Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 4
PENATALAKSANAAN GANGGUAN/ KELAINAN TMJ

Dosen pembimbing :
drg. Dwi Merry Ch. R., M.Kes.
Oleh :
Kelompok Tutorial G
1. Samahi Arrahma (161610101061)
2. Novia Dwi Yanti (161610101062)
3. Ulfa Mayasari (161610101063)
4. Dina Zakiyatul Ummah (161610101064)
5. Shobrina Wahyuni (161610101065)
6. Lutfi Meiga Sari (161610101066)
7. Qonita Nafilah Febi (161610101067)
8. Dhesyarmani Putri R. (161610101068)
9. Khoirul Amalia (161610101069)
10. Innanisa Nur Azmi H. (161610101070)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
Tahun Ajaran 2018/2019
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor : drg. Dwi Merry Ch. R., M.Kes.


Ketua : Khoirul Amalia (161610101069)
Scriber : Shobrina Wahyuni (161610101065)

Anggota :
1. Samahi Arrahma (161610101061)
2. Novia Dwi Yanti (161610101062)
3. Ulfa Mayasari (161610101063)
4. Dina Zakiyatul Ummah (161610101064)
5. Lutfi Meiga Sari (161610101066)
6. Qonita Nafilah Febi (161610101067)
7. Dhesyarmani Putri R. (161610101068)
8. Innanisa Nur Azmi H. (161610101070)

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan tutorial dengan judul
PENATALAKSANAAN GANGGUAN/ KELAINAN TMJ. Laporan ini
disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok G pada skenario keempat
Blok Perawatan Penyakit dan Kelainan Gigi.
Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena
itu penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. drg. Dwi Merry Ch. R., M.Kes., selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok G, dan telah memberi masukan yang
membantu bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk
perbaikan–perbaikan demi kesempurnaan laporan ini dan masa mendatang.
Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 5 November 2018

Tim Penyusun

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..............................................................................................1


DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK ....................................................................2
KATA PENGANTAR ............................................................................................3
DAFTAR IS ............................................................................................................4
SKENARIO 4 PENATALAKSANAAN GANGGUAN/ KELAINAN TMJ.........5
STEP 1 KLARIFIKASI ISTILAH...........................................................................6
STEP 2 RUMUSAN MASALAH............................................................................7
STEP 3 BRAINSTORMING...................................................................................8
STEP 4 MAPPING................................................................................................13
STEP 5 LEARNING OBJECTIVE........................................................................14
STEP 7 REPORTING GENERALISATION ........................................................15
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................27

4
SKENARIO 4

(Penatalaksanaan Gangguan/ Kelainan TMJ)

Pasien laki-laki usia 65 tahun datang ke RSGM UNEJ dengan keluhan rahang
tidak bisa dipakai untuk menutup mulut. Istri penderita menceritakan bahwa
kejadian ini berlangsung sejak pagi hari saat penderita baru bangun tidur dan
menguap. Kesulitan membuka mulut penderita sebenarnya sering terjadi dan
berulang terutama saat membuka mulut terlalu lebar maupun tertawa.
Pemeriksaan klinis terlihat mulut terbuka dengan jarak antar insisal 1 cm,
maloklusi bilateral, tidak bisa menutup mulut, palpasi di periaurikula kanan dan
kiri sakit serta ada spasme otot.

5
STEP 1

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Gangguan TMJ/ Temporo Mandibular Disorder (TMD)


Suatu kelainan yang terjadi pada otot mastikasi dan/atau TMJ, sehingga
akan menyebabkan gangguan pada sistem mastikasi kesulitan berbicara
dan menelan. Disebabkan adanya cedera (trauma), infeksi, kelainan
kongenital, maloklusi, TMJ (kelainan anatomi), dan stress.
2. Jarak antar insisal
Jarak vertikal dari insisal gigi anterior RA dan RB pada saat rahang
terbuka atau pada saat mengalami kelainan.
3. Palpasi
Pemeriksaan yang dilakukan oleh indra peraba yang diperiksa pada daerah
yang dapat dijangkau. Bertujuan untuk mengetahui suhu, kelembaban,
edema (konsistensi, fluktuasi), vibrasi, dan gerakan.
4. Preaurikular
Suatu daerah anatomis yang letaknya di depan aurikel (daun telinga).
5. Spasme otot
Kekejangan otot yang secara spontan dan terjadi dalam beberapa waktu.
Ditandai dengan otot-otot mengalami kontraksi dan pasien mengalami rasa
sakit yang sangat, biasanya ditangani dengan terapi jaw rest atau diberi
obat relaksasi otot. Tidak hanya terjadi pada seseorang yang memiliki
aktivitas berlebih, namun juga bisa terjadi pada aktivitas ringan yang terus
menerus.
6. Maloklusi bilateral
Suatu kelainan oklusi akibat gigi yang berjejal atau tumpang tindih pada
dua bagian. Keadaan maloklusi skeletal, RB kedepan daripada RA,
sehingga menyebabkan crossbite bilateral.

