Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ANESTESIOLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN November 2018


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MANAJEMEN ANESTESI LOKAL PADA PASIEN BASALIOMA

OLEH:
Nurul Hildayanti Ilyas, S.Ked
10542051413

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Anestesiologi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Nurul Hildayanti Ilyas, S.Ked.

NIM : 10542051413

Judul Laporan Kasus : Manajemen Anestesi Lokal Pada Pasien Basalioma

Telah menyelesaikan tugas Laporan kasus dalam rangka kepaniteraan klinik

pada bagian Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Makassar.

Makassar, November 2018

Pembimbing

KATA PENGANTAR

2
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah, kesehatan

dan kesempatan-Nya sehingga Lapsus dengan judul “Management Anestesi Lokal

pada Pasien Basalioma” ini dapat diselesaikan. Salam dan shalawat senantiasa

tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, yang menjadi suri tauladan bagi seluruh

umat manusia.

Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih

kepada dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan nasehat dalam

penyusunan sampai dengan selesainya laporan kasus ini.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan

kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini, baik dari isi maupun penulisannya.

Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi

penyempurnaan laporan kasus ini.

Demikian, Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi semua pihak.

Billahi Fii SabilillHaqFastabiqulKhaerat


Wassalamu’alaikumwarahmatullahiwabarakatuh

Makassar, November 2018

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran atau ilmu pengetahuan yang

meliputi pemberian tindakan anestesi, perawatan dan terapi intensif pada pasien

tertentu diruang perwatan intensif. Anestesi adalah hilangnya seluruh modalitas dari

sensasi yang meliputi sensasi sakit / nyeri, rabaan, suhu, posisi/propioseptif,

sedangkan analgesia yaitu hilangnya sensasi sakit/nyeri, tetapi modalitas yang lain

masi tetap ada.1

Anestesi lokal adalah obat yang diberikan secara lokal (topikal atau suntikan)

dalam kadar yang cukup dapat menghambat hantaran impuls pada saraf yang dikenai

oleh obat tersebut. Obat-obat ini menghilangkan rasa atau sensasi nyeri terbatas pada

daerah tubuh yang dikenai tanpa menghilangkan kesadaran.2

Anestesi lokal Infiltrasi juga secara teknis mudah dilakukan dan

membutuhkan perawatan paska operasi minimal. Bersama dengan faktor-faktor

tersebut, aplikasinya hampir di mana-mana sebagai sarana anestesi untuk prosedur

dan operasi kecil invasif minimal. Teknik ini juga relatif aman, tetapi membutuhkan

pemahaman tentang farmakologi anestetik lokal dasar, terutama berkaitan dengan

dosis dan toksisitas, serta keterampilan untuk aplikasi yang baik.3

4
Karsinoma sel basal (KSB) disebut juga basalioma adalah tumor ganas kulit

yang paling sering ditemukan terutama pada orang kulit putih. DiAustralia jumlah

kasus baru 652/tahun/100 ribu penduduk sedangkan diAmerika serikat 480/tahun/100

ribu penduduk. Di Indonesia menurut data Badan Registrasi Kanker Ikatan Ahli

Patologi Indonesia tahun 1989, dari 1530 kasus kanker kulit, yang terbanyak adalah

kasus karsinoma sel basal yaitu, 39,93 %. Diagnosis basalioma ditegakkan dengan

gejala klinis dan pemeriksaan histopatologi. Penatalaksanaan basalioma dengan

pembedahan ataupun tampa pembedahan.4

5
BAB II

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny DJ

Jeniskelamin : Perempuan

Tanggal Lahir/ Usia : 31-12-1942/ 75 tahun.

Agama : Islam

Suku : Bugis-Makassar

Pekerjaan : IRT

Tanggal MRS : 28 Oktober 2018

No. RM : 51.55.13

Jenis operasi/alasan op : Radical excision of skin lession

Jenis anestesi : Anestesi lokal

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Benjolan pada daerah rahang bawah kiri.

Anamnesis Terpimpin : Pasien Perempuan 75 tahun, masuk RSUD Syekh

Yusuf dengan keluhan adanya benjolan pada daerah rahang kiri sejak ± 3 bulan

yang yang lalu. Awalnya berupa benjolan seperti tahi lalat sebesar biji jagung.

Benjolan awalnya kecil, berwarna hitam, bulat, tidak nyeri dan tidak gatal.

