah sehingga air tanah memiliki kandungan logam yang tinggi

(Widada, 2007).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 61

4.1.2 Nilai kesadahan total air sumur di wilayah Surabaya Barat

Nilai persebaran kesadahan total air sumur di wilayah Surabaya Barat dapat dilihat

pada Tabel 4.3

Tabel 4.3 Nilai kesadahan total air sumur di wilayah Surabaya Barat
Keca- Kesadahan Total
Titik Nama wilayah SD Skor
matan I II Rerata
S1 Simomulyo 128 40 84 62,2254 2
Sukomanunggal

S2 Sukomanunggal 96 108 102 8,485281 2


S3 Tanjungsari 88 40 64 33,94113 2
S4 Sonokwijenan 100 100 100 0 2
S5 Putatgede 112 120 116 5,656854 2
S6 Tandes Lor 128 124 126 2,828427 2
S7 Karangpoh 104 124 114 14,14214 2
S8 Balongsari 116 124 120 5,656854 2
S9 Gedangasin 136 128 132 5,656854 2
S10 Buntaran 112 100 106 8,485281 2
Tandes

S11 Bibis 108 112 110 2,828427 2


S12 Gadel 108 140 124 22,62742 2
S13 Tubanan 136 108 122 19,79899 2
S14 Manukan kulon 132 112 122 14,14214 2
S15 Manukanwetan 120 136 128 11,31371 2
S16 Banjarsugihan 136 132 134 2,828427 2
S17 Tandes Kidul 120 108 114 8,485281 2
S18 Kandangan 116 100 108 11,31371 2
S19 Klakahrejo 144 156 150 8,485281 2
Benowo

S20 Semami 128 136 132 5,656854 2


S21 Tambakosowilangun 108 120 114 8,485281 2
S22 Romokalisari 140 148 144 5,656854 2
S23 Bringin 148 124 136 16,97056 2
Sambikerep

S24 Made 168 160 164 5,656854 3


S25 Sambikerep 120 120 120 0 2
S26 Lontar 132 124 128 5,656854 2
Lakarsant

S27 Lidah Wetan 124 116 120 5,656854 2


S28 Lidah Kulon 216 220 218 2,828427 3
ri

S29 Sumur welut 120 100 110 14,14214 2

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 62

Lanjutan Tabel 4.3

Keca- Kesadahan Total


Titik Nama wilayah SD Skor
matan I II Rerata
S30 Bangkingan 108 120 114 8,485281 2
S31 Jeruk 340 332 336 5,656854 4
S32 Lakarsantri 320 320 320 0 4
S33 Babat Jerawat 172 192 182 14,14214 3
S34 Pakal 164 136 150 19,79899 2
Pakal

S35 Benowo 156 148 152 5,656854 3


S36 Sumberrejo 180 164 172 11,31371 3
S37 Tambakdono 168 160 164 5,656854 3
S38 Tambak langon 120 124 122 2,828427 3
Asemrowo

S39 Greges 128 128 128 0 3


S40 Kalianak 480 600 540 84,85281 4
S41 Asemrowo 112 100 106 8,485281 2
S42 Genting 148 156 152 5,656854 2
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong menengah
: Tingkat sadah tergolong tinggi
: Tingkat sadah tergolong sangat tinggi

Pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai kesadahan total yang terdapat di

Surabaya berkisar antara 40 mg/l – 640 mg/l.nilai kesadahan total terendah terdapat

di Kelurahan Tanjungsari Kecamatan Sukomanunggal dengan nilai kesadahan total

pada sampel ke – 1 sebesar 88 dan pada sampel ke – 2 sebesar 40 mg/l sehingga

didapatkan besarnya rerata nilai kesadahan total di Kelurahan tersebut sebesar

88mg/l dan simpangan deviasi sebesar 33,94. Nilai kesadahan total tertinggi di

wilayah Surabaya Barat terletak di titik sampel S40 yang berada di Kelurahan

Kalianak dengan nilai kesadahan total pada sampel ke – 1 sebesar 480 mg/L dan

sampel ke – 2 sebesar 600 mg/L dengan nilai rerata kesadahan total sebesar 540

mg/L simpangan deviasi sebesar 84,85281. Nilai kesadahan total terendah di

wilayah Surabaya Barat berada di titik sampling S3 yang berada di Kelurahan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 63

Tanjungsari yang berada di Kecamatan Sukomanunggal. Nilai kesadahan yang ada

di Kelurahan Tanjungsari pada sampel pertama sebesar 88 mg/L dan sampel ke – 2

sebesar 40 mg/L dengan nilai rerata dan simpangan deviasi sebesar 64mg/L dan

8,485281.

4.1.3 Nilai TDS air sumur di wilayah Surabaya Barat

Nilai persebaran TDS air sumur di wilayah Surabaya Barat dapat di lihat

pada tabel 4.4

Tabel 4.4 Nilai TDS air sumur di wilayah Surabaya Barat


Keca- TDS
Titik Nama wilayah skor
matan I II Rerata SD
S1 Simomulyo 500 485 492,5 10,61 0
Sukomanunggal

S2 Sukomanunggal 545 543 544 1,414 0


S3 Tanjungsari 550 545 547,5 3,536 0
S4 Sonokwijenan 530 534 532 2,828 0
S5 Putatgede 592 565 578,5 19,09 0
S6 Tandes Lor 503 496 499,5 4,95 0
S7 Karangpoh 595 583 589 8,485 0
S8 Balongsari 885 894 889,5 6,364 0
S9 Gedangasin 553 545 549 5,657 0
S10 Buntaran 437 434 435,5 2,121 0
Tandes

S11 Bibis 475 471 473 2,828 0


S12 Gadel 872 878 875 4,243 0
S13 Tubanan 878 864 871 9,899 0
S14 Manukan kulon 628 621 624,5 4,95 0
S15 Manukanwetan 507 501 504 4,243 0
S16 Banjarsugihan 475 471 473 2,828 0
S17 Tandes Kidul 548 594 571 32,53 0
S18 Kandangan 767 787 777 14,14 0
S19 Klakahrejo 1580 1590 1585 7,071 1
Benowo

S20 Semami 656 652 654 2,828 0


S21 Tambakosowilangun 532 482 507 35,36 0
S22 Romokalisari 532 532 532 0 0

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 64

Lanjutan Tabel 4.4


Keca- TDS
Titik Nama wilayah skor
matan I II Rerata SD

Sambikerep
S23 Bringin 343 315 329 19,8 0
S24 Made 1100 1100 1100 0 1
S25 Sambikerep 893 890 891,5 2,121 0
S26 Lontar 524 515 519,5 6,364 0
S27 Lidah Wetan 619 611 615 5,657 0
S28 Lidah Kulon 868 820 844 33,94 0
Lakarsantri

S29 Sumur welut 921 892 906,5 20,51 0


S30 Bangkingan 850 985 917,5 95,46 0
S31 Jeruk 1480 1590 1535 77,78 1
S32 Lakarsantri 1325 1452 1388,5 89,8 1
S33 Babat Jerawat 1910 1920 1915 7,071 1
S34 Pakal 285 356 320,5 50,2 0
Pakal

S35 Benowo 503 442 472,5 43,13 0


S36 Sumberrejo 2850 2860 2855 7,071 1
S37 Tambakdono 1180 1180 1180 0 1
S38 Tambak langon 570 521 545,5 34,65 1
Asemrowo

S39 Greges 396 411 403,5 10,61 1


S40 Kalianak 5780 5830 5805 35,36 2
S41 Asemrowo 437 434 435,5 2,121 0
S42 Genting 1420 1400 1410 14,14 1
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong rendah
: Tingkat sadah tergolong menengah
: Tingkat sadah tergolong tinggi

Hasil dari analisis dan sampling yang telah dilakukan didapatkan bahwa

nilai TDS terendah di wilayah Surabaya Barat terdapat di Kecamatan

Sukomanunggal di Kelurahan Pakal Kecamatan Pakal dengan nilai TDS pada

sampling pertama sebesar 285 mg/L dan pada sampling kedua sebesar 356 mg/L

dengan nilai rerata sebesar 320,5 dan simpangan deviasi sebesar 50,20458. Nilai

TDS tertinggi di wilayah Surabaya Barat terdapat di Kelurahan Kalianak dengan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 65

nilai TDS pada sampel pertama sebesar 5805 mg/L dan sampel ke- 2 sebesar 5830

mg/L. Nilai TDS tertinggi terdapat di Kelurahan Kalianak di sebabkan sumur

tersebut dimungkin telah tercemar akibat intrusi air laut karena berdekatan dengan

pesisir pantai utara yang berada di utara Kota Surabaya. Hal ini serupa dengan

dengan pernyataannya (Indriastoni dan Kustini, 2014) yang menyatakan bahwa

Intrusi air laut berpengaruh terhadap kualitas air tanah dangkal. TDS yang tinggi di

daerah wilayah Surabaya Barat pada titik sampel S36 dan S37 dikarenakan titik

tersebut berdekatan dengan sawah Kelurahan Sumberrejo dan Tambakdono yang

menyebabkan partikel-partikel lumpur di sawah meresap ke dalam tanah. Hal ini

sesuai dengan pernyataan (Suryana, 2013) yang menyatakan bahwa partikel –

partikel lumpur pada sawah dapat meresap ke dalam tanah.

