Anda di halaman 1dari 12

LBM 2

STEP 1

Keilosis :

- Radang pd sudut bibir yg ditandai dg kulit mengelupas dan retak2

5L :

- Lemas adalah Keadaan yg brlaku apabila oksigen trhalang memasuki


saluran pernafasan. Kekurangan oksigen dalam darah mengakibatkan
kerusakan jaringan dan mati otak

Mukosa :

- Jaringan lunak basah yang melapisi bukaan tubuh ex: mulut

Konjungtiva palpebra

- Prmukaan belakang kelopak mata dan melekat erat pada tarsus

MCV :

- Mean Cospuscular Volume. Untuk menghitung eritrosit. Rumusnya :


(Ht/jumlah darah dlm eritrosit dlm juta)x10
- Nilai normalnya 76-96 fL

MCH :

- Mean Corpuscular Hemoglobin. Yaitu nilai rata2 Hb tiap SDM dlm sample.
Rumusnya : (Hb/jumlah darah eritrosit dlm juta)x10
- Nilai normal 27-32 pg

MCHC :

- Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration.


- Rumus : (Ht/Hb)x100
- Nilai normal 31-35 g/dl

STEP 2

1. mengapa pasien merasakan 5L?


2. apa hubungan antara diet dgn masalah pasien?
3. apa saja faktor2 penyebab anemia?
4. Apa interpretasi dari Hb
5. pemeriksaan apa yg dilakukan pd seseorg yg mempunyai kelainan eritrosit?
6. brp nilai normal jmlah eritrosit?
7. Sebut dan jelaskan apa saja kelainan eritrosit?
8. Apa saja macam2 anemia?
9. Apakah mukosa tampak pucat termasuk ciri2 anemia? Mengapa?
10.knp mukosa tampak pucat.konjungtiva palpebra anemis positif.lidah
halus.keilosis
11.apa hubungan tidak makan sayur dan daging dgn masalah tsb?
12.apa terapi pada masalah tsb?

STEP 3
1. mengapa pasien merasakan 5L?
- krn didlm tubuh tdk mendapatkn nutrisi dr makanan.
- Krn Hb yg mengikat oksigen sedikit shg mjd pucat. Jaringan kekurangan jd
hipoksia jaringan. Metabolism anaerob menghasilkan asam laktat. ATP
berkurang shg menimbulkan lemah. Hubungannya dgn diet metabolism
trganggu.pmbentukan ATP trhambat.energi berkurang

2. apa saja faktor2 penyebab anemia?


- Pendarahan berat
- Kekurangan Fe
- Jumlah Hb rendah
- Faktor penyakit
- Genetic
- Kehamilan
- Gender
- Gangguan pd organ hematopoesis

3. Apa interpretasi dari Hb = 7 gr/dl. MCV = 50 pg. MCH = 24 fL?


- Anemia.

4. pemeriksaan apa yg dilakukan pd seseorg yg mempunyai kelainan eritrosit?


- Pemeriksaan darah rutin = Hb. LED. Hitung jenis leu. Hitung jumlah leukosit
- Pemeriksaan darah khusus = hematokrit. Indeks Eritrosit. Jumlah eritrosit.
Retikulosit

5. brp nilai normal jmlah eritrosit?


Pria dws = 4.5 – 6.5 jt/mm3
Wanita dws = 3.9 – 5.6 jt/mm3
Kurang dr 3 bln = 4 – 5.6 jt/mm3
3 bulan = 3.2 – 4.5 jt/mm3
1 tahun = 3.6 – 5 jt/mm3
12 tahun = 4.2 – 5.2 jt/mm3

