Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

SINTESIS DAN KARAKTERISASI GARAM TUNGGAL DAN GARAM


RANGKAP: GARAM DAPUR DAN TAWAS

Dosen pengampu:
Asiyah Nurrahmajanti, M. Si.

Tanggal Praktikum : Kamis, 18 Oktober 2018


Tanggal Pengumpulan Laporan : Kamis, 25 Oktober 2018

Disusun oleh :
Ahdan Sabil
1177040006

Kelompok 7

Nama anggota:
Andini Putri Winangun 1177040011
Anggia Siti Febrianti 1177040012
Frida Aziz Damayanti 1177040028
Lisintya Rahayu 1177040041

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2018
BAB I
TINJAUAN PUSAKA

1.1. Tujuan
Tujuan pada praktikum kali ini diantaranya
1. Mampu mensintesis zat anorganik dan senyawa kompleks
2. Menganalisa sintesis NaCl dari NaHCO3 dalam soda kue
3. Menganalisa sintesisi KAl(SO4)2 .12H2O dari zat-zat kimia pembentuknya
4. Menentukan rendemen hasil sintesis NaCl
5. Menentukan rendemen hasil sintesis KAl(SO4)2 .12H2O
6. Membandingkan tawas buatan dan tawas komersil dalam uji penjernihan air kotor

1.2. Dasar Teori

Garam-garam semua asam telah diketahui; biasanya tidak berwarna, berbentuk kristal,
padatan ionik. Wara timbul dari anion-anion yang berwarna, kecuali bilamana kerusakan
diinduksi dalam kisi, misalnya radiasi, juga menyebabkan pusat warna, melalui penjebakkan
elektron dalam lubang. Garam-garam logam alkali umumnya dicirikan oleh titik leleh yang
tinggi, oleh hantaran listrik lelehannya, dan kemudahannya larut dalam air. Unsur-unsur pada
golongan ini biasanya terhidrasi bilamana anion-anionnya kecil, seperti dalam halida, karena
energi hidrasi ion-ion tersebut tidak cukup mengimbangi energi yang diperlukan untuk
memperluas kisi (Cotton dan Wilkinson, 1989).

Menurut Day dan Undewood (2002), garam merupakan salah satu contoh zat padat kristal,
garam adalah produk lain di luar air yang terbentuk ketika sebuah asam bereaksi dengan sebuah
basa. Sebagai contoh, ketika asam klorida dan natrium dan natrium hidroksida bereaksi,
produknya adalah garam (natrium klorida) dan air. Ditulis secara molekuler sebagai berikut:

HCl + NaOH → NaCl + H2O

Ketika jumlah setara garam tertentu dicampur dalam larutan berair dan larutan tersebut
diuapkan, garam memiliki dua anion kation yang berbeda atau mungkin terbentuk, misalnya
FeSO4.(NH4)2SO4.6H2O di larutan garam berperilaku sebagai campuran dari dua individu.
Garam-garam ini adalah disebut garam ganda atau garam rangkap, untuk membedakannya dari
garam kompleks, yang menghasilkan kompleks ion dalam larutan (Daintith, 2004).
Alumunium ialah unsure melimpah ketiga terbanyak dalam kerak bumi (sesudah oksigen
dan silica), mencapai 8,2 % dari massa total. Keberadaanya umumnya bersamaan dengan
silicon dalam aluminosilkat dari feldspar, mika dan di dalam lempung,yaitu pelapukan batuan
tersebut. Bijih yang paling pentin untuk produksi alumunium adalah bauksit,yaitu alumunium
oksida terhidrasi yang mengandung 50-60% Al2O3 . 1-20% Fe2O3; 1-10% silicon; sedikit sekali
titanium ,zirconium ,vanadium dan oksida logam transisi yang lain ; dan sisanya (2030%)
adalah air. Bauksit dimurnikan melalui proses Bayer,yang mengambil manfaat dari fakta
bahwa oksida alumina amfoter larut dalam basa kuat ,tetapi besi(III) oksida tidak. Bauksit
mentah dilarutkan dalam natrium hidroksida. Dan dipisahkan dari besi oksidasi serta zat asing
tak terlarut lainnya dengan penyaringan. Alumunium oksida terhidrasi murni mengendap bila
larutan didinginkan sampai lewat jenuh dan dipancing menjadi kristal ( Oxtoby,2003).