Nilai TDS di wilayah Surabaya Barat yang termasuk ke dalam kategori tidak

sadah sebanyak 31 titik sumur yang tersebar pada Kelurahan Simomulyo,

Sukomanunggal, Tanjungsari, Sonokwijenan, Putatgede, Tandes Lor, Karangpoh,

Balongsari, Gedangasin, Buntaran, Bibis, Gadel, Tubanan, Manukan Kulon,

Manukan Wetan, Banjarsugihan, Tandes Kidul, Kandangan, Semami, Tambak

osowilangun, Romokalisari, Bringin, Made, Sambikerep, Lontar, Lidah Wetan,

Pakal, Benowo, Tambak Langon, Greges, Asemrowo dan Genting.

Nilai TDS di wilayah Surabaya Barat yang tergolong ke dalam kategori

sadah ringan sebanyak 10 titik sumur yang tersebar di Kelurahan Klakah rejo,

Made, Jeruk, Lakarsantri, Babat Jerawat, Sumberrejo, Tambakdono, Tambak

Langon, Greges dan Genting. Nilai TDS yang tergolong tinggi di wilayah Surabaya

Barat terdapat di Kelurahan Kalianak. Persebaran nilai TDS di wilayah Surabaya

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 66

Barat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu penyebab nilai TDS yang tinggi

adalah terkontaminasi oleh limbah padat dan limbah cair yang meresap ke dalam

tanah dan mempengaruhi kualitas sehingga menyebabkan TDS meningkat.

(suryana,2013).

4.1.4 Nilai pH air sumur di wilayah Surabaya Barat

Persebaran nilai pH air sumur warga di wilayah Surabaya Barat dapat dilihat

pada Tabel 4.5 di bawah ini

Tabel 4.5 Nilai pH air sumur di wilayah Surabaya Barat


Keca- pH
Titik Nama wilayah Skor
matan I II Rerata SD
S1 Simomulyo 7,4 7,4 7,4 0 1
Sukomanunggal

S2 Sukomanunggal 7,2 7 7,1 0,1414 1


S3 Tanjungsari 6,9 6,9 6,9 0 0
S4 Sonokwijenan 7,3 7,3 7,3 0 0
S5 Putatgede 7,2 7,2 7,2 0 0
S6 Tandes Lor 7,7 7,7 7,7 0 1
S7 Karangpoh 7,6 7,7 7,65 0,0707 1
S8 Balongsari 8,2 8,2 8,2 0 3
S9 Gedangasin 7,9 7,9 7,9 0 2
S10 Buntaran 7,6 7,6 7,6 0 1
Tandes

S11 Bibis 8,2 8,1 8,15 0,0707 2


S12 Gadel 7,4 7,4 7,4 0 1
S13 Tubanan 7,9 7,9 7,9 0 2
S14 Manukan kulon 7,8 7,7 7,75 0,0707 1
S15 Manukanwetan 7,1 7,1 7,1 0 0
S16 Banjarsugihan 7,7 7,8 7,75 0,0707 1
S17 Tandes Kidul 7,5 7,5 7,5 0 1
S18 Kandangan 8,2 8,3 8,25 0,0707 3
Benowo

S19 Klakahrejo 7,7 7,7 7,7 0 1


S20 Semami 7,6 7,6 7,6 0 1

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 67

Lanjutan Tabel 4.5

Keca- pH
Titik Nama wilayah Skor
matan I II Rerata SD

S21 Tambakosowilangun 7,8 7,8 7,8 0 2

S22 Romokalisari 7,8 7,8 7,8 0 2


S23 Bringin 7,7 8 7,85 0,2121 2
Sambikerep

S24 Made 7,6 7,6 7,6 0 1


S25 Sambikerep 7,6 7,5 7,55 0,0707 1
S26 Lontar 8 8 8 0 2
S27 Lidah Wetan 7,3 7,3 7,3 0 0
S28 Lidah Kulon 7,8 7,7 7,75 0,0707 1
Lakarsantri

S29 Sumur welut 7,7 7,7 7,7 0 1


S30 Bangkingan 7,8 7,7 7,75 0,0707 1
S31 Jeruk 7,8 7,8 7,8 0 2
S32 Lakarsantri 7,7 7,6 7,65 0,0707 1
S33 Babat Jerawat 9 9 9 0 4
S34 Pakal 7,7 7,6 7,65 0,0707 1
Pakal

S35 Benowo 8 7,9 7,95 0,0707 2


S36 Sumberrejo 7,6 7,6 7,6 0 1
S37 Tambakdono 7,8 7,8 7,8 0 2
S38 Tambak langon 7,4 7,4 7,4 0 1
Asemrowo

S39 Greges 7,6 7,7 7,65 0,0707 1


S40 Kalianak 8,1 8,1 8,1 0 2
S41 Asemrowo 7,6 7,6 7,6 0 1
S42 Genting 7,8 7,8 7,8 0 2
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong rendah
: Tingkat sadah tergolong menengah
: Tingkat sadah tergolong tinggi
: Tingkat sadah tergolong sangat tinggi

Nilai pH air sumur di wilayah Surabaya Barat memiliki rentang antara 6,9

– 9. Nilai pH tertinggi di wilayah Surabaya Barat terletak di titik sampel S33 yang

berada di Kelurahan Babat Jerawat dengan nilai pH sebesar 9. Analisis nilai pH

yang dilakukan sebanyak duplo menghasilkan nilai pH sama antara sampel pertama

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 68

dan kedua sehingga didapatkan nilai standar deviasi 0. Nilai pH terendah air sumur

di wilayah Surabaya Barat terletak pada titik sampling S3 yang berada di Kelurahan

Tanjungsari dengan besarnya nilai pH sebesar 6,9 dengan nilai sampel ke -1 dan ke

– 2 sama yaitu 9 sehingga nilai standar deviasi sebesar 0. pH air sumur yang di

daerah Surabaya Barat memiliki nilai pH berkisar 6 – 9. Hal ini disebabkan air

sumur di Surabaya Barat memiliki potensi memiliki tingkat sadah.

Nilai pH yang tergolong kategori tidak sadah sebanyak 5 titik yang tersebar

di Kelurahan Tanjungsari, Sonokwijenan, Putatgede, Manukan Wetan dan

Manukan Kulon. Nilai pH yang tergolong kategori sadah ringan sebanyak 21 titik

yang terdiri dari Kelurahan Simomulyo, Sukomanunggal, Tandes Lor, Karangpoh,

Buntaran, Gadel, Manukan Kulon, Banjarsugihan, Tandes Kidul, Klakahrejo,

Made, Sambikerep, Lidah Kulon, Sumur Welut, Bangkingan, Lakarsantri, Pakal,

Sumberrejo, Tambak Langon, Greges dan Asemrowo.

Nilai pH yang tergolong kedalam kategori sadah menengah sebanyak 12

titik yang tersebar di Kelurahan Gedangasin, Bibis, Tubanan,

Tambakaosowilangun, Romokalisari, Bringin, Lontar, Jeruk, Benowo,

Tambakdono, Kalianak dan Genting. Nilai pH air yang tergolong kedalam katergori

sadah tinggi sebanyak 3 titik yang tersebar di Kelurahan Balongsari, Kandangan

dan Semami. Nilai sadah yang tergolong kategori sadah sangat tinggi sebanyak 1

Kelurahan yang terletak di Kelurahan Babat Jerawat.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 69

4.1.5 Nilai salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat

Nlai salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat dapat dilihat pada tabel

4.6 dibawah ini

Tabel 4.6 Nilai salinitas air sumur di wilayah Surabaya Barat


Keca- Salinitas
Titik Nama wilayah Skor
matan I II Rerata
Sukomanunggal

S1 Simomulyo 0 0 0 0
S2 Sukomanunggal 0 0 0 0
S3 Tanjungsari 0 0 0 0
S4 Sonokwijenan 0 0 0 0
S5 Putatgede 0 0 0 0
S6 Tandes Lor 0 0 0 0
S7 Karangpoh 0 0 0 0
S8 Balongsari 0 0 0 0
S9 Gedangasin 0 0 0 0
S10 Buntaran 0 0 0 0
Tandes

S11 Bibis 0 0 0 0
S12 Gadel 0 0 0 0
S13 Tubanan 0 0 0 0
S14 Manukan kulon 0 0 0 0
S15 Manukanwetan 0 0 0 0
S16 Banjarsugihan 0 0 0 0
S17 Tandes Kidul 0 0 0 0
S18 Kandangan 0 0 0 0
S19 Klakahrejo 0 0 0 0
Benowo

S20 Semami 0 0 0 0
S21 Tambakosowilangun 0 0 0 0
S22 Romokalisari 0 0 0 0
S23 Bringin 0 0 0 0
Sambikerep

S24 Made 0 0 0 0
S25 Sambikerep 0 0 0 0
S26 Lontar 0 0 0 0
S27 Lidah Wetan 0 0 0 0
Lakarsantri

S28 Lidah Kulon 0 0 0 0


S29 Sumur welut 0 0 0 0
S30 Bangkingan 0 0 0 0
S31 Jeruk 0 0 0 0

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 70
Lanjutan Tabel 4.6

Keca- Salinitas
Titik Nama wilayah Skor
matan I II Rerata
S32 Lakarsantri 0 0 0 0
S33 Babat Jerawat 0 0 0 0
S34 Pakal 0 0 0 0
Pakal

S35 Benowo 0 0 0 0
S36 Sumberrejo 0 0 0 0
S37 Tambakdono 0 0 0 0
S38 Tambak langon 0 0 0 0
Asemrowo

S39 Greges 0 0 0 0
S40 Kalianak 20 20 20 2
S41 Asemrowo 0 0 0 0
S42 Genting 0 0 0 0
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong menengah

Hasil dari penelitian didapatkan bahwa nilai salinitas air tidak terlalu

mempengaruhi tingkat sadah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa dari analisis

didapatkan nilai salinitas dari semua titik sebesar 0 kecuali titik S40 yang berada di

Kelurahan Kalianak Asemrowo.

