Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

UJI TOKSISITAS

OLEH :

RYAN STEVANO TANTOLU

17.01.439

TRANSFER D 2107

PROGRAM STRATA SATU FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR

2018
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pada hakikatnya, setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat
bekerja sebagai racun dan merusak organisme (“Sola dosis facit
venenum” : Hanya dosislah yang membuat suatu zat racun, Paracelsus
(1541-1493 SM)). Ini berarti, adanya suatu zat racun potensial, di dalam
suatu organisme belum tentu menimbulkan keracunan”. Hampir dalam tiap
individu dapat terdeteksi adanya jumlah tertentu timbal, air raksa, dan lain-
lain, akan tetapi zat ini tidak menimbulkan gejala keracunan, selama
jumlah yang diterima masih dibawah konsentrasi toksik. Jadi, barulah
pada dosis toksik suatu zat dapat bertindak sebagai racun. Sebaliknya jika
suatu zat digunakan dalam jumlah amat besar, maka pada umumnya tiap
zat beracun, bahkan air sekalipun. Karena itu pembuktian adanya
konsentrasi toksik mempunyai arti yang penting.

Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai


sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji coba secara klinik
pada manusia. Peranan hewan percobaan dalam kegiatan penelitian
ilmiah ini telah berjalan sejak puluhan tahun yang lalu.

Uji praklinik merupakan persyaratan uji untuk calon obat. Dari uji ini
diperoleh informasi tentang efikasi (efek farmakologi), profil farmakokinetik
dan toksisitas calon obat. Pada mulanya yang dilakukan pada uji praklinik
adalah pengujian ikatan obat pada reseptor dengan kultur sel terisolasi
atau organ terisolasi, selanjutnya dipandang perlu menguji pada hewan
utuh karena hanya dengan menggunakan hewan utuh dapat diketahui
apakah obat menimbulkan efek toksik pada dosis pengobatan atau aman.
I.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari uji toksisitas?

2. Apa saja uji toksisitas pada hewan coba?

I.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari uji toksisitas

2. Untuk mengetahui jenis-jenis uji toksisitas pada hewan coba


BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Uji Toksisitas

Toksikologi merupakan pengetahuan tentang efek racun dari obat


terhadap tubuh sedangkan toksisitas adalah efek berbahaya dari suatu
obat pada organ target. Tahap dalam pengujian toksisitas obat meliputi :

a. Uji farmakokinetik, diperoleh melalui nasib obat dalam tubuh yang


menyangkut absorpsi, distribusi, deristribusi, biotransformasi, dan ekskresi
obat.

b. Uji farmakodinamik, yaitu efek yang terjadi terhadap semua organ


dalam tubuh yangsehat.

c. Menilai keamanan zat, ditetapkan suatu batas keamanan yang disebut


Acceptable Daily Intake yang dinyatakan dalam mg/kgBB/hari.

Setiap zat kimia pada dasarnya racun dan terjadinya keracunan


ditentukan olehregimen dosis. Uji toksisitas tidak hanya untuk mengetahui
terpaparnya suatu objek yang diteliti, tetapi lebih dari itu untuk mengetahui
batas keamanan suatu obat .

II.2 Jenis – Jenis Uji Toksisitas

II.2.1. Uji Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut adalah suatu pengujian untuk menetapkan


potensi toksisitas akut LD50, menilai berbagai gejala toksik, spektrum
efek toksik, dan mekanisme kematian (Depkes, 2000). Tujuan uji
toksisitas akut adalah untuk mendeteksi adanya toksisitas suatu zat,
menentukan organ sasaran dan kepekaannya, memperoleh data
bahayanya setelah pemberian suatu senyawa secara akut dan untuk
memperoleh informasi awal yang dapat digunakan untuk menetapkan
tingkat dosis yang diperlukan untuk uji toksisitas selanjutnya
(Soeksmanto, dkk. 2010)

Metode kerja uji toksisitas akut antara lain (Soeksmanto, dkk. 2010) :

1. Disiapkan 40 ekor mencit (Mus musculus) dari strain balb/c jantan


berumur sekitar 2 bulan dengan berat ± 16 g
2. Kemudian ditempatkan mencit tersebut dalam 4 buah plastic
dengan pemberian pakan dan minum secara ad libitum.
3. Kepada mencit tersebut diberikan 3 tingkatan perlakuan dosis
ekstrak yang di pakai, untuk kelompok kontrol diberikan akuades
4. Dilakukan pengamatan kerusakan pada hari ke 5, 12, 19 dan 26.

