Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN POST SC (SECTIO CAESARIA)


ATAS INDIKASI OLIGOHIDRAMNION

A. Pengertian
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding rahim (Arif Mansjoer, 2015).
Sectio Cesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas
500 gr, melalui sayatan pada dinding perut dan dinding rahim yang masih utuh.
(Prawirro, Sarwono. 2016. Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2016).
Sectio caesarea atau bedah sesar adalah sebuah bentuk melahirkan anak dengan
melakukan sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen seorang ibu
(laparotomi) dan uterus (hiskotomi) untuk mengeluarkan satu bayi atau lebih (Dewi
Y, 2017). Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa sectio caesarea adalah suatu
tindakan operasi yang bertujuan untuk melahirkan bayi dengan jalan pembukaan
dinding perut.

B. Sectio cesaria dibagi menjadi :


1. Section cesaria klasik / corporal : insisi memanjang pada segmen atas uterus
2. Section cesaria transperineals profunda: insisi pada bawah rahim, bisa dengan
teknik melintang atau memanjang
3. Section cesaria extra peritonilis: Rongga peritoneum tak dibuka, dilakukan pada
pasien infeksi uterin berat.
4. Section cesaria Hysteroctomi : Setelah sectio cesaria dilakukan hysteroktomy
dengan indikasi: Atonia uteri, plasenta accrete, myoma uteri, infeksi intra uterin
berat
Yang paling banyak dilakukan saat ini adalah SC transperitoneal profunda dengan
insisi dari segmen bawah uterus.
Keunggulan dari SC transperitoneal profunda :
1. Perdarahan luka insisi tidak terlalu banyak
2. Bahaya peritonitis tidak terlalu besar
3. Parut pada uterus umumnya kuat sehingga bahaya terjadi ruptur uteri di kemudian
hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa

1
banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh
lebih sempurna.

C. Etiologi / Indikasi
Para ahli kandungan atau para penyaji perawatan yang lain menganjurkan sectio
caesarea apabila kelahiran melalui vagina mungkin membawa resiko pada ibu dan
janin. Indikasi untuk sectsio caesarea antara lain meliputi:
1. Indikasi Medis
Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu :
a) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi caesar, misalnya daya mengejan
lemah, ibu berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain yang
mempengaruhi tenaga.
b) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, anak “mahal” dengan kelainan letak lintang,
primi gravida diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak tertekan terlalu
lama pada pintu atas panggul, dan anak menderita fetal distress syndrome
(denyut jantung janin kacau dan melemah).
c) Passage
Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma persalinan serius pada jalan
lahir atau pada anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular
ke anak, umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis), condyloma lota
(kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma acuminata (penyakit
infeksi yang menimbulkan massa mirip kembang kol di kulit luar kelamin
wanita), hepatitis B dan hepatitis C.

2. Indikasi Ibu
a) Usia : Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun,
memiliki resiko melahirkan dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan usia 40
tahun ke atas. Pada usia ini, biasanya seseorang memiliki penyakit yang beresiko,
misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis, dan preeklamsia.
Eklampsia (keracunan kehamilan) dapat menyebabkan ibu kejang sehingga
dokter memutuskan persalinan dengan sectio caesarea.
b) Tulang Panggul : Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar
panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat
menyebabkan ibu tidak melahirkan secara alami. Tulang panggul sangat
menentukan mulus tidaknya proses persalinan.