Hasil dari sampling dan analisis yang dilakukan dari sampel tiap sumur

memiliki besar yang berbeda-beda setiap nilai dari parameternya yang terdiri dari

parameter DHL, TDS, pH, salinitas dan kesadahan total. Parameter tersebut

memiliki hubungan yaitu saling berbanding lurus atau linear. Hal ini disebabkan

setiap parameter saling menguatkan atau mendukung dengan tingkat sadah yang

terdapat di sumur warga. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh

(Morintoh dkk., 2015) yang menyatakan bahwa nilai TDS, DHL memiliki

hubungan linear. Apabila nilai TDS tinggi DHL air sampel tersebut tinggi dan

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 71

begitu pula sebaliknya, TDS juga memiliki hubungan linear dengan tingkat sadah

air. Nilai TDS yang tinggi menunjukkan nilai tingkat sadah yang tinggi.

4.2 Tingkat Kesadahan Air Sumur menggunakan parameter Daya Hantar

Listrik, pH, Kesadahan Total, TDS dan Salinitas

Tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat dengan menggunakan

parameter daya hantar listrik, pH kesadahan total, TDS dan salinitas dapat dilihat

pada Tabel 4.7 di bawah ini :

Tabel 4.7 Tabel tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat
Keca- Kesadahan
Titik Salinitas TDS pH DHL Skor
matan Total
Sukomanunggal

S1 0 0 1 0 2 3
S2 0 0 0 0 2 2
S3 0 0 0 0 2 2
S4 0 0 0 0 2 2
S5 0 0 0 0 2 2
S6 0 0 1 0 2 3
S7 0 0 1 0 2 3
S8 0 0 3 0 2 5
S9 0 0 2 0 2 4
S10 0 0 2 0 2 4
Tandes

S11 0 0 2 0 2 4
S12 0 0 1 0 2 3
S13 0 0 2 0 2 4
S14 0 0 1 0 2 3
S15 0 0 0 0 2 2
S16 0 0 1 0 2 3
S17 0 0 1 0 2 3
S18 0 0 3 0 2 5
S19 0 1 1 1 2 5
Benowo

S20 0 0 1 0 2 3
S21 0 0 2 0 2 4
S22 0 0 2 0 2 4
Sambiker

S23 0 0 2 0 2 4
ep

S24 0 1 1 0 3 5
S25 0 0 1 0 2 3

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 72

Lanjutan Tabel 4.7


Keca- Kesadahan
Titik Salinitas TDS pH DHL Skor
matan Total
S26 0 0 2 0 2 4
S27 0 0 0 0 2 2
S28 0 0 1 1 3 5
Lakarsantri

S29 0 0 1 1 2 4
S30 0 0 1 1 2 4
S31 0 1 2 1 4 8
S32 0 1 1 1 4 7
S33 0 1 4 1 3 9
S34 0 0 1 0 2 3
Pakal

S35 0 0 2 0 3 5
S36 0 1 1 1 3 6
S37 0 1 2 1 3 7
S38 0 1 1 0 3 5
Asemrowo

S39 0 1 1 0 3 5
S40 2 2 2 2 4 12
S41 0 0 1 0 2 3
S42 0 1 2 0 2 5
Sumber : Hasil Pengukuran
Keterangan :
: Tingkat sadah tergolong tidak sadah
: Tingkat sadah tergolong rendah
: Tingkat sadah tergolong menengah
: Tingkat sadah tergolong tinggi

Pada tabel 4.7 dapat dilihat hasil tingkat sadah air sumur warga di wilayah

Surabaya Barat. Berdasarkan hasil penelitian dan skoring air sumur di wilayah

Surabaya Barat memiliki beberapa macam tingkat sadah. Air sumur yang tergolong

tidak sadah sebanyak 17 sumur. Air sumur yang tergolong tidak sadah terdiri dari

5 sumur sampel yang ada di Kecamatan Sukomanunggal yaitu sumur yang terdapat

di Kelurahan Simomulyo, Sukomanunggal, Tanjungsari, Sonokwijenan, dan

Putatgede. Sumur tersebut pada peta disimbolkan dengan titik S1, S2, S3, S4 dan

S5. Sumur yang tidak tergolong sadah di Kecamatan Tandes sebanyak 8 sumur

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 73

sampel yang terdiri dari titik sumur S6, S9, S10, S12, S14, S15, S16 dan S17. Sumur

sampel tersebut berada di Kelurahan Tandes Lor, Gedangasin, Buntaran, Gadel,

Manukan Kulon, Manukan Wetan, Banjarsugihan dan Tandes Kidul. Air sumur lain

yang tergolong tidak sadah adalah pada titik S20, S25, S27, dan S41 yang berlokasi

di Kelurahan Semami, Kelurahan Sambikerep, Kelurahan Lidah Wetan dan

Kelurahan Asemrowo.

Air sumur yang memiliki tingkat sadah ringan terdiri dari 20 sumur yang

berada pada titik sampling S7, S8, S11, S13, S18, S19, S21, S22, S23, S24, S26,

S28, S29, S30, S34, S35, S36, S38, S39 dan S42. Air sumur tersebut berada di

Kelurahan Karangpoh, Balongsari, Bibis, Tubanan, Kandangan, Klakahrejo,

Tambakosowilangun, Romokalisari, Bringin, Made, Lontar, Lidah Kulon, Sumur

Welut, Bangkingan, Pakal, Benowo, Sumberrejo, Tambaklangon, Greges dan

Genting.

Pada hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan sebanyak 4 sumur

yang memiliki tingkat sadah yang menengah. Air sumur yang memiliki tingkat

sadah menengah berada pada titik sumur S31, S32, S33, dan S37. Sumur tersebut

berada di 2 titik di Kecamatan Lakarsantri yaitu pada Kelurahan Jeruk dan

Lakarsantri. 1 sumur di Kelurahan Babat Jerawat dan 1 Sumur di Kelurahan

Tambak Dono. Tingkat sadah yang paling tinggi di Surabaya Barat terletek di

Kelurahan Kalianak dengan tingkat sadah mencapai 10 nilai skoring.

Penyebab tingkat sadah tinggi di Kelurahan Kalianak disebabkan oleh

intrusi air laut sehingga menyebabkan kandungan mineral di penyebab kesadahan

yang dari laut masuk ke dalam dan mempengaruhi kualitas air sumurnya. Hal ini

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 74

serupa dengan pernyataannya Biyantoro dan Basuki (2007), bahwa air laut

memiliki kandungan mineral penyabab kesadahan.

4.3 Korelasi antara parameter DHL, TDS, salinitas, pH dan kesadahan total

dengan tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat

4.3.1 Korelasi antara parameter DHL dengan tingkat sadah pada air sumur

warga.

Pengaruh setiap parameter terhadap tingkat sadah di sumur wilayah

penduduk di wilayah Surabaya Barat dapat dilihat dengan melakukan analisis

regresi. Analisis regresi merupakan suatu metode sederhana untuk melakukan

investigasi tentang hubungan fungsional di antara beberapa variabel. Hubungan

antara beberapa variabel diwujudkan dalam suatu model statistik. Variabel

dibedakan menjadi 2 jenis yaitu variabel bergantung dan variabel bebas. Variabel

bergantung dinyatakan dalam notasi x dan variabel bebas dinotasikan dengan y.

Pada penelitian ini variabel x merupakan nilai DHL dan variabel y merupakan

tingkat sadah air. DHL digunakan sebagai variabel bebas dikarenakan tingkat sadah

air dipengaruhi oleh nilai DHL. Nilai DHL yang tinggi mengakibatkan nilai tingkat

sadah air tinggi karena nilai DHL merupakan nilai yang menentukan banyaknya

jumlah mineral yang terdapat dalam air yang didasarkan besarnya kemampuan daya

hantar listrik suatu larutan berdasarkan jumlah mineral yang terdapat di dalam air.