STEP 2

RUMUSAN MASALAH

6
1. Apa etiologi dari TMD?

2. Bagaimana mekanisme terjadinya kesulitan menutup mulut pada pasien?

3. Apa saja gejala klinis pada pasien TMD?

4. Apa yang menyebabkan spasme otot dan palpasi pada preaurikular terasa
sakit?

5. Bagaimana pemeriksaan yang dilakukan pada pasien TMD?

6. Apa diagnosa dan DD pada pasien?

7. Bagaimana penatalaksanaan pasien pada skenario?

8. Apa dampak TMD pada rongga mulut dan bagian tubuh yang lain?

9. Bagaimana KIE yang diberikan kepada pasien yang mengalami TMD?

STEP 3

BRAINSTORMING

7
1. Apa etiologi dari TMD?

Secara umum faktor etiologi:

a. Predisposisi

- Sistemik (reumatik) - Psikologi (stress dan


emosional)
- Struktural

b. Inisiasi

- Makrotrauma: kecelakaan, pukulan pada wajah

- Mikrotrauma: aktivitas parafungsional dari TMJ (membuka mulut


lebar, bruxism, dll)

c. Perpituasi

Kebiasaan atau tingkah laku yang sering diualang dalam keseharian.

Pada skenario, pasien memiliki kebiasaan menguap dan tertawa lebar


(faktor inisiasi dan perpituasi), sehingga dapat terjadi TMD.

2. Bagaimana mekanisme terjadinya kesulitan menutup mulut pada pasien?

Fungsi normal merupakan interfase antara prosesus condylaris dan


discus yang merupakan tempat gerak engsel yang dimungkinkan terutama
oleh perlekatan diskus pada prosesus condylaris melalui ligamen diskus.
Stabilitas tambahan dari diskus diberikan oleh gerakan resi prokal
(berbalasan) lapisan superior zona bilaminar yang melawan tarikan dari
muskulus pterigoideus lateralis superior. M.pterigoideus lateralis superior
ini bersifat pasif dan kontraksi pada penutupan paksa. Kontraksi
M.pterigoideus lateralis inferior terjadi selama pergerakan membuka mulut
dan mengakibatkan pergeseran prosesus kondilaris ke arah anterior.
Komponen prosesus kondilaris atau diskus bergerak berlawanan dengan
tonjolan fossa sebagai suatu sendi dengan pergerakan bebas atau translasi.

Dislokasi misalnya luksasi terjadi bila kapsul dan ligamen


temporomandibula mengalami gangguan sehingga memungkinkan
prosesus kondilaris untuk bergerak lebih kedepan dari eminensia
artikularis dan ke superior saat membuka mulut. Kontraksi otot dan
spasme yang terjadi selanjutnya akan mengunci prosesus kondilaris dalam
posisi ini, sehingga menyebabkan terhalangnya gerakan menutup.
Dislokasi dapat terjadi satu sisi atau dua sisi dan kadang terjadi secara
spontan bila mulut terbuka lebar, misalnya saat menguap.

8
3. Apa saja gejala klinis pada pasien TMD?

a. Sistem otot

Rasa sakit pada jaringan otot atau disfungsi pada jaringan otot

b. Sistem fungsional TMJ

- Bunyi (clicking, popping, dan krepitus)

- Kesulitan membuka dan menutup mulut

c. Gigi geligi

Mobilitas gigi yang terlihat seperti maloklusi dan pembengkakan pada


satu atau dua sisi

d. Pusing, trinitus (dengung)

4. Apa yang menyebabkan spasme otot dan palpasi pada preaurikular terasa
sakit?

9
Spasme otot (M.masseter) pada skenario merupakan suatu akibat dari
dislokasi (kelainan yang dialami pada skenario), sehingga pada saat
dilakukan palpasi mengalami rasa sakit. Adanya vasokontriksi,
menyebabkan kekurangan suplai darah dan bisa terjadi pelepasan zat-zat
bradikinin atau prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri.

5. Bagaimana pemeriksaan yang dilakukan pada pasien TMD?

a. Anamnesa

b. Ekstraoral

Inspeksi: visual  pembengkakan, deviasi

Palpasi: Perabaan

Auskultasi: Memakai stetoskop

c. Intraoral

Malposisi gigi

d. Pemeriksaan penunjang : radiografi, CT scan

6. Apa diagnosa dan DD pada pasien?

- Dislokasi kronis rekuren, karena pada pasien sering terjadi dan


berulang. Diakibatkan membuka mulut terlalu lebar dan terjadi
secara spontan. Terlepasnya kondil dari posisi normalnya.

