Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan petunjuknya sehingga makalah “PSIKOLOGI SOSIAL” dapat
diselesaikan sebagai mana mestinya meskipun dalam bentuk yang sederhana dan
masih terdapat kekurangan yang masih memerlukan perbaikan seperlunya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian makalah ini tidak dapat
kami selesaikan tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu patutlah kiranya kami sampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu.

Malang, 08 November 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................. 3
2.1 Pengertian Psikologi Sosial ...................................................................... 3
2.2 Sejarah Perkembangan Psikologi Sosial .................................................. 6
2.3 Ruang Lingkup Psikologi Sosial ............................................................ 10
2.4 Perspektif Dalam Psikologi Sosial ......................................................... 11
2.5 Konsep Dasar Psikologi Sosial Dan Implementasinya Dalam . Kehidupan
Masyarakat ............................................................................................. 25
2.6 Metode-metode Psikologi Sosial ............................................................ 28
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 32
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 32
3.2 Saran ....................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 33

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan diantara manusia tersebut
ternyata tidak selamanya berjalan lancar. Adakalanya muncul kesalah
pahaman, perselisihan, pertengkaran, permusuhan, bahkan peperangan.
Lingkup kejadiannya tidak saja terjadi dalam skala yang kecil ditingkat
keluarga dan lingkungan kelurahan tetapi juga bisa terjadi dalalm skala
yang lebih besar ditingkat nasional dan internasional. Dalam kajian
psikologi sosial hal ini terjadi karena tidak adanya kesamaan pandangan
terhadap suatu pola perilaku pada suatu struktur kelompok sosial. Masing-
masing pihak merespon rangsangan sosial yang diterimanya dari
lingkungan sosial, sehingga memunculkan sikap memilih atau
menghindari sesuatu.
Objek pembahasan dari Psikologi Sosial tidaklah berbeda dengan
psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena Psikologi Sosial
adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila objek pembahasan
psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka Psikologi Sosial adalah
kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum
adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang
terlepas dari alam sekitar.
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, objek pembahasan psikologi sosial
adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu
ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yanbg
tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhlukNya yang lain. Kelebihan
inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan
makhluk yang lebih kuat, dan menciptakan segala sesuatu yang dapat
menyempurnakan dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia

1
terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah
individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.
Masalah-masalah yang terjadi pada kalangan remaja menunjukkan
bahwa betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu
dalam kelompok sosial. Psikologi Sosial dalam hal ini membantu
memberikan pemecahan persoalannya dengan upaya pendidikan
keagamaan.
1.2 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana penyelesaian masalah-masalah yang
terjadi dilingkungan sekitar kita
2. Menjadikan kita sebagai manusia yang disiplin serta menjunjung tinggi
nilai kesejahteraan hidup bersama
3. Menjadikan kita sebagai manusia yang tidak egois dengan
mementingkan urusan pribadi
4. Memahami dan mengimplementasikan fungsi Psikologi Sosial dalam
kehidupan sehari-hari

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Psikologi Sosial


Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan
kelompok. Psikologi sosial merupakan cabang ilmu dari psikologi yang baru
muncul dan intensif dipelajari pada tahun 1930. Secara sederhana objek
material dari psikologi sosial adalah fakta-fakta, gejala-gejala serta kejadian-
kejadian dalam kehidupan sosial manusia. Sekilas ternyata objek psikologi
sosial mirip dengan ilmu sosiolgi dan bila digambarkan sebenarnya psikologi
sosial adalah merupakan pertemuan irisan antara ilmu psikologi dan ilmu
sosilogi.
Ada beberapa Definisi psikologi social menurut para ahli :
a) Hubert Bonner
Psikologi Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
manusia.
b) A.M . chorus
Psikologi Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
c) Roueck and Warren dalam bukunya “Sociology“ memberikan
batasan bahwa : “Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang
mempelajari segisegi psychologis daripada tingkah laku manusia,
yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.“ Dalam definisi ini telah
dinyatakan bahwa interaksi manusia telah nyata pengaruhnya pada
tingkah laku manusia.
d) Boring, Langveld, and Weld dalam bukunya “Foundations of
Psychology “ berpendapat bahwa : “Psikologi sosial adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam
kelompoknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.“

3
e) Berhm & Kassin
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari cara
individu berpikir, merasa, dan bertingkah laku dalam setting sosial.
f) Davis O Sears
g) Psikologi Sosial merupakan usaha sistematis untuk memahami
perilaku sosial, yakni : Bagaimana kita mengamati orang lain dan
situasi social, Bagaimana orang lain bereaksi terhadap kita,
Bagaimana kita dipengaruhi oleh situasi social.
h) Sarlito Wirawan, setelah menyimpulkan beberapa defenisi
psikologi sosial membedakan tiga wilayah studi psikologi sosial
sebagai berikut:
1. Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu,
misalnya studi tentang persepsi, motivasi, proses belajar,
atribusi (sifat). Walaupun topik-topik ini bukan monopoli
dari psikologi sosial, namun psikologi sosial tidak dapat
menghindar dari studi tentang topik-topik ini.
2. Studi tentang proses-proses individual bersama, seperti
bahasa, sikap sosial dan sebagainya.
3. Studi tentang interaksi kelompok, misalnya: kepemimpinan,
komunikasi, hubungan kekuasaan, otoriter, konformitas
(keselarasan), kerjasama, persaingan, peran dan sebagainya.
i) Sherif & Musfer (1956)
psikologi social adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku
individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus social. Dalam
defenisi ini, stimulus social diartikan bukan hanya manusia, tetapi
juga benda-benda dan hal-hal lain yang diberi makna social.
j) Krech, Crutchfield, dan Ballachey (1962) menyatakan bahwa :
“Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku
individu di dalam masyarakat.“

4
k) Joseph E. Mc. Grath (1965) menyatakan bahwa : “Psikologi sosial
adalah ilmu yang menyelidiki tingkah laku manusia sebagaimana
dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan dan tindakan dari orang lain.
l) Show & Costanzo (1970)
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah
laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang social.
m) Gordon Allport (1985)
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami
dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku
seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara
nyata/aktual, dalam bayangan/imajinasi dan dalam kehadiran yang
tidak langsung (implied).
n) Michener & Delamater (1999)
Psikologi Sosial adalah studi alami tentang sebab-sebab dari prilaku
sosial manusia.
o) Menurut Baron & Byrne (2006), psikologi social adalah bidang
ilmu yang mencari pemahaman tetnang asal mula dan penyebab
terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam situasi-situasi sosial.
Defenisi ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap asal
mula dan penyebab terjadinya perilaku dan pikiran.
Pendapat para tokoh tentang pengertian psikologi sosial diatas sangat
beragam. Namun demikian tidaklah berarti antara yang satu dengan yang
lainnya saling bertentangan. Perpaduan diantara pendapat tersebut akan dapat
saling melengkapi dan menyempurnakan. Rangkuman pengertian dari
berbagai pendapat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : “Psikologi
sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah laku
individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.“ Dengan
demikian membicarakan psikologi sosial tidak dapat dilepaskan dari
pembicaraan individu yang berhubungan dengan situasi-situasi sosial.