Penentuaan nilai regresi dalam penelitian menggunakan program software

SPPS. Nilai SPSS ditunjukkan untuk mengetahui hubungan antara parameter DHL

dengan nilai kesadahan total. Hasil perhitungan regresi SPSS dapat dilihat pada

lampiran 3. Nilai korelasi (r) yang didapat sebesar 0,542 yang artinya terdapat

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 75

keterkaitan antara besarnya nilai parameter DHL dengan besarnya nilai parameter

kesadahan total. Hubungan antara kedua parameter tersebut adalah parameter

tersebut memiliki nilai searah yang artinya nilai DHL yang tinggi pada suatu

perairan berpotensi menyebabkan nilai kesadahan total yang tinggi.

Gambar 4.1 Grafik korelasi antara nilai DHL dengan tingkat sadah

Faktor lain yang dapat mempengaruhi besarnya tingkat sadah adalah jarak

sumur , jenis tanah dilokasi pengambilan dan keadaan cuaca saat pengambilan.

Jenis tanah ditempat lokasi pengambilan sampel mempengaruhi dikarenakan jenis

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 76

tanah yang ada sangat mempengaruhi besarnya nilai kandungan mineral yang

terdapat di dalam air sumur warga. Kandungan mineral yang ada di tanah masuk

ke dalam air sehingga menyebabkan keesadahan total di dalam perairan meningkat.

4.3.2 Korelasi antara parameter TDS dengan tingkat sadah air sumur di

wilayah Surabaya Barat

Parameter TDS merupakan parameter yang digunakan untuk mengetahui

besarnya kandungan mineral yang terdapat dalam air sumur. Air yang memiliki

tingkat sadah yang tinggi memiliki potensi kandungan mineral yang tinggi sehingga

parameter TDS penting dalam analisis tingkat sadah air sumur. Pada penelitian ini

dilakukan hubungan keterkaitan antara parameter TDS dengan tingkat sadah air.

Parameter TDS dikategorikan sebagai variabel bebas atau dinotasikan dengan X.

Tingkat sadah air dijadikan variabel y karena tingkat sadah air sangat dipengaruhi

oleh besarnya nilai TDS yang terdapat pada air sampel. Hasil dari perhitungan

hubungan korelasi dengan menggunakan software SPSS didapatkan hasil bahwa

parameter TDS memiliki nilai regresi terhadap tingkat sadah sebesar 0,585. Berikut

ini merupakan grafik hasil dari analisis korelasi antara TDS dengan tingkat sadah

menggunakan software SPSS.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 77

Gambar 4.2 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan TDS

4.3.3 Korelasi antara parameter salinitas dengan tingkat sadah air sumur di

wilayah Surabaya Barat

Berikut ini merupakan grafik kolerasi antara parameter salinitas dengan

tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 78

Gambar 4.3 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan salinitas

Hasil dari analisis korelasi antara parameter salinitas dengan tingkat sadah

air sumur di wilayah Surabaya Barat didapatkan bahwa hubungan regresi antara

parameter salinitas dengan tingkat sadah sebesar 0,305. Nilai tersebut lebih kecil

dibandingkan dengan besarnya korelasi antara parameter TDS dengan tingkat

sadah. Pada penelitian ini yang digunakan sebagai variabel bebas atau x adalah

parameter salinitas dan tingkat sadah sebagai variabel y. Hal ini dikarenakan pada

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 79

penelitian ini diukur korelasi hubungan parameter salinitas dengan tingkat sadah air

sumur yang terdapat di wilayah Suabaya Barat.

4.3.4 Korelasi antara parameter pH dengan tingkat sadah

pH merupakan parameter yang besarannya berdasarkan tingkat keasaman

suatu air. Pada penelitian ini pH merupakan salah satu parameter yang

mempengaruhi tingkat sadah air. Pada penelitian ini didapatkan bahwa korelasi

regresi antara nilai pH dengan tingkat sadah sebesar 0,423. Parameter pH sebagai

parameter bebas dan tingkat sadah sebagai variabel terikat.

Gambar 4.4 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan pH

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 80

4.3.5 Korelasi parameter kesadahan total dengan tingkat sadah air sumur di

wilayah Surabaya Barat

Berikut ini merupakan grafik regresi korelasi hubungan antara parameter

kesadahan total dengan tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat dengan

sampel sebanyak 42 sumur di 42 Kelurahan.

Gambar 4.5 Grafik korelasi antara tingkat sadah dengan kesadahan total

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 81

Hasil dari penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa korelasi regresi yang

dari parameter kesadahan total dengan tingkat sadah dengan sampel air sumur di

Surabaya Barat sebesar 0,640. Parameter kesadahan total merupakan parameter

yang paling tinggi korelasi regresinya dibandingkan dengan parameter yang lain.

Hal ini membuktikan bahwa parameter kesadahan total merupakan parameter yang

paling berpengaruh terhadap tingginya tingkat sadah air.

4.4 Peta Pesebaran Tingkat Sadah Air Sumur di Surabaya Barat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari analisis, dilakukan sampling dan

analisis di 42 lokasi titik sampling yang ada di 42 Kelurahan di wilayah Surabaya

Barat. Data yang peroleh perlu dilakukan pengolahan untuk mendapatkan informasi

dan mudah diinformasikan kepada masyarakat. Metode yang digunakan untuk

mengolah data salah satunya dengan menggunakan pemetaan dengan aplikasi SIG.

SIG merupakan data spasial dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit

atau data lain terdigitasi . Pemanfaatan SIG secara terpadu dalam sistem pengolahan

citra digital (Budiyanto, 2002). Pemanfaatan SIG akan memberikan kemudahan

kepada para penggunaan atau para pengambil keputusan untuk menentukan

kebijakan yang akan diambil. Berikut ini merupakan hasil pemetaan tingkat air

sadah warga di wilayah Surabaya Barat.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 82

Gambar 4.6 Pemetaan tingkat air sadah di wilayah Surabaya Barat

Gambar 4.6 merupakan hasil pemetaan tingkat air sadah di Surabaya Barat.

Pada Pemetaan diberikan warna yang berbeda agar untuk memudahkan dalam

proses pemberian informasi kepada pembaca peta. Berdasarkan gambar 4.6

terdapat 6 legenda yang setiap legenda diwakili satu simbol legenda. simbol

Tingkat sadah yang terdapat di Surabaya Barat terbagi menjadi 4 tingkatan. Air

yang tergolong tidak sadah disimbolkan dengan( ), air yang tergolong

memiliki tingkat sadah rendah disimbolkan dengan ( ), air yang tergolong

memiliki tingkat sadah menengah disimbolkan dengan ( ) dan air sumur yang

tergolong memiliki tingkat sadah tinggi disimbolkan dengan ( ). Air yang

tergolong tidak sadah berada di 17 titik di Surabaya Barat. Sebagian besar air sumur

yang tidak sadah berada di seluruh sumur sampel Kecamatan Sukomanunggal dan

sebagian dari sumur lain di wilayah Surabaya Barat. Sumur yang tergolong airnya

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 83

tidak sadah terletak pada sumur di Kelurahan Simomulyo, Sukomanunggal,

Tanjungsari, Sonokwijenan, Putatgede, Tandes Lor, Gedangasin, Buntaran, Gadel,

Manukan Kulon, Manukan Wetan, Banjarsugihan, Tandes Kidul, Semami,

Sambikerep, Lidah Wetan dan Asemrowo. Hal ini dimungkinkan terjadi

karena jenis tanah yang terdapat di daerah tersebut tidak mengandung mineral-

mineral penyebab kesadahan seperti tanah kapur dan mengandung magnesium. Hal

ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh (Said dan Rusliah, 2008) bahwa air akan

memiliki tingkat sadah tinggi ketika air tersebut mengalami kontak dengan batuan

kapur yang ada pada lapisan tanah.

Air yang tergolong memiliki tingkat sadah rendah berada di Kelurahan

Karangpoh, Balongsari, Bibis, Tubanan, Kandangan, Klakahrejo,

Tambakosowilangun, Romokalisari, Bringin, Made, Lontar, Lidah Kulon, Lidah

Sumur Welut, Bangkingan, Pakal, Benowo, Sumberrejo, Tambak Langon, Greges

dan Genting. Air yang memiliki tingkat sadah yang tergolong menengah terdiri dari

4 Kelurahan yaitu Kelurahan Jeruk, Lakarsantri, Babat Jerawat dan Tambakdono.

Titik air yang mengalami tingkat sadah yang sadah berada di titik S40 yaitu di

Kelurahan Kalianak. air yang memiliki tingkat sadah tertinggi yaitu di Kelurahan

Kalianak disebabkan oleh tercemarnya air sumur yang ada di Kelurahan Kalianak

yang menyebabkan kandungan mineral dari laut meresap ke dalam tanah dan

menyebabkan tingkat sadah dalam air meningkat. Hal ini serupa dengan pernyataan

Indriastoni dan Kustanti (2014), bahwa intrusi air laut dapat menyebabkan

perubahan kualitas air yang berada di dalam tanah.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB V

KESIIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan yang

didasarkan rumusan masalah sebagai berikut :

1. Hasil dari penelitian yang didapat tingkat sadah tertinggi di Surabaya Barat

terletak di Kelurahan Kalianak dengan nilai skor sebesar 12. Tingkat sadah

terendah di Surabaya Barat terletak di Kelurahan Sukomanunggal, Tanjungsari,

Sonokwijenan, Manukan Wetan dan Lidah Wetan dengan nilai skor sebesar 2.

