Anda di halaman 1dari 12

e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)

PEMBELAJARAN MENULIS TEKS ANEKDOT PADA MATA


PELAJARAN BAHASA INDONESIA DALAM KURIKULUM 2013
DI KELAS X.A AKUNTANSI SMK NEGERI 1 SINGARAJA

Dewi Rahmayanti, I Nengah Martha, Ni Md. Rai Wisudariani

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: {Ewick.bedugul92@gmail.com, Nengah Martha@yahoo.com,


Rai.Wisudariani@undiksha.ac.id}@undiksha.ac.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan guru bahasa Indonesia di kelas X.A
Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembelajaran menulis teks anekdot, (2) mendes-
kripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis teks anekdot yang dilakukan oleh guru bahasa Indo-
nesia di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, (3) mendeskripsikan evaluasi yang dilakukan
oleh guru bahasa Indonesia terkait dengan pembelajaran menulis teks anekdot di kelas X.A Akun-
tansi SMK Negeri 1 Singaraja, dan (4) mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi oleh guru
dan siswa dalam pembelajaran menulis teks anekdot. Penelitian ini dirancang dalam bentuk peneli-
tian deskriptif-kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas X.A Akuntansi SMK
Negeri 1 Singaraja. Objek penelitian ini adalah pembelajaran menulis teks anekdot pada mata pelaja-
ran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah me-
tode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini mencakup empat ta-
hap, yaitu: tabulasi data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini me-
nunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran masih memiliki beberapa kelemahan, seperti: tujuan
pembelajaran belum seluruhnya sesuai dengan indikator, materi pelajaran perlu diperinci, metode
yang digunakan harus disesuaikan dengan kurikulum 2013, pada bagian pendahuluan guru perlu me-
rumuskan kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik, pada kegiatan inti guru perlu merumuskan
langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pendekatan saintifik, pada kegiatan
penutup pembelajaran guru tidak mencantumkan kegiatan pengayaan atau remidi, dan pada rubrik
“penilaian hasil” contoh instrumen yang digunakan belum seluruhnya sesuai dengan indikator. Dalam
pelaksanaan pembelajaran ada beberapa hal yang kurang sesuai dengan RPP, yaitu rencana kegiat-
an pembelajaran tidak dicantumkan di dalam RPP, pada kegiatan inti yang dirancang oleh guru be-
lum memuat kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahapan pendekatan saintifik, akan tetapi dalam
pelaksanaannya guru sudah melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan pendekatan saintifik.
Pada kegiatan penutup, tes lisan yang diberikan oleh guru belum bisa memberikan gambaran yang
akurat terhadap kemampuan peserta didik, serta kegiatan pengayaan dan remidi yang diberikan oleh
guru tidak dicantumkan di dalam RPP. Pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh guru juga memiliki
kekurangan, antara lain: rubrik penilaian untuk tes lisan dan tulis belum disediakan oleh guru, daftar
pertanyaan untuk tes tulis juga belum disediakan.

Kata kunci: pembelajaran menulis, teks anekdot, mata pelajaran bahasa Indonesia, kurikulum 2013

Abstract

This study aimed at (1) describing Indonesian teacher planning in class X.A Accounting at SMK Ne-
geri 1 Singaraja in writing anecdote text, (2) describing the implementation of writing anecdotes text
conducted by Indonesian teacher in class X.A Accounting at SMK Negeri 1 Singaraja, (3) describing
the evaluation conducted by the Indonesian teacher in writing anecdotes in class X.A Acounting at
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
SMK Negeri 1 Singaraja, (4) describing the problems faced by teacher and students in writing anec-
dote text. This study was descriptive qualitative research. The subject in this study were teacher and
students in class X.A Acounting at SMK Negeri 1 Singaraja. The object in this study was writing anec-
dotes text on Indonesian subjects in the curriculum 2013. Data collection methods used was docu-
mentation, observation, and interviews. Analysis of the data in this study includes four stages, name-
ly: tabulation of data, data reduction, data presentation, and data conclusion. The results of this study
indicate that the learning plan still has some weaknesses, such as: learning objectives are not entirely
in accordance with the indicators, the subject matter needs to be specified, the method used should
be adjusted to curriculum in 2013. In pre-activity, the teacher needs to formulate the activity under-
taken by learners. In the core activity, teacher needs to formulate learning steps based scientific app-
roach. In the post-activity, the teacher didn’t provide remedial activity. In the rubric of assessment, the
example of instruments that are used are not entirely in accordance with the indicators. In the imple-
mentation of learning there were several things wich were not appropriate with the lesson plan such
as, there was no learning activity stated in the lesson plan, In core activity, there was no learning acti-
vity based on scientific approach, however in the aplication learning activity based on scientific app-
roach was done by the teacher itself. In post activity, the oral test given by the teacher couldn’t pro-
vide an accurate picture of students’ abilities, and remedial activities assigned by the teacher were not
included in the lesson plan. The implementation of the evaluation conducted by the teacher also had
weaknesses, such as: the teacher didn’t provide an assessment rubric for oral and written test, and a
list of questions for written tests.

