Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang

Dalam dunia modern ini, untuk tetap melangsungkan kehidupankebutuhan


harus dipenuhi dengan baik. Banyak macam kebutuhan yang harusdipenuhi,
daalam hal ini dibutuhkan kerjasama antar individu. Dalam mencapaitujuan
diperlukan suatu partisipasi dalam memenuhi kebutuhan.

Kata partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Partisipation” yangartinya


pengambilan bagian, pengikutsertaan. Sedangkan kata “Partisipation” berasal
dari kata “Partisipate” yang berarti mengikutsertakan. Seiring dengande inisi
tersebut partisipasi dapat diartikan sebagai turut serta berperan serta
ataukeikutsertaan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu partisipasi ?


2. Apa urgensi partisipasi ?
3. Apa esensi partisipasi ?
4. Apa saja metode pendekatan partisipasi ?
5. Bagaimana me(ujudkan masyarakat partisipasi ?
6. Bagaimana peran organisasi dalam partisipasi ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. untuk mengetahui definisi partisipasi.


2. untuk mengetahui urgensi partisipasi.
3. untuk mengetahui esensi partisipasi .
4. untuk mengetahui metode pendekatan partisipasi .
5. untuk mengetahui meujudkan masyarakat partisipasi.
6. untuk mengetahui peran organisasi dalam partisipasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Parttisipasi

Menurut Rogers, partisipasi adalah tingkat keterlibatan anggota dalam


mengambil keputusan, termasuk dalam perencanaan. Namun pada dasarnya
Partisipasi berarti ikut serta, tetapi dalam bahasa kita hampir tidak ada perbedaan
antara kata tersebut sebagai kata kerja (to participate) atau kata benda
(participation).
Dalam arti manapun sudah jelas bahwa dalam partisipasi ada minimal dua
kelompok warga yang saling hubungannya cukup menyatu (united) karena
padawalnya mempunyai tujuan hidup yang tidak sepenuhnya sama.
Sehingga seorang aktivis yang ingin mengembangkan partisipasi perlu
menemukan satu tujuan (purpose) yang bukan hanya diterima oleh kelompok
kelompok dalam Community tetapi sekaligus salah satu dari kebutuhan
merekayang dirasakan penting.
Saat ini masalah peran serta masyarakat (partisipasi) dalam pembangunan
menjadi topik utama dimana kegagalan dalam setiap program pemerintah
disebabkan oleh kurangnya keikutsertaan masyarakat.
Alasan mengapa keikutsertaan (partisipasi) masyarakat dikatakan penting
pada masa pembangunan sekarang, antara lain:
1. 1.Kita sedang berada dalam masa transisi dalam pembangunan era pertanianke
era industri
2. Terciptanya demokrasi dan keterbukaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara
3. Sebanyak 27 juta rakyat indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan
4. Berkembangnya etos kerja yang negate
5. Masih terjadi pemisahan golongan antara kaum elite dan kaum bawahan.

Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau


pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha
mencapai tujuan. Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti
keterlibatan jasmaniah semata.
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosiatau
perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk
memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan
sertaturut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
Manfaat Partisipasi masyarakat :
1. Partisipasi adalah perwujudan kedaulatan rakyat, yang menempatkan mereka
sebagai awal dan tujuan pembangunan.
2. Partisipasi menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk turut
serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut masyarakat. Dengan
kalimat lain partisipasi merupakan bentuk “memanusiakan manusia”
(nguwongake).
3. Partisipasi adalah proses saling belajar bersama antara pemerintah dan
masyarakat, sehingga bisa saling menghargai, mempercayai, dan
menumbuhkan sikap yang arif.
4. Partisipasi menciptakan suatu lingkaran umpan balik informasi tentang
aspirasi, kebutuhan, dan kondisi masyarakat.
5. Partisipasi merupakan kunci pemberdayaan dan kemandirian masyarakat.
6. Partisipasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengembangkan
kemampuan masyarakat dalam pengelolaan program pembangunan guna
memenuhi kebutuhan.
7. Partisipasi bisa mencegah timbulnya pertentangan, konflik, dan sikap-sikap
waton suloyo.
8. Partisipasi bisa membangun rasa memiliki masyarakat terhadap agenda
pemerintahan, kemasyarakatan, dan pembangunan.
9. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan demokrasi.

