Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

  • A. Judul : Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)

  • B. Konsep Dasar

 

1.

Pengertian

 

BPH merupakan penyakit yang biasa terjadi pada laki-laki usia lanjut,

yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat pada epitel prostat dan daerah transisi jaringan fibromuskular pada daerah periuretral yang bisa menghalangi dan mengakibatkan pengeluaran urine yang tertahan.

Benigna Prostat Hiperplasia atau lebih dikenal dengan BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan retriksi pada jalan urine (uretra).

Secara histologi, BPH dapat didefinisikan sebagai pembesaran nodular secara regional dengan kombinasi poliferasi stromadan grandular yang berbeda.

2.

Etiologi

 

Penyebab timbulnya BPH adalah :

a.

Adanya perubahan kesimbangan antara hormon testosteron dan esterogen pada usia lanjut

b.

Peranan dari faktor pertumbuhan sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat

c.

Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karen berkurangnya sel yang mati

d.

Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi yang normal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

3.

Tanda & Gejala

Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi 2 kelompok:

  • a. Gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil, tergesa-gesa untuk buang air kecil, buang air kecil dimalam hari lebih dari satu kali, dan sulit menahan buang air kecil

  • b. Gejala obstruksi, terdiri dari pancaran yang melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong, menunggu lama pada permulaan buang air kecil, harus mengedan saat buang air kecil, buang air kecil sering terputus-putus, dan waktu buang air kecil memanjang yang akhrnya menjadi retensi urin dan bisa terjadi inkontinensia urin.

Tanda klinis dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran pada prostat. Pada BPH, prostat teraba membesar dengan konsistensi kenyal.

4.

Patofisiologi

Banyak sekali faktor yang diduga berperan dalam proliferasi/pertumbuhan jinak kelenjar prostat, tetapi pada dasarnya BPH tumbuh pada pria yang menginjak usia tua dan masih mempunyai testis yang masih bisa menghasilkan hormon testosteron. Disamping itu pengaruh hormon lain (esterogen), diet tertentu, faktor-faktor lingkungan yang diduga berperan dalam proliferasi sel-sel kelenjar prostat secara tidak langsung. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang selanjutnya protein inilah yang berperan dalam memacu terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat.

Tonjolan ini dapat menekan uretra lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah, atau menekan dari bagian tengah. Kadang-kadang penonjolan itu merupakan suatu polip yang sewaktu-waktu dapat menutupi lumen uretra.

Warnanya bermacam-macam tergantung pada unsur yang bertambah. Apabila yang bertambah khususnya unsur kelenjar, maka warnanya

kuning kemerahan, berkonsistensi lunak. Apabila unsur fibromuskular, yang bertambah, maka tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan.

Gambaran mikroskopik juga bermacam-macam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Biasanya yang lebih banyak berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar dan terbentuk kista-kista yang dilapisi epitel torak selapis yang pada beberapa tempat membentuk papil-papil ke dalam lumen. Kadang-kadang terjadi penambahan kelenjar yang kecil-kecil sehingga menyerupai dengan karsinoma. Dalam kelenjar sering terdapat sekret granular, epitel yang terlepas. Apabila unsur fibromuskular yang bertambah maka terjadi gambaran yang terjadi atas jaringan ikat atau jaringan otot dengan kelenjar-kelenjar yang letaknya berjauhan.

  • 5. Pathway Keperawatan

6. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan colok dubur atau DRE (Digital Rectal Examina-tion) merupakan pemeriksaan yang penting
  • 6. Pemeriksaan Penunjang

    • a. Pemeriksaan colok dubur atau DRE (Digital Rectal Examina-tion) merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BPH untuk memperkirakan adanya pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat.

    • b. Urinalisis, dapat mengungkap adanya leukosituria dan hematuria.

    • c. Pemeriksaan fungsi ginjal, berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas

  • d. Kultur urine, dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella, pseudomonas, atau Escherichia coli.

  • e. Uroflometri, merupakan pemeriksaan untuk mencatat pancaran urin selama miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui adanya obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif.

