Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Persiapan Sosial


2.1.1 Persiapan Sosial
Dalam praktik perawatan kesehatan tujuan persiapan sosial adalah mengajak
partisipasi atau peran serta masyarakat sejak awal kegiatan selanjutnya
sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga pengembangan
program praktik perawatan kesehatan masyarakat. Kegiatan- kegiatan dalam
persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan yang harus dilakukan baik
aspek teknis, administratif dan program-program kesehatan yang akan

dilaksanakan.

2.1.2 Pengenalan Masyarakat


Tahap pengenalan masyarakat dapat dilakukan melalui jalur formal (informal
leader), sebagai pihak yang bertanggung jawab secara teknis administratif
dan birokratif suatu wilayah yang akan dijadikan daerah binaan. Pendekatan
terhadap informal leader umumnya melalui pemerintahan setempat yang
bertanggung jawab terhadap wilayah tersebut dan pusat kesehatan
masyarakat (Puskesmas) atau instansi terkait yang bertanggung jawab dalam
bidang kesehatan masyarakat.
Pendekatan ini didahului melalui surat permintaan daerah binaan yang
akan dijadikan lahan praktik dilengkapi proposal rencana pembinaan suatu
daerah binaan. Setelah ada persetujuan dari instansi terkait yang menangani
kegiatan tersebut, langkah selanjutnya yang harus ditempuh adalah
mengadakan pendekatan terhadap tokoh-tokoh informal yang ada di
wilayah tersebut.
Diantaranya adalah tokoh-tokoh masyarakat seperti sesepuh, pemuka agama,
guru, tokoh pemuda, ketua PKK, dasawisma, ketua PKMD/LKMD dan 3
sebagainya. Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan
kegiatan yang akan dijalankan. Tanpa bantuan tokoh-tokoh informal kegiatan-
kegiatan yang akan dilaksanakan sulit untuk mencapai hasil yang maksimal.
Seperti kita ketahui bahwa tokoh-tokoh informal dalam masyarakat pada
umumnya merupakan panutan dari masyarakat secara keseluruhan dan
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kegiatan masyarakat secara
keseluruhan.
Oleh karena itu petugas datang ketengah-tengah masyarakat dengan hati yang
terbuka dan kemauan serta keiginan untuk lebih mengenal masyarakat
sebagaimana adanya sambil menyampaikan maksud dan tujuankegiatan yang akan
dilaksanakan dalam melaksanakan pembinaan perawatan kesehatan masyarakat.
Pendekatan tokoh-tokoh informal hendaknya lebih ditujukan kepada
PKMD/LKMD, PKK, kader kesehatan dan dasa wisma atau promotor kesehatan
desa yang berkaitan erat dengan pemeliharaan dan perawatan kesehatan
masyarakat. Hal ini penting dilakukan karena masyarakat Indonesia masih bersifat
paternalistik, dengan dikenalnya pemimpin-pemimpin masyarakat formal dan
informal, diharapkan penyebaran gagasan dan kegiatan mendapat dukungan penuh
dari masyarakat, sehingga mereka berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan
tersebut.
2.1.3 Pengenalan Masalah
Untuk dapat mengenal masalah kesehatan masyarakat secara
menyeluruh yang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat saat ini,
diperlukan interaksi dan interelasi dengan masyarakat setempat secara
mendalam. Hal ini dapat dikakukan melalui survey kesehatan masyarakat dalam
ruang lingkup terbatas. Sehingga masalah-masalah yang dirumuskan benar-benar
masalah yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat.
Oleh karena itu keterlibatan masyarakat mulai saat ini sangat diperlukan,
sehingga mereka manyadari sepenuhnya masalah yang mereka hadapi dan
sadar bagaimana cara mengatasi masalah tesebut, dan hal ini sangat menentukan
keberhasilan program perawatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam tahap ini mungkin ditemukan banyak masalah kesehatan masyarakat yang
sangat beragam diantaranya masalah gizi masyarakat, keluarga berencana,
pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi dan sebagainya.
2.1.4 Penyadaran Masyarakat
Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka:
1. menyadari masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.