6. Sebut dan jelaskan apa saja kelainan eritrosit?


a. Polisitemia = peningkatan kadar SDM. Ada 3 macam polisitemia: relative.
Vera/primer. Sekunder
- P. relative = pningktan SDM tdk diimbangi dgn jmlh total SDM
- P. primer = diimbangi dgn jumlah total SDM
- P. sekunder = polisitemia fisiologi krn merupakan respond dr hipoksia

b. Anemia = penurunan SDM krn darah hilang trlalu cpt atau produksi SDM
trlalu lambat

c. Hiperbilirubinemia = pningkatan bilirubin darah yg berlebihan yg ditandai


dgn ikterus
7. Apa saja macam2 anemia?
Ada 4 :
a. anemia def faktor2 seperti besi.asam folat.vit B12.protein
- anemia def Fe = asupan yg mengandung Fe kurang. Absorbsi jg berkurang.
Krn absobsi tdk kuat maka akan ada ganggu eritropoiesis shg SDM miskin
Hb maka trjadilah anemia def Fe
- anemia B12 = kekurangan vit B12 yg brhubungan dgn sintesis DNA maka
sintesis DNA trganggu maka maturasi inti sel trganggu. Megaloblast jg akan
banyak ditemukan

b. anemia aplastik = tjd akibat trhentinya pmbuatan SDM oleh sumsum


tulang.
Gangguan pd sutul krn neoplastik/sitoplastik.infeksi disekitar.radiasi.
Sel pluripotent jg mengalami gangguan dan produksinya brkurang shg trjadi
kelainan dan pmatangan kurang dan kurang memadai

c. anemia hemoregik = krn pndarahan menahun dlm jmlh besar.

d. anemia hemolitik = akibat pnghancuran SDM berlebihan


jumlah bilirubin meningkat. Disebabkan krn ada pnyakit
limfosarkoma.myeloma multiple.krn obat2an.
Akan trjadi mutasi sel eritrosit dan antigen akan berubah shg system
prtahanan tubuh menganggap SDM benda asing dan akan menyerang shg
mjd pecah.

8. knp mukosa tampak pucat.konjungtiva palpebra anemis positif.lidah


halus.keilosis?
karena kadar Hbnya rendah

9. apa hubungan tidak makan sayur dan daging dgn masalah tsb?
Sayur dan daging mengandung zat besi.asamfolat.protein yang dibutuhkan
tubuh
10.apa terapi pada masalah tsb?
Istirahat cukup.makan makanan sayuran dan daging. Jgn diet
Obat = sulfat feros 3x10 mg sehari
Anemia apalstik harus dgn transfusi darah
Anemia megaloblastik = diberi vit B12
STEP 7
1. mengapa pasien merasakan 5L?

Sylvia A. Price Lorraine M. Wilson. 2002. Patofisiologi, Jilid1. Jakarta. EGC.

pucat
berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin, dan vasokonstriksi untuk
memaksimalkan pengiriman O2 ke organ-organ vital.
Pada anemia berat, dapat menimbulkan payah jantung kongesif sebab ototjantung yang
kekurangan oksigen tidak dapat menyesuaikan diri denganbeban kerja jantung yang
meningkat. Dispnea (kesulitan bernafas), nafaspendek, dan cepat lelah waktu
melakukan aktivitas jasmani merupakanmanifestasi berkurangnya pengiriman O2. Sakit
kepala, pusing, kelemahandan tinnitus (telinga berdengung) dapat menggambarkan
berkurangnyaoksigenasi pada susunan saraf pusat.

Price, Sylvia A, Wilson lorrain M. 2005. Patofisiologi, Konsep klinis proses-proses


penyakit. Jakarta. EGC
2. apa hubungan antara diet dgn masalah pasien?
3. apa saja faktor2 penyebab anemia?
Kehilangan darah akut
Penyakit kronis yang meliputi infeksi, gangguan nedokrin, gangguan ginjal, gangguan
sumsum tulang.
Price, Sylvia A, Wilson lorrain M. 2005. Patofisiologi, Konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta. EGC