Key words: writing, anecdote text, Indonesian subject, curriculum 2013

PENDAHULUAN mendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang


Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Kurikulum memiliki peran yang sa- Menengah.
ngat penting dalam dunia pendidikan. Ku- Pendidikan di Indonesia telah me-
rikulum menjadi penentu dalam pencapai- ngalami beberapa perubahan kurikulum.
an tujuan pendidikan. Dikatakan demikian, Mulai dari Kurikulum 1947, kemudian di-
karena kurikulum merupakan suatu renca- sempurnakan menjadi Kurikulum 1952,
na yang memberi pedoman atau pega- setelah itu Kurikulum 1975, berlanjut pada
ngan dalam proses kegiatan belajar-me- Kurikulum 2004, sampai Kurikulum 2006.
ngajar. Sehubungan dengan hal tersebut, Di tahun 2013 pun perubahan kurikulum
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 kembali terjadi untuk jenjang SD, SMP,
tentang Sistem Pendidikan Nasional me- SMA, dan SMK. Kurikulum yang diterap-
nyebutkan bahwa kurikulum adalah sepe- kan saat ini adalah Kurikulum 2013.
rangkat rencana dan pengaturan menge- Kurikulum 2013 merupakan prog-
nai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta ram menteri pendidikan yang berdasarkan
cara yang digunakan sebagai pedoman kajian untuk penyempurnaan kurikulum
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran 2006. Widyastono (2014:119) menyatakan
untuk mencapai tujuan pendidikan terten- bahwa Kurikulum 2013 menekankan pada
tu. Tanpa adanya suatu kurikulum, kegia- pengembangan kompetensi pengetahuan,
tan belajar-mengajar tersebut tidak dapat keterampilan, dan sikap peserta didik se-
berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, cara holistik atau seimbang. Pada tahun
kurikulum sangat menentukan pelaksana- 2013 lalu, penerapan kurikulum ini tidak
an pembelajaran dan hasil pendidikan. bisa dilaksanakan serentak pada semua
Selain itu, tercapai atau tidaknya tujuan sekolah yang ada di Indonesia, maka dari
pendidikan sangat ditentukan oleh proses itu ditunjuklah beberapa sekolah di Indo-
pembelajaran yang melibatkan perenca- nesia berdasarkan usulan dari pemerintah
naan pembelajaran, pelaksanaan proses provinsi guna menjadi pilot projek. Di Kota
pembelajaran, serta penilaian atau eva- Singaraja, ada tiga SMK Negeri yang di-
luasi proses pembelajaran. Hal itu tercer- tunjuk untuk menerapkan Kurikulum 2013,
min pada kutipan Bab I dalam Per- yaitu SMK Negeri 1 Singaraja, SMK Ne-
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
geri 2 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Si- bersifat fungsional, yaitu penggunaan ba-
ngaraja. hasa yang tidak pernah dapat dilepaskan
Sebagai bagian dari Kurikulum 20- dari konteks karena bentuk bahasa yang
13, pembelajaran bahasa Indonesia me- digunakan itu mencerminkan ide, sikap,
nekankan pada pentingnya keseimbangan nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4)
kompetensi sikap, pengetahuan, dan kete- bahasa merupakan sarana pembentukan
rampilan. Kemampuan berbahasa yang kemampuan berpikir manusia (Kemen-
dituntut tersebut dibentuk melalui pembe- dikbud, 2013: v).