2. secara sadar mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanggulangan masalah
kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi
3. mereka tahu cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan upaya pelayanan
kesehatan dan keperawatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada
pada mereka
Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan
pelayanan kesehatan dank keperawatan diperlukan suatu mekanisme yang
terencana dan teroorganisasi dengan baik, seperti kita ketahui berbagai istilah
yang sering dipergunakan dalam rangka menyadarkan masyarakat, yaitu ;
1. lokakarya mini kesehatan
2. musyawarah masyarakat desa
3. rambuk desa
Hal ini dilakukan untuk menyadarkan, membicarakan langkah-langkah
yang akan ditempuh dalam penanggulanagan masalah, penyusunan program
kegiatan yang menyangkut petugas, biaya, sarana dan prasarana serta bentuk-
bentuk kerjasama lintas sektoral dari instansi terkait maupun lintas program,
sehingga jelas peranan-peranan yang harus dilaksanakan oleh masing-
masing pihak yang berkepentingan dalam mencapai tujuan masyarakat yang lebih
luas hal- hal yang mendapat perhatian dalam penyadaran masalah :
1. libatkan masyarakat secara keseluruhan baik formal maupun informal,
sehingga mereka sadar bahwa itu adalah masalah mereka yang perlu segera
diatasi
2. dalam menyusun rencana penanggulangan masalah, sesuaikan dengan potensi
dan sumber yang ada pada masyarakat
3. hindari konflik dari berbagai kepentingan dalam masyarakat
4. kesadaran konflik dari berbagai kepentingan dalam masyarakat
5. adakan interaksi dan interalisasi dengan tokoh-tokoh masyarakat secara
intensif dan akrab, sehingga mereka dpar dimanfaatkkan untuk usaha
motivasi, komunikasi sehingga dpar menggugah kesadaran masyarakat
6. dalam mengatasi sifat-sifat paternalistic masyarakat dapat memanfaatkan jalur
kepimpinan masyarakat setempat dalam mendapatkan legitimasi dari pihak
pemerintah setempa untuk mempercepat kesadaran masyarakat.

2.2 Pengertian Partisipasi


2.2.1 Konsep Partisipasi
Menurut Rogers, partisipasi adalah tingkat keterlibatan anggota dalam
mengambil keputusan, termasuk dalam perencanaan. Namun pada dasarnya
Partisipasi berarti ikut serta, tetapi dalam bahasa kita hampir tidak ada perbedaan
antara kata tersebut sebagai kata kerja (to participate) atau kata benda
(participation).
Dalam arti manapun sudah jelas bahwa dalam partisipasi ada minimal dua
kelompok warga yang saling hubungannya cukup menyatu (united) karena
padawalnya mempunyai tujuan hidup yang tidak sepenuhnya sama.
Sehingga seorang aktivis yang ingin mengembangkan partisipasi perlu
menemukan satu tujuan (purpose) yang bukan hanya diterima oleh kelompok
kelompok dalam Community tetapi sekaligus salah satu dari kebutuhan
merekayang dirasakan penting.
Saat ini masalah peran serta masyarakat (partisipasi) dalam pembangunan
menjadi topik utama dimana kegagalan dalam setiap program pemerintah
disebabkan oleh kurangnya keikutsertaan masyarakat.
Alasan mengapa keikutsertaan (partisipasi) masyarakat dikatakan penting pada
masa pembangunan sekarang, antara lain:
1. Kita sedang berada dalam masa transisi dalam pembangunan era pertanianke era
industri
2. Terciptanya demokrasi dan keterbukaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara
3. Sebanyak 27 juta rakyat indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan
4. Berkembangnya etos kerja yang negate
5. Masih terjadi pemisahan golongan antara kaum elite dan kaum bawahan.
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran
dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya
untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan.
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah
semata.
Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosiatau
perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk
memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan sertaturut
bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
Manfaat Partisipasi masyarakat :
1. Partisipasi adalah perwujudan kedaulatan rakyat, yang menempatkan mereka
sebagai awal dan tujuan pembangunan.
2. Partisipasi menimbulkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk turut
serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut masyarakat. Dengan
kalimat lain partisipasi merupakan bentuk “memanusiakan manusia”
(nguwongake).
3. Partisipasi adalah proses saling belajar bersama antara pemerintah dan
masyarakat, sehingga bisa saling menghargai, mempercayai, dan menumbuhkan
sikap yang arif.
4. Partisipasi menciptakan suatu lingkaran umpan balik informasi tentang aspirasi,
kebutuhan, dan kondisi masyarakat.