- Dislokasi anterior, karena perpindahan kondil anterior ke artikular


eminensia. Disebabkan M.Masseter dan M.Temporalis
mengelevasi mandibula sebelum M.Pterigoideus rileks, sehingga
kondil keluar dari fossa gleinoid, disertai adanya ketegangan otot
M.Masseter, M.Pterygoideus Lateralis dan M.Temporalis.

7. Bagaimana penatalaksanaan pasien pada skenario?

a. Fisioterapi

Sebelum dilakukan fisioterapis, diberi relaxant seperti valium.


Setelah diarasa sudah tidak spasme dilakukan reposisi. Dengan cara
menempatkan kedua ibu jari dimasukkan ke dalam rongga mulut
pasien dan diletakkan di oklusal gigi RB sampai ke posterior,
kemudian dengan gerakan pelan-pelan oklusal ditekan dengan pelan-
pelan di dorong atau direposisikan ke posisi semula.

Setelah kembali normal, diberikan latihan rahang

10
- Otot pasif

Dilakukan oleh pasien itu sendiri didepan cermin

- Latihan otot dengan bantuan operator

Pasien tidak mandiri, dan diberi obat-obatan (otot relaxant)

- Latihan dengan hambatan

Menambah relaksasi otot yang berlawanan dengan kerja otot utama

- Latihan postural

Pengembalian posisi kepala dan leher supaya normal terhadap bahu

Dapat juga dilakukan dengan bantuan alat, yaitu EGS (electro


galvanin stimulation), yang berfungsi stimulasi saraf sensorik dan
motorik serta mengurangi spasme dan dapat menaikkan sirkulasi
darah. Atau juga bisa menggunakan Ultrasound, sebagai penghilang
edema, mengurangi nyeri, dan relaksasi otot.

b. Terapi oklusi

Diberi alat lepasan yang dibuat dari akrilik yang ditempatkan pada
oklusal atau insisial pada gigi geligi dalam lengkung rahang.

c. Konservatif

Aplikasi ice pack untuk merelaksasikan otot dan menghindari


membuka mulut terlalu lebar

d. Stabilisasi splint

Untuk stabilisasi tekanan oklusal, namun hendaknya dilepas apabila


semakin meningkat rasa nyerinya

e. Botox

f. Bedah ataupun implant

Pada pasien skenario cukup dilakukan reposisi atau reduksi mandibula.

8. Apa dampak TMD pada rongga mulut dan bagian tubuh yang lain?

a. Gangguan pencernaan: kekurangan nutrisi

b. Gangguan bicara

c. Pada anak, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan rahang

11
d. Nyeri kepala (pusing), leher, dada

e. Sakit pada daerah telinga

9. Bagaimana KIE yang diberikan kepada pasien yang mengalami TMD?

a. Memberikan motivasi: menjelaskan penyebab dan diharapkan dapat


memotivasi untuk sembuh. Dan untuk menghindari kelainan tersebut.

b. Edukasi: instruksi mengistirahatkan rahang

c. Mouth night guard: pada pasien yang bruxism

12
STEP 4

MAPING

ETIOLOGI

PEMERIKSAAN EO, IO,


DAN PENUNJANG

TEMPORO MANDIBULAR
DISORDER (TMD)

KOMUNIKASI INFORMASI
KLASIFIKASI PENATALAKSANAAN DAN EDUKASI (KIE)

13
STEP 5

LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa Mampu Mengkaji Etiologi TMD

2. Mahasiswa Mampu Mengkaji Klasifikasi TMD

3. Mahasiswa Mampu Mengkaji Pemeriksaan Intraoral, Ekstraoral Dan


Penunjang TMD

4. Mahasiswa Mampu Mengkaji Penatalaksanaan TMD

5. Mahasiswa Mampu Mengkaji KIE TMD

14
STEP 7

REPORTING GENERALISATION

1. Mahasiswa Mampu Mengkaji Etiologi TMD

a. Initiating factor
Merupakan faktor yang menyebabkan timbulnya kelainan tersebut.
Diantaranya (Chisnoiu et al, 2015) :
 Maloklusi
Merupakan faktor yang paling sering meyebabkan kelainan
TMJ. Beberapa penelitian mengatakan bahwa ada beberapa
maloklusi yang menunjukkan korelasi terhadap munculnya
kelainan TMJ ; 1. Posterior cross-bite, 2. Overjet/overbite lebih
dari 5 mm, 3. Relasi sentries/ maksimum intercuspal sliding
lebih dari 2 mm, 4. Gigitan edge to edge, 5. Hubungan sagital
klas III, 6. Anterior open bite.
 Perawatan orthodontic
 Bruxism
 Makrotrauma dan mikrotrauma
Makrotrauma , merupakan trauma yang disebabkan oleh gaya
yang dating tiba0tiba dan menyebabkan perubahan structural,
contohnya : kecelakaan yang mengenai rahang, Iatrogenik,
open mouth trauma, da close mouth trauma.
Mikrotrauma, merupakan trauma yang disebabkan oleh gaya
yang lebih ringan yang terjadi terus menerus atau berulang
pada struktur sendi sehingga dalam jangka waktu panjang
dapat menyebabkan timbulnya perubahan yang bersifat adaptif
dan/atau degenerative pada TMJ.
 Faktor buruknya kesehatan dan defisiensi nutrisi
 Faktor psikologis
Seperti stress, ketegangan mental, kecemasan, atau depresi
dapat menjadi penyebab maupun faktor predisposisi TMJ.

