Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN - B


“Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Usap Alat dan
Sampel Usap Dubur/Rectal Swab”

Disusun oleh :

1. WIDADATUN NABILAH (P27833113008)


2. WENI TRI ARDIANI (P27833113014)
3. ADISTYA GALIH PRATAMA (P27833113036)
4. WILIS PRATIWI (P27833113006)

Kelas A / Semester IV
Kelompok C / Sub 2

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
PROGRAM STUDI D III KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN 2014-2015
I. Tujuan
Umum :
1. Mahasiswa dapat memahami cara pengambilan dan pemeriksaan sampel usap alat dan
sampel usap dubur / rectal swab.
Khusus :
1. Mahasiswa dapat melakukan persiapan alat sampling.
2. Mahasiswa dapat melakukan pembuatan media.
3. Mahasiswa dapat terampil melakukan pengambilan sampel usap dubur / rectal swab.
4. Mahasiswa dapat terampil melakukan pengambilan sampel usap alat makan.
5. Mahasiswa terampil dalam melakukan pengiriman sampel
6. Mahasiswa dapat terampil dalam melakukan pemeriksaan sampel usap dubur / rectal
swab dengan benar.
7. Mahasiswa dapat terampil dalam melakukan pemeriksaan sampel usap alat makan
dengan benar.
8. Mahasiswa dapat menghitung Angka Lempeng Total kuman pada alat makan / masak
9. Mahasiswa dapat menghitung dan membandingkan dengan standart peraturan yang
berlaku.

II. Dasar Teori


Makanan adalah semua substansi yang diperlukan oleh tubuh, kecuali air dan obat –
obatan dan substansi – substansi yang diperlukan untuk pengobatan (Anwar dalam Pohan
2009: 18).
Dalam mendapatkan makanan dan minuman yang memenuhi syarat kesehatan, maka
perlu diadakan pengawasan terhadap hygiene dan sanitasi makanan dan minuman utamanya
adalah usaha diperuntukkan untuk umum seperti restoran, rumah makan, ataupun pedagang
kaki lima mengingat bahwa makanan dan minuman merupakan media yang potensial dalam
penyebaran penyakit (Depkes, 2004)
Salah satu prinsip higiene dan sanitasi makanan yang perlu mendapat perhatian khusus
adalah peralatan makan.Peralatan makan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan
karena berkontak langsung dengan makanan. Kontaminasi pada peralatan makan dapat
disebabkan oleh higiene sanitasi peralatan makan yang tidak baik melalui proses
pencucian,pengeringan maupun penyimpanan. Peralatan makan yang tidak bersih baik
melalui proses pencucian, pengeringan maupun penyimpanan dapat menyebabkan bakteri
seperti Escherichia coli masuk ke dalam makanan melalui perantaraan peralatan makan
sehingga dapat menimbulkan penyakit gastrointestinal.
Menurut Permenkes RI No.1096/MENKES/PER/VI/2011 bahwa untuk mengetahui
tingkat kebersihan suatu peralatan makan, dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologis dengan
indikator angka kuman dan E.coli harus nol.Pelaksanaan higiene sanitasi dan pemeriksaan
bakteriologis pada peralatan makan merupakan langkah penting untuk mencegah penularan
penyakit dan gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh makanan.
Adapun persyaratan peralatan makan menurut permenkes No. 304 tahun 1989 yaitu :
1. Peralatan yang kontaklangsung dengan makanan tidak boleh mengeluarkan zat beracun
yang melebihi ambang batas sehingga membahayakan kesehatan antara lain:
a) Timah (Pb)
b) Arsenikum (As)
c) Tembaga (Cu)
d) Seng (Zn)
e) Cadmium (Cd)
f) Antimon (Sb)
2. Peralatan tidakrusak, gompel, retak dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap
makanan
3. Permukaan yang kontak langsung dengan makanan harus tidak ada sudut mati, rata halus
dan mudah dibersihkan.
4. Peralatan harus dalam keadaan bersih sebelum digunakan.
5. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan tidak boleh
mengandung angka kuman yang melebihi ambang batas, dan tidak boleh mengandung E.
coli per cm2 permukaan air.
6. Cara pencucianalatharusmemenuhi ketentuan:
a) Pencucian peralatan harus menggunakan sabun/detergen air dingin, air panas, sampai
bersih.
b) Dibebashamakan sedikitnya dengan larutan kaporit 50 ppm atauiodophor 12,5 ppm air
panas 80 °C selama 2 menit.
7. Pengeringan peralatan harus memenuhi ketentuan: Peralatan yang sudah didesinfeksi
harus ditiriskan pada rak-rak anti karat sampai kering sendiri dengan bantuan sinar
matahari atau sinar buatan/mesin dan tidak boleh dilap dengan kain.
8. Penyimpanan peralatan harus memenuhi ketentuan:
a. Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan kering
dan bersih.
b. Cangkir, mangkok, gelas dan sejenisnya cara penyimpanannya harus dibalik.
c. Rak-rak penyimpanan peralatan dibuat anti karat, rata dan tidak aus/rusak.
d. Laci-laci penyimpanan peralatan-peralatan terpelihara kebersihannya.
e. Ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dan sumber
pengotoran/kontaminasi dari binatang perusak (Depkes RI,1989).

Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan
dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan sampai
penyajian. Perilaku penjamah makanan ikut berperan dalam menetukan suatu makanan sehat
atau tidak. Sehingga perlu dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan rectal swab pada
penjamah makanan.
Rectal swab adalah prosedur dimana kapas kecil steril dimasukkan pada daerah rectum +
2-3 cm diatas lubang anus untuk tujuan koleksi sampel yang akan diuji untuk penyakit dan
infeksi tertentu.
Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah Escerchia coli.
Eschercia coli bersifat pathogen, jika termakan/terminum dapat menyebabkan keracunan.
Bakteri ini biasanya terkontaminasi silang dari penjamah makanan (hidung,mulut,tangan)
dan peralatan masak.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1096/Menkes/Per/VI/2011 Tentang Hiegiene Sanitasi Jasaboga, angka kuman pada alat
makan dan minum harus nol (negative) dan tidak diperoleh adanya carrier (pembawa kuman
patogen) pada penjamah makanan yang diperiksa.
III. Waktu Pelaksanaan
Hari, tanggal : Senin,6 April 2015
Waktu : 07.30 – 16.30 WIB
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi Kampus Kesehatan Lingkungan Poltekkes
Kemenkes Surabaya.

IV. Alat dan Bahan


 Usap Dubur / Rectal Swab
Alat :
1. Lidi kapas steril/cotton swab
2. Gunting
3. Lampu spirtus
4. Tabung reaksi
5. Botol sampel kecil
6. Cool box
7. Alat tulis
8. Formulir pengambilan sampel
9. Pipet ukur
10. Pipump / filler
11. Petridish
12. Erlenmeyer
13. Spatula
14. Timbangan analitik
15. Inkubator
16. Autoklaf
Bahan : 9. Kapas
1. Alkohol 70 % 10. Sabun desinfeksi
2. Media transport ( NaCl 0,9 % ) 11. Korek api
3. Nutrient agar 12. Kapas
4. EMB Agar (Eosin Methilen 13. Kertas coklat
Blue Agar) 14. Aluminium foil
5. EC Broth (Escherichia Coli) 15. Tali rami
6. Aquadest 16. Etiket
7. Masker 17. Sampel rectal swab
8. Hand scoon

 Usap Alat Makan


Alat :
1. Lampuspirtus
2. Cool box
3. Gunting
4. Gelas
5. Tabungreaksi
6. Spatula
7. Gelasukur
8. Erlenmeyer
9. Petridis
10. Koloni counter
11. Alattulis
Bahan :
1. Korekapi 9. Aquadest
2. Spirtus 10. Nutrient agar
3. Alkohol 70% 11. Kapas
4. Hand scoon 12. Kertascoklat
5. Masker 13. Tali rami
6. Lidi swab 14. Plastik
7. Etiket 15. Esbatu
8. Media transport NaCl