5. Partisipasi merupakan kunci pemberdayaan dan kemandirian masyarakat.
6. Partisipasi merupakan cara yang paling efektif untuk mengembangkan
kemampuan masyarakat dalam pengelolaan program pembangunan guna
memenuhi kebutuhan.
7. Partisipasi bisa mencegah timbulnya pertentangan, konflik, dan sikap-sikap
waton suloyo.
8. Partisipasi bisa membangun rasa memiliki masyarakat terhadap agenda
pemerintahan, kemasyarakatan, dan pembangunan.
9. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan demokrasi.
2.2.2 Urgensi Partisipasi
Pentingnya partisipasi dikemukakan oleh Conyers (1991) sebagai berikut:
1. Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi
mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa
kehadirannya program pembangunan serta proyek proyek akan gagal.
2. Masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika
merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karenamereka
akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa
memiliki terhadap proyek tersebut.
3. Suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan
masyarakat mereka sendiri.
Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah meningkatnya
kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik langsung maupuntidak
langsung dalam sebuah program pembangunan dengan cara melibatkan mereka
dalam pengambilan keputusan dan kegiatan - kegiatan selanjutnya dan untuk
jangka yang lebih panjang.
Adapun prinsip-prinsip partisipasi tersebut, sebagaimana tertuang dalamPanduan
Pelaksanaan Pendekatan Partisipati yang disusun oleh Department
for International Development (DFID) (dalam Monique Sumampouw, 2004 : 106-
107) adalah :
a. Cakupan Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang terkena
dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek pembangunan.
b. Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiaporang
mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa sertamempunyai hak untuk
menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalamsetiap proses guna membangun
dialog tanpa memperhitungkan jenjangdan struktur masing-masing pihak.
c. Transparansi. Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan
iklim berkomunikasi terbuka dan kondusi sehingga menimbulkan dialog.
d. Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership). Berbagai pihak
yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi ke(enangandan kekuasaan
untuk menghindari terjadinya dominasi.
e. Kesetaraan Tanggung jawab (Sharing Responsibility). Berbagai
pihak mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena
adanyakesetaraan kewenangan (sharing power ) dan keterlibatannya dalam
proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah selanjutnya.
f. Pemberdayaan (Empowerment ). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepasdari
segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehinggamelalui
keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu prosessaling belajar
dan saling memberdayakan satu sama lain.
g. Kerjasama. Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibatuntuk
saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yangada,
khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia.
2.2.3 Esensi Partisipasi
Kata partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Partisipation” yang artinya
pengambilan bagian, pengikut sertaan. Sedangkan kata “Partisipation” berasal dari
kata “Partisipate” yang berarti mengikutsertakan. Seiring dengan definisi tersebut
partisipasi dapat diartikan sebagai turut serta berperan serta atau keikutsertaan.
Dalam kamus bahasa indonesia definisi partisipasi adalah hal yang berkenaan
dengan turut serta dalam suatu kegiatan atau berperan serta dalam suatu kegiatan
atau berperan serta. Jadi, dapat diartikan bahwa partisipasi adalah suatu bentuk
kerjasama yang diberikan apabila suatu pihak sedang melakukan suatu kegiatan.
Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya.
Misalnya anda berpartisipasi/ ikut serta (dapat anda rasakan sendiri), maka anda
melakukan kegiatan itu karena menurut pikiran anda perlu dan bah(a perasaananda
pun menyetujui<berkenan untuk melakukannya.
R.A Santoso Sastropoetro mengemukakan pengertian partisipasi
adalahketerlibatan yang bersifat spontan yang disertai kesadaran dan tanggung
jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jenis-jenis
partisipasi yang dikemukakan oleh sastropoetro, sebagai berikut:
1. Partisipasi dalam pikiran.Dalam hal ini partisipasi berupa mengusulkan
pendapat dan merencanakan berbagai kegiatan demi kesuksesan suatu kegiatan
atau program.
2. Partisipasi dalam tenaga Partisipasi ini dapat berupa sumbangsih tenaga yang
diberikan oleh sebagian atau seluruh masyarakat sehingga suatu kegiatan atau
program dapat berjalan lancer.
3. Partisipasi dalam keahlian.Bentuk partisipasi ini adalah berdasarkan dari tingkat
keahlian,keterampilan, pendidikan, dan pekerjaan yang dimiliki oleh sebagian
atauseluruh masyarakat.
4. Partisipasi dalam fasilitas.Partisipasi yang dimaksudkan disini adalah partisipasi
atau keikutsertaanyang dapat berupa kontribusi melalui uang, barang, dan jasa.