5
2.2 Sejarah Perkembangan Psikologi Sosial
Psikologi sosial menjadi satu ilmu yang mandiri baru sejak tahun 1908.
Pada tahun itu ada dua buku teks yang terkenal yaitu "Introduction to Social
Psychology" ditulis oleh William McDougall - seorang psikolog - dan
"Social Psychology : An Outline and Source Book , ditulis oleh E.A. Ross -
seorang sosiolog. Berdasarkan latar belakang penulisnya maka dapat
dipahami bahwa psikologi sosial bisa di"claim" sebagai bagian dari
psikologi, dan bisa juga sebagai bagian dari sosiologi.
Publikasi lain yang dianggap fenomenal dalam kelahiran psikologi
social adalah tulisan dari Floyd Allport pada tahun 1924. Dalam tulisannya
Allport terlihat berorientasi modern, setidaknya dalam padangan saat ini.
Argumentasinya terbukti bahwa tingkah laku social berakar dari berbagai
factor, mulai dari kehadiran orang lain hingga penggunaan metode
eksperimental untuk penelitian psikologi social. Ia juga mengangkat isu yang
ternyata di kemudian hari masih diperbincangkan dan didiskusikan misalnya
konformitas dan emosi seseorang yang terlihat dari ekspresi wajah.
Tokoh lain yang berpengaruh pada perkembangan psikologi adalah Kurt
Lewin. Lewin dengan Teorinya field Theori (teori lapangan)
mengembangkan bagaimana perilaku terbentuk. Dia memberikan rumusan
teoritis B = f (P,E). Tingkah laku (B: Behavioral) merupakan hasil dari
fungsi (f) individu (P) dan lingkungan (E: Environment).
Psikologi sosial juga merupakan pokok bahasan dalam sosiologi karena
dalam sosiologi dikenal ada dua perspektif utama, yaitu perspektif struktural
makro yang menekankan kajian struktur sosial, dan perspektif mikro yang
menekankan pada kajian individualistik dan psikologi sosial dalam
menjelaskan variasi perilaku manusia.. Di Amerika disiplin ini banyak dibina
oleh jurusan sosiologi - di American Sociological Association terdapat satu
bagian yang dinamakan "social psychological section", sedangkan di
Indonesia, secara formal disiplin psikologi sosial di bawah binaan fakultas
psikologi, namun dalam prakteknya tidak sedikit para pakar sosiologi yang
juga menguasai disiplin ini sehingga dalam berbagai tulisannya, cara

6
pandang psikologi sosial ikut mewarnainya. Tahun 1970 dan 1980-an
merupakan puncak masa pendewaan psikologi social. Ragam topic
penelitiannya juga meluas. Misalnya, kita temui atribusi, sikap, perbedaan
geder, psikolgi lingkungan, psikologi politik dan masih banyak lagi yang
lainnya.
Di masa depan, penelitian akan mengarah pada kognisi dan penerapan
psikologi social dengan menggunakan perfektif kebudayaan. Factor kognisi
berupa atribusi, sikap, stereotip, prasangka dan disonansi kognitif (Baron dan
Byrne, 1994; Glassman dan Hadd, 2004) adalah dasar dari tingkah laku
sosial manusia. Ketertarikan untuk mengembangkan faktor ini dalam
psikologi sosial berkembang pada tahun 1970-an. Perpektif kebudayaan dan
sosial sebagai tingkat analisis utama. Hal ini terlihat pada perkembangan
identitas sosial, representasi sosial dan sebagainya.
Kelahiran psikologi di Indonesia menjadi awal dari keberadaan
psikologi sosial di Indonesia. Diawali dengan munculnya bagian psikologi
sosial di fakultas psikologi di Universitas Indonesia pada tahun 1967.
Kelahirannya di Indonesia bersamaan dengan masa-masa berkembangnya
psikologi sosial di dunia. Selanjutnya, ditahun yang sama, fakultas psikologi
Universitas Indonesia mengembangkan bagian psikologi sosial yang
kemudian menghasilkan para peneliti-peneliti awal psikologi sosial di
Indonesia. Psikologi social merupakan perkembangan ilmu pengetahuan
yang baru dan merupakan cabang dari ilmu pengetahuan psikologi pada
umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia
dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial. Dari berbagai pendapat
tokoh-tokoh tentang pengertian psikologi social dapat disimpulkan bahwa
psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang pengalaman dan tingkah
laku individu-individu dalam hubungannya dengan situasi sosial.
Sedangkan latar belakang timbulnya psikologi sosial, banyak beberapa tokoh
berpendapat, semisal, Gabriel Tarde mengatakan, pokok-pokok teori
psikologi sosial berpangkal pada proses imitasi sebagai dasar dari pada
interaksi sosial antar manusia. Berbeda lagi dengan Gustave Le Bon, bahwa

7
pada manusia terdapat dua macam jiwa yaitu jiwa individu dan jiwa massa
yang masing-masing berlainan sifatnya.
Jiwa massa lebih bersifat primitif (buas, irasional, dan penuh sentimen) dari
pada sifat-sifat jiwa individu. Berlaianan dengan Le Bon, Sigmund Freud
berpendapat bahwa jiwa massa itu sebenarnya sudah terdapat dan tercakup
oleh jiwa individu, hanya saja sering tidak disadari oleh manusia itu sendiri
karena memang dalam keadaan terpendam. Dan masih banyak lagi tokoh-
tokoh yang berpendapat dalam buku yang mempunyai pengaruh terhadap
perkembangan psikologi sosial. Pada tahun 1950 dan 1960 psikologi sosial
tumbuh secara aktif dan program gelar dalam psikologi dimulai disebagaian
besar universitas . Dasar mempelajari psikologi sosial berdasarkan potensi –
potensi manusia, dimana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah
individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat. Potensi-potensi tersebut
antara lain:
1. Kemampuan menggunakan bahasa
2. Adanya sikap etik
3. Hidup dalam 3 dimensi (dulu, sekarang, akan datang )
Ketiga pokok di atas biasa disebut sebagai syarat human minimum.
Dengan demikian yang tidak memenuhi human minimum dengan sendirinya
sukar digolongkan sebagai masyarakat. Obyek manusia mempelajari
psikologi sosial adalah kegiatan-kegiatan sosial / gejala-gejala sosial.
Sedangkan metode sosial antara lain : a. Metode Eksperimen, b. Metode
survey, c. Metode Observasi, d. Metode diagnostik – psychis, e. Metode
sosiometri.
Urutan kronologi perkembangan psikologi social adalah sebagai berikut :
a. 1898: Gabriel de Tarde mempublikasikan Etudes de Psychologie
Sociale (Studies of Social Psychology) yang banyak membahas
tentang imitasi, dasar teori belajar sosial dan konformitas. Dan dalam
American Journal of Psychology, Norman Triplett menggambarkan
eksperimen yang berkaitan dengan fasilitasi sosial.
b. 1908 : Edward Ross dan William McDougall mempublikasikan buku
teks Psikologi Sosial

