Anda di halaman 1dari 10

I.

JUDUL PERCOBAAN : PERMANGANOMETRI

II. PRINSIP PERCOBAAN : Reaksi reduksi dan oksidasi (redoks).

III. MAKSUD DAN TUJUAN :


a. Praktikan memahami konsep dasar reaksi oksidasi dan reduksi.
b. Untuk mengetahui konsentrasi larutan sampel secara oksidimetri.

IV. REAKSI PERCOBAAN :


2 KMnO4 + 3 H2SO4 + 5 (COOH)2  2 MnSO4 + K2SO4 + 8 H2O + 10 CO2

V. LANDASAN TEORI :

Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh


Kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi
yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah
dikenal lebih dari seratus tahun, kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas
alat yang dapat dioksidasi seperti Fe2+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan
sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak
langsung dengan permanganometri seperti:

a. Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (II) yang dapat diendapkan sebagai oksalat.
Setelah endapan disaring dan dicuci dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga
terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah akhirnya dititrasi dan
hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.
b. Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring,
dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO 4 berlebih.
Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan
banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4.

Zat organik dapat dioksidasi dengan KMnO4 dalam suasana asam dengan
pemanasan. Sisa KMnO4 direduksi dengan asam oksalat berlebih. Kelebihan asam
oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4. Metode permanganometri didasarkan pada
reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam,
netral dan alkalis.

MnO4- + 8 H+ + 5e → Mn2+ + 4 H2O

Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, jadi titrasi


permanganometri ini tidak memerlukan indikator, dan umumnya titrasi dilakukan dalam
suasana asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. Namun
ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis
contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat. Reaksi dalam suasana netral
yaitu :

MnO4- + 4H+ + 3e → MnO2 + 2 H2O


1
Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan
netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan
jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya
proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru
saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu/dua
jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol
kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.

Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan


pereaksi ini, tapi beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah
katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi
permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan
dalam penggunaan reagen ini. Sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur
pengoksida yang cukup kuat untuk mengoksidasi Mn(II) menjadi MnO 2 sesuai dengan
persamaan

3 Mn2+ + 2 MnO4- + 2 H2O → 5 MnO2 + 4 H+

Kelebihan titrasi permanganometri adalah Titrasi permanganometri ini lebih


mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak memerlukan indikator, hal ini
dikarenakan larutan KMnO4 sudah berfungsi sebagai indikator, yaitu ion MnO4-
berwarna ungu, setelah diredukdsi menjadi ion Mn- tidak berwarna, dan disebut juga
sebagai autoindikator.

Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada:

- Larutan pentiter KMnO4 pada buret. Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang
lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO 2
sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang
seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa.

- Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara
MnO4- dengan Mn2+.

MnO4- + 3 Mn2+ + 2 H2O ↔ 5 MnO2 + 4 H+.

- Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 yang telah
ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat
karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air.

H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2 CO2↑


H2O2 ↔ H2O + O2↑

2
Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO 4 yang diperlukan untuk
titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang
dilaksanakan. Dalam bidang industri, metode titrasi permanganometri dapat
dimanfaatkan dalam pengolahan air, dimana secara permanganometri dapat diketahui
kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi reduksi yang dimilikinya, sehingga dapat
dipisahkan apabila tidak diperlukan atau berbahaya.

Berikut ini merupakan syarat penentuan kuantitatif cara redoks :