2
c) Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea : Sebenarnya, persalinan melalui
bedah caesar tidak mempengaruhi persalinan selanjutnya harus berlangsung
secara operasi atau tidak. Apabila memang ada indikasi yang mengharuskan
dilakukanya tindakan pembedahan, seperti bayi terlalu besar, panggul terlalu
sempit, atau jalan lahir yang tidak mau membuka, operasi bisa saja dilakukan.
d) Faktor Hambatan Jalan Lahir : Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan
lahir yang kaku sehingga tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor
dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek, dan ibu sulit bernafas.
e) Kelainan Kontraksi Rahim : Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi
(inkordinate uterine action) atau tidak elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat
melebar pada proses persalinan, menyebabkan kepala bayi tidak terdorong, tidak
dapat melewati jalan lahir dengan lancar.
f) Ketuban Pecah Dini : Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat
menyebabkan bayi harus segera dilahirkan. Kondisi ini membuat air ketuban
merembes ke luar sehingga tinggal sedikit atau habis. Air ketuban (amnion)
adalah cairan yang mengelilingi janin dalam rahim. Ketuban pecah dini (KPD)
didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal
ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu.
KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum
waktunya melahirkan.
g) Rasa Takut Kesakitan : Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara alami
akan mengalami proses rasa sakit, yaitu berupa rasa mulas disertai rasa sakit di
pinggang dan pangkal paha yang semakin kuat dan “menggigit”. Kondisi tersebut
karena keadaan yang pernah atau baru melahirkan merasa ketakutan, khawatir,
dan cemas menjalaninya. Hal ini bisa karena alasan secara psikologis tidak tahan
melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan juga akan mengambat
proses persalinan alami yang berlangsung.
3. Indikasi Janin
a) Ancaman Gawat Janin (fetal distress) : Detak jantung janin melambat,
normalnya detak jantung janin berkisar 120- 160. Namun dengan CTG
(cardiotography) detak jantung janin melemah, lakukan segera sectio caesarea
segara untuk menyelematkan janin.
b) Bayi Besar (makrosemia)
c) Letak Sungsang : Letak yang demikian dapat menyebabkan poros janin tidak
sesuai dengan arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang
satu dan bokong pada posisi yang lain.

3
d) Faktor Plasenta
 Plasenta previa : Posisi plasenta terletak dibawah rahim dan menutupi
sebagian atau selruh jalan lahir.
 Plasenta lepas (Solution placenta) : Kondisi ini merupakan keadaan plasenta
yang lepas lebih cepat dari dinding rahim sebelum waktunya. Persalinan
dengan operasi dilakukan untuk menolong janin segera lahir sebelum ia
mengalami kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban.
 Plasenta accreta : Merupakan keadaan menempelnya plasenta di otot rahim.
Pada umumnya dialami ibu yang mengalami persalinan yang berulang kali,
ibu berusia rawan untuk hamil (di atas 35 tahun), dan ibu yang pernah
operasi (operasinya meninggalkan bekas yang menyebabkan menempelnya
plasenta.
e) Kelainan Tali Pusat
 prolapsus tali pusat (tali pusat menumbung) : keadaan penyembulan
sebagian atau seluruh tali pusat. Pada keadaan ini, tali pusat berada di depan
atau di samping atau tali pusat sudah berada di jalan lahir sebelum bayi.
 Terlilit tali pusat
Lilitan tali pusat ke tubuh janin tidak selalu berbahaya. Selama tali pusat
tidak terjepit atau terpelintir maka aliran oksigen dan nutrisi dari plasenta ke
tubuh janin tetap aman.

4
PAHTWAY :
Insufisiensi plasenta Sirkulasi uteroplasenta menurun Cemas pada janin

Tidak timbul HIS

Tidak ada perubahan Kadar kortisol menurun


pada serviks (merupakan
metabolisme
Faktor predisposisi : karbohidrat, protein dan
 Ketidak seimbangan Kelahiran terhambat lemak)
sepalo pelvic
 Kehamilan kembar
 Distress janin
 Presentsi janin Post date
 Preeklampsi / eklampsi

SC
Persalinan tidak
normal

Kurang Nifas Estrogen


pengetahuan (post pembedahan) meningkat

 Nyeri Penurunan laktasi


Ansietas  Imobilisasi
 Resti Infeksi
 Ansietas
Pembendungan
laktasi

D. Pemerisaan Penunjang
1. Elektroensefalogram (EEG) : Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari
kejang.
2. Pemindaian CT : Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging (MRI) : Menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah-daerah otak yang tidak jelas terlihat bila menggunakan
pemindaian CT.
4. Pemindaian positron emission tomography (PET) : untuk mengevaluasi kejang
yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau
alirann darah dalam otak.