8
c. 1918 – 1920 : para psikolog sosial (W. I. Thomas dan F. Znaniecki’s)
mulai mendefinisikan ranah mereka. Sikap menjadi konsep utama.
d. 1921 : The Journal of Abnormal Psychology menjadi The Journal of
Abnormal and Social Psychology
e. 1924: Floyd Allport mempublikasikan pengaruh social
f. 1934 : George Herbert Mead mempublikasikan bukunya yang
berjudul Mind, Self and Society yang menekankan pada interaksi
antara diri (self) dan orang lain
g. 1935 : Buku pegangan Psikologi Sosial untuk pertama kalinya
diterbitkan dengan Carl Murchinson sebagai editornya.
h. 1936 : Muzafer Sherif menjelaskan proses konformitas dalam The
Psychology of Social Norms
i. 1939 : Kurt Lewin, bersama dengan muridnya Ronald Lippit dan
Ralph White, melaporkan studi eksperimental mengenai gaya-gaya
kepemimpinan. Pada tahun yang sama, Dollar-Miller mengenalkan
teori frustasi-agresi
j. 1941 : Dalam Social Learning and Imitation, Neal Miller dan Jhon
Dollar mengemukakan teori yang perluasan dari prinsip-prinsip
behavioristik dalam perilaku social.
k. 1945 : Kurt Lewin mengemukakan penelitian tentang Dinamika
Kelompok
l. 1954 : Buku pegangan Psikologi Sosial edisi modern diterbitkan
dengan Gardner Linzey sebagai editornya.
m. 1957 : Leon Festinger mempublikasikan A Theory of Cognitive
Dissonance, yang menampilkan suatu model yang menekankan pada
konsistensi antara pemikiran dan perilaku
n. 1958 : Fritz Heider memberikan pondasi awal bagi teori atribusi
melalui publikasi pada ThePsychological of Interpersonal Behavior
o. 1959 : Jhon Thibaut dan Harold Kelley mempublikasikan The Social
Psychology of Group yang merupakan pondasi bagi teori pertukaran
social

9
p. 1965 : The Journal of Abnormal and Social Psychology terbagi dalam
dua publikasi yang terpisah, The Journal of Abnormal Psychology
menjadi The Journal of Personality and Social Psychology
q. 1985 : Edisi Ketiga buku pegangan Psikologi Sosial dipublikasikan
dengan Gardner Linzey dan Elliot Aronson sebagai editornya.
2.3 Ruang Lingkup Psikologi Sosial
Psikologi sosial yang menjadi obyek studinya adalah segala gerak-gerik
atau tingkah laku yang timbul dalam konteks sosial atau lingkungan
sosialnya. Oleh karenanya masalah pokok yang dipelajari adalah pengaruh
sosial atau perangsang sosial. Hal ini terjadi karena pengaruh sosial inilah
yang mempengaruhi tingkah laku individu. Berdasarkan inilah psikologi
social membatasi diri dengan mempelajari dan menyelidiki tingkah laku
individu dalam hubungannya dengan situasi perangsang sosial (Ahmadi,
2005). Obyek pembahasan dari psikologi sosial tidaklah berbeda dengan
psikologi secara umumnya. Hal ini bisa dipahami karena psikologi sosial
adalah salah satu cabang ilmu dari psikologi. Bila obyek pembahasan
psikologi adalah manusia dan kegiatannya, maka psikologi sosial adalah
kegiatan-kegiatan sosialnya. Masalah yang dikupas dalam psikologi umum
adalah gejala-gejala jiwa seperti perasaan, kemauan, dan berfikir yang
terlepas dari alam sekitar. Sedangkan dalam psikologi sosial masalah yang
dikupas adalah manusia sebagai anggota masyarakat, seperti hubungan
individu dengan individu yang lain dalam kelompoknya.
Psikologi sosial dalam membicarakan obyek pembahasannya dapat pula
bersamaan dengan sosiologi. Masalah-masalah sosial yang dibicarakan
dalam sosiologi adalah kelompok-kelompok manusia dalam satu kesatuan
seperti macam-macam kelompok, perubahan-perubahannya, dan macam-
macam kepemimpinannya. Sedangkan dalam psikologi sosial adalah
meninjau hubungan individu yang satu dengan yang lainnya seperti
bagaimana pengaruh terhadap pimpinan, pengaruh terhadap anggota,
pengaruh terhadap kelompok lainnya. Persamaan-persamaan pembahasan
sebagaimana penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup
pembahasan psikologi sosial berada pada ruang antara psikologi dan

10
sosiologi. Titik persinggungan inilah yang dalam sejarah pertumbuhan ilmu
pengetahuan memunculkan ilmu baru dalam lapangan psikologi, yakni
psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan bagian dari psikologi yang
secara khusus mempelajari tingkah laku manusia atau kegiatan-kegiatan
manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosialnya. (Ahmadi,
2002)
2.4 Perspektif Dalam Psikologi Sosial
Ada empat perspektif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku
sosial., yaitu : perilaku (behavioral perspectives) , kognitif (cognitive
perspectives), stuktural (structural perspectives), dan interaksionis
(interactionist perspectives). Perspektif perilaku dan kognitif lebih banyak
digunakan oleh para psikolog sosial yang berakar pada psikologi. Mereka
sering menawarkan jawaban yang berbeda atas sebuah pertanyaan :
"Seberapa besar perhatian yang seharusnya diberikan oleh para psikolog
sosial pada kegiatan mental dalam upayanya memahami perilaku sosial?".
Perspektif perilaku menekankan, bahwa untuk dapat lebih memahami
perilaku seseorang, seyogyanya kita mengabaikan informasi tentang apa
yang dipikirkan oleh seseorang. Lebih baik kita memfokuskan pada perilaku
seseorang yang dapat diuji oleh pengamatan kita sendiri.
Dengan mempertimbangkan proses mental seseorang, kita tidak
terbantu memahami perilaku orang tersebut, karena seringkali proses mental
tidak reliabel untuk memprediksi perilaku. Misalnya tidak semua orang yang
berpikiran negatif tentang sesuatu, akan juga berperilaku negatif. Orang yang
bersikap negative terhadap bangsa A misalnya, belum tentu dia tidak mau
melakukan hubungan dengan bangsa A tersebut. Intinya pikiran, perasaan,
sikap (proses mental) bukan sesuatu yang bisa menjelaskan perilaku
seseorang. Sebaliknya, perspektif kognitif menekankan pada pandangan
bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari
proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara
otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan
mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa
dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa

11
menjelaskan perilaku social seseorang. Perspektif struktural dan interaksionis
lebih sering digunakan oleh para psikolog sosial yang berasal dari disiplin
sosiologi. Pertanyaan yang umumnya diajukan adalah : " Sejauh mana
kegiatan-kegiatan individual membentuk interaksi sosial ?". Perspektif
struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan
sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku
seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Seorang
ayah rajin bekerja mencari nafkah guna menghidupi keluarganya. Mengapa ?
Karena masyarakat mengharapkan dia berperilaku seperti itu, jika tidak maka
dia tidak pantas disebut sebagai "seorang ayah". Perspektif interaksionis
lebih menekankan bahwa manusia merupakan agen yang aktif dalam
menetapkan perilakunya sendiri, dan mereka yang membangun harapan-
harapan sosial. Untuk lebih jelas, di bawah ini diuraikan satu persatu
keempat prespektif dalam psikologi sosial.
1) Perspektif Perilaku (Behavioral Perspective)
Pendekatan ini awalnya diperkenalkan oleh John B. Watson (1941,
1919). Pendekatan ini cukup banyak mendapat perhatian dalam psikologi
di antara tahun 1920-an s/d 1960-an. Ketika Watson memulai
penelitiannya, dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu
alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial,
tetapi juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran,
kesadaran, atau pun imajinasi.
Dalam hal ini pandangan Watson berbeda dengan James dan Dewey,
karena keduanya percaya bahwa proses mental dan juga perilaku yang
teramati berperan dalam menyelaskan perilaku sosial. Para "behaviorist"
memasukan perilaku ke dalam satu unit yang dinamakan "tanggapan"
(responses), dan lingkungan ke dalam unit "rangsangan" (stimuli).
Menurut penganut paham perilaku, satu rangsangan dan tanggapan tertentu
bisa berasosiasi satu sama lainnya, dan menghasilkan satu bentuk
hubungan fungsional. Contohnya, sebuah rangsangan " seorang teman
datang ", lalu memunculkan tanggapan misalnya, "tersen-yum". Jadi
seseorang tersenyum, karena ada teman yang datang kepadanya. Para

12
behavioris tadi percaya bahwa rangsangan dan tanggapan dapat
dihubungkan tanpa mengacu pada pertimbangan mental yang ada dalam
diri seseorang.
Kemudian, B.F. Skinner (1953,1957,1974) membantu mengubah
fokus behaviorisme melalui percobaan yang dinamakan "operant
behavior" dan "reinforcement". Yang dimaksud dengan "operant
condition" adalah setiap perilaku yang beroperasi dalam suatu lingkungan
dengan cara tertentu, lalu memunculkan akibat atau perubahan dalam
lingkungan tersebut. Misalnya, jika kita tersenyum kepada orang lain yang
kita hadapi, lalu secara umum, akan menghasilkan senyuman yang
datangnya dari orang lain tersebut. Dalam kasus ini, tersenyum kepada
orang lain tersebut merupakan "operant behavior". Yang dimaksud dengan
"reinforcement" adalah proses di mana akibat atau perubahan yang terjadi
dalam lingkungan memperkuat perilaku tertentu di masa datang .
Misalnya, jika kapan saja kita selalu tersenyum kepada orang asing (yang
belum kita kenal sebelumnya), dan mereka tersenyum kembali kepada
kita, maka muncul kemungkinan bahwa jika di kemudian hari kita bertemu
orang asing maka kita akan tersenyum. Perlu diketahui, reinforcement atau
penguat, bisa bersifat positif dan negatif. Contoh di atas merupakan
penguat positif. Contoh penguat negatif, misalnya beberapa kali pada saat
kita bertemu dengan orang asing lalu kita tersenyum dan orang asing
tersebut diam saja atau bahkan menunjukan rasa tidak suka, maka
dikemudian hari jika kita bertemu orang asing kembali, kita cenderung
tidak tersenyum (diam saja).
Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba
menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang
diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara
lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori
Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).
a. Teori Pembelajaran Sosial.
Di tahun 1941, dua orang psikolog - Neil Miller dan John Dollard -
dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan

13
(imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink
atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut
mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang
lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses
belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar
tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning " -
"pembelajaran sosial". Perilaku peniruan (imitative behavior) kita
terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita
meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita
tidak menirunya. Agar seseorang bisa belajar mengikuti aturan
baku yang telah ditetapkan oleh masyarakat maka "para individu
harus dilatih, dalam berbagai situasi, sehingga mereka merasa
nyaman ketika melakukan apa yang orang lain lakukan, dan merasa
tidak nyaman ketika tidak melakukannya.", demikian saran yang
dikemukakan oleh Miller dan Dollard.
Dua puluh tahun berikutnya, Albert Bandura dan Richard
Walters (1959, 1963), mengusulkan satu perbaikan atas gagasan
Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan
Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui
peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun
yang kita terima. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui
pengamatan terhadap perilaku model, dan akibat yang
ditimbulkannya atas model tersebut. Proses belajar semacam ini
disebut "observational learning"pembelajaran melalui pengamatan.
Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan
bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya
dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya
melalui film atau bahkan film karton.
Menurut versi Bandura, maka teori pembelajaran sosial membahas
tentang (1) bagaimana perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan
melalui penguat (reinforcement) dan observational learning, (2)
cara pandang dan cara pikir yang kita miliki terhadap informasi, (3)

14
begitu pula sebaliknya, bagaimana perilaku kita mempengaruhi
lingkungan kita dan menciptakan penguat (reinforcement) dan
observational opportunity - kemungkinan bisa diamati oleh orang
lain.
b. Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial
antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959),
sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan
Peter Blau (1964). Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam
hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita
memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran
dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita.
Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial
pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan
yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita
umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang
lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling
mempengaruhi Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan
(reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit). Jadi
perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan
perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula
sebaliknya jika merugikanmaka perilaku terse but tidak
ditampilkan.
Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya
"Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan
beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi :"Semua tindakan
yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan
tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut
menampilkan tindakan tertentu tadi ". Proposisi ini secara eksplisit
menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan
jika ada imbalannya.