2.2.4 Metode Pendekatan Partisipasi
1. Pendekatan pasif, pelatihan dan informasi
yakni pendekatan yang beranggapan bahwa pihak eksternal lebih menguasai
pengetahuan, teknologi, keterampilan dan sumber daya. Dengan demikian
partisipasi tersebut memberikan komunikasi satu arah,dari atas ke bawah dan
hubungan pihak eksternal dan masyarakat bersifat vertikal.
2. Pendekatan partisipasi aktif
yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi secara
lebih intensif dengan para petugas eksternal, contohnya pelatihan dan
kunjungan.
3. Pendekatan partisipasi dengan keterikatan masyarakat atau individudiberikan
kesempatan untuk melakukan pembangunan, dan diberikan pilihan untuk terikat
pada sesuatu kegiatan dan bertanggung jawab ataskegiatan tersebut.
4. Pendekatan dengan partisipasi setempat
yaitu pendekatan dengan mencerminkan kegiatan pembangunan atas
dasar keputusan yang diambil oleh masyarakat setempat.
2.2.5 Mewujudkan Masyarakat Partisipasi
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menumbuhkan partisipasi dimasyarakat:
1. Mengeksplorasi nilai-nilai yang berkaitan dengan semangat partisipasi
(kebersamaan dan solidaritas, tanggung jawab, kesadaran kritis,
sensitif, perubahan, peka terhadap lokalitas dan keberpihakan pada
kelompok marginal, dll).
2. Menghidupkan kembali institusi-institusi volunteer sebagai media kewargaan
yang pernah hidup dan berfungsi untuk kemudian dikontekstualisasi dengan
perkembangan yang terjadi di masyarakat terutama dinamika kontemporer
(Mis. forum rembuk desa/dusun).
3. Memfasilitasi tebentuknya asosiasi-asosiasi kewargaan yang baru berbasiskan
kepentingan kelompok keagamaan, ekonomi, profesi, minat dan hobi, dan
politik maupun aspek-aspek kultural lainnya yang dapatdiman aatkan sebagai
arena interaksi terbuka.
4. Mengkampanyekan pentingnya kesadaran inklusif bagi warga desa dalam
menyikapi sejumlah perbedaan yang terjadi dengan mempertimbangkan
kemajemukan.
5. Memperluas ruang komunikasi publik atau semacam public sphere yang dapat
dimanfaatkan warga desa untuk melakukan kontak-kontak sosial dankerjasama.
(IRT, 2003)
2.2.6 Peran Organisasi Dalam Partisipasi
Dalam berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua
struktur yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung
kepada organisasi yang mereka pilih. Agar dapat berinteraksi secara efektif setiap
individu bias berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan.
Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang
harus dilakukan.
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental
atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang
mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha
mencapai tujuan.
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti
keterlibatan jasmaniah semata.Partisipasi dapat diartikan sebagai keterlibatan
mental, pikiran,dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang
mendorongnyauntuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha
mencapai tujuanserta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.
Unsur - unsur Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi.
1. Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnyamerupakan
suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya
keterlibatan secara jasmaniah.
2. Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada
usahamencapai tujuan kelompok . ini berarti, bahwa terdapat rasa senang,
kesukarelaan untuk membantu kelompok.
3. Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan segi
yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggotaartinya
ada rasa “sense of belongingness”.
Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut:
1. Pikiran (psychological participation)
2. Tenaga (physical participation)
3. Pikiran dan tenaga
4. Keahlian
5. Barang
6. Uang
Syarat – syarat
Agar suatu partisipasi dalam organisasi dapat berjalan dengan
efektif,membutuhkan persyaratan - persyaratan yang mutlak yaitu :
a. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu. waktu yangdimaksudkan disini
adalah untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan
tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa
diperlukan peran serta.
b. Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang,
hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan“memanjakan”,
yang akan menimbulkan efek negatif.
c. Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasidimana
individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yangmenjadi
perhatiannnya.
d. Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam artikata yang
bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama
dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu
ditumbuhkan oleh komunikator.
e. Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasitimbal
balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama
dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
f. Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran sertatersebut
sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
g. Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan
hendaknyadidasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak
dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan
ataugangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal
inididasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif.
Partisipasi dalam organisasi menekankan pada pembagian wewenang atau tugas-
tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan maksud meningkatkanefektif tugas
yang diberikan secara terstruktur dan lebih jelas.
