Anda di halaman 1dari 27

POLINOMIAL GELANGGANG (RING)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Aljabar Abstrak


Dosen Pengampu: Drs. Bayu Surarso, M.Sc, Ph.D

disusun oleh :

Siti Aminah (0401517042)


Yoshida Agung Ramadhan (0401517059)

A-2 Reguler

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Polinomial adalah suatu konsep matematika yang telah kita kenal sejak
duduk di bangku sekolah menengah. Sebagai contoh fungsi polynomial adalah
suatu yang paling akrab dengan siswa dan fungsi yang amat mudah dihitung yaitu
ekspresi seperti 3𝑥 2 + 4𝑥 + 5 telah kita kenal sejak lama. Polinomial adalah salah
satu konsep matematika yang paling banyak di gunakan dalam aplikasi. Sebagai
contoh fungsi polinomial adalah suatu fungsi yang amat mudah dihitung, sehingga
polinomial sering di gunakan untuk mengaproksimasi nilai dari fungsi-fungsi lain
yang sulit.
Selain kegunaannya dalam bidang aplikasi, polinomial juga merupakan
suatu konsep yang penting dalam teori gelanggang. Sebagai contoh, kita ingin
memperluas gelanggang Z dengan memasukkan suatu bilangan riel 𝑒 ≈ 2.72
kedalam gelanggang Z sehingga membentuk suatu gelanggang R unsur-unsur di R
harus mengandung perpangkatan dari e. Lebih lanjut R mestilah mengandung
unsur-unsur dalam bentuk
𝑎0 + 𝑎1 𝑒 + 𝑎2 𝑒 2 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑒 𝑛 , 𝑛 ∈ 𝑍 +
Yang merupakan polynomial dalam variable e dengan koefisien 𝑎𝑖 ∈ 𝑍, 𝑖 =
0,1,2, … , 𝑛. Sehingga untuk memperluas suatu gelanggang kita mengunakan
konsep polinomial.
Pada bab ini kita akan mendiskusikan gelanggang polinomial, yakni suatu
gelanggang yang terdiri dari polinomial dengan koefisien berasal dari suatu
gelanggang R. Kemudian kita akan membahas beberapa sifat dari gelanggang
polinomial.

i
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah agar penguraian makalah lebih terarah
dan terfokus maka rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana yang dimaksud dengan gelanggang polinomial?
2. Bagaimana cara penjumlahan dan perkalian pada gelanggang
polinomial?
3. Bagaimana cara pembagian pada gelanggang polinomial?
4. Bagaimana cara menentukan gelanggang polinomial tereduksi dan tak
tereduksi ?

1.3. Tujuan Penulisan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan gelanggang polinomial.
2. Mengetahui bagaimana cara penjumlahan dan perkalian pada
gelanggang polinomial.
3. Mengetahui bagaimana cara pembagian pada gelanggang polinomial.
4. Mengetahui bagaimana cara menentukan gelanggang polinomial
tereduksi dan tak tereduksi

ii
BAB II
ISI

2.1. Pengantar Polinomial (Notasi dan Terminologi)


Salah satu konsep matematika yang paling akrab dengan siswa dan yang
paling mudah adalah polinomial. Di sekolah menengah, siswa mempelajari
polinomial dengan koefisien integer, koefisien rasional, koefisien nyata, dan
mungkin bahkan koefisien kompleks. Dalam bab ini, dijelaskan sesuatu yang
mungkin polinomial baru dengan koefisien dari 𝑍𝑛 . Perhatikan bahwa semua set ini
polinomial adalah gelanggang, dan, dalam setiap kasus, seperangkat koefisien juga
gelanggang. Dalam bab ini, kita abstrak semua contoh menjadi satu.

Definisi: Gelanggang polynomial atas R

Andaikan R suatu gelanggang komutatif. Himpunan

𝑅[𝑥] = {𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 | 𝑎𝑖 ∈ 𝑅, 𝑑𝑎𝑛 𝑛 ∈ 𝑍 + }

disebut polinomial gelanggang atas R dalam x indeterminate (tidak tentu).


Dua elemen
𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
dan
𝑏𝑚 𝑥 𝑚 + 𝑎𝑚−1 𝑥 𝑚−1 + ⋯ + 𝑏1 𝑥 + 𝑏0

R [x] dianggap sama jika dan hanya jika 𝑎𝑖 = 𝑏𝑖 untuk semua nonnegatif
bilangan bulat i. (Definisikan 𝑎𝑖 = 0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑖 > 𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑖 = 0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑖 > 𝑚).

1
Pada definisi di atas, symbol 𝑥, 𝑥 2 , … , 𝑥 𝑛 tidak menyatakan suatu variable yang
berasal dari gelanggang R, tetapi simbol-simbol tersebut semata-mata hanyalah
sebagian suatu tempat penyimpanan yang pada suatu mungkin saja kita gantikan
dengan unsur dengan unsur R. Dua unsur di 𝑅[𝑥]

Selanjutnya perhatikan suatu polynomial


𝑎(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0
Di R[x]. Pada polynomial ini, bentuk 𝑎𝑘 𝑥 𝑘 kita sebut sebagai suku dari polynomial
a(x) dan untuk setiap suku 𝑎𝑘 𝑥 𝑘 , 𝑘 = 0,1 … , 𝑛, 𝑎𝑘 disebut sebagi koefisien dari
𝑥𝑘 .
Derajat dari suatu polynomial a(x) adalah bilangan bulat positif terbesar n sehingga
𝑎𝑛 ≠ 0. Dengan perkataan lain suatu polynomial 𝑎(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 +
⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 dikatakan berderajat s, jika 𝑎𝑠 ≠ 0 dan 𝑎𝑘 = 0 untuk semua k>s.
Bila a(x) adalah polynomial berderajat s, maka koefisien 𝑎𝑠 disebut sebagai
koefisien utama (leading coefisient) dari a(x). polynomial a(x) dikatakan sebagai
polynomial monic jika koefisien utamanya adalah 1.

Contoh :

p(x) = 3𝑥 6 + 𝑥 4 – 2x +1, adalah polinom yang mempunyai derajat 6.