4. Apa interpretasi dari Hb


5. pemeriksaan apa yg dilakukan pd seseorg yg mempunyai kelainan eritrosit?
Hitung sel darah
Penetapan kadar Hb
Pengukuran hematokrit presentase eritrorit dalam darah lengkap
Indeks eritrosit
MCV- pengukuran besarnya sel : mikrositik-normositik-makrositik
MCH-mengukur jumlah hb yang terdapat dalam satu eritosit
MCHC-mengukur jumlah hb dalam 100 ml (1 dl) eritrosit packed: hipokromik-
normokromik-
Hitung retikulosit menggambarkan aktivitas sumsum tulang
Pemeriksaan sumsum tulang
Aspirasi dan biopsy sumsum tulang dilakukan jika px tidak cukup
Dapat diperoleh dari sternum, prosessus spinosus vertebra, Krista iliaka anterior atau
posterior. Pemeriksaan aspirasi sumsum tulang digunakan untuk mengarahkan
pemberian dosis kemoterapi dan terapi radiasi pada penderita keganasan hematologic.
Biopsy sumsum tulang digunakan untuk memriksa keadaan sel sumsum tanpa merusak
arsitekturnya.
Sitogenetik
Pemeriksaan komposisi kromosom sel, fungsi normal, dan setiap deviasi dari normal.
Price, Sylvia A, Wilson lorrain M. 2005. Patofisiologi, Konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta. EGC

6. brp nilai normal jmlah eritrosit?


7. Sebut dan jelaskan apa saja kelainan eritrosit?
Anemia
Kurangnya Hb didalam darah yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah yang terlalu
sedikit atau jumlah Hb dalam sel yang terlalu sedikit.
Pengaruh anemia terhadap fungsi sistem sirkulasi
Pada anemia berat viskositas darah turun 1,5 viskositas air. Keadaan ini mengurangi
tahanan terhadap aliran darah dalam pembuluh darah perifersehingg jumlah darah yang
mengalir melalui jaringandan kemudian kembali ke jantung melebihi normal. Hal itu
meningkatkan curah jantung. Jadi salah satu efek utama anemia adalah peningkatan
curah jantung dan peningkatan beban kerja pemompaan jantung.

Polisitemia
 Polisitemia vera
Disebabkan oleh penyimpangan gen yang terjadi di sel hemositoblastik yang
memproduksi sel-sel darah (patologis). Jumlah sel darah merah (7-8 jt/mm3), hematokrit
(60-70 %).banyak kapiler darah menjadi tersumbat karena darah yang kental. Viskositas
darah pada polisitemia meningkat dari 3 menjadi 10 kali viskositas air.
 Polisitemia sekunder
Polisitemia fisiologis, polisitemia dapat timbul sebgai akibat hipoksia. Jumlah sel darah
(6-7 jt/mm3)
Pengaruh polisitemia terhadap fungsi sistem sirkulasi
Karena viskositas darah tinggi aliran darah lambat.kenaikan viskositas menurunkan
kecepatan aliran balik vena ke jantung. Sebaliknya, pada polisitemia volume darah
meningkat yang cenderung menambah aliran balik vena ke jantung. Jadi, curah jantung
pada polisitemia tidak jauh dari nilai normal.
Warna kulit bergantung pada besarnya jumlah darah di pleksus vena subpapilaris kulit.
Pada polisitemia vera, jumlah darah dalam pleksus meningkat. Selanjutnya karena aliran
darah dalam kapiler kulit sangat lambat sebelum memasuki pleksus vena, maka
sejumlah hb yang melebihi batas normal akan mengalami deoksigenasi, warna biru dari
semua hb yang mengalami deoksigenasi akan menutupi warna merah dari hb yang
mengalami oksigenasi. Jadi pasien dengan polisitemia vera biasanya memiliki wjah
bewarna normal kemerahan dengan kulit bewarna kebiru-biruan (sianotik).
Guyton A.C, Hall John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta. EGC.

Berdasarkan ukuran eritrosit

Mikrositik : kelainan eritrosit yang ukurannya kecil dari nomal (Normal = 80 mm)-

Makrositik : kelainan eritrosit yang ukurannya lebih besar dari normal-

Normositik : bentuk dan ukurannya normal, tetapi jumlahnya di dalam tubuh tidak
normal(jumlah normal = 5 juta)
Berdasarkan warna
Normokromia: menggambarkan konsentrasi hemoglobin yang normal. central pallor
tidak lebih dari 1/3 dari diameter eritrositnya
Hipokromia : memperlihatkan suatu sel yang pucat, menggambarkan penurunan
konsentrasi Hb. Central paloor melebar

Hiperkrom : sel membrannya menebal

Berdasarkan bentuk

Ovalosit : berbentuk eperti oval, cigar cell -anemia defisiensi besi

Eliptosit : berbentuk seperti elips - elipsitosis herediter

Sel Krenasi : berbentuk seperti berduri yang terjadi karena cairannya hipertonis-

