Anda di halaman 1dari 8

TUGAS 7

METALURGI LAS

Agy Randhiko

NPM : 1706990306

Program Magister Teknik

Departemen Teknik Metalurgi Dan Material

UNIVERSITAS INDONESIA

2018

Agy Randhiko - 1706990306


1. Jelaskan Baja Paduan Rendah (Low Alloy Steel) dan jenis baja mana yang
memiliki kemampulasan yang baik serta faktor apa saja yang digunakan untuk
menentukan weldability baja tsb. Sebutkan penggunaan baja tsb (aplikasinya) di
lapangan.
Baja paduan rendah merupakan baja dengan unsur paduan berupa Ni, Cr, Mo, dan
paduan lainnya yang jumlahnya kurang dari 10.5% pada baja. Dengan demikian
harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan baja dengan paduan lebih banyak dan
juga sering digunakan dalam jumlah besar di berbagai industri. Meskipun pada
umumnya material tidak dipilih untuk tahan terhadap korosi dan suhu tinggi, tetapi
pada penggunaanya baja jenis ini sering digunakan untuk beroperasi dalam lingkungan
agresif bersuhu tinggi. Misalnya pada pembangkit listrik, pengolahan sampah, industri
proses kimia dsb.
Jenis baja yang memiliki kemampulasan yang baik adalah :
 High Strength Low Alloy Steel (HSLA),
 Quenched and Tempered Steels (QT),
 Heat-Treatable-Low-Alloy Steels (HTLA),
 Chromium-Molybdenum Steels (Cr-Mo).
Faktor yang digunakan untuk menentukan weldability pada baja adalah kadungan
karbon dalam low alloy steel dan kekerasan yang dimiliki material tersebut.
Penggunaan baja paduan rendah di lapangan adalah untuk konstruksi lasan yang besar
seperti jembatan, kapal laut dan bejana tekan.

2. Jelaskan Klasifikasi Baja menurut standard Jepang (JIS). Berikan penjelasan


jenis jenis baja apa saja yang dapat di las menurut kode tsb.
 Baja struktural: seri SS
 Struktur yang di las: seri SM
 Baja konstruksi bagunan: seri SN
 High strength steel, yaitu baja dengan tensile strength > 490Mpa: HT, HW, SPV
 Baja untuk aplikasi pada tempratur rendah: SLA-series, Al, Ni, Austenite
stainless steel
 Baja untuk aplikasi pada tempratur tinggi: SB-series
 Baja dengan ketahanan korosi atmosfir: SMA

Agy Randhiko - 1706990306


3. Jelaskan secara singkat beberapa penguatan baja paduan rendah. Jelaskan
peran/fungsi paduan rendah (low alloys) dalam penguatan baja tsb.
Beberapa mekanisme penguatan baja :
 Solid solution strengthening, proses penguatan baja paduan rendah dengan
memberikan paduan dalam jumlah yang sedikit, namun paduan ini mampu
menghalangi terjadinya dislokasi, sehingga baja paduan rendah menjadi lebih
kuat
 Grain size, proses penguatan dengan menambahkan grain refiner pada saat
proses solidifikasi dengan Al-TiB yang membuat butir pada material menjadi
lebih halus, sehingga batas butir semakin banyak dan dislokasi terhambat,
sehingga material menjadi lebih kuat.
 Precipitates, proses penghambatan dislokasi dengan membuat endapan dalam
matrik material sehingga material bisa menjadi lebih kuat.
 Cold working, memberikan perlakuan yang bertujuan untuk memadatkan
dislokasi, sehingga dislokasi tidak dapat bergerak dan membuat material menjadi
lebih kuat.
 Hardening, suatu proses perlakuan panas yang dilakukan untuk menghasilkan
suatu benda kerja yang keras, proses ini dilakukan pada temperatur tinggi yaitu
pada temperatur austenisasi yang digunakan untuk melarutkan sementit dalam
austenit yang kemudian di-quench. Pada tahap ini akan menghasilkan
terperangkapnya karbon yang akan menyebabkan bergesernya atom-atom
sehingga terbentuk struktur body center tetragonal (BCT) atau struktur yang
tidak setimbang yang disebut martensit yang bersifat keras dan getas.
Secara umum baja dikeraskan dengan cara meningkatkan kandungan karbon, namun
peningkatan kandungan karbon akan menurunkan weldability dari baja, dengan
menggunakan paduan rendah dan melakukan pengerasan melalui metode-metode yang
disebutkan diatas dapat dicapai baja dengan kekuatan yang tinggi namun kandungan
karbon yang rendah.