Bentuk - Bentuk Organisasi
1.Organisasi politik
2.Organisasi sosial
3.Organisasi mahasiswa
4.Organisasi olahraga
5.Organisasi sekolah
6.Organisasi negara

3.1 Kaderisasi
3.1.1 Konsep Kaderisasi
Kaderisasi merupakan hal yang esensial bagi suatu organisasi, karena
merupakan inti dari kelanjutan perjuangan organisasi ke masa depan. Tanpa
kaderisasi, rasanya sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan
melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi
adalah sebuah keniscayaan dan mutlak diperlukan dalam membangun struktur
kerja yang mandiri dan berkelanjutan.
Fungsi kaderisasi adalah mempersiapkan calon-calon (embrioatauregenerasi)
yang siap melanjutkan tongkat estafet perjuangan sebuah organisasi. Kader suatu
organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai
keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang
diharapkanBung Hatta pernah menyatakan tentang kaderisasi dalam kerangka
kebangsaan, “kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit”.
Berarti untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada
masanya harus dipersiapkan.Dari sini, pandangan umum mengenai kaderisasi suatu
organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku
kaderisasi (subyek),yaitu individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan
dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi
regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi.
Kedua, sasaran kaderisasi (obyek), yaitu individu-individu yang dipersiapkan
dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan
obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar
dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas
dan matang secara intelektualdan
psikologis.Sebagai subyek atau pelaku dapat diartikan dalam pengertian umum
dapat disebut seorang pemimpin,kaderisasi sama artinya dengan edukasi,
pendidikan! Pendidikan tidak harus selalu diartikan pendidikan formal, atau dalam
istilah lain dapat berupa“sekolah-sekolahan”,“balai diklat”, “study club” daln lain-
lain. Tugas pertama-tama seorang pemimpin adalah mendidik. Jadi, seorang
pemimpin hendaklah seorang yang memiliki jiwa, etos sebagai seorang pendidik.
Memimpin berarti menyelami perasaan dan pikiran orang yang dipimpinnya serta
memberi inspirasi dan membangun keberanian hati orang yang dipimpinnya agar
mampu
berkarya secara maksimal dalam lingkungan tugasnya. Sedangkan sebagai obyek
dari proses kaderisasi, sejatinya seorang kader memiliki komitmen dan tanggung
jawab untuk melanjutkan visi dan misi organisasi ke depan. Karena jatuh-
bangunnya organisasi terletak pada sejauh mana komitmen dan keterlibatan kader-
kader secara intensdalam dinamika organisasi, dan tanggung jawab mereka untuk
melanjutkan perjuangan organisasi yang telah dirintis dan dilakukan oleh para
pendahulu-pendahulunya.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam kaderisasi adalah potensi dasar
seorang kader. Potensi dasar tersebut sesungguhnya telah dapat di
lihatmelalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap
problema-problema sosial dilingkungannya. Jadi, di sana ada semacam landasan
berfikir atau filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap
organisasi/pergerakan
Dengan kata lain harus ditemukan pola dan upaya mencari bibit-bibit unggul
kaderisasi. Subyek harus mampu menawarkan visi dan misi ke depan yang jelas
dan memikat, serta menawarkan romantika dinamika organisasi yang menantang
bagi para kader yang potensial, sehingga mereka dengan senang hati akan terlibat
mencurahkan segenap potensinya dalam kancah organisasi.
Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka organisatoris harus terlebih
dahulu mematangkan visi-misi mereka dan termasuk sikap mereka terhadap
persoalan yang mendesak dan aktual dalam lingkungan sosial serta pada saat yang
sama tersedianya para pengkader yang handal, untuk menggarap bibit-bibit
potensial tersebut.
Kader-kader potensial ini setelah mereka memahami dan meyakini visi
misiyang telah diinternalisasikan, maka jiwanya akan terpacu untuk berpartisipasi
(bekerja, berkarya dan berkreasi) seoptimal mungkin. Oleh
karenanya,organisasi/pergerakan dituntut untuk dapat mengantisipasi dan
menyalurkannya secara positif.
