Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

A. PRINSIP PERLINDUNGAN TERHADAP HAK PEMEGANG SAHAM


Salah satu prinsip CG yang disusun OECD adalah perlindungan
terhadap hak pemegang saham. Prinsip ini menjelaskan bahwa kerangka
corporate governance harus melindungi dan memfasilitasi pelaksanaan hak-
hak pemegang saham. Disamping itu, terdapat enam prinsip GCG yang
dianggap ideal yang harus tercakup dalam setiap penerapan corporate
governance. Jika keenam prinsip tersebut dijabarkan dan dianalisis ke dalam
hukum Perseroan Terbatas di Indonesia, maka dapat diketahui hal-hal sebagai
berikut :
a. Perlindungan terhadap Hak-hak Pemegang Saham
Hak-hak para Pemegang saham yaitu, harus diberi informasi dengan
benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan
serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang
mendasar atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan
perusahaan. UUPT (Undang-Undang Perseroan Terbatas) mengenal
beberapa prinsip ini, misalnya prinsip pencatatan saham atau bukti
pemilikan maupun prinsip perolehan informasi yang relevan mengenai
perseroan pada waktu yang tepat, demikian juga pada perusahaan publik.
Prinsip OECD tentang tata kelola perusahaan menjelaskan bahwa
kerangka corporate governance harus melindungi dan menunjang
pelaksanaan hak-hak pemegang saham. Prinsip ini dibagi atas 7 sub
prinsip:
1. Hak pemegang saham dasar harus mencakup hak untuk:
a. mengamankan metode pendaftaran kepemilikan
b. menyampaikan atau mengalihkan saham
c. memperoleh informasi yang relevan dan material mengenai
korporasi secara tepat waktu dan teratur
d. berpartisipasi dan memilih dalam rapat umum pemegang
saham
e. memilih dan menghapus anggota dewan
f. berbagi keuntungan perusahaan.
2. Pemegang saham harus memiliki hak untuk berpartisipasi, dan
cukup mendapat informasi, keputusan mengenai perubahan
mendasar perusahaan seperti:
a. amandemen undang-undang, atau barang dari penggabungan
atau dokumen pemerintah yang serupa
b. otorisasi saham tambahan
c. transaksi luar biasa, termasuk pengalihan semua atau sebagian
besar aset, yang mengakibatkan penjualan perusahaan.
3. Pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk berpartisipasi
secara efektif dan memberikan suara dalam rapat umum pemegang
saham dan harus diberitahu mengenai peraturan, termasuk prosedur
pemungutan suara, yang mengatur rapat umum pemegang saham:
a. Pemegang saham harus dilengkapi dengan informasi yang
cukup dan tepat waktu mengenai tanggal, lokasi dan agenda
rapat umum, serta informasi yang lengkap dan tepat waktu
mengenai hal-hal yang akan diputuskan pada pertemuan
tersebut.
b. Pemegang saham harus memiliki kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan kepada dewan pengurus, termasuk
pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan audit eksternal
tahunan, untuk menempatkan item dalam agenda rapat umum,
dan mengusulkan resolusi, sesuai dengan batasan yang wajar.
c. Partisipasi pemegang saham yang efektif dalam keputusan tata
kelola perusahaan yang penting, seperti pencalonan dan
pemilihan anggota dewan, harus difasilitasi. Pemegang saham
harus dapat membuat pandangan mereka diketahui mengenai
kebijakan remunerasi bagi anggota dewan dan eksekutif
kunci.Komponen ekuitas skema kompensasi untuk anggota
dewan dan karyawan harus tunduk pada persetujuan pemegang
saham.
d. Pemegang saham harus dapat memberikan suara secara
langsung atau in absentia, dan efek yang sama harus diberikan
pada suara apakah pemain secara langsung atau in absentia.
4. Struktur dan pengaturan modal yang memungkinkan pemegang
saham tertentu mendapatkan tingkat pengendalian yang tidak
proporsional dengan kepemilikan ekuitas mereka harus
diungkapkan.
5. Pasar untuk pengendalian perusahaan harus diizinkan berfungsi
secara efisien dan transparan.
a. Aturan dan prosedur yang mengatur perolehan kendali
perusahaan di pasar modal, dan transaksi luar biasa seperti
merger, dan penjualan sebagian besar aset perusahaan, harus
diartikulasikan dan diungkapkan dengan jelas sehingga investor
memahami hak dan hak mereka. Transaksi harus dilakukan
dengan harga yang transparan dan dalam kondisi wajar yang
melindungi hak semua pemegang saham sesuai dengan kelas
mereka.
b. Perangkat anti-pengambil-alih tidak boleh digunakan untuk
melindungi manajemen dan dewan pengurus dari
pertanggungjawaban.