Agy Randhiko - 1706990306


4. Pada proses TMCP pada baja, faktor apa saja yang dikontrol diproses tsb agar
diperoleh baja dengan kekuatan yang tinggi.
TMCP proses adalah dimana terdapat dua tahap perlakuan pada suatu logam. Proses
tersebut meliputi proses termal, dimana pada proses ini terjadi pemanasan logam
dan/atau mendinginkan suatu material yang telah dipanaskan tersebut ke suhu ruang
dengan tujuan untuk meningkatkan kekerasan atau keuletan. Proses kedua adalah
proses mekanik, dimana pada proses ini dilakukan proses deformasi plastis pada logam.
Proses tersebut bisa dilakukan berupa proses pengerolan, penempaan, ekstrusi, dan lain-
lain. Jadi, secara harfiah proses termomekanik secara terkontrol atau TMCP
adalah proses dilakukannya deformasi suatu pada suhu austenit dan kemudian
dilakukan pendinginan secara terkontrol. Proses TMCP tak ubahnya seperti proses hot
working. Hanya saja, pada proses TMCP dilakukan proses tambahan berupa
pengontrolan hot rolling dan pengontrolan pertumbuhan butir untuk mencapai tujuan
tertentu.
Tujuan dari dilakukannya TMCP adalah untuk mendapatkan butir acicular ferrite yang
baik dan ukuran yang seragam. Dengan butir demikian maka akan meningkatkan
kekerasan, sekaligus meningkatkan ketangguhan dari logam. Selain itu, TMCP akan
mengurangi terjadinya cold cracking selama pendinginan dan meningkatkan
kemampuan weldability. TMCP juga mampu meningkatkan kemampuan diubah bentuk
pada suhu ruang.

Gambar 1. Konsep perubahan mikrostruktur selama TMCP

Agy Randhiko - 1706990306


Tahapan pada TMCP sesuai gambar di atas adalah :
a. Memanaskan baja karbon hingga suhu austenisasi pada temperatur 1100-1200oC
dengan tujuan agar logam menjadi lebih lunak.
b. Kemudian, setelah terjadi perubahan struktur menjadi ke bentuk austenite maka
dilakukan proses hot working. Proses hot working yang diterapkan bisa berupa
extrution, rolling, dan forging.
c. Selama proses hot working tersebut, maka terjadi pemipihan ukuran butir akibat
dari proses deformasi tersebut. Setelah keluar dari proses hot working, maka akan
mulai muncul tahap rekristalisasi, yaitu tahap pembentukan butir baru dimulai
dari recovery, rekristalisasi, dan grain growth. Hal ini terjadi karena suhu hot
working yang panas sehingga memicu pertumbuhan butir yang baru.
d. Sesaat setelah butir baru dengan ukuran kecil muncul, maka segera
dilakukan pendinginan yang cepat ke suhu ruang dengan menggunakan media air.
Pada saat pendinginan cepat tercapai maka tercapai fase martensite.
e. Setelah fase martensite tercapai, maka kita akan mendapatkan kekerasan yang
tinggi namun masih getas. Oleh karena itu, dilakukan proses temper pada suhu
550oC untuk me-release austenite sisa dan residual stress hasil pendinginan cepat
dan mengurangi efek distorsi. Hasil yang didapat adalah fase bainite pada
struktur.

5. Jelaskan metoda pendekatan (approach) apa yang dilakukan dalam mengurangi


cacat (problem) “Cold Cracking” pada baja paduan rendah. Beri contohnya.
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah cold cracking adalah :
 Mengurangi kadar hidrogen, dengan cara sebagai berikut :
 Menggunakan elektroda rendah hidrogen
 Melakukan pengelasan tanpa flux
 Pemanggangan elektroda
 Melakukan preheating
 Modifikasi mikrostruktur, dengan cara :
 Melakukan preheating
 Memvariasikan parameter pengelasan
 Melakukan Post Weld Heat Treatment pada temperatur 650oC – 760oC

Agy Randhiko - 1706990306


 Menjalankan rule of thumb berikut :
 Lakukan preheating jika carbon equivalent < 0.4, ketebalan < 0.3
 Material menjadi tidak rentan terhadap HAC / cold cracking jika kekerasan
HAZ < 350 HV.
Conthnya pada Cr-Mo Steel yang dilas akan rentan mengalami cold cracking.

6. Jelaskan metoda pendekatan (approach) apa yang dilakukan dalam mengurangi


cacat (problem) “Reheat Cracking” pada baja paduan rendah. Beri contohnya.
Reheat cracking merupakan jenis retak yang terjadi pada baja HSLA yang disebakan
karena sifat logam yang cenderung getas dari HAZ. Element paduan Cr, Mo, V & Nb
membantu terjadinya crack pada baja tahan creep selama PWHT.

