Anda di halaman 1dari 20

Nama : Estik Wijayasari

NIM : 9915817010 (Pendidikan Sejarah)

PENERAPAN ANALISIS STRUKTURAL TERHADAP KARYA SEJARAH


INDONESIA

Pengertian

Istilah strukturalisme atau paham struktural identik dengan Levi Strauss


dan Annalles School. Tradisi ini muncul sebagai kritik terhadap pendekatan
narativisme yang dianggap terlalu memanjakan aktor. Mazhab struktural
menekankan bahwa seorang tokoh besar tidak lahir dan berkembang dalam ruang
hampa, melainkan ia hadir dalam konteks struktur sosial tertentu. Mazhab
struktural memaparkan bahwa struktur sosial dapat terbentuk karena pengaruh
geografis. Singkatnya, seorang tokoh yang berperan dalam suatu peristiwa sejarah
dipengaruhi secara dominan oleh determinan fisik. Contoh: seorang tokoh yang
egaliter pada umumnya lahir di bentang alam pesisir dan seorang tokoh yang
hierarkis pada umumnya lahir di bentang alam pedalaman atau pegunungan yang
terisolasi.
Konsep struktural ini membuat para penulis historiografi Indonesia
modern telah terpengaruh oleh para sejarawan Perancis yang tergabung dalam
aliran Annales. Mereka memperluas penulisan sejarah yang hanya terbatas pada
sejarah politik, menjadi mengedepankan sejarah sosial, sejarah struktural atau
sejarah total. Hal tersebut dikarenakan politik tidak lagi dianggap sebagai tulang
punggung sejarah.1 Penulisan sejarah tersebut kemudian terus berkembang
sehingga muncul spesialisasi baru dalam sejarah, seperti sejarah kota, sejarah
kriminalitas, sejarah pendidikan, sejarah local, sejarah intelektual, sejarah militer,
sejarah psikologi, sejarah mentalitas, dan sebagainya. Sejarawan annales
memberikan inspirasi bagi perkembangan historiografi Indonesia modern untuk
menulis sejarah tentang setting pedesaan dan perkotaan, konflik antara petani dan
bangsawan, petisi-petisi, protes-protes, dan pemberontakan petani.2
Historiografi Indonesia modern sangat berbeda dengan penulisan sejarah
konvensional yang bersifat naratif dan deskriptif. Untuk mewujudkan sejarah
Indonesiasentris, diperlukan metode sejarah analitis atau struktural serta
pendekatan multidimensional. Sebab dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial, ruang
lingkup sejarah Indonesia tidak lagi dibatasi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang
proses, tetapi juga mulai memikirkan mengenai struktur. Selain itu, pendekatan
multidimensional sangat diperlukan agar lebih tampak dinamika dari masyarakat
Indonesia. Bukan hanya menceritakan sejarah orang-orang besar atau raja-raja,
melainkan juga sejarah wong cilik atau petani.
Dalam karya sejarah struktural yang ditekankan justru adalah struktur
bukan manusia. Struktur membutuhkan elemen (individual/manusia), tetapi itu

1
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, Yogyakarta : PT. Tiara Wacana, 2003, hlm.
175.
2
Ibid, hlm. 224-225.

1
hanya sebagai bagian dari hukum atau aturan yang berlaku. Bagaimanapun, setiap
tindakan individu pada hakekatnya dilandasi norma-norma yang berlaku pada
masyarakatnya. Manusia tidak bisa menjadi individu, kecuali dalam lingkungan
sosialnya (Leirissa: 2002). Jadi sadar atau tidak, apa yang dilakukan manusia
tidak bisa lepas dari struktur. Karenanya penjelasan teoritik dan analitik terhadap
apa yang dilakukan harus diurai dalam konteks struktur. Untuk itulah seorang
sejarawan hendaknya tidak hanya memahami fakta-fakta suatu peristiwa,
melainkan juga harus memahami ilmu-ilmu bantu/ teori-teori sosial untuk
membedah sebuah struktur peristiwa.

Hubungan Antara Sejarah dengan Ilmu-ilmu Sosial

Untuk memahami masalah sejarah dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu


sosial, perlu kiranya lebih dahulu dikemukakan mengenai apa yang dimaksud
dengan ilmu-ilmu sosial itu, dan apa yang menjadi sasarannya, tujuan, serta
hubungannya antara satu dengan lainnya. Yang dimaksud dengan ilmu-ilmu sosial
di sini adalah semua ilmu pengetahuan atau disiplin-disiplin akademis yang
memiliki sasaran studinya pada manusia dalam hubungan sosialnya. (Kenzie,
1966: 7-8) Karena masalah manusia dalam kehidupan masyarakat mencakup
pengertian yang luas maka untuk dapat mempelajari dan memahami secara
mendalam diperlukan suatu pembagian lapangan perhatian yang secara khusus
memusatkan pada salah satu segi dari tingkah laku manusia dalam pergaulannya
yang dilola dalam kesatuan-kesatuan lapangan studi. (Suryo, 1980: 1) Nama-nama
lapangan studi kemudian diberikan menurut jenis tingkah laku dari segi-segi
kehidupan masyarakat yang menjadi pusat pengamatannya. Adapun nama-nama
disiplin yang termasuk dalam kelompok ilmu sosial adalah ilmu ekonomi,
sosiologi, anthropologi sosial, ilmu politik, psikologi sosial, dan sejarah. Tiap-tiap
disiplin ini memiliki sejarahnya sendiri, waktu pengamatan, permasalahan,
sumber-sumber bahan dan sering juga memiliki teknik / metode penelitian sendiri-
sendiri. (Suryo, Ibid)
Bahwasanya ilmu sejarah termasuk dalam lingkungan ilmu sosial,
memerlukan sedikit penjelasan. Pertama perlu diketahui bahwa sejarah
dikualifikasikan sebagai “ilmu” baru pada masa abad ke-19. Bila pada abad ke-18
sejarah dianggap arts, maka pada abad ke-19 sejarah dianggap lebih bersifat
sebagai suatu sistem. Dalam bentuknya sebagai arts sejarah hanyalah merupakan
bentuk pemikiran manusia yang disampaikan dalam bentuk narration yang secara
literer melukiskan persistiwa masa lampau, dan bersifat mempersoalkan masalah;
apa, kapan, di mana, dan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Tekanan lebih
banyak diarahkan pada segi-segi literernya, hal-hal yang unik, dan tidak
menggunakan analisis. Maka dari itu dalam studi sejarah yang konvensional ini
tidak mendapat persoalan kausalitas sebagai pusat penggarapannya, oleh karena
itu tidak terdapat pertanyaan “mengapa”. Selain tidak mempersoalkan masalah
“mengapa”, sejarah konvensional tidak memiliki kerangka konseptual dalam
menggarap sasarannya.