V. Langkah Kerja
 Usap Dubur / Rectal sweb
1. Menyiapkan Alat dan bahan
2. Pembuatan Media Transport (Larutan NaCl 0,9 %)
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Timbang NaCl 0,9 % dengan rumus perhitungan :
- 1 botol x 10 ml = 10 ml
0,9 x 10 ml = 0,09 gram NaCl
100
0,09 gram NaCl dimasukkan kedalam beaker glass.
- Tambahkan aquadest sebanyak 70 ml lalu aduk hingga larut.
- Pindahkan dalam botol sampel kecil @ 10 ml lalu tutup.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
3. Pembuatan Media EC Broth (Escherichia Coli)
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Timbang EC Broth dengan perhitungan :
2 tabung × 5ml = 10 ml
37
× 10 ml = 0,37 gram.
1000
- MasukkanEC Broth yang telah di timbang kedalambeakerglass.
- Tambahkan aquadest sebanyak 10 ml lalu aduk hingga hingga larut.
- Masukkan kedalam 2 tabung reaksi pendek @ 5 ml lalu tutup menggunakan kapas,
bungkus aluminium foil, lalu ikat dengan tali rami.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
4. Pembuatan Media EMB Agar (Eosin Methilen Blue Agar)
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Timbang EMB Agar (Eosin Methilen Blue Agar) dengan perhitungan :
2 petridish × 20 ml = 40 ml
36
× 40 ml = 1,44 gram.
1000
- Masukkan EMB Agar yang telah ditimbang kedalam erlenmeyer.
- Tambahkan aquadest sebanyak 45 ml lalu aduk hingga larut,
- Tutup menggunakan kapas dan aluminium foil, lalu ikat dengan tali rami.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
5. Pengambilan dan pengiriman Sampel
- Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
- Menggunakan masker.
- Mensterilkan tangan dengan cara menyemprotkan alkohol yang ada dalam botol
spray ke tangan, menggunakan handscoon lalu semprot dengan alkohol kembali.
- Penjamah makanan yang akan diperiksa diminta untuk membersihkan anus terlebih
dahulu.
- Menyalakan lampu spirtus.
- Penjamah makanan yang akan diambil sampel rectal swab harus dalam keadaan
rileks.
- Penjamah makanan dalam posisi munungging dengan kedua tangan memegang
pinggul atau dengan posisi tengkurap saat pelaksanaan usap dubur atau rectal swab.
- Pemeriksa berdiri disebelah kiri penjamah pada saat melakukan rectal swab (bagi
yang kidal sebaliknya).
- Mengambil cotton swab, masukkan kedalam larutan transport (NaCl 0,9 %) lalu
tiriskan dengan cara menempelkan cotton swab pada dinding bagian dalam botol
larutan transport.
- Memasukkan cotton swab kedalam anus sedalam ± 2,5 – 3 cm / 1 inchi dengan cara
tangan kiri pemeriksa melebarkan lubang anus penjamah, tangan kanan
memasukkan cotton swab di tengah-tengah anus secara perlahan, putar searah jarum
jam sebanyak 1x, lalu putaran selanjutnya diputar searah jarum jam sambil ditarik
keluar secara perlahan.
- Memasukkan cotton swab kedalam botol sampel yang telah diberi media transport.
Semua dilakukan secara steril.
- Gunting lidi setinggi botol, flambir mulut botol dengan lampu spirtus, lalu tutup
botol dengan rapat.
- Beri etiket / kode sesuai dengan formulir pengambilan sampel, masukkan kedalam
coolbox lalu kirim ke laboratorium.
6. Pemeriksaan Sampel dengan Parameter Escherichia Coli
 Hari pertama :
- Menyiapkan alat dan bahan.
- Sterilkan meja dengan kapas alkohol dan nyalakan lampu spirtus.
- Mengusap tangan dengan kapas alkohol lalu gunakan handscoon.
- Siapkan media EC Broth steril.
- Mengambil sampel dari media transport lalu masukkan ke media EC broth sebanyak
2 mata ose, tutup kembali dengan menggunkan kapas penutup, kontrol tidak diberi
perlakuan (lakukan secara steril).
- Masukkan kedalam inkubator. Inkubasi selama1x24 jam pada suhu 370C.
 Hari kedua :
- Menyiapkan alat dan bahan.
- Sterilkan meja dengan kapas alkohol dan nyalakan lampu spirtus.
- Mengusap tangan dengan kapas alkohol lalu gunakan handscoon.
- Setelah inkubasi1x24jam periksa apabila terjadi kekeruhan saat dibandingkan
dengan control maka lanjutkan pada media EMB.
- Tanam inokulum pada media EMB Agar baik secara tuang maupun gores
 Secara gores, sebelumnya disiapkan terlebih dahulu EMB dalam petridish steril
tunggu hingga beku, kemudian ambil satu ose larutan EC Broth goreskan ke media
tersebut.
 Secara tuang, ambil 1ml sampel EC Broth dengan pipet steril, tuang ke petridish
steril, tambahkan media EMB 15-20 ml. Homogenkan putar searah jarum jam,
tunggu hingga beku.
- Setelah penanaman pada media EMB membeku, bungkus dengan kertas coklat
dalam keadaan terbalik, ikat dengan tali rami, beri etiket, masukkan dalam
incubator.
- Inkubasi1x24 jam pada suhu 370C
 Hari ketiga
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Sterilkan meja dengan kapas alkohol dan nyalakan lampu spirtus.
- Mengusap tangan dengan kapas alkohol.
- Mengamati media EMB Agar.
Bila ada pertumbuhan pada EMB Agar ditandai dengan warna hijau metalik maka
diduga terdapat E.coli.