2
Definisi Penjumlahan dan Perkalian dalam R[x]

Andaikan R adalah suatu gelanggang komutatif. Dan andaikan

𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0

Dan

𝑔(𝑥) = 𝑏𝑚 𝑥 𝑚 + 𝑎𝑚−1 𝑥 𝑚−1 + ⋯ + 𝑏1 𝑥 + 𝑏0


Termasuk R[x], maka
Penjumlahan dari 𝑓(𝑥) dan 𝑔(𝑥) didefinisikan sebagai berikut :

𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥) = (𝑎𝑠 +𝑏𝑠 )𝑥 𝑠 + (𝑎𝑠−1 +𝑏𝑠−1 )𝑥 𝑠−1 + ⋯


+ (𝑎1 + 𝑏1 )𝑥 + (𝑎0 + 𝑏0 )

dimana s adalah maksimum m dan n, 𝑎𝑖 = 0 untuk 𝑖 > 𝑛, dan


𝑏𝑖 = 0 untuk 𝑖 > 𝑚.

Perkalian dari 𝑎(𝑥) dan 𝑏(𝑥) didefinisikan sebagai berikut:

𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) = 𝑐𝑚+𝑛 𝑥 𝑚+𝑛 + 𝑐𝑚+𝑛−1 𝑥 𝑚+𝑛−1 + ⋯ + 𝑐1 𝑥 + 𝑐0 ,


dengan 𝑐𝑘 = 𝑎𝑘 𝑏0 + 𝑎𝑘−1 𝑏1 + ⋯ + 𝑎1 𝑏𝑘−1 + 𝑎0 𝑏𝑘
untuk k = 0, ..., m + n.

Berdasarkan definisi diatas, maka :

operasi penjumlahan polinomial bersifat asosiatif, yaitu :

𝑎(𝑥) + [𝑏(𝑥) + 𝑐(𝑥)] = [𝑎(𝑥) + 𝑏(𝑥)] + 𝑐(𝑥)

operasi penjumlahan polinomial bersifat komutatif, yaitu :

𝑎(𝑥) + 𝑏(𝑥) = 𝑏(𝑥) + 𝑎(𝑥)

3
Unsur identitas dari 𝑅[𝑥] relatif terhadap operasi penjumlahan polinomial adalah
0 ∈ 𝑅[𝑥], yaitu polinomial nol (𝑎(𝑥) = 0 + 0𝑥 + 0𝑥 2 + ⋯ + 0𝑥 𝑛 ).

Untuk setiap 𝑎(𝑥) ∈ 𝑅[𝑥], invers dari 𝑎(𝑥) terhadap operasi penjumlahan adalah
unsur −𝑎(𝑥) = (−𝑎0 ) + (−𝑎1 )𝑥 + (−𝑎2 )𝑥 2 + ⋯ + (−𝑎𝑛 )𝑥 𝑛 . Sehingga
〈𝑅[𝑥], +〉 adalah suatu grup komutatif.

Operasi perkalian polinomial bersifat asosiatif, yaitu :

𝑎(𝑥)[𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)] = [𝑎(𝑥)𝑏(𝑥)]𝑐(𝑥)
Pandang sebarang tiga unsur di 𝑅[𝑥], yakni :

𝑎(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 , 𝑏(𝑥) = ∑𝑛𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 𝑗 , 𝑐(𝑥) = ∑𝑛𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 𝑘

Misalkan :

𝑑(𝑥) = 𝑎(𝑥)𝑏(𝑥)

= 𝑑0 + 𝑑1 𝑥 + 𝑑2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑑2𝑛 𝑥 2𝑛

= ∑2𝑛
𝑙=0 𝑑𝑙 𝑥
𝑙

dengan 𝑑𝑙 = ∑𝑖+𝑗=𝑙 𝑎𝑖 𝑏𝑗 , 𝑙 = 0,1,2, … ,2𝑛. Maka diperoleh :

𝑒(𝑥) = [𝑎(𝑥)𝑏(𝑥)]𝑐(𝑥)

= 𝑑(𝑥)𝑐(𝑥) = 𝑒0 + 𝑒1 𝑥 + 𝑒2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑒3𝑛 𝑥 3𝑛

= ∑3𝑛
𝑚=0 𝑒𝑚 𝑥
𝑚

dengan

𝑒𝑚 = ∑𝑙+𝑘=𝑚 𝑑𝑙 𝑐𝑘 , 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚 = 0,1,2, ⋯ ,3𝑛

= ∑𝑙+𝑘=𝑚(∑𝑖+𝑗=𝑙 𝑎𝑖 𝑏𝑗 ) 𝑐𝑘

= ∑𝑖+𝑗+𝑘=𝑚 𝑎𝑖 𝑏𝑗 𝑐𝑘

Dengan cara yang serupa dapat diperlihatkan bahwa

4
𝑢(𝑥) = 𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)

= 𝑢0 + 𝑢1 𝑥 + 𝑢1 𝑥 2 + ⋯ + 𝑢2𝑛 𝑥 2𝑛

dengan 𝑢𝑝 = ∑𝑗+𝑘=𝑝 𝑏𝑗 𝑐𝑘 , sehingga bila 𝑣(𝑥) = 𝑎(𝑥)[𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)], maka kita


peroleh

𝑣(𝑥) = 𝑎(𝑥)[𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)]

= 𝑎(𝑥)𝑢(𝑥) = 𝑣0 + 𝑣1 𝑥 + 𝑣2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑣3𝑛 𝑥 3𝑛

dengan

𝑢𝑝 = ∑ 𝑎𝑖 𝑢𝑝 untuk 𝑞 = 0,1,2, … ,3𝑛


𝑖+𝑝=𝑞

= ∑ 𝑎𝑖 ( ∑ 𝑏𝑗 𝑐𝑘 )
𝑖+𝑝=𝑞 𝑗+𝑘=𝑝

= ∑ 𝑎𝑖 𝑏𝑗 𝑐𝑘
𝑖+𝑗+𝑘=𝑞

sehingga untuk setiap r = 0,1,2,…,3n kita peroleh fakta 𝑣𝑟 = 𝑒𝑟 . Hal in berakibat


(𝑥)[𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)] = [𝑎(𝑥)𝑏(𝑥)] 𝑐(𝑥) , yakni operasi perkalian polinomial adalah
asosiatif.