2
Dalam keadaan yang sedemikian itu sejarah kurang mempunyai arti
karena tidak dapat memberikan penjelasan mengenai masalah yang terjadi dalam
kehidupan manusia. Berbeda dengan sejarah yang bersifat literer, maka sejarah
sebagai sistem, menghendaki adanya sistematisasi dalam penggarapan sasaran
studinya. Dalam hal ini sejarah memiliki kerangka kerja konseptual yang jelas dan
memiliki peralatan metodologis dalam menganalisis sasaran yang dipelajarinya.
Dengan menggunakan prosedur kerja metodologis seperti ini maka sejarah
mampu mengungkapkan kausalitas secara tajam sehingga dapat memperoleh
gambaran yang jelas dari suatu peristiwa.
Dilihat dari sasaran objeknya, maka studi sejarah dengan studi ilmu sosial
lainnya tidaklah banyak berbeda. Mengenai masalah deskripsi dan analisis, bagi
sejarah ataupun sosiologi dan juga ilmu-ilmu lain, dikotomi itu adalah membantu.
Analisis menghendaki suatu deskripsi, demikian pula deskripsi yang memadai
adalah deskripsi yang rumit, yang tergantung pada cukupnya sebab-sebab yang
ada di dalamnya. (Kartodirdjo, 1970: 61-68) Dalam kecenderuangannya sekarang
antara keduanya dalam mencari sebab-sebab sama-sama punya arti. Sejarah
mempelajari yang unik, sedangkan sosiologi mempelajari yang umum. Tanpa
perhubungan antara keduanya, maka tidak akan diperoleh eksplanasi. Perlu
dicatat, bahwa sekalipun sosiologi lebih mementingkan generalisasi, tetapi dalam
penggarapannya memerlukan pula segi-segi keunikan secara historis. Sebaliknya
dalam sejarah, sekalipun sasarannya lebih diarahkan pada keunikan, tetapi juga
tidak berarti mengabaikan sifat-sifat yang umum. Sebagai contoh dalam sejarah
diperlukan juga konsep-konsep umum untuk mengkonseptualisasikan gejala
sejarah, seperti tercermin dalam penggunaan konsep feodalisme, borjuasi,
kapitalisme, dan lain-lain. (Suryo, Ibid: 5)
Kemudian, bagaimana hubungan timbal balik antara sejarah dengan ilmu-
ilmu sosial lainnya? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hubungan antara sejarah dengan sosiologi, tercermin dalam ungkapan
yang berbunyi “sejarah adalah sosiologi dengan pekerjaan berat. Sosiologi
adalah sejarah tanpa pekerjaan berat”. Dalam perkembangan kedua
disiplin saling berhubungan erat, sehingga timbul jenis-jenis pendekatan
interdisipliner antara keduanya. Sebagai contoh dapat ditunjukkan tentang
karya-karya yang sifatnya sosiologis dalam konsep-konsepnya dan historis
dalam penggarapannya. Misalnya: Penulis yang menggunakan pendekatan
sosiologis bahan-bahan sejarah (sociological history) antara lain:
Caulanges, Giots, Pirenne, Maunier, Maitland, Stephenson, Marc Bloch.
Tema yang diambil oleh penulis ini antara lain memusatkan pada lahir dan
berkembangnya masyarakat tertentu, terutama yang berhubungan dengan
masalah demografi, ekonomi, dan perpindahan penduduk. Kesemuanya
memusatkan sejarah Eropa pada periode klasik atau pertengahan. Ada pula
yang memusatkan pada masalah case-study tentang daerah kebudayaan.
Contohnya: Howard Beeker, Jacob Burchard, Max Weber, Toynbee, dan
lain-lain.
2. Hubungan antara sejarah dengan ilmu politik. Secara konvensional
sejarah politik dalam hal ini banyak menampilkan segi politik secara
menonjol. Dalam hubungannya dengan kedua disiplin ini melahirkan apa

3
yang disebut pendekatan ilmu politik, dan pendekatan institusional,
pendekatan legalistis, pendekatan kekuasaan, pendekatan nilai dan
pengaruh, pendekatan kelompok, dan sebagainya.
3. Hubungan antara sejarah dan anthropologi juga erat terutama bagi
sejarah karena mendapat manfaat dengan pendekatan kulturalnya.
Anthropologi lazim mengkaji suatu komunitas dengan pendekatan
sinkronis, yaitu seperti membuat suatu pemotretan pada momentum
tertentu mengenai pelbagai bidang atas aspek kehidupan komunitas,
sebagai bagian dari satu kesatuan atau sistem serta hubungan satu sama
lain sebagai subsistem dalam suatu sistem. Rasanya gambaran sinkronis
ini tidak memperlihatkan pertumbuhan atau perubahan. Justru dalam studi
anthropologi diperlukan pula penjelasan tentang struktur-struktur sosial
yang berupa lembaga-lembaga, pranata, sistem-sistem, kesemuanya akan
dapat diterangkan secara lebih jelas apabila diungkapkan pula bahwa
struktur itu adalah produk dari perkembangan di masa lampau. Hal ini
akan dapat dijelaskan eksistensinya dengan melacak perkembangan
sejarahnya. (Kartodirdjo, 1988: 165)
4. Hubungan antara sejarah dengan ekonomi. Sepanjang sejarah modern
telah muncul kekuatan-kekuatan ekonomi pasar internasional maupun
nasional. Dengan demikan, juga menyangkut soal metodologis untuk
memahami perkembangan itu. Hubungan antara keduanya memungkinkan
sejarah memperoleh hipotesa-hipotesa dan model-model yang
berhubungan dengan tindakan sosial dalam hubungannya dengan alokasi
sumber kehidupan dan pemilihan alternatifnya. (Suryo, Ibid: 7)

Pentingnya Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial bagi Ilmu Sejarah

Dalam perkembangan studi sejarah kritis sejak akhir Perang Dunia II


menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menggunakan pendekatan ilmu
sosial. Rapproachment atau proses saling mendekati antara ilmu sejarah dan ilmu-
ilmu sosial disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: (Kartodirdjo, 1988: 130)

1. Sejarah deskriptif-naratif sudah tidak memuaskan lagi untuk menjelaskan


pelbagai masalah atau gejala yang serba kompleks. Oleh karena objek
yang demikian memuat pelbagai aspek atau dimensi permasalahan, maka
konsekuensi logis ialah pendekatan yang mampu mengungkapkannya.
2. Pendekatan multidimensional atau social-scientific adalah yang paling
tepat untuk dipakai sebagai cara menggarap permasalahan atau gejala
tersebut di atas.
3. Ilmu-ilmu sosial telah mengalami perkembangan pesat, maka
menyediakan berbagai teori dan konsep yang merupakan alat analitis yang
relevan sekali untuk keperluan analisis historis.
4. Lagi pula studi sejarah tidak terbatas pada pengkajian hal-hal informatif
tentang apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana saja, tetapi juga ingin
melacak pelbagai struktur masyarakat, pola kelakuan, kecenderungan
proses dalam berbagai bidang, dan lain-lain. Kesemuanya itu memerlukan

4
dan menuntut adanya alat analitis yang tajam dan mampu
mengekstrapolasikan fakta, unsur, pola, dan sebagainya.