 Usap Alat Makan

1. Menyiapkan alat dan bahan


2. Membuat media transport NaCl 0,9 % :
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Menimbang NaCl dengan perhitungan :
1 botol x 10 ml = 10 ml
Jadi
0,9 x 10 ml = 0,09 gram NaCl
100
- Memasukkan NaCl yang telah ditimbang kedalam Beaker glass.
- Menambahkan aquadest sebanyak 10 ml lalu aduk hingga larut,
- Memindahkan larutan NaCl 0,9% kedalam erlenmeyer
- Menutup erlenmeyer menggunakan kapas dan aluminium foil, lalu ikat dengan tali
rami.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
3. Membuat larutan pengencerNaCl
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Menimbang NaCl dengan perhitungan :
6 tabung x 9 ml = 54 ml
Jadi
0,9 x 54 ml = 0,486 gram NaCl
100
- Memasukkan NaCl yang telah ditimbang kedalam Beaker glass.
- Menambahkan aquadest sebanyak 36 ml lalu aduk hingga larut,
- Memindahkan larutan NaCl kedalam tabung reaksi sebanyak 9 ml
- Menutup tabung reaksi menggunakan kapas dan aluminium foil, lalu ikat dengan tali
rami.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
4. Membuat Nutrient agar
- Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
- Menimbang Nutrient agar dengan perhitungan :
6 petridis x 20 ml = 120 ml
Jadi
20 x 120 ml = 2,4 gram Nutrient agar
1000
- Memasukkan Nutrient agar yang telah ditimbang kedalam Beaker glass.
- Menambahkan aquadest sebanyak 120 ml lalu aduk hingga larut,
- Memindahkan larutan Nutrient agar kedalam erlenmeyer
- Menutup erlenmeyer menggunakan kapas dan aluminium foil, lalu ikat dengan tali
rami.
- Sterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit.
5. Menyeterilkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pengambilan, pengiriman
dan pemeriksaan sampel
6. Melakukan pengambilan dan pengiriman sampel yang terdiri dari :
- Menghidupkan lampu spirtus
- Menggunakan masker dan hand scoon steril
- Mengambil alat makan / masak yang akan diperiksa sebanyak 4 buah
- Menghitung luas permukaan alat makan / masak yang akan diukur
- Menyiapkan lidi swab dan larutan media transport
- Membuka botol larutan media transport dan memasukkan lidi swab kedalamnya,
kemudian meniriskan lidi swab tersebut dengan cara ditekan ke dinding-dinding
botol bagian dalam
- Mengusapkan lidi swab pada alat masak/makan yang akan diperiksa( bagian yang
bersentuhan dengan makanan atau bagian yang bersentuhan dengan bibir),
diulangi sebanyak 3x dan ketika akan mengusap alat yang lain lidi swab
dimasukkan ke dalam media transport, dikocok, dan ditiriskan kembali. Setelah
itu lidi swab siap untuk diusapkan kembali.
- Setelah proses pengusapan selesai, lidi swab dimasukkan kedalam botol media
transport.
- Menggunting lidi swab setinggi bibir botol dengan menggunakan gunting steril
- Menutup botol media transport secara steril.
- Memberi label pada sampel yaitu terdiri dari Kode sampel, Tempat pengambilan
dan waktu pengambilan.
- Membungkus sampel dengan plastic steril agar tidak tumpah dan label tidak
mudah lepas
- Memasukkan sampel kedalam cool box yang telah di beri es batu dan di beri
penyangga agar posisi sampel tidak berubah sampai pada saat di laboratorium
- Mengisi formulir pengambilan sampel
- Sampel siap dibawa kelaboratorium
7. Melakukan pemeriksaan sampel yang terdiri dari :
- Menyeterilkan meja kerja
- Menghidupkan lampu spirtus
- Menyiapkan 6 tabung reaksi berisi 10 ml larutan NaCl 0,9 % dalam rak tabung
- Memberi label untuk pengenceran 1 (10-1 ), pengenceran 2 (10-2 ), pengenceran 3
(10-3 ), pengenceran 4 (10-4 ), pengenceran 5 (10-5 ),dan Kontrol (K) pada tabung
reaksi secara berurutan.
- Menyiapkan 6 petridis steril
- Mengambil sampel dari cool box dan di kocok agar homogen
- Mengambil 1 ml sampel dan memasukkannya kedalam tabung pengenceran 1
secara steril kemudian dihomogenkan.
- Mengambil 1 ml larutan dari tabung pengenceran pertama dan memasukkannya
kedalam tabung pengenceran 2 secara steril kemudian dihomogenkan. Demikian
seterusnya sampai tabung pengenceran 5, gunakan pipet yang berbeda tiap akan
memindahkan.
- Mengambil 1 ml larutan dimulai dari tabung pengenceran 5 dan
memindahkannya kedalam Petridis secara steril kemudian di beri label
disampingnya. Demikian seterusnya sampai tabung pengenceran 1, gunakan pipet
yang berbeda tiap tabung reaksi.
- Memasukkan Nutrient agar yang bersuhu 55oC sebanyak 15 – 20 ml kedalam
masing-masing petridis, kemudian putar searah jarum jam agar merata dan
diamkan hingga membeku.
- Inkubasi dalam inkubator 37oC selama 2X24 jam dalam kedaan terbalik.
- Setelah 2 X 24 jam, mengamati pertumbuhan Koloni dan menghitung jumlah
koloni pada Petridis dengan koloni counter.
- Mencatat hasilnya dan memasukkan dalam rumus :
(𝛴𝑘𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖 − 𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙)𝑥𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
𝛴𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛𝑥𝛴𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑢𝑠𝑎𝑝𝑥𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑎𝑙𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑢𝑠𝑎𝑝