Operasi-operasi dalam polinomial bersifat distributif, yaitu :

(a) 𝑎(𝑥). [𝑏(𝑥) + 𝑐(𝑥)] = [𝑎(𝑥). 𝑏(𝑥)] + [𝑎(𝑥). 𝑐(𝑥)]


(b) [𝑏(𝑥) + 𝑐(𝑥)]. 𝑎(𝑥) = [𝑏(𝑥). 𝑎(𝑥)] + [𝑐(𝑥). 𝑎(𝑥)]

Misalkan :

𝑑(𝑥) = 𝑎(𝑥)[𝑏(𝑥) + 𝑐(𝑥)]

= 𝑑0 + 𝑑1 𝑥 + 𝑑2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑑2𝑛 𝑥 2𝑛

5
Dengan mengingat defenisi penjumlahan dan perkalian polinomial, koefesien dari
suku ke k dari 𝑎(𝑥)[𝑏(𝑥)𝑐(𝑥)] adalah

𝑑𝑘 = ∑ 𝑎𝑖 (𝑏𝑗 + 𝑐𝑗 )
𝑖+𝑗=𝑘

= ∑ 𝑎𝑖 𝑏𝑗 + 𝑎𝑖 𝑐𝑗
𝑖+𝑗=𝑘

= ∑ 𝑎𝑖 𝑏𝑗 + ∑ 𝑎𝑖 𝑐𝑗
𝑖+𝑗=𝑘 𝑖+𝑗=𝑘

Tetapi ∑𝑖+𝑗=𝑘 𝑎𝑖 𝑏𝑗 adalah koefesien suku ke k dari a(x) b(x), dan ∑𝑖+𝑗=𝑘 𝑎𝑖 𝑐𝑗
adalah koefesien suku ke k dari a(x) c(x). Karena dk sama dengan koefesien suku ke
k dari a(x) b(x) + a(x) c(x). Hal ini berakibat

a(x)[ b(x)+c(x)] = a(x) b(x) + a(x) c(x).

Dengan cara yang sama dapat diperlihatkan bahwa

[a(x) + b(x)] c(x) = a(x) c(x) + b(x) c(x).

Maka terbukti bahwa himpunan gelanggang polinomial R[x] dengan operasi


penjumlahan dan perkalian polinomial adalah suatu gelanggang.

Contoh 1

f dan g dalam 𝑍3 [𝑥] dengan f (x) = 2𝑥 3 + 𝑥 2 + 2x + 2 dan g (x) = 2𝑥 2 + 2x + 1


dengan notasi, 𝑎5 = 0, 𝑎4 = 0 , 𝑎3 = 2 , 𝑎1 = 2 , 𝑎0 = 2 , dan 𝑏5 = 0 , 𝑏4 = 0 ,
𝑏3 = 0, 𝑏2 = 2, 𝑏1 = 2, 𝑏0 = 1.

Tentukan :

a) f (x) + g (x)
b) f (x) ∙ g (x)

6
Penyelesaian:

f (x) + g (x) = (2+0) 𝑥 3 + (1+2) 𝑥 2 + (2+2) x + (2+1)

= 2𝑥 3 +0𝑥 2 +1x + 0

= 2𝑥 3 + x

f (x) ∙ g (x) = (0 ∙ 1 + 0 ∙ 2 + 2 ∙ 2 + 1 ∙ 0 + 2 ∙ 0 + 2 ∙ 0) 𝑥 5

+ (0 ∙ 1+ 2 ∙ 2 + 1 ∙ 2 + 2 ∙ 0 + 2 ∙ 0) 𝑥 4

+ ( 2 ∙ 1 + 1 ∙ 2 + 2 ∙ 2 + 2 ∙ 0) 𝑥 3

+ (1 ∙ 1 + 2 ∙ 2 + 2 ∙ 2) 𝑥 2 + (2 ∙ 1 + 2 ∙ 2) x + 2 ∙ 1

= 𝑥 5 + 0 𝑥 4 + 2𝑥 3 + 0𝑥 2 + 0x + 2

= 𝑥 5 + 2𝑥 3 + 2

Contoh 2

f dan g dalam 𝑍3 [𝑥] dengan f (x) =2 𝑥 2 + 2 dan g (x) = 2x+2 .

Tentukan :

a) f (x) + g (x)
b) f (x) ∙ g (x)

Penyelesaian:

a) f (x) + g (x) = (2 𝑥 2 + 2) + (2x+2)


= (2+0) 𝑥 2 + (2+0) x + (2+2)

= 2𝑥 2 +2x + 1

7
b) f (x) ∙ g (x) = (2 𝑥 2 + 2) ∙ (2x+2)
= (2∙ 2) 𝑥 2+1 + (2 ∙ 2) 𝑥 2 + (2+2) x + (2∙2)
= 1𝑥 0 + 1𝑥 2 + 1 x + 1
= 𝑥2+ x + 2

Contoh 3
Diperhatikan bahwa f (x) = 2 x 4 + 2 dan g (x) = 2 x 4 merupakan dua polinomial
yang koefisiennya merupakan elemen di Z 4 [𝑥] . Diperhatikan bahwa:

(i). f (x) + g(x) = (2 x 4 + 2)+ (2 x 4 ) = (2 x 4 + 2 x 4 )+ (2) = 0 ( x 4 )+ 2 = 2


(ii). f (x) ⋅ g(x) = (2 x 4 + 2)⋅(2 x 4 ) = (2∙ 2)𝑥 (4+4) + (2∙ 2) x 4 = 0 .
Terlihat bahwa derajat f (x) + g(x) = 0 dan derajat f (x) ⋅ g(x) tak terdefinisi.
Hasil diatas dapat diringkas dalam teorema berikut ini.

Teorema

Bila R adalah suatu gelanggang, maka himpunan gelanggang polinomial


R[x] dengan operasi penjumlahan dan perkalian polinomial adalah suatu
gelanggang.
Jika R komutatif maka R[ x] juga komutatif dan jika R mempunyai elemen
satuan 1 maka 1 juga merupakan elemen satuan dari R[ x]

Bukti:
Misalkan 𝑓(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 , 𝑔(𝑥) = ∑𝑚 𝑗 𝑟
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 , ℎ(𝑥) = ∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥
𝑘
adalah
polinomial di R[ x] . Dari penjabaran di atas, penjumlahan dan perkalian polinomial
di R[ x] adalah polinomial di R[ x] , sehingga R[ x] tertutup untuk operasi
penjumlahan dan perkalian di R[ x] selanjutnya akan ditunjukkan R[ x] mempunyai
sifat:

8
1. Terhadap operasi penjumlahan merupakan grup komutatif
a. Sifat tertutup sudah ditunjukkan.
b. Bersifat assosiatif.
[𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥)] + ℎ(𝑥) = (∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 +∑𝑚 𝑗 𝑟
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 )+∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥
𝑘

= ∑𝑠𝑖=0(𝑎𝑖 + 𝑏𝑖 )𝑥 𝑖 +∑𝑟𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 𝑘 , 𝑠 = max(𝑛, 𝑚)

= ∑𝑡𝑖=0((𝑎𝑖 + 𝑏𝑖 ) + 𝑐𝑖 )𝑥 𝑖 , 𝑡 = max(𝑠, 𝑟)