lajaran berkelanjutan, dimulai dari pening- Sehubungan dengan prinsip-prin-
katan pengetahuan tentang jenis, kaidah, sip di atas, perlu disadari bahwa setiap
dan konteks suatu teks, dilanjutkan de- teks memiliki struktur tersendiri yang satu
ngan keterampilan menyajikan suatu teks sama lain berbeda. Sementara itu, struktur
tulis dan lisan, baik secara terencana teks merupakan cerminan struktur berpi-
maupun spontan. Pembelajaran bahasa kir. Dengan demikian, makin banyak jenis
Indonesia terus mengalami perubahan-pe- teks yang dikuasai oleh siswa, makin ba-
rubahan. Pendekatan pun terus berkem- nyak pula struktur berpikir yang dapat di-
bang. Pragmatik mendapat perhatian, ma- gunakannya dalam kehidupan sosial dan
ka pendekatan pragmatik digunakan da- akademiknya. Hanya dengan cara itu, sis-
lam pembelajaran. Pendekatan komuni- wa kemudian dapat mengonstruksi ilmu
katif muncul, maka pendekatan komuni- pengetahuannya melalui kemampuan me-
katif digunakan pula dalam pembelajaran. ngobservasi, mempertanyakan, mengaso-
Sekarang, Kurikulum 2013, pendekatan siasikan, menganalisis, dan menyajikan
yang digunakan adalah sistemik fungsio- hasil analisis secara memadai. Hal terse-
nal. Secara umum, Kurikulum 2013 meng- but, senada dengan apa yang diamatkan
gunakan pendekatan ilmiah (saintifik). dalam Kurikulum 2013, khususnya pada
Berbeda dengan KTSP, dalam KTSP pen- pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini
dekatan yang digunakan adalah pendeka- dapat diketahui berdasarkan Kompetensi
tan komunikatif. Peserta didik diharapkan Dasar (KD) yang tertuang dalam silabus
mampu berkomunikasi dengan menggu- ditingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/
nakan bahasa Indonesia, sedangkan kon- SMK/sederajat, khususnya di kelas X,
teks sosial budaya belum mendapatkan yang berbunyi “Mensyukuri anugerah Tu-
perhatian. Dengan penerapan Kurikulum han akan keberadaan bahasa Indonesia
2013 ini, peserta didik diharapkan tidak dan menggunakannya sebagai sarana ko-
hanya mampu berkomunikasi, tetapi juga munikasi dalam mengolah, menalar, dan
mampu memahami makna atau fungsi- menyajikan informasi lisan dan tulis mela-
fungsi berbahasa dan kebahasaan. lui teks anekdot, eksposisi, laporan hasil
Dengan hadirnya pendekatan ini- observasi, prosedur kompleks, dan nego-
lah, maka pembelajaran bahasa Indonesia siasi”. Dari ungkapan tersebut, jelas dinya-
mengalami perkembangan dan peruba- takan bahwa dalam pembelajaran bahasa
han. Pembelajaran bahasa Indonesia, Indonesia, peserta didik diharapkan mam-
khususnya pada jenjang SMA/SMK se- pu menggunakan bahasa Indonesia seba-
patutnya diarahkan untuk menerapkan gai sarana komunikasi dalam mengolah,
pembelajaran bahasa Indonesia berbasis menalar, dan menyajikan informasi secara
teks. Pembelajaran bahasa Indonesia ber- lisan maupun tulisan melalui berbagai
basis teks menjadi sangat penting untuk teks, salah satunya adalah teks anekdot.
diterapkan di sekolah-sekolah karena Secara garis besar teks dapat di-
pembelajaran bahasa Indonesia berbasis pilah atas teks sastra dan nonsastra. Teks
teks berdasarkan atas empat prinsip yang sastra dikelompokkan ke dalam teks
mungkin sering terabaikan. Prinsip-prinsip naratif dan nonnaratif. Adapun teks non-
itu meliputi (1) bahasa hendaknya dipan- sastra dikelompokkan ke dalam teks jenis
dang sebagai teks, bukan semata-mata faktual yang di dalamnya terdapat subke-
kumpulan kata atau kaidah kebahasaan, lompok teks laporan dan prosedural, serta
(2) penggunaan bahasa merupakan pro- teks tanggapan yang dikelompokkan ke
ses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan dalam subkelompok teks transaksional
untuk mengungkapkan makna, (3) bahasa dan ekspositori. Mengingat banyaknya
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
teks yang dipelajari di sekolah, khususnya dengan cara-cara yang inovatif, namun
pada jenjang SMA/SMK kelas X, sehingga betapa pun inovatifnya cara guru dalam
penting bagi guru bahasa Indonesia untuk menjelaskan materi mengenai teks anek-
terus belajar seiring dengan perkembang- dot kepada siswa, tentu saja ada kendala-
an teori pembelajaran bahasa. Kurikulum kendala yang dihadapi dalam pembelaja-
2013 menekankan pada keberagaman ran menulis teks anekdot. Meskipun pe-
teks. Teks-teks tersebut selama ini jarang serta didik sudah mendapatkan pembe-
diajarkan dalam pembelajaran bahasa In- lajaran berbasis teks dan pendekatan
donesia, seperti teks anekdot. ilmiah, namun peserta didik juga menda-
Dengan adanya keberagaman teks patkan kendala terutama di dalam mema-
inilah, sehingga pemahaman tentang teks hami teks anekdot karena pada pembe-
diperlukan oleh guru, karena selama ini lajaran sebelumnya siswa belum diperke-
pembelajaran di kelas hanya menekankan nalkan dengan teks anekdot.