b. Predisposing Factor
Merupakan faktor yang dapat meningkatkan resiko pengebangan
kelainan TMJ. Terdiri dari proses patofisiologis, psikologis atau
structural yang mengubah system pengunyahan dan menyebabkan
peningkatan risiko TMD. Faktor predisposisi lain adalah hormonal,
beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita memiliki resiko 4 kali
lebih besar daripada laki-laki mengalami kejadian TMD. Hal ini terjadi
karena adanya reseptor estrogen pada wanita yang dapat berkontribusi
pada degenerasi homeostasis kartilago dan menginduksi aktivitas
metalloproteinase (MMP) yang dapat menurunkan makromolekul
matriks kartilago pada TMJ (Chisnoiu et al, 2015).

15
c. Perpetuating Factor
Merupakan faktor yang dapat menganggu proses penyembuhan TMD
dan meningkatkan keparahan TMD (Chisnoiu et al, 2015).
 Faktor kebiasaan buruk, seperti : bruxism, grinding, clenching.
 Faktor social, mempengaruhi respon terhadap rasa sakit.
 Faktor emosional, seperti depresi dan kecemasan
 Faktor kognitif.

2. Mahasiswa Mampu Mengkaji Klasifikasi TMD

1) Deviasi rahang karena developmental TMJ (Balaji. 2013):


 Aplasia : gangguan pada pertumbuhan kepala dan tulang
mandibula. Ini termasuk dalam grup anomali mandibula yang dikenal
dengan mikrosomia atau fist and second branckial arch syndrome.
Biasanya tidak terbentuk aryikular fossa pada penderita.
 Hipoplasia : sedikit atau tidak sempurnanya pertumbuhan tulang
yang berasal dari kongenital maupun bawaan.
 Hiperplasia: pertumbuhan yang berlebih bisa kongenital amaupun
bawaan dimana terjadi pada salah satu sisi dari mandibula (kondilus)
sehigga menyebabkan asimetri.
 Displasia: Terjadi pertumbhan jaringan ikat fibrotik pada diskus
sehingga dalam radiografi terbentuk bentukan ground glass
 Neoplasia : Bisa jinak maupun ganas, contoh yang jinak adalah
osteoma, chondroma, osteoblastoma, chondroblastoma. Contoh yang
ganas: osteosarcoma, chondrosarkoma, fibrosarkoma.
2) Disc displacement with reduction
Tidak dapat direduksi sehingga menyebabkan kondil tidak dapat
bertranslasi ke anterior sehingga akan menyebabkan pembukaan maksimal
kurang, deviasi mandibula (Balaji. 2013).

3) Disc displacement without reduction


Ketika membuka mulut, kondil bergerak dari posterior disc ke daerah
konkav yang tebal di tengah-tengah diskus. Sehingga menyebabkan
adanya bunyi kliking (Balaji. 2013).

4) Dislokasi
Suatu gangguan yang terjadi karena sendi temporomandibular
terlepasnya kondilus dari posisi normal. Klasifikasi dislokasi TMJ
antara lain (Septadina, 2015):

 Dislokasi anterior

Dislokasi Anterior terjadi karena perpindahan dari kondilus


anterior ke artikular eminensia tulang temporal. Dislokasi anterior

16
biasanya tambahan dalam urutan aksi normal otot saat mulut
menutup dari pembukaan ekstrim. Otot masseter dan otot
temporalis mengelevasi mandibula sebelum otot pterygoideus
lateralis rileks sehingga kondilus mandibula ditarik keluar dari fosa
glenoid dan anterior ke puncak tulang. Kekejangan otot masseter,
temporalis dan otot pterygoideus menyebabkan trismus dan
menahan kondilus kembali ke fossa glenoid (Septadina, 2015).

 Dislokasi Posterior

Dislokasi posterior biasanya terjadi karena adanya pukulan


langsung ke dagu. Kondilus mandibula didorong ke posterior
menuju mastoid. Cedera pada saluran pendengaran eksternal dari
puncak condylar dapat terjadi dari jenis cedera (Septadina, 2015).

 Dislokasi superior

Dislokasi superior, juga disebut dislokasi pusat, dapat terjadi dari


pukulan langsung ke mulut setengah terbuka. Sudut mandibula
dalam posisi ini menjadi kecil dan bulat ,salah satu faktoe
predeposisi adalah batas kepala kondilus migrasi ke atas kondilus.
Hal ini dapat mengakibatkan fraktur fossa glenoid dan dislokasi
kondilius mandibula ke dasar tengkorak tengah (Septadina, 2015).