5
5. Uji laboratorium
 Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
 Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
 Panel elektrolit
 Skrining toksik dari serum dan urin
 AGD
 Kadar kalsium darah
 Kadar natrium darah
 Kadar magnesium darah

E. Hal-hal yang harus diperhatikan pada SC


1. SC elektif : pembedahan direncanakan terlebih dahulu , karena segala persiapan
dapat dilakukan dengan baik.
2. Anestesia : anestesia umum akan mempengaruhi defensif pada pusat pernafasan
janin, anestesi spinal aman buat janin tetapi ada kemungkinan tekanan darah ibu
menurun yang bisa berakibat bagi ibu dan janin sehingga cara yang paling aman
adalah anestesi local, tetapi sering tidak dilakukan karena mengingat sikap mental
penderita.
3. Transfusi darah : pada umumnya SC perdarahannya lebih banyak disbanding
persalinan pervaginam, sehingga perlu dipersiapkan.
4. Pemberioan antibiotik : pemberian antibiotik sangat dianjurkan mengingat adanya
resiko infeksi pada ibu.

F. Komplikasi
Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :
1. Infeksi puerperial : kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas (ringan),
atau sedang, yang berat bisa berupa peritonitis, sepsis.
2. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabang-
cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing, embolisme paru
yang sangat jarang terjadi.
4. Kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya
bisa terjadi ruptur uteri.

6
G. TEKHNIK PENATALAKSANAAN (SC)
1. Bedah Caesar klasik /corporal.
a. Buatlah insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus
uteri diatas segmen bawah rahim. Perlebar insisi dengan gunting sampai
sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari
operator.
b. Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah. Janin dilahirkan dengan
meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut.
c. Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong
diantara kedua klem tersebut.
d. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika
kedalam miometrium dan intravena.
e. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :
 Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang
dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
 Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal (
lambert) dengan benang yang sama.
 Lapisan III : Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit
secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
f. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan
air ketuban
g. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
2. Bedah Caesar transperitoneal profunda
a. Plika vesiko uterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang,
kemudian secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping.
b. Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1
cm dibawah irisan plika vesikouterina. Irisan kemudian diperlebar dengan
gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting lindungi janin
dengan dua jari operator.
c. Stetlah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan
cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut.
d. Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya.
e. Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan
dipotong diantara kedua klem tersebut.
f. Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika
kedalam miometrium dan intravena.
g. Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :

7
 Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang
dengan menggunakan benang chromic catgut no.1 dan 2
 Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal
(lambert) dengan benang yang sama.
 Lapisan III: Peritoneum plika vesikouterina dijahit secara jelujur
menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2
h. Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan
air ketuban
i. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
3. Bedah Caesar ekstraperitoneal
a. Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. Peritoneum kemudia
digeser kekranial agar terbebas dari dinding cranial vesika urinaria.
b. Segmen bawah rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar transperitoneal
profunda demikian juga cara menutupnya.
4. Histerektomi Caersarian ( Caesarian hysterectomy)
a. Irisan uterus dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal demikian juga
cara melahirkan janinnya.
b. Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan
klem secukupnya.
c. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus.
d. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada tepi
segmen bawah rahim. Satu klem juga ditempatkan diatas kedua klem tersebut.
e. Uterus kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Perdarahan pada
tunggul serviks uteri diatasi.
f. Jahit cabang arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang sutera
no. 2.
g. Tunggul serviks uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic catgut (
no.1 atau 2 ) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic.
h. Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri.
i. Dilakukan reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera
abdominis.
j. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis

H. Penatalaksaan post SC
1. Pemberian cairan :
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi

8
hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa
diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah
tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah
sesuai kebutuhan.
2. Diet :
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6-10 jam pasca operasi,
berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi :
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
b) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
c) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
d) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
e) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar
duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari
ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
4. Kateterisasi :
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24-48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
5. Pemberian Obat-obatan
a) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi
b) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
 Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
 Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
c) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C

9
6. Perawatan Luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus
dibuka dan diganti.

I. OLIGIHIDRAMNION

1. Pengertian
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal, yaitu kurang dari 500 cc.
Definisi lainnya menyebutkan sebagai AFI yang kurang dari 5 cm.
Karena VAK tergantung pada usia kehamilan maka definisi yang lebih tepat
adalah AFI yang kurang dari presentil 5 ( lebih kurang AFI yang <6.8 cm saat
hamil cukup bulan).