pada paragraf, sedangkan jenis-jenis teks Teks anekdot adalah cerita singkat
belum diperkenalkan secara mendalam yang menarik karena lucu dan menge-
kepada peserta didik. Pada pembelajaran sankan, biasanya mengenai orang penting
bahasa Indonesia, Kurikulum 2013 mem- atau terkenal dan berdasarkan kejadian
berikan penegasan mengenai teks-teks sebenarnya. Teks anekdot adalah sebuah
yang digunakan dalam kehidupan nyata. teks yang berisi pengalaman seseorang
Peserta didik diperkenalkan secara lang- yang tidak biasa. Pengalaman yang tidak
sung dengan teks anekdot, di samping biasa tersebut disampaikan kepada orang
memuat perbandingan antarteks dan lain dengan tujuan untuk menghibur pem-
struktur teks. baca. Ada pengertian lain, bahwa teks
Hasil wawancara yang peneliti la- anekdot merupakan cerita rekaan yang
kukan dengan guru bahasa Indonesia tidak harus didasarkan pada kenyataan
yang mengajar di kelas X.A Akuntansi yang terjadi pada masyarakat, yang men-
SMK Negeri 1 Singaraja menunjukkan jadi partisipan atau pelaku di dalamnya
bahwa ada perbedaan antara pembe- pun tidak harus orang penting. Teks anek-
lajaran bahasa Indonesia dalam KTSP dot memiliki struktur abstraksi, orientasi,
dan Kurikulum 2013. Perbedaan tersebut krisis, reaksi, dan koda. (Kemendikbud,
tampak jelas pada materi yang diajarkan. 2013:111). Penelitian tentang pembela-
Dalam kurikulum KTSP, peserta didik jaran menulis teks anekdot dianggap
hanya diperkenalkan dengan jenis-jenis penting untuk diteliti mengingat bahwa
paragraf, seperti paragraf deskriptif, teks anekdot merupakan materi yang baru
naratif, eksposisi, persuasi, dan argumen- dan belum pernah diajarkan sebelumnya.
tasi. Sementara itu, dalam Kurikulum 2013 Bertolak dari hal-hal penting yang
pembelajaran bahasa Indonesia lebih dite- telah dipaparkan di atas, peneliti pun ter-
kankan pada keberagaman teks, salah tarik untuk mengangkat judul penelitian
satu materi menulis yang diajarkan dalam “Pembelajaran Menulis Teks Anekdot pa-
Kurikulum 2013 adalah teks anekdot. Dari da Mata Pelajaran Bahasa Indonesia da-
perbedaan tersebut, guru menyadari bah- lam Kurikulum 2013 di Kelas X.A Akun-
wa untuk membelajarkan materi tentang tansi SMK Negeri 1 Singaraja”. Peneliti
teks anekdot, guru perlu menerapkan me- melakukan penelitian di SMK Negeri 1 Si-
tode pembelajaran yang inovatif agar sis- ngaraja didasarkan atas pertimbangan
wa mampu memahami pembelajaran yang bahwa SMK Negeri 1 Singaraja meru-
diajarkan. pakan salah satu sekolah yang difavo-
Selain melakukan wawancara de- ritkan di kota Singaraja dan mendapatkan
ngan guru, peneliti juga melakukan wa- peringkat akreditasi A oleh Badan Akre-
wancara dengan beberapa siswa di SMK ditasi Provinsi Sekolah/Madrasah Provinsi
Negeri 1 Singaraja. Berdasarkan hasil wa- Bali, sehingga sebagai sekolah favorit,
wancara peneliti dengan siswa, dapat di- SMK Negeri 1 Singaraja ditunjuk untuk
peroleh informasi bahwa siswa merasa menjadi pilot projek dalam menerapkan
senang mengikuti pembelajaran menulis, Kurikulum 2013 sejak semester ganjil
khususnya pada materi teks anekdot. Hal tahun ajaran 2013/2014. Peneliti berasum-
ini dikarenakan guru mampu menjelaskan si bahwa sebagai sekolah favorit, tenaga
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
pengajar yang bertugas di sekolah terse- pembelajaran menulis teks anekdot pa-
but tentunya adalah tenaga pengajar yang da mata pelajaran bahasa Indonesia
berkompeten. dalam Kurikulum 2013 di SMK Negeri 1
Sepengetahuan penulis, terdapat Singaraja.