2. Tingkat sadah di Surabaya Barat memiliki kisaran sebesar 2 – 12. Nilai yang

memiliki tingkat sadah 2 terletak di Kelurahan Sukomanunggal, Tanjungsari,

Sonokwijenan, Manukan Wetan dan Lidah Wetan. Tingkat sadah yang memiliki

skor 3 terletak di Kelurahan Simomulyo, Putatgede, Tandes Lor, Gedangasin,

Buntaran, Gadel, Manukan Kulon, Banjarsugihan, Tandes Kidul, Semami,

Sambikerep dan Asemrowo. Tingkat sadah yang memiliki skor 4 terletak di

Balongsari, Bibis, Tubanan, Tambakosowilangon, Romokalisari, Bringin,

Lontar, Sumur Welut, Bangkingan dan Pakal. Tingkat sadah yang memiliki skor

5 terletak di Kelurahan Karangpoh, Kandangan, Klakahrejo, Made, Lidah

Kulon, Benowo, Sumberrejo, Tambaklangon, Greges dan Genting. Tingkat

sadah yang memiliki skor 7 terletak di Kelurahan Lakarsantri dan Tambakdono.

Tingkat sadah yang memiliki skor 8 terletak di Kelurahan Jeruk. Tingkat sadah

84
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 85

yang memiliki skor 9 terletak di Kelurahan Babat Jerawat. Tingkat sadah yang

memiliki skor 11 terletak di Kelurahan Kalianak.

3. Terdapat korelasi antara setiap parameter yang diujikan yaitu parameter

kesadahan total, DHL, TDS, salinitas dan pH terhadap tingkat sadah air sumur

di wilayah Surabaya Barat.

4. Hasil dari penelitian didapatkan persebaran tingkat sadah air sumur di wilayah

Surabaya Barat, Air sumur tidak sadah terletak di Kelurahan Sukomanunggal,

Simomulyo, Tanjung sari, Sonokwijenan, Putatgede, Tandes Lor, Gedang asin,

Buntaran, Gadel, Manukan Kulon, Manukan Wetan, Banjarsugihan, Tandes

Kidul, Sambikerep, Lidah Wetan dan Asemrowo. Sumur yang memiliki air

sadah ringan terletak di Kelurahan Karangpoh, Balongsari, Bibis, Tubanan,

Kandangan, Klakahrejo, Tambakosowilangun, Romokalisari, Bringin, Made,

Lontar, Lidah Kulon, Sumur Welut, Bangkingan, Pakal, Benowo, Sumberrejo,

Tambak Langon, Greges dan Genting. Sumur yang tergolong memiliki air

dengan tingkat sadah menengah terletak pada Kelurahan Jeruk, Lakarsantri,

Babat Jerawat dan Tambakdono. Sumur yang memiliki tingkat sadah keras

terletak di Kelurahan Kalianak.

5. Adanya peta persebaran tingkat sadah air sumur dapat memudahkan pemantauan

tingkat air sadah berdasarkan parameter TDS, DHL, salinitas, pH dan kesadahan

total.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 86

5.2 Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut :

1. Pengambilan sampel memperhatikan kondisi cuaca.

2. Pengambilan data sekunder didahulukan sehingga menghemat waktu dalam

penelitian dan dapat memperkirakan hasil yang didapat.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, M. F., 2011. Pemetaan Kualitas Air Tanah di Desa Dauh Puri Kaja Kota
Denpasar. Tesis Program Pascasarjana Universitas Udayana, Hal : 5 – 6.
Afrizal I., D., Askari, M., dan Andayono T. 2013. Perbedaan Kualitas Air Sumur
Gali dan Sumur Bor Perumahan Griya Cahaya 2 Gunung Sariak Kota
Padang. Jurnal Cived ISSN 2302-3341. 1(2). Hal 1—3.
Amirah. 2012. Pengaruh Timbunan Sampah di Lahan Terbuka Terhadap Kualitas
Air Tanah di Sekitar Tempat Penampungan Sampah Sementara
Kelurahan Batu Ampar. Skripsi, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia,
Hal : 13
Arief, D. 1984. Pengukuran Salinitas Air Laut dan Perannya dalam Ilmu Kelautan.
Jurnal Oseana, 9 (1) : 1 – 3.
Astuti, Rahayu M., dan Rahayu S. 2015. Penetapan Kesadahan Total (CaCO 3)Air
Sumur di Dusun Cekelan Kemusu Boyolali dengan Metode
Kompleksometri. Jurnal Kesmas, 9 (2). Hal 2 – 3.
Bahri, S. dan Madlazim. 2012. Pemetaan Topografi, Geofisika dan Geologi Kota
Surabaya. Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya, 2(2) : 1 – 6.
Biyantoro D., dan Basuki K., T. 2007. Pengukuran dan Analisis Unsur-Unsur
pada Air Laut Muria Untuk Air Primere PWR. Prosiding PPI-PDIPTN.
Pusat Akselerator dan Proses Bahan – Batan. Yogyakarta
Budiyanto, E. 2002. Sistem Informasi Geografis Menggunakan Arcview GIS.
Andi Yogyakarta, Hal : 2 – 8.
Cahyana, G., H. 2010. Variasi Teknologi Pengurangan Kesadahan dalam
Pengolahan Air Minum. Jurnal Sosioteknologi Terapan. Hal 39 – 49.
Dinas Cipta Karya, 2002. Profil Kota Surabaya. http/www.ciptakarya.pu.go.id.
Diakses pada 28 Oktober 2015.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hal:
Indriastoni, R., N. Dan Kustini, I. 2014. Intrusi Air Laut Terhadap Kualitas Air
Tanah Dangkal di Kota Surabaya. Rekayasa Teknik Sipil, 3(3): 248 –
250.
Izhar, M., D., Haripurnomo, K. dan Darmoatmodjo, S. 2007. Hubungan antara
Kesadahan Air Minum, Kadar Kalsium dan Sedimen Kalsium Oksalat
Urin pada Anak Usia Sekolah Dasar. Berita Kedokteran Masyarakat.
23(4). 200 – 201.

88
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Krishnaraj S., Kumar S., dan Elango K. P., 2015. Spatial Analyisis of
Groundwater Quality Using Geographic Information System. Journal of
Environmental Science, Toxicology and Food Technology. 9(2). 1 – 6.
Kurniawan, D. 2008. Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih bagi Masyarakat di
Perumnas Pucanggading, Tugas Akhir, Juusan Perencanaan Wilayah dan
Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang.
Kyuma, K. Dan Takaya Y. 1969. Black soils in eastern India. Tonan Ajia
Kenkyu, 6(1). Hal : 247 – 256.
Latifah, D. 2014. Analisis Daya Hantar Listrik (DHL) Air Tanah Asin dan
Dampak Pada Peralatan Rumah Tangga, Publikasi Karya Ilmiah,
Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Surabaya. 2012. Pemerintah Kota
Surabaya Provinsi Jawa Timur. Hal: 1 – 3.
Marsidi, R. 2001. Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air. Jurnal Teknologi
Lingkungan, 2(1). 1 – 3.
Morintoh, P., Rumampuk, J. F. dan Lintong, F. 2015. Analisis Perbedaan Uji
Kualitas Air Sumur di Daerah Dataran Tinggi Kota Tomohon dan
Dataran Rendah Kota Manado Berdasarkan Parameter Fisika.Jurnal e-
biomedik. 3(1). 1 – 6.
Nugroho, G. S., Nugroho, D., Hasbi, M., 2013. Geographic Information
SystemPenyebaran DBD Berbasis Web di Wilayah Kota Solo. Jurnal
TIKomSiN.
Octaviani, F. R. 2014. Pemetaan Indikasi Intrusi Air Laut di Wilayah Pesisir
Kabupaten Sidoarjo Berbasis Sistem Informasi Geografis, Skripsi,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.
Puntodewo, A., Dewi, S., dan Tarigan J. 2003. Sistem Informasi Geografis
Untuk Pengelolaan Lingkungan Hidup. Center for International
Foresty Reasearch, Jakarta. Hal : 9 – 12.
Rohmat, D. 2008. Materi Pengkayaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bagi
Dunia Pendidikan Se Jawa Barat. ISBN 978- 97996916 -8 -2, Buana
Nusantara Bandung. Hal : 315 – 316.
Said, N. I., dan Ruliasih. 2008. Teknologi Pengolahan Air Minum. Pusat
Teknologi Lingkungan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan
Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapatan Teknologi. Hal :
387 – 389.
Saksono, N. 2006. Magnetisasi Air Sadah untuk Pencegahan Pembentukan Kerak.
Jurnal Teknologi, 4(20): 293 – 294.