Perlu diakui bahwa dalam periode tersebut di atas ilmu sejarah menerima
pengaruh besar dari kemajuan pesat ilmu sosial, antara lain perspektivisme yang
menonjol, sehingga terasa perlu mengadakan perubahan metodologis yang lebih
canggih serta lebih produktif. Peminjaman alat-alat analitis dari ilmu-ilmu sosial
adalah wajar, oleh karena sejarah konvensional miskin akan hal itu, antara lain
disebabkan oleh tidak adanya kebutuhan menciptakan teori dan istilah-istilah
khusus serta memakai bahasa kehidupan sehari-hari dan common sense.
Rapproachment antara ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial sudah barang tentu
akan mengarah pada integrasi antara pengkajian sejarah dengan ilmu-ilmu sosial,
sekaligus juga mendorong terjadinya pengkajian sejarah yang interdisipliner.
Apabila point-point di atas membicarakan sebab-sebab perlunya
melakukan rapproachment, maka perlu pula dilihat keterkaitannya secara teoritis.
(F.R. Ankersmit, 1987: 246-247)

1. Dengan bantuan teori-teori ilmu sosial yang menunjukkan hubungan antara


berbagai faktor (misalnya inflasi, pendapatan nasional, pengangguran, dan
sebagainya), pernyataan-pernyataan mengenai masa silam dapat dirinci,
baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
2. Suatu teori sosial ilmiah, mengadakan hubungan antara berbagai variabel.
Ini dapat mendorong seorang sejarawan meneliti sebuah aspek dari masa
silam yang serasi dengan variabel tertentu. Dengan demikian, dan dengan
bantuan teori dari ilmu sosial lain, seorang sejarawan lalu dapat melacak
hubungan antara aspek tadi dengan aspek-aspek lainnya. Misalnya, sebuah
teori mengenai hubungan antara penghematan dengan investasi, dapat
mendorong sejarawan untuk meneliti penghematan di Inggris pada abad ke-
18, dan dengan demikian dapat menambah dimensi baru kepada diskusi
mengenai latar belakang Revolusi Industri di Inggris. Pengkajian sejarah
yang dilakukan secara interdisipliner, merangsang penelitian sejarah sendiri
dan membuka jalan untuk memberi jawaban baru kepada pertanyaan-
pertanyaan lama.
3. Akibat yang dapat diharapkan ialah kaitan yang diadakan oleh suatu teori
sosial, serta permasalahan yang ditimbulkan oleh teori itu, juga akan
memberi tempat baru kepada permasalahan tersebut dalam tinjauan sejarah.
Teori-teori sosial dapat membantu seorang sejarawan, agar dapat menyusun
pengetahuannya mengenai masa silam dalam struktur yang paling memadai.
4. Teori-teori dalam ilmu sosial, biasanya berkaitan dengan struktur umum dan
supraindividual di dalam kenyataan sosio-historis. Oleh karena itu, teori-
teori tersebut dapat menganalisis perubahan-perubahan yang mempunyai
jangkauan luas. Suatu pendekatan sosio-historis dapat membantu kita, bila
kita ingin mengerti perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan
ribuan orang yang tak bernama. Dalam pengkajian sejarah, memang
kelihatan suatu perhatian untuk suka duka orang-orang kecil pada masa
silam. Hal ini sesuai dengan apa yang ingin ditampilkan oleh Prof. Sartono

5
Kartodirdjo, bahwa perspektif historis dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial
akan memberi tempat bagi rakyat kecil yang selama ini dianggap tidak
memainkan peran dalam sejarah. Dengan kata lain rakyat kecil menjadi
objek atau dramatis personae.
5. Bila teori-teori yang dipakai dalam ilmu-ilmu sosial memang dapat
diandalkan dan dipercaya, maka dengan mempergunakan teori-teori itu,
pengkajian sejarah dapat melepaskan diri dari cap subjektivitas yang sering
dituduhkan kepada sejarawan. Penelitian sejarah yang ditopang oleh teori-
teori yang dapat diandalkan, ternyata lebih dapat dipertanggung- jawabkan
objetivitas keilmuan sejarah itu sendiri.

Orientasi pengkajian sejarah kepada ilmu-ilmu sosial selama dua atau tiga
dasawarsa terakhir ini, didukung oleh para sejarawan dan filsuf sejarah. Demikian
D. Landes dan Ch. Tilly menandaskan, bahwa banyak masalah sejarah, baru dapat
dipecahkan dengan bantuan sosiologi dan demografi. Cara kerja tradisional
seorang peneliti sejarah tidak memadai, oleh karena itu harus minta bantuan dari
teori-teori ilmu sosial yang membuka jalan untuk menerangkan dan melukiskan
masa silam dengan cara yang lebih teliti. Selain itu, sejarawan dapat menyediakan
bahan, guna memerinci dan memperbaiki teori-teori itu. Namun demikian,
seorang sejarawan terutama harus bertindak dengan lebih sistematis, kuantifikasi
harus menggantikan intuisi yang samar-samar. Tidak cukup mengatakan, bahwa
pada tahun 1789, rakyat Perancis lebih makmur daripada seputar tahun 1750.
Dengan tepat harus ditetapkan, berapa jumlah penghasilan nasionalnya atau
pendapatan per kapitanya, baik pada tahun 1789 maupun tahun 1750. Pada tahun
1972, seorang sejarawan Amerika L. Benson, mengungkapkan harapannya, bahwa
pada tahun 1984, semua sejarawan menjadi yakin, bahwa masa silam dapat diteliti
dengan penuh arti, bila diminta bantuan dari ilmu-ilmu sosial.
Konsep-konsep dan teori-teori ilmu-ilmu sosial itu diakui sangat perlu.
Meskipun demikian, tidak satu pun di antaranya memberikan jalan keluar yang
siap pakai begitu saja diambil tanpa pengujian yang hati-hati, pengadaan
eksperimen, dan adaptasi. Para sejarawan sendiri harus mencari data dan metode
ilmu sosial yang dapat memperluas lingkup dan makna penelitian mereka. Mereka
harus menentukan sendiri apa yang harus diubahsesuaikan, dan apa yang harus
dipadukan dalam kombinasi-kombinasi baru secara bebas, untuk dapat memenuhi
syarat-syarat yang diperlukan oleh mereka sendiri. (Ibrahim Alfian, 1985: 14)
Klaim kerja strukturalisme, mengatakan bahwa realitas harus dimaknai
sebagai misteri yang harus dicari, karena ia hanyalah fenomena/tampakan.
Dengan demikian sebuah realitas adalah suatu yang harus dilihat secara abstrak,
dan dijelaskan sebagai sebuah fenomena. Levi Strauss, berpendapat bahwa
struktur adalah konsep cara berfikir manusia yang elementer, dan karenanya
bersifat universal. Untuk itu yang penting ialah bagaimana kita memahami cara
berfikir simbolik pada manusia. Menurut Lloyd (1987), strukturalisme
diperkenalkan dalam berbagai bidang pengetahuan oleh beberapa tokoh ternama,
seperti: Ferdinand Saussure dalam bidang linguistik, Emile Durkheim dalam
sosiologi, Karl Marx pada bidang ekonomi-politik dan sejarah serta Sigmund
Freud dalam bidang psikologi.

6
Dalam bidang psikologi atau juga mentalite, strukturalisme mendapat
tempat pada pemikiran Annales School, yaitu Lucien Febvre, March Bloch, yang
berlanjut pada Fernand Braudel. Bagi mereka pekerjaan sejarawan adalah meneliti
lingkungan sosial yang menjadi bekal mentalnya, bukan pada hubungan antar
individu an sich. Buku karangan Febvre mengenai religiusitas seorang pengarang
perancis abad ke-16, Rebelias, adalah contoh yang menarik. Dalam buku ini,
Febvre menunjukkan bagaimana alam pikiran manusia pada abad-16 demikian
diresapi keyakinan religius, sehingga suatu atheisme konsekuen mustahil ada
dalam iklim ini. Kaum Marxis, juga terpengaruh strukturalisme. Althusser,
misalnya mengatakan bahwa individu hanyalah sub-ordinat dari sistem dan
bekerja menurut sistem yang berlaku. Dengan demikian untuk melihat dominasi,
kita tidak hanya harus melihat kepada setiap struktur yang berlaku formal. Justru
struktur yang sebenarnya “bermain” pada setiap ruang, seperti ekonomi, politik,
budaya, kepercayaan dan sebagainya. Jadi, struktur tidak harus dilihat sebagai
suatu yang hegemoni, atau terlihat sebagai suatu kekuatan yang besar, seperti
suatu kekuatan birokrasi politik.