beberapa penelitian sejenis yang pernah
dilakukan oleh peneliti lain sehubungan 2. Manfaat Praktis
dengan penelitian yang peneliti kaji. Pe- Secara praktis, hasil penelitian ini
nelitian tersebut berjudul “Pembelajaran akan bermanfaat untuk beberapa
Bahasa Indonesia Berbasis Teks di Kelas pihak. Bagi pihak sekolah, hasil pene-
X SMA Negeri 1 Singaraja”. Penelitian litian ini dapat memberikan sumbangan
yang pernah dilakukan oleh Putu Suryani yang positif terhadap kemajuan seko-
(2014) tersebut, dirancang dalam bentuk lah, yang tercermin dari peningkatan
penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kemampuan profesional guru, perbaik-
sejenis juga pernah dilakukan oleh Ni an proses, dan kebermaknaan hasil be-
Komang Ayu Damayanti (2014) dengan lajar siswa dalam pembelajaran menu-
judul penelitian “Pembelajaran Menulis lis teks anekdot. Bagi guru, hasil pene-
Teks Anekdot Berpendekatan Saintifik litian ini dapat digunakan oleh para gu-
dengan Model Pembelajaran Berbasis ru sebagai bahan evaluasi terhadap
Proyek (Project Based Learning) Pada pembelajaran menulis teks anekdot
Siswa Kelas X Tata Kecantikan Kulit 1 Di yang telah berlangsung, sehingga da-
SMK Negeri 2 Singaraja”. Penelitian pat mengantisipasi terjadinya kendala-
tersebut menggunakan rancangan peneli- kendala yang dihadapi. Bagi siswa,
tian deskriptif kualitatif. Dengan mengacu pembelajaran yang berbasis Kurikulum
pada paparan di atas, dapat dikatakan 2013 ini akan mendorong para siswa
bahwa penelitian ini sangat menarik untuk untuk menjadi siswa yang lebih aktif,
dikaji dan sudah memenuhi unsur keba- kreatif, dan inovatif, karena pembela-
ruan. jaran berorientasi pada kegiatan siswa
Berdasarkan hal yang telah disam- dalam penulisan teks anekdot. Bagi
paikan sebelumnya, penelitian ini bertuju- peneliti lain, hasil penelitian ini bisa di-
an untuk mendeskripsikan: (1) perenca- gunakan sebagai bahan informasi dan
naan guru bahasa Indonesia di kelas X.A referensi bagi peneliti lain yang memer-
Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja terkait lukan hasil dari penelitian ini sebagai
dengan pembelajaran menulis teks anek- bahan perbandingan untuk melakukan
dot, (2) pelaksanaan pembelajaran menu- penelitian sejenis demi peningkatan
lis teks anekdot yang dilakukan oleh guru proses serta hasil pembelajaran yang
bahasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi terkait menulis teks anekdot sehubu-
SMK Negeri 1 Singaraja, (3) evaluasi yang ngan dengan penerapan Kurikulum 20-
dilakukan oleh guru bahasa Indonesia ter- 13, guna mewujudkan tujuan yang di-
kait dengan pembelajaran menulis teks idealkan dalam pendidikan.
