Anda di halaman 1dari 3

Mass Concrete (Pengecoran Massal)

Mass concrete dalam dunia konstruksi yaitu pekerjaan pengecoran massal dengan jumlah volume pekerjaan
beton yang sangat besar. Berdasarkan ACI:207 mass concrete memerlukan pengendalian thermal yang mana
dalam hal ini pengecoran beton dengan volume yang besar mengakibatkan terjadinya proses hidrasi semen
atau proses pengerasan dimana beton akan mengeras dengan cara mengeluarkan hidrasi yang besar. Bila terjadi
retak dalam beton akibat mass concrete akan mengakibatkan terjadinya cold joint yang kemudian
mengakibatkan beton menjadi tidak konjugasi. Terjadinya peningkatan panas di dalam beton diakibatkannya
sisi luar beton yang memiliki temperatur yang lebih rendah mengakibatkan sisi terluar beton mengalami
penurunan temperatur yang lebih cepat atau dengan kata lain sisi terluar beton mengalami pengerasan yang
lebih cepat.
Terjadinya pengerasan yang cepat pada sisi terluar beton mengakibatkan terjebaknya udara dari proses hidrasi
beton yang tersisa dan mengakibatkan keretakan. Maksimum perubahan suhu atau maksimum perbedaan suhu
antara, layer terluar, layer tengah dan layer terdalam beton menurut ACI.244.1.R93.7 yaitu 40 derajat
celcius/jam dan perbedaan suhu antara layer terluar dengan suhu lingkungan yaitu 20 derajat celcius/jam.
Terdapat beberapa hal yang dapat diakubatkan daripada terjadinya thermal yang tinggi dalam beton yaitu :
susut yang besar dan kebutuhan air dalam proses hidrasi yang tinggi.

Terdapat beberapa metode pelaksanaan untuk dapat melakukan pengontrolan suhu beton dalam pelaksanaan
mass concrete, yaitu:

1. Pre-cooling concrete
Pre-cooling concrete yaitu metode yang lebih menekankan kepada material-material pentusun betonnya,
dimana suhu beton dapat meningkat yang diakibatkan oleh material-material penyusun betonnya. Salah satu
contohnya yaitu dengan menambahkan nitrogen dan es pada saat mixture beton untuk membuat kondisi beton
segar berada dalam kondisi dingin.

2. Post cooling concrete


Post-cooling concrete adalah metode mendinginkan beton dengan cara membuat sirkulasi air dingin melalui
pipa yang sebelumnya telah dilakukan installasi sebelum pengecoran. Post-cooling concrete menggunakan
sirkulasi air dingin dengan installasi pipa di dalam beton digunakan pada masa pelaksanaan konstruksi Hoover
Dam tahun 1931-1936.
3. Surface insulation
Perawatan beton pasca pengecoran dengan cara mengatur pelepasan panas yang dihasilkan dari reaksi kimia.
Metoda ini dilaksanakan dengan cara menutup dan membuka bagian permukaan beton yang berhubungan
langsung dengan udara luar. Metode ini dapat berupa menutup permukaan beton dengan stereofoam ataupun
dengan menutup permukaan beton dengan air untuk dapat membuat permukaan beton untuk tetap dalam
kondisi segar yang memungkinkan udara yang berasal dari dalam beton pada saat proses hidrasi dapat keluar.

Proses pelaksanaan mass concrete pun harus memberikan perhatian yang lebih terhadap beberapa hal, yaitu:
1. Rencana waktu pengecoran yang harus diperhitungkan dengan cara membagi volume total pengecoran
dengan kemampuan pengecoran dalam satu jam (jumlah pompa x kapasitas yang dimiliki concrete pump)
2. Kemampuan supplier beton untuk dapat melakukan pemasukan beton yang secara continue (tidak berhenti)
untuk dapat menghindari terjadinya cold joint
3. Kecepatan pengecoran yang harus memadai dengan memperhatikan jenis dan kapasitas peralatan yang
digunakan antara lain jumlah concrete pump yang dibutuhkan dan lahan yang memadai untuk parkir concrete
pump dan tempat pemberhentian atau lokasi parkir sementara truck mixer ketika sendang dilakukannya
pengecoran untuk melakukan pengecoran dalam menyelesaikan mass concrete sesuai dengan perencanaan
awal.
4. Tenaga kerja pengecoran yang sesuai dan dapat melayani kapasitas beton yang turun ke lokasi pekerjaan
dengan bantuan concrete pump.
5. Urutan atau tahapan pengecoran yang tepat untuk dapat menghindari terjadinya cold joint, yaitu dengan
memperhatikan durasi setting beton yang kurang lebih selama 4 jam. Jadi, volume zona/tahapan pengecoran
harus diperhitungkan berdasarkan kapasitas pengecoran selama 4 jam yang harus lebih besar daripada volume
zona pengecoran mass concrete.
6. Jadwal dan hari pengecoran yang harus mempertimbangkan dengan kondisi lalu-lintas.