Gambar 2. Reheat Cracks

Metode pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya reheat cracking
pada baja paduan rendah adalah :
 Pemilihan material dengan kandungan pengotor yang rendah
 Mengurangi CGHAZ dengan teknik pengelasan berikut :
 Buttering
 Temper-bead technique
 Two stage PWHT
Contoh material yang mengalami reheat cracking adalah Cr-Mo steel dan HSLA.

Agy Randhiko - 1706990306


7. Jelaskan penyebab terjadinya ”temper embrittlement” pada lasan baja paduan
rendah.
Penyebab terjadinya temper embrittlement pada lasan baja paduan rendah adalah
segregasi dari elemen pengotor yang ada dalam baja paduan rendah di batas butir.
Temperatur yang bisa membuat temper embrittlement adalah 350o-600oC.
Dengan memprediksi nilai J, dimana :
J = (Si + Mn) (P + Sn) × 104
Jika nilai J lebih dari 180, maka material rawan terkena temper embrittlement.
Untuk weld metal untuk menghindari embrittlement dapat menghitung nilai, PE.
Dimana :
𝑪𝒓 𝑺𝒊
𝑷𝑬 = 𝑪 + 𝑴𝒏 + 𝑴𝒐 + + + 𝟑, 𝟓 (𝟏𝟎𝑷 + 𝟓𝑺𝒃 + 𝟒𝑺𝒏 + 𝑨𝒔)
𝟑 𝟒
Dengan PE ≤ 3.

8. Jelaskan weldability baja Cr-Mo Steel secara singkat: problem apa saja yang
terjadi dan jelaskan cara mengatasinya.
Baja Cr-Mo umumnya mengandung 1-12%Cr dan 0.5-1%Mo. Dengan melihat relatif
tingginya kandungan unsur paduan baja jenis ini, kemampulasan dari baja ini cukup
rendah namun masih dapat dilas dengan proses pretreatment dan posttreatment yang
sesuai. Masalah yang umumnya terjadi pada baja jenis ini adalah cold cracking dan
reheat cracking, untuk mencegah hal tersebut perlu dilauukan PWHT pada tempratur
antara 650-760oC.

9. Jelaskan weldability baja HSLA secara singkat: problem apa saja yang terjadi
dan jelaskan cara mengatasinya.
Baja HSLA memiliki kandungan karbon dan elemen paduan yang rendah sehingga
memiliki kemampulasan yang baik. Hal yang menjadi masalah adalah sebagai berikut:
 Paduan seperti niobium, titanium, vanadium, dll dapat mengalami dilusi dari
logam dasar ketika pengelasan terjadi.
 Rentan terhadap grain growth pada area CGHAZ
 Pelunakan pada HAZ
 Rentan mengalami HAC.

Agy Randhiko - 1706990306


Pencegah permasalahan pada pengelasan umumnya dilakukan cara berikut ini:
 Preheat dan dilakukan pengaturan interpass temperature.
 Perhitungan kebutuhan preheat dan interpass didasarkan pada sucepptibility
index, carbon equivalent, dan compositional parameter.

10. Jelaskan weldability baja galvanis (Galvanized Steels) secara singkat : problem
apa saja yang terjadi dan jelaskan cara mengatasinya.
Pada umumnya baja galvanis sulit untuk dilas dan membuthkan perlakuan khusus
dalam proses pengelasannya, hal ini disebabkan oleh lapisan zinc yang menjadi pelapis
dari inti baja.
Masalah utama yang sering terjadi pada pengelasan baja galvanis adalah :
Terbentuknya retak bila di las menggunakan metoda las busur listrik, Retak ini terjadi
karena adanya intergranular penetration seng ke logam las dan kadang-kadang disebut
zinc penetration cracking. Penetrasi ini terjadi akibat rendahnya temperatur lebur dari
seng sehingga baja menjadi rapuh dengan adanya seng yang mencair. Seng yang
mencair ini dapat menyerang logam las baja karbon di sepanjang batas butir dan
membentuk senyawa yang rapuh yang akan mengalami retak jika tegangan sisa cukup
tinggi.
Untuk mengatasi atau mencegah retak ini dapat dilakukan metode single atau double
bevel, menghilangkan lapisan dan menjaga root opening yang sesuai dengan minimun
0.06 inch, dan elektroda yang disarankan untuk metoda SMAW adalah E6012, E6013
dan E7016

Agy Randhiko - 1706990306

Anda mungkin juga menyukai