Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH NILAI-NILAI FILOSOFI MONEY LAUNDERING

SEBAGAI SUATU TINDAK PIDANA KORUPSI

Oleh :
MUHAMMAD FAISAL MIRZA

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
PROGRAM MAGISTER
2018
A. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup terbuka menjadi sasaran
pemutihan uang, karena di Indonesia terdapat faktor–faktor potensial sebagai daya tarik
bagi pelaku money laundering, gabungan antara kelemahan sistem sosial dan celah-
celah hukum dalam sistem keuangan antara lain sistem devisa bebas, tidak diusutnya
asal-usul yang ditanamkan dan perkembanganya pasar modal, pedagang valuta asing
dan jaringan perbankan yang telah meluas ke luar negeri. Melihat besarnya dampak
yang ditimbulkannya terhadap stabilitas pekonomian negara, maka sejumlah negara
telah menetapkan aturan yang cukup ketat guna mengungkap money laundering.1

Dalam beberapa tahun terakhir, kejahatan-kejahatan yang melibatkan uang


mulai bermunculan baik di bidang perbankan maupun non perbankan. Seperti halnya
money laundering yang jelas illegal karena memberi insentif dan perlindungan terhadap
uanguang haram. Pencucian uang adalah perbuatan yang dilakukan untuk mengubah
hasil kejahatan seperti korupsi, kejahatan narkotika, perjudian, penyelundupan dan
perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan
hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal
usul harta kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah.2 Untuk itu,
kasus pencucian uang atau money laundering harus dipersulit atau dicegah.

Perbuatan pencucian uang di samping sangat merugikan masyarakat, juga


sangat merugikan Negara karena dapat mempengaruhi atau merusak stabilitas
perekonomian nasional atau keuangan Negara dengan meningkatkan berbagai
kejahatan.3 Berdasarkan statistic IMF, hasil kejahatan yang dicuci melalui bank-bank
diperkirakan hamper mencapai nilai sebesar US$1.500 miliar pertahun. Sementara itu
menurut Associated Press, kegiatan pencucian uang hasil perdagangan obat bius,
prostitusi, korupsi dan kejahatan lainnya sebagian besar diproses melalui perbankan
untuk kemudian dikonversikan menjadi dana legal dan diperkirakan kegiatan ini
mampu menyerap nilai US$ 600 miliar per tahun. Ini berarti sama dengan GDP seluruh

1
Financial Action Task Force on Money laundering, Report on Money: Laundering Typologies,
1999-2003, 3 Februari 2000, h. 2.
2
Hurd Insider Trading and Forigh Bank Secrecy, Am. Bus. J. Vol 24,1996, h. 29.
3
Redaksi Grhatama, UNDANG-UNDANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI, Yogyakarta: Pustaka
Grhatama, 2009, hal 135.
dunia. Namun Micheal Camdessus (Managing Director IMF), memperkirakan dari
folume dari cross-border money laundering adalah 2 % sampai dengan 5 % dari Gross
Domestic Product (GDP) dunia. Bahkan, batas terbawah dari kisaran tersebut, yaitu
jumlah yang dihasilkan dari kegiatan narcotics, trafficking, arms trafficking, bank
fraud, counterfeiting, dan kejahatan yang sejenis itu, yang di cuci di seluruh dunia setiap
tahun mencapai jumlah hamper US$ 600 miliar.4

B. Pembahasan

a. Pengertian Pencucian Uang


Pencucian uang (Inggris:Money Laundering) adalah suatu upaya perbuatan
untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau Harta
Kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar uang
atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang
sah/legal.
Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak
pidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil kejahatannya sulit
ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan
Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah. Oleh
karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam stabilitas dan
integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, melainkan juga dapat
membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

b. Hukum Pencucian Uang Di Indonesia


Di Indonesia, hal ini diatur secara yuridis dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang, di mana pencucian uang dibedakan dalam tiga tindak
pidana:

4
Adrian Sutedi ,S.H.,MH, HUKUM PERBANKAN: Suatu Tinjauan Pencucian Uang, Merger, Likuidasi, Dan
Kepailitan, Jakarta: Sinar Grafika, 2007, hal 18.
1. Tindak pidana pencucian uang aktif
yaitu Setiap Orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan,
membelanjakan, menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa
ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau
surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan.5

2. Tindak pidana pencucian uang pasif


Yaitu tindak pidana yang dikenakan kepada setiap Orang yang
menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran,
hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal
tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian uang.
Namun, dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban
pelaporan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.6

3. Dikenakan pula bagi mereka yang menikmati hasil tindak pidana


pencucian uang yang dikenakan kepada setiap Orang yang
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi,
peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas
Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan
hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal
ini pun dianggap sama dengan melakukan pencucian uang.7

Sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang adalah cukup berat, yakni
dimulai dari hukuman penjara paling lama maksimum 20 tahun, dengan denda
paling banyak 10 miliar rupiah.

