Anda di halaman 1dari 4

Sitasi random seminar kelas

Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal: Hemiptera: Delphacidae) adalah serangga hama
yang hidup dengan cara menghisap cairan pelepah daun tanaman padi sehingga pertumbuhan
tanaman padi menjadi terhambat. N. lugens memiliki siklus hidup yang singkat, yaitu berkisar
23-25 hari pada suhu 28ºC. Imago betina N. lugens mampu menghasilkan sebanyak 100-500
telur. Telur menetas menjadi nimfa setelah 7-11 hari. Nimfa mengalami lima instar. Imago N.
lugens terdiri atas dua bentuk, yaitu makroptera yang memiliki sayap sempurna sehingga mampu
terbang dan brakhiptera yang memiliki sayap pendek (Mochida dan Okada 1979).
Serangan N. lugens ditandai dengan menguningnya tanaman padi yang berlanjut pada
kematian tanaman seperti terbakar (hopperburn) (Mochida dan Okada 1979). Serangan N. lugens
secara luas di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1969 di Tegal yang mencapai 1.633
ha. Serangan semakin luas pada tahun 1975 yang mencakup hampir semua provinsi di Indonesia
(Soenardi 1978 dalam Soemawinata dan Sosromarsono). Komulatif luas serangan N. lugens
mencapai 3.119 ha pada tahun 2011 sampai dengan bulan Juni (Dinpertan 2012).
Serangan N. lugens dilaporkan dari beberapa daerah diantaranya Tuban, Kudus, Demak,
Karanganyar, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, Wonogiri, dan Cianjur pada tahun 2013 hingga
bulan Juli. N. lugens memiliki sifat plastis yang menjadikannya mudah beradaptasi terhadap
berbagai kondisi lingkungan. N. lugens mampu membentuk populasi baru dalam waktu singkat,
sehingga sulit untuk dikendalikan (Baehaki dan Munawar 2007). Pengendalian N. lugens sejauh
ini masih menggunakan insektisida kimia yang dapat memicu terjadinya resistensi dan akhirnya
berdampak pada resurgensi (Pedigo 2002). Penggunaan tanaman varietas tahan juga tidak
mampu mengatasi serangan N. lugens dan menimbulkan biotipe baru yang lebih resisten
(Baehaki dan Munawar 2007).
Pengendalian N. lugens secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami belum banyak
dilakukan. Musuh alami, seperti parasitoid telur dari N. lugens yang sering dijumpai di lapangan
adalah Anagrus sp. (Hymenoptera: Mymaridae), Gonatocerus sp. (Hymenoptera: Mymaridae),
dan Oligosita sp. (Trichogrammatidae) (Yaherwandi dan Syam 2007). Anagrus sp. selain
menyerang N. lugens juga dapat menyerang wereng hijau (Diani et al. 1992).
Beberapa jenis Anagrus yang dapat ditemukan di Asia, antara lain Anagrus incarnatus Haliday,
A. japanicus Sahad, A. nigriventris Giraulti, A. flaveolus Waterhouse, A. frequens Perkins, A.
hirashinae Sahad, A. subfuscus Forster, A. optabilis Perkins, A. paniciculae Sahad, A. perforator
Perkins (Sahad dan Hirashima 1984), serta A. nilaparvatae (Meilin 2012). Anagrus sp. yang
dominan di Indonesia adalah A. optabilis dan A. flaveolus, serta A. nilaparvatae (Santosa dan
Sulistyo 2007; Meilin 2012). Kemampuan Anagrus sp. memarasit telur N. lugens mencapai 38%
pada tanaman padi dengan siklus hidup berlangsung selama
11-13 hari (Diani et al. 1992).
Parasitoid Oligosita sp. termasuk parasitoid telur dari wereng batang dan wereng daun.
Jenis Oligosita yang dapat ditemukan di lapangan, yakni Oligosita aesopi Girault dan O. neas
Girault. Kemampuan Oligosita sp. memarasit telur N. lugens berkisar antara 10,5-37,2% dengan
siklus hidup berlangsung selama 11-12 hari (Diani et al. 1992). Gonatocerus sp. juga merupakan
parasitoid telur wereng batang dan wereng daun. Beberapa spesies dari Gonatocerus sp. yang
ditemukan di Asia, antara lain Gonatocerus decvivitatakus, G. litoralis, G. narayani, G.
fukuokensis, G. sulfuripes, G. ulterdecomes, G. mumarus, G. cicadellae, G.
miurae dan G. cincticipitis (Sahad and Hirashima 1984). Gonatocerus sp. mampu memarasit
telur N. lugens dengan tingkat parasitisasi berkisar antara 1,16-6,04 %, wereng hijau 34,08 %
dan wereng punggung putih 7,05 % (Diani et al. 1992).
Chiu (1979) melaporkan terdapat 79 jenis musuh alami N. lugens diantaranya 34
parasitoid, 37 predator dan 8 patogen. Maryana (1994) dalam penelitiannya yang dilakukan di
daerah Bogor dan Cianjur melaporkan bahwa parasitoid telur yang menyerang wereng hijau
Nephotettix virescens (Distant) dan N. lugens meliputi lima spesies dalam dua famili, yaitu
Trichogrammatidae dan Mymaridae, 4 spesies diantaranya termasuk famili Mymaridae.
Yaherwandi dan Syam (2007) mengoleksi 8 spesies parasitoid telur N. lugens di Sumatera Barat,
meliputi famili Mymaridae, Trichogrammatidae dan Eulophidae. Meilin (2012) melaporkan
terdapat dua famili parasitoid telur N. lugens yang dikoleksi dari pertanaman padi di daerah
Bantul, Yogyakarta, yaitu Mymaridae dan Trichogrammatidae.