1. Zat yang akan dititrasi harus berada pada tingkat oksidasi tertentu. Contoh garam Fe
(III) diubah/direduksi menjadi Fe (II) dengan logam Seng.
2. Reaksi redoks harus kuantitatif.
3. Untuk titrasi langsung, proses reaksi harus berlangsung cepat. Dibandingkan reaksi
asam basa, reaksi redoks relatif lambat bahkan ada yang sangat lambat. Titrasi tidak
langsung menjadi alternatif, yaitu dengan menambahkan oksidator berlebih dan
reaksi dibiarkan sempurna. Selanjutnya kelebihan oksidator tersebut dititrasi kembali
dengan standar reduktor yang dapat bereaksi cepat.
4. Harus ada cara yang tepat untuk mendeteksi titik akhir, misalnya dengan
menggunakan indikator atau secara potensiometrik. Cara perhitungan yang
direkomendasikan oleh IUPAC adalah berdasarkan molaritas, milimol, dan masa
rumus, tetapi dalam keperluan praktis banyak juga dilakukan berdasarkan normalitas.
Perhitungan dengan cara normalitas, tidak lepas daripada ketentuan berat ekivalen
(BE).

Indikator yang dapat digunakan pada titrasi redoks adalah :

1. Auto/endo-indikator : Indikator jenis ini menggunakan sifat khususnya yang


berwarna dan warnanya dapat berubah bila direaksikan dengan zat lain. Contoh :
a. KMnO4 berwarna ungu, bila direduksikan berubah menjadi ion Mn 2+ yang tidak
berwarna.
b. Larutan Iodium berwarna kuning coklat. Titik akhir titrasi dapat dikenali dari
bentuknya atau hilangnya warna kuning.
c. K2Cr2O7 berwarna kuning jingga, bila direduksi berubah menjadi Cr2+ yang
berwarna hijau.

2. Indikator Redoks : Indikator yang memiliki perbedaan warna antara dalam bentuk
oksidasinya dan dalam bentuk reduksinya, contoh :
a. Diphenil amina dan Diphenil Benzidine : Indikator ini sukar larut dalam air, pada
pemakaiannya digunakan H2SO4. Dalam bentuk reduksinya indikator ini tidak
memberikan warna, sedangkan dalam bentuk oksidasinya memberikan warna
biru.
b. Ion Ferrophenantrolin : C12H8N2 larut dalam larutan garam ferro membentuk
Fe(C12H8N2)22+ yang berwarna merah. Dengan adanya oksidator kuat, ion Fe2+
berubah menjadi ion Fe3+ yang berwarna biru.

3
Aplikasi Permanganometri

Sistem Pengolahan Air Asin

Alat pengolah air asin ada banyak macamnya. Selama ini untuk mengolah air asin
dikenal dengan cara destilasi, pertukaran ion, elektrodialisis, dan osmosis balik. Masing-
masing teknologi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologi
pengolahan air asin harus disesuaikan dengan konsidi air baku, biaya yang tersedia,
kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai air. Di antara berbagai macam
teknologi tersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan osmosis balik.
Teknologi destilasi umumnya banyak dipakai ditempat yang mempunyai energi
terbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapat menghemat
biaya operasi dan skala produksinya besar (>500 m3/hari). Sedangkan teknologi osmosis
balik banyak dipakai dalam skala yang lebih kecil. Keunggulan teknologi membran
osmosis balik adalah kecepatannya dalam memproduksi air, karena menggunakan
tenaga pompa. Kelemahannya adalah penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri
dan kerak kapur atau posfat yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk
mengatasi kelemahannya pada unit pengolah air osmosa balik selalu dilengkapi dengan
unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri. Sistem membran reverse yang
dipakai dapat berupa membran hollow fibre, lempeng/plate atau berupa spiral wound.
Membran ini mampu menurunkan kadar garam hingga 95-98%. Air hasil olahan sudah
bebas dari bakteri dan dapat langsung diminum.

Teknologi pengolahan air asin sistem osmosis balik banyak dipakai di banyak
negara seperti Amerika, Jepang, Jerman dan Arab. Teknologi ini banyak dipakai untuk
memasok kebutuhan air tawar bagi kota-kota tepi pantai yang langka sumber air
tawarnya. Pemakai lain adalah kapal laut, industri farmasi, industri elektronika, dan
rumah sakit.

Pada proses dengan membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada
proses penyaringan dengan skala molekul. Di dalam proses desalinasi air laut dengan
sistem osmosis balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air
lautnya, karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi sekali. Pada prakteknya
untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke
dalam suatu modul membran osmosis balik yang mempunyai dua buah pipa keluaran,
yakni pipa keluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam
yang telah dipekatkan.