Kristalisasi atau penghambluran ialah peristiwa pembentukkan partikelpartikel zat padat


di dalam suatu zat yang homogen. Kristalisasi dapat terjadi sebagai pembentukan partikel-
partikel padat di dalam uap,seperti dalam hal pembentukkan salju; sebagai pembekuan di
dalam lelehan cair sebagaimana dalam pembuatan kristal tunggal yang benar;atau sebgai
kristalisasi dalam larutan cair. Kristalisasi dari larutan sangat penting dalam industry karena
banyaknya ragam bahan yang dipasarkan dalam bentuk kristal. Penggunaannya sangat luas
karena dua hal;

1. kristal yang terbentuk dari larutan tak murni selalu murni, kecuali jika terbentuk kristal dari
campuran.
2. kristalisasi merupakam metode yang praktis untuk mendapatkan bahan-bahan kimia murni
dalam kondisi yang memenuhi syarat untuk penggunaan dan penyimpanan.

Kristal sebagaimana dalam larutan berupa macam ukuran dan dikeluarkan sebagai kristal
hasil.Tujuan utama dari kristalisasi tentulah untuk mendapatkan perolehan yang memuaskan
serta kemurnian yang tinggi dan juga menghasilkan suatu kristal hasil (Warren dkk,1999).

Tawas adalah senyawa kimia berupa garam sulfat yang memiliki banyak sekali ragamnya
salah satunya yang paling populer adalah Aluminum Sulfat yang banyak digunakan oleh
PDAM untuk memproses air sungai menjadi ari bersih (oleh karena itu disebut juga dengan
nama populer Alum). Tawas merupakan garam sulfat rangkap terhidrat dengan formula
M+M3+ (SO4)2.12H2O. M+ merupakan kation univalen, umumnya Na+, Fe+, Cr+, Ti3+ atau
Co3+, tawas biasa dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah amonium sulfat dodekahidrat.
Gas hidrogen dapat terbentuk dari reaksi antara aluminium dan NaOH, yang menghasilkan
larutan Al(OH)3. Larutan ini berwarna abu-abu kehitaman. Setelah percobaan pembuatan gas
ini selesai alangkah baiknya limbah aluminium (AL(OH)3) ini jangan dibuang, melainkan
ditampung untuk pembuatan tawas. Tawas kalium aluminium sulfat dihasilkan dengan
mereaksikan logam aluminium (Al) dalam larutan basa kuat (kalium hidroksida) akan larut
membentuk aluminat

2Al (s) + 2KOH (aq) + 2H2O(l) -----> 2KAlO2 (aq) + 3H2 (g)

Tawas (Alum) adalah kelompok garam rangkap berhidrat berupa kristal dan bersifat
isomorf. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan kelarutannya berbedabeda
tergantung pada jenis logam dan suhu (Anonim,2011)

Ada banyak bahan baku yang biasa digunakan untuk membuat tawas atau aluminium sulfat
salah satunya adalah potongan kaleng minuman bekas. Dalam potongan-potongan kaleng
tersebut banyak mengandung logam aluminium. Dibutuhkan unsur aluminum dalam
pembuatan aluminium sulfat. Maka dari itu unsur aluminium yang terdapat pada potongan
kaleng tersebut dapat dimanfaatkan tetapi membutuhkan bahan tambahan berupa KOH dan
aluminium sulfat.

Kaleng bekas aluminium sering kita jumpai pada kaleng minuman ringan, kaleng susu,
makanan kaleng dan lain-lain. Banyaknya kaleng bekas menyebabkan penimbunan sampah
yang bisa jadi masalah bagi lingkungan. Kaleng-kaleng bekas tersebut dapat dimanfaatkan
dengan mengekstrak aluminiummnya. Secara kasar 60% kaleng minuman soda terbuat dari
aluminium yang baru (biji besi bauksit yang baru ditambang), sedangkan 40% sisahnya terbuat
dari daur ulang.