VI. Hasil Praktikum dan pembahasan


 Usap Dubur / Rectal sweb

Setelah dilakukan pemeriksaan sampel rectal swap pada penjamah makanan diduga
menunjukkan hasil positif Escherichia Coli, hal ini ditunjukkan dengan ciri koloni yang
tumbuh pada media EMB Agar berwarna hijau metalik dan berinti gelap.
Bakteri coliform umumnya mampu memfermentasi laktosa dan menghasilkan asam,
kondisi ini membuat media EMB Agar menjadi asam sehingga warna berubah menjadi
hijau gelap yang disertai dengan kilap logam / hijau metalik (lal dan chepth man
dkk.2007;Merck.1996).
 Usap Alat makan

Luas gelas = π x r2

= 3,14 x 3,152

= 31,16 cm2

Tabel Jumlah Koloni


Jumlah Koloni
Pengenceran Pengenceran Pengenceran Pengenceran Pengenceran
Kontrol
1 (10-1) 2 (10-2) 3 (10-3) 4 (10-4) 5 (10-5)
11 9 1 2 0 0

Jumlah koloni yang dipilih untuk perhitungan Angka Lempeng Total adalah yang
mengandung 30-300 koloni. Karena tidak ada jumlah koloni koloni yang mencapai 30
maka digunakan jumlah koloni pada pengenceran paling kecil yaitu pada pengenceran
1 dengan jumlah koloni 11.
(𝛴𝑘𝑜𝑙𝑜𝑛𝑖−𝐾𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙)𝑥𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛
ALT = 𝛴𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛𝑥𝛴𝑎𝑙𝑎𝑡𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖𝑢𝑠𝑎𝑝𝑥𝑙𝑢𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎𝑡𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖𝑢𝑠𝑎𝑝

= ( 11 – 0 ) x 10
1 x 4 x 3,15
= 8,73Koloni / cm2

Pemeriksaan alat masak / makan menggunakan 2 metode yaitu metode swab


dan metode hitung cawan.