Kecenderungan Penulisan Sejarah Struktural


Kecenderungan penulisan sejarah struktural tidak bisa dilepaskan
dengan pemahaman masalah masyarakat yang terikat pada struktur-struktur
tertentu, sehingga perlu penjelasan yang lebih komprehensif tentang struktur itu
sendiri. Sudah barang tentu penjelasan tentang struktur juga tidak bisa dilepaskan
dengan sejarah prosessual. Ini berarti unsur struktur dan proses merupakan
pijakan perspektif historis bilamana kita akan membahas peristiwa masa lampau
secara kritis dan analitis.
Dengan perlengkapan metodologi baru, seperti penggunaan pendekatan
ilmu sosial, studi sejarah kritis memperluas daerah pengkajiannya, sehingga
terbukalah kemungkinan melakukan penyerotan aspek atau dimensi baru dari
pelbagai gejala sejarah. Kalau pada umumnya segi prosessual yang menjadi fokus
perhatian sejarawan dengan pendekatan ilmu sosial dapatlah digarap aspek
strukturalnya. Selanjutnya dipahami bahwa banyak aspek prosessual yang hanya
dapat dimengerti apabila dikaitkan dengan aspek strukturalnya, bahkan dapat
dikatakan pula bahwa proses hanya dapat “berjalan” dalam kerangka struktural.
(Kartodirdjo, 1988: 134) Selanjutnya Sartono Kartodirdjo memberikan contoh,
bahwa tindakan manusia dalam pergaulan senantiasa mengikuti kebiasaan, adat
atau pola kehidupan yang berlaku dalam masyarakat itu. Pola atau kebiasaan yang
mantap menimbulkan suatu kelembagaan, seperti adat-istiadat, etika, etiket,
upacara, dan sebagainya. Dengan demikian kelakuan manusia dalam masyarakat
selalu distrukturasikan sesuai dengan tradisi atau konvensi. Di sini struktur
kelakuan yang mantap melatarbelakangi tindakan atau kelakuan tertentu
seseorang. Apabila tidak ada struktur yang melandasinya, maka tindakan itu sukar
“diramalkan” atau “ditafsirkan” oleh sesamanya, jadi timbul kekalutan sosial,
suatu keadaan yang tidak mungkin kehidupan bersama secara teratur dan beradab.
Meskipun demikian, bagaimanapun menariknya sejarah struktural, akan tetapi
sejarah bukanlah sejarah apabila tidak memuat cerita tentang bagaimana
terjadinya. Oleh karena itu seyogyanya campuran antara sejarah prosessual dan

7
struktural yang paling memadai. Committee SSRC menjelaskan, “The fundamental
problem of historical study is the analysis of change over time. Some social
science have found it possible, in general, to push the problem of time into the
background. (SSRC, 1954: 24) Sejarah struktural dapat diibaratkan kerangka
tanpa daging, jadi tanpa kehidupan. Sebaliknya sejarah prosessual tanpa struktur
tidak mempunyai bentuk. Kehidupan hanya dapat dimasukkan dalam konstruk
apabila ada naratif yang mempunyai rethorik yang menggairahkan.
Suatu analisis struktural dari riset sosiologi sangat penting untuk
digunakan dalam mengkaji struktur masyarakat masa lampau. Contoh populer
tentang hal ini adalah studi Floyd Hunter mengenai struktur kekuasaan
masyarakat Atlanta, Georgia. Tesis dasar yang dicoba untuk didokumentasikan
ialah bahwa sebagian besar kekuasaan yang efektif dalam masyarakat itu terpusat
pada individu yang jumlahnya sangat kecil. Secara lebih khusus ia membuat
hipotesis bahwa di belakang pemerintah yang terpilih secara resmi di Atlanta,
berdiri pula beberapa elit tidak resmi yang sangat berkuasa yang merupakan
orang-orang yang sebenarnya “membawa” masyarakatnya. Dengan menguasai
sumber-sumber vital, bisnis, dan industri besar, fasilitas komunikasi, perbankan
dan aktivitas keuangan lainnya, serta mengatur partai-partai politik, dan diduga
dapat mendominasi semua keputusan dan program utama. Sebagai akibat yang
wajar dari tesis ini bahwa tidak seorang pun di luar struktur kekuasaan yang
sangat terpusat, benar-benar mempunyai kontrol terhadap kepentingan
masyarakat. (Olsen, 1968: 212) Konsep sosiologi ini sangat penting dalam analisis
sejarah yang ingin mengetahui struktur kekuasaan dalam perkembangannya di
negara Atlanta.
Dalam masalah struktur ini, sejarawan yang ingin membuat bagian
analisis ilmu pengetahuan bagi kepentingan pemikirannya, tidak hanya digunakan
untuk kepentingan sejarah saja, tetapi juga untuk kepentingan analisis studi
lainnya. Namun demikian, sejarah sangat penting untuk menggunakan konsep dari
ilmu pengetahuan ini. SSCR, misalnya mengatakan bahwa “There are two other
ways of viewing and interpreting the subject matter of history. One is terms of the
structure of the situation in which events take place …“. (SSCR, 95).
Demikian halnya dengan masalah proses, James Thomson dan
William Mc.Ewen mengajukan argumentasi bahwa tujuan organisasi tidaklah
statis, tetapi agak berubah-ubah oleh adanya interaksi di dalam organisasi itu
sendiri, dan antara organisasi dengan lingkungannya. Menurut mereka
penempatan organisasi harus dilihat sebagai suatu proses yang terus menerus yang
selalu sensitif menerima tekanan-tekanan sosial. (Olsen, 1968: 217) Dari contoh
ini maka dapat disimpulkan bahwa peranan proses tidak bisa diabaikan dalam
melihat suatu perkembangan. Sementara sejarah itu sendiri mempunyai titik tekan
analisis pada perkembangan atau proses.
Apabila kita bertolak dari pendapat bahwa setiap proses sejarah adalah
momentum-momentum dari perubahan sosial. Di satu pihak kejadian sejarah atau
peristiwa merupakan proses, dan di pihak lain dapat dipandang sebagai aktualisasi
dari suatu struktur. Dengan perkataan lain setiap struktur merupakan aspek statis
dari suatu proses, dan sebaliknya setiap proses merupakan aspek dinamis dari
suatu struktur. Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut: Tindakan atau kelakuan