 Dislokasi lateral

Dislokasi lateral biasanya berhubungan dengan fraktur mandibula.


Kasus ini bisa terjadi pada tipe I (subluksasi) atau tipe II (luksasi).
Tipe II di subklasifikasikan menjadi tiga bentuk, tergantung pada
durasi dan manajemen yang dilakukan. Kepala condylar bermigrasi
ke lateral dan superior dan sering teraba di temporal space
(Septadina, 2015).

 Dislokasi akut

Dislokasi akut datang dalam waktu 2 minggu dan itu mudah


direduksi oleh manuver Hipokrates. Setelah 2 minggu, kejang dan
pemendekan otot temporalis dan otot masseter terjadi dan
pengurangan menjadi sulit dicapai secara manual. Hal ini
menyebabkan dimulainya dislokasi berlarut-larut menjadi kronis
(Septadina, 2015).

 Dislokasi kronis rekuren

17
Pemanjangan artikular eminensia dapat mencegah
pergeseran kebelakang dalam posisi normal di fossa glenoid, dalam
hal ini, dislokasi kronis berkepanjangan dengan pembentukan
pseudojoint baru dengan berbagai derajat gerakan dan pasien
tersebut memiliki masalah dengan kesulitan dalam menutup mulut
(kunci terbuka) dan maloklusi di mana ada prognatisme mandibula
dengan gigitan anterior (Septadina, 2015).

Dislokasi kronis berulang terjadi pada orang-orang dengan


kebiasaan membuka mulut yang lebar biasanya terjadi secara
spontan dan direduksi tergantung pada tingkat perubahan
morfologi sendi temporomandibular dan struktur yang berdekatan.
Ketika artikular eminensia memanjang, dislokasi sulit untuk
direduksi. Hal ini terjadi biasanya pada pasien dengan hipoplasia
eminensia, fossa sempit, kapsul longgar, gangguan kolagen,
kondilus kecil, sindrom hipermobilitas, oromandibulardystonias
dan penggunaan obat neuroleptik tampilan polos TMJ terutama
pada transcranio-oblique, kontras CT scan, i-CAT scan dan MRI,
tomografi digital linear dan rotasi polos, artroskopi sendi berguna
untuk menilai posisi kepala kondilus dan meniskus dalam
kaitannya dengan fossa glenoid, proses mastoid, piring timpani dan
artikular eminensia (Septadina, 2015).

5) Kondisi inflamasi (Balaji. 2013):


 Sinovitis
 Capsulitis
6) Athritides:

 Osteoathrotis: keadaan yang terjadinya karena adanya suatu


tekanan ringan secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan sendi
yang tidak menimbulkan suatu gejala. Tidak ada kelainan secara
anatomi (Balaji. 2013).

 Osteoarthritis: suatu keadaan karena berlebihnya tekanan sendi


sehingga akan mengalami suatu degenerasi dan terjadi perubahan pada
tulang. Ada perubahan anatomi. Biasanya didahului diawali dengan
arthrosis (Balaji. 2013).

7) Ankylosis
Penyatuan jaringan fibrous antara kepala kondilus dengan fossa
glenoidelus yang mengalami kekakuan atau keterbatasan membuka mulut,
kondisi tersebut menyebabkan gangguan dalam pengunyahan, berbicara,
estetis, kebersihan mulut, dan psikologis (Balaji. 2013).
8) Disfungsi dan Myofasial

18
Merupakan penyebab paling umum dari nyeri dan terbatasnya
fungsi mastikasi pada pasien. Sumber nyeri dan disfungsinya berasal dari
otot, dengan otot mastikasi mengalami tenderness dan nyeri sebagai hasil
dari fungsi otot yang abnormal atau hiperaktivitas. Fungsi otot abnormal
tersebut seringkali berhubungan dengan clenching atau bruxism
(Septadina, 2015).
Penyebabnya diperkirakan multifaktorial. Namun, yang paling
sering menyebabkan DNM adalah bruxism akibat stress dan cemas,
dengan oklusi sebagai faktor modifikasi atau yang memperburuk. DNM
juga dapat terjadi akibat masalah internal dari sendi, seperti kelainan
pergeseran discus atau penyakit sendi degeneratif (Septadina, 2015).