Metode yang pertama adalah metode swab. Metode ini memerlukan swab atau
alat pengoles berupa lidi yang ujungnya diberi kapas steril dan larutan buffer fosfat
atau garam fisiologis, pertama – tama swab dimasukkan kedalam larutan pengencer
kemudian diperas dengan cara menekankan pada dinding tabung bagian atas sambil
diputar – putar. Selanjutnya permukaan peralatan yang diuji diusap dengan swab
tertentu dengan luasan tertentu. Penyekaan pada satu area dilakukan sebanyak tiga
kali (Fadila, 2001).
Metode yang kedua adalah metode hitung cawan. Metode hitungan cawan
didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang
menjadi suatu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan suatu
indeks jumlah mikroba yang hidup terkandung dalam sampel (Waluyo,2008). Metode
hitung cawan dibedakan atas dua cara yaitu metode tuang (pour plate) dan metode
permukaan atau surface/ spread plate (Waluyo, 2008). Dalam praktikum ini kami
menggunakan metode tuang atau pour plate.
Setelah dilakukan inkubasi 2x 24 jam, terjadi pertumbuhan koloni berwarna
kuning krem dan berbentuk bulatan kecil pada media agar. Angka kuman pada alat
makan gelas yang kami periksa adalah 8,73 koloni / cm2.
VII. Kesimpulan
 Usap Dubur / Rectal Sweb

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1096/Menkes/Per/VI/2011 Tentang Hiegiene Sanitasi Jasaboga, tidak diperoleh
adanya carrier (pembawa kuman patogen) pada penjamah makanan yang diperiksa.
Dari hasil praktikum diatas maka dapat disimpulkan bahwa penjamah
makanan yang kami periksa membawa kuman patogen sehingga tidak memenuhi
persyaratan penjamah makanan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 .
 Usap Alat Makan

Menurut Permenkes RI No.1096/MENKES/PER/VI/2011, untuk mengetahui


tingkat kebersihan suatu peralatan makan, dapat dilakukan pemeriksaan bakteriologis
dengan indikator angka kuman dan E.coli harus nol. Angka kuman pada gelas yang
kami periksa adalah 8,73 koloni / cm2 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa gelas
yang kami periksa tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai wadah minuman
karena dapat sebagai media masuknya kuman.
VIII. Daftar Pustaka

Lal, A., Cheptam,N.2007.http://microbelibrary.org/component/resource/laboratory-test/2869-


eosin-methylene-blue-agar-plates-protocol. Eosin Methylene Blue Agar protocol. ML Library
American Society for Microbiology. Diakses pada 9 April 2015 pukul 19.45 WIB.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/Per/VI/2011 Tentang


Hiegiene Sanitasi Jasaboga

https://academia.edu/8953162/PMM. Diakses pada tanggal 9 April 2015 pukul 19.12 WIB

Surasri, Siti.1989. Prinsip Sanitasi Makanan. Pusdiknkes RI. Jakarta.

Sumira,Ismayuni.dkk.2013.GAMBARAN HIGIENE SANITASI DAN PEMERIKSAAN


BAKTERIOLOGIS PADA PERALATAN MAKAN DI INSTALASI GIZI RS X. (online)
(http://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/1589/REPOSITORY%20ISM
A%201.pdf?sequence=1.) diakses 09 April 2015

Bobihu,FB.2014.(online)( http://eprints.ung.ac.id/5145/5/2012-1-13201-811408025-bab2-
15082012122053.pdf.) diakses 09 April 2015

Permenkes RI `No.1096/MENKES/PER/VI/2011

Permenkes RI No. 304 tahun 1989