15
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial
adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu
yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box).
Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan
hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan
lingkungan.
2) Perspektif Kognitif (The Cognitive Perspective)
Kita telah memberikan indikasi bahwa kebiasaan (habit)
merupakan penjelasan alternative yang bisa digunakan untuk
memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct).
Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua
hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka
dipandang terlampau ekstrem - karena mengabaikan kegiatan
mental manusia. Seorang psikolog James Baldwin (1897)
menyatakan bahwa paling sedikit ada dua bentuk pe niruan, satu
didasarkan pada kebiasaan kita dan yang lainnya didasarkan pada
wawasan kita atas diri kita sendiri dan atas orang lain yang
perilakunya kita tiru. Walau dengan konsep yang berbeda seorang
sosiolog Charles Cooley (1902) sepaham dengan pandangan
Baldwin. Keduanya memfokuskan perhatian mereka kepada
perilaku sosial yang melibatkan proses mental atau kognitif .
Kemudian banyak para psikolog sosial menggunakan
konsep sikap (attitude) untuk memahami proses mental atau
kognitif tadi. Dua orang sosiolog W.I. Thomas dan Florian
Znaniecki mendefinisikan psikologi sosial sebagai studi tentang
sikap, yang diartikannya sebagai proses mental individu yang
menentukan tanggapan aktual dan potensial individu dalam dunia
sosial". Sikap merupakan predisposisi perilaku. Beberapa teori
yang melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Medan (Field
Theory), Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap (Concistency
Attitude and Attribution Theory), dan Teori Kognisi Kontemporer.

16
a) Teori Medan (Field Theory)
Seorang psikolog, Kurt Lewin (1935,1936) mengkaji
perilaku sosial melalui pendekatan konsep "medan"/"field" atau
"ruang kehidupan" - life space. Untuk memahami konsep ini
perlu dipahami bahwa secara tradisional para psikolog
memfokuskan pada keyakinan bahwa karakter individual
(instink dan kebiasaan), bebas - lepas dari pengaruh situasi di
mana individu melakukan aktivitas. Namun Lewin kurang
sepaham dengan keyakinan tersebut. Menurutnya penjelasan
tentang perilaku yang tidak memperhitungkan faktor situasi. Dia
merasa bahwa semua peristiwa psikologis apakah itu berupa
tindakan, pikiran, impian, harapan, atau apapun, kesemuanya itu
merupakan fungsi dari "ruang kehidupan"- individu dan
lingkungan dipandang sebagai sebuah konstelasi yang saling
tergantung satu sama lainnya.
Artinya "ruang kehidupan" merupakan juga merupakan
determinan bagi tindakan, impian, harapan, pikiran seseorang.
Lewin memaknakan "ruang kehidupan" sebagai seluruh
peristiwa (masa lampau, sekarang, masa datang) yang
berpengaruh pada perilaku dalam satu situasi tertentu. Intinya,
teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada
(field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya.
b) Teori Atribusi dan Konsistensi Sikap ( Attitude Consistency and
Attribution Theory)
Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman
mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita,
sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju
pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-
orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang
(balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman
dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada
aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance).

17
Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan
kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan
dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa
kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui
pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman. Intinya sikap
kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi
keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman.
Heider memperkenalkan konsep "causal attribution" - proses
penjelasan tentang penyebab suatu perilaku. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan
eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut
yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan
penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan
atau situasi.
c) Teori Kognitif Kontemporer
Dalam tahun 1980-an, konsep kognisi, sebagian besarnya
mewarnai konsep sikap. Istilah "kognisi" digunakan untuk
menunjukan adanya proses mental dalam diri seseorang sebelum
melakukan tindakan. Teori kognisi kontemporer memandang
manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan,
memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Manusia memproses
informasi dengan cara tertentu melalui struktur kognitif yang diberi
istilah "schema" (Markus dan Zajonc, 1985 ; Morgan dan Schwalbe,
1990; Fiske and Taylor, 1991). Struktur tersebut berperan sebagai
kerangka yang dapat menginterpretasikan pengalaman-pengalaman
sosial yang kita miliki. Jadi struktur kognisi bisa membantu kita
mencapai keterpaduan dengan lingkungan, dan membantu kita
untuk menyusun realitas sosial.
Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana
kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam
struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak
bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang

18
proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal
yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi.
3) Perspektif Struktural
Telah kita catat bahwa telah terjadi perdebatan di antara
para ilmuwan sosial dalam hal menjelaskan perilaku sosial
seseorang. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat
dikaji sebagai sesuatu proses yang (1) instinktif, (2) karena
kebiasaan, dan (3) juga yang bersumber dari proses mental.
Mereka semua tertarik, dan dengan cara sebaik mungkin lalu
menguraikan hubungan antara masyarakat dengan individu.
William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan
kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan
individu mencerminkan kebiasaan kelompok - yaitu adat-istiadat
masyarakat - atau strutur sosial . Para sosiolog yakin bahwa
struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan
cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu
pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi
berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur
sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan.
James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas
"diri" (self) - perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat
mempengaruhi diri-self. Sosiolog lain Robert Park dari Universitas
Chicago memandang bahwa masyarakat mengorganisasikan,
mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu-
individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran
inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak,
orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen.
Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita
lakukan dalam masyarakat. Beberapa teori yang melandasi
persektif strukturan adalah Teori Peran (Role Theory), Teori
Pernyataan – Harapan (Expectation-States Theory), dan
Posmodernisme (Postmodernism)

19
a) Teori Peran (Role Theory)
Walau Park menjelaskan dampak masyarakat atas perilaku
kita dalam hubungannya dengan peran, namun jauh
sebelumnya Robert Linton (1936), seorang antropolog, telah
mengembangkan Teori Peran. Teori Peran menggambarkan
interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain
sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai
dengan teori ini, harapan-harapan merupakan pemahaman
bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang
mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter,
mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan
agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut.
Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah
seorang dokter.
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975)
membantu memperluas penggunaan teori peran.
Pendekatannya yang dinamakan “life-course” memaknakan
bahwa setiap masyarakat mempunyai harapan kepada setiap
anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan
kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan
menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima tahun,
menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja
pada usia tujuh belas tahun, mempunyai istri/suami pada usia
dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di
Indonesia berbeda. Usia sekolah dimulai sejak tujuh tahun,
punya pasangan hidup sudah bisa usia tujuh belas tahun,
pensiun usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi dinamakan
“tahapan usia”(age grading).