  • f. IVP dengan film pasca berkemih : Menunjukkan pelambatan pengosongan kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih dan adanya pembesaran prostat, divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.

  • g. Sistouretrografi berkemih : digunakan sebagai ganti IVP untuk memvisualisasi kandung kemih dan uretra.

  • h. Sistouretroskopi : Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan perubahan dinding kandung kemih.

  • i. Ultrasound transrektal : Mengukur ukuran prostate dan jumlah residu urine, dalam hal ini residu urine menjadi patokan yaitu dibagi menjadi beberapa derajat antara lain :

1)

Derajat I, sisa urine < 50 ml.

2)

Derajat II, sisa urine 50-150 ml.

3)

Derajat III, sisa urine > 150 ml.

4)

Derajat IV, retensi urine total.

  • j. USG (Ultrasonografi) digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli-buli termasuk residual urine.

7.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada klien benigna prostat hiperplasia terdiri dari

penatalaksanaan medis, penatalaksanaan keperawatan dan penatalaksanaan diit.

  • a. Penatalaksanaan Medis Pemberian obat-obatan antara lain Alfa 1-blocker seperti : doxazosin, prazosin tamsulosin dan terazosin. Obat-obat tersebut

menyebabkan pengenduran otot-otot pada kandung kemih sehingga penderita lebih mudah berkemih. Finasterid, obat ini menyebabkan meningkatnya laju aliran kemih dan mengurangi gejala. Efek samping dari obat ini adalah berkurangnya gairah seksual. Untuk prostatitis kronis diberikan antibiotik. 1) Pembedahan Trans Urethral Reseksi Prostat (TUR atau TURP) merupakan tindakan operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar prostat dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan (pembilas) agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah. Indikasi TURP ialah gejala-gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial yang langsung mengelilingi uretra. Setelah TURP yang memakai kateterthreeway. Irigasi kandung kemih secara terus menerus dilaksanakan untuk mencegah pembekuan darah. Manfaat pembedahan TURP antara lain tidak meninggalkan atau bekas sayatan serta waktu operasi dan waktu tinggal dirumah sakit lebih singkat. Komplikasi TURP adalah rasa tidak enak pada kandung kemih, spasme kandung kemih yang terus menerus, adanya perdarahan, infeksi, fertilitas (Baradero dkk, 2007). 2) Prostatektomi suprapubis adalah salah satu metode mengangkat kelenjar prostat dari uretra melalui kandung kemih .. 3) Prostatektomi perineal adalah mengangkat kelenjar prostat melalui suatu insisi dalam perineum yaitu diantara skrotum dan rektum. 4) Prostatektomi retropubik adalah insisi abdomen mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa memasuki kandung kemih.

5)

Transurethral Incision of the Prostate (TUIP) atau Insisi prostat transuretral (TUIP) adalah prosedur lain dalam menangani BPH. Tindakan ini dilakukan apabila volume prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi dari penggunan TUIP adalah keluhan sedang atau berat, dengan volume prostat normal/kecil (30 gram atau kurang). Teknik

6)

yang dilakukan adalah dengan memasukan instrument kedalam uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi konstriksi uretral. Komplikasi dari TUIP adalah pasien bisa mengalami ejakulasi retrograde (0-37%) (Smeltzer dan Bare, 2002). Trans Uretral Needle Ablation (TUNA) alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap dijaringan prostat.

  • b. Penatalaksanaan Keperawatan menurut Brunner and Suddart,

 

(2000):

1)

Mandi air hangat

2)

Segera berkemih pada saat keinginan untuk berkemih muncul.

3)

Menghindari minuman beralkohol

4) Menghindari asupan cairan yang berlebihan terutama pada malam hari. 5) Untuk mengurangi nokturia, sebaiknya kurangi asupan cairan beberapa jam sebelum tidur.

  • c. Penatalaksanaan Diit menurut Brunner and Suddart, (2000) Klien dengan benigna prostat hiperplasia dianjurkan untuk menghindari minuman beralkohol, kopi, teh, coklat, cola, dan makanan yang terlalu berbumbu serta menghindari asupan cairan yang berlebihan terutama pada malam hari.