6. Pelaksanaan hak kepemilikan oleh semua pemegang saham,
termasuk investor institusi, harus difasilitasi.
a. Investor institusional yang bertindak dalam kapasitas
fidusia harus mengungkapkan keseluruhan tata kelola
perusahaan dan kebijakan pemungutan suara sehubungan
dengan investasi mereka, termasuk prosedur yang ada
untuk menentukan penggunaan hak suara mereka.
b. Investor institusional yang bertindak dalam kapasitas
fidusia harus mengungkapkan bagaimana mereka
mengelola konflik kepentingan material yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan hak kepemilikan utama terkait
investasi mereka.
7. Pemegang saham, termasuk pemegang saham institusional, harus
diajak berkonsultasi satu sama lain mengenai isu-isu mengenai hak
pemegang saham dasar mereka sebagaimana didefinisikan dalam
Prinsip, tunduk pada pengecualian untuk mencegah
penyalahgunaan.
b. Persamaan Perlakuan terhadap Seluruh Pemegang Saham
Perlakuan yang sama terhadap para Pemegang Saham, terutama
kepada Pemegang Saham minoritas dan Pemegang Saham asing, dengan
keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk
pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam (Insider Trading).
Hukum Perusahaan di Indonesia telah mengatur prinsip ini, seperti yang
diatur dalam UUPT ditegaskan bahwa saham memberikan hak kepada
pemiliknya untuk:
a. Menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS
b. Menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi;
c. Menjalankan hak lainnya berdasarkan UUPT.
Dalam praktinya masalah perlindungan pemegang saham minoritas
masih sarat kontrovesi, dan sering sekadar hanya merupakan wacana
normatif. Jika ditelusuri lebih jauh, prinsip ini salah satu aspek yang perlu
diprioritaskan dalam penerapan atau pengaturan corporate governance di
Indonesia. Sebagai contoh, penerapan Pasal 62 ayat (1) UUPT, yang
menentukan bahwa. “Setiap pemegang saham berhak meminta kepada
perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar, apabila yang
bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang merugikan
pemegang saham atau perseroan, berupa: perubahan anggaran dasar, b.
pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai nilai
lebih dari 50%(lima puluh persen) kekayaan bersih Perseroan; atau ,
penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan”. Ketentuan
pasal ini sangat limitatif dan tidak menentukan secara imperative
mewajibkan perseroan membeli saham dari pemegang saham minoritas,
maupun sanksi jika perseroan menolak membeli saham tersebut, dengan
kata lain pemegang saham minoritas tertutup untuk memanfaatkan pasal
62 UUPT
c. Peranan Pemegang Saham
Peranan Pemegang Saham harus diakui sebagaimana ditetapkan
oleh hukum dan kerja sama yang aktif antara perusahaan serta pemegang
kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan kerja dan perusahaan
yang sehat dari aspek keuntungan.
d. Keterbukaan dan Transparansi
Pengungkapan yang akurat dan tepat waktunya serta transparansi
mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan,
serta para pemegang kepentingan (Stakeholders). Hukum Perusahaan yang
berlaku di Indonesia tampaknya baru mengakomodir prinsip disclosure
dan transparancy bahwa kewajiban Direksi dan Komisaris dalam
menjalankan tugas-tugasnya harus dilandasi iktikad baik, tidak ada
ketentuan yang jelas mengatur kewajiban, atau sanksi apabila perseroan
tidak menerapkan keterbukaan dan atau transparansi.
e. Akuntabilitas Dewan Komisaris (Board of Directors)
Kerangka Corporate Governance harus menjamin adanya
pedoman strategis perusahaan, pengawasan yang efektif terhadap
manajemen yang dilaksanakan oleh dewan komisaris, serta akuntabilitas
dewan komisaris terhadap pemegang saham maupun perseroan.

B. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG SAHAM


1. Perlindungan dari Perundang-Undangan
Secara mendasar bahwa sejak awal perusahaan akan melakukan
aktivitas di pasar modal, sudah disiapkan seperangkat peraturan yang
maksudnya sebagai rangkaian tindakan preventif, agar emiten adalah
emiten yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dengan itikad baik
akan membagi power dan intensisnya kepada masyarakat. Peraturan yang
mengatur tentang syarat materil maupun formal, prosedur dan pelaksanaan
emisi saham tersebut merupakan upaya awal kepada pemegang saham
publik, perlindungan tahap berikutnya dan antisipasi oleh peraturan-
peraturan yang dikeluarkan oleh bappepam sebagai institusi yang
berwenang untuk mengawasi pasar modal di Indonesia. Bapepam adalah
otoritas dari pasar modal yang berwenang untuk mengawasi jalannya
aktivitas di pasar modal. Karena seperti dijelaskan diatas bahwa
kepentingan pemegang saham harus dilindungi untuk menciptakan citra
pasar modal yang baik agar dapat lebih menarik investor untuk
menanamkan modalnya di pasar modal. Dengan kata lain bahwa sebagian
dari sistem perlindungan hukum bagi pemegang saham publik berada di
tangan Bapepam. Perlindungan terhadap pemegang saham dimuat dalam
ketentuan perundang-undangan dalam pasar modal, seperti UU pasar
modal dan perlindungan terhadap pemegang saham yang dilakukan
Bapepam dapat dilihat dari UU Pasar Modal Pasal 82 ayat (2) Peraturan
No. IX.E.1.
2. Perlindungan dari Penerapan Good Corporate Governance
Penerapan GCG dalam pengelolaan perusahaan dapat memberikan
perlindungan terhadap pemegang saham karena dalam GCG terdapat
prinsip-prinsip yang dapat melindungi kepentingan perusahaan, pemegang
saham, manajemen, dan investor serta pihak-pihak yang terkait dengan
perusahaan. Ide dasar dari GCG adalah memisahkan fungsi dan
kepentingan diantara para pihak dalam suatu perusahaan, seperti
perusahaan yang menyediakan modal atau pemegang saham, pengawas
dan pelaksana sehari-hari usaha perusahaan dan masyarakat luas. Dan
GCG juga dijadikan sebagai suatu aturan atau standar yang mengatur
perilaku pemilik perusahaan, Direksi, Manajer, dengan merinci tugas dan
wewenang serta bentuk pertanggung jawaban kepada pemegang saham.
3. Perlindungan Hukum Pemegang Saham Minoritas
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (UUPT) telah mengatur hak-hak pemegang saham minoritas.
Bentuk-bentuk hak pemegang saham minoritas tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Personal Right (Hak Perseorangan)
Secara umum, semua orang adalah sama kedudukannya dalam
hukum, berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan. Pemegang saham minoritas sebagai subjek hukum
mempunyai hak perseorangan untuk menggugat Direksi atau
Komisaris, apabila Direksi atau Komisaris melakukan kesalahan atau
kelalaian yang merugikan pemegang saham minoritas melalui
pengadilan negeri.
Personal Right pemegang saham minoritas dalam Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)
adalah:
Pasal 61 Ayat (1), Setiap pemegang saham berhak mengajukan
gugatan terhadap perseroan ke Pengadilan Negeri apabila dirugikan
karena tindakan perseroan yang dianggap tidak adil dan tanpa alasan
wajar sebagai akibat keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan
Komisaris. (Setiap pemegang saham dalam pasal ini memberikan
pembatasan bagi para pemegang saham yang mempunyai saham
minimal 10% (sepuluh persen) dalam perusahaan).
2. Appraisal Right
Appraisal Right adalah hak pemegang saham minoritas untuk
membela kepentingannya dalam rangka menilai harga saham. Hak ini
dipergunakan oleh pemegang saham pada saat meminta kepada
perseroan agar sahamnya dinilai dan dibeli dengan harga yang wajar,
karena pemegang saham tersebut tidak menyetujui tindakan perseroan
yang dapat merugikannya atau merugikan perseroan itu sendiri.
Appraisal Right pemegang saham minoritas dalam Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)
adalah:
Pasal 62 Ayat (1), Setiap pemegang saham berhak meminta kepada
Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang
bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan
pemegang saham atau Perseroan, berupa :
a. perubahan anggaran dasar;
b. pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai
nilai lebih dari 50% (lima puluh persen) kekayaan bersih
Perseroan; atau
c. penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan.
3. Pre-Emptive Right
Pre-Emptive Right adalah hak untuk meminta didahulukan
atau hak untuk memiliki lebih dahulu atas saham yang ditawarkan.
Dalam anggaran dasar perseroan dapat diatur pembatasan mengenai
keharusan menawarkan saham, baik ditawarkan kepada pemegang
saham intern maupun ekstern, atau pelaksanaanya harus mendapat
persetujuan dahulu dari organ perseroan. Jadi, dalam anggaran dasar
perseroan dapat ditentukan bahwa kepada pemegang saham minoritas
diberikan hak untuk membeli saham terlebih dahulu daripada
pemegang saham lainnya. Harga yang ditawarkan kepada pemegang
saham minoritas harus sama dengan harga yang ditawarkan kepada
pemegang saham lainnya.