20
b) Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)
Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-
rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika
pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu
peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini
berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi.
Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk
harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain,
sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan
mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya
interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah
tentu atribut yang paling berpengaruh terhadap munculnya
kinerja yang diharapkan adalah yang berkaitan dengan
ketrampilan kerjanya. Anggota-anggota kelompok dituntut
memiliki motivasi dan ketrampilan yang diperlukan untuk
menyelesaikan tugas-tugas kelompok yang diharapkan bisa
ditampilkan sebaik mungkin.
c) Posmodernisme (Postmodernism)
Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan,
keduanya menjelaskan perilaku social dalam kaitannya
dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer.
Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh
lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal
dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras
terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme,
contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat
modern, secara gradual seseorang akan kehilangan
individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau
jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991;
Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita
untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita
oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita

21
digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai
sementara dan kemudian kita campakkan.
Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi
gradual individualitas muncul bersamaan dengan
terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini
mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan
menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau
modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia
dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan –
nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang
bisa dihasilkannya. Setelah Perang Dunia II, manusia
makin dipandang sebagai konsumen dan juga sebagai
produsen. Industri periklanan dan masmedia
menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi
keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi
gaya hidup. Manusia lalu dinilai bukan oleh
kepribadiannya tetapi oleh seberapa besar
kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang kita
pertimbangkan sebagai “ pilihan kita sendiri” dalam hal
musik, makanan, dan lain-lainnya, sesungguhnya
merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari
kebudayaan yang cocok dengan tempat kita dalam
struktur ekonomi masyarakat kita. Misalnya, kesukaan
remaja Indonesia terhadap musik “rap” tidak lain adalah
disebabkan karena setiap saat telinga mereka dijejali oleh
musik tersebut melalui radio, televisi, film, CD, dan lain
sebagainya. Gemar musik “rap” menjadi gaya hidup
remaja. Lalu kalau mereka tidak menyukai musik “rap”,
dia bukan remaja. Perilaku seseorang ditentukan oleh
gaya hidup orang-orang lain yang ada di sekelilingnya ,
bukan oleh dirinya sendiri. Kepribadiannya hilang
individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern,

22
demikian menurut pandangan penganut “posmo”.
Intinya, teori peran, pernyataan-harapan, dan
posmodernisme memberikan ilustrasi perspektif
struktural dalam hal bagaimana harapan-harapan
masyarakat mempengaruhi perilaku social individu.
Sesuai dengan perspektif ini, struktur sosial – pola
interaksi yang sedang terjadi dalam masyarakat –
sebagian besarnya pembentuk dan sekaligus juga
penghambat perilaku individual.
4) Perspektif Interaksionis (Interactionist Perspective)
Seorang sosiolog yang bernama George Herbert Mead
(1934) yang mengajar psiokologi social pada departemen filsafat
Universitas Chicago, mengembangkan teori ini. Mead percaya
bahwa keanggotaan kita dalam suatu kelompok sosial
menghasilkan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama
budaya. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mengakui bahwa
individu-individu yang memegang posisi berbeda dalam suatu
kelompok, mempunyai peran yang berbeda pula, sehingga
memunculkan perilaku yang juga berbeda. Misalnya, perilaku
pemimpin berbeda dengan pengikutnya. Dalam kasus ini, Mead
tampak juga seorang strukturis. Namun dia juga menentang
pandangan bahwa perilaku kita dipengaruhi oleh lingkungan sosial
atau struktur sosial. Sebaliknya Mead percaya bahwa kita sebagai
bagian dari lingkungan social tersebut juga telah membantu
menciptakan lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi, dia member
catatan bahwa walau kita sadar akan adanya sikap bersama dalam
suatu kelompok/masyarakat, namun hal tersebut tidaklah berarti
bahwa kita senantiasa berkompromi dengannya.
Mead juga tidak setuju pada pandangan yang mengatakan
bahwa untuk bisa memahami perilaku sosial, maka yang harus
dikaji adalah hanya aspek eksternal (perilaku yang teramati) saja.
Dia menyarankan agar aspek internal (mental) sama pentingnya

23
dengan aspek eksternal untuk dipelajari. Karena dia tertarik pada
aspek internal dan eksternal atas dua atau lebih individu yang
berinteraksi, maka dia menyebut aliran perilakunya dengan nama
“social behaviorism”. Dalam perspektif interaksionis ada beberapa
teori yang layak untuk dibahas yaitu Teori Interaksi Simbolis
(Symbolic Interaction Theory), dan Teori Identitas (Identity
Theory).
a. Teori Interaksi Simbolis (Symbolic Interaction Theory)
Walau Mead menyarankan agar aspek internal juga dikaji
untuk bisa memahami perilaku sosial, namun hal tersebut
bukanlah merupakan minat khususnya. Justru dia lebih tertarik
pada interaksi, di mana hubungan di antara gerak-isyarat
(gesture) tertentu dan maknanya, mempengaruhi pikiran pihak-
pihak yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi Mead,
gerakisyarat yang maknanya diberi bersama oleh semua pihak
yang terlibat dalam interaksi adalah merupakan “satu bentuk
simbol yang mempunyai arti penting” ( a significant symbol”).
Kata-kata dan suara-lainnya, gerakan-gerakan fisik, bahasa
tubuh (body langguage), baju, status, kesemuanya merupakan
simbol yang bermakna. Mead tertarik mengkaji interaksi
sosial, di mana dua atau lebih individu berpotensi
mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang
dipengaruhi oleh simbol yang dikeluarkan orang lain, demikian
pula perilaku orang lain tersebut. Melalui pemberian isyarat
berupa simbol, kita mengutarakan perasaan, pikiran, maksud,
dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan
orang lain, kita menangkap pikiran, perasaan orang lain
tersebut. Teori ini mirip dengan teori pertukaran sosial.
b. Teori Identitas (Identity Theory)
Teori Indentitas dikemukakan oleh Sheldon Stryker
(1980). Teori ini memusatkan perhatiannya pada
hubungan saling mempengaruhi di antara individu dengan

24
struktur social yang lebih besar lagi (masyarakat). Individu
dan masyarakat dipandang sebagai dua sisi dari satu mata
uang. Seseorang dibentuk oleh interaksi, namun struktur
sosial membentuk interaksi. Dalam hal ini Stryker
tampaknya setuju dengan perspektif struktural, khususnya
teori peran. Namun dia juga memberi sedikit kritik
terhadap teori peran yang menurutnya terlampau tidak
peka terhadap kreativitas individu.
Teori Stryker mengkombinasikan konsep peran
(dari teori peran) dan konsep diri/self (dari teori interaksi
simbolis). Bagi setiap peran yang kita tampilkan dalam
berinteraksi dengan orang lain, kita mempunyai definisi
tentang diri kita sendiri yang berbeda dengan diri orang
lain, yang oleh Stryker dinamakan “identitas”. Jika kita
memiliki banyak peran, maka kita memiliki banyak
identitas. Perilaku kita dalam suatu bentuk interaksi,
dipengaruhi oleh harapan peran dan identitas diri kita,
begitu juga perilaku pihak yang berinteraksi dengan kita.
Intinya, teori interaksi simbolis dan identitas
mendudukan individu sebagai pihak yang aktif dalam
menetapkan perilakunya dan membangun harapan-harapan
sosial. Perspektif iteraksionis tidak menyangkal adanya
pengaruh struktur sosial, namun jika hanya struktur sosial
saja yang dilihat untuk menjelaskan perilaku sosial, maka
hal tersebut kurang memadai.
2.5 Konsep Dasar Psikologi Sosial Dan Implementasinya Dalam Kehidupan
Masyarakat
Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, obyek pembahasan psikologi sosial
adalah terpusat kepada kehidupan manusia. Manusia adalah salah satu
ciptaan Tuhan yang memiliki kecerdasan, kesadaran, dan kemauan yang
tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Kelebihan
inilah yang mendorong manusia mampu menguasai alam, menaklukkan