= ∑𝑢𝑖=0(𝑎𝑖 + (𝑏𝑖 + 𝑐𝑖 ))𝑥 𝑖 , 𝑢 = max(𝑛, 𝑚, 𝑟)

=∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 +∑𝑣𝑗=0(𝑏𝑗 + 𝑐𝑗 ) 𝑥 𝑗 , 𝑣 = max(𝑚, 𝑟)

= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 + (∑𝑚 𝑗 𝑟 𝑘
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 +∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 )

= 𝑓(𝑥) + [𝑔(𝑥) + ℎ(𝑥)]

c. Ada elemen identitas terhadap penjumlahan yaitu 𝑒(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 0. 𝑥 𝑖 ,


sehingga untuk 𝑓(𝑥) di 𝑅[𝑥] berlaku:
𝑓(𝑥) + 𝑒(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 + ∑𝑛𝑖=0 0 𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0(𝑎𝑖 + 0) 𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 = 𝑓(𝑥)

𝑒(𝑥) + 𝑓(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 0 𝑥 𝑖 + ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖


= ∑𝑛𝑖=0(0 + 𝑎𝑖 ) 𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 = 𝑓(𝑥)
d. Untuk semua 𝑓(𝑥)di 𝑅[𝑥] mempunyai invers penjumlahan yaitu
– (𝑓(𝑥)) = ∑𝑛𝑖=0(−𝑎𝑖 )𝑥 𝑖 sehingga dapat ditunjukkan
𝑓(𝑥) + (−𝑓(𝑥)) = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 + ∑𝑛𝑖=0(−𝑎𝑖 )𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0(𝑎𝑖 + (−𝑎𝑖 )) 𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0 0 𝑥 𝑖 = 𝑒(𝑥)
(−𝑓(𝑥)) + 𝑓(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0(−𝑎𝑖 )𝑥 𝑖 + ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖
= ∑𝑛𝑖=0((−𝑎𝑖 ) + 𝑎𝑖 ) 𝑥 𝑖

9
= ∑𝑛𝑖=0 0 𝑥 𝑖 = 𝑒(𝑥)
e. Penjumlahan bersifat komutatif
𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥) = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 +∑𝑚 𝑗 𝑟
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 = ∑𝑘=0(𝑎𝑘 + 𝑏𝑘 )𝑥
𝑘

=∑𝑟𝑘=0(𝑏𝑘 + 𝑎𝑘 )𝑥 𝑘 , 𝑟 = max(𝑛, 𝑚) = max(𝑚, 𝑛)

= ∑𝑚 𝑗 𝑛 𝑖
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 + ∑𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 = 𝑔(𝑥) + 𝑓(𝑥)

2. Terhadap perkalian
a. Bersifat assosiatif
𝑓(𝑥)[𝑔(𝑥)ℎ(𝑥)] = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 (∑𝑚 𝑗 𝑟 𝑘
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 . ∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 )

= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 ∑𝑚+𝑟
𝑝=0 (𝑏𝑗 𝑐𝑘 )𝑥
𝑝

Misalkan 𝑑𝑝 = ∑𝑚
𝑗+𝑘=𝑝 𝑏𝑗 𝑐𝑘
𝑛+(𝑚+𝑟)
𝑓(𝑥)[𝑔(𝑥)ℎ(𝑥)] = ∑𝑞=0 (∑𝑖+𝑝=𝑞 𝑎𝑖 𝑑𝑝 )𝑥 𝑞
𝑛+(𝑚+𝑟)
= ∑𝑞=0 (∑𝑖+𝑝=𝑞 𝑎𝑖 (∑𝑚
𝑗+𝑘=𝑝 𝑏𝑗 𝑐𝑘 ))𝑥
𝑞

= ∑𝑛+𝑚+𝑟
𝑞=0 (∑𝑖+𝑗+𝑘=𝑞 𝑎𝑖 𝑏𝑗 𝑐𝑘 )𝑥 𝑞
(𝑛+𝑚)+𝑟
= ∑𝑞=0 (∑𝑝+𝑘=𝑞(∑𝑖+𝑗=𝑝 𝑎𝑖 𝑖 𝑏𝑗 )𝑐𝑘 )𝑥 𝑞

= ∑𝑛+𝑚 𝑝 𝑟
𝑞=0 (∑𝑖+𝑗=𝑝 𝑎𝑖 𝑏𝑗 )𝑥 (∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥
𝑘

= (∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 ∑𝑚 𝑗 𝑟 𝑘
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 ) ∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 )

= [𝑓(𝑥)𝑔(𝑥)]ℎ(𝑥)

b. Bersifat komutatif: 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) = ∑𝑛+𝑚


𝑝=0 (𝑎𝑖 . 𝑏𝑗 )𝑥
𝑝

=∑𝑛+𝑚 𝑝
𝑝=0 (𝑏𝑗 . 𝑎𝑖 )𝑥 = 𝑔(𝑥)𝑓(𝑥)

c. Terdapat elemen satuan yaitu 1 = 1𝑥 0 , karena


𝑓(𝑥). 1𝑥 0 = ∑𝑛𝑖=1(𝑎𝑖 . 1)𝑥 𝑖 = ∑𝑛𝑖=1(1. 𝑎𝑖 )𝑥 𝑖 = 1. 𝑓(𝑥) = 𝑓(𝑥)

3. Bersifat distributif terhadap perkalian dan penjumlahan

10
𝑓(𝑥)[𝑔(𝑥) + ℎ(𝑥)] = ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 (∑𝑚 𝑗 𝑟 𝑘
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 +∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥 )

= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 + ∑𝑠𝑝=0(𝑏𝑝 + 𝑐𝑝 ) 𝑥 𝑝 , 𝑠 = max(𝑚, 𝑟)

𝑛
𝑓(𝑥)[𝑔(𝑥) + ℎ(𝑥)] = ∑𝑛+𝑠 𝑞
𝑞=0( ∑𝑖+𝑝=𝑞 𝑎𝑖 (𝑏𝑝 + 𝑐𝑝 ))𝑥 =
𝑛
∑𝑛+𝑠
𝑞=0( ∑𝑖+𝑝=𝑞(𝑎𝑖 𝑏𝑝 + 𝑎𝑖 𝑐𝑝 ))𝑥
𝑞

max(𝑛+𝑚,𝑛+𝑟) 𝑛

= ∑ ( ∑ 𝑎𝑖 𝑏𝑝 + ∑ 𝑎𝑖 𝑐𝑝 ) 𝑥 𝑞
𝑞=0 𝑖+𝑝=𝑞 𝑖+𝑝=𝑞
𝑛
𝑛+𝑚 𝑛+𝑟
=∑ ( ∑ 𝑎𝑖 𝑏𝑝 )𝑥 𝑞 + ∑ ( ∑ 𝑎𝑖 𝑐𝑝 ) 𝑥 𝑞
𝑞=0 𝑞=0
𝑖+𝑝=𝑞 𝑖+𝑝=𝑞