Pemanfaatan kaleng buangan tentu sangat positif karena dapat mendaur ulang salah satu
sumber sampah yang tidak cepat terdegradasi dan jumlahnya sangat signifikan.
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat dan Bahan

Tabel alat yang digunakan


No Nama Alat Ukuran Jumlah

1. Neraca - 1 buah

2. Kaca Arloji - 2 buah

3. Labu Erlenmeyer 250mL 1 buah

4. Pipet Tetes - 6 buah

5. Buret - 2 buah

6. Gelas Kimia 150mL 1 buah

7. Oven - 1 buah

8. Desikator - 1 buah

9. Batang Pengaduk - 1 buah

10. Statif - 1 buah

11. Tabung reaksi - 2 buah

12. Hot plate - 1 bauh

13. Cawan porselen - 1 buah

14. Corong gelas - 1 buah

15. Corong gelas - 1 buah


Tabel bahan yang digunakan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah

1. Soda kue - 8,4 g

2. Aquades - Secukupnya

3. Larutan HCl 3M 100mL

4. Metil Merah - Secukupnya

5. Etanol 70% Secukupnya

6. Potongan kaleng (Al) - 0,515 g

7. Larutan KOH 4M 100mL

8. Larutan H2SO4 6M 15mL

2.2 Sekema

Standarisasi larutan HCl

Larutan HCl

Masukan dalam buret 30mL

Siapkan larutan Na2B4O7 10mL kedalam labu erlenmeyer

Tambahkan 3 tetes metal merah

Lakukan tutrasi dengan dengan HCL, lakukan duplo

Catat volume HCl yang digunakan

Hasil
Sintesis NaCl dari Na2HCO3 dalam soda kue

Sode Kue

Timbang sekitar 8,4 g

Tempatkan pada labu erlenmeyer

Larukan dengan aquades hingga volumenya 10mL

Tambahkan 3 tetes indikator metal merah

Lakukan penambahan HCl 3M dengan cara titrasi

Catat volume HCl yang digunakan

Larutan campuran

Uapkan hingga kering

Padatan NaCl

Tambahkan etanol 70%

Aduk hingga warna metal merah menghilang

Dilakukan penyaringan dan ditampatkan pada cawan

Panaskan dalam oven selama 15 menit pada suhu 105oC

Tentukan kadar rendemennya

Hasil
Sintesis KAl(SO4)2 .2H2O

Potongan kaleng

Timbang sekitar 0,515 g

Tempatkan pada gelas kimia

Tambahkan 10mL KOH 4M

Tambahkan 15mL asam sulfat 6M

Tambahkan etanol

Tempatkan pada ice bath hingga mengkeristal

Lakukan penyaringan

Endapan

Keringkan dalam oven

Tentukan rendemennya

Uji untuk menjernihkan air kotor

Bandingkan dengan tawas komersil

Hasil
2.3 Prosedur Percobaaan

1. Standarisasi HCl
HCl 3M disiapkan kemudian dimasukan dalam buret 50 ml, selanjutnya
disiapkan larutan boraks sebanyak 10 ml ke dalam labu Erlenmeyer setelah itu
dimasukan indicator metal jingga sebanyak 3 tetes. Kemudian dilakukan penetesan
dengan cara titrasi sampai warna berubah menjadi jingga kemerahan dilakukan
secara duplo lalu dicatat volume HCl yang terpakai.

2. Sintesis NaCl
Soda kue yang mengandung NaHCO3 disiapkan kemudian ditimbang
sebanyak 8,4 gram dilarutkan dengan aquades sebanyak 10 ml dimasukan kedalam
labu erlenmeyer kemudian ditambahkan metil merah sebanyak 7 tetes. Selanjutnya
larutan HCl 3 M disiapkan dan dimasukan pada buret berukuran 50 ml. kemudian
dilakukannya penetesan dengan cara titrasi sampai warna pada larutan soda kue
berwarna merah muda. Penggunaan HCl dicatat. Selanjutnya dengan menguapkan
larutan yang telah dititrasi sampai terbentuknya kristal murni dari NaCl kemudian
kristal yang didapatkan disaring menggunakan kertas saring, selanjutnya endapan
kristal yang didapat dimasukan pada cawan porselen dipanaskan dalam oven
550OC setelah itu didinginkan pada suhu ruang. Hasil ditimbang kemudian dihitung
randemennya.