25
makhluk yang lebih kuat, dan menciptakan segala sesuatu yang dapat
menyempurnakan dirinya. Hal ini bisa tercapai karena dalam diri manusia
terdapat potensi yang selalu mengalami proses perkembangan setelah
individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya.
Potensi-potensi yang dimiliki manusia sehingga membedakan dengan
makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya adalah sebagai berikut (Ahmadi, 2002).
a. Kemampuan menggunakan bahasa
Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini
hanyalah semata-mata terdapat pada manusia dalam pengertian
bisa merubah, menambah, dan mengembangkan bahasa yang
digunakan. Sedangkan pada binatang memang ada tetapi masih
sangat sederhana sekali dan terbatas pada bunyi suara yang
merupakan isyarat atau tanda-tanda.
b. Adanya sikap etik
Dalam setiap masyarakat pasti terdapat peraturan atau norma-
norma yang mengatur tingkah laku anggota-anggotanya baik itu
masyarakat modern maupun masyarakat yang masih terbelakang
sekalipun norma tersebut merupakan ketentuan apakah sesuatu
perbuatan itu dipandang baik atau buruk. Norma tersebut tidak
selalu sama antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya
sesuai dengan adat kebiasaan, agama, dan perkembangan
kebudayaan umumnya dimana dia hidup. Individu sebagai anggota
masyarakat berusaha untuk berbuat sesuai dengan norma yang
berlaku dalam masyarakat karena adanya sikap etik yang
dimiliknya. Namun demikian sesuai dengan tuntutan kebudayaan
manusia berusaha untuk menyempurnakan norma yang telah ada.
c. Hidup dalam 3 dimensi waktu
Manusia memiliki kemampuan untuk hidup dalam 3 dimensi
waktu. Manusia mampu mendasarkan tingkah lakunya pada
pengalaman masa lalunya, kebutahan-kebutuhan sekarang, dan
tujuan yang akan dicapai pada masa yang akan datang.
Pengalaman-pengalaman masa lalu merupakan pegangan bagi

26
perbuatan-perbuatannya masa sekarang, sehingga kesalahan yang
sama tidak akan selalu terulang-ulang. Pengalaman-pengalaman
yang tidak baik diingat untuk tidak diperbuat lagi sedangkan
pengalaman-pengalaman yang baik dipegang untuk pedoman
dalam kegiatan-kegiatannya masa kini yang kemudian kegiatan
tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang akan datang
dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain bahwa manusia
dapat merencanakan apa yang akan diperbuat dan apa yang akan
dicapai.
Ketiga potensi diatas oleh para ahli dijadikan sebagai syarat “ human
minimum “. Oleh karenanya bila tidak terdapat ketiga potensi ini maka akan
sukar untuk dikelompokkan sebagai masyarakat manusia. Pemahaman ini
selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan kecakapan dan potensi diri
pribadinya. Dengan potensinya tersebut, manusia juga disebut sebagai
makhluk monopluralis.
Disebut demikian karena manusia dapat dipandang sebagai makhluk
individu, sosial, dan ber-Tuhan.
a. Makhluk individu
Manusia sebagai makhluk individual berarti manusia itu
merupakan suatu totalita. Individu berasal dari kata in-dividere,
yang berarti tidak dapat dipecah-pecah. Dalam aliran modern,
ditegaskan bahwa jiwa manusia itu merupakan satu kesatuan jiwa
raga yang berkegiatan secara keseluruhan.
b. Makhluk social
Manusia tidaklah mungkin hidup sendiri tanpa adanya komunikasi
dengan manusia yang lainnya. Sejak dilahirkan manusia
membutuhkan bantuan orang lain, ia memerlukan bantuan makan,
minum, dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Demikian pula
setelah tumbuh lebih besar, berbicara, belajar, berjalan, mengenal
benda, mengenal norma, dan sebagainya selalu membutuhkan
bantuan orang lain di sekitarnya.

27
c. Makhluk ber –Tuhan
Sebagai manusia yang beragama, dalam kehidupannya tidak bisa
dilepaskan dari pengakuan terhadap Tuhan. Hanya mereka yang
tergolong atheis saja yang tidak mengakui adanya Tuhan.
2.6 Metode-metode Psikologi Sosial
Dalam psikologi sosial ada beberapa metode yang dilakukan secara empiris
tidak seperti ketika psikologi sosial hanya dipikir dan direnungkan tanpa
bukti dan fakt-fakta yang jelas, ada beberapa metode yang dikemukakan oleh
beberapa ahli :
1) Metode Eksperimen
Wilhem Wundt adalah yang pertama memakai dam mendasarkan
metode ini kedalam psikologi sosial secara ilmiah, dalam metode ini
ada beberapa syarat yang diajukan oleh Wilhem:
a. Kita harus dapat menetukan dengan tepat waktu terjadi gejala yang
ingin kita selidiki
b. Kita harus dapat mengikuti langsung gejala yang ingin kita selidiki
dari mulanya sampai pada akhirnya, dan kita harus mengamati
dengan perhatian yang khusus.
c. Tiap-tiap observasi (pengamatan) harus dapat kita ulangi dalam
keadaan-keadaan yang sama.
d. Kita harus mengubah-ubah dengan sengaja syarat-syarat keadaan
eksperimen. Maksud metode ini memanglah untuk menimbulkan
dengan sengaja suatu gejala guna dapat menyelidiki
berlangsungnya dengan persiapan yang cukup dan perhatian yang
khusus.
2) Metode Survey
Dalam metode ini penyelidik mengumpulkan keterangan-keterangan
seluas mungkin mengenai kelompok tertentu yang ingin dia selidiki,
kebiasaan survey yang digunakan adalah dengan wawancara, observasi
dan angket untuk mendapatkan keterangan