Sudah barang tentu sepatutnya organisasi/pergerakan mampu melakukannya,
karena bukankah organisatoris terobsesi progresif bergerak maju dengan satu
organisasi yang efisien dan efektif, bukan sebaliknya. Belakangan ini, sudah
dimulai upaya ke arah kaderisasi yang berorientasi pada karya dan aksi sosial
dalam level umum, berupa penumbuhan dan stimulasi etos intelektual dan sosial.
Jadi, bagaimana menggabungkan atau menemukan konvergensi yang ideal antara
aktifitas berpikir (belajar)sebagai [entitas mahasiswa] dan aktifitas aksi sosial
sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif.
Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai
tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya.,tampaknya perlu dicermati
kembali urgensi dari kaderisasi berkala yang dilakukan oleh organisasi apapun.
Kaderisasi merupakan kebutuhan internal organisasi yang mutlak harus dilakukan.
Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan perubahan secara alamia.
Namun hal penting yang harus pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang
komprehensif dan mapan, guna menghasilkan kader-kader yang tidak hanya
mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting
adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensidan
konsekwensinya.Sukses atau tidaknya sebuah organisasi dapat diukur oleh
kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Artinya
wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya kader-kader yang memiliki
kapasitas, kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa
depan.
3.1.2 Peran kaderisasi
1. Pewarisan nilai-nilai organisasi yang baik Proses transfer nilai adalah suatu
proses untuk memindahkan (nilai) dari generasi ke generasi berikutnya Nilai-
nilai ini bisa berupa hal-hal yang tertulis atau yang sudah tercantum dalam
aturan-aturan organisasi (seperti aturan organisasi, AD ART, dan aturan-aturan
lainnya) maupun nilai yang tidak tertulis berupa kultur,budaya-budaya baik
yang terdapat dalam organisasi (misalnya budaya diskusi) maupun kondisi-
kondisi terbaru yang menjadi kebutuhan dan keharusan untuk ditransfer.
2. Penjamin keberlangsungan organisasi. Organisasi yang baik adalah organisasi
yang mengalir. Artinya dalam setiap perjalanan waktu ada generasi yang pergi
dan ada generasi yang datang. Nah, keberlangsungan organisasi dapat dijamin
dengan adanya sumber daya manusia yang menggerakan, jika sumber daya
manusia tersebut hilang maka dapat dipastikan bahwa organisasinya pun akan
mati. Regenerasi berarti proses pergantian dari generasi lama ke generasi baru,
yang termasuk di dalamnya adanya pembaruan semangat.
3. Sarana belajar bagi anggota. Tempat di mana anggota mendapat pengetahuan
dan pengalaman yang tidak didapat di bangku sekolah formal, wahana ini
dijadikan proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok
orang dalam proses mendewasakan melalui proses pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan di sini mencakup dua hal yaitu pembentukan dan pengembangan
karakter. Pembentukan karakter dalam kaderisasi terdapat output-output yang
ingin dicapai, sehingga setiap individu yang terlibat didalamnya dapat dibentuk
karakternya sesuai dengan outputyang diharapkan. Pengembangan karena setiap
individu yang terlibat di dalam tidak berangkat dari nol tetapi sudah memiliki
karakter dan skill sendiri-sendiri yang terbentuk sejak kecil (fitrah), kaderisasi
memfasilitasi adanya proses pengembangan persoalan tersebut. Pendidikan
yang dimaksudkan di sini terbagi dua yaitu dengan pengajaran (lebih mengacu
pada karakterbuilding) dan pelatihan lebih mengacu pada skill).Dengan
meminjam istilah pendidikan, kaderisasi mengandung konsekuensi adanya
perubahan sikap dan perilaku serta proses mendewasakan. Hal ini sangat terkait
erat dengan proses yang akan dijalankan di tataran kehidupan sosial, bagaimana
menciptakan kaderisasi yang Intelek untuk mendekati kesempurnaan perubahan
sikap dan perilaku serta pendewasaan
3.2.3 Posisi Kaderisasi
1. Strategis. Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus. Perlu ada perencanaan yang matang dalam organisasi agar tujuannya
tercapai, salah satunya adalah kaderisasi yang baik. Bila kaderisasi baik, berarti
internal organisasi tersebut baik. Bila internal kaderisasinya sudah baik, semua
tujuan organisasi bisa tercapai dan bisa „ekspansi’ke wilayah eksternal.
2. Vital. Ini menunjukkan urgensi kaderisasi. Jika kaderisasi mati, cepat atau
lambat organisasi pun akan mati,karena organisasi tidak berkembang dan tidak
mampu mengaktualisasi dirinya.