3. Sintesis KAI(SO4)212H2O

Bahan Al dari kaleng bekas disiapkan kemudian dipotong menjadi berukuran


kecil dan diamplas. Potongan direaksikan dengan KOH dipanaskan sampai
aluminium larut ditambahkan dengan H2SO4 hasilnya ditempatkan pada icebath,
dan terbentuk kristal ditambahkan etanol 70 %lalu, disaring dimasukan dalam oven
550OC dan ditimbang untuk dihitung randemennya. Kemudian dilakukan
pengujian air kotor menggunakan pembandingan dengan tawas komersial.
BAB III
HASIL DAN PENGAMATAN

Pada percobaan kali ini dilakukan sintesis garam baik garam tunggal maupun garam
rangkap. Garam tunggal yang disintesis adalah garam dapur atau NaCl dan garanm rangkap
yang disintesisi adalah tawas yang memiliki rumus molekul KAl(SO4)2.12H2O. Untuk
mendapatkan suatu garam biasanya dilakukan dengan metode kristalisasi dan pemanasan,
dimana kristal garam akan terbentuk dan senyawa lainnya akan menguap.

Sintesis garam NaCl dilakukan dengan cara melarutkan soda kue dalam air karena dalam
soda kue terdapat NaHCO3 yang merupakan bahan pembentuk NaCl karena mengandung
kation Na+. NaHCO3 larut dalam 10mL air dan menghasikan larutan berwarna putih agak kental
sesuai dengan reaksi sebagai berikut:

NaHCO3(s) + H2O(l) → NaOH(aq) + CO2(g) + H2O(aq)

Gambar 1. Pelarutan soda kue

Pada percobaan soda kue yang digunakan sebanyak 8,4 g, untuk mendapatkan kristal
garam larutan NaHCO3(s) direaksikan dengan HCl menggunakan metode titrasi. Penambahan
HCl ini dilakukan dengan tujuan untuk mengikat kation Na+ dalam NaHCO3(s) sehingga
diharapkan membentuk garam NaCl seperti persamaan reaksi berikut:

NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(aq)

Sebelum direaksikan dengan NaHCO3(s) larutan HCl terlebih dulu distandarisai dengan
larutan natrium tetraboraks untuk menentukan konsentrasinya. Larutan natrium tetraboraks ini
dibuat dari padatannya yang berwarna putih sebanyak 1,9071 g. Kemudian ditambahkan
indikator metal jingga pada larutan tersebut karena larutan bersifat agak basa, ketika
ditambahkan indikator metal jingga larutan berubah warna menjadi jingga. Larutan tersebut
dititrasi dengan HCl hingga berubah warnanya menjadi merah muda seulas yang menandakan
bahwa titrasi sudah mencapai titik akhir. Hasil standarisasi adalah sebesar 2,5M yang jika
dibulakna bisa menjadi 3M yang artinya konsentrasi larutan HCl tersebut sama dengan pada
saat pembuatannya. Selanjutnya pada larutan NaHCO3(s) dititrasi dengan larutan HCl yang
telah distandarisasi dan didunakan bantuan metal merah untuk melihat titik akhir titrasi.
Volume yang terpakai untuk mencapai titik akhir sebanyak 34,4 mL. titik akhir titrasi larutan
berubah warna menjadi merah muda seulas. Selanjutnya dilakukan kristalisasi dengan cara
pemanasan.