8.

Komplikasi

  • a. Urinary traktus infection

  • b. Hematuria

  • c. Impotensi

  • d. Inkontinensia urin

  • e. Gagal ginjal

  • C. Konsep Keperawatan

    • 1. Pengkajian fokus

      • a. Identitas klien Jenis kelamin laki-laki, umur >50 thn, banyak dijumpai pada bangsa / ras caucasian

      • b. Keluhan utama Nyeri berhubungan denga spasme buli-buli

      • c. Riwayat penyakit sekarang Hesitansi, pancaran urine lemah, intermitensi, terminal dribbing, terasa ada sisa setelah miksi, urgensi, frekuensi dan disuria.

      • d. Riwayat penyakit dahulu DM (diabetes mellitus), hipertensi, PPOM (penyakit paru obstruksi menahun), jantung koroner, decompensasi cordis dan gangguan faal darah.

      • e. Riwayat penyakit keluarga Penyakit keturunan (hipertensi,DM, ashma)

      • d. Riwayat psikososial Emosi, kecemasan, gangguan konsep diri

      • e. Pola hidup sehari-hari

        • - Pola nutrisi Puasa sebelum operasi

        • - Pola eliminsi Hematuri setelah tindakan TUR, retensi urine karena bekuan darah pada kateter, inkontinensia urine setelah kateter dilepas

  • - Pola istirahat/tidur Hospitalisasi mempengaruhi pola tidur

  • - Pola aktivitas Keterbatasan aktivitas karena kelemahan, terpasang traksi kateter

  • 2. Pemeriksaan fisik

    • a. Keadaan umum. Keadaan lemah, kesadaran baik, perlu adanya observasi TTV

    • b. Sistem pernafasan Tidak mempengaruhi pernafasan

    • c. Sistem sirkulasi Tekanan darah biasa meningkat atau menurun, cek HB (adanya perdarahan animea), observasi balance cairan

    • d. Sistem neurologi Daerah caudal mengalami kelumpuhan dan mati rasa akibat SAB

    • e. Sistem gastrointestinal Pusing, mual, muntah akibat SAB, bising usus menurun dan terdapat masa abdomen

    • f. Sistem urogenital Hematuri, retensi urine (daerah supra sinisfer menonjol, terdapat ballottement jika dipalpasi dan klien ingin kencing)

    • g. Sistem muskuluskeletal Klien tidak boleh fleksi selama traksi kateter masih diperlukan

  • D. Diagnosa Keperawatan

    • 1. Pre operasi

      • a. Nyeri akut

      • b. Retensi urin

      • c. Resiko kekurangan volume cairan

      • d. Disfungsi seksual

      • e. Resiko infeksi

      • f. Ansietas

2. Post operasi

  • a. Nyeri akut

  • b. Resiko infeksi

  • c. Defisit pengetahuan

  • E. Rencana Keperawatan Pre Operasi

 

DIAGNOSA

NO

KEPERAWATAN

 

NOC

NIC

1.

Nyeri akut

 

Domain 12 : Kenyamanan

 

Manajemen nyeri

 

Definisi

Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya

Kelas 1 : Kenyamanan fisik 00132 : Nyeri akut

Kaji secara komprehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi,

kerusakan jaringan yang aktual atau

Setelah

dilakukan

tindakan

kualitas, intensitas/beratnya nyeri,

potensial, atau digambarkan dengan

keperawatan

selama

...

x24

jam

dan faktor-faktor presipitasi.

istilah seperti (International

 

nyeri

klien

teratasi,

dengan

Gunakan komunkasi terapeutik

Association for the Study of Pain);

indicator:

agar pasien dapat mengekspresikan

awitan yang tiba-tiba atau perlahan

Tingkat kenyamanan.

nyeri

dengan intensitas ringan sampai berat

Dapat

melakukan

aktivitas

Kaji

tingkat keetidaknyamanan

dengan akhir yang dapat diantisipasi

seperti

biasa

tanpa

harus

pasien dan catat perubahan dalam

atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.