Acantosit : berduri lebih panjang dari sel krenasi –anemia hemolitik pada sirosis hati,
penyakit hati

Sel target : pada cekungan eritrosit terdapat tonjolan -penyakit hati dan thalasemia-

Tear drop : bentuk sel seperti air mata -hemapoisis ekstrameduler-

Stomatosit : central pallornya berbentuk seperti mulut -alkoholisme akut, hepatitis akut-

Sickle cell : eritrosit berbentuk sepeerti huruf v, s, dan L -anemia sel sabit-

Burr cell : eritrosit dengan tonjolan pendek dan beraturan -uremia, ulcus
denganpendarahan-
Sferosit : rasio antara diameter dan ketebalan berkurang, bentuk sferis eritrosit normal.
Sel ini dpt dijumpai dlm jumlah besar pada sferositosis congenital.
Anisotosis : variasi ukran sel yang abnormal
Siderosit : sel yang mengandung granula besi anorganik.

Price, Sylvia A, Wilson lorrain M. 2005. Patofisiologi, Konsep klinis proses-proses


penyakit. Jakarta. EGC
Riadi Wirawan,dkk. 1996. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Sederhana Edisi kedua
Cetakan pertama. Balai Penerbit FKUI. Jakarta

8. Apa saja macam2 anemia?


Mikrositik hipokrom
MCV < 80 fl, MCH < 27 pg
 Anemia defisiensi Fe (20 mg hanya 2 mg yang diabsorpsi)
Secara morfologis diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokromik dengan
penurunan kuantitatif sintesis Hb. Disebabkan oleh perdarahan kronik paling
banyak oleh infestasi cacing tambang. Penyebab anemia ini adalah diet yang tidak
mencukupi, absorpsi yang menurun, kebutuhan meningkat pada kehamilan,
perdarahan sal cerna, menstruasi, donor darah dan hemoglobinuria
Manifestasi klinis berupa rambut rapuh, atrofi papilla lidah mengakibatkan lidah
halus, mengkilat, dan tampak pucat, keilosis, kuku tipis rata.
MCV menurun dan didapatkan gambaran sel mikrositik hipokrom dan Fe serum
menurun. Hct menurun.
 Anemia penyakit kronik
Anemia ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi seperti infeksi
ginjal, paru, infeksi kronik seperti arthritis rheumatoid
Manifestasi klinis, berat ringannya anemia berbanding lurus dengan aktivitas
penyakit. Hematokrit (25-30 %).
 Anemia sideroblastik
Ditandai adanya sel-sel darah abnormal dalam sirkulasi dan sumsum tulang.
Sideroblas membawa besi di mitokondria bukan di molekul hemoglobin,
sehinggatidak mampu untuk mengangkut oksigen ke jaringan. Anemia sideroblastik
primer tarjadi akibat kelainan genetic pada kromosom x. penyeybab sekundae
anemia sideroblastik adalah obat-obat ttt (missal beberapa obat kemoterapi).
Menggambarkan tanda sistemik anemia, penimbunan besi mengakibatkan
hepatomegali dan splenomegali.
 Thalasemia
Zat besi normal.
Normositik normokrom
MCV 80-95 fl, MCH > 26 pg
 Anemia hemolitik
Terjadi penurunan usia sel darah merah baik sementara atau terus-menerus.
Anemia terjadi hanya bila sum-sum tulang telah tidak mampu mengatasinya karena
sel darah merah sangat pendek.
Manifestasi klinis, ikterus dan splenomegali.
Terjadi penurunan Ht, retikulosit
 Anemia aplastik
Terjadi karena ketidaksanggupan sutul untuk memproduksi sel-sel darah
Penyebanya bisa congenital (jarang), idiopatik (kemungkinan autoimun), LES,
kemoterapi, toksin seperti benzene, toulen, insektisid, obat-obatan seperti
kloramfenikol, sulfonamide, analgesic (pirazolon), antiepiletik (hidantoin), kinakrin,
dan sulfonylurea
Terdapat pansitopenia, retikulosit turun. Pada a. aplastik berat ditemukan neutrofil
krng dari 500 ml, trombosit krng dari 20.000 /ml, retikulosit kurang dari 1%,
kepadatan selular sutul krng dari 20 %.
 Anemia karena pendarahan
Perdarahan akut
Mungkin timbul renjatan bila pengeluaran darah ckp banyak, sedangkan penurunan
hb baru terjadi beberapa hari kemudian.
Perdarahan kronik
Ulkus peptikus,, menometroragi, perdarahan saluran cerna karena pemakaian
analgesic dan epistaksis. Gambaran anemia sesuai dengan anemia def Fe.