Gamabar 2. Proses kristalisasi dengan cara pemanasan

Pada proses ini warna merah muda dari indikator metal merah dalam sampel memudah
dan semakin lama semakin hilang, hal ini mungkin disebebkan karena titik didih dari metal
merah yang berada dibawah sampel sehingga pada proses ini metal merah menguap dan
terbentuk kristal-kristal garam NaCl. Setelah terbentuk banyak kristal garam dilakukan
penyaringan untuk memisahkan kristal dari filtratnya. Kemudian kertas saring yang
mengandung kristal NaCl dipindahkan kedalam cawan porselen untuk memasuki proses
selanjutnya yaitu pemijaran yang dilakukan dalam oven pada suhu 105oC selama 15 menit.
Pemijarana ini dilakukan untuk menguapkan kadar air dalam kristal garam dan zat pengotor
lainnya. Massa kristal hasil pemijaran yang didapat sebesar 8,2347 gram dam % rendemen
yang didapat sebesar 156,40%. Besarnya % rendemen yang didapat mungkin diakibatkan
karena pemanasan yang terlalu singkat sehingga kadar air dalam kristal NaCl masih ada yang
tersisa atau bisa juga disebabkan karena prosese preparasi sampel yang kurang tepat.

Kemudian, sintesis kristal tawas dilakukan dengan memanfaatkan limbah dari kaleng
bekas minuman dengan tujuan untuk mengolah sampah menjadi lebih bernilai ekonomis dan
mengurangi limbah di alam. Kaleng yang digunakan adalah kaleng minuman ringan karena
mengandung aluminium. Dalam kaleng kadar aluminiumnya sekitar 15,80% sehingga
berpotensi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tawas. Tawas yang dihasilkan
membentuk senyawa kompleks:

KAl(SO4)2.12H2O(S)

Sampel yang digunakan adalah kaleng minuman ringan jenis grinsands yang telah
dibersihkan dari zat warna dan digunting kecil. Sampel dipotong kecil dengan maksud untuk
memudahkan dalam proses reaksi, karena →luas permukaan dari suatu zat sangat berpengaruh
pada kecepatan berlangsungnya reaksi saat penambahan pelarut. Selain itu penghilangan zat
warna dilakukan agar tawas yang diperoleh bersih dari pengaruh zat warna ataupun pengotor.

Penambahan KOH pada sampel kaleng menghasilkan reaksi seperti berikut:

2Al(s) + 2KOH(aq) + 6H2O(l) → 2K[Al(OH)4](aq) + 3H2(g)

Reaksi ini menghasilkan gas H2 yang ditandai dengan munculnya asap pekat dan gelembung-
gelembung gas. Gelembung-gelembung gas ini hilang setelah semua aluminium bereaksi. Pada
tahap ini dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi.

Sintesis kristal tawas terbentuk dengan penambahan asam sulfat pekat. Pada
penambahkan H2SO4 pekat yang terbentuk endapan putih. Endapan ini terbentuk dari senyawa
Al(OH)3. Penambahan pereaksi asam sulfat bertujuan supaya membentuk kation-kation (K+
dan Al3+) yang merupakan elemen-elemen yang diperlukan untuk membentuk tawas.
Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi
sempurna. Sesuai persamaan reaksi sebagai berikut :

2K[Al(OH)4](aq) + H2SO4(aq) → K2SO4(aq) + 2Al(OH)3(s) + 2H2O(l)

namun setelah berlebih H2SO4 melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3 berupa larutan bening
tak berwarna. Senyawa Al2(SO4)3 yang terbentuk pada reaksi di atas bereaksi kembali dengan
K2SO4 hasil reaksi membentuk kristal yang diperkirakan adalah KAl(SO4)2.12H2O berwarna
putih agak kehitaman. Sesuai dengan reaksi berikut:

2Al(OH)3(s) + K2SO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 6H2O(l) → 2KAl(SO4)2. 12H2O(s)


Gambar 3. Terbentuk endapan KAl(SO4)2. 12H2O

Pada proses ini dilakukan penambahan etanol dengan tujuan untuk mempercepat proses
pengendapan. Selajutnya sampel ditempatkan pada ice bath dengan tujuan agar terbentuk
kristal dalam sampel. Kemudian dilakukan proses penyaringan pada sampel untuk
memisahkan kristal / endapan yang terbentuk dengan filtratnya. Proses selanjutnya dilakukan
pengeringan dalam oven pada suhu 550oC dengan tujuan untuk menghilangkan/menguapkan
kadar air yang terdapat dalam endapan dan kadar pengotornya. Massa endapan (tawas) yang
didapatkan sebesar 6,7825 gram dan % rendemen tawas yang didapat sebesar 75,314%.