8
manusia pada saat tertentu selalu mengikuti pola tertentu sesuai dengan nilai-nilai
atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya., dengan perkataan lain
menurut pranata sosialnya. Ini berarti bahwa kelakuan atau aksi itu telah dibentuk
atau distrukturasikan. Pada umumnya struktur sendiri berubah karena adanya
pengaruh dari lingkungan, seperti dicontohkan misalnya adanya disorganisasi dan
disintegrasi pola peranan. Namun demikian suatu destrukturasi akan diikuti oleh
restrukturasi. Justru di sini dapat diobservasi proses-proses yang mulai
membentuk dan memantapkan pola kelakuan baru sehingga akhirnya muncul
struktur baru. (Kartodirdjo, 1988: 124).
Antropolog Radcliffe Brown dalam bukunya Structure and Function in
Primitive Society menjelaskan tentang fenomena sosial yang ditekankan pada
hubungan antara kelompok dan individu sebagai organisme, yang disebut dengan
istilah “struktur sosial”. Menurut Brown, inilah yang merupakan studinya sebagai
seorang antropolog sosial. Di sinilah letak antropologi sosial sebagai ilmu alam,
yang menentukan ciri-ciri umum struktur sosial masyarakat sebagai kesatuan
komponen. Dimensi struktur sosial menurut Brown ialah: 1) Hubungan diadik,
yaitu hubungan sosial dari individu pada individu yang lain; 2)
hubungan deferensial, yaitu hubungan sosial mereka dengan individu atau
kelompok yang berbeda-beda. Dengan demikian, realitas konkret dalam struktur
sosial adalah rangkaian hubungan yang benar-benar ada, yang terjadi pada suatu
waktu. Dengan kata lain, bahwa hubungan aktual individu-individu dan
kelompok-kelompok individu berubah dari tahun ke tahun atau dari hari ke hari.
Adapun bentuk sosialnya juga mengalami perubahan tetapi sedikit demi sedikit.
Struktur sosial itu ada dan dapat dipahami dengan pendekatan pada masyarakat
sederhana (individu) maupun masyarakat yang kompleks atau manusia dalam
sistem struktur. (Brown, 1965: 188 et.seq.) Dengan demikian teranglah bahwa
peranan ilmu sosial sangat penting untuk memahami masyarakat secara mendalam
dan ini sangat berguna bagi sejarah.
Oleh karena itu pendekatan struktural merupakan implikasi metodologis
dari ilmu sejarah karena mau tidak mau sejarah akan menggunakan pendekatan
analitis dan multidimensional, bila melakukan rapproachment terhadap ilmu-ilmu
sosial lainnya.

Kelebihan Strukturalisme
Dengan demikian, kelebihan strukturalisme terletak dari cara pendekatan ini
mengungkapkan sesuatu yang tak-terlihat, yaitu pada analisa prosesualnya.
Strukturalisme juga jeli, dalam melihat lingkungan sebagai hal yang penting
melahirkan suatu perubahan. Hasilnya, seorang sejarawan artinya juga harus
menjadi atau setidaknya memahami teori-teori sosial.
Kelemahan Strukturalisme
Strukturalisme memiliki kelemahan sebagai berikut:
1. Struktur sosial yang sesungguhnya tidak sanggup membangun hubungan
kausal yang sebenarnya sangat dominan dalam ilmu sejarah, tetapi hanya
hubungan “quasi-causal”. Struktur sosial hanya ada bila “dibuat” oleh
individu atau kelompok sosial. Dengan demikian struktur sosial sesungguhnya

9
tidak bisa menjadi kausa dari tindakan individu atau kelompok sosial. Padahal
menentukan kausalitas adalah tugas utama dari ilmu sejarah.
2. Sejarah structural tidak bersifat prosesual. Dalam hal ini yang dipelajari lebih
menekankan struktur sosial yang amat panjang jangkauannya, bukan
perubahan dari satu struktur sosial ke struktur sosial lainnya. Dengan
demikian, kerja strukturalisme menjadi sesuatu yang spekulatif dan metafisik.
Celakanya lagi, apabila kecenderungan ini terlalu dipaksakan, akan
mengakibatkan pembunuhan terhadap fakta-fakta suatu peristiwa.
3. Strukturalisme melihat manusia sebagai obyek pasif, yang tidak berbuat apa-
apa atau memiliki kreatifitas untuk berubah. Strukturalisme hanya
beranggapan bahwa struktur adalah sesuatu yang baku. Padahal realitasnya
banyak perubahan yang muncul justru karena manusia bersikap kreatif, yaitu
ingin merombak struktur. Ketika sebuah struktur dianggap tidak lagi
menguntungkan, maka muncul keinginan individu secara kolektif untuk
merubah struktur, sehingga terjadilah perubahan. Dan strukturalisme tidak
mampu menjawab penjelasan ini.

Penerapan Analisis Struktural terhadap Karya Sejarah “Peristiwa Tiga


Daerah”

Revolusi tiga daerah yaitu Tegal, Pemalang, dan Brebes (karisidenan


Pakalongan) yang terjadi pada bulan Oktober sampai Desember 1945. Peristiwa
ini terjadi setelah seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana,
camat), dan sebagain besar kepala desa diganti oleh aparatur pemerintah yang
baru. Pergantian seluruh aparatur pemerintah ini berasal dari berbagai aliran yang
pada waktu itu berkembang dan diakui oleh pemerintah,yaitu Islam, komunis,
serta sosialis. Disinilah mulai terjadi pertentangan antara golongan kiri dan
golongan Islam ataupun golongan lain yang merasa dirugikan.
Revolusi Tiga Daerah merupakan salah satu revolusi lokal Indonesia yang
mempunyai ciri dan keunikan khusus karena dianggap sebagai sebuah revolusi
rakyat untuk mengubah struktur masyarakat kolonial dan feodal menjadi sebuah
masyarakat dengan hidup yang lebih demokratis tanpa penindasan dan eksploitatif
dari pemeritah kolonial. Terjadinya revolusi ini merupakan wujud ketidakpuasan
rakyat terhadap kehidupan saat itu yang didominasi oleh kemerosotan ekonomi
dan kemelaratan, sehingga membuat rakyat melakukan berbagai perlawanan
terhadap elite birokrat. Perlawanan-perlawanan di karisedenan Pekalongan
sebenarnya sudah dirintis sejak lama, antara lain Sarekat Rakyat Pekalongan
tahun 1918 dan Sarekat Rakyat tahun 1926.
Peristiwa tiga daerah ini dimulai dari adanya aksi protes terhadap tanam
paksa di pabrik gula dan beban wajib kerja (corvee) yang menjadi inti tanam
paksa Belanda. Selanjutnya terjadi berbagai macam pemerontakan
kecil, diantaranya “ Brandal Mas Cilik” di Tegal yang merupakan pemberontakan
petani tahun 1864, pemberontakan ini dipimpin oleh dukun yang bernama Mas