anekdot di kelas X.A Akuntansi SMK Ne-
geri 1 Singaraja, dan (4) kendala-kendala METODE PENELITIAN
yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam Penelitian ini menggunakan ranca-
pembelajaran menulis teks anekdot. ngan penelitian induktif kualitatif, atau
Adapun manfaat yang bisa diperoleh yang selama ini lazim disebut dengan des-
dari penelitian ini dapat dibedakan menja- kriptif kualitatif. (Suandi, 1998:67) menya-
di dua, yakni manfaat teoretis dan praktis. takan bahwa penelitian deskriptif kualitatif
1. Manfaat Teoretis memberikan predikat kepada variabel
Secara teoretis, hasil penelitian ini yang diteliti sesuai dengan kondisi yang
dapat memberikan sumbangan pemiki- sebenarnya. Sementara itu, Sugiyono, (
ran tentang pembelajaran menulis teks 2008:15) menyatakan bahwa rancangan
anekdot, khususnya pada mata pelaja- penelitian induktif kualitatif adalah ranca-
ran bahasa Indonesia dalam Kurikulum ngan penelitian yang digunakan untuk
2013 di SMK Negeri 1 Singaraja. Sela- memperoleh data atau fakta-fakta yang
in itu, hasil penelitian ini akan memberi- bersifat khusus menuju ke hal yang ber-
kan konfirmasi teoretis terhadap proses sifat umum. Dengan kata lain, rancangan
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
penelitian induktif kualitatif digunakan un- guru bahasa In- dan
tuk memperoleh data secara mendalam, donesia di kelas doku-
yaitu suatu data yang mengandung mak- X.A Akuntansi mentasi
na. Makna adalah data yang sebenarnya, SMK Negeri 1
data yang pasti yang merupakan suatu ni- Singaraja terkait
lai dibalik data yang tampak. Hal tersebut dengan pembe-
sesuai dengan hakikat penelitian kualitatif, lajaran menulis
yaitu bertujuan untuk memahami realitas teks anekdot?
secara mendalam dan mengungkapkan
maknanya (Putra, 2012:6). 2. Bagaimanakah Obser- Deskriptif
Subjek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan vasi kualitatif
guru pengampu mata pelajaran bahasa In- pembelajaran dan
donesia dan siswa kelas X.A Akuntansi menulis teks doku-
SMK Negeri 1 Singaraja. Objek penelitian anekdot yang mentasi
ini adalah pembelajaran menulis teks dilakukan oleh
anekdot pada mata pelajaran bahasa In- guru bahasa In-
donesia dalam Kurikulum 2013. donesia di kelas
Dalam pengumpulan data peneliti- X.A Akuntansi
an, peneliti menggunakan tiga metode pe- SMK Negeri 1
ngumpulan data, yaitu metode observasi, Singaraja?
metode wawancara, dan metode doku-
mentasi. metode observasi digunakan un- 3. Bagaimanakah Obser- Deskriptif
tuk memperoleh data mengenai pelaksa- evaluasi yang vasi kualitatif
naan dan evaluasi pembelajaran menulis dilakukan oleh wawan
teks anekdot yang dilakukan oleh guru ba- guru bahasa In- cara
hasa Indonesia di kelas X.A Akuntansi donesia di kelas dan
SMK Negeri 1 Singaraja. Metode wawan- X.A Akuntansi doku-
cara digunakan untuk memperoleh infor- SMK Negeri 1 mentasi
masi atau data yang lebih akurat menge- Singaraja terkait
nai pembelajaran menulis teks anekdot dengan pembe-
pada Kurikulum 2013, khususnya yang lajaran menulis
berkaitan dengan perencanaan, pelaksa- teks anekdot?
naan, evaluasi, dan kendala-kendala yang 4. Bagaimanakah
dihadapi dalam pembelajaran menulis kendala-kenda- Wawan Deskriptif
teks anekdot. Dokumen yang digunakan la yang dihada- cara kualitatif
dalam penelitian ini untuk dicermati dan pi oleh guru dan
dianalisis adalah berupa Rencana Pelak- siswa dalam
sanaan Pembelajaran (RPP), khusus ten- pembelajaran
tang pembelajaran menulis teks anekdot menulis teks
di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 anekdot?