Namun benjolan tersebut semakin lama semakin bertambah besar, terasa nyeri

6
dan gatal sehingga pasien sering menggaruknya. Riwayat asma (-), alergi (-),

penyakit jantung (-), riwayat hipertensi (+), riwayat DM (-).

Riwayat Penyakit Sebelumnya : Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada

C. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalisata

1. Keadaan Umum : Sakit sedang

2. Kesadaran : Composmentis GCS 15 (E4M6V5)

3. Status Gizi : Baik

4. Tanda Vital :

Tekanan darah : 140/90 mmHg

Nadi : 88 x/menit, reguler

Suhu : 36,30C

Pernapasan : 22 x/menit

5. VAS :2

6. Kepala :Normocephali, rambut berwarna hitam, distribusi

merata, tidak mudah dicabut, tidak rontok.

7. Mata : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), pupil isokor

8. Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)

9. Thorax

Paru : Suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing (-)

Jantung : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

7
10. Abdomen : Ikut gerak napas, peristaltik (+) kesan normal.

11. Ektremitas : Akral hangat, edema (-), sianosis (-)

12. Terpasang kateter : Tidak terpasang

13. Berat Badan : 45 kg

14. Tinggi Badan : 147 cm

Status Lokalis

Regio mandibula sinistra : tampak benjolan dengan diameter ± 2,3 cm,

Konsistensi lunak, dan nyeri tekan (+).

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada tanggal 26/10/2018

Hematologi

1. WBC : 6,9 x 103/µL

2. RBC : 3,98 x 106/µL

3. HGB : 11,9 g/dL

4. HCT : 36,1 %

5. PLT : 182 x 103/µL

Kimia Darah

6. GDS : 77 mg/dL

7. SGOT/SGPT : 17/16 U/L

8. Ureum/Kreatinin : 22/0,4 mg/dL

Hemostasis

9. CT : 9’

8
10. BT : 2’15”

11. PT : 15,4 detik

12. APTT : 33,2 detik

Seroimmunologi

13. HbsAg : non reaktif

E. KESAN ANESTESI

Pasien perempuan berusia 75 tahun dengan diagnosis Basalioma, klasifikasi ASA

PS II.

F. PENATALAKSANAAN PRE OPERATIF

1. Informed consent mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan.

2. Informed consent mengenai pembiusan dengan anestesi lokal.

3. Menyampaikan pada pasien mengenai persiapan operasi yaitu puasa ± 8 jam

mulai pukul 00.00 WITA.

G. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat disimpulkan:

1. Diagnosa Peri Operative : Basalioma


2. Status Operative : ASA PS II
3. Jenis Operasi : Radical excision of skin lession
4. Jenis Anestesi : Anestesi lokal

9
BAB III

LAPORAN ANESTESI

Tanggal Operasi : 29 Oktober 2018

Diagnosa Pre Operasi : Basalioma, ASA PS II

Tindakan : Radical excision of skin lession

Jenis anestesi : Anestesi Lokal

A. PRE OPERATIF

1. Informed consent kepada pasien tentang tindakan anestesi yang akan

dilakukan.

2. Pasien puasa selama ± 8 jam sebelum operasi dimulai.

3. Kandung kemih tidak terpasang kateter.

4. Sudah terpasang cairan infus RL.

5. Keadaan umum: compos mentis.

6. Tanda vital:

- Tekanan darah : 140/90 mmHg

- Nadi : 82 x/menit

- Frekuensi napas : 20 x/menit

- Suhu : 36,5 celcius

10
B. TINDAKAN ANESTESI

Anestesi lokal

C. PENATALAKSANAAN ANESTESI

Memastikan alat-alat dan medikasi yang dibutuhkan selama proses anestesi

sudah lengkap seperti:

1. Kasa steril.

2. Sarung tangan steril.

3. Povidon Iodine.

4. Plester.

5. Lidocaine HCl 2%.

6. Spuit 10 cc.

7. Lampu.

8. Monitor tanda vital.

9. Alat-alat resusitasi.

10. Obat-obat anestesi lainnya jika dibutuhkan seperti fentanil, midazolam,

ephedrin, atropin, pethidin, ketamin dan propofol.

