Anda di halaman 1dari 1

Di Bali di temukan sebuah prasasti yang menyebutkan ada istilah musik atau

gamelan yaitu prasasti Bebetin yang antara lain bunyinya:

“Pande mas, pande besi, pande tembaga, pemukul, pagending, pabunjing,


papadaha, pabangsi, partapuka, parbwang turun dipanglapuan
Singhamandawa di bulan besksha, hari pasaran Wijaya manggala”

Jika diterjemahkan bisa menjadi seperti dibawah ini:


“Juru tabuh benyi-bunyian penari, biduan, juru gepek, juru rebad, tapel-
topeng, wayang, di buat oleh pegawai di Singhamandawa bulan ke X yaitu
pada pemerintahan raja Ugrasena di Bali.”

Dalam perkembangan-perkembangan sejarah di mana sejak abad ke VIII


sampai pada abad ke XVIII adanya kontak antara Jawa dan Bali yang
menyebabkan terbawanya banyak barang-barang kesenian, khususnya
gamelan, kendatipun berupa instrument yang terpisah. Bentuk gamelan
yang di buat dari besi. Dan bergai jenis-jenis Gong yang ada di Bali
merupakan instrument kebudayaan Asia Tenggara yang tergolong
kebudayaan Melayu Kuna. (Bandem I Made, 1986)

Berarti gamelan yang ada di Bali sudah ada sejak jaman dulu, karena dengan
bukti adanya prastasti Bebetin yang berangka tahun 896 Masehi. Gamelan
Bali dipengaruhi pula oleh kebudayaan dari Jawa, berarti gamelan yang ada
di Bali ini tidak murni dari Bali saja, namun sudah adannya instrument-
instrumen gamelan dari Jawa, gamelan di Bali dengan di Jawa hampir mirip
karena dipengaruhi oleh faktor tersebut, hanya saja nada yang di lantunkan
berdeda-beda bila di cermati Gamelan di Bali lebih cepat di Bandingkan
Gamelan yang ada di Jawa.