Makrositik
MCV >95 fl
Anemia megaloblastik
 Anemia defisiensi vit B12
Gangguan absorpsi vitamin. Didapatkan adanya anoreksi, diare, dyspepsia, lidah
licin, pucat dan agak ikterik.
MCV lebih dari 100 fl, neutrofil hipersegmentasi. Kadar vit serum kurang dari 100
pg/ml.
 Anemia defisiensi asam folat (keb min 50 mg, 50-90 % dapat hilang dg memasak
banyak air)
Umunya berhubungan dengan malnutrisi.
Perubahan pada mukosa, mungkin ditemukan gejala neurologis.
Gambaran seperti pada anemia pernisiosa tetapi kadar vit B12 serum normal, as
folat serum rendah, yang dpat memastikan diagnosis adalah kadar folat sel darah
kurang dari 150 ng/ml. peningkatan MCV >98.
Anemia non megaloblsatik
 Anemia penyakit hati
 Anemia karena hipotiroid
Mansjoer, Arif M dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga. Jakarta. Media
Aesculapius.
Hoffbrand A.V, Petit J.E, Moss P.A.H. 2005. Kapita Selekta Hematologi, Edisi 4. Jakarta.
EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Paofisiologi. Jakarta. EGC
9. Apakah mukosa tampak pucat termasuk ciri2 anemia? Mengapa?
10. knp mukosa tampak pucat.konjungtiva palpebra anemis positif.lidah halus.keilosis
bila ada penghancuran aktif sel-sel darah merah seperti pada hemolisis, pelepasan
bilirubin secara cepat dalam jumlah besar kedalam cairan ekstraselular menyebabkan
warna kekuningan kabur pada kulit dan konjungtiva yang disebut ikterus
guyton. 2001.

11. apa hubungan tidak makan sayur dan daging dgn masalah tsb?
12. apa terapi pada masalah tsb?
 Anemia defisiensi Fe
Pemberian preparat Fe
 fero sulfat 3x325 mg oral
 fero glukonat 3x200 mg oral sehabis makan
 iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml diberikan secara intramuscular
 Anemia penyakit kronik
Terapi ditujukan pada penyakit dasarnya
Pada anemia mengancam nyawa dapat diperlukan transfusi darah seperlunya.
Pengobatan suplementasi besi tidak diindikasikan kecuali untuk mengatasi anemia
pada arthritis rheumatoid. Pemebrian kobalt dan eritropoetin dikataakn dapat
memperbaiki anemia ini.
 Anemia sideroblastik
Obat piridoksin.
 Anemia karena pendarahan
Mengatasi pendarahan
Pemberian preparat Fe
 Anemia aplastik
Transfuse darah sebaiknya diberikan packed red cell.
Kortikosteroid
Atasi komplikasi dengan antibiotic
immunosupresi
Transplantasi sum-sum tulang
 Anemia hemolitik
Disesuaikan penyebabnya. bila karena toksik imunologik yang dapat diberikan adalah
kortikosteroid (prednison dan prednisolon) kalau perlu dilakukan splenektomi.
Apabila keduanya tidak berhasil dapat diberikan obat sitostatik seperti klorambusil
dan siklofosfamid.
 Anemia defisiensi vit B12
Pemberian vit B12 1000 mg/ hari selama 5-7 hari, 1 kali tiap bulan.
 Anemia defisiensi asam folat
Meliputi pengobatan terhadap penyebabnya dan dpat dilakukan dengan pemberian
suplementasi asam folat 1 mg per hari.
Mansjoer, Arif M dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga. Jakarta. Media
Aesculapius.