Di dalam membran osmosis balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan


ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air,
misalnya molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akan ikut ke dalam air buangan.
Oleh karena itu air yang akan masuk ke dalam membran osmosis balik harus
mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus < 0,1
mg/l, pH harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya.

4
KALIUM PERMANGANAT
Kalium permanganat adalah suatu senyawa kimia anorganik dan obat-obatan. Sebagai
obat senyawa ini digunakan untuk membersihkan luka dan dermatitis.
Senyawa ini memiliki rumus kimia KMnO4 dan merupakan garam yang mengandung ion K+
dan MnO4-. Senyawa ini merupakan agen pengoksidasi kuat. Ia larut dalam air menghasilkan
larutan berwarna merah muda atau ungu yang intens, penguapan larutan ini meinggalkan
kristal prismatik berwarna keunguan-hitam. Di tahun 2000, produksi di seluruh dunia
diperkirakan mencapai 30,000 ton. Dalam senyawa ini, mangan memiliki bilangan oksidasi
+7.
Senyawa ini termasuk dalam Model Daftar Obat Esensial WHO, obat yang paling penting
dibutuhkan dalam sistem kesehatan dasar. Biaya grosir di dunia berkembang adalah sekitar
0.01 USD per g. Di Britania Raya jumlah tersebut membiayai NHS sekitar 1.33 pounds.
Struktur
KMnO4 membentuk kristal ortorombik dengan konstanta: a = 910.5 pm, b = 572.0 pm, c =
742.5 pm. Motif keseluruhan hampir serupa dengan barium sulfat, yang karenanya
membentuk larutan padat. Dalam padatan (seperti pada larutan), masing-masing pusat MnO4−
adalah tetrahedral. Jarak Mn–O adalah 1.62 Å.
Preparasi
Kalium permanganat diproduksi secara industri dari mangan dioksida, yang juga hadir
sebagai mineral pirolusit. MnO2 melebur dengan kalium hidroksida dan dipanaskan dalam
udara atau dengan sumber lain dari oksigen, seperti kalium nitrat atau kalium klorat. Tahapan
ini menghasilkan kalium manganat:
2 MnO2 + 4 KOH + O2 → 2 K2MnO4 + 2 H2O
(Dengan natrium hidroksida, produk akhir bukanlah natrium manganat tapi senyawa Mn(V),
yang merupakan salah satu alasan kalium permanganat lebih sering digunakan daripada
natrium permanganat. Lebih jauh, garam kalium mengkristal lebih baik.)
Kalium manganat kemudian diubah menjadi permanganat melalui oksidasi elektrolit dalam
media basa:
2 K2MnO4 + 2 H2O → 2 KMnO4 + 2 KOH + H2
Metode lain
Walaupun tidak penting secara komersil, kalium manganat dapat dioksidasi melalui klorin
atau dengan disproporsionasi di bawah kondisi asam. Reaksi oksidasi klorin adalah
2 K2MnO4 + Cl2 → 2 KMnO4 + 2 KCl
Dan reaksi disproporsionasi yang diinduksi-asam dapat ditulis sebagai
3 K2MnO4 + 4 HCl → 2 KMnO4 + MnO2 + 2 H2O + 4 KCl
Suatu asam lemah seperti asam karbonat cukup untuk reaksi ini:
3 K2MnO4 + 2 CO2 → 2 KMnO4 + 2 K2CO3 + MnO2