merasakan nyeri. Kontrol nyeri

 

catatan medik dan informasikan kepada seluruh tenaga yang

Mampu

mengenali

faktor

menangani pasien

Batasan karakteristik

 

penyebab

Tentukan dampak dari ekspresi

Subjektif

Mampu

melaporkan

gejala

nyeri terhadap kualitas hidup: pola

Melaporkan atau mengungkapkan

pada tenaga kesehatan

tidur, nafsu makan, aktifitas

secara verbal (nyeri) dengan isyarat

Mampu

mengenali

gejala-

kognisi, mood, relationship,

Objektif

gejala nyeri

pekerjaan, tanggungjawab peran.

Posisi untuk menghindari nyeri

Tingkat nyeri

 

Kontrol faktor-faktor lingkungan

Tingkatkan

tidur/istirahat

yang

Perubahan

tonus

oto

(dari

Mampu

melaporkan

adanya

yang dapat mempengaruhi respon

rentang

lemas

tidak

bertenaga

nyeri, frekuensi nyeri dan

pasien terhadap ketidaknyamanan

sampai kaku)

episode lamanya nyeri.

(ex: temperatur ruangan,

Perubahan selera makan

Tanda-tanda

vital

kembali

penyinaran, dll).

Perilaku

distraksi

(misal

;

normal.

Modifikasi tindakan mengontrol

mondar-mandir, mencari orang, akivitas berulang)

 

nyeri berdasarkan respon pasien.

Wajah topeng (nyeri)

 

cukup.

Perilaku

menjaga

dan

sifat

Lakukan

teknik

variasi

untuk

melindungi

mengurangi

nyeri

(farmakologi,

Bukti nyeri yang dapat diamati

nonfarmakologi,

dan

Berfokus pada diri sendiri

interpersonal).

Gangguan tidur

Kolaborasikan

dengan

pasien,

 

orang

terdekat dan tenaga

Faktor yang berhubungan

 

profesional lain untuk memilh tenik

Agens-agens penyebab cedera

non farmakologi

 

(misalnya biologis, kimia, fisik, dan

Pemberian analgetik

psikologis)

Cek catatan medis untuk jenis obat,

dosis, dan frekuensi pemberian analgetik. Kaji adanya alergi obat.

Monitor tanda vital sebelum dan

     

sesudah pemberian analgetik narkotik saat pertama kali atau jika muncul tanda yang tidak biasanya. Kaji kebutuhan akan kenyamanan atau aktivitas lain yang membantu relaksasi untuk memfasilitasi respon analgetik.

Evaluasi kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam pemilihan jenis analgetik, rute, dan dosis yang akan digunakan.

Pilih

analgetik

atau

kombinasi

analgetik yang sesuai ketika menggunakan lebih dari satu obat.

Tentukan pilihan jenis analgetik (narkotik, non-narkotik, atau NSAID/obat anti inflamasi non steroid) bergantung dari tipe dan beratnya nyeri.

Berikan

analgetik

sesuai

jam

pemberian.

 

Dokumentasikan respon analgetik

dan efek yang muncul. Kolaborasikan dengan dokter jika

obat,

dosis,

dan

rute

pemberian,

atau

perubahan interval

diindikasikan,

buat

 

rekomendasi

spesifik

berdasar

pada

prinsip

kesamaan analgetik

2.

Retensi urine

 

Domain 3 : Eliminasi dan Perawatan retensi urin

   

Definisi

pertukaran

 

Pantau

penggunaan

agens non

Retensi

urine

adalah

ketidak

Kelas 1 : Fungsi urinarius

resep dengan anti kolinergik atau

sempurnaan

pengosongan

kandung

00023 : Retensi urin

agonis alfa

 

kemih.

 

Pantau efek obat resep, seperti

 

Setelah

dilakukan

tindakan

penyekat saluran kalsium dan anti

Batasan Karakteristik

 

keperawatan selama ...

x24

jam

kolinergik.

