Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bulimia nervosa merupakan penyakit gangguan pada kebiasaan atau pola
makan. Eating disorders (gangguan makan) adalah suatu sindrom psikiatrik
yang ditandai oleh pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik
psikologik yang berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan.
Gangguan pola makan bukan merupakan kegagalan akan sesuatu ataupun
perilaku, akan tetapi nyata, penyakit medis yang muncul dari beberapa pola
makan yang menyimpang dalam hidup seseorang. Salah satu tipe gangguan
pola makan adalah bulimia nervosa. Dalam hal ini, orang yang menderita
gangguan pola makan bisa mengalami komplikasi kesehatan fisik yang lebih
jauh lagi, termasuk masalah kondisi kerja hati dan gagal ginjal, yang mana
dapat menyebabkan kematian. Biasanya penderita tidak langsung ketahuan
oleh orang lain bahwa ia menderita penyakit ini, karena berat badannya
normal dan tidak terlalu kurus. Karena tidak ketahuan sehingga tidak
ditangani dokter, penyakit yang sering berawal ketika seseorang masih
berusia remaja ini dapat berlangsung terus sampai ia berusia empat puluhan
sebelum ia mencari bantuan. Banyak penderita bulimia memiliki berat badan
yang normal dan kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam
hidupnya. Biasa mereka orang-orang yang kelihatan sehat, sukses di
bidangnya, dan cenderung perfeksionis. (Sidenfeld 2001).
Di Amerika Serikat, gangguan makan mempengaruhi 5 sampai 10 juta
orang, terutama wanita muda antara usia 14 dan 40 tahun. Dahulu bulimia
nervosa termasuk dari varian anoreksia nervosa (Russell 1979). Namun,
karena lebih banyak penelitian telah dilakukan dan lebih pasien yang
menderita bulimia nervosa telah diidentifikasi, bulimia nervosa dan anorexia
nervosa yang sekarang dikenal sebagai 2 sindrom yang berbeda. Menurut
Diagnostik dan Statistik Manual untuk Gangguan Mental, Edisi Keempat
(DSM-IV), bulimia nervosa ditandai dengan episode berulang dari pesta

1
makan diikuti dengan 1 atau lebih perilaku kompensasi untuk menghilangkan
kalori (muntah, obat pencahar, puasa, dll) yang terjadi rata-rata minimal dua
kali seminggu selama 3 bulan atau lebih. Pasien yang tidak memenuhi kriteria
frekuensi atau panjang dapat didiagnosis dengan DSM IV gangguan makan
yang tidak disebutkan secara spesifik. Bulimia nervosa juga digambarkan
menjadi 2 subtipe yang berbeda yaitu pembersihan dan tidak dibersihkan.
Terlepas dari subtipe, pasien penderita bulimia memiliki evaluasi negative sel,
menempatkan kepentingan tidak pantas di berat badan dan citra tubuh. Dalam
makalah ini, penulis akan menyampaikan gambaran terkait penyakit bulimia
nervosa.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah definisi bulimia nervosa ?
b. Bagaimana epidemiologi bulimia nervosa?
c. Bagaimana etiologi bulimia nervosa?
d. Berapa tipe (jenis) bulimia nervosa?
e. Bagaimana manifestasi klinis bulimia nervosa?
f. Bagaimana diagnosis bulimia nervosa?
g. Bagimana patofisiologi bulimia nervosa?
h. Bagaimana penatalaksanaan bulimia nervosa?
i. Bagaimana cara pencegahan pada bulimia nervosa?

C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui secara lebih mendetail mengenai apa sesungguhnya definisi
dari Bulimia Nervosa
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui epidemiologi bulimia nervosaa
2. Untuk mengetahui etiologi bulimia nervosa
3. Untuk mengetahui apa saja tipe bulimia nervosa
4. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis
5. bulimia nervosa
6. Untuk mengetahui bagaimana diagnosis pada bulimia nervosa
7. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi bulimia nervosa
8. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan bulimia nervosa
9. Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan terhadap bulimia
nervosa

D. Manfaat
a. Bagi Penulis

2
1. Digunakan untuk Mahasiswa memenuhi tugas KKPMT III
2. Untuk melatih Mahasiswa menyusun Makalah Ilmiah
b. Bagi Mahasiswa
1. Sebagai wawasan tambahan Mahasiswa mengenai penyakit
gangguan mental bulimia nervosa
2. Sebagai bahan untuk diskusi antar Mahasiswa mengenai penyakit
kasus gangguan mental
c. Bagi Masyarakat
Digunakan sebagai bahan pengetahuan masyarakat tentang apa dan
bagaimana penyakit gangguan mental bulimia nervosa

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Bulimia merupakan bahasa latin dari sebuah kata Yunani boulimia, yang
artinya “extreme hunger” alias lapar yang amat sangat. Ini sesuai dengan
gambaran para bulimics (orang yang bulimia), mereka cenderung makan
dalam jumlah banyak dalam waktu yang singkat, seperti orang yang
kelaparan. Dan selanjutnya sebagai “kompensasi” dari pola makannya
tersebut, mereka akan melakukan berbagai cara dengan upaya panik untuk
menghindari kenaikan berat badan meski mereka sudah makan banyak.