D. INTRA OPERATIF

Pasien diposisikan pada posisi yang nyaman yaitu posisi supine dan

memudahkan operator untuk melaksanakan operasi, karena lokasi daerah lesi

tersebut berada didaerah mandibula sinistra. Pasien diinjeksikan obat fentanyl 8

cc (80 mikrogram), dan midazolam 3 mg, setelah itu dilakukan anestesi lokal

disekitar lesi (benjolan) pada pukul 10.30 WITA menggunakan Lidocaine HCl

11
2% setelah itu dilakukan tindakan eksisi pada basalioma dan lama operasi

berlangsung 40 menit.

Monitoring tanda-tanda vital (monitor):

1. Kesadaran : Composmentis

2. TD : 130/80mmHg

3. Nadi : 88 x/meit

4. Pernapasan : 20x/menit

5. SpO2 : 99%

E. PASCA OPERATIF

1) Pasien masuk diruang pemulihan.

2) Monitoring tanda-tanda vital post operasi.

3) Evaluasi keluhan post operasi.

4) Pasien dipindahkan ke ruang perawatan V RSUD Syekh Yusuf.

F. PEMBAHASAN

Pasien Perempuan, usia 75 Tahun Masuk RSUD Syekh Yusuf dengan

keluhan adanya benjolan pada daerah rahang kiri sejak ± 3 bulan yang yang lalu.

Awalnya berupa benjolan seperti tahi lalat sebesar biji jagung. Benjolan awalnya

kecil, berwarna hitam, bulat, tidak nyeri dan tidak gatal. Namun benjolan

tersebut semakin lama semakin bertambah besar, terasa nyeri dan gatal sehingga

pasien sering menggaruknya.

12
Tindakan pre-operatif ditujukan untuk menyiapkan kondisi pasien

seoptimal mungkin dalam menghadapi operasi. Visite pre-operasi oleh dokter

spesialis anestesi ataupun tenaga medis lainnya ditujukan agar dapat

mempersiapkan fisik dan mental pasien secara optimal, merencanakan dan

memilih teknik anestesi serta obat-obatan yang dipakai, dan menentukan

klasifikasi pasien berdasarkan ASA.5 Persiapan pra anestesi yang dilakukan

meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, serta persiapan obat

anestesi yang diperlukan. Penilaian pasien pre-operatif sangat menunjang

keberhasilan operasi yang akan dilakukan. Peniliaian pre-operatif dalam hal ini

meliputi: riwayat penyakit pasien sekarang dan dahulu berupa penyakit jantung,

respirasi, metabolik dan alergi. Pada saat dilakukan kunjungan preoperatif

anestesi, pasien memiliki riwayat hipertensi terkontrol sehingga termasuk dalam

klasifikasi ASA II ( pasien dengan penyakit sistemik ringan ) . Pada pasien ini,

pasien dipuasakan sebelum operasi, tujuannya untuk pengosongan lambung

sebelum anestesi penting untuk mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi

dan muntah pada pembedahan elektif. Sebelum dilakukan operasi pada pasien ini

dipuasakan selama 8 jam.1

Pilihan Anestesi pada kasus ini adalah anestesi lokal dengan infiltrasi,

dimana berdasarkan referensi mengenai eksisi pada basalioma atau karsinoma sel

basal dilakukan anestesi lokal dengan menggunakan lidokain sebagai blok saraf.

Pada pasien ini diberikan obat premedikasi yaitu injeksi fentanyl dan midazolam.

Penggunaan premedikasi pada pasien ini bertujuan untuk menimbulkan rasa

13
nyaman pada pasien dengan pemberian sedatif dengan tujuan menghilangkan

rasa khawatir dan pemberian obat golongan opioid untuk meredakan dan

menghilangkkan rasa nyeri. Selanjutnya dilakukan anestesi lokal dengan

menggunakan lidocaine 2%. Setelah itu, kemudian dilakukan eksisi pada daerah

lesi.

Setelah operasi selesai pasien dipindahkan keruang pemulihan dan

dievaluasi tanda-tanda vital dan kesadaran serta keluhan jika ada, kemudian

setelah pasien pulih, pasien dipindahkan ke perawatan.