Pre-Emptive Right pemegang saham minoritas dalam Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)
adalah:
Pasal 43 Ayat (1) dan Ayat (2),
(1) Seluruh saham yang dikeluarkan untuk penambahan modal harus
terlebih dahulu ditawarkan kepada setiap pemegang saham seimbang
dengan pemilikan saham untuk klasifikasi saham yang sama.
(2) Dalam hal saham yang akan dikeluarkan untuk penambahan
modal merupakan saham yang klasifikasinya belum pernah
dikeluarkan, yang berhak membeli terlebih dahulu adalah seluruh
pemegang saham sesuai dengan perimbangan jumlah saham yang
dimilikinya.
4. Derivative Right
Kewenangan pemegang saham minoritas untuk menggugat
Direksi dan Komisaris yang mengatasnamakan perseroan. Pemegang
saham minoritas memiliki hak untuk membela kepentingan perseroan
melalui otoritas lembaga peradilan, gugatan melalui lembaga
peradilan harus membuktikan adanya kesalahan atau kelalaian Direksi
atau Komisaris. Dengan gugatan tersebut, apabila gugatan
dimenangkan, maka yang berhak menerima pembayaran ganti rugi
dari tergugat adalah perseroan. Hak ini juga meliputi hak untuk
menuntut diselenggarakannya RUPS atas nama perseroan.
Derivative Right pemegang saham minoritas dalam Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)
adalah :
1) Pasal 79 Ayat (2), Penyelenggaraan RUPS sebagaimana dimaksud
pada Ayat (1) dapat dilakukan atas permintaan :
a. Satu orang atau lebih pemegang saham yang bersama-sama
mewakili 1/10 (satu persepuluh) atau lebih dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara, kecuali anggaran dasar menentukan
suatu jumlah yang lebih kecil; (Pemegang Saham perseroan
meminta diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang Saham,
pemegang saham minoritas hanya sekedar mengusulkan tanpa
ada kewenangan untuk memutuskan diadakannya RUPS).
2) Pasal 144 Ayat (1), Direksi, Dewan Komisaris atau 1 (satu)
pemegang saham atau lebih yang mewakili paling sedikit 1/10
(satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak
suara, dapat mengajukan usul pembubaran Perseroan kepada
RUPS.
5. Enquete Recht (Hak Enquete)
Enquete Recht atau hak angket adalah hak untuk melakukan
pemeriksaan. Hak angket diberikan kepada pemegang saham minoritas
untuk mengajukan permohonan pemeriksaan terhadap perseroan
melalui pengadilan, mengadakan pemeriksaan berhubung terdapat
dugaan adanya kecurangan-kecurangan atau hal-hal yang
disembunyikan oleh Direksi, Komisaris atau pemegang saham
mayoritas. Pada dasarnya, pengawasan terhadap Direksi dalam
pengelolaan perseroan dilaksanakan oleh komisaris. Tetapi dalam
praktik, sering terjadi Direksi maupun Komisaris karena kesalahan
atau kelalaiannya mengakibatkan kerugian pada perseroan, pemegang
saham atau pihak ketiga. Oleh karena itu, pemegang saham minoritas
berhak melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan operasional
perseroan.
Enquete Recht pemegang saham minoritas dalam Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)
adalah sebagai berikut :
1) Pasal 97 Ayat (6), Atas nama Perseroan, pemegang saham yang
mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah
seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan
melalui pengadilan negeri terhadap anggota Direksi yang karena
kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada
Perseroan.
2) Pasal 114 Ayat (6), Atas nama Perseroan, pemegang saham yang
mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah
seluruh saham dengan hak suara dapat menggugat anggota Dewan
Komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan
kerugian pada Perseroan ke pengadilan negeri.
3) Pasal 138 Ayat (3), Permohonan pemeriksaan Perseroan dapat
diajukan oleh :
a. 1 (satu) pemegang saham atau lebih yang mewakili paling
sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara;
b. pihak lain yang berdasarkan peraturan perundang-undangan,
anggaran dasar Perseroan atau perjanjian dengan Perseroan
diberi wewenang untuk mengajukan permohonan pemeriksaan;
atau
c. kejaksaan untuk kepentingan umum.