Gambar 4. Tawas hasil sintesis

Selanjutnya dilakukan pengujian pada tawas yang didapat dengan cara membandingkan nya
dengan tawas komersil dalam menjernihkan air kotor. Hasil yang didapat adalah air yang
dijernihkan dengan tawas komersil terlihat jernih dan kotoran mengapung kepermukaan
sedangkan pada penjernihan air kotor dengan tawas buatan terlihat air sedikit agak keruh dan
pengotornya mengendap di dasar tabung reaksi. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan
karena konsentrasi tawas komersil berbeda dengan tawas buatan sehingga hasil dari tawas
buatan tidak sebagus tawas komersil.

Cara kerja tawas dalam air adalah sebagai zat koagulator yaitu menstabilisasi muatan koloid
yang terkandung dalam air baik bakteri, virus maupun lumpur yang kemudian akan
membentuk flok-flok halus hingga akhirnya mampu terendapkan pada dasar tabung reaksi.
IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini diantaranya
1. Sintesis zat anorganik yang dilakukan pada percobaan ini diwakili dengan sintesis
garam dapur, sedangkan sintesis senyawa kompleks diwakili dengan sintesis tawas
2. Sintesis NaCl dilakukan dengan cara melarutkan soda kue yang mengandung
NaHCO3 yang kemudian di tutrasi dengan larutan standar HCl dan dilakukan
pemanasan hingga akhirnya membentuk kristal garam dapur (NaCl)
3. Sintesisi tawas dilaukan dengan mereaksikan potongan kaleng yang mengandung
logam Al yang kemudian direaksikan dengan KOH dan larutan H2SO4 yang
kemudian didinginkan hingga mengkristal pada ice bath dan dipijarkan hingga
terbentuk tawas
4. % Rendemen NaCl yang didapat pada percobaan sebesar 156,40%. Besarnya %
rendemen yang didapat mungkin disebabkan karena pemijaran yang terlalu
sebentar sehingga masih menyisakan kadar air yang mempengaruhi massa saat
penimbangan
5. % Rendemen Tawas yang didapat dari percobaan sebesar 75,314%
6. Hasil yang didapat adalah air yang dijernihkan dengan tawas komersil terlihat
jernih dan kotoran mengapung kepermukaan sedangkan pada penjernihan air kotor
dengan tawas buatan terlihat air sedikit agak keruh dan pengotornya mengendap
didasar tabung reaksi.
DAFTAR PUSTAKA

- Suhendar, dede. 2013. Modul Praktikum Kimia Anorganik. Bandung : Lab. Kimia Fakultas
Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati
- Svehla, G. vogel. 1985. Buku Teks Analisi Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro.
Jakarta: PT. Kalman Media
- Saito, Taro. 1996. Kimia Anorganik. Diterjemahkan oleh ismunandar. Tokyo: Iwanami
Shoten Publisher.
- Suhendar, Dede. 2013. Kimia Anorganik III : kimia anorganik zat padat. Bandung: UIN
Sunan Gunung Djati.
- Daintith, J., 2004, The Facts On File Dictionary of Inorganic Chemistry, Market House Books
Ltd, New York.
- Cotton, F.A. dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, diterjemahkan oleh Sahati
Suharto, 1989, UI-Press, Jakarta.
- Fitri, Nurul. 2017. Skirpsi : SINTESIS KRISTAL TAWAS [KAl(SO4)2.12H2O] DARI LIMBAH
KALENG BEKAS MINUMAN. Makasar : Universitas Islam Negeri Alauddin
LAMPIRAN

Persamaan reaksi

a. Sintesis NaCl

NaHCO3(s) + H2O(l) → NaOH(aq) + CO2(g) + H2O(aq)