3
Bulimia merupakan salah satu kelainan mental yang berkaitan dengan
gangguan pola makan (eating disrorder). (FKM-UI 2007)
Gangguan pola makan biasanya muncul bersamaan dengan penyakit lain
seperti depresi, menjadi bagian dari sebuah kekerasan, dan gangguan
kecemasan. Bulimia Nervosa adalah gangguan atau kelainan pola makan
dengan karakteristik tertentu yang terlihat dari kebiasaan makan yang
berlebihan serta diikuti dengan upaya panik untuk menghindari kenaikan
berat badan. Karakteristik utama dari bulimia nervosa adalah proses
memakan setumpuk makanan dan merasa di luar kendali ketika melakukan
hal itu dan diikuti oleh sebuah perilaku yang bertujuan untuk menghilangkan
kalori yang dikonsumsi bahkan dengan cara memuntahkan makanan yang
telah ia makan.

B. Epidemiologi
Bulimia nervosa selama ini belum banyak dikenal masyarakat. Karena
kasusnya jarang, orang sering mengabaikan penyakit ini. Padahal, kalau tidak
segera di atasi, bulimia bisa mengganggu jiwa dan raga penderitanya.
Penyakit ini bisa terjadi pada perempuan dan laki-laki dari segala usia. Akan
tetapi lebih umum pada wanita. Wanita lebih sering mengalami gangguan
makan, dengan perbandingan wanita dengan laki-laki 10 : 1. Bahkan
sejumlah sumber menyebutkan bahwa 85-90% orang yang menderita bulimia
adalah wanita, lebih sering menimpa wanita remaja dan pertengahan usia
(sering diidap oleh wanita pada usia SLTA atau saat mahasiswa) namun
mempunyai rentang umur yang lebar yaitu antara 13-58 tahun. (Gowers SG
2004)
Banyak penderita bulimia nervosa memiliki berat badan yang normal dan
kelihatannya tidak ada masalah yang berarti dalam hidupnya. Biasanya
mereka orang-orang yang kelihatannya sehat, sukses di bidangnya dan
cenderung perfeksionis. Namun, dibalik itu, mereka memiliki rasa percaya
diri yang rendah dan sering mengalami depresi. Mereka juga menunjukkan
tingkah laku kompulsif, Bulimia nervosa sering terjadi pada orang dengan

4
angka gangguan mood dan gangguan pengendalian impuls yang tinggi. Juga
telah dilaporkan terjadi pada orang yang memiliki resiko gangguan
berhubungan dengan zat dan gangguan kepribadian, memiliki angka
gangguan kecemasan dan gangguan dissosiatif yang meningkat dan riwayat
penyiksaan seksual.

C. Etiologi
Penyebab (Etilogi) bulimia belum diketahui secara biologis. Namun
karena ini berhubungan dengan kebiasaan kesehatan, maka para ahli
meyakini ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan penyakit ini antara lain
:
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Masalah keluarga
d. Perilaku maladaptif
e. Pertentangan identitas diri
f. Budaya yang terlalu menitikberatkan kepada penampilan fisik.
Masalah penampilan serta berat badan merupakan faktor utama yang
mejadi penyebab bulimia pada seorang wanita. Seorang penderita bulimia
biasanya mempunyai ketahanan mental yang kurang, kurang percaya diri dan
memiliki masalah dengan berat badan dan ini yang membuatnya menjadi
terobsesi dengan penurunan berat badan. Hal-hal seperti di atas juga bisa
menjadi akibat bulimia yang mengerikan. Pengalaman mempunyai masalah
dengan berat badan membuatnya selalu merasa gemuk. Hal ini mendorong
diet yang tidak terkontrol, olah raga berlebih dan akhirnya menderita bulimia.
Penelitian baru menunjukan bahwa kelainan mental ini juga disebabkan
oleh proses kimiawi yang ada di dalam otak. Para ahli menduga bahwa
kelainan neurotransmitter dalam otak, utamanya neurotransmitter serotonin
merupakan pemicu terjadinya penyakit bulimia nervosa ini. Namun dugaan
awal ini masih belum bisa dijelaskan secara spesifik karena kompleksnya
penyakit.