28
3) Metode Diagnotik-Psikis
Dalam mengumpulkan beberapa keterangan biasanay penyelidik tidak
melakuakan dengan biasa, kadang perlu dilakukan uji test-test psikolgi
yang dapat menggambarkan segi-segi psikologi yang lebih dalam
mendapat keterangan.
4) Metode Sosiometri
Morena adalah orang yang berjasa dalam metode ini karena dialah yang
menemukannya, yang mana metode ini merupakan metode baru dalam
ilmu sosial dan terfokus untuk meneliti “intra-group- relations” atau
saling berhubungan antara anggota kelompok di dalam suatu kelompok.
Penyimpangan Psikologi Sosial

a. Pergolakan dan Pemberontakan


Proklamasi dikumandangkan sebagai pernyataan kemerdekaan Indonesia
dapat diterima di berbagai daerah walaupun tidak secara bersamaan. Rakyat
menyambut dan mendukungnya. Oleh karena itu, segera dibentuk suatu
tatanan dan kehidupan sosial baru. Rangkaian peristiwa itu disebut revolusi.
Adanya pergolakan dan pemberontakan di berbagai daerah
pascakemerdekaan, bertujuan untuk menjatuhkan kedudukan penguasa pada
saat itu, sekaligus menyatakan kelidaksetujuan mereka terhadap ideologi
pemerintah.
b. Aksi Protes dan Demonstrasi
Aksi protes disebut juga unjuk rasa yang selalu terjadi dalam kehidupan
manusia. Hal itu terjadi karena setiap orang memiliki pendapat dan
pandangan yang mungkin berbeda. Protes dapat terjadi apabila suatu hal
menimpa kepentingan individu atau kelompok secara langsung sebagai akibat
dari rasa ketidakadilan akan hak yang harus diterima. Akibatnya, individu
atau kelompok tersebut tidak puas dan melakukan tindakan penyelesaian.
Protes merupakan aksi tanpa kekerasan yang dilakukan oleh individu atau
masyarakat terhadap suatu kekuasaan. Protes dapat pula terjadi secara tidak
langsung sebagai rasa solidaritas antarsesama karena kesewenang-wenangan
pihak tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.

29
c. Kriminalitas
Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan memberi peluang bagi setiap
orang untuk berubah, tetapi perubahan tersebut tidak membawa setiap orang
ke arah yang dicita-citakan. Hal ini berakibat terjadinya perbedaan sosial
berdasarkan kekayaan, pengetahuan, perilaku, ataupun pergaulan. Perubahan
sosial tersebut dapat membawa seseorang atau kelompok ke arah tindakan
yang menyimpang karena dipengaruhi keinginan-keinginan yang tidak
terpenuhi atau terpuaskan dalam kehidupannya
Perbuatan kriminal yang muncul di masyarakat secara khusus akan
diuraikan sebagai akibat terjadinya perubahan sosial yang menimbulkan
kesenjangan kehidupan atau jauhnya ketidaksamaan sosial. Akibatnya, tidak
semua orang mendapat kebahagiaan yang sama. Adanya perbedaan tersebut
menyebabkan setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda terhadap
hak dan kewajibannya. Setiap orang harus mendapat hak disesuaikan dengan
kewajiban yang dilakukan.
d. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Bangsa Indonesia yang sedang membangun perlu memiliki sistem
administrasi yang bersih dan berwibawa, bebas dari segala korupsi, kolusi,
dan nepotisme. Masalah korupsi menyangkut berbagai aspek sosial dan
budaya, maka Bung Hatta (dalam Mubyarto) mengatakan bahwa korupsi
adalah masalah budaya. Apabila hal ini sudah membudaya di kalangan bangsa
Indonesia atau sudah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa akan sulit untuk
diberantas. Akibatnya, ha! tersebut akan menghambat proses pembangunan
nasional. Untuk memberantas korupsi, tidak hanya satu atau beberapa
lembaga pemerintahan saja yang harus berperan,rakyat Indonesia harus
bertekad untuk menghilangkan korupsi.
e. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan disintergasi dari keutuhan suatu masyarakat.
Hal itu karena tindakan yang mereka lakukan dapat meresahkan masyarakat.
Oleh karena itu, kenakalan remaja disebut sebagai masalah sosial. Munculnya
kenakalan remaja merupakan gejolak kehidupan yang disebabkan adanya
perubahan-perubahan sosial di masyarakat, seperti pergeseran fungsi keluarga

30
karena kedua orangtua bekerja sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi
berkurang.
Pemecahan Masalah Psikologi Sosial
Pemecahan Masalah Psikologi Sosial Melalui Pendekatan Interdisipliner,
Pendekatan Multidispliner karena subsistem masalah sosial banyak
jumlahnya, kita harus menggunakan disiplin ilmu sosial yang juga lebih dari
satu. Dengan demikian, pada pendekatan ini kita gunakan disiplin ilmu sosial
yang sesuai dengan jumlah subsistem masalah yang kita analisa dan kita kaji,
disebut pendekatan interdisipliner. Mengingat pendekatan sistem yang
sekaligus juga pendekatan interdisipliner yang menggunakan disiplin
akademis yang jamak. Pendekatan ini dapat pula disebut sebagai pendekatan
multidisipliner. Jadi, pendekatannya pada hakekatnya sama. Ditinjau dari
hakekatnya,pendekatan tadi tidak asing bagi manusia, karena berdasarkan
cara berfikir manusia yang multidimensional dalam mengevaluasi suatu gejala
atau masalah.

31
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada dasarnya psikologi sosial sangat berhubungan dengan ilmu sosial
lainnya, dimana psikologi sosial merupakan bagian dari semua cabang ilmu
sosial lainnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia
dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial, seperti situasi kelompok,
situasi massa dan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan
diantara manusia tersebut ternyata tidak selamanya berjalan lancar.
Adakalanya muncul kesalah pahaman, perselisihan, pertengkaran,
permusuhan, bahkan peperangan. Disitulah Psikologi Sosial akan berperan
dalam menghadapi permasalahn-permasalahan tersebut.
Sebagaimana ilmu-ilmu yang lain, psikologi sosial bertujuan untuk
mengerti suatu gejala atau fenomena. Dengan mengerti suatu fenomena, kita
dapat membuat peramalan-peramalan tentang kapan akan terjadinya fenomena
tersebut dan bagaimana hal itu akan terjadi. Selanjutnya, dengan pengertian
dan kemampuan peramalan itu, kita dapat mengendalikan fenomena itu
sampai batas-batas tertentu. Inilah sebetulnya tujuan dari ilmu, termasuk
psikologi sosial.
3.2 Saran
Untuk meningkatkah Rasa Sosial maka Ilmu Psikologi sosial tidak hanya di
pelajari oleh mahasiswa tapi di aplikasikan dalam hidupnya dan untuk
pemerintah agar mentaati ilmu psikologi dan di aplikasikan kekehidupan
sehari hari agar tidak ada penyimpangan yang terjadi, serta agar rakyat
Indonesia mentaati semua peraturan yang ada dan tidak melanggar
untuk menjadikan rakyat Indonesia menjadi aman,tentram dan sejahtera.

32
DAFTAR PUSTAKA

http://mrcumlaude.files.wordpress.com/2010/10/ips-1-paket-14.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_sosial
http://file.upi.edu/Direktori/Fip/Jur._Pend._Luar_Sekolah/194505031971091-
Muhammad_Kosim_Sirodjudin/Perspektif_Dalam_Psikologi_Sosial.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/Fip/Jur._Pend._Luar_Sekolah/194505031971091-
Muhammad_Kosim_Sirodjudin/Psisos.9.05.pdf
http://www.psychologymania.com/2011/09/sejarah-dan-defenisi-psikologi-
sosial.html
Ahmadi, Abu. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta : Rineka Cipta

33