Subjektif :

pasien

menunjukan

jumlah

urin

Pantau asupan dan haluaran.

Disuria

normal tanpa ada retensi dengan

Pantau derajat distensi kandung

Sensasi kandung kemih penuh

indikator :

kemih melalui palpasi dan perkusi.

Objektif :

 

Kontinensia urin

 

Rujuk pada spesialis kontinensia

Distensi kandung kemih

Mengosongkan kandung kemih secara tuntas

urine jika di perlukan.

Urine Menetes

Berikan prifasi untuk eliminasi.

Inkontinensia Over flow

Menunjukan

pengosongan

Gunakan kekuatan sugesti dengan

Urine residu

 

kandung

kemih

dengan

mengalirkan air dan membilas

Haluaran urine sering dan sedikit

prosedur

bersih

kateterisasi

toilet.

atau tidak ada

intermiten mandiri

 

Stimulasi refleks kandung kemih

Faktor-faktor Yang berhubungan

Eliminasi urin Mempunyai haluaran 24 jam

asupan

dan

dengan menempelkan es keabdomen, menekan bagian dalam paha atau mengalirkan air.

Sumbatan

 

Berikan

cukup

waktu

untuk

Tingginya tekanan uretra yang di

 

pengosongan kandung kemih (10

sebabkan

oleh kelemahan

menit)

destrusor

Manajemen eliminasi urin

 

Inhibisi arkus refleks

Identifikasi

dan

dokumentasikan

Sfingter yang kuat

pola pengosongan kandung kemih

     

Bagi cairan dalam sehari untuk

menjamin asupan yang adekuat

tanpa menyebabkan kandung

kemih over distensi

 

Lakukan program pelatihan untuk

pengosongan kandung kemih,

 

Kateterisasi urine

 

Lakukan

kateterisasi untuk

mengeluarkan urine residu jika di

perlukan

Rujuk

ke

perawat

terapi

enterostoma

untuk

instruksi

kateterisasi

intermiten

mandiri

menggunakan

prosedur

bersih

setiap 4-6 jam pada saat terjaga

3.

Resiko kekurangan volume cairan

Domain 2 : Nutrisi

 

Manajemen elektrolit

 

Definisi

 

Kelas 5 : Hidrasi

Pantau hasil labolatorium yang

Resiko kekurangan Volume Cairan

00028 : Risiko defisiensi volume

relevan dengan keseimbangan

Adalah Kondisi Individu yang

cairan

 

cairan

(misal; kadar hematokrit,

beresiko mengalami dehidrasi

 

BUN, albumin, protein total,

Vaskular, selular, Intraselular

 

Setelah

dilakukan

tindakan

osmolalitas serum, dan berat jenis

 

keperawatan selama ...

x24

jumlah

urine)

Faktor resiko

 

cairan

yang

masuk

dan

keluar

Laporkan abnormalitas elektrolit

Penyimpangan

yang

seimbang,

yang

dapat

dibuktikan

Manajemen cairan

 

mempengaruhi akses untuk dengan indikator ;

Pantau

Status

Hidrasi

(Mis;

pemasukan atau absorpsi cairan.

Keseimbangan elektrolit dan asam

Kelembapan Membran Mukosa, Ke

Kehilangan

yang

berlebihan

 

basa

adekuatan Nadi, Dan Tekanan

melalui rute normal ( Mis; Diare).

Pasien

memiliki

konsentrasi

Darah Ortostatik)

 

Usia ekstrime (Bayi Baru Lahir

urine yang normal

Pertahankan

keakuratan

catatan

Atau Lansia)

 

Pasien memilki hemoglobin dan

asupan dan haluaran.

 

Berat

badan

ekstrime ( Kurang

hematokrit dalam batas normal

Pastikan bahwa pasien terhidrasi

atau Berlebih)

 

Keseimbangan cairan

 

dengan baik sebelum pembedahan

Faktor

yang

mempengaruhi

Pasien memiliki asupan cairan

Berikan terapi IV, Sesuai Program

Kebutuhan

Cairan

(Mis;

Status

 

oral dan/atau intravena yang

Tingkatkan asupan oral jika perlu.