D. Tipe Penyakit
a. Bulimia Nervosa-Purging Type

5
Tipe yang memuntahkan kembali makanan setelah sangat kenyang
(menggunakan purging medications). Dilakukan dengan menusukkan jari
ke tenggorokan, atau dengan menggunakan obat-obatan laksatif, obat
pencahar, maupun obat-obatan lain. Tujuannya agar makanan tidak
sempat dicerna oleh tubuh sehingga tidak menambah berat badan.
b. Bulimia Nervosa-Non Purging Type
Penderita berolahraga berlebihan setelah makan atau berpuasa untuk
mengontrol berat badan, namun tidak muncul purging behaviors.
Tujuannya agar energi yang dihasilkan dari makanan dapat langsung
dibakar dan habis.

E. Manifestasi Klinis
Indikasi utama bahwa seseorang mengidap bulimia adalah kebiasaan
untuk melakukan diet ketat dengan tidak makan sama sekali atau hanya
makan jenis makanan tertentu (misal: makanan berkalori, berlemak) dalam
jumlah yang sangat sedikit, hingga pada suatu saat penderita hilang kontrol
dan makan makanan yang sebelumnya dihindari tersebut secara berlebihan,
meski dirinya tidak merasa lapar. Kebiasaan ini bisa muncul karena pengaruh
masalah emosional, seperti stres atau depresi.
Pengidap kemudian merasa bersalah, menyesal, dan membenci diri
sendiri sehingga akan memaksa tubuhnya untuk mengeluarkan semua asupan
kalori yang telah masuk dengan cara tidak alami, seperti dengan
menggunakan obat pencahar atau memaksakan diri untuk muntah. Seseorang
dikatakan mengidap bulimia apabila mengalami siklus ini lebih dari dua kali
dalam seminggu selama minimal tiga bulan. Selain cara tidak sehat tersebut,
terdapat beberapa gejala lain yang menandakan bulimia, diantaranya adalah:
a. Takut gemuk atau merasa kegemukan.
b. Sangat terpaku pada berat badan serta bentuk tubuh, terkadang hingga
terasa tidak masuk akal.
c. Selalu beranggapan negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri.
d. Sering lepas kendali saat makan, misalnya terus makan sampai sakit
perut atau makan dengan porsi berlebihan.

6
e. Enggan makan di tempat-tempat umum atau di depan orang lain.
f. Sering bergegas ke kamar mandi setelah makan.
g. Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke
kerongkongan.
h. Memiliki gigi dan gusi yang rusak.
i. Berolahraga berlebihan.
j. Menggunakan obat pencahar, diuretik, atau enema setelah makan.
k. Menggunakan suplemen atau produk herba untuk menurunkan berat
badan.

F. Diagnosis
Sama halnya dengan anoreksia, diagnosis untuk penyakit bulimia susah
karena ini menyangkut masalah perilaku yang bisa saja disangkal oleh
penderita. Pada pemeriksaan tahap awal, dokter akan menanyakan gejala-
gejala yang dialami seperti penanganan pada penyakit lain. Jika kondisi
seseorang termasuk dalam kriteria yang mengindikasikan bulimia, dokter
kemudian akan menganjurkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, tes
darah, tes urine, serta evaluasi psikologi.
Kriteria utama yang mengindikasikan bulimia adalah siklus makan yang
berlebihan disertai dengan upaya mengeluarkan kalori dari tubuh, serta
asumsi negatif tentang bentuk tubuh dan berat badan. Namun sebagai dasar
bagi dokter untuk mendiagnosa penyakit ini, ada lima criteria dasar yang bisa
dipakai sebagai patokan, antara lain :
a. Pesta makan yang terjadi berulangkali. Hal ini ditandai dengan porsi yang
sangat banyak dan di luar porsi normal makan seorang manusia dalam
jangka waktu dua jam.
b. Merasa tidak bisa berhenti makan dalam satu periode.
c. Perilaku yang menyimpang untuk mengurangi berat badan secara ekstrem
dan berlebihan, seperti muntah, penggunaan obat pencahar dan diuretik,
puasa ataupun olah raga berlebihan.
d. Pesta makan serta perilaku penurunan badan yang ekstrem terjadi minam
dua kali dalam seminggu selama jangka waktu tiga bulan.

7
e. Rasa yang tidak pernah puas terhadap bentuk tubuh yang dimiliki.