NaOH(aq) + HCl(aq) → NaCl(aq) + H2O(aq)

b. Sintesis Tawas

2Al(s) + 2KOH(aq) + 6H2O(l) → 2K[Al(OH)4](aq) + 3H2(g)


2K[Al(OH)4](aq) + H2SO4(aq) → K2SO4(aq) + 2Al(OH)3(s) + 2H2O(l)
2Al(OH)3(s) + K2SO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 6H2O(l) → 2KAl(SO4)2. 12H2O(s)

Perhitungan

1. Pembuatan Larutan
a. Larutan KOH 4 M 100 mL
𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎⁄
𝑀𝑟
M= =
𝑉 𝑉

Massa = M × V × Mr
𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑟𝑎𝑚
Massa = 4 × 0.1 L × 56
𝐿 𝑚𝑜𝑙

Massa = 22.444 gram

b. Larutan HCl 3 M 250 mL


M1V1 = M2V2
12 M. V1 = 3 M. 250 ml
3𝑀.250𝑚𝑙
V1 = = 62.5 ml
12𝑀

c. Borax 0.05 M 100 mL


𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎⁄
𝑀𝑟
M=𝑉= 𝑉

Massa = M × V × Mr
𝑚𝑜𝑙 𝑔𝑟𝑎𝑚
Massa = 0.05 𝐿
× 0.1 L × 381.42 𝑚𝑜𝑙

Massa = 1.9071 gram


2. Standarisasi Larutan HCl menggunakan larutan baku Na2S2O3
(𝑀1𝑉1) 𝐻𝐶𝑙 = (M2V2)Na2S2O3
0.4 mL. [HCl] = 0.05 M. 10 ml. 2
[HCl] = 2.5 M

3. Menentukan rendemen NaCl


mol HCl = mol NaHCO3
(M1V1) HCl = (M2V2)NaHCO3
(M1V1) 𝐻𝐶𝑙 2.5 𝑀 36 𝑚𝐿
[NaHCO3] = =
𝑉𝑁𝑎𝐻𝐶𝑂3 10 𝑚𝐿

[NaHCO3] = 9 M

𝑉𝑁𝑎𝐻𝐶𝑂3
mol NaHCO3 = [NaHCO3] × 1000
𝑚𝑜𝑙 10
mol NaHCO3 = 9 × 1000 = 0.09 mol
𝐿

mol HCl = mol NaHCO3


mol HCl = 0.09 mol

NaHCO3(aq) HCl(aq) NaCl(aq) CO2(g) H2O(l)


m 0.09 mol 0.09 mol
r -0.09 mol -0.09 mol +0.09 mol

s 0 mol 0 mol 0.09 mol

mol NaCl = 0.09 mol


massa NaCl = mol NaCl × Mr
𝑔𝑟𝑎𝑚
massa NaCl = 0.09 mol × 58.5 = 5.265 gram
𝑚𝑜𝑙
𝑚.𝑠𝑖𝑛𝑡𝑒𝑠𝑖𝑠
% rendemen NaCl = 𝑚.𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 × 100%
8.2347 𝑔𝑟
%= × 100% = 156.40%
5.265 𝑔𝑟
4. Menentukan rendemen tawas
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 0.5125 𝑔𝑟
mol NaHCO3 = = 26.98 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0.019 mol
𝑀𝑟

2Al(s) H2SO4(aq) K2SO4(aq) 6H2O(l) 2KAl(SO4)2.12H2O(s)


m 0.019 mol
r -0.019 mol +0.019 mol

s 0 mol 0.019 mol

mol NaCl = 0.019 mol


massa NaCl = mol NaCl × Mr
𝑔𝑟𝑎𝑚
massa NaCl = 0.019 mol × 473.98 = 9.00562 gram
𝑚𝑜𝑙
𝑚.𝑠𝑖𝑛𝑡𝑒𝑠𝑖𝑠
% rendemen NaCl = 𝑚.𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 × 100%
6.7825 𝑔𝑟
% = 9.00562 𝑔𝑟 × 100% = 75.314%
Lampiran Gambar

1. Sintesis NaCl
2. Sintesis Tawas