(Meminta diadakannya pemeriksaan terhadap perseroan, dalam hal
terdapat dugaan bahwa perseroan, anggota Direksi atau Komisaris
perseroan melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan
perseroan atau pemegang saham atau pihak ketiga).

C. HAK DAN KEWAJIBAN PEMEGANG SAHAM


1. Hak Pemegang Saham
Hak pemegang saham harus dilindungi dan dapat dilaksanakan sesuai
peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan. Hak
pemegang saham tersebut pada dasarnya meliputi:
a. Hak untuk menghadiri, menyampaikan pendapat, dan memberikan
suara dalam RUPS berdasarkan ketentuan satu saham memberi hak
kepada pemegangnya untuk mengeluarkan satu suara
b. Hak untuk memperoleh informasi mengenai perusahaan secara
tepat waktu, benar dan teratur, kecuali hal-hal yang bersifat
rahasia, sehingga memungkinkan pemegang saham membuat
keputusan mengenai investasinya dalam perusahaan berdasarkan
informasi yang akurat
c. Hak untuk menerima bagian dari keuntungan perusahaan yang
diperuntukkan bagi pemegang saham dalam bentuk dividen dan
pembagian keuntungan lainnya, sebanding dengan jumlah saham
yang dimilikinya
d. Hak untuk memperoleh penjelasan lengkap dan informasi yang
akurat mengenai prosedur yang harus dipenuhi berkenaan dengan
penyelenggaraan RUPS agar pemegang saham dapat berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan mengenai hal-
hal yang mempengaruhi eksistensi perusahaan dan hak pemegang
saham
e. Dalam hal terdapat lebih dari satu jenis dan klasifikasi saham
dalam perusahaan, maka: (i) setiap pemegang saham berhak
mengeluarkan suara sesuai dengan jenis, klasifikasi dan jumlah
saham yang dimiliki; dan (ii) setiap pemegang saham berhak untuk
diperlakukan setara berdasarkan jenis dan klasifikasi saham yang
dimilikinya.
2. Kewajiban Pemegang Saham
Undang-undang Perseroan Terbatas telah memberikan batasan kepada
kekuasaan Pemegang Saham di dalam Perseroan dan pada akhirnya
mengatur tentang tanggung jawab Pemegang Saham tersebut. Ketentuan-
ketentuan tentang tanggung jawab Pemegang Saham dapat dilihat dalam
pasal 3 (2), pasal 7 (3), dan (4). Pemegang Saham harus menyadari
kewajiban dan tanggung jawabnya dengan memperhatikan anggaran dasar
Perusahaan dan peraturan perundang-undangan, yang meliputi :
a. Pemegang Saham :
a) Memisahkan kepemilikan harta Perusahaan dengan kepemilikan harta
pribadi, dan
b) Memisahkan fungsinya sebagai Pemegang Saham dengan fungsinya
sebagai anggota Dewan Komisaris atau Direksi dalam hal Pemegang
Saham menjabat pada salah satu organ tersebut.
b. Pemegang Saham Pengendali :
a) Memperhatikan kepentingan Pemegang Saham Minoritas dan
pemangku kepentingan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.
b) Mengungkapkan kepada instansi penegak hukum tentang Pemegang
Saham Pengendali yang sebenarnya (ultimate shareholders) dalam hal
terdapat dugaan terjadinya pelanggaran terhadap peraturan perundang-
undangan, atau dalam hal diminta oleh otoritas terkait.
c. Dalam hal Pemegang Saham Pengendali menjadi Pemegang Saham
Pengendali pada beberapa perusahaan lain, perlu diupayakan agar
akuntabilitas dan hubungan antar perusahaan dapat dilakukan secara jelas.

D. TANGGUNG JAWAB PERUSAHAAN TERHADAP HAK DAN


KEWAJIBAN PEMEGANG SAHAM
Perusahaan harus :
1. Melindungi hak Pemegang Saham sesuai dengan anggaran dasar
Perusahaan dan peraturan perundang-undangan.
2. Menyelenggarakan Daftar Pemegang Saham secara tertib sesuai dengan
anggaran dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan.
3. Menyediakan informasi mengenai Perusahaan secara tepat waktu, benar
dan teratur bagi Pemegang Saham, kecuali hal-hal yang bersifat rahasia.
4. Tidak memihak pada Pemegang Saham tertentu dengan memberikan
informasi yang tidak diungkapkan kepada Pemegang Saham lainnya.
5. Memberikan penjelasan lengkap dan informasi akurat mengenai
penyelenggaraan RUPS.