G. Patofisiologi
Bulimia nervosa merupakan gangguan kronis dengan perjalanan
gangguan yang maju mundur. Beberapa pasien dengan perjalanan gangguan
ringan mengalami masa remisi jangka panjang, pasien lain menjadi lemah
akibat gangguan ini dan dirawat di rumah sakit kurang dari sepertiga pasien
yang baik baik saja pada pemantauan lanjutan 3 tahun, lebih dari sepertiga
yang mengalami perbaikan gejala, dan kira kira sepertiganya memiliki hasil
buruk dengan gejala kronis dalam 3 tahun. Pada studi terkini dalam 5 hingga
10 tahun, kira kira setengah pasien pulih sempurna dari gangguan ini,
sedangkan 20 persennya terus memenuhi seluruh kriteria diagnostik bulimia
nervosa.
Bahaya bulimia ini disebabkan oleh perilaku makan berlebihan dan
kemudian membersihkannya yang terjadi secara berulang. Berbagai macam
organ akan rusak akibat pembersihan secara ekstrem ini, antara lain :
a. Pembengkakan kelenjar ludah di pipi
b. Jaringan parut di buku jari tangan yang digunakan untuk merangsang
muntah
c. Pengikisan email gigi akibat bulimia yang sering muntah dan
mengeluarkan asam lambung, mengakibatkan sakit tenggorokan dan bau
mulut
d. Kadar kalium yang rendah dalam darah.
e. Gigi sensitive terhadap panas atau dingin
f. Masalah pada kelenjar ludah yang berupa rasa nyeri atau pembengkakan
g. Paparan asam lambung berlebih pada kerongkongan bisa menyebabkan
borok, pecah atau penyempitan.
h. Terganggunya proses pencernaan akibat pencahar, bisa mengakibatkan
disfungsi organ pencernaan .
i. Ketidakseimbangan cairan tubuh akibat stimulus zat diuretic secara
berlebih.
j. Akibat bulimia juga terjadi pada kehidupan social, penderita bulimia
cenderung akan bermasalah dalam hal sosialisasi lingkungan, bersifat

8
impulsive, seringkali merasa stress atau depresi dan menyalahgunaan
alcohol atau obat-obatan.

H. Penatalaksanaan
Bagian tersulit sekaligus terpenting dalam menangani bulimia adalah
membuat seseorang yang mengidap penyakit ini sadar akan kelainan yang
dialami. Kesadaran ini sangat diperlukan agar pengidap memiliki keinginan
untuk sembuh dan bersedia menjalani pengobatan. Terdapat 2 pendekatan
yang dilakukan untuk mengobati bulimia yaitu :

a. Terapi psikis (psikoterapi)


Penanganan utama untuk mengatasi bulimia adalah dengan terapi
psikologi. Melalui terapi dibantu oleh psikiater untuk mengendalikan
perilaku menyimpangnya. Pasien akan dibantu untuk kembali membangun
sikap dan pikiran positif terhadap pola makan. Proses ini juga akan
membantu untuk mendeteksi masalah emosional di balik bulimia.
Ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu :
 Terapi perilaku kognitif
Lewat CBT, pasien akan dibantu untuk mengenali pemicu bulimia,
misalnya pendapat dan perilaku negatif, lalu belajar untuk
menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat.
 Terapi interpersonal.
Sedangkan terapi interpersonal akan membantu pasien untuk
mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus
meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan
masalah.
b. Terapi Obat-obatan
Untuk mengurangi gejala, obat-obatan anti-depresi seringkali bisa
membantu mengendalikan bulimia. Fluoxetine (Antiprestin, Courage,
Kalxetin, Nopres, dan Prozac) adalah salah satu contohnya yang paling
sering digunakan dalam menangani bulimia. meskipun penderita tidak

9
tampak depresi. Tetapi bulimia akan kambuh kembali jika pemakaian obat
dihentikan. Dokter akan memantau perkembangan kondisi serta reaksi
tubuh pasien terhadap obat secara berkala selama menggunakan
antidepresan. Patut diketahui, obat ini tidak cocok digunakan oleh
pengidap bulimia di bawah 18 tahun, penderita epilepsi, memiliki keluarga
dengan riwayat penyakit jantung, hati, atau ginjal.