Insektisida masih banyak digunakan oleh petani untuk pengendalian wereng batang cokelat
maupun hama lainnya di pertanaman padi. Penggunaan insektisida yang tidak tepat dan
cenderung berlebihan telah mengakibatkan berbagai masalah mulai dari residu, ledakan hama
sekunder, resistensi, resurgensi dan perubahan status serangga dari hama sekunder menjadi
primer (Metcalf, 1994 cit Trisyono, 2014). Penggunaan insektisida kimia sintetik berspektrum
lebar tidak hanya akan membunuh serangga hama sasaran, namun termasuk serangga hama
sekunder dan musuh alaminya. Matinya musuh alami mengakibatkan menurunnya potensi dan
peran pengendalian alami sehingga keturunan serangga hama yang tidak mati oleh insektisida
akan mempunyai laju kehidupan (survival rateI) yang tinggi yang menyebabkan populasi dapat
meningkat dalam jangka waktu yang pendek (Trisyono, 2014).

-Penjelasan Resistensi dan Resurjensi

Di lain pihak, resurgensi wereng cokelat merupakan proses peningkatan populasi setelah aplikasi
insektisida dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari yang tidak diaplikasi insektisida.
Resurgensi dapat terjadi karena perubahan fisiologi tanaman sehingga lebih disukai wereng, atau
ada rangsangan insektisida terhadap wereng untuk bertelur, makan, dan penetasan telur (Baehaki
et al., 2016).
Resistensi dapat diartikan sebagai perubahan sensitivitas yang diwariskan dalam populasi hama
yang tercermin dalam kegagalan berulang suatu insektisida untuk mengendalikan hama sesuai
dengan dosis rekomendasi. (Baehaki et al., 2016).

Baehaki, S.E. 2012. Perkembangan biotipe hama wereng cokelat pada tanaman padi. IPTEK
Tanaman Pangan 7(1):8-17.
Yaherwandi, Reflinaldon, Rahmadani, A. 2009. Biologi Nilaparvata lugens Stall (Homoptera:
Delphacidae) Pada Empat Varietas Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Jurnal Biologi
Edukasi, 1(2):9-17.
Pada penelitian yang telah dilakukan Aqilah (2016), dilakukan pengujian kemampuan parastiasi
parasitoid di empat lahan percobaan dengan menggunakan perangkap telur wereng batang
cokelat (BPH traps). Indikator yang dihitung dan diamati meliputi jumlah telur total yang
diletakkan pada lahan, jumlah telur total yang terparasit, dan jumlah kemunculan parasitoid telur.

Tabel 1. Pengaruh lahan dengan refugia dan tanpa refugia terhadap rata-rata telur terparasit,
parasitoid telur yang muncul pada telur wereng batang cokelat dan tingkat parasitasi di
lahan Sayegan dan Prambanan

Telur Terparasit*) Parasitoid Muncul*) Tingkat Parasitasi*)


Lahan
Seyegan Prambanan Seyegan Prambanan Seyegan Prambanan

Refugia 19,01a 9,77a 9,08a 3,96a 21,27 21,45

Tanpa Refugia 10,79 6,55a 3,68a 1,59a 15,12 10,82


Keterangan:
Data yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan bahwa tidak ada
beda nyata antara lahan refugia dan lahan tanpa refugia menurut uji T dengan tingkat
kepercayaan 95%
*) rerata dari 75 ulangan ; dan hasil ada beda nyata antara perlakuan refugia dan tanpa
refugia di lahan Seyegan dan Prambanan

Hasil analisis data dari Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata telur yang terparasit dan
parasitoid telur dengan perlakuan refugia lebih tinggi sebesar 19,01 dan 9,77 daripada tanpa
perlakuan refugia. Rata-rata parasitoid telur yang muncul di lahan Sayegan dan Prambanan pada
perlakuan refugia juga menunjukkan nilai yang lebih tinggi sebesar 9,08 dan 3,96 jika
dibandingkan dengan dengan perlakuan tanpa refugia. Pada data tingkat parasitasi, lahan yang
diberikan perlakuan refugia memiliki presentase lebih tinggi sebesar 21,27 dan 21,45
dibandingkan dengan lahan yang tidak diberikan perlakuan refugia. Meskipun demikian, dari
hasil uji analisis rerata dari telur total, telur terparasit dan parasitoid telur yang uncul diketahui
bahwa tidak berbeda nyata antara lahan dengan perlakuan refugia dan tanpa refugia di Sayegan
maupun Prambanan. Menurut Anggoro (2014), hal ini kemungkinan terjadi karena kondisi
ekosistem di lahan Indonesia yang sangat heterogen dan adanya perubahan iklim yang tidak
teratur.