= ∑𝑛𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 𝑖 . ∑𝑚 𝑗 𝑛 𝑖 𝑟
𝑗=0 𝑏𝑗 𝑥 +∑𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥 ∑𝑘=0 𝑐𝑘 𝑥
𝑘

= 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) + 𝑓(𝑥)ℎ(𝑥)
Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa [𝑓(𝑥) + 𝑔(𝑥)]ℎ(𝑥) =
𝑓(𝑥)ℎ(𝑥) + 𝑔(𝑥)ℎ(𝑥) terbukti bahwa 𝑅[𝑥] ring komutatif dengan elemen
satuan.

Teorema berikut ini lebih lanjut menyatakan bahwa jika D adalah suatu
daerah integral, maka demikian juga gelanggan polynomial 𝐷[𝑥].

Teorema 16.1: D Daerah Integral berarti D [x] Domain Integral

Bila D adalah suatu daerah integral, maka gelanggang polynomial Dx


adalah suatu integral.

Bukti. Sejak tahu bahwa Dx adalah suatu gelanggang komutatif. Selanjutnya,
karena D adalah suatu daerah integral, maka D mempunyai unsur kesatuan yaitu
1  D . Hal ini berakibat bahwa 1  1  0 x  0 x 2  .......  0 x n adalah unsur kesatuan
di Dx .

11
Sekarang kita tinggal memperlihatkan bahwa Dx tidak mempunyai unsur
pembagi nol. Untuk itu, misalkan 𝑓(𝑥), 𝑔(𝑥) 𝜖 𝐷 [𝑥] dengan

𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎0 , 𝑎𝑛 ≠ 0

𝑔(𝑥) = 𝑏𝑚 𝑥 𝑚 + 𝑎𝑚−1 𝑥 𝑚−1 + ⋯ + 𝑏0 , 𝑏𝑚 ≠ 0

Karena an  0 dan bm  0 , maka perkalian polynomial menghasilkan

𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) ≠ 0, hal ini disebabkan oleh an bm  0 . Ini berarti bahwa 𝑓(𝑥)𝑔(𝑥) = 0

dipenuhi hanya bila a( x)  0 atau b( x)  0 . Sehingga Dx tidak mempunyai


unsur pembagi nol. Jadi Dx adalah suatu daerah integral.

2.2. Pembagian Algoritma


Di sekolah menengah kita sudah mempelajari bagaimana cara membagi
suatu polinomial (dengan koefisien real) berderajat tinggi dengan polinomial
berderajat lebih rendah. Pada bagian ini kita akan melakukan abstraksi dari konsep
pembagian polinomial ini, yakni konsep pembagian pada polinomial atas suatu
lapangan F.
Contoh
Tentukan hasil bagi dari polinom-polinom berikut, dimana 𝑓(𝑥) = 3𝑥 4 + 𝑥 3 +
2𝑥 2 + 1 dan 𝑔(𝑥) = 𝑥 2 + 4𝑥 + 2 di Z5[x]. Dimana 𝑓(𝑥) adalah polinom yang
dibagi dan 𝑔(𝑥) adalah polinom pembagi.
Penyelesaian:
Diketahui:
𝑓(𝑥) = 3𝑥 4 + 𝑥 3 + 2𝑥 2 + 1 adalah polinom yang dibagi
𝑔(𝑥) = 𝑥 2 + 4𝑥 + 2 adalah polinom pembagi.

12
Pada pembagian ini tentu saja operasi penjumlahan dan perkalian dilakukan dengan
modulo 5.
3𝑥 2 + 4𝑥
𝑥 2 + 4𝑥 + 2 3𝑥 4 + 𝑥 3 + 2𝑥 2 + 1
3𝑥 4 + 2𝑥 3 + 𝑥 2
4𝑥 3 + 𝑥 2 + 1
4𝑥 3 + 𝑥 2 + 3𝑥
2𝑥 + 1

Sehingga dalam Z5[x], polinomial f(x) dapat ditulis sebagai


f(x) = g(x)q(x)+r(x) dengan 𝑔(𝑥) = 𝑥 2 + 4𝑥 + 2 , 𝑞(𝑥) = 3𝑥 2 + 4𝑥 dan
𝑟(𝑥) = 2𝑥 + 1. Pada pembagian diatas polinomial q(x) disebut sebagai hasil bagi
dan polinomial r(x) disebut sisa hasil bagi.
Teorema berikut ini memperlihatkan secara umum bahwa kita dapat
melakukan pembagian polinomial atas sebarang lapangan F.

Algoritma Pembagian dan Konsekuensi


Salah satu sifat bilangan bulat yang telah kita gunakan berulang kali adalah
algoritma pembagian: Jika a dan b adalah bilangan bulat dan b≠0, maka ada
bilangan bulat unik q dan r sedemikian hingga a= bq + r, di mana 0 ≤ r < | b |.
Teorema berikutnya adalah pernyataan analog untuk polinomial di atas lapangan.

Teorema 16.2 Pembagian Algoritma untuk F[x]

Andaikan F adalah suatu lapangan. Bila f(x) , g(x) Є F[x] dengan g(x) ≠ 0 , maka terdapat
polinomial q(x) dan r(x) di F[x] yang tunggal sehingga f(x) = g(x)q(x)+r(x) dengan r(x) =
0 atau derajat r(x) lebih kecil dari derajat g(x) .