Hipermetabolik)

adekuat

Berikan cairan sesuai keperluan

Defisiensi

Pengetahuan

(Yang

Hidrasi

 

Pasang kateter jika perlu.

 

berhubungan

Dengan

Volume

Pasien tidak mengalami haus

Tentukan

jumlah

cairan

yang

Cairan).

Kehilangan Cairan Melalui Rute

yang tidak normal

Pasien dapat menampilkan

masuk dalam 24 jam, hitung

asupan yang di perlukan sepanjang

 

yang tidak normal (Mis; Slang

 

hidrasi yang normal (membran

sif siang, sore dan malam.

Kateter Menetap)

 

mukosa lembab dan mampu

 

Obat (diuretik)

berkeringat)

Pemantauan cairan

 
 

Status nutrisi ; asupan makanan dan

Pantau

Warna,

Jumlah,

Dan

cairan

Pasien memiliki asupan dan

Frekuensi kehilangan cairan.

Cek arahan lanjut klien untuk

 

haluaran yang seimbang dalam

24 jam

menentukan apakah penggantian

cairan pada pasien sakit terminal

 

tetap dilakukan

 

Manajemen cairan/elektrolit

 

Kaji adanya vertigo atau hipotensi

postural

Identifikasi

faktor terhadap

bertambah buruknya dehidrasi

(misal; obat-obatan, demam, stres,

dan program pengobatan

 
     

Observasi

khususnya terhadap

kehilangan

cairan

yang tinggi

elektrolit (misal ; diare, drainase

luka, diaforesis)

 

Manajemen hipovolemia

Atur

ketersedian

produk

darah

untuk transfusi, bila di perlukan.

Pantau perdarahan ( Mis; Periksa

 

Seluruh sekret Dari adanya darah

nyat atau darah samar)

 

Manajemen syok

 

Ubah Posisi pasien Trendelenburg

Atau tinggikan tungkai pasien bila

hipotensi, kecuali di kontra indikasikan

Post Operasi

 

DIAGNOSA

NO

KEPERAWATAN

 

NOC

NIC

1.

Nyeri akut

 

Domain 12 : Kenyamanan

 

Manajemen nyeri

 

Definisi

Kelas 1 : Kenyamanan fisik

Kaji secara komprehensif tentang

Pengalaman sensori dan emosi yang

00132 : Nyeri akut

   

nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik

tidak menyenangkan akibat adanya

 

dan onset, durasi, frekuensi,

kerusakan jaringan yang aktual atau

Setelah

dilakukan

tindakan

kualitas, intensitas/beratnya nyeri,

potensial, atau digambarkan dengan

keperawatan

selama

...

x24

jam

dan faktor-faktor presipitasi.

 

istilah seperti (International

 

nyeri

klien

teratasi,

dengan

Gunakan komunkasi terapeutik

Association for the Study of Pain);

indicator:

 

agar pasien dapat mengekspresikan

awitan yang tiba-tiba atau perlahan

Tingkat kenyamanan.

nyeri

dengan intensitas ringan sampai berat

Dapat

melakukan

aktivitas

Kaji

tingkat keetidaknyamanan

dengan akhir yang dapat diantisipasi

seperti

biasa

tanpa

harus

pasien dan catat perubahan dalam

atau dapat diramalkan dan durasinya

merasakan nyeri.

catatan medik dan informasikan

kurang dari enam bulan.

 

Kontrol nyeri

 

kepada seluruh tenaga yang

 

Mampu

mengenali

faktor

menangani pasien

 

Batasan karakteristik

 

penyebab

Tentukan dampak dari ekspresi

Subjektif

 

Mampu

melaporkan

gejala

nyeri terhadap kualitas hidup: pola

Melaporkan atau mengungkapkan

pada tenaga kesehatan

tidur, nafsu makan, aktifitas

secara verbal (nyeri) dengan isyarat

Mampu

mengenali

gejala-

kognisi, mood, relationship,

Objektif

 

gejala nyeri

pekerjaan, tanggungjawab peran.