3. Mahasiswa Mampu Mengkaji Pemeriksaan Intraoral, Ekstraoral Dan


Penunjang

 Pemeriksaan Subjektif
Dalam mendiagnosis pasien diperlukan riwayat yang menyeluruh.
Keluhan utama yang paling sering dirasakan pada penyakit/gangguan
fungsi sendi temporomandibula adalah rasa nyeri dan rasa tidak enak,
yang disertai dengan kliking atau keluhan sendi lainnya (Shepard, M.K.
2013).
- Gejala yang ada. Nyeri, kekakuan, tegangan otot sendi, masala
sendi, kepekaan atau kenyerian geligi, kehebatan gejala nyeri,
lama dan permulaan gejala (Shepard, M.K. 2013).
- Gejala yang Lalu. Apakah penderita menderita gejala yang sama
pada masa lalu; apakah sifat dasarnya sama; apa penyebabnya
(Shepard, M.K. 2013).
- Riwayat sakit gigi terdahulu. Riwayat tatacara perawatan gigi
menyebabkan perubahan oklusi; apakah perubahan tersebut
berkaitan dengan gejala disfungsi; riwayat penyesuaian oklusal
yang dicoba; atau perawatn oklusal lain (Shepard, M.K. 2013).
- Riwayat bruxisme. Apakah hal ini terjadi malam atau siang hari;
apakah bruxissme terdengar oleh istri atau suaminya; berapa lama
penderita menyadari perilaku bruxisme; apa yang disangka
penderita penyebab bruxisme tersebut; apakah penderita
menyadari bahwa keausan geliginya disebabkan oleh bruxisme
(Shepard, M.K. 2013).

 Pemeriksaan Objektif
- Inspeksi
Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu
diperhatikan gigi, sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan
wajah.Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama
berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang

19
bawahnya.Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan
yang tidak baik selama interview seperti bruxism (Shepard, M.K.
2013).
- Palpasi (Shepard, M.K. 2013):
a. Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara
palpasi sisi kanan dan kiri pada dilakukan pada sendi dan otot
pada wajah dan daerah kepala.
b. Temporalis muscle, yang terbagi atas 3 segmen yaitu anterior,
media, dan posterior.
c. Zygomatic arch (arkus zigomatikus).
d. Masseter muscle
e. Digastric muscle
f. Sternocleidomastoid muscle
g. Cervical spine
h. Trapezeus muscle, merupakan Muscular trigger point serta
menjalarkan nyeri ke dasar tengkorang dan bagian temporal
i. Lateral pterygoid muscle
j. Medial pterygoid muscle
k. Coronoid process
l. Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu
mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5, yaitu :
- Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri
pada ruang inferior m.pterigoideus lateral)
- Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri
pada m. temporalis, m. masseter, dan m. pterigoideus
medial)
- Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi
rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral dan medial yang
kontralateral)
- Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri
pada m. pterigoideus lateral)
- Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri
pada bagian posterior m. temporalis)

 Pemeriksaan tulang belakang dan cervical


Pasien dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada
cervikal. Pada kecelakaan kendaraan bermotor kenyataannya
menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ. Evaluasi pada
cervikal dilakukan dengan cara (Shepard, M.K. 2013):
a. Menyuruh pasien berdiri pada posisi yang relaks, kemudian dokter
menilai apakah terdapat asimetris kedua bahu atau deviasi leher
b. Menyuruh pasien untuk menghadap kesamping untuk melihat
postur leher yang terlalu ke depan

20
c. Menyuruh pasien untuk memutar (rotasi) kepalanya ke setiap sisi,
dimana pasien seharusnya mampu untuk memutar kepala sekitar
80 derajat ke setiap sisi.
d. Menyuruh pasien mengangkat kepala ke atas (ekstensi) dan ke
bawah (fleksi), normalnya pergerakan ini sekitar 60 derajat
e. Menyuruh pasien menekuk kepala kesamping kiri dan kanan,
normalnya pergerakan ini 45 derajat
 Auskultasi : Joint sounds
Bunyi sendi TMJ terdiri dari “clicking” dan ‘krepitus’.“Clicking”
adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut,
bahkan keduanya.“Krepitus” adalah bersifat difus, yang biasanya berupa
suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut
bahkan keduanya.“Krepitus” menandakan perubahan dari kontur tulang
seperti pada osteoartrosis.“Clicking” dapat terjadi pada awal, pertengahan,
dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi “click” yang terjadi pada
akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat.
TMJ ‘clicking’ sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar
dengan menggunakan stetoskop (Shepard, M.K. 2013).
 Range of motion
Pemeriksaan pergerakan ”Range of Motion” dilakukan dengan
pembukaan mulut secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya
lembut tanpa bunyi atau nyeri. Mandibular range of motion diukur dengan
(Shepard, M.K. 2013):
a. Maximal interticisal opening (active and passive range of motion)
b. Lateral movement
c. Protrusio movement
 Pemeriksaan Penunjang
(Shepard, M.K. 2013)
1) Transcranial radiografi : Menggunakan sinar X, untuk dapat menilai
kelainan, yang harus diperhatikan antara lain:
a. Condyle pada TMJ dan bagian pinggir kortex harus diperhatikan
b. Garis kortex dari fossa glenoid dan sendi harus dilihat.
c. Struktur condyle mulus, rata, dan bulat, pinggiran kortex rata.
d. Persendian tidak terlihat karena bersifat radiolusen.
e. Perubahan patologis yang dapat terlihat pada condyle diantaranya
flattening, lipping.