Gambar 1. Oligohidraminion
2. Etiologi Oligohidramnion
Penyebab oligohydramnion tidak dapat dipahami sepenuhnya. Mayoritas
wanita hamil yang mengalami tidak tau pasti apa penyebabnya. Penyebab
oligohydramnion yang telah terdeteksi adalah cacat bawaan janin dan bocornya
kantung/ membran cairan ketuban yang mengelilingi janin dalam rahim. Sekitar
7% bayi dari wanita yang mengalami oligohydramnion mengalami cacat bawaan,
seperti gangguan ginjal dan saluran kemih karena jumlah urin yang diproduksi
janin berkurang.
Masalah kesehatan lain yang juga telah dihubungkan dengan
oligohidramnion adalah tekanan darah tinggi, diabetes, SLE, dan masalah pada
plasenta. Serangkaian pengobatan yang dilakukan untuk menangani tekanan
darah tinggi, yang dikenal dengan namaangiotensin-converting enxyme inhibitor
(mis captopril), dapat merusak ginjal janin dan menyebabkan oligohydramnion
parah dan kematian janin. Wanita yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi
yang kronis seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli kesehatan
sebelum merencanakan kehamilan untuk memastikan bahwa tekanan darah

10
mereka tetap terawasi baik dan pengobatan yang mereka lalui adalah aman
selama kehamilan mereka.

3. Patofisiologi Oligohidramnion
Mekanisme atau patofisiologi terjadinya oligohidramnion dapat dikaitkan
dengan adanya sindroma potter dan fenotip pottern, dimana, Sindroma Potter dan
Fenotip Potter adalah suatu keadaan kompleks yang berhubungan dengan gagal
ginjal bawaan dan berhubungan dengan oligohidramnion (cairan ketuban yang
sedikit).
Fenotip Potter digambarkan sebagai suatu keadaan khas pada bayi baru
lahir, dimana cairan ketubannya sangat sedikit atau tidak ada. Oligohidramnion
menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding rahim. Tekanan dari
dinding rahim menyebabkan gambaran wajah yang khas (wajah Potter). Selain
itu, karena ruang di dalam rahim sempit, maka anggota gerak tubuh menjadi
abnormal atau mengalami kontraktur dan terpaku pada posisi abnormal.
Oligohidramnion juga menyebabkan terhentinya perkembangan paru-
paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal
ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal
bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal
gagal berfungsi.
Dalam keadaan normal, ginjal membentuk cairan ketuban (sebagai air
kemih) dan tidak adanya cairan ketuban menyebabkan gambaran yang khas dari
sindroma Potter.

Gambar 2. Patofisiologi Oligohidraminion

11
WOC Oligohidraminion

Oligohidraminion

Air ketuban < 500 cc

Bayi bergerak Air ketuban yang terlalu Resiko cedera


dengan susah sedikit indikasi SC

Nyeri akut pada Cemas


ibu

4. Epidemiologi Oligohidramnion
Sekitar 8% wanita hamil memiliki cairan ketuban terlalu sedikit.
Olygohydramnion dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, walau pada
umumnya sering terjadi di masa kehamilan trimester terakhir. Sekitar 12%
wanita yang masa kehamilannya melampaui batas waktu perkiraan lahir (usia
kehamilan 42 minggu) juga mengalami olygohydrasmnion, karena jumlah cairan
ketuban yang berkurang hamper setengah dari jumlah normal pada masa
kehamilan 42 minggu.

5. Faktor Resiko Oligohidramnion


Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion yang tinggi :
a. Anomali kongenital ( misalnya : agenosis ginjal,sindrom patter ).
b. Retardasi pertumbuhan intra uterin.
c. Ketuban pecah dini ( 24-26 minggu).
d. Sindrom pasca maturitas.

6. Manifestasi Klinis Oligohidramnion


a. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
b. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
c. Sering berakhir dengan partus prematurus.
d. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih
jelas.
e. Persalinan lebih lama dari biasanya.

12
f. Sewaktu his akan sakit sekali.
g. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.

7. Pemeriksaan Oligohidramnion
Pemeriksaan dengan USG dapat mendiagnosa apakah cairan ketuban
terlalu sedikit atau terlalu banyak. Umumnya para dokter akan mengukur
ketinggian cairan dalam 4 kuadran di dalam rahim dan menjumlahkannya.
Metode ini dikenal dengan nama Amniotic Fluid Index (AFI). Jika ketinggian
amniotic fluid (cairan ketuban) yang di ukur kurang dari 5 cm, calon ibu tersebut
didiagnosa mengalami oligohydramnion. Jika jumlah cairan tersebut lebih dari
25 cm, ia di diagnosa mengalami polihydramnion.