10
Cilik yang menyerang dan membunuh pegawai pabrik gula milik Belanda di
Tegal. Selain itu, pada tahun 1926 di Tegal terjadi pemberontakan petani yang
berideologi komunis sebagai aksi protes untuk melawan corvee. Akibat
pemberontakan petani dengan payung komunis ini mengalami kegagalan, maka
para pemimpin yang terlibat dalam aksi masa tersebut banyak dipenjarakan dan
dibuang di Boven Digul. Setelah kembali dari pembuangan, mereka kembali
mengorganisasi masa di Tiga Daerah untuk melakukan revolusi yang bertujuan
mengubah struktur pemerintahan pada tahun 1945.
Peristiwa Tiga Daerah bukan hanya revolusi sosial untuk melakukan
protes terhadap eksploitasi yang dilakukan Belanda, namun selain latar belakang
sosial dan politik, serta ekonomi masih banyak sekali latar belakang lain sehingga
peristiwa ini meletus dan menjadi peristiwa revolusi lokal. Faktor-faktor ini dapat
diidentifikasi sebagai faktor kepemimpinan, ideologi dan konteks kebudayaanya.
Latar belakang peristiwa tiga daerah juga dapat ditinjau dari segi fisik,
yaitu Brebes yang berbatasan dengan Jawa barat yang berbahasa sunda dan daerah
pedalaman Banyumas selatan, bukan saja secara geografi terpecah belah,
melainkan adat istiadat dan bahasa ditarik kedua arah yaitu bahasa Jawa dan
Sunda. Tegal sebuah kota dengan kondisi masyarakat dengan tingkat kemiskinan
lebih tinggi dari pada wilayah tetangganya juga melakukan revolusi lokal,
meskipun demikian Tegal mempunyai kebanggaan karena dikuasai oleh seseorang
yang mengerti perwatakan di wilayah ini. Pemalang sebuah kawasan yang cukup
kaya dibandingkan dengan dua wilayah lainya. Revolusi yang terjadi di Pemalang
ini merupakan pengaruh dari Brebes, Tegal atau Pekalongan.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk memahami Peristiwa Tiga
Daerah. Pertama, ialah perubahan sebelum tahun 1945, yaitu dalam bidang
ekonomi dan politik sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini harus dikaitkan dengan
perubahan ekonomi akibat masuknya modal asing (Eropa) di abad sembilan belas
dan sistem Tanam Paksa yang berpengaruh besar terhadap kehidupan petani. Di
tempat yang memiliki pabrik gula, golongan elit birokrat maupun kepala desa
sering bertindak sebagi pejabat kapitalis Eropa, seperti dalam soal sewa tanah,
penarikan pajak dan corvee (kerja paksa). Hal ini menyebabkan masyarakat kecil
terutama para petani menjadi semakin menderita. Dari penderitaan ini
lahir semangat revolusi untuk melawan kolonial Belanda maupun birokrat
pemerintah di masing-masing daerah.
Kedua, dampak pendudukan Jepang yang membebani rakyat dengan wajib
pajak dalam wujud menyetorkan hasil padi, romusha, tanam paksa, dan
penjarahan bahan pokok. Walaupun dampak sistem pelaksanaan
pengambilanbahan pokok dalam romusha berbeda menurut tempatnya masing-
masing, yaitu tergantung pada sikap pejabat-pejabat lokal dan para pemimpin
perjuangan setempat, namun pelaksanaan peraturan peraturan setoran padi

11
merupakan beban yang berat dalam bidang ekonomi di masa penjajahan Jepang.
Akibat kebijakan ini, telah menyebabkan terjadinya kelaparan dimana-mana
termasuk juga di tiga daerah tersebut. Oleh sebab itu, muncul perasaan kebencian
yang mendalam terhadap para elite birokrat, yang menurut rakyat dianggap
sebagai penyebab utaman terjadinya berbagai kasus kelaparan yang diakibatkan
kesewenang-wenangan dalam menarik setoran padi.
Ketiga, terlihat daru ciri-ciri revolusi sosial di masa revolusi di
Pekalongan, yaitu pembagian kekayaan, pengusiran atau pergeseran elite lama dan
pemimpim tradisional lain yang dianggap terlalu keras terhadap rakyat dan setia
kepada Belanda atau Jepang. Dalam hal ini revolusi di wilayah Pekalongan punya
ciri khas tersendiri, yaitu dengan adanya kekerasan terhadap golongan Cina, Indo-
Belanda, Pangreh Praja dan Lurah. Namun pembahasan mengenai kekerasan
terhadap orang-orang Cina ini belum dapat dikatakan sebagai gerakan anti
Cina sebab banyak juga orang-orang Cina yang menjadi pemimpin
pejuang revolusi, khususnya di Pemalang. Mereka juga menjadipenyumbang dana
terbesar untuk membantu revolusi ini.
Peristiwa Tiga Daerah bukan hanya dari sektor ekonomi maupun politik,
tetapi juga dapat dilihat dari faktor budaya. Menurut pandangan kaum
priyayi, kepemimpinan revolusi sosial itu adalah sesuatu yang berasal dari luar
atau asing, namun menurut golongan kiri revolusioner, tujuan utama revolusi
mereka adalah penghapusan hierarki sosial dalam penggunaaan bahasa. Mereka
menghendaki dihapusnya sebutan-sebutan untuk kaum priyayi dan menggunakan
bahasa Jawa rendah dalam berkomunikasi. Hal ini merupakan suatu gerakan
radikal yang mendasar di dalam konteks kebudayaan Jawa dan didasarkan tujuan
dari ideologi komunis, yaitu persamaan diantara seluruh rakyat.

Penerapan Analisis Struktural Terhadap Karya Sejarah Indonesia Lainnya

Dalam melakukan analisis terhadap karya-karya sejarah struktural, ilmu-


ilmu sosial lain bersama dengan metode-metodenya dapat dikerahkan untuk
menunjang terwujudnya keterangan sejarah, supaya relief kenyataan sejarah lebih
penuh menampakkan diri. Namun demikian, ilmu-ilmu tadi perlu dibatasi pada
jabatannya sebagai penunjang ilmu sejarah dalam usahanya menerangkan masa
lampau tersebut. (Poespoprodjo, 1987: 62) Sebagai contoh misalnya Sartono
Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888, menyatakan:
“Dalam menganalisis konflik-konflik sosial dalam masyarakat Banten, kita harus
memperhatikan sistem-sistem nilai tradisional dan keagamaan, sebagai suatu
kekuatan konservatif yang menentang westernisasi … Usaha untuk mengadakan
korelasi antara kecenderungan-kecenderungan sosial dan peristiwa-peristiwa
politik di satu pihak dan pola-pola kultural di pihak lain melibatkan suatu
pendekatan sosio-antropologis. (Kartodirdjo, 1984: 26) Sementara untuk
memperoleh pemahaman yang lengkap mengenai determinan-determinan gerakan
sosial, kita perlu memperhitungkan proses politik sebagai suatu konsep yang

12
mengacu kepada interaksi antara pelbagai unsur sosial yang bersaing untuk
memperoleh alokasi otoritas. Analisis semacam ini perlu menggunakan konsep-
konsep ilmu politik.

Selain pendekatan menggunakan konsep ilmu-ilmu sosial, terkait dengan


metodologi yang digunakan, sangat berkaitan dengan masalah teori. Fungsi teori
dalam disiplin sejarah seperti dikemukakan oleh Social Science Research Council
di New York dalam sebuah laporan Panitia Historiografi, sungguh sama dengan
yang terdapat dalam disiplin-disiplin lain, yaitu untuk mengidentifikasi masalah
yang hendak diteliti, menyusun kategori-kategori untuk mengorganisasikan
hipotesis-hipotesis yang melaluinya berbagai-bagai macam interpretasi data dapat
diuji, dan memperlihatkan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang dijadikan
dasar untuk membuktikan sesuatu. Teori tidak dapat memberikan “jawaban”
kepada peneliti, akan tetapi membekali peneliti dengan pertanyaan-pertanyaan
yang dapat diajukan terhadap fenomena yang hendak ditelitinya. (Ibrahim
Alfian, Supplement buku Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis: 5)

Teori sebagaimana dikemukakan oleh Percy S. Cohen, dibagi dalam empat


kelompok besar, yaitu: 1) Teori-teori analitis, seperti logika dan matematika; 2)
teori-teori normatif, seperti etika dan estetika; 3)Teori-teori saintifik; dan 4) Teori-
teori metafisis. Selanjutnya Cohen mengatakan bahwa teori saintifik disebut
universal karena teori itu menyatakan sesuatu mengenai kondisi-kondisi yang
yang melahirkan beberapa peristiwa atau jenis peristiwa. Sementara itu, konsep
dapat didefinisikan sebagai kata benda umum manapun juga. Kekuasaan,
kewibawaan, perkembangan, perubahan misalnya adalah konsep-konsep yang
biasa dalam ilmu politik. (Ibrahim Alfian, 1992: 365-366)