2) Panoramik Radiografi : Menggunakan sinar X, dapat digunakan


untuk melihat hampir seluruh regio maxilomandibular dan TMJ.
Kelemahan dari pemeriksaan ini antara lain :
a. Terdapatnya bayangan atau struktur lain pada foto X ray.
b. Fenomena distorsi, dimana terjadi penyimpangan bentuk yang
sebenarnya yang terjadi akibat goyang saat pengambilan gambar.

21
c. Gambar yang kurang tajam. Kelainan yang dapat dilihat antara lain
fraktur, dislokasi, osteoatritis, neoplasma, kelainan pertumbuhan
pada TMJ.
3) CT Scan : Menggunakan sinar X, merupakan pemeriksaan yang
akurat untuk melihat kelainan tulang pada TMJ.

4. Mahasiswa Mampu Mengkaji Penatalaksanaan

Penatalaksanaan penyakit/gangguan TMJ dibagi menjadi dua jenis yaitu


(Pedersen, 1996) :

a. Penatalaksanaan Konservatif

1) Terapi fisik

 Kompres panas dingin pada otot yang kaku untuk


menghilangkan rasa nyeri otot dan kaku

 Istirahat dan pembatasan gerakan mandibula akan mengurangi


nyeri otot dan rasa tidak nyaman

 Hindari makanan yang membutuhkan pembukaan mulut lebar


atau pengunyahan berat

 Memotong makanan menjadi potongan kecil

 Pemijatan otot yang nyeri

 Latihan mandibula isometric bermanfaat untuk menghilangkan


miospasme

2) Manipulasi

Pemilihan teknik repositioning mandibula yang mengalami


dislokasi antara lain : (Zweifel et al, 2014)
1. Hippocrates method
Metode ini yang paling sering digunakan, dengan prosedur :
 Mereposisi satu sisi mandbula pada satu waktu
 Menempatkan ibu jari di retromolar sisi rahang (garis
oblique)
 Tempatkan jari-jari lain pada daerah inferior eksternal
aspek mandibula

22
 Lalu memberikan tekanan / menarik rahang ke arah kaudal
(bawah), baru kemudian ke arah dorsal (belakang) (Prechel
et al, 2018)

Arah pengembalian reposisi rahang Metode


Hipokrates (Prechel et al, 2018)

Posisi jari tangan saat reposisi Metode


Hipokrates (Zweifel et al, 2014)

2. Wrist-pivot reduction
Metode ini diperkenalkan oleh Lowery et al pada tahun 2004.
Teknik ini melibatkan prosedur berupa:
 Operator memegang lateral mandibula dengan kedua ibu
jari,
 Menempatkan jari-jari selain ibu jari pada molar inferior,

23
 Memberikan kekuatan ke atas pada ibu jari dan tekanan ke
bawah pada jari-jari
 Pergelangan tangan kemudian diputar untuk mereposisi
dislokasi rahang.
 Kekuatan harus diterapkan secara bilateral untuk
menghindari fraktur mandibula. Awalnya pasien dapat
dianestesi dengan pemberian 20 menit sebelumnya.
(Vincent & Poh, 2017)

Reposisi dislokasi mandibula dengan metode wrist-pivot


(Vincent & Poh, 2017)
3) Obat-obatan

 Penggunaan obat anti inflamasi apabila kelainan disertai


dengan inflamasi (contoh : aspirin, ibuprofen dan Naproxen).

 Apabila disertai dengan spasme otot bias diberikan relaksan


otot seperti Chlorzoxazone, metaxalone, dan diazepam.

4) Mekanis

Occlusal appliancetherapy disebut juga sebagai a bite guard, a


night guard, an interocclusal appliance atau alat orthopedic,
merupakan alat lepasan yang biasanya dibuat dari akrilik keras
dapat dipasang pas pada pemukaan oklusal dan incisal gigi pada
salah satu lengkung, menciptakan kontak oklusal yang tepat
dengan gigi-gigi antagonisnya . Alat-alat akrilik lepasan yang
menutupi gigi ini dipakai untuk penatalaksanaan TMD dengan cara

24
mengubah hubungan oklusal dan menata kembali distribusi gaya-
gaya oklusal (Suhartini. 2011).

Terapi oklusal terdiri dari banyak model yang telah digunakan


untuk perawatan kelainan-kelainan TMJ. Dua yang paling sering
dipakai adalah ; (1) stabilization appliance (Alat stabilisasi) (2)
anterior positioning appliance (Alat reposisi). Alat stabilisasi
kadang-kadang disebut muscle relaxation appliance karena
pemakaian utamanya adalah untuk mereduksi / mengurangi rasa
sakit pada otot. The anterior positioning appliance kadang-kadang
disebut sebagai orthopedic-repositioning appliance karena
tujuannya adalah untuk merubah posisi dari mandibula dalam
hubungannya dengan kranium. Tipe lain dari alat-alat oklusal
adalah anterior bite plane, the posterior bite plane, the pivoting
appliance, dan the soft or resilient appliance (Suhartini. 2011).