89
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Setyaningsih, N. 2014. Analisis Kesadahan Air Tanah di Kecamatan Toroh


Kabupaten Grobogan Provinsi Jawa Tengah. Skripsi. Fakultas Geografi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Hal : 3 – 12.
Setiawan, M., I. 2003. Study Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih PDAM Kota
Surabaya Tahun Proyeksi (2015), Neutron, 3(1):47-48.
Standar Nasional Indonesia. 2004. Air dan air limbah- bagian 12 : cara uji
kesadahan total kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dengan metode
titrimetri. Badan Standar Nasional. Jakarta, Hal 7: –11
Suryana, R. 2013. Analisis Kualitas Air Sumur Dangkal di Kecamatan
Biringkanayya Kota Makassar. Tugas Akhir. Jurusan Sipil Fakultas
Teknik , Universitas Hasanuddin, Makassar.
Undang – Undang Sumber Daya Air. 2004. Undang – Undang Republik Indonesia
Nomor 7 Tahun 2004. Pustaka Widyatama, Yogyakarta. Hal: 6 – 10.
Wahyudi H. 2009. Potensi Air Tanah. Jurnal Seminar Nasional Aplikasi
Teknologi Prasarana Wilayah. Hal 1—2.
Wahjono, H.D., Warto, Martono, D. H., Wahyono, S., dan Tjahjono, H., 2012.
Laporan Kemajuan Pengembangan Sistem Pemantauan Kualitas Air
Realtime Berbasis Open Source Software. Pusat Teknologi Lingkungan.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.
Wibowo, M., 2001. Pemodelan Statistik Hubungan Debit dan Kandungan
Sedimen Sungai Contoh Kasus di DAS Citarum Nanjung. Jurnal
Teknologi Lingkungan. 2(3). 255-260.
Widada, S. 007. Gejala Intrusi Air Laut di Daerah Pantai Kota Pekalongan. Jurnal
Ilmu Kelautan. 12(1). 45 – 52.
Widayat, W. 2007. Teknologi Pengolahan Air Minum dari Air Baku yang
Mengandung Kesadahan Tinggi, JAI 4(1). 13 – 16.
Yuliandini A. dan Putra A. 2013. Pengaruh Formasi Batuan Terhadap
Karakteristik Hidrokimia Lima Sumber Mata Air Panas di Daerah Sapan,
Pinang Awan, Kecamatan Alam Pauah Duo, Kabupaten Solok Selatan.
Jurnal Fisika Unand. 2(4). Hal : 213 – 215.

90
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lampiran 1 Ringkasan Ilmiah

Pemetaan Kesadahan Total Air Sumur di Wilayah


Surabaya Barat Berbasis Aplikasi Sistem Informasi
Geografis

Muhammad Ali Akbar Aribiyanto*a, Thin Soedartia, Trisnadi Widyaleksono


Catur Putrantoa
a
Program Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Airlangga, Indonesia

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui persebaran kesadahan total air sumur warga di
wilayah Surabaya Barat berbasis aplikasi sistem informasi geografis. Metode penelitian yang
dilakukan yaitu dengan penelitian sistematis dengan memilih 42 sumur di 42 Kelurahan
sebagai tempat penelitian di wilayah Surabaya Barat. Analisis kesadahan total dilaksanakan di
Laboratorium lingkungan Departemen Biologi Universitas Airlangga. Analisis yang dilakukan
untuk menentukan nilai kesadahan total adalah dengan metode titrasi kompleksometri. Alat
yang digunakan untuk proses titrasi adalah buret, tabung erlenmeyer, pipet volume, klem statis,
dan botol sampel. Bahan yang digunakan adalah bubuk indikator EBT, larutan buffer pH 10,
akuades dan larutan Na2EDTA 0,01 M. Hasil dari penelitian yang dilakukan didapatkan
kesadahan total tertinggi di Surabaya Barat terdapat pada titik sampel S40 atau yang berada di
Kelurahan Kalianak dengan nilai kesadahan total mencapai 600 mg/l dan kesadahan total
terendah terdapat di lokasi titik sampel S1 dan S3 yaitu sebesar 40 mg/l. Kesadahan total tinggi
disebabkan oleh beberapa faktor seperti jenis tanah, cuaca ketika pengambilan sampel air,
pasang surut air, dan kondisi lingkungan sekitar yang mempengaruhi kesadahan total.
Pemetaan kesadahan total dengan berbasis sistem informasi geografis bermanfaat untuk
mempermudah pemantauan tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat.
Kata kunci : Pemetaan, air sumur, kesadahan total, wilayah Surabaya Barat, Sistem Informasi Geografi

1. Pendahuluan
Surabaya merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur dan termasuk Kota terbesar kedua
di Indonesia dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 sekitar 3.181.325 jiwa. Jumlah
penduduk yang tinggi membutuhkan kebutuhan pokok yang tinggi salah satu kebutuhan pokok
tersebut adalah kebutuhan air bersih. Peningkatan kebutuhan air bersih mendorong manusia
untuk berusaha meyediakan air bersih, dalam arti luas peningkatan jumlah penduduk dan
aktivitas sosial yang berpengaruh pada peningkatan kebutuhan air bersih (Setiawan, 2003).
Air tanah adalah semua air yang terdapat di bawah permukaan yang dapat dimanfaatkan
untuk sumber air bagi aktivitas kehidupan. Air tanah berasal dari air hujan dan air permukaan
yang terkumpul di bawah permukaan tanah. Kualitas air tanah sangat bergantung pada sifat
lapisan tanahnya. Susunan unsur kimia air tanah tergantung pada lapisan tanah yang dilalui.
Air tanah yang melewati tanah kapur memiliki sifat sadah karena mengandung Ca(HCO3)2 dan
Mg(HCO3) (Abadi, 2011).

91
SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.
ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 92

Air sadah adalah istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation penyebab
kesadahan. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh adanya logam-logam atau kation yang
bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan Mg. Penyebab utama dari kesadahan adalah Ca dan
Mg.
Air sadah yang dikonsumsi oleh masyarakat untuk minum dapat menyebabkan
masyarakat terkena penyakit kencing batu yang diakibatkan oleh terbentuknya batu pada
saluran kemih (Izhar dkk., 2007). Rumah tangga yang menggunakan air dengan tingkat
kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak karena sabun menjadi
kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul sabun diikat oleh unsur Ca dan Mg
(Marsidi, 2001).
SIG merupakan teknologi yang sangat diandalkan untuk perencanaan pembangunan
dan pengelolaan wilayah berkelanjutan. SIG dapat dimanfaatkan untuk memetakan kondisi
lingkungan, melakukan pengukuran – pengukuran, melakukan monitoring, dan melakukan
pemodelan. SIG memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh pemetaan secara
konvensional. Efisiensi dan efektivitas dalam menyelesaikan dan memecahkan persoalan yang
terkait dengan lokasi atau ruang menjadi pilihan yang tepat (Rohmat, 2008).

2. Metode
Kegiatan ini dilakukan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan April 2016 sampai dengan
bulan Juni 2016. Pengambilan sampel dilakukan di sumur penduduk wilayah Surabaya Barat.
Analisis data dilakukan di Laboratorium Lingkungan Departemen Biologi, Fakultas Sains dan
Teknologi, Universitas Airlangga. Parameter kesadahan total diukur dengan menggunakan
metode analisis titrasi kompleksometri yang dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan
Departmen Biologi Universitas Airlangga. Air sampel dilakukan penngambilan dan analisis
secara duplo untuk lebih mendapatkan hasil yang lebih akurat. Air sampel yang diambil
dilakukan proses pengawetan dengan cara menyimpan air sampel ke dalam pendingin hingga
suhu mencapai 4oC. tingkat sadahnya dengan menggunakan metode skoring. Data hasil analisis
dipetakan berdasarkan letak geografisnya menggunakan software ArcGIS 10.2

3. Hasil dan Pembahasan


Persebaran kesadahan total berbasis Sistem Informasi Geografis
Penentuan nilai kesadahan total dilakukan dengan memberikan skor dari parameter dan
diklasifikasikan. Sampel dengan nilai kesadahan total 0 mg/l termasuk tidak sadah, < 50 mg/l
termasuk kesadahan ringan , 50 mg/l – 150mg/l termasuk kesadahan menengah, 151 mg/l –
300 mg/l kesadahan keras dan >300 mg/l sangat sadah.
Tabel-1 Hasil penilaian parameter kesadahan total
Keca- Kesadahan Total
Titik Nama wilayah Sd skoring Keterangan
matan I II Rerata
S1 Simomulyo 128 40 84 62,2254 2 menengah
Sukomanunggal

S2 Sukomanunggal 96 108 102 8,485281 2 menengah


S3 Tanjungsari 88 40 64 33,94113 2 menengah
S4 Sonokwijenan 100 100 100 0 2 menengah
S5 Putatgede 112 120 116 5,656854 2 menengah

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 93

Keca- Kesadahan Total


Titik Nama wilayah Sd skoring Keterangan
matan I II Rerata
S6 Tandes Lor 128 124 126 2,828427 2 menengah
S7 Karangpoh 104 124 114 14,14214 2 menengah
S8 Balongsari 116 124 120 5,656854 2 menengah
S9 Gedangasin 136 128 132 5,656854 2 menengah
S10 Buntaran 112 100 106 8,485281 2 menengah
Tandes