2.2 Urgensi Partisipasi

Pentingnya partisipasi dikemukakan oleh Conyers (1991: 154-155) sebagai


berikut:
1. Partisipasi m a s ya r a k a t merupakan suatu alat guna
m e m p e r o l e h i n f o r m a s i mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap
masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta
proyek proyek akan gagal.
2 . M a s ya r a k a t a k a n l e b i h m e m p e r c a ya i p r o ye k a t a u p r o g r a m
p e m b a n g u n a n jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan
perencanaannya, karenam e r e k a a k a n l e b i h m e n g e t a h u i s e l u k -
b e l u k p r o ye k t e r s e b u t d a n a k a n mempunyai rasa memiliki terhadap
proyek tersebut.
3. S u a t u h a k d e m o k r a s i b i l a m a s y a r a k a t d i l i b a t k a n
d a l a m p e m b a n g u n a n masyarakat mereka sendiri.
Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah
meningkatnya kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat
baik langsung maupunt i d a k l a n g s u n g d a l a m s e b u a h p r o g r a m
p e m b a n g u n a n d e n g a n c a r a m e l i b a t k a n mereka dalam pengambilan
keputusan dan kegiatan - kegiatan selanjutnya dan untuk jangka yang
lebih panjang.
Adapun prinsip-prinsip partisipasi tersebut, sebagaimana tertuang
dalamPanduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipati yang disusun oleh
Department for International Development (DFID) (dalam Monique
Sumampouw, 2004 : 106-107) adalah :

a. Ca k u p a n S e m u a o r a n g a t a u w a k i l - w a k i l d a r i s e m u a
k e l o m p o k y a n g terkena dampak dari hasil-hasil suatu
k e p u t u s a n a t a u p r o s e s p r o ye k pembangunan.
b. Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership). P a d a d a s a r n y a
setiapo r a n g m e m p u n ya i k e t e r a m p i l a n ,
k e m a m p u a n d a n p r a k a r s a s e r t a m e m p u n ya i h a k u n t u k
m e n g g u n a k a n p r a k a r s a t e r s e b u t t e r l i b a t d a l a m setiap proses
guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan
struktur masing-masing pihak.
c. Transparansi. Semua pihak harus dapat
m e n u m b u h k e m b a n g k a n komunikasi dan iklim
b e r k o m u n i k a s i t e r b u k a d a n k o n d u s i s e h i n g g a menimbulkan
dialog.
d. K e s e t a r a a n k e w e n a n g a n ( Sharing Power/Equal
Powership). B e r b a g a i pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan
distribusi ke(enangandan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi.
e. K e s e t a r a a n T a n g g u n g j a w a b ( Sharing Responsibility).
B e r b a g a i p i h a k mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap
proses karena adanyakesetaraan kewenangan (sharing power ) dan
keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah
selanjutnya.
f. P e m b e r d a y a a n ( Empowerment ). Keterlibatan berbagai
pihak tidak lepasdari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki
setiap pihak, sehinggamelalui keterlibatan aktif dalam setiap proses
kegiatan, terjadi suatu prosessaling belajar dan saling memberdayakan satu
sama lain.
g. K e r j a s a m a . D i p e r l u k a n a d a n ya k e r j a s a m a b e r b a g a i p i h a k
y a n g t e r l i b a t untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai
kelemahan yangada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber
daya manusia.
2.3 Esensi Partisipasi
Kata partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu
“ P a r t i s i p a t i o n ” ya n g artinya pengambilan bagian, pengikut sertaan.
Sedangkan kata “Partisipation” berasal dari kata “Partisipate” yang berarti
mengikutsertakan. Seiring dengan definisi tersebut partisipasi dapat
diartikan sebagai turut serta berperan serta atau keikutsertaan.
Dalam kamus bahasa indonesia definisi partisipasi
a d a l a h h a l y a n g berkenaan dengan turut serta dalam suatu kegiatan atau
berperan serta dalam suatu kegiatan atau berperan serta. Jadi, dapat
diartikan bahwa partisipasi adalah suatu bentuk kerjasama yang diberikan
apabila suatu pihak sedang melakukan suatu kegiatan.
Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya.
Misalnya anda berpartisipasi/ ikut serta (dapat anda rasakan sendiri),
maka anda melakukan kegiatan itu karena menurut pikiran anda perlu
dan bah(a perasaananda pun menyetujui<berkenan untuk melakukannya.
R.A Santoso Sastropoetro mengemukakan pengertian partisipasi
adalahketerlibatan yang bersifat spontan yang disertai kesadaran dan
tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan
bersama.
J e n i s - j e n i s p a r t i s i p a s i ya n g d i k e m u k a k a n o l e h s a s t r o p o e t r o ,
s e b a g a i berikut:
1. Partisipasi dalam pikiran.
Dalam hal ini partisipasi berupa mengusulkan pendapat dan
merencanakan berbagai kegiatan demi kesuksesan suatu kegiatan atau
program.
2. Partisipasi dalam tenaga
Partisipasi ini dapat berupa sumbangsih tenaga yang
d i b e r i k a n o l e h sebagian atau seluruh masyarakat sehingga suatu kegiatan
atau program dapat berjalan lancer.
3. Partisipasi dalam keahlian.
Bentuk partisipasi ini adalah berdasarkan dari
tingkat k e a h l i a n , keterampilan, pendidikan, dan
p e k e r j a a n ya n g d i m i l i k i o l e h s e b a g i a n a t a u seluruh masyarakat.
4. Partisipasi dalam fasilitas.
Partisipasi yang dimaksudkan disini adalah partisipasi atau
keikutsertaanyang dapat berupa kontribusi melalui uang, barang, dan jasa.