Singaraja. Untuk lebih memahami menge-
nai metode pengumpulan data yang akan
dilakukan, dapat dilihat pada tabel di ba- Teknik analisis data yang peneliti
wah ini. gunakan adalah teknik analisis induktif
kualitatif atau yang lazim disebut dengan
Tabel 01 Metode Pengumpulan Data deskriptif kualitatif. Teknik induktif kuali-
tatif/deskriptif kualitatif adalah suatu teknik
Meto- menganalisis data dengan cara mengin-
de Pe- terpretasikan data yang diperoleh dengan
Rumusan Analisis
ngum- kata-kata. Analisis data kualitatif dilakukan
masalah Data
pulan secara berkelanjutan sampai tuntas, se-
Data hingga data yang diperoleh sudah menca-
pai data jenuh. Analisis data dalam pene-
1. Bagaimanakah Wawan Deskriptif litian ini mencakup empat tahap, yaitu 1)
perencanaan cara kualitatif
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
tabulasi data, 2) reduksi data, 3) penyajian secara terperinsi dalam RPP belumlah
data, dan (4) penyimpulan data. cukup pula menggambarkan materi pela-
jaran yang dipersiapkan atau direncana-
HASIL DAN PEMBAHASAN kan oleh guru, sehingga sulit diketahui ke-
Hasil penelitian ini mencakup data- luasan materi atau pun kedalaman materi
data tentang (1) perencanaan guru baha- yang direncanakan sekaligus dikuasai o-
sa Indonesia di kelas X.A Akuntansi SMK leh guru itu sendiri. Padahal, isi RPP yang
Negeri 1 Singaraja terkait dengan pembe- dalam hal ini terkait dengan kejelasan rin-
lajaran menulis teks anekdot, (2) pelaksa- cian materi juga diperuntukan sebagai in-
naan pembelajaran menulis teks anekdot formasi untuk mengetahui kemampuan
yang dilakukan oleh guru di kelas X.A guru dalam merencanakan pembelajaran.
Akuntansi SMK Negeri 1 Singaraja, (3) Kelemahan lain yang terdapat da-
evaluasi yang dilakukan oleh guru terkait lam RPP buatan guru, yaitu terkait dengan
dengan pembelajaran menulis teks anek- pencantuman pendekatan/metode. Kepu-
dot di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 tusan untuk mencantumkan pendekatan
Singaraja, dan (4) kendala-kendala yang saintifik pada RPP sudah sesuai dengan
dihadapi oleh guru dan siswa dalam pem- pendekatan yang digunakan dalam Kuri-
belajaran menulis teks anekdot. kulum 2013. Akan tetapi, untuk pencantu-
Sebelum melaksanakan pembela- man metode yang digunakan dalam pem-
jaran di kelas terlebih dahulu guru me- belajaran belum sesuai dengan kurikulum
nyusun perencanaan pembelajaran. Pe- 2013. Dalam Kurikulum 2013, terdapat
rencanaan pembelajaran yang dibuat oleh beberapa metode yang digunakan dalam
guru terangkum dalam RPP. RPP disusun pembelajaran, di antaranya adalah project
berdasarkan silabus. Dalam Kurikulum based learning, problem based learning,
2013, silabus sudah disiapkan oleh peme- dan discovery learning. Sementara itu, da-
rintah, sehingga guru tinggal mengem- lam RPP yang dibuat oleh guru, metode
bangkan rencana pembelajaran yang tidak yang dicantumkan adalah metode eksplo-
terlalu jelimet (Mulyasa, 2013:181). Wa- rasi, elaborasi, dan konfirmasi.
laupun demikian, perencanaan pembelaja- Pembahasan selanjutnya, yakni
ran yang dibuat oleh guru, masih memiliki terkait dengan kegiatan pembelajaran. Pa-
beberapa kelemahan, di antaranya ada- da bagian pendahuluan guru perlu meru-
lah: tujuan pembelajaran belum seluruh- muskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
nya sesuai dengan indikator. Dari lima tu- oleh peserta didik/merumuskan rencana
juan pembelajaran yang dirumuskan, em- kegiatan pembelajaran. Dalam Permen-
pat di antaranya sudah sesuai dengan in- dikbud Nomor 81 A Tahun 2013 disebut-
dikator, sedangkan satu tujuan pembela- kan bahwa salah satu hal yang harus dila-
jaran lainnya belum sesuai dengan indi- kukan oleh guru pada kegiatan penda-
kator. Permendikbud Nomor 81 A Tahun huluan adalah menjelasan tentang kegiat-
2013 tentang Implementasi Kurikulum Pe- an yang akan dilakukan oleh peserta didik
doman Umum Pembelajaran, dijelaskan untuk menyelesaikan permasalahan atau
bahwa tujuan pembelajaran dapat diorga- tugas.