14
BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

1. ANESTESI LOKAL

A. Definisi Anestesi Lokal

Istilah anestesi diperkenalkan pertama kali oleh O.W. Holmes yang

artinya tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu

anestesi lokal dan anestesi umum. Anestesi lokal adalah hilangnya rasa sakit

tanpa disertai hilang kesadaran dan anestesi umum, yaitu hilang rasa sakit

disertai hilang kesadaran. Tindakan anestesi digunakan untuk mempermudah

tindakan operasi maupun memberikan rasa nyaman pada pasien selama

operasi.2

Anestesi lokal didefinisikan sebagai suatu tindakan yang

menyebabkan hilangnya sensasi rasa nyeri pada sebagian tubuh secara

sementara yang disebabkan adanya depresi eksitasi di ujung saraf atau

penghambatan proses konduksi pada saraf perifer. Anestesi lokal

menghilangkan sensasi rasa nyeri tanpa hilangnya kesadaran yang

menyebabkan anestesi lokal berbeda dari anestesi umum.2

Anestesi lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan

saraf secara permanen, harus efektif dengan pemberian secara injeksi atau

penggunaan setempat pada membran mukosa dan memiliki toksisitas sistemik

yang rendah. Mula kerja bahan anestetikum lokal harus sesingkat mungkin,

15
sedangkan masa kerja harus cukup lama sehingga operator memiliki waktu

yang cukup untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak demikian lama

sampai memperpanjang masa pemulihan. Zat anestesi lokal juga harus larut

dalam air dan menghasilkan larutan yang stabil, serta tahan pemanasan bila

disterilkan tanpa mengalami perubahan.5

B. Mekanisme Anestesi Lokal

Anestesi lokal mencegah terjadi pembentukan dan konduksi impuls

saraf. Tempat kerjanya terutama di membran sel, efeknya pada aksoplasma

hanya sedikit saja. Potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan

sesaat permeabilitas membran terhadap ion natrium (Na+) akibat depolarisasi

ringan pada membran. Proses inilah yang dihambat oleh anestetikum lokal,

hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung antara zat anestesi lokal

dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan

listrik. Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf,

maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan

peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor

pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor ini akan

mengakibatkan penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, dan

dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.6

Anestetikum lokal juga mengurangi permeabilitas membran bagi

(kalium) K+ dan Na+ dalam keadaan istirahat, sehingga hambatan hantaran

tidak disertai banyak perubahan pada potensial istirahat. Menurut Sunaryo,

16
bahwa anestesi lokal menghambat hantaran saraf tanpa menimbulkan

depolarisasi saraf, bahkan ditemukan hiperpolarisasi ringan. Pengurangan

permeabilitas membran oleh anestesi lokal juga timbul pada otot rangka, baik

waktu istirahat maupun waktu terjadinya potensial aksi. Potensi berbagai

anestetikum lokal sama dengan kemampuannya untuk meninggikan tegangan

permukaan selaput lipid monomolekuler. Mungkin sekali anestesi lokal dapat

meningkatkan tegangan permukaan lapisan lipid yang merupakan membran

sel saraf, dengan demikian pori dalam membran menutup sehingga

menghambat gerak ion melalui membran. Hal ini akan menyebabkan

penurunan permeabilitas membran dalam keadaan istiharat sehingga akan

membatasi peningkatan permeabilitas Na+. Dapat disimpulkan bahwa cara

kerja utama bahan anestetikum lokal adalah dengan bergabung dengan

reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na, sehingga mengakibatkan

terjadinya blokade pada kanal tersebut, dan hal ini akan mengakibatkan

hambatan gerakan ion melalui membran.6

Obat anestesi lokal mencegah transmisi impuls saraf dengan

menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif

pada membran saraf. Gerbang natrium sendiri adalah reseptor spesifik

molekul obat anestesi lokal. Penyumbatan gerbang ion yang terbuka dengan

molekul obat anestesi lokal berkontribusi sedikit sampai hampir keseluruhan

dalam inhibisi permeabilitas natrium. Kegagalan permeabilitas gerbang ion

natrium untuk meningkatkan perlambatan kecepatan depolarisasi seperti

17
ambang batas potensial tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak

disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat

transmembran atau ambang batas potensial. Lokal anestesi juga memblok

kanal kalsium dan potasium dan reseptor Nmethyl-D-aspartat (NMDA)