II.2.2 Uji Toksisitas Kronik

Uji toksisitas kronik pada tujuannya sama dengan uji toksisitas sub
akut, tapi pengujianini dilakukan selama 6 bulan pada hewan rodent
(pengerat) dan non-rodent (bukan hewan pengerat). Uji ini dilakukan
apabila obat itu nantinya diproyeksikan akan digunakan dalam jangka
waktu yang ckup panjang (Murtini, 2007)

Adapun metode kerja uji toksisitas kronik adalah sebagai berikut


(Wahyuningsihm, dkk. 2016) :

1. Digunakan 25 ekor mencit betina dewasa strain Balb/C, berumur 8-


10 minggu dengan berat badan berkisar 25-30 gr.
2. Hewan coba dikelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 5
replikasi.
3. Kemudian hewan coba diberikan polisakarida krestin dari ekstrak
yang digunakan selama 4 bulan secara oral dengan perbedaan
dosis.
4. Setelah perlakukan selesai, hewan coba dibedah untuk diambil
organ ginjalnya
5. Dibuat ginjal dengan sediaan histologi dengan metode paraffin
6. Diambil darah secara intracardiac untuk dilakukan isolasi secara
serum.
7. Kemudian serum diukur kadar kreatinin dengan menggunakan
metode Jaffe reaction.
8. Sediaan ginjal diamati daerah korteks dengan menggunakan
mikroskop dengan perbesaran 400x.
9. Pengamatan Histologi ginjal dilakukan dengan menghitung jumlah
sel tubulus yang normal atau tidak normal (mengalami
pembengkakan dan nekrosis)

II.2.3 Uji Toksisitas Subkronik

Uji toksisitas subkronis adalah uji ketoksikan suatu senyawa yang


diberikan dengan dosis berulang pada hewan uji tertentu, selama 1
sampai 3 bulan. Pada uji toksisitas subkronik yang diperhatikan
adalah pengamatan pada fungsi organ seperti hati dan ginjal setelah
pemberian selama 60 hari (Huang, et all. 2010)

Metode kerja dari uji toksisitas subkronik antara lain (Wahyuni, dkk.
2017) :