5
Kalium permanganat mengkristal dari larutan reaksi pekat.
Garam permanganat juga dapat dihasilkan dengan memperlakukan larutan ion Mn2+ dengan
oksidan kuat seperti timbal dioksida (PbO2), natrium bismutat (NaBiO3), atau peroksidisulfat.
Pengujian untuk kehadiran mangan memanfaatkan warna lembayung jelas dari permanganat
yang dihasilkan oleh pereaksi tersebut.
Penggunaan
Hampir semua aplikasi kalium permanganat memanfaatkan sifat mengoksidasinya. Sebagai
oksidan kuat yang tidak menghasilkan produk samping yang beracun, KMnO 4 memiliki
banyak kegunaan.
Antiseptik
Sebagai oksidan, kalium permanganat dapat bertindak sebagai antiseptik. Misalnya, larutan
encer senyawa ini digunakan untuk mengobati sariawan (radang), desinfektan untuk tangan
dan pengobatan untuk pomfoliks, dermatitis, dan infeksi jamur pada tangan atau kaki yang
sifatnya ringan.
Pengolahan air
Kalium permanganat digunakan secara luas dalam industri pengolahan air. Hal ini digunakan
sebagai bahan kimia regenerasi untuk menghilangkan besi dan hidrogen sulfida (bau telur
busuk) dari air sumur melalui Filter "Manganese Greensand". "Pot-Perm" juga dapat
diperoleh di toko peralatan kolam dan digunakan sebagai tambahan untuk menangani air
limbah. Dalam sejarahnya ia digunakan untuk mensterilkan air minum. Saat ini senyawa ini
menemukan penerapannya dalam pengendalian organisme pengganggu seperti kerang zebra
dalam pengumpulan dan pengolahan sistem air tawar.
Sintesis senyawa organik
Selain penggunaannya dalam pengolahan air, aplikasi utama lainnya dari KMnO4 adalah
sebagai pereaksi untuk sintesis senyawa organik. Jumlah yang signifikan diperlukan untuk
sintesis asam askorbat, kloramfenikol, sakarin, asam isonikotinat, dan asam pirazinoat.

Penggunaan analisis
Kalium permanganat dapat digunakan untuk secara kuantitatif menentukan bahan organik
keseluruhan yang dapat teroksidasi dalam sampel air. Nilai yang telah ditentukan dikenal
sebagai nilai permanganat. Dalam kimia analitik, larutan standar dari KMnO4 terkadang
digunakan sebagai titran pengoksidasi untuk titrasi redoks (Permanganometri). Dalam cara

6
yang terkait, ia digunakan sebagai pereaksi untuk menentukan bilangan Kappa dari pulp kayu.
Untuk standarisasi larutan KMnO4, reduksi dengan asam oksalat sering digunakan.[17]
Larutan asam berair dari KMnO4 digunakan untuk mengumpulkan gas merkuri dalam gas
buang selama uji emisi sumber stasioner.
Dalam histologi, kalium permanganat digunakan sebagai agen pemutih.
Penggunaan lain
Kalium permanganat merupakan salah satu bahan kimia utama yang digunakan dalam film
dan televisi industri untuk membuat kostum dan properti yang digunakan menjadi "berumur".
Konversinya yang mudah menjadi MnO2 berwarna cokelat membuat tampilan "kuno" atau
"seratus tahun" pada kain goni, tali, kayu, dan kaca.
Kalium permanganat telah digunakan dalam upaya untuk menginduksi aborsi di rumah.
Insiden ini hanya mengakibatkan kerusakan vagina dari tindakan korosif bahan kimia
tersebut, karena kalium permanganat terbukti tidak efektif dalam menghasilkan aborsi. FDA
meningkatkan pembatasan hukum tentang bahan kimia tersebut dalam menanggapi
penggunaannya sebagai abortifasien.
Keamanan dan penanganan
Sebagai oksidator yang menghasilkan produk cokelat gelap MnO2, kalium permanganat
dengan cepat mengotori hampir semua bahan organik seperti kulit, kertas, dan pakaian.
Padatan KMnO4 adalah oksidator kuat, sehingga harus disimpan terpisah dari bahan yang
dapat teroksidasi seperti kulit, kertas, dan pakaian. Reaksi dengan asam sulfat pekat
menghasilkan mangan(VII) oksida (Mn2O7) yang sangat eksplosif. Ketika dalam bentuk
padat, KMnO4 dicampurkan dengan gliserol murni atau alkohol sederhana lainnya akan
menghasilkan reaksi pembakaran yang sangat keras.
3 C3H5(OH)3 + 14 KMnO4 → 14 MnO2 + 7 K2CO3 + 2 CO2 + 12 H2O