Posisi untuk menghindari nyeri

Tingkat nyeri

 

Kontrol faktor-faktor lingkungan

Perubahan

tonus

oto

(dari

Mampu

melaporkan

adanya

yang dapat mempengaruhi respon

rentang

lemas

tidak

bertenaga

nyeri, frekuensi nyeri dan

pasien terhadap ketidaknyamanan

sampai kaku)

episode lamanya nyeri.

 

(ex: temperatur ruangan,

Perubahan selera makan

Tanda-tanda

vital

kembali

penyinaran, dll).

 

Perilaku

distraksi

(misal

;

normal.

Modifikasi tindakan mengontrol

mondar-mandir, mencari orang,

 

nyeri berdasarkan respon pasien.

akivitas berulang)

 

Tingkatkan

tidur/istirahat

yang

Wajah topeng (nyeri)

cukup.

Perilaku

menjaga

dan

sifat

Lakukan

teknik

variasi

untuk

melindungi

mengurangi

nyeri

(farmakologi,

Bukti nyeri yang dapat diamati

nonfarmakologi,

dan

Berfokus pada diri sendiri

interpersonal).

Gangguan tidur

 

Kolaborasikan

dengan

pasien,

 

orang

terdekat dan tenaga

Faktor yang berhubungan

 

profesional lain untuk memilh tenik

Agens-agens penyebab cedera

non farmakologi

 
(misalnya biologis, kimia, fisik, dan Pemberian analgetik psikologis)  Cek catatan medis untuk jenis obat, dosis,
(misalnya biologis, kimia, fisik, dan
Pemberian analgetik
psikologis)
Cek catatan medis untuk jenis obat,
dosis, dan frekuensi pemberian
analgetik.
Kaji adanya alergi obat.
Monitor tanda vital sebelum dan
sesudah pemberian analgetik
narkotik saat pertama kali atau jika
muncul tanda yang tidak biasanya.
 Kaji kebutuhan akan kenyamanan
atau aktivitas lain yang membantu
relaksasi untuk memfasilitasi
respon analgetik.
Evaluasi kemampuan pasien untuk
berpartisipasi dalam pemilihan
jenis analgetik, rute, dan dosis yang
akan digunakan.
Pilih
analgetik
atau
kombinasi
analgetik yang sesuai ketika
menggunakan lebih dari satu obat.
Tentukan pilihan jenis analgetik
(narkotik, non-narkotik, atau
NSAID/obat anti inflamasi non
steroid) bergantung dari tipe dan
beratnya nyeri.
Berikan
analgetik
sesuai
jam
pemberian.
Dokumentasikan respon analgetik
dan efek yang muncul.
Kolaborasikan dengan dokter jika
obat,
dosis,
dan
rute
pemberian,
atau
perubahan interval
diindikasikan,
buat
rekomendasi
spesifik
berdasar
pada
prinsip
kesamaan analgetik
2.
Resiko infeksi
Domain 11 :
Pengendalian infeksi
Definisi
Keamanan/Perlindungan
Berikan
terapi
antibiotik,
bila
Resiko infeksi
adalah
beresiko Kelas 1 : Infeksi
diperlukan
terhadap infeksi organisme patogen
00266
:
Risiko
infeksi
area
Bersihkan
lingkungan
dengan
pembedahan
benar
setelah
dipergunakan
Faktor resiko
masing-masing pasien
Penyakit kronis
Setelah
di
lakukan
tindakan
Pertahankan
tehnik
isolasi,
bila
Penekanan sistem imun
keperawatan
....
x
24
jam
faktor
diperlukan
resiko infeksi
akan
hilang
di
Ketidakadekuatan
imunitas
Terapkan kewaspadaan universal
buktikan oleh
dapatan
Batasi
jumlah
pengunjung
bila
Status imun :
 Pertahanan primer tidak adekuat
diperlukan
Memperlihatkan
hygine
(misalnya kulit luka,trauma
Perlindungan infeksi
personal yang adekuat
jaringan,penurunan kerja silia,
Pantau
tanda
dan
gejala infeksi
statis airan tubuh, perubahan pH
Mengindikasikan
kasus
( misal; suhu tubuh, denyut
sekresi, dan gangguan peristalsis)
gastrointestinal, pernapasan,
jantung, drainase, penampilan luka
genito urinaria dan imun dalam
Pertahanan lapis kedua yang tidak
sekresi,
penampilan urine, suhu
batas normal.
memadai (misalnya hemoglobin
kulit,
lesi
kulit,
keletihan,
dan
Keparahan infeksi :
trun, leukopenia, supresi respon
malaise)
inflamasi)
Terbebas dari gejala dan tanda
Lindungi
pasien
terhadap
infeksi
 Peningkatan pemajanan
kontaminasi
silang
dan
tidak
Menggambarkan faktor yang
   