1. Digunakan hewan coba mencit putih jantan yang berumur 2-3 bulan
dengan berat badan 20-30 gram sebanyak 25 ekor.
2. Hewan coba dibagi kedalam 4 kelompok yang terdiri dari 3
kelompok uji dan 1 kelompok kontrol.
3. Digunakan dosis sesuai dengan penelitian sebelumnya
4. Sediaan uji diberikan secara oral dengan frekuensi pemberian 1 kali
sehari selama 60 hari
5. Kemudian di cek kreatinin serum, SGPT dilakukan pada hari ke-31
dan ke-61 serta diambil organ hati dan ginjal untuk menentukan
rasio berat organ.
II.2.4 Uji Toksisitas Khusus
Uji toksisitas khusus terbagi menjadi tiga antara lain Uji teratogenik,
uji mutagenik dan uji karsiogenik (Priyanto, 2009).
Uji teratogenik adalah suatu pengujian untuk memperoleh informasi
adanya abnormalitas fetus yang terjadi karena pemberian suatu zat
dalam masa perkembangan embrio (Priyanto, 2009). Prinsip
pengujian ini senyawa uji dalam beberapa tingkat dosis diberikan
kepada beberapa kelompok hewan hamil selama paling sedikit masa
organogenesis dari kehamilan, satu dosis untuk satu kelompok.
Sesaat sebelum waktu melahirkan, uterus diambil dan dilakukan
evaluasi terhadap fetus (OECD, 2008).
Adapun metode kerja dari uji keratogenik antara lain (Ifora, dkk. 2015):
1. Dipilih hewan uji mencit putih betina sebanyak 20 ekor dan 4 ekor
mencit putih jantan dan dibagi menjadi 4 kelompok percobaan’
2. Pada masa estrus hewan dikawinkan dengan perbandingan jantan
dan betina 1: 5. Mencit jantan dimasukkan kekandang mencit
betina pada pukul empat sore dan dipisahkan lagi besok paginya.
Pada pagi harinya dilakukan pemeriksaan sumbat vagina. Sumbat
vagina menandakan mencit telah mengalami kopulasi dan berada
hari kehamilan ke-0. Mencit yang telah hamil dipisahkan dan yang
belum kawin dicampur kembali dengan mencit jantan
3. Sediaan uji diberikan dengan jarumsonde secara peroral selama 10
hari berturut-turut mulai hari ke-6 sampai hari ke-15 kehamilan,
tanpa mempuasakan hewan. Laparaktomi dilakukan pada hari ke-
18 kehamilan. Mencit dibunuh dengan cara dislokasi leher,
kemudian lakukan laparaktomi untuk mengeluarkan fetus mencit,
amati apakah terdapat tapak resorpsi, jumlah fetus, fetus yang
masih hidup dan fetus yang telah mati. Setelah itu fetus dikeringkan
dengan tisu, berat masing – masing fetus ditimbang untuk
mengetahui berat rata–rata kelahiran
4. Kemudian sebagian fetus direndam dengan larutan Bouin’s amati
ada tidaknya kelainan secara visual misalnya ekor, daun telinga,
kelopak mata, jumlah jari kaki depan dan belakang, sisanya
direndam dengan larutan alizarin merah digunakan untuk mewarnai
skeletal dan pertulangan mencit, amati ada tidaknya kelainan
tulang.
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas


adalah :

1. Uji toksisitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui terpaparnya


suatu objek yang diteliti dan mengetahui batas keamanan suatu obat

2. Uji toksisitas pada hewan coba antara lain : Uji toksisitas akut, uji
toksisistas kronik, uji toksisitas subkronik dan uji toksisitas khusus.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2000. Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional,

DitJen POM. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional : Jakarta

Soeksmanto, dkk. 2010. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Air Tanaman Sarang

Semut (Myrmecodia pendans) Terhadap Histologi Organ Hati

Mencit. Jurnal Natur Indonesia.

Murtini, J. T., Priyanto, N., dan Siregar, S. T., 2007, Toksisitas Subkronik

Alginat pada Histopatologi Hati, Ginjal, dan Lambung Mencit, Jurnal

Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 5 (2).

Wahyuningsih, S.P., dkk. 2016. Toksisitas Kronis Polisakarida Krestin dari

Ekstrak Coriolus Versicolor pada Histologi Ginjal dan Kadar

Kreatinin Serum Mus Musculus L. Prosiding Seminar Nasional from

Basic Science to Comprehensive Education : Makassar

Huang, K. T., Tseng, C. C., Fang, W. F., & Lin, M. C. (2010). An early

predictor of the outcome of patients with ventilatorassociated

pneumonia. Chang Gung Med J, 33(3), 274-282.

Wahyuni, F.S., dkk. 2017. Uji Toksisitas Subkronis Fraksi Etil Asetat Kulit

Buah Asam Kandis (Garcinia cowa Roxb.) terhadap Fungsi Hati

dan Ginjal Mencit Putih Betina. Jurnal Sains dan Farmasi Klinis :

Sumater Barat

Priyanto. (2009). Farmakoterapi dan Terminologi Medis. Lembaga Studi

dan Konsultasi Farmakologi, Jawa Barat.

Ifora, Suhatri, Suzie Yolanda. 2015. Uji Efek Teratogen Ekstrak Etanol

Daun Sirsak (Annona Muricata L) Terhadap Fetus Mencit Putih.

Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi : Padang

Anda mungkin juga menyukai