13
Bukti :
Dengan menggunakan induksi pada derajat dari polinomial f(x) kita akan
memperlihatkan keberadaan polinomial q(x) dan r(x) . Jika f(x) = 0 atau derajat
f(x) < g(x), maka q(x) dan r(x) diperoleh dengan r(x) = f(x) dan q(x) = 0.
Selanjutnya, andaikan f(x) berderajat n dan g(x) berderajat m dengan n > m.
Misalkan
𝑓(𝑥) = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑎𝑛 𝑥 𝑛
𝑔(𝑥) = 𝑏0 + 𝑏1 𝑥 + 𝑏2 𝑥 2 + ⋯ + 𝑏𝑚 𝑥 𝑚
Dengan menggunakan teknik pembagian seperti diatas, misalkan
−1 𝑛−𝑚
ℎ(𝑥) = 𝑓(𝑥) − 𝑎𝑛 𝑏𝑚 𝑥 𝑔(𝑥) .
Sehingga h(x) = 0 atau derajat h(x) lebih kecil dari derajat f(x) . Dengan
menggunakan asumsi pada induksi, untuk polinomial h(x) terdapat polinomial q1(x)
dan r1(x) sehingga h(x)=g(x)q1(x) + r1(x) dengan r1(x) = 0 atau derajat r1(x) lebih
kecil dari derajat g(x). Hal ini berakibat
−1 𝑛−𝑚
𝑓(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑏𝑚 𝑥 𝑔(𝑥) + ℎ(𝑥)
−1 𝑛−𝑚
= 𝑎𝑛 𝑏𝑚 𝑥 𝑔(𝑥) + 𝑔(𝑥)𝑞1(𝑥) + 𝑟1(𝑥)
−1 𝑛−𝑚
= 𝑔(𝑥)[𝑎𝑛 𝑏𝑚 𝑥 + 𝑞1(𝑥)] + 𝑟1(𝑥)
−1 𝑛−𝑚
Dengan mengambil 𝑞(𝑥) = 𝑎𝑛 𝑏𝑚 𝑥 + 𝑞1(𝑥) dan r(x) = r1(x) , diperoleh
f(x) = g(x)q(x)+r(x)
dengan r(x) = 0 atau derajat r(x) lebih kecil dari derajat g(x).
Selanjutnya kita akan memperlihatkan ekspresi f(x) = g(x)q(x)+r(x) adalah
tunggal. Misalkan f(x) juga dapat ditulis sebagai f(x) = g(x)s(x)+t(x) dengan t(x) =
0 atau derajat t(x) lebih kecil dari derajat g(x). Perhatikan bahwa
g(x)q(x)+r(x)= g(x)s(x)+t(x)
Sehingga
g(x)[q(x) - s(x)] = r(x) - t(x)
Karena derajat r(x) - t(x) lebih kecil dari derajat g(x) , maka haruslah q(x) - s(x) =
0. Yakni q(x) = s(x) dan tentunya r(x) = s(x).

14
Sebagai akibat langsung dari Teorema 15.2.1 kita peroleh hasil-hasil
sebagai berikut.

Akibat 1. Teorema sisa

Andaikan F adalah suatu lapangan. Bila 𝑎 ∈ 𝐹 dan 𝑓(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥] , maka 𝑓(𝑎)
adalah sisa hail bagi dari 𝑓(𝑥) oleh (𝑥 − 𝑎).

Bukti.
Menurut teorema 16.2 untuk polinomial 𝑓(𝑥) dan (𝑥 − 𝑎 ) terdapat polinomial
𝑞(𝑥), 𝑟(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥] sehingga 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑎)𝑞(𝑥) + 𝑟(𝑥) dengan derajat 𝑟(𝑥)
lebih kecil dari derajat (𝑥 − 𝑎) . Akibatnya 𝑟(𝑥) adalah suatu konstanta yang
berada di 𝐹, sehingga 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑎)𝑞(𝑥) + 𝑟. Karena 𝑓(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥], untuk 𝑥 ∈ 𝐹
kita dapat memandang 𝑓 sebagai suatu pemetaan 𝑓: 𝐹 → 𝐹 . Sehingga 𝑓(𝑎) =
(𝑎 − 𝑎)𝑞(𝑎) + 𝑟, yakni sisa hasil bagi 𝑟 = 𝑓(𝑎).

Akibat 2 Teorema Faktor

Andaikan F adalah suatu lapangan, dan misalkan 𝑎 ∈ 𝐹 dan 𝑓(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥].


Unsur a adalah pembuat nol dari 𝑓(𝑥) jika dan hanya jika (𝑥 − 𝑎) adalah
faktor dari 𝑓(𝑥).

Bukti. Dengan menggunakan algoritma pembagian, maka polinomial 𝑓(𝑥) dapat


ditulis sebagai
𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑎)𝑞(𝑥) + 𝑟(𝑥)
Dengan 𝑟(𝑥) = 0 atau derajat dari 𝑟(𝑥) adalah 0. Bila 𝑎 pembuat nol dari 𝑓(𝑥),
maka
𝑓(𝑎) = 0 = (𝑎 − 𝑎)𝑞(𝑥) + 𝑟
Yang berakibat 𝑟 = 0. Jadi (𝑥 − 𝑎) adalah faktor dari 𝑓(𝑥).

15
Sebaliknya jika (𝑥 − 𝑎) adalah faktor dari 𝑓(𝑥), maka terdapat polinomial
𝑞(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥] sehingga 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑎)𝑞(𝑥) . Hal ini berakibat 𝑓(𝑎) = (𝑎 −
𝑎)𝑞(𝑎) = 0𝑞(𝑎) = 0. Jadi a pembuat nol dari 𝑓(𝑥).

Akibat 3

Bila 𝐹 adalah suatu lapangan, maka suatu polynomial di 𝐹[𝑥] yang berderajat
𝑛 ≥ 1 mempunyai paling banyak 𝑛 akar.

Bukti. Andaikan 𝑓(𝑥) adalah suatu polinomial berderajat 𝑛 di 𝐹[𝑥]. Kita akan
memperlihatkan pernyataan di atas dengan menggunakan induksi pada derajat dari
𝑓(𝑥).
Andaikan 𝑓(𝑥) adalah polinomial berderajat 𝑛 = 1 . Misalkan 𝑓(𝑥) =
𝑎𝑥 + 𝑏 , dengan 𝑎, 𝑏 ∈ 𝐹 dan 𝑎 ≠ 0 . Akibatnya 𝑎𝑏 −1 adalah akar dari 𝑓(𝑥) .
Sekarang andaikan 𝑓(𝑥) berderajat 𝑛 > 1. Andaikan 𝑎 adalah pembuat nol dari
𝑓(𝑥) . Menurut Akibat 15.2.3, 𝑓(𝑥) dapat ditulis sebagai 𝑓(𝑥) = (𝑥 − 𝑎)𝑔(𝑥)
dengan 𝑔(𝑥) adalah polinomial berderajat 𝑛 − 1 . Jika 𝛽 ≠ 𝑎 adalah akar dari
𝑓(𝑥), maka
0 = 𝑓(𝛽) = (𝛽 − 𝛼)𝑔(𝛽).
Karena 𝛽 − 𝛼 ≠ 0, maka 𝑔(𝛽) = 0. Yakni 𝛽 adalah pembuat nol dari 𝑔(𝑥). Tetapi
menurut hipotesis induksi 𝑔(𝑥) mempunyai paling banyak 𝑛 − 1 akar. Sehingga 𝑓
mempunyai paling banyak 𝑛 akar.