5
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Pasal 3
6
Ibid.,d Pasal 5.
7
Ibid., Pasal 4.
Hasil Tindak Pidana Pencucian Uang
1) Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak
pidana:
a. korupsi;
b. penyuapan;
c. narkotika;
d. psikotropika;
e. penyelundupan tenaga kerja;
f. penyelundupan migran;
g. di bidang perbankan;
h. di bidang pasar modal;
i. di bidang perasuransian;
j. kepabeanan;
k. cukai;
l. perdagangan orang;
m. perdagangan senjata gelap;
n. terorisme;
o. penculikan;
p. pencurian;
q. penggelapan;
r. penipuan;
s. pemalsuan uang;
t. perjudian;
u. prostitusi;
v. di bidang perpajakan;
w. di bidang kehutanan;
x. di bidang lingkungan hidup;
y. di bidang kelautan dan perikanan; atau
z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun
atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum
Indonesia.8
2) Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau
digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme,
organisasi terorisme, atau teroris perseorangan disamakan sebagai hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf n.

c. Tahan-Tahap atau Mekanisme Pencucian Uang.


Secara umum terdapat beberapa tahap dalam melakukan usaha pencucian uang,
yaitu sebagai berikut.
a) Tahap Penempatan (Placement)
Tahap Placement merupakan tahap pengumpulan dan penempatan uang
hasil kejahatan disuatu Bank atau tempat tertentu yang diperkirakan
aman guna mengubah bentuk uang tersebut agar tidak terindentifikasi.
Biasanya dana yang ditempatkan berupa uang tunai dalam jumlah besar
yang dibagi ke dalam jumlah yang lebih kecil dan ditempatkan di
beberapa rekening di beberapa tempat.9

b) Tahap Pelapisan atau Layering


Tahap Layering merupakan upaya untuk mengurangi jejak asal uang
tersebut atau cirri-siri asli dari uang hasil kejahatan tersebut atau nama
pemilik uang hasil tindak pidana, dengan melibatkan tempat-tempat atau
bank di Negara-negara dimana kerahasiaan bank akan menyulitkan
pelacakan jejak uang. Tindakan ini dapat berupa transfer dana ke Negara
lain dalam bentuk mata uang asing, pembelian property, pembelian
saham pada bursa efek menggunakan deposit di bank A untuk
meminjam uang di bank B dan sebagainya.10

8
Ibid., Pasal 2
9
Santoso, T., Chandra, R., Sinaga, A.C., muhajir, M. dan Mardiah, s., PANDUAN INVESTIGASI DAN
PENUNTUTAN DENGAN PENDEKATAN HUKUM TERPADU, Bogor: Cifor, 2011, hal 45.
10
Ibid., hal 45.
c) Tahap Penggabungan atau Tahap Integration
Tahap Integration merupakan tahap pengumpulan dan menyatukan
kembali uang hasil kejahatan yang telah melalui tahap pelapisan dalam
suatu proses arus keuangan yang sah. Pada tahap ini uang hasil kejahatan
benar-benar telah bersih dan sulit dikenali hasil tindak pidana, dan
muncul kembali sebagai asset investasi yang tampaknya legal.11
Integration (penggabungan) adalah proses pengalihan uang yang
diputihkan hasil kegiatan placement maupun layering ke dalam
aktivitas-aktivitas atau performa bisnis yang resmi tanpa ada
hubungan/links ke dalam bisnis haram sebelumnya. Pada tahap ini uang
haram yang telah diputihkan dimasukkan kembali ke dalam sirkulasi
dalam bentuk yang sesuai dengan aturan hukum, dan telah berubah
menjadi legal. Ada tulisan yang menyebutkan bahwa cara tersebut juga
disebut spin dry yang merupakan gabungan antara repatriation dan
integration.12

C. Penutup

Dengan dikeluarkannya UU No. 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian


Uang, berarti menganggap perbuatan pencucian uang sebagai tindak pidana (kejahatan)
yang harus ditindak tegas oleh para penegak hukum yang berwenang. Dengan adanya
perangkat hukum yang tegas hal ini bisa dijadikan sebagai perwujudan rasa keadilan.
Sanksi tindak pidana pencucian uang berupa:
1. Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa keluar negeri, mengubah
bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain
atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan tujuan
menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena
tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (Dua

11
Ibid., hal 46
12
Adrian Sutedi ,S.H.,MH “TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG” Bandung :PT Citra Aditya Bakti Bandung, 2008
hal 21.
Puluh) tahun dan dendan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).13
2. Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber,
lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas
Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil
tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena
tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).14
3. Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan basil tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Pihak
Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.15

13
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Pasal 3
14
Ibid., Pasal 4
15
Ibid., Pasal 5