Jika pasien mengidap bulimia dan mengalami komplikasi yang serius,


Anda sebaiknya menjalani penanganan di rumah sakit. Langkah ini diambil
guna mencegah akibat fatal dari komplikasi sekaligus menangani dorongan
untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Untuk sembuh dari bulimia, pengidap penyakit ini harus mampu
mengubah pola makan, mengubah pola pikir tentang makan, serta
meningkatkan berat badan secara perlahan. Semakin lama seseorang
mengidap bulimia, semakin sulit untuk menyembuhkannya. Maka dari itu,
penanganan lebih baik dilakukan secepatnya.
Langkah penanganan terhadap bulimia umumnya membutuhkan waktu
dan tenaga yang tidak sedikit. Dukungan penuh dari teman serta keluarga
juga berperan penting dalam menyembuhkan pengidap bulimia. Karena itu,
pengidap serta keluarga dianjurkan untuk bersabar dalam menjalaninya.

I. Pencegahan Penyakit
Memahami tanda-tanda bulimia dan melakukan penanganan secepatnya
bisa mencegah bulimia agar tidak berkembang ke tahap yang lebih tinggi.
Jika menemukan gejala-gejala bulimia pada anak-anak Anda, Anda bisa
melakukan pendekatan secara perlahan kepada mereka. Ada dua (2) macam
pendekatan yaitu :
a. Pendekatan pertama
Adalah dengan memberikan motivasi kepada mereka untuk selalu hidup
sehat. Hindari komentar-komentar yang berhubungan dengan fisik dan
memengaruhi psikologis mereka. Misalnya, menyebut badannya terlalu

10
kurus, terlalu gemuk, atau wajahnya tidak cantik, rambutnya tidak lurus,
dan lain sebagainya.
b. Pendekatan kedua
Adalah dengan menghentikan kebiasaan memberikan anak Anda hadiah
atau hukuman dengan makanan. Ajari anak Anda untuk menjaga tubuh
dengan baik dan jadilah contoh yang baik bagi mereka dalam menjaga
pola makan dan juga menerapkan gaya hidup yang sehat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bulimia Nervosa adalah salah satu jenis penyakit pada gangguan mental
yaitu golongan eating disorder (gangguan pola makan) yang memiliki ciri
khusus yaitu ingin menjaga berat badan dengan makan dalam jumlah yang
sangat banyak, lalu mengeluarkan makanan tersebut dari tubuh secara paksa
dengan cara memuntahkannya. Penyakit ini lebih umum terjadi pada wanita.
Penyebab penyakit ini sacara biologis belum terdeteksi oleh dokter, jelasnya
penyakit ini berhubungan dengan kebiasaan kesehatan.
Gejala yang paling utama adalah penderita takut memiliki berat badan
yang abnormal, akhirnya ia melakukan berbagai cara supaya bisa terlihat
langsing. Diagnosis untuk penyakit bulimia nervosa masih sulit, karena ini
menyangkut masalah perilaku yang bisa saja disangkal oleh penderita.
Perkembangan penyakit ini disebabkan oleh perilaku makan berlebihan dan
kemudian membersihkannya yang terjadi secara berulang yang dapat
mengakibatkan rusaknya organ. Pengobatan yang dilakukan adalah dengan
dua cara yaitu pengobatan terapi psikis dan terapi obat. Pencegahan yang
dapat dilakukan adalah memahami tanda-tanda bulimia dan melakukan
penanganan secepatnya bisa mencegah bulimia agar tidak berkembang ke
tahap yang lebih tinggi contohnya dengan melakukan pendekatan.

B. Saran

11
Bagi penderita terutama remaja yang mengalami bulimia nervosa
hendaklah makan secara teratur dan normal, diet seimbang dan bila
menginginkan penurunan berat badan, mulailah dengan bimbingan ahli gizi.
Yang paling penting bagi remaja adalah harus percaya diri dengan apa yang
terdapat pada dirinya. Baik itu kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki,
karena itu adalah anugerah dari yang maha Kuasa.

DAFTAR PUSTAKA

Alodokter, 2016, “Pengertian Bulimia”, (Online),


(http://www.alodokter.com/bulimia, diakses 05 November 2017)

Hanif, Mohammad, 2013, “Gangguan Makan Bulimia Nervosa”, (Online),


(https://docuri.com/queue/makalah-bulimia-
nervosa_59ae4695f581710a6200b230_pdf?
queue_id=59c7b929f58171314728bb9d, diakses 05 November 2017)

Sugeng, 2015, “Bulimia Nervosa, (Online),


(http://www.referensisehat.com/2015/10/bulimia-nervosa-gejala-
penyebab-mengatasi-mengobati-mengatasi.pdf.html, diakses 05 November
2017)

Wikipedia Enssiklopedia Bebas, 2017, “Bulimia Nervosa”, (Online),


(https://id.wikipedia.org/wiki/Bulimia_nervosa, diakses 05 November
2017)

12