Contoh 1.
Perhatikan polinomial 𝑓(𝑥) = 𝑥 4 + 4𝑥 3 + 𝑥 2 + 4𝑥 ∈ 𝑍5 [𝑥].
Karena 𝑓(0) = 0 , 𝑓(1) = 0 , 𝑓(2) = 0 , 𝑓(3) = 0 dan 𝑓(4) = 4 , maka 𝑓(𝑥)
mempunyai empat buah akar di 𝑍5 . Selanjutnya, perhatikan polinomial 𝑔(𝑥) =
𝑥 4 + 3𝑥 2 + 1 ∈ 𝑍5 [𝑥] . Maka 𝑔(0) = 1 , 𝑔(1) = 0 , 𝑔(2) = 4 , 𝑔(3) = 4 , dan
𝑔(4) = 0. Akibatnya 𝑔(𝑥) hanya mempunyai dua akar di 𝑍5 . Suatu polinomial
mungkin saja tidak mempunyai akar pada suatu lapangan tertentu.

16
Sebagai contoh, kita perhatikan polinomial ℎ(𝑥) = 𝑥 2 + 𝑥 + 1 ∈ 𝑍2 [𝑥] . Maka
ℎ(0) = ℎ(1) = 1, sehingga ℎ(𝑥) tidak mempunyai akar di 𝑍2 .

Contoh 2
Bila lapangan 𝐹 pada hipotesis dari Akibat 15.2.4 ganti dengan sebarang
gelanggang, maka suatu polinomial berderajat 𝑛 mungkin saja mempunyai lebih
dari 𝑛 akar pada gelanggang tersebut.
Sebagai contoh, bila 𝑓(𝑥) = 2𝑥 2 + 2𝑥 ∈ 𝑍4 [𝑥] , maka 𝑓(0) = 0 , 𝑓(1) = 0 ,
𝑓(2) = 0 dan 𝑓(3) = 0 . Sehingga 𝑓(𝑥) , suatu polinomial berderajat dua,
mempunyai empat buah akar di 𝑍4 .

16.3 Teorema Polinomial berderajat n yang memiliki 0 paling banyak n

Sebuah polinomial berderajat n pada field memiliki nol sebanyak n, perhitungan


perkalian (Counting multiplicity)

Bukti.

Dengan menggunakan induksi pada n. Jelas, polinomial derajat 0 pada field tidak
memiliki angka nol. Sekarang anggaplah bahwa f (x) adalah polinomial derajat n di
pada field dan a adalah nol dari f (x) dari perkalian k. Kemudian, 𝑓(𝑥) =
(𝑥 − 𝑎)𝑘 𝑞(𝑥) dan q(a) ≠ 0; dan, karena n = deg f (x)= deg (𝑥 − 𝑎)𝑘 𝑞(𝑥) = k +deg
q (x), kita memiliki k < n (lihat Latihan 19). Jika f (x) tidak memiliki angka nol
selain a. Di sisi lain, jika b ≠ a dan b adalah nol dari f (x), maka 0 = f(b) =
(𝑏 − 𝑎)𝑘 𝑞(𝑏), sehingga b juga nol dari q (x) dengan keragaman (multiplicity) yang
sama seperti untuk f (x) (lihat Latihan 21). Dengan Prinsip Induksi Matematika
Kedua, kita tahu bahwa q (x) memiliki paling banyak deg q(x)=n - k nol,
menghitung multiplisitas. Dengan demikian, f (x) memiliki paling banyak k + - k =
n nol, menghitung multiplisitas.

17
Remark Teorema 16.4 tidak benar untuk cincin polinomial acak (arbitrary).
Sebagai contoh, polinomial 𝑥 2 + 7 memiliki 1, 3, 5 dan 7 sebagai nol pada 𝑍8 .
Lagrange adalah yang pertama membuktikan Teorema 16.4 untuk polinomial
dalam 𝑍𝑝 [x].

CONTOH

KOMPLEKS nol dari 𝒙𝒏 − 𝟏

Kami menemukan semua nol kompleks 𝑥 𝑛 − 1. Diberikan 𝜔 = cos(360°𝑙𝑛) +


𝑖 sin(360°𝑙𝑛). Ini mengikuti dari Teorema DeMoivre (lihat Contoh 12

di Bab 0) bahwa 𝜔𝑛 = 1 dan 𝜔𝑛 ≠ 1 untuk 1 < k < n. Jadi, masing-masing 1, 𝜔,


𝜔2 , ..., 𝜔𝑛−1 adalah nol dari 𝑥 𝑛 − 1 dan sesuai Teorema 16.4, tidak ada yang lain.
Nomor kompleks 𝜔 dalam Contoh 2 disebut sebagai akar n Primitif dari kesatuan.

Definisi. PRINSIP IDEAL DOMAIN (PID)

Sebuah Prinsip ideal domain adalah integral daerah asal ℝ dimana setiap ideal
memiliki 〈𝑎〉 = {𝑟𝑎|𝑟 ∈ ℝ} untuk setiap a di ℝ

16.4 Teorema F[x] adalah PID

Jika F sebuah field. Maka F[x] adalah sebuah prinsip ideal domain

Bukti.

Sesuai teorema 16.1, Diperoleh bahwa F[x] adalah sebuah domain integral.
Selanjutnya, diberikan I sebuah ideal dalam F[x]. Jika I = {0}, maka I = 〈0〉. Jika I
≠ {0}, maka di antara semua elemen I, diberikan g (x) menjadi salah satu derajat
minimum. Akan tunjukkan bahwa I = 〈𝑔(𝑥)〉. Karena g(x) ∈ I. diperoleh 〈𝑔(𝑥)〉

18
subset dari I. Selanjutnya diberikan f(x) ∈ I. Maka dengan pembagian algoritma
dapat dituliskan sebagai f(x) = g(x)q(x) + r(x), dimana r(x) = 0 or deg r(x) < deg
g(x). Karena r(x) = f(x) - g(x)q(x) ∈ I yang meminimumkan deg g(x) berakibat
bahwa kondisi terakhik kontradiksi. Jadi, r(x) = 0 dan karenanya f(x) ∈ 〈𝑔(𝑥)〉. Ini
menunjukan bahwa I subset dari 〈𝑔(𝑥)〉