dengan derajat yang berbeda-beda. Beberapa golongan obat lain, seperti

antidepresan trisiklik (amytriptiline), meperidine, anestesi inhalasi dan

ketamin juga memiliki efek memblok kanal sodium. Tidak semua serat saraf

dipengaruhi sama oleh obat anestesi lokal. Sensitivitas terhadap blokade

ditentukan dari diameter aksonal, derajat mielinisasi dan berbagai faktor

anatomi dan fisiologi lain. Diameter yang kecil dan banyaknya mielin

meningkatkan sensitivitas terhadap anestesi local.7

C. Penggolongan Obat Anestesi Lokal

Anestetikum lokal diklasifikasikan menjadi dua kategori umum sesuai

dengan ikatan, yaitu ikatan golongan amida (-NHCO-) dan ikatan golongan

ester (-COO-). Perbedaan ini berguna karena ada perbedaan ditandai dalam

alergenitas dan metabolisme antara dua kategori bahan anestetikum lokal.8

Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar,

yaitu golongan ester dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan

dalam perbedaan tempat metabolisme, dimana golongan ester terutama

dimetabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase di plasma sedangkan

golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati. Perbedaan ini

juga berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi, dimana

18
golongan ester turunan dari pamino-benzoic acid memiliki frekuensi

kecenderungan alergi lebih besar.9

Secara kimiawi bahan anestetikum lokal dapat diklasifikasikan

menjadi dua golongan, yaitu :6

A. Golongan Ester (-COO-).

1. Prokain

2. Tetrakain

3. Kokain

4. Benzokain

5. Kloroprokain

B. Golongan Amida (-NHCO-)

1. Lidokain

2. Mepivakain

3. Bupivacaine

4. Prilokain

5. Artikain

6. Dibukain

7. Ropivakain

8. Etidokain

9. Levobupivakain

Perbedaan klinis yang signifikan antara golongan ester dan golongan

amida adalah ikatan kimiawi golongan ester lebih mudah rusak dibandingkan

19
ikatan kimiawi golongan amida sehingga golongan ester kurang stabil dalam

larutan dan tidak dapat disimpan lama. Bahan anestetikum golongan amida

stabil terhadap panas, oleh karena itu bahan golongan amida dapat

dimasukkan kedalam autoklaf, sedangkan golongan ester tidak bisa. Hasil

metabolisme golongan ester dapat memproduksi para-aminobenzoate

(PABA), yaitu zat yang dapat memicu reaksi alergi, sehingga golongan ester

dapat menimbulkan fenomena alergi. Hal inilah yang menjadi alasan bahan

anestetikum golongan amida lebih sering digunakan daripada golongan ester.6

Klasifikasi anestesi lokal berdasarkan potensi dan masa kerja dibagi

menjadi tiga kelompok yaitu kelompok I yang memiliki potensi lemah dengan

masa kerja singkat (≈30menit) seperti prokain dan kloroprokain. Kelompok II

adalah kelompok yang memiliki potensi dan masa kerja menengah (≈60menit)

seperti lidokain, mepivakain dan prilokain. Kelompok III merupakan

kelompok yang memiliki potensi kuat dengan masa kerja panjang (>90menit).

Contohnya tetrakain, bupivakain, etidokain dan ropivakain.

Tabel. 1 Obat Anestesi lokal berdasarkan potensi dan durasi kerja.11

20
D. Dosis Maksimum Anestetikum Lokal

Dosis anestetikum lokal dihitung berdasarkan miligram per unit berat

badan yaitu miligram per kilogram (mg / kg) atau miligram per pon (mg / lb).

Pemberian dosis maksimum tergantung pada usia dan berat badan.

Pemberian dosis anestetikum lokal berdasarkan jenis anestetikumnya:

No. Anestesi local Dosis Maksimum


1. Lidokain 7,0 mg/kgBB (3,2 mg/Ib BB)
2. Mepivakain 6,6 mg/kgBB (3,0 mg/Ib BB)
3. Artikain 7,0 mg/kgBB ( mg/Ib BB)
4. Bupivakain 2,0 mg/kgBB ( mg/Ib BB)
5. Prilokain 8,0 mg/kgBB (3,6 mg/Ib BB)
6. Etidokzin 8,0 mg/(3,6kgBB ( mg/Ib BB)
Tabel. 2. Dosis Maksimum obat Anestesi Lokal.

