Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS DAMPAK

KEGIATAN PENGOLAHAN TEMBAGA

Mirza Dian R
12113074

A. Crushing
Merupakan proses peremukan material bijih menjadi ukuran yang lebih kecil.Proses ini
bertujuan untuk menghasilkan ukuran material bijih yang sesuai dengan spesifikasi alat
yang digunakan dalam tahap pengolahan berikutnya sehingga proses pengolahan material
dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Proses Crushing pada pengolahan Tembaga
merupakan salah satu tahapan dari proses Kominusi ((Peremukan Material Bijih). Proses
Crushing pada pengolahan bijih tembaga biasanya terdiri dari dua tahapan, yaitu primary
crusher yang menggunakan Jaw Crusher ataupun Gyratory Crusher dan secondary
crusher yang menggunakan Gyratory Crusher ataupun Cone Crusher.

Dampak yang ditimbulkan dari proses ini antara lain:


 Debu dan Kebisingan : Proses peremukan material menimbulkan dampak berupa
debu dan kebisingan dengan obyek terdampaknya adalah pekerja ( operator alat)
ataupun masyarakat ( bila pabrik pengolahan berada di dekat dengan area
pemukiman). Paparan suara bising yang berkepanjangan dapat menyebabkan
Temporaryt Treshold Shift =TTS (Tuli sementara) ataupun Tuli
Menetap (Permanent Treshold Shift =PTS). Sedangkan paparan debu yang
berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan pernafasan ringan hingga akut
apabila terjadi akumulasi debu bijih tembaga dalam paru-paru manusia.
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan mewajibkan
pekerja untuk menggunakan APD berupa earplug dan masker ketika bekerja, serta
memasang Dust Supression System untuk mengurangi debu yang ada, serta
melakukan maintenance rutin pada crusher agar pergerakan crusher lebih ahlu dan
mengurangi kebisingan yang ditimbulkan.

 Pencemaran air dan tanah akibat ceceran material: Sering dijumpai pada sekitar
mulut bukaan crusher terdapat banyak ceceran material bijih.Ceceran material ini
dapat menjadi pencemar bagi perairan ( karena memiliki ukuran yang halus)
dengan kandungan mineral tertentu. Dilain sisi, tanah yang memiliki kandungan
tembaga yang cukup tinggi cenderung berkurang tingkat kesuburan dari
tanamannya.
Solusi yangd apat dilakukan adalah dengan melakukan handling material yang
baik, serta dilakukan pengambilan dan pengerukkan material yang tercecer di
sekitar mulut crusher secara berkala.

B. Flotasi
Flotasi merupakan proses pengolahan bijih tembaga yang tergolong dalam tahapan
konsentrasi.Flotasi tergolong ke dalam metoda fisika kimia untuk memisahkan mineral
berharga dari yang tidak berharga dengan cara mengapungkan salah satu mineral ke
permukaan pulp. Proses pemisahan ini didasarkan pada sifat permukaan mineral apakah
suka terhadap udara (takut air) atau suka terhadap air (takut udara). Dalam proses flotasi
bijih tembaga, digunakan beberapa reagen-reagen kimia yang berfungsi sebagai frother,
kolektor dan penyeimbang pH.
Dampak yang ditimbulkan dari proses ini antara lain :
 Limbah B3 yang berupa sisa reagent yang tidak bereaksi, wadah
penampung reagent,oli dan grase bekas mesin dan tailing.
Solusi yang dapat dilakukan:
 Limbah B3 diolah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang
berlaku baik oleh perusahaan sendiri ataupun oleh pihak ke tiga.
 Evaluasi perhitungan reagent yang dibutuhkan untuk sejumlah berat
material bijih agar reagent bereaksi dengan sempurna sehingga proses
dapat berjalan secara efektif dan tidak menyisakan reagent sisa.

C. Pelindian
Pelindian (leaching) merupakan proses pengambilan logam berharga secara selektif dari
bijih menggunakan leaching agent untuk menghasilkan larutan dengan kadar logam
yang tinggi (kaya). Leaching Agents yang digunakan untuk proses pelindian tembaga
antara lain Asam Sulfat (H2SO4) dan Amonia (NH4OH). Proses pelindian tembaga
dapat dibagi menjadi empat jenis, antara lain Insitu leaching, Heap leaching dan
Percolation leaching.
Dampak yang ditimbulkan dari proses ini:
 Leaching agent yang berupa Asam Sulfat dan Amonia merupakan polutan
yang berbahaya bila masuk ke perairan umum. Akibat dari tingginya
kandungan asam sulfat dapat menurunkan pH air dan berdampak pada
organisme air pada perairan tersebut (mati). Sedangkan keberadaan
ammonia pada perairan dapat menyebabkan alga blooming ataupun
berkembang pesatnya tumbuhan tumbuhan air yang dapat menyebabkan
berkurangnya pasokan oksigen bagi hewan hewan air.Asam juga dapat
meningkatkan korosi pada kapal kapal ataupun tiang tiang pancang pada
perairan tersebut.
Solusi yang dapat dilakukan:
 Limbah B3 diolah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang
berlaku baik oleh perusahaan sendiri ataupun oleh pihak ke tiga.
 Pemasangan penampung dan instalasi pengolahan air sebelum air sisa
leaching dilepaskan ke perairan umum.

D. Pengelolaan Tailing
Tailing merupakan hasil sampingan dari proses konsentrasi material bijih tembaga.
Tailing tergolong ke dalam limbah B3 dikarenakan jumlahnya yang besar serta ukuran
paertikel yang sangat halus yang dapat berbahaya dan menimbulkan dampak yang buruk
bila mencemari perairan umum.

Dampak dari Tailing Tembaga:


 Jumlahnya yang besar mengakibatkan rusaknya lahan bila tailing tidak
dikelola dengan baik.
 Ukurannya yang halus menyebabkan tailing dapat mencemari perairan
umum sebagai Soluble Solid yang menyebabkan penurunan kualitas dari
air pada perairan tesebut.
 Mineral-mineral ikutan tembaga yang tidak terproses dapat bereaksi
dengan air dan membahayakan kesehatan masyarakat bila terkonsumsi.

Solusi yang dapat dilakukan :


 Pengelolaan tailing yang baik dengan pembangunan sarana pengendapan
untuk kemudian dilakukan pengerukkan dan penimbunan tailing secara
berkala.
 Pengolahan material ataupun mineral berharga yang masih terkandung
pada tailing agar tidak terbuang percuma dan mengurangi resiko
pencemaran yang terjadi.

E. Pengangkutan dan Pemuatan di Pelabuhan (Pemasaran)


Pada tambang tembaga FreePort, tembaga dijual dalam bentuk konsentrat
dan proses pengangkutannya menuju pelabuhan dengan menggunakan
jaringan pipa.

Dampak yang ditimbulkan:


 Dapat terjadi kebocoran pipa yang menyebabkan tercecernya slurry
konsentrat tembaga selama proses pengangkutannya.
Solusi yang dapat dilakukan :

 Pengecekan dan pengontrolan secara berkala jaringan pipa yang ada.