Prof Dr. Ibrahim Alfian menjelaskan tentang hal ini dengan memberikan
beberapa contoh misalnya, karya Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in
Rural Java (1973) telah mempergunakan kerangka analitis yang pernah
dikemukakan oleh Henry A. Landsberger dalam The Role of Peasant
Movement (1968) untuk memahami asal-usul, perkembangan, dan akibat-akibat
pergerakan yang bersifat protes sosial. Dalam semua kasus multiplisitas faktor-
faktor harus dikaji dan fenomena keresahan sosial hanya dapat dijelaskan melalui
kombinasi sebab-sebab yang terpisah. Aspek-aspek analitis yang menjadi
kerangka penelitian beliau adalah: 1) Struktur politik ekonomi pedesaan Jawa di
abad XIX dan abad XX; 2) basis massa pergerakan sosial; 3) kepemimpinan
pergerakan-pergerakan sosial; 4) ideologi-ideologi pergerakan, dan 5) dimensi
kultural yang bersifat mendorong pergerakan sosial. (Ibid., p. 6)

Dalam mengkaji masalah nasionalisme, Sartono Kartodirdjo


menggunakan konsep dari psikologi sosial. Dikatakannya, bahwa nasionalisme
dapat dilihat sebagai fakta sosio-psikologis, terutama pada tingkat
pembentukannya, seperti yang terjadi di zaman Pergerakan Nasional. Kesadaran
kelompok, sentimen dan kehendak kelompok yang dinyatakan pada berbagai
organisasi nasional, merupakan wujud dan institusionalisasi tindakan kelompok.

13
Dengan sudut pandang seperti ini, maka konseptualisasi metodologis
nasionalisme mungkin dapat dicapai melalui sudut pandangan nasionalisme
sebagai fakta sosio-psikologis itu. Sebagai tindakan kelompok nasionalisme
mempunyai tiga aspek yang dapat dibedakan, yaitu: a) aspek kognitif; b) aspek
orientasi nilai / tujuan; dan c) aspek afektif. (Kartodirdjo, 1992: 245)

Sebuah pendekatan lain adalah pendekatan yang dilakukan oleh Prof.


Ibrahim Alfian dalam disertasinya berjudul Perang di Jalan Allah (1987) dengan
menggunakan pendekatan eklektik dengan mempergunakan teori dari pakar
sosiologi Amerika, Neil J. Smelser, yang dikemukakan dalam bukunya Theory of
Collective Behavior (1962). Menurut Smelser, komponen pokok aksi sosial
adalah: nilai-nilai, norma-norma, mobilisasi motivasi perseorangan untuk aksi
yang teratur dalam peran-peran kolektivitas, dan fasilitas situasional atau
informasi, ketrampilan, alat-alat dan rintangan dalam mencapai tujuan-tujuan
yang konkrit. Setiap gejolak sosial, diarahkan pada komponen-komponen tertentu
aksi sosial itu, yakni ditujukan agar dapat merubah nilai-nilai, norma-norma,
peranan-peranan, dan fasilitas-fasilitas. (Ibrahim Alfian, 1985: 18) Selanjutnya
menurut Smelser gejolak sosial dapat terjadi apabila terdapat sejumlah determinan
atau necessary conditions yang berturut-turut terdiri atas hal-hal sebagai berikut:

1. Kekondusifan struktural (structural condusiveness), yaitu kondusif atau


tidaknya struktur sosial budaya masyarakat terhadap gejolak sosial;
2. Ketegangan struktural (structural strain) yang timbul, misalnya berupa
ancaman dan deprivasi ekonomi;
3. Penyebaran keyakinan yang dianut (the spread of generalized belief).
Dalam hal ini situasi harus dibuat bermakna bagi para pelaku yang
potensial, sumber ketegangan dan cara-cara menghadapinya harus
diidentifikasi;
4. Faktor pencetus ide (the precipatating factor) berupa sesuatu yang
dramatik;
5. Mobilisasi untuk mengadakan aksi (mobilization into action). Dalam
kondisi ini peranan pemimpin sangat penting. Situasi dapat dimulai
dengan adanya kepanikan, timbulnya permusuhan, dan diteruskan dengan
agitasi untuk reform atau revolusi;
6. Pengoperasian kontrol sosial (the operation of social control). (Ibid. Lihat
juga: Neil J. Smelser, 1962: 15-17)

Teori inilah yang digunakan oleh Prof. Ibrahim Alfian dalam menggarap
disertasinya.

Inilah yang merupakan contoh penerapan suatu teori dari ilmu sosial
dalam mengkaji peristiwa masa lalu yang dilakukan oleh para pakar sejarah
Indonesia.

14
Kepustakaan

Aitken, Hugh G.J. (ed.), 1954. The Social Science in Historical Study. New York:
SSRC.

Alfian, Ibrahim, “Sejarah dan Permasalahan Masa Kini” dalam Pidato


Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Sastra Universitas
Gajahmada Yogyakarta, 12 Agustus 1985.

———, “Konsep dan Teori dalam Disiplin Sejarah”, dalam Basis No. 10,
Oktober 1992.

———, “Tentang Metodologi Sejarah”, dalam Supplement buku Dari Babad dan
Hikayat sampai Sejarah Kritis, tidak diterbitkan.

Brown, A.R. Radcliffe, 1965. Structure and Function in Primitive Society. New
York: The Free Press.

Indriyanto, “Gagasan Teori dan Metodologi Sejarah Masih Mencari


Sosoknya” makalh tugas MK Kapita Selekta, 1992/1993.

Kartodirdjo, Sartono, “Metodologi Max Weber dan Wilhelm Dilthey”,


dalam Lembaran Sejarah No. 6 Tahun 1970. Yogyakarta: Jurusan Sejarah
Fakultas Sastra Budaya UGM.

———, 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu


Alternatif. Jakarta: Gramedia.

———, 1984. Pembrontakan Petani Banten Tahun 1888. Jakarta: Pustaka Jaya.

———, 1988. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.


Yogyakarta: P.AU. Universitas Gajahmada.

———, 1990. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta:


Universitas Gajahmada Press.

———, 1992. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional.


Jilid II. Jakarta: Gramedia.

Ankersmit, F.R., 1987. Refleksi Tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Mayerhoff, Hans (ed.), 1959. The Philosophy of History in Our Time an


Anthology. New York: Anchor Books.

15
Olsen, Marvin E., 1968. The Process of Social Organization. New Delhi: Oxford
and IBH Publishing Co.

Poespoprodjo, 1987. Subjektivitas dalam Historiografi. Bandung: Remaja Karya.

Suryo, Djoko, “Sekitar Masalah Sejarah dengan Ilmu-ilmu Sosial: Sebuah


Catatan”, dalam Bacaan Sejarah No. 4 Tahun 1980. Yogyakarta: Jurusan Sejarah
Fakultas Sastra Budaya Universitas Gajahmada.