16.5 Teorema Kriteria untuk I = 〈𝒈(𝒙)〉

Jika F sebuah field, I sebauh ideal tidak nol di F[x] dan g(x) sebuah elemen dari
F[x]. Maka I = 〈𝒈(𝒙)〉 jika dan hanya jika g(x) sebuah polinomial tidak nol dari
berderajat minimal di I

Sebagai implikasi dari Teorema Isomorfisma untuk Ring (Teorema 15.3) dan
Teorema 16.5. Jelas bahwa remark yang diperoleh dari contoh 12 di BAB 14 bahwa
ring R[x]/ 〈𝑥 2 + 1〉 merupakan isomorpik untuk nomor kompolek ring

Contoh 3

Mempertimbangkan dari homomorfisma ∮ dari R[x] ke C diberikan sesuai f(x)


menjadi f(i) (Hal ini menunjukan, evaluasi sebuah polinomial R[x] di i). Maka 𝑥 2 +
1 ∈ Ker ∮ dan jelas bahwa sebuah polinomial berderajam minimum di Ker ∮ .
Sehingga Ker ∮ = 〈𝑥 2 + 1〉 dan R[x]/ 〈𝑥 2 + 1〉 isomorfik pada C.

Unsur Tereduksi dan Tidak Tereduksi

Berikut contoh bagaimana menentukan unsur tereduksi dan tidak tereduksi pada
polinomial gelanggang.

Contoh Unsur tidak tereduksi


Tunjukan bahwa polinom p(x) = 𝑥 2 + x + 2 tidak tereduksi atas 𝑍3 .

19
Penyelesaian :
𝑍3 = {0, 1, 2}, maka diperoleh :
p(0) = 02 + 0 + 2

=2

p(1) = 12 + 1 + 2

= 1+ 0

=1

p(2) = 22 + 2 + 2

= 1+ 1

=2

karena tidak terdapat x ∈ 𝑍3 .sehingga p(x) = 0


Jadi p(x) tidak tereduksi atas 𝑍3 .

Contoh Unsur tereduksi


Tunjukan bahwa polinom p(x) = x2 + x + 1 tereduksi atas 𝑍3 .
Penyelesaian :
𝑍3 = {0, 1, 2}, maka diperoleh :

p(0) = 02 + 0 + 1

=1

p(1) = 12 + 1 + 1

= 1+ 2

=0

p(2) = 22 + 2 + 1

20
= 1+ 0

=1
karena terdapat x = 1 ∈𝑍3 sehingga p(1) = 0
Jadi p(x) tereduksi atas 𝑍3 .

21
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Definisi: Gelanggang polynomial atas R
Andaikan R suatu gelanggang komutatif. Himpunan
𝑅[𝑥] = {𝑎𝑛 𝑥 𝑛 + 𝑎𝑛−1 𝑥 𝑛−1 + ⋯ + 𝑎1 𝑥 + 𝑎0 | 𝑎𝑖 ∈ 𝑅, 𝑑𝑎𝑛 𝑛 ∈ 𝑍 + }
di sebut gelanggang polinomial atas R dalam indeterminate x.
2. Definisi: Penjumlahan dan Perkalian dalam R[x]
Bila R adalah suatu gelanggang, maka himpunan gelanggang polynomial
R[x] dengan operasi penjumlahan dan perkalian polynomial adalah
suatu gelanggang.
3. Teorema 16.1: D Daerah Integral berarti D [x] Domain Integral
Bila D adalah suatu daerah integral, maka gelanggang polynomial 𝐷[𝑥]
adalah suatu daerah integral.
4. Teorema 16.2: Pembagian Algoritma untuk F[x]
Andaikan F adalah suatu lapangan. Bila f(x) , g(x) Є F[x] dengan
g(x) ≠ 0 , maka terdapat polinomial q(x) dan r(x) di F[x] yang tunggal
sehingga f(x) = g(x)q(x)+r(x) dengan r(x) = 0 atau derajat r(x) lebih kecil
dari derajat g(x) .
5. Akibat 1 Teorema sisa
Andaikan F adalah suatu lapangan. Bila 𝑎 ∈ 𝐹 dan 𝑓(𝑥) ∈ 𝐹[𝑥], maka
𝑓(𝑎) adalah sisa hail bagi dari 𝑓(𝑥) oleh (𝑥 − 𝑎).
6. Akibat 2 Teorema Faktor
Andaikan F adalah suatu lapangan, dan misalkan 𝑎 ∈ 𝐹 dan 𝑓(𝑥) ∈
𝐹[𝑥]. Unsur a adalah pembuat nol dari 𝑓(𝑥) jika dan hanya jika (𝑥 − 𝑎)
adalah faktor dari 𝑓(𝑥).
7. Akibat 3
Bila 𝐹 adalah suatu lapangan, maka suatu polynomial di 𝐹[𝑥] yang
berderajat 𝑛 ≥ 1 mempunyai paling banyak 𝑛 akar.

22
8. Teorema 16.3 : Polynomials berderajat n yang memiliki 0 paling
banyak n
Sebuah polibonial berderajat n pada field memiliki nol sebanyak n,
perhitungan perkalian (Countng multiplicity).
9. Definisi. PRINSIP IDEAL DOMAIN (PID)
Sebuah Prinsip ideal domain adalah integral daerah asal ℝ dimana setiap
ideal memiliki 〈𝑎〉 = {𝑟𝑎|𝑟 ∈ ℝ} untuk setiap a di ℝ.
10. Teorema 16.4 : F[x] adalah PID
Jika F sebuah field. Maka F[x] adalah sebuah prinsip ideal domain
11. Teorema 16.5 : Kriteria untuk I = 〈𝒈(𝒙)〉
Jika F sebuah field, I sebauh ideal tidak nol di F[x] dan g(x) sebuah
elemen dari F[x]. Maka I = 〈𝒈(𝒙)〉 jika dan hanya jika g(x) sebuah
polinomial tidak nol dari berderajat minimal di I.

3.2. Saran
Setelah membaca makalah ini semoga dapat menambah wawasan
dan pengetahuan kita meskipun disadari bahwa makalah ini masih banyak
kekurangannya, maka kedepan nya jika ada pihak lain yang ingin menulis
tentang pokok materi yang sama maka isinya harus lebih baik lagi dari
makalah ini.

23
DAFTAR PUSTAKA

Mas’oed fadli. 2014. Struktur Aljabar. palembang: Akademia.

Gallian, J. A. 2010. Contempoty Abstract Algebra. Amerika: United States of


America.

Suwilo, Saib, dkk. 1997. Aljabar Abstrak: Suatu Pengantar. Medan: USU Press.

24