S11 Bibis 108 112 110 2,828427 2 menengah


S12 Gadel 108 140 124 22,62742 2 menengah
S13 Tubanan 136 108 122 19,79899 2 menengah
S14 Manukan kulon 132 112 122 14,14214 2 menengah
S15 Manukanwetan 120 136 128 11,31371 2 menengah
S16 Banjarsugihan 136 132 134 2,828427 2 menengah
S17 Tandes Kidul 120 108 114 8,485281 2 menengah
S18 Kandangan 116 100 108 11,31371 2 menengah
S19 Klakahrejo 144 156 150 8,485281 2 menengah
Benowo

S20 Semami 128 136 132 5,656854 2 menengah


S21 Tambakosowilangun 108 120 114 8,485281 2 menengah
S22 Romokalisari 140 148 144 5,656854 2 menengah
S23 Bringin 148 124 136 16,97056 2 menengah
Sambikerep

S24 Made 168 160 164 5,656854 3 sadah


S25 Sambikerep 120 120 120 0 2 menengah
S26 Lontar 132 124 128 5,656854 2 menengah
S27 Lidah Wetan 124 116 120 5,656854 2 menengah
S28 Lidah Kulon 216 220 218 2,828427 3 sadah
Lakarsantri

S29 Sumur welut 120 100 110 14,14214 2 menengah


S30 Bangkingan 108 120 114 8,485281 2 menengah
sangat
S31 Jeruk 340 332 336 5,656854 4
sadah
sangat
S32 Lakarsantri 320 320 320 0 4
sadah
S33 Babat Jerawat 172 192 182 14,14214 3 sadah
S34 Pakal 164 136 150 19,79899 2 menengah
Pakal

S35 Benowo 156 148 152 5,656854 3 sadah


S36 Sumberrejo 180 164 172 11,31371 3 sadah
S37 Tambakdono 168 160 164 5,656854 3 sadah
S38 Tambak langon 120 124 122 2,828427 3 sadah
S39 Greges 128 128 128 0 3 sadah
Asemrowo

sangat
S40 Kalianak 480 600 540 84,85281 4
sadah
S41 Asemrowo 112 100 106 8,485281 2 menengah
S42 Genting 148 156 152 5,656854 2 menengah

Hasil dari analisis kesadahan total didapatkan sumur yang memiliki kesadahan total di
wilayah Surabaya berkisar antara kategori menengah sampai sangat sadah. Hal ini dapat dilihat

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 94

pada Tabel-1. Pada titik sampel S1, S2, S3, S4, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S13, S14,
S15, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23 memiliki nilai kesadahan total yang menengah.
Hal ini dikarenakan penggunaan lahan pada daerah tersebut hanya digunakan untuk keperluan
domestik rumah tangga, sehingga risiko untuk tercemar akibat limbah industri tidak terlalu
tinggi seperti pada titik S24, S28, S33, S35, S36, S37, S38, S39.
Pada titik S40 yang berada di daerah Kelurahan Kalianak memiliki nilai kesadahan total
yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut pola penggunaan tata ruang
digunakan untuk industri sehingga memiliki potensi risiko tercemar oleh limbah industri.
Potensi yang lain yang menyebabkan tingginya nilai kesadahan total air sumur di titik S40
adalah pengaruh intrusi air laut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Indriastoni dan Kustani
(2004), intrusi air laut berpotensi mempengaruhi kualitas air sumur.
Pada titik S24 yaitu di Kelurahan Made memiliki nilai kesadahan total yang cukup tinggi.
Hal ini dikarenakan di sumur yang berada pada titik S24 berlokasi dekat dengan persawahan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Suryana (2013), yang menyatakan bahwa partikel – partikel
lumpur pada sawah dapat meresap ke dalam tanah. Partikel – partikel tersebut mengandung zat
padat terlarut yang terdiri dari zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Zat padat terlarut
yang bertambah di dalam air menyebabkan kesadahan total naik. Hal tersebut juga serupa yang
terjadi pada titik sampel yang berlokasi di sebagian Kecamatan Pakal yang titik sampel tersebut
berdekatan dengan sawah.
Pemantauan nilai kesadahan total perlu dilakukan sehingga keadaan yang menyebabkan
kesadahan total tinggi dapat diatasi dan ditinjau untuk kemanfaatannya yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Hasil dari nilai kesadahan total yang dihasilkan perlu diolah sehingga
informasinya dapat diakses dengan mudah dan dapat dipahami oleh masyarakat pada umumnya
(Wahjono dkk, 2012). Upaya yang dapat dilakukan untuk memudahkan pembaca untuk
mendapatkan informasi adalah dengan menggunakan aplikasi SIG. SIG merupakan data spasial
dalam bentuk digital yang diperoleh melalui data satelit atau data lain yang terdigitasi.SIG
memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memodifikasi warna, bentuk, ukuran simbol dari
masing-masing data sehingga dapat memberikan informasi dengan mudah (Nugroho dkk,
2013). Pemetaan kesadahan total di wilayah Surabaya Barat berbasis aplikasi sistem informasi
geografis dapat dilihat pada Gambar 1.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 95

Gambar 1 Peta persebaran kesadahan total di wilayah Surabaya Barat.

4. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemetaan pesebaran kesadahan total di wilayah Surabaya
Barat memudahkan dalam proses pemantauan kesadahan total. Kesadahan total tertinggi
terdapat pada titik sampel S40, S31 dan S32 yang termasuk dalam kategori kesadahan total
sangat sadah. Kesadahan total tergolong menengah terletak pada titik sampel S1, S2, S3, S4,
S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S13, S14, S15, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23.
Kesadahan total yang termasuk kategori sadah keras terdapat pada titik lokasi S24, S28, S33,
S35, S36, S37, S38, dan S39.

5. Daftar Pustaka
Setiawan, M., I. 2003. Study Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih PDAM Kota Surabaya Tahun
Proyeksi (2015), Neutron, 3(1):47-48.
Marsidi, R. 2001. Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air. Jurnal Teknologi Lingkungan,
2(1). 1 – 3.
Rohmat, D. 2008. Materi Pengkayaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bagi Dunia
Pendidikan Se Jawa Barat. ISBN 978- 97996916 -8 -2, Buana Nusantara Bandung.
Hal : 315 – 316.
Abadi, M. F., 2011. Pemetaan Kualitas Air Tanah di Desa Dauh Puri Kaja Kota Denpasar.
Tesis Program Pascasarjana Universitas Udayana, Hal : 5 – 6.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 96

Indriastoni, R., N. Dan Kustini, I. 2014. Intrusi Air Laut Terhadap Kualitas Air Tanah Dangkal
di Kota Surabaya. Rekayasa Teknik Sipil, 3(3): 248 – 250.
Izhar, M., D., Haripurnomo, K. dan Darmoatmodjo, S. 2007. Hubungan antara Kesadahan Air
Minum, Kadar Kalsium dan Sedimen Kalsium Oksalat Urin pada Anak Usia Sekolah
Dasar. Berita Kedokteran Masyarakat. 23(4). 200 – 201.
Nugroho, G. S., Nugroho, D., Hasbi, M., 2013. Geographic Information SystemPenyebaran
DBD Berbasis Web di Wilayah Kota Solo. Jurnal TIKomSiN.
Suryana, R. 2013. Analisis Kualitas Air Sumur Dangkal di Kecamatan Biringkanayya Kota
Makassar. Tugas Akhir. Jurusan Sipil Fakultas Teknik , Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Wahjono, H.D., Warto, Martono, D. H., Wahyono, S., dan Tjahjono, H., 2012. Laporan
Kemajuan Pengembangan Sistem Pemantauan Kualitas Air Realtime Berbasis Open
Source Software. Pusat Teknologi Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi, Jakarta.

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 97

Lampiran 2 Hasil dan Data Penentuan Titik Sampling menggunakan Data GPS serta Waktu
Pengambilan Sampel

Jadwal Titik Pengambilan


Titik Kecamatan Wilayah
Pengambilan
Latitude Longitude

S1 Simomulyo 07/04/2016 7°15'59.21"S 112°42'24.20"T

Suko-
Sukomanunggal

S2 07/04/2016 7°15'54.48"S 112°41'50.76"T


manunggal
Tanjung-
S3 07/04/2016 7°15'45.52"S 112°41'37.73"T
sari
Sonok-
S4 09/04/2016 7°16'2.83"S 112°42'0.36"T
wijenan
S5 Putatgede 09/04/2016 7°16'28.75"S 112°42'17.49"T
S6 Tandes Lor 09/04/2016 7°15'38.02"S 112°41'15.58"T
S7 Karangpoh 29/05/2016 7°15'37.47"S 112°40'51.52"T
S8 Balongsari 28/05/2016 7°15'56.23"S 112°40'43.51"T
Gedang-
S9 23/04/2016 7°15'31.22"S 112°40'28.59"T
asin
S10 Buntaran 06/05/2016 7°15'28.79"S 112°40'41.43"T