Ankersmith, Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern tentang


Filsafat Sejarah, Jakarta: PT Gramedia, 1987.
Leirissa, R.Z. Metodelogi Sejarah, diktat kuliah (tidak diterbitkan).
Lloyd, Christopher. Explanation in Social History. London: Blackwell, 1987.
________________. The Struktures of History, London: Blackwell, 1993

Pendekatan multidimensional membuka kemungkinan untuk melakukan


perbandingan antar daerah sebagai unit sosio kultural, contohnya antara lain
hubungan antar agama, petani dengan kegelisahan agraris, relasi antara lembaga-
lembaga religius di sekitar keraton dan di daerah pedesaan, dan sebagainya.
Kemudian kita juga memerlukan pendekatan multidimensional dalam mencari
keterangan bagi proses perubahan social yang kompleks tersebut, misalnya jika
kita ingin mengetahui proses sosial yang melatarbelakangi perpecahan yang
terjadi antara golongan elite baru sebagai dampak dari modernisasi.

Pendekatan dari berbagai macam teori-teori sosial atau pendekatan


multidimensional memberikan model yang berbeda dalam perkembangan
historiografi terutama bagi historiografi Indonesia. Sebab dengan pendekatan
ilmu-ilmu sosial, ruang lingkup sejarah Indonesia tidak lagi dibatasi oleh
pertanyaan-pertanyaan tentang proses, tetapi juga mengenai struktur. Sejarah yang
semula bersifat deskriptif dan diakronik mulai menuju ke arah tulisan yang
analitis dan sinkronis.

“Pemberontakan Petani Banten 1888” dalam Perspektif Sejarah


Indonesiasentris

16
Sejarah sosial merupakan gejala baru dalam penulisan sejarah sejak
sebelum Perang Dunia II.3 Di Perancis, aliran penulisan sejarah annales yang
dipelopori Lucien Febvre dan Marc Bloch menjadi modal bagi generasi baru
penulisan sejarah sosial yang semakin kuat kedudukannya dalam dunia penulisan
sejarah. Pada abad ke-20 aliran annales di bawah pimpinan Marc Bloch menulis
sejarah soal feodalisme yang mengungkapkan sistem agraris sebagai landasan
sistem politik feodal serta susunan masyarakatnya. Tradisi tulisan semacam ini
yang menjadikan masyarakat secara keseluruhan sebagai bahan penelitian.
Kemudian berkembanglah sejarah agraris dan sejarah sosial ekonomi karena
pengaruh aliran ini.

Sejarah sosial dapat mengambil fakta sosial sebagai bahan kajian. Tema
seperti kemiskinan, perbanditan, kekerasan, kriminalitas dapat menjadi sebuah
sejarah. Salah satu contoh penulisan sejarah sosial ekonomi di Indonesia yaitu
tulisan Sartono Kartodirdjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.
Dalam tulisan tersebut, sebagaimana penulisan sejarah modern pada umumnya,
telah digunakan pendekatan-pendekatan yang memanfaatkan teori dan konsep
ilmu-ilmu sosial.4

Pada studi Pemberontakan Petani Banten 1888 tersebut menyoroti


gerakan-gerakan pemberontakan di daerah Banten. Jika dibandingkan dengan
pemberontakan-pemberontakan petani di negeri lain dan dalam periode yang lain,
pemberontakan tersebut bukan merupakan suatu pemberontakan yang besar.
Pemberontakan petani Banten 1888 dipilih sebagai pokok studi mengingat gejala
yang khas dari perubahan sosial dan perkembangan yang menyertainya, yaitu
pergolakan sosial, yang begitu menonjol di Jawa abad 19. Selain itu, Sartono
Kartodirdjo dalam buku Pemberontakan Petani Banten 1888 mencoba
menyelidiki masalah-masalah yang oleh para ahli sejarah dianggap kurang
penting. Untuk tujuan ini, perlu diperluas lingkup permasalahan dan memperhalus
metodologi yang relevan.

3
Ibid, hlm. 39.
4
Ibid, hlm. 40-41.

17
Dengan penggunaan metodologi yang relevan, dalam studi kasus ini
ditemukan adanya beberapa fakta bahwa orang-orang yang ikut serta dalam
pemberontakan petani bukan dari golongan petani semata-mata. Mereka berasal
dari golongan-golongan penduduk pedesaan yang lebih berada dan lebih
terkemuka, dan mereka adalah pemuka-pemuka agama, anggota-anggota kaum
ningrat atau orang-orang terhormat.

Fakta lain yang dapat ditemukan ialah peranan yang dimainkan oleh
golongan-golongan lain dalam pemberontakan-pemberontakan itu. Pemimpin-
pemimpin pemberontakan merupakan satu golongan elite yang mengembangkan
dan menyebarkan suatu paham tentang Ratu Adil atau Mahdi. Guru agama atau
pemimpin religi memainkan peranan utama hampir dalam semua pemberontakan
besar.

Pernyataan dalam historiografi kolonial yang menganggap rakyat dan


kaum tani hanya memainkan peranan yang sangat pasif saja itu tidak benar.
Meskipun sejarah kaum petani di Indonesia terlihat begitu datar dan seragam,
namun keterlibatan kaum petani dalam perjalanan sejarah Indonesia terus
berlanjut hingga ke zaman modern.

Secara umum sudah diketahui bahwa gerakan-gerakan sosial sebagai satu


proses merupakan satu hal yang sangat kompleks. Faktor dan kondisi yang
melatarbelakangi pemberontakan tersebut mengacu pada berbagai dimensi atau
aspek. Pendekatan studi yang digunakan melalui berbagai jalur metodologis atau
teori-teori seperti ekonomi, sosiologi, politik, dan kultural.

Untuk memberikan penjelasan yang memadai mengenai peristiwa


pemberontakan tersebut diperlukan banyak alat analisa. Mengingat sangat
kompleksnya persoalan ini, maka suatu deskripsi historis saja tidak akan cukup.
Dalam hal ini, pendekatan-pendekatan lain sepertti sosiologi, antropologi, dan
ilmu politik dapat ditambahkan pada pendekatan historis. Penggunaan disiplin-
disiplin ilmu dan pemahaman-pemahaman tersebut telah memperkuat analisis
mengenai gerakan tersebut.

18
Analisa sosiologis dalam buku ini tidak menghilangkan aspek sejarah yang
memfokuskan pada aspek kronologis. Pendekatan multidimensional digunakan
untuk memperkaya pembahasan historisnya. Aspek mikrohistoris sangat
diperhatikan secara detail mulai dari perilaku golongan, organisasi,
pengelompokan, pimpinan, ideologi, lembaga-lembaga sosial, norma dan nilai
sosial, dan lain sebagainya.

Pendekatan-pendekatan yang terdahulu terhadap gerakan-gerakan sosial di


Indonesia tidak mempunyai validitas sosio-historis.5 Masalah-masalah kaum tani
di suatu daerah biasanya tidak dikemukakan oleh ahli-ahli sejarah politik pada
masa historiografi konvensional dan Neerlandosentris yang menulis mengenai
sejarah Indonesia. Dengan memperluas perspektif dan memperbanyak variabel-
variabel serta memperluas kerangka referensi, masalah pemberontakan petani
dapat digarap secara lebih kompeten. Penulisan sejarah dengan metode-metode
dan pendekatan-pendekatan tersebut juga akan mengubah kesan dari sudut
pandang Neerlandosentris.

DAFTAR PUSTAKA

Kartodirdjo, Sartono. 1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta : Pustaka


Jaya.

Kartodirdjo, Sartono. 2014. Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi


Indonesia. Yogyakarta : Ombak

Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.


Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

5
Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten, Jakarta : Pustaka Jaya,
1984, hlm : 27.

19
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.

Rahman Hamid, Abd dan Muhammad Saleh Madjid. 2014. Pengantar Ilmu
Sejarah. Yogyakarta : Ombak.

20