lingkungan terhadap patogen

menunjang penularan infeks

 

menugaskan

perawat

yang

sama

Prosedur infasif

Melaporkan tanda atau gejala

untuk

pasien

yang

lain

yang

Malnutrisi

infeksi

serta

mengikuti

mengalami

infeksi

dan

Agen farmasi

prosedur screaning

dan

memisahkan

ruang

perawat

dan

Kerusakan jaringan trauma

pemantauan

 

pasien

   

Pengendalian infeksi

 

Kaji faktor yang dapat meningkatkan

kerentanan terhadap infeksi

 

3.

Defisiensi pengetahuan

 

Domain 5 : Persepsi/Kognisi

 

Penyuluhan individual

 

Definisi

Kelas 4 : Kognisi

 

Tentukan kebutuhan belajar pasien

Tidak ada atau kurang informasi

00126 : Defisiensi pengetahuan

Lakukan penilaian terhadap tingkat

kognitif tentang topik tertentu

 

pengetahuan pasien saat ini

 
 

Setelah

di

lakukan

tindakan

Tentukan kemampuan pasien untuk

Batasan karakteristik

 

keperawatan ....

x

24

jam

pasien

mempelajari informasi khusus

 

Subjektif

dapat menunjukkan pemahamannya

Tentukan motivasi pasien untuk

Mengungkapkan

verbal

masalah

secara

tentang

penyakit yang dapat

dibuktikan ;

mempelajari informasi tertentu

Penyuluhan : prosedur/terapi

Objektif

Pengetahuan:

 

keluarga

akan

Beri informasi

tentang

sumber-

Tidak

mengikuti

instruksi

yang

Pasien

dan

sumber

komunitas

yang

dapat

diberikan secara akurat

mengidentifikasi kebutuhan

menolong pasien

dalam

Perfoma uji tidak akurat

terhadap informasi tambahan

mempertahankan program terapi

Perilaku

yang

tidak

sesuai

atau

tentang program terapi

 

Rencanakan penyesuaian dalam

terapi bersama pasien dan dokter

telalu berlebihan

Pasien

akan

memperlihatkan

 

kemampuan

   

untuk memfasilitasi kemampuan

Faktor yang berhubungan

   

pasien untuk mengikuti program

Keterbatasan kognitif

terapi

Kesalahan

dalam

memahami

 

informasi yang ada

Kurang pengalaman

Kurang perhatian didalam belajar

Kurang

kemampuan

mengingat

kembali

Kurang familier dengan sumber-

sumber informasi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011. Pedoman Penatalaksanaan BPH Di Indonesia. (PDF)

Prosiding Seminar Nasional Animus. 2010. Faktor-faktor resiko terjadinya prostat jinak (PDF). Semarang

Sunardi. 2008. Benign Prostate Hyperplasia (PDF)

USU. 2009. Tinjauan kepustakaan BPH (PDF)

Wilkinson

M.

Judith

&

Nancy

R.

Ahern.

2012.

Buku

saku

Diagnosis

Keperawatan. Jakarta. EGC YPSS. 2009. Laporan pendahuluan tentang benigna prostat hypertropi (PDF)