S11 Bibis 05/05/2016 7°15'41.10"S 112°40'30.20"T


Tandes

S12 Gadel 06/05/2016 7°16'14.46"S 112°40'43.86"T

S13 Tubanan 05/05/2016 7°16'18.08"S 112°40'32.78"T


Manukan-
S14 31/05/2016 7°15'29.40"S 112°40'13.21"T
kulon
Manukan-
S15 29/05/2016 7°15'24.14"S 112°39'50.87"T
wetan
Banjar-
S16 23/04/2016 7°15'20.12"S 112°39'36.36"T
sugihan
Tandes-
S17 07/06/2016 7°15'52.56"S 112°39'55.71"T
Kidul
S18 Kandangan 23/04/2016 7°15'12.07"S 112°39'9.07"T
S19 Klakahrejo 23/04/2016 7°15'9.30"S 112°38'58.44"T
Benowo

S20 Semami 23/04/2016 7°15'5.16"S 112°38'40.38"T


T.oso-
S21 21/05/2016 7°12'41.44"S 112°39'8.17"T
wilangun

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 98
lanjutan Lampiran 2

Jadwal Titik Pengambilan


Titik Kecamatan Wilayah
Pengambilan
Latitude Longitude

Romo-
S22 31/05/2016 7°11'56.35"S 112°38'49.81"T
kalisari
S23 Bringin 07/05/2016 7°15'53.58"S 112°38'48.60"T
Sambikerep

S24 Made 06/05/2016 7°16'31.51"S 112°38'2.26"T


Sambi-
S25 06/05/2016 7°16'36.54"S 112°39'8.82"T
kerep
S26 Lontar 29/05/2016 7°16'51.61"S 112°39'57.89"T
Lidah
S27 06/05/2016 7°18'25.80"S 112°40'21.00"T
Wetan
Lidah-
S28 16/05/2016 7°18'23.80"S 112°39'50.50"T
Kulon
Lakarsantri

Sumur-
S29 16/05/2016 7°19'31.92"S 112°40'8.70"T
welut
Bang-
S30 29/05/2016 7°19'21.36"S 112°37'30.06"T
kingan
S31 Jeruk 18/05/2016 7°18'6.60"S 112°38'52.26"T
S32 Lakarsantri 17/05/2016 7°18'10.46"S 112°38'6.61"T
Babat-
S33 23/04/2016 7°14'23.22"S 112°37'30.06"T
Jerawat
S34 Pakal 05/05/2016 7°14'24.00"S 112°36'57.72"T
Pakal

S35 Benowo 05/05/2016 7°14'14.20"S 112°36'35.57"T

S36 Sumberrejo 07/06/2016 7°13'58.87"S 112°36'24.91"T


Tambak-
S37 07/06/2016 7°13'44.60"S 112°36'39.10"T
dono
Tambak-
S38 28/05/2016 7°13'34.33"S 112°39'55.22"T
langon
Asemrowo

S39 Greges 28/05/2016 7°13'51.83"S 112°41'43.62"T


S40 Kalianak 17/05/2016 7°14'8.34"S 112°42'29.16"T
S41 Asemrowo 29/05/2016 7°15'21.72"S 112°42'31.86"T
S42 Genting 06/05/2016 7°15'30.05"S 112°42'22.34"T

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 99

Lampiran 3 Hasil skor tingkat sadah air sumur di wilayah Surabaya Barat

Kesadahan
Kecamatan Titik Salinitas TDS pH DHL Skor Keterangan
Total
S1 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
S2 0 0 0 0 2 2 tidak sadah
Suko-
S3 0 0 0 0 2 2 tidak sadah
manunggal
S4 0 0 0 0 2 2 tidak sadah
S5 0 0 0 0 2 2 tidak sadah
S6 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
S7 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S8 0 0 3 0 2 5
ringan
sadah
S9 0 0 2 0 2 4
ringan
sadah
S10 0 0 2 0 2 4
ringan
Tandes sadah
S11 0 0 2 0 2 4
ringan
S12 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S13 0 0 2 0 2 4
ringan
S14 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
S15 0 0 0 0 2 2 tidak sadah
S16 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
S17 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S18 0 0 3 0 2 5
ringan
sadah
S19 0 1 1 1 2 5
ringan
Benowo S20 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S21 0 0 2 0 2 4
ringan
sadah
S22 0 0 2 0 2 4
ringan
sadah
S23 0 0 2 0 2 4
ringan
sadah
S24 0 1 1 0 3 5
ringan
Sambi-
kerep S25 0 0 1 0 2 3 tidak sadah

sadah
S26 0 0 2 0 2 4
ringan

Lakarsantri S27 0 0 0 0 2 2 tidak sadah

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 100
Lanjutan Lampiran 3

Kesadahan
Kecamatan Titik Salinitas TDS pH DHL Skor Keterangan
Total
sadah
S28 0 0 1 1 3 5
ringan
sadah
S29 0 0 1 1 2 4
ringan
sadah
S30 0 0 1 1 2 4
ringan
S31 0 1 2 1 4 8 menengah
S32 0 1 1 1 4 7 menengah
S33 0 1 4 1 3 9 menengah
S34 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S35 0 0 2 0 3 5
Pakal ringan
sadah
S36 0 1 1 1 3 6
ringan
S37 0 1 2 1 3 7 menengah
sadah
S38 0 1 1 0 3 5
ringan
sadah
S39 0 1 1 0 3 5
ringan
Asemrowo
S40 1 2 2 2 4 11 sadah
S41 0 0 1 0 2 3 tidak sadah
sadah
S42 0 1 2 0 2 5
ringan

Lampiran 4 Korelasi antara parameter TDS dengan tingkat sadah


Correlations
Tingkat_Sad
TDS ah
TDS Pearson
1 ,765**
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
Tingkat_Sada Pearson
,765** 1
h Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 101

Lampiran 5 Korelasi antara parameter DHL dengan tingkat sadah

Correlations
Tingkat_Sad
ah DHL
Tingkat_Sada Pearson
1 ,736**
h Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
DHL Pearson
,736** 1
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Lampiran 6 Korelasi antara parameter kesadahan total dengan tingkat sadah

Correlations
Tingkat_Sad
ah Kesadahan
Tingkat_Sada Pearson
1 ,800**
h Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
Kesadahan Pearson
,800** 1
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 102

Lampiran 7 Korelasi antara parameter pH dengan tingkat sadah

Correlations
Tingkat_Sad
ah pH
Tingkat_Sada Pearson
1 ,651**
h Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
pH Pearson
,651** 1
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Lampiran 8 Korelasi antara parameter salinitas dengan tingkat sadah

Correlations
Tingkat_Sad
ah Salinitas
Tingkat_Sada Pearson
1 ,552**
h Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
Salinitas Pearson
,552** 1
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 103

Lampiran 9 Peta jenis tanah Kota Surabaya

Lampiran 10 Peta rencana pola ruang Kota Surabaya

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 104

Lampiran 11 Data Curah Hujan di Kota Surabaya pada Bulan Maret – Mei 2016

Tanggal Maret April Mei


1 1,3 0,7 8,6
2 17,5 6,6 -
3 5 - -
4 33,6 - -
5 - - -
6 TTU - TTU
7 TTU - TTU
8 - TTU -
9 - TTU TTU
10 - 24,4 5,7
11 - - -
12 TTU 2,2 -
13 - 1,4 -
14 - 6,5 -
15 - 25 0,3
16 14,7 43,7 -
17 - 2,4 46,8
18 - - -
19 9,6 8,3 7,5
20 47,6 - -
21 - - 16,4
22 - 3,2 25,8
23 1,2 - 10,4
24 1,8 - 23,8
25 TTU - 8
26 TTU - -
27 - 5,3 -
28 - - 2,1
29 - - 2
30 - - 18,6
31 30,8 107,3
Sumber : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, 2016

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 105

Lampiran 12 Dokumentasi alat dan analisis penelitian

No. Gambar Keterangan

DHL meter digunakan untuk


1
mengukur parameter DHL

2 Alat pH meter

3 Alat TDS meter

Meteran yang digunakan


4 sebagai alat ukur kedalaman
sumur

5. Alat Refractometer

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 106

Lampiran 13 Titik sampel di Kecamatan Sukomanunggal

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 107

Lampiran 14 Titik sampel di Kecamatan Tandes

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 108

Lampiran 15 Titik sampel di Kecamatan Asemrowo

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 109

Lampiran 16 Titik sampel di Kecamatan Benowo

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 110

Lampiran 17 Titik sampel di Kecamatan Pakal

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 111

Lampiran 18 Titik sampel di Kecamatan Sambikerep

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 112

Lampiran 19 Titik sampel di Kecamatan Lakarsantri

0 0,3750,75 1,5 2,25 3


Kilometers

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.


ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 113

Lampiran 20 Data pribadi penyusun


a.Foto :

b. Nama : Muhammad Ali Akbar Aribiyanto


c. Tempat dan tanggal lahir : Jakarta, 10 Oktober 1994
d. Alamat : Jalan Garuda 8 F47 No.23 Taman Narogong Indah Kota
Bekasi Kode pos: 17115
e. Nama orang tua (ayah) : Mardiyanto, S.E.
f. Nama orang tua (ibu) :Yun Rita Sari Abidin, S.E.
g. Status dalam keluarga : Anak ke-2 dari tiga bersaudara

SKRIPSI PEMETAAN TINGKAT KESADAHAN .... M. ALI AKBAR AR.