Sebagai obat anestesi lokal lidokain dapat diberikan dosis 3-4

mg/kgbb. Dosis yang diberikan pada terapi aritmia ventrikuler ( takikardi

ventrikel) adalah 1-1,5 mg/kgbb. Dosis maksimum lidokain yang disarankan

oleh FDA dengan atau tanpa epinefrin 7,0 mg/kgbb untuk dewasa dan anak-

anak, tidak melebihi dosis maksimum absolut yaitu 500 mg.11

E. Komplikasi pada Anestesi Lokal

Pada pemberian anestesi lokal, terdapat komplikasi yang mungkin saja

terjadi. Komplikasi yang disebabkan oleh pemberian anestesi lokal dibagi

menjadi dua, komplikasi lokal dan komplikasi sistemik. Komplikasi lokal

21
merupakan komplikasi yang terjadi pada sekitar area injeksi, sedangkan

komplikasi sistemik merupakan komplikasi yang melibatkan respon sistemik

tubuh terhadap pemberian anestesi lokal. Efek samping anestesi lokal yang

mungkin terjadi: kerusakan saraf, reaksi alergi, kerusakan vaskuler,

pneumotoraks (pada blok pleksus), infeksi pada area injeksi, injeksi

intravaskuler, nekrosis jaringan (jika menggunakan vasokonstriktor), reaksi

toksik sistemik, reaksi sistem saraf pusat, hiperventilasi, agitasi, depresi

napas, hipotensi, atau aritmia.11

2. BASALIOMA (Karsinoma Sel Basal)

a. Definisi

Karsinoma sel basal (basalioma) adalah keganasan kulit yang berasal

dari sel nonkeratinisasi lapisan basal epidermis. Karsinoma Sel Basal (KSB)

disebut juga basalioma, epitelioma sel basal, ulkus rodent, ulkus Jacob, atau

tumor Komprecher.12

b. Etiopatogenesis

Etiopatogenesis KSB berhubungan dengan faktor genetik, lingkungan,

dan yang paling sering dipicu oleh paparan sinar matahari, terutama sinar

Ultraviolet B (UVB) yang bergelombang 290–320 nm. Faktor genetik yang

berperan terdapat pada kromosom 1 dan satu varian dari setiap kromosom 5,

7, 9, dan 12. Varian kromosom tersebut diketahui berhubungan dengan

ketidakmampuan dalam proteksi terhadap paparan sinar matahari, yang

22
mungkin berhubungan dengan faktor risiko tambahan terhadap paparan sinar

matahari yang bersifat heterozigot.12

c. Gambaran Klinis

Terdapat 5 subtipe KSB yaitu KSB nodular, superfisial, morpheaform,

KSB berpigmen, dan fibroepitelioma Pinkus. Subtipe nodular yang paling

sering dijumpai) berupa papul atau nodus translusen, telangiektasia, dan

rolled border. Lesi besar disertai nekrosis bagian tengah merupakan dasar

terjadinya ulkus rodent. Subtipe superfisial biasanya terdapat di badan, berupa

plak eritematosa dan tampak multisentris. Subtipe KSB berpigmen berupa

papul translusen, hiperpigmentasi, dan dapat mengalami erosi. Subtipe

morpheaform tumbuh agresif, berwarna putih atau kuning, berkila menyerupai

skar atau lesi morfea. Fibroepitelioma Pinkus biasanya terdapat di punggung

bawah berupa papul merah muda yang sulit dibedakan dengan akrokordon

atau skin tag.12

Lokasi anatomis lesi KSB yang paling sering adalah pada 1/3 tubuh

bagian atas, di mana 75-80% terjadi pada daerah wajah. Lesi wajah yang

tersering adalah hidung, daerah nasal tip dan alae. Sekitar 25% KSB berada

di daerah badan, sisanya 5% berada di daerah penis, vulva, dan perianal.

d. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan

pemeriksaan histopatologi dari salah satu lesi untuk menentukan subtipe KSB.

Biasanya penderita KSB datang dengan keluhan bercak hitam di wajah mudah

23
berdarah dan tidak sembuh sembuh, atau berupa tahi lalat (andeng-andeng)

yang bertambah besar dengan permukaan tidak rata, dan biasanya terdapat

riwayat trauma, serta dapat disertai dengan rasa gatal atau nyeri. Basalioma

harus dibedakan dengan melanoma nodular dengan penyebaran superfi sial

apabila berpigmen dan dengan ulkus keras yang tidak nyeri seperti pada

karsinoma sel skuamosa. Idealnya dilakukan pemeriksaan histopatologi lesi.

Pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI diperlukan jika ada

kecurigaan mengenai tulang atau jaringan lainnya.12

e. Penatalaksanaan

Pemilihan tatalaksana KSB dipertimbangkan berdasarkan lokasi

anatomis dan gambaran histopatologi. Secara garis besar, terapi KSB

dikelompokkan menjadi teknik bedah dan non-bedah. Tujuan dari

penatalaksanaan KSB adalah menghilangkan total lesi KSB, menjaga jaringan

normal, fungsi jaringan, serta mendapatkan hasil optimal secara kosmetik.

Pada tumor risiko rendah, dapat dilakukan beberapa teknik operasi

seperti cryosurgery, kuretase, atau Photodynamic Therapy (PDT). Sedangkan

bedah eksisi dengan penegakkan diagnosis secara histologist intraoperatif atau

post-operatif dapat digunakan pada KSB risiko rendah dan risiko tinggi. Jika

KSB menginvasi hingga tulang atau jaringan lain, dibutuhkan

penatalaksanaan multidisipliner. Tatalaksana bedah dapat dilakukan dengan

bedah eksisi atau Mohs Micrographic Surgery (MMS). Untuk KSB primer,

jika pertumbuhan tumor tidak agresif, dan lokasinya berada di badan atau

24
ekstremitas, eksisi merupakan teknik terapi dengan tingkat rekurensi yang

rendah. Untuk lesi KSB dengan pertumbuhan agresif atau terdapat di lokasi-

lokasi seperti lipatan nasolabial, sekitar mata, belakang telinga, skalp, atau lesi

berulang, teknik MMS merupakan pilihan. MMS menawarkan analisis

histologik paling unggul dengan mengkombinasikan reseksi berdasarkan

stadium melalui penentuan batas lesi tepi tumor. Dengan demikian, hasil

preservasi jaringan normal menjadi maksimal dibandingkan dengan bedah

eksisi standar.12

25
BAB IV

PENUTUP

Pemeriksaan pre-operatif ditujukan untuk menyiapkan kondisi pasien

seoptimal mungkin dalam menghadapi operasi. Visite pre-operasi oleh dokter

spesialis anestesi ataupun tenaga medis lainnya ditujukan agar dapat mempersiapkan

fisik dan mental pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik anestesi

serta obat-obatan yang dipakai, dan menentukan klasifikasi pasien berdasarkan ASA.

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang

melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi

pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat

mengantisipasinya.

Pada kasus ini, seorang perempuan berusia 75 tahun menderita penyakit

basalioma dengan ASA PS II dengan anestesi menggunakan teknik anestesi lokal.

Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan, baik dari segi

anestesi maupun tindakan operasinya. Pada saat diruang pemulihan juga pasien tdiak

terjadi hal yang memerlukan penanganan serius.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Pramono A. Buku Kuliah Anastesi. Jakarta : EGC. 2015. Hal 33-8.

2. Ganiswarna, Sulistia G. Farmakologi dan terapi. Ed 4,. Jakarta: Bagian


farmakologi Fakultas Kedokteran- Universitas Indonesia. 1995.

3. Hadzic Admir. NYSORA textbook of regional anesthesia and acute pain


management. China : McGrawHill Education. 2007.

4. Tambunan G.W. Karsinoma Kulit dalam Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak di


Indonesi. EGC, 1995.

5. Gwinnutt CL. Anastesi Klinis. Edisi 3. Jakarta : EGC. 2012.

6. Malamed, SF. Hand book of local anaesthesia. 6th ed. Mosby. ST. Louis,
Missouri. 2013.

7. Simanjuntak CA. Penerapan Anestesi Regional Pada Operasi Ekstremitas Atas.


The Jambi Medicine Journal, Vol. 5, Issue 1, Mei 2017.

8. Euliano TY, Gravenstein. Essential Anesthesia From Science to Practice. USA :


Cambridge University Press. 2004.

9. Samodro R, Sutiyono D, Satoto HH. Mekanisme Kerja Obat Anestesi Lokal.


Jurnal Anestesiologi Indonesia, Vol. 3, Issue 3, 2011.

10. Kartini S, Ruswan DM. Petunjuk praktis anesthesiologi. Ed 1., Jakarta: Bagian
Anestesiologi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, 2001.

11. Utama YD. Anestesi Lokal dan Regional Untuk Biopsi Kulit. Kalbe Farma, Vol.
37, Issue 7, Sep. 2010.

12. Reginata G, Tansil Tan S. Diagnosis dan Tatalaksana Karsinoma Sel Basal.
Kalbe Farma, Vol. 42, 2015.

27