2.4 Metode Pendekatan Partisipasi

1. Pendekatan pasif, pelatihan dan informasi


yakni pendekatan yang beranggap an bahwa pihak
eksternal lebih menguasai pengetahuan, teknologi,
k e t e r a m p i l a n d a n s u m b e r d a y a . Dengan demikian partisipasi
tersebut memberikan komunikasi satu arah, dari atas ke bawah dan
hubungan pihak eksternal dan masyarakat bersifat vertikal.
2. Pendekatan partisipasi aktif
y a i t u m e m b e r i k a n k e s e m p a t a n k e p a d a m a s ya r a k a t u n t u k
b e r i n t e r a k s i secara lebih intensif dengan para petugas eksternal,
contohnya pelatihandan kunjungan.
3 . Pendekatan partisipasi dengan keterikatan masyarakat atau
individud i b e r i k a n kesempatan untuk melakukan
p e m b a n g u n a n , d a n d i b e r i k a n pilihan untuk terikat pada sesuatu
kegiatan dan bertanggung jawab ataskegiatan tersebut.
4. Pendekatan dengan partisipasi setempat
yaitu pendekatan dengan mencerminkan kegiatan pembangunan atas
dasar keputusan yang diambil oleh masyarakat setempat.

2.5 Mewujutkan Maswarakat Partisipasi

B e r b a g a i u p a ya d a p a t d i l a k u k a n u n t u k m e n u m b u h k a n
p a r t i s i p a s i d i masyarakat:
1. M e n g e k s p l o r a s i n i l a i - n i l a i ya n g b e r k a i t a n d e n g a n s e m a n g a t
p a r t i s i p a s i (kebersamaan dan solidaritas, tanggung jawab,
kesadaran kritis, sensitif, perubahan, peka terhadap lokalitas dan
keberpihakan pada kelompok marginal, dll).
2. Menghidupkan kembali institusi-institusi
volunteer sebagai media kewargaan yang
pernah hidup dan berfungsi untuk kemudian
d i k o n t e k s t u a l i s a s i d e n g a n p e r k e m b a n g a n ya n g t e r j a d i d i
m a s ya r a k a t terutama dinamika kontemporer (Mis. forum rembuk
desa/dusun).
3. M e m f a s i l i t a s i tebentuknya asosiasi-asosiasi
kewargaan yang b a r u berbasiskan kepentingan kelompok
keagamaan, ekonomi, profesi, minat dan hobi, dan politik maupun
aspek-aspek kultural lainnya yang dapatdiman aatkan sebagai arena
interaksi terbuka.
4 . Mengkampanyekan pentingnya kesadaran inklu sif bagi warga desa
dalam menyikapi sejumlah perbedaan yang terjadi dengan
mempertimbangkan kemajemukan.
5. M e m p e r l u a s r u a n g k o m u n i k a s i p u b l i k a t a u s e m a c a m p u b l i c
s p h e r e ya n g dapat dimanfaatkan warga desa untuk melakukan kontak-
kontak sosial dankerjasama. (IRT, 2003)

2.6 Peran Organisasi Dalam Partisipas

D a l a m b e r o r g a n i s a s i s e t i a p individu d a p a t b e r i n t e r a k s i
d e n g a n s e m u a struktur ya n g t e r k a i t b a i k i t u s e c a r a l a n g s u n g
m a u p u n s e c a r a t i d a k l a n g s u n g kepada organisasi yang mereka pilih.
Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap i n d i v i d u bias
berpartisipasi pada organisasi yang
b e r s a n g k u t a n . Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui
hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
P a d a d a s a r n ya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental
atau pikiran d a n emosi a t a u p e r a s a a n s e s e o r a n g d i d a l a m
situasi kelompok ya n g mendorongnya untuk memberikan
sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti
keterlibatan jasmaniah semata.Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan
mental, pikiran,dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi
kelompok yang mendorongnyauntuk memberikan sumbangan kepada
kelompok dalam usaha mencapai tujuanserta turut bertanggung jawab
terhadap usaha yang bersangkutan.