Pemilihan alat disesuaikan dengan jenis penanganan yang


diarahkan terhadap perubahan posisi mandibular, pola oklusi, atau
keduanya. Terapi oklusal dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu :
(1) reversibel, dan (2) ireversibel. Terapi oklusal reversibel secara
temporer mengubah kondisi oklusal pasien dan paling baik di
lakukan dengan alat oklusal, yang dipakai untuk menciptakan
perubahan posisi mandibula dan pola oklusi. Posisi mandibula dan
pola oklusi akan bergantung pada penyebab dari kelainan. Ketika
dilakukan penanganan aktivitas parafungsional, maka alat oklusal
akan menjadikan posisi mandibula dan oklusi dalam hubungan
yang optimum sesuai dengan kriteria. Maka ketika alat itu
dikenakan, pola kontak oklusal dibuat sesuai dengan hubungan
kondile-diskus-fossa pasien. Dengan demikian alat oklusal
memberikan stabilitas ortopedik. Tipe alat ini telah digunakan
untuk menurunkan berbagai gejala TMD dan menurunkan aktivitas
parafungsional. Tentu saja stabilitas ortopedik dipertahankan hanya
ketika alat itu dikenakan, sehingga dengan demikian ini dianggap
penanganan reversibel. Ketika alat dilepas maka kondisi akan
kembali seperti sebelumnya (Suhartini. 2011).

5) Gangguan Oklusi

 Pengasahan selektif

 Pembuatan restorasi/protesa

 Perawatan ortodontik

25
 Pencabutan gigi

 Sebelum dilakukan prosedur perawatan yang ireversibel, harus


benar-benar dipastikan bahwa oklusi yang terjadi bukan akibat
dari spasme otot

b. Penatalaksanaan Bedah

1) Kondilektomi

2) Eminektomi

Indikasi utamaa adalah dislokasi kronis rekuren dari processus


condylaris mandibulae yang tidak bias ditangani secara konservatif

3) Menisektomi

4) Artroplasti/Meniskoplasti

5) Autologous/Aloplasti

Meski diagnosis awal oleh dokter gigi umum dan perawatan yang
dilakukan lebih konservatif, diagnostic tertentu perlu dilakukan apabila
tindakan konservatif tidak dapat menangani kelainan TMJ dan dilakukan
oleh spesialis dengan tindakan pembedahan. Jika diperlukan tindakan
konservatif terkadang menggunakan terapi kombinasi (Pedersen, 1996).

5. Mahasiswa Mampu Mengkaji KIE

a. Memberikan motivasi: menjelaskan penyebab dan diharapkan dapat


memotivasi untuk sembuh. Dan untuk menghindari kelainan tersebut.
Menghindari etiologi yang dapat menyebabkan TMD

b. Edukasi: instruksi mengistirahatkan rahang

c. Mouth night guard: pada pasien yang bruxism

26
DAFTAR PUSTAKA

Balaji. 2013. Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery. Elsevier: India.

Chisnoiu, A.M., Picos Aline, M., Popa, S., Chisnoiu Petre, D., Lascu, L., Picos,
A., Chisnoiu Radu. (2015). Factors Involved in the Etiology of
Temporomamdibular Disorders-a Literature Review. Clujuc Medical
Journal, 88(4),437-478

Pedersen, G. W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC

Prechel Ulla, Ottl Peter, Ahlers M. Oliver, Neff Andreas. 2018. The Treatment of
Temporomandibular Joint Dislocation A Systematic Review. Germany:
Deutsches Ärzteblatt International | Dtsch Arztebl; 115: 59–64
Septadina Seta Indri. 2015. Prinsip Penatalaksanaan Dislokasi Sendi
Temporomandibular. Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sriwijaya, Palembang: MKS, Th. 47, No. 1
Shepard, M.K. 2013. Orofacial Pain: A Guide for the Headache Physician.
Headache. 54(1): 22-39

Suhartini. 2011. Kelainan pada Temporo Mandibular Joint (TMJ) Vol.8 No.2.
Jember: Stomatognatic (J.K.G Unej)

Vincent W.M. & Poh Juliana. 2017. Refractory Temporomandibular Joint


Dislocation – Reduction Using the Wrist Pivot Method - Case Report
Changi General Hospital, Department of Accident & Emergency,
Singapore. Powered by California Digital Library University of California
ISSN 2474-252X.
Zweifel Daniel F., Pietramaggiori Giorgio, Broome Martin. 2014. Repositioning
Dislocated Temporomandibular Joints - Journal Article. New England
Journal of Medicine e9 VI 370:(6)

27