nisasikan mencakup seluruh KD atau Pada kegiatan inti belum memuat
diorganisasikan untuk setiap pertemuan. langkah-langkah pembelajaran sesuai
Tujuan mengacu pada indikator, paling ti- dengan tahapan pendekatan saintifik. Ta-
dak mengandung dua aspek, yaitu audi- hapan-tahapan tersebut meliputi kegiatan
ence (peserta didik) dan behavior (aspek mengamati, menanya, menalar, mengaso-
kemampuan). Jadi, dalam RPP yang di- siasikan, dan mengomunikasikan. Pada-
rancang oleh guru hendaknya dirumuskan hal, dalam Kurikulum 2013 diamanatkan
tujuan pembelajaran yang disesuaikan tentang esensi pendekatan ilmiah dalam
dengan indikator. pembelajaran. Dalam permendikbud No-
Temuan lain yang peneliti dapat- mor 81 A Tahun 2013 menyatakan bahwa
kan, yaitu materi pelajaran yang dican- kegiatan inti menggunakan metode yang
tumkan oleh guru dalam RPP hanya be- disesuaikan dengan karakteristik peserta
rupa garis-garis besarnya saja. Materi didik dan mata pelajaran, yang meliputi
pembelajaran yang belum cukup diterakan
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
proses observasi, menanya, mengumpul- pada bagian pendahuluan, yaitu menyam-
kan informasi, asosiasi, dan komunikasi. paikan garis besar cakupan materi dan
Kelemahan lainnya, yaitu pada ke- penjelasan tentang kegiatan yang akan
giatan penutup pembelajaran guru tidak dilakukan peserta didik untuk menyelesai-
mencantumkan kegiatan pengayaan atau kan permasalahan atau tugas. Berdasar-
remidi. Namun, bila diamati secara kese- kan hal tersebut, rencana kegiatan pem-
luruhan isi rincian kegiatan penutup dalam belajaran yang disampaikan oleh guru ke-
RPP buatan guru yang digunakan sebagai tika kegiatan belajar mengajar berlang-
pedoman pembelajaran sudah sesuai de- sung penting untuk diterakan dalam RPP,
ngan komponen dalam lampiran IV Per- mengingat bahwa RPP merupakan acuan
mendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 bagi guru untuk melaksanakan kegiatan
tentang Implementasi Kurikulum Pedoman pembelajaran agar pembelajaran di dalam
Umum Pembelajaran, khususnya pada kelas dapat berlangsung secara lebih ter-
bagian kegiatan penutup. Hal yang belum arah, serta dapat berjalan dengan efektif
tercantum, yakni kegiatan pengayaan atau dan efisien.
remidi. Kemendikbud (dalam Widyastono, Ketidaksesuaian antara RPP dan
2014:206) menyatakan bahwa kegiatan pelaksanaan pembelajaran juga tampak
penutup yang menjadi bagian dari proses pada langkah-langkah pembelajaran. Pa-
pelaksanaan pembelajaran diukur dengan da kegiatan inti yang dirancang oleh guru
indikator berupa serangkaian kegiatan, sa- dalam RPP belum memuat kegiatan pem-
lah satunya adalah merencanakan kegiat- belajaran dengan mengacu pada tahapan-
an tindak lanjut dalam bentuk pembela- tahapan pembelajaran dengan pendeka-
jaran remidi, program pengayaan, dan la- tan saintifik, akan tetapi dalam pelaksa-
yanan konseling. naannya guru sudah melakukan kegiatan
Kelemahan terakhir yang akan di- pembelajaran sesuai dengan pendekatan
bahas terkait dengan RPP buatan guru saintifik. Dalam Permendikbud Nomor 81
adalah pada rubrik “penilaian hasil” contoh A Tahun 2013 dinyatakan bahwa kegiatan
instrumen yang digunakan belum selu- inti merupakan proses pembelajaran untuk
ruhnya sesuai dengan indikator. Bentuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara
instrumen yang digunakan adalah berupa interaktif, inspiratif, menyenangkan, me-
empat pertanyaan-pertanyaan. Dari keem- nantang, memotivasi peserta didik untuk
pat pertanyaan tersebut, tiga pertanyaan secara aktif menjadi pencari informasi,
sudah sesuai dengan indikator, sedang- serta memberikan ruang yang cukup bagi
kan satu pertanyaan lainnya belum sesuai prakarsa, kreativitas, dan kemandirian se-
dengan indikator. Dalam Permendikbud suai bakat, minat dan perkembangan fisik
Nomor 81 A Tahun 2013 juga dinyatakan serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti
bahwa prosedur dan instrumen penilaian menggunakan metode yang disesuaikan
proses dan hasil belajar disesuaikan de- dengan karakteristik peserta didik dan ma-
ngan indikator pencapaian kompetensi da- ta pelajaran, yang meliputi proses obser-
sar dan mengacu kepada standar penilai- vasi, menanya, mengumpulkan informasi,
an. asosiasi, dan komunikasi. Berdasarkan
Dilihat dari segi pelaksanaan pem- pengertian tersebut, hendaknya semua
belajaran, secara umum guru sudah me- kegiatan yang