8. Prognosis Oligohidramnion
1. Semakin awal oligohidramnion terjadi pada kehamilan, semakin buruk
prognosisnya.
2. Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas.

9. Komplikasi Oligohidramnion
Masalah-masalah yang dihubungkan dengan terlalu sedikitnya cairan
ketuban berbeda-beda tergantung dari usia kehamilan. Oligohydramnion dapat
terjadi di masa kehamilan trimester pertama atau pertengahan usia kehamilan
cenderung berakibat serius dibandingkan jika terjadi di masa kehamilan trimester
terakhir. Terlalu sedikitnya cairan ketuban dimasa awal kehamilan dapat
menekan organ-organ janin dan menyebabkan kecacatan, seperti kerusakan paru-
paru, tungkai dan lengan.
Olygohydramnion yang terjadi dipertengahan masa kehamilan juga
meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur dan kematian bayi dalam
kandungan. Jika ologohydramnion terjadi di masa kehamilan trimester terakhir,
hal ini mungkin berhubungan dengan pertumbuhan janin yang kurang baik.
Disaat-saat akhir kehamialn, oligohydramnion dapat meningkatkan resiko
komplikasi persalinan dan kelahiran, termasuk kerusakan pada ari-ari
memutuskan saluran oksigen kepada janin dan menyebabkan kematian janin.
Wanita yang mengalami oligohydramnion lebih cenderung harus mengalami
operasi caesar disaat persalinannya.

13
J. Asuhan Keperawatan
1 Pengkajian fokus
1) Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama, alamat,
status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik,
yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
2) Keluhan utama
3) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi kien multipara
4) Data riwayat penyakit
a) Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah
klien operasi.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang,
maksudnya apakah klien pernah mengalami penyakit yang sama
(plasenta previa)
c) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita klien dan apakah keluarga klien ada
juga mempunyai riwayat persalinan yang sama (plasenta previa)
5) Pola-pola fungsi kesehatan
a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara
pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan
tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
b) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
c) Pola aktifitas
Pada klien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah,
pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami
kelemahan dan nyeri.
d) Pola eleminasi
Pada klien postpartum sering terjadi adanya perasaan sering / susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema, yang

14
menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena
penderita takut untuk melakukan BAB.
e) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya
kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan
orang lain.
g) Pola penagulangan stres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
h) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka jahitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri (pengecilan uteri oleh kontraksi uteri), pada
pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat
bayinya
i) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri
antara lain dan body image dan ideal diri
j) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau
fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan
nifas.
6) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kontribusi rambut, warna
rambut, ada atau tidak adanya edem, kadang-kadang terdapat adanya cloasma
gravidarum, dan apakah ada benjolan.
b) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing.
c) Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah
cairan yang keluar dari telinga.

15
d) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung.
e) Leher
Pembesaran kelenjar limfe dan tiroid, adanya abstensi vena jugularis.
f) Dada dan payudara
Bentuk dada simetris, gerakan dada, bunyi jantung apakah ada bisisng usus
atau tiak ada. Terdapat adanya pembesaran payudara, adanya
hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae
g) Abdomen
Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri.
Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
h) Ginetelia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
i) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur, adanya
hemoroid.
j) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena membesarnya
uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
k) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat,
pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
a. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu
tentang cara menyusui yang bernar.
b. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir.
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal atau familiar
dengan sumber informasi tentang cara perawatan bayi.
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelelahan sehabis bersalin
e. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi

16
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA PERENCANAAN
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI
1. Menyusui tidak Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3x24 jam Health education:
efektif berhubungan klien menunjukkan respon breast feeding adekuat dengan 1. Berikan informasi mengenai :
dengan kurangnya indikator: - Fisiologi menyusui
pengetahuan ibu - klien mengungkapkan puas dengan kebutuhan untuk - Keuntungan menyusui
tentang cara menyusui - Perawatan payudara
menyusui yang - klien mampu mendemonstrasikan perawatan payudara - Kebutuhan diit khusus
bernar - Faktor-faktor yang menghambat proses menyusui
2. Demonstrasikan breast care dan pantau kemampuan klien
untuk melakukan secara teratur
3. Ajarkan cara mengeluarkan ASI dengan benar, cara
menyimpan, cara transportasi sehingga bisa diterima oleh bayi
4. Berikan dukungan dan semangat pada ibu untuk melaksanakan
pemberian Asi eksklusif
5. Berikan penjelasan tentang tanda dan gejala bendungan
payudara, infeksi payudara
6. Anjurkan keluarga untuk memfasilitasi dan mendukung klien
dalam pemberian ASI