VI. ALAT DAN BAHAN :

A. ALAT B. BAHAN
1. Neraca atau timbangan 1. Padatan Asam Oksalat
2. Buret (jika ada buret gelap) [(COOH)2.2H2O]
3. Bulb 2. Larutan KMnO4
4. Labu ukur 3. Larutan H2SO4 2 N
5. Corong 4. Kertas karbon (jika ada buret
6. Erlenmeyer gelap, ini tidak diperlukan)
7. Labu Semprot 5. Air suling
8. Statif + klem
9. Pipet ukur
10. Termometer
VII. PROSEDUR KERJA
Penetapan Konsentrasi KMnO4 dengan Bahan Baku Primer Asam Oksalat
1. Buat 100 mL larutan baku primer Asam Oksalat.
2. Pipet 10 mL larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer.
3. Tambahkan 10 mL larutan H2SO4 2 N.
4. Kemudian larutan tersebut dipanaskan hingga ±75°C.
7
5. Larutan segera dititar dengan KMnO4 di dalam buret sampai titik akhir (perubahan
warna ungu menjadi merah muda seulas).
6. Lakukan titrasi sebanyak 3×.

VIII. DATA PENGAMATAN


Standardisasi KMnO4 dengan Baku Primer Asam Oksalat
Volume (COOH)2 = 10 mL
Normalitas (COOH)2 = 0,1 N

Pengerjaan Volume KMnO4 (mL) Normalitas KMnO4 (N)


Simplo 10,70 0,0934
Duplo 10,70 0,0934
Triplo 10,60 0,0943
Rata-Rata 10,67 0,0937

IX. PERHITUNGAN
Menentukan berat (COOH)2 :
eq g
G = L × N × BE = 0,25 L × 0,1 × 63 eq = 1,575 gram (COOH)2
L
Menentukan konsentrasi KMnO4 :
V KMnO4 . N KMnO4 = V (COOH)2 . N (COOH)2
1. V KMnO4 . N KMnO4 = V (COOH)2 . N (COOH)2
10,70 mL . N KMnO4 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N KMnO 4 
10,70 mL
N KMnO4 = 0,0934 N

2. V KMnO4 . N KMnO4 = V (COOH)2 . N (COOH)2


10,70 mL . N KMnO4 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N KMnO 4 
10,70 mL
N KMnO4 = 0,0934 N

3. V KMnO4 . N KMnO4 = V (COOH)2 . N (COOH)2


10,60 mL . N KMnO4 = 10 mL . 0,1 N
10 mL . 0,1 N
N KMnO 4 
10,60 mL
N KMnO4 = 0,0943 N

(10,70  10,70  10,60) mL


 Volume KMnO 4   10,67 mL
3
(0,0934  0,0934  0,0943) N
 N KMnO 4   0,0937 N
3
X. PEMBAHASAN

Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh


Kalium Permanganometri (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan

8
reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan larutan baku primer yaitu asam oksalat
((COOH)2.2H2O). Pada percobaan ini antara KMnO4 direduksi oleh asam oksalat dan
KMnO4 mengoksidasi zat organik dalam air. Dalam percobaan ini, sebagai pengasam
digunakan larutan H2SO4 encer. Karena ion MnO4- akan tereduksi menjadi Mn2+ dalam
suasana asam oleh reaksi dengan atom H. Selain itu, asam sulfat cukup baik karena
tidak bereaksi dengan permanganat. Dalam titrasi permanganometri, indikator karena
perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda menunjukkan titik akhir
suatu titrasi warna yang diperoleh dalam keadaan tetap, artinya saat melakukan
pengadukan, warna merah muda yang muncul tidak hilang, hal ini menunjukkan pada
titik kestabilan.