3.2.4 Fungsi kaderisasi:
1. Melakukan rekrutmen anggota baru. Penanaman awal nilai organisasi agar
anggota baru bisa paham dan bergerak menuju tujuan organisasi. Menjalankan
proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan anggota. Membina anggota
dalam setiap pergerakan. Menjaga anggota dalam nilai-nilai organisasi dan
memastikan anggota tersebut masih sepaham dan setujuan. Mengembangkan
skill and knowledgeanggota agar semakin kontributif.
2. Menyediakan sarana untuk pemberdayaan potensi anggota sekaligus sebagai
pembinaan dan pengembangan aktif. Kaderisasi akan gagal ketika potensi
anggota mati dan anggota tidak terberdayakan.
3. Mengevaluasi dan melakukan mekanisme kontrol organisasi.Kaderisasi bisa
menjadi evaluator organisasi terhadap anggota. Sejauh mana nilai-nilai itu
terterima anggota, bagaimana dampaknya, dan sebagainya.(untuk itu semua,
diperlukan perencanaan sumber daya anggota sebelumnya)
2.3.5 Aspek kaderisasi:
1. Fisikal(kesehatan)
2. Spiritual (keyakinan, agama, nilai)
3. Mental (moral dan etika, softskill, kepedulian)
4. Intelektual (wawasan, keilmuan, keprofesian)
5. Manajerial (keorganisasian, kepemimpinan)
2.3.6 Bentuk kaderisasi:
1. Kaderisasi pasif.Kaderisasi pasif dilakukan secara insidental dan merupakan
masa untuk kenaikan jenjang anggota. Pada momen ini, anggota mendapatkan
pembinaan learning to know‟ dan sedikit „learning to be‟. Pembinaan pasif
sangat penting dan efektif dalam pembinaan dan penjagaan.
2. Kaderisasi aktif Yaitu kaderisasi yang bersifat rutin dan sedikit abstrak, karena
pada kaderisasi ini, anggotalah yang mencari sendiri „materi‟-nya. Pada momen
ini, anggota mendapatkan pembinaan „learning to know’, ‘learning to do‟, dan
„learning to be‟ sekaligus. Maka dalam hal ini sangat penting untuk dipahami,
bahwa setiap rutinitas kegiatan, haruslah memberdayakan potensi anggota
sekaligus menjadi bentuk pembinaan dan pengembangan aktif bagi anggota.
Kaderisasi inisangat baik dalam proses pembinaan, penjagaan, dan
pengembangan secara sistematis.Profil Kader:Terkadang subjek kaderisasi
(sebut pimpinan, panitia) tidak memberi tahu kepada objek kaderisasi
(bawahan, anggota), tentang sosok kader yang seperti apa yang ingin dibentuk
atau ingin dicapai.Hal tersebut menyebabkan terjadi distorsipembentukan
karakter. Bisa jadi hal-hal penting yang diberikan tidak diterima sebagai hal
penting oleh objek kaderisasi.
Terkadang ada yang hanya berorientasi pada tercapainya tujuan organisasi pada
masa kepemimpinannya, tetapi ia berharap adanya kegagalan pada periode
organisasi berikutnya, sehingga nyaris tidak terjadi kaderisasi. Profil ini bisa
terkait dalam 4 hal (contoh saja):
1. Berhubungan dengan diri si kader (pengembangan diri kader: wawasan,
kemampuan)
2. Berhubungan dengan organisasi (kader yang mau berkontribusi untuk
organisasi)
3. Berhubungan dengan masyarakat (kader yang bisa menjadi solusi bagi
permasalahan bangsa)
4. Berhubungan dengan basis organisasi (kader harus sesuai dengan basis
organisasi, misal: keilmuan, keprofesian, minat, bakat)Profil kader ini tidak
hanya digunakan ketika kaderisasi yang bersifat insidental saja (event),
tetapi juga kaderisasi berkelanjutan yang beriringan dengan aktivitas
organisasi. Selain itu, tidak cukup hanya menjadikan calon kader menjadi
objek kaderisasi. Sebaiknya kita juga „melakukan sesuatu‟ kepada
lingkungan atau suasana di sekitar calon kader agar lebih kondusif untuk
mencapai profil-profil ini. Misalnya, pengkader harus telah mencapai profil
si calon kader. Sehingga calon kader memiliki role model langsung (bisa
terjadi percepatan pembelajaran).