Unsur - unsur ,
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi.
1. U n s u r pertama, bahwa partisipasi atau
k e i k u t s e r t a a n s e s u n g g u h n y a merupakan suatu keterlibatan
mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan
secara jasmaniah.
2 . Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan
k e p a d a u s a h a mencapai tujuan kelompok . i n i b e r a r t i , b a h w a
t e r d a p a t r a s a senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
3. U n s u r k e t i g a a d a l a h u n s u r tanggung jawab. Unsur tersebut
merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini
diakui sebagai anggotaartinya ada rasa “sense of belongingness”.

Jens - jenis :
Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut:
1. P i k i r a n ( psychological participation)
2. T e n a g a ( physical participation)
3. P i k i r a n d a n t e n a g a
4. K e a h l i a n
5. B a r a n g
6. U a n g

Syarat – syarat

Agar suatu partisipasi dalam organisasi dapat


b e r j a l a n d e n g a n e f e k t i f , membutuhkan persyaratan - persyaratan yang
mutlak yaitu :
a. a k t u . U n t u k d a p a t b e r p a t i s i p a s i d i p e r l u k a n w a k t u .
w a k t u y a n g dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan
yang disampaikan o l e h pemimpin. Pesan tersebut mengandung
informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran
serta.
b. B i l a m a n a d a l a m k e g i a t a n p a r t i s i p a s i i n i d i p e r l u k a n
dana perangsang, h e n d a k n y a dibatasi seperlunya
a g a r t i d a k m e n i m b u l k a n k e s a n “memanjakan”, yang
akan menimbulkan efek negatif.
c. Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan
organisasid i m a n a i n d i v i d u ya n g b e r s a n g k u t a n i t u t e r g a b u n g
a t a u s e s u a t a u ya n g menjadi perhatiannnya.
d. Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dal am
artikata yang bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman
yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada,
m a k a u n s u r - unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
e. P a r t i s i p a s i h a r u s m e m i l i k i k e m a m p u a n u n t u k m e l a k u k a n
k o m u n i k a s i timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama
atau yang sama-s a m a d i p a h a m i , s e h i n g g a t e r c i p t a p e r t u k a r a n
p i k i r a n ya n g e f e k t i f a t a u berhasil.
f. Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran
sertatersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
g. Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan
hendaknyadidasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya
tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan
ketegangan ataugangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang
bersangkutan. Hal inididasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah
bersifat persuasif.
Partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian
wewenang atau t u g a s - t u g a s d a l a m m e l a k s a n a k a n k e g i a t a n n ya
d e n g a n m a k s u d m e n i n g k a t k a n efektif tugas yang diberikan secara
terstruktur dan lebih jelas.

Bentuk - Bentuk Organisasi


1.Organisasi politik
2.Organisasi sosial
3.Organisasi mahasiswa
4.Organisasi olahraga
5.Organisasi sekolah
6.Organisasi negara
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut Rogers, partisipasi adalah tingkat keterlibatan
anggota dalamm e n g a m b i l keputusan, termasuk dalam
p e r e n c a n a a n . N a m u n p a d a d a s a r n ya Partisipasi berarti ikut serta, tetapi
dalam bahasa kita hampir tidak ada perbedaana n t a r a kata
t e r s e b u t s e b a g a i k a t a k e r j a (to participate) a t a u k a t a
benda
(participation).
Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah
meningkatnya kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat
baik langsung maupunt i d a k l a n g s u n g d a l a m s e b u a h p r o g r a m
pembangunan dengan cara melibatkan mereka dalam
pengambilan keputusan dan kegiatan -kegiatan selanjutnya dan untuk
jangka yang lebih panjang.
Dalam berorganisasi setiap individu d a p a t
b e r i n t e r a k s i d e n g a n s e m u a struktur ya n g t e r k a i t b a i k i t u s e c a r a
l a n g s u n g m a u p u n s e c a r a t i d a k l a n g s u n g kepada organisasi yang
mereka pilih. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap i n d i v i d u b i s a
berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan.
Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja
yang harus dilakukan.

3.2 Saran
Pada dasarnya partisipasi d i d e f i n i s i k a n sebagai
k e t e r l i b a t a n m e n t a l a t a u pikiran d a n emosi a t a u p e r a s a a n
s e s e o r a n g d i d a l a m s i t u a s i k e l o m p o k y a n g mendorongnya untuk
memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai
tujuan.
Maka sebagai pelopor, kita harus meningkatkan
p e r a n d a n p a r t i s i p a s i masyarakat, agar usaha-usaha dalam
kelompok untuk memenuhi tujuan hidup tercapai dengan baik.
Masyarakat mampu terlibat secara langsung dengan usaha-usaha yang
dilakukan.