Pada langkah awal disiapkan larutan (COOH)2.2H2O 0,1 N sebanyak 250 mL.
Kemudian dipipet menggunakan pipet volume sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke
dalam labu erlenmeyer. Setelah itu masukkan larutan H 2SO4 2 N sebanyak 10 mL.
Kemudian dipanaskan dengan suhu ±75°C, dititrasi dengan KMnO4 yang berada dalam
buret. Titrasi sampai perubahan warna merah muda seulas. Catatlah perubahan volume
KMnO4 dan lakukan percobaan sebanyak 3 kali. Pada percobaan pertama dan kedua
volume larutan KMnO4 yang dihabiskan untuk titrasi sebanyak 10,70 mL dan pada
percobaan ketiga volume larutan KMnO4 10,60 mL. Jadi jumlah rata-rata volume
larutan KMnO4 yang dihabiskan adalah 10,67 mL. Telah diketahui volume rata-rata
KMnO4 10,67 mL, volume ((COOH)2. 2H2O) 0.1 N sebanyak 10 ml. Kemudian
masukkan ke dalam rumus : V1N1 = V2N2 dari hasil perhitungan tersebut didapatkan
hasil normalitas KMnO4 yaitu 0.0937 N.

XI. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, maka didapatkan konsentrasi KMnO4 ialah
0,0937 N.

XII. TUGAS
1. Apakah titrasi permanganometri harus menggunakan buret berwarna gelap?
Jelaskan!
 Sebisa mungkin, ya, menggunakan buret berwarna gelap. Sebab larutan penitar
yang digunakan adalah larutan baku KMnO4 yang mana jika menggunaka buret
yang tidak berwarna akan menyebabkan terurainya KMnO 4 menjadi MnO2 jika
terkena sinar matahari. Sehingga menyebabkan diperolehnya presipitat coklat
yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa.

2. Mengapa permanganometri disebut auto-indikator?


 Dalam titrasi permanganometri tidak diperlukan indikator karena Kalium
Permanganat (KMnO4) sendiri yang berwarna ungun selain merupakan larutan
standar juga dapat berfungsi sebagai indikator yang mana akan berubah warna
jika direaksikan dengan zat lain.

3. Sebutkan standar baku primer dan sekunder yang digunakan dalam titrasi
permanganometri dan indikator apa yang digunakan?

9
 Standar baku primer : Arsentrioksida (As2O3), Natrium Oksalat (Na2C2O4), Asam
Oksalat ((COOH)2).
 Standar baku sekunder : Kalium Permanganat (KMnO4), Perak Nitrat (AgNO3),
Fero Sulfat (Fe(SO4)2).
 Indikator :
- Auto-endo redoks : KMnO4, larutan Iodium berwarna kuning coklat,
K2Cr2O7.
- Indikator redoks : Diphenil Amina dan Diphenil b\Benzidine, ion
Ferrophenantrolin.

4. Mengapa titik akhir titrasi harus lebih tinggi dari suhu 60°C dan lebih rendah dari
suhu 80°C?

 Suhu diatas 60oC : Karena jika suhu larutan terlalu bawah 60°C-70°C maka
reaksi akan berjalan lambat dan akan mengubah MnO4- menjadi MnO2 yang
berupa endapan cokelat sehingga titik akhir titrasi susah untuk dilihat.

 Suhu dibawah 80oC : Karena jika suhu larutan di atas 60°C-70°C maka akan
merusak asam oksalat, dan terurai menjadi CO2 dan H2O sehingga hasil akhir
akan lebih kecil.

5. Apakah fungsi penambahan H2SO4 pada titrasi permanganometri?


 Untuk menciptakan suasana asam agar tidak terjadi reaksi samping.

XIII. DAFTAR PUSTAKA


- https://id.wikipedia.org/wiki/Kalium_permanganat
- https://www.slideshare.net/ridhafaturachmi/permanganometri-45945555

10