17
7. Diskusikan tentang sumber-sumber yang dapat memberikan
informasi/memberikan pelayanan KIA
2. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 Pain Management
injuri fisik (luka jam diharapkan nteri berkurang dengan indicator:  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
insisi operasi) NOC : lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
 Pain Level, presipitasi
 Pain control,  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
 Comfort level  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
Kriteria Hasil : pengalaman nyeri pasien
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
mengurangi nyeri, mencari bantuan)  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
menggunakan manajemen nyeri  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dukungan
dan tanda nyeri)  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
 Tanda vital dalam rentang normal  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter personal)

18
 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
 Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
 Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur

19
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek
samping)
3. Kurang Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam
pengetahuan diharapkan pengetahuan klien meningkat dengan indicator: Teaching : disease Process
tentang perawatan 1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang
ibu nifas dan NOC : proses penyakit yang spesifik
perawatan post  Kowlwdge : disease process 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
operasi b/d  Kowledge : health Behavior berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
kurangnya sumber Kriteria Hasil : tepat.
informasi  Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program penyakit, dengan cara yang tepat
pengobatan 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
 Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur 5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
yang dijelaskan secara benar 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara
 Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali yang tepat
apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya. 7. Hindari jaminan yang kosong
8. Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan

20
pasien dengan cara yang tepat
9. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan
untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
11. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
12. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara
yang tepat
13. Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
14. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
4. Defisit perawatan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam NIC :
diri b.d. Kelelahan. ADLs klien meningkat dengan indicator: Self Care assistane : ADLs
 Monitor kemempuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
NOC :  Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk
 Self care : Activity of Daily Living (ADLs) kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
Kriteria Hasil :  Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk

21
 Klien terbebas dari bau badan melakukan self-care.
 Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan  Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang
untuk melakukan ADLs normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
 Dapat melakukan ADLS dengan bantuan  Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan
ketika klien tidak mampu melakukannya.
 Ajarkan klien/ keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk
memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin sehari- hari sesuai kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.
5. Risiko infeksi b.d Setelah dilakuakan asuhan keperawatan selama 3x24 NIC :
tindakan invasif, jam diharapkan resiko infeksi terkontrol dengan indicator: Infection Control (Kontrol infeksi)
paparan lingkungan NOC :  Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
patogen  Immune Status  Pertahankan teknik isolasi
 Knowledge : Infection control  Batasi pengunjung bila perlu
 Risk control  Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
Kriteria Hasil : berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
 Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
 Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan

22
yang mempengaruhi penularan serta  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
penatalaksanaannya,  Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
 Menunjukkan kemampuan untuk mencegah  Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai
timbulnya infeksi dengan petunjuk umum
 Jumlah leukosit dalam batas normal  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
 Menunjukkan perilaku hidup sehat kandung kencing
 Tingktkan intake nutrisi
 Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)


 Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap penyakit menular
 Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat pada area epidema
 Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,

23
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

24
DAFTAR PUSTAKA

Abdul bari saifuddin,Prof Dr, 2015 , Buku panduan praktis pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono
prawirohardjo, Jakarta.
Abdul Bari Saifuddin,, 2016 , Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan Neonatal, Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Jakarta
Arif Mansjoer. 2016. Asuhan Keperawatn Maternitas. Salemba Medika. Jakarta
Manuaba, I.B. 2013. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan
KB. Jakarta : EGC
Nurjannah Intansari. 2016. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :
mocaMedia
Sarwono, Prawiroharjo,. 2015. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramedi

Manuaba, I.B.G., 2016. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga


Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Arcan.
Doengoes, Marilynn E. 2014. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Mansjoer, Arif. Dkk. 2015. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Jakarata :
EGC.
NANDA, 2017. Nursing Diagnoses : Definition and Clssification 2007 – 2008,
NANDA
Sarwono P. 2016. Ilmu Kebidanan edisi 3. Bina Pustaka : Jakarta.
Widiastuti. (2017). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Preeklampsia. Diakses pada tanggal 11 Februari 2012.
Winknjosastro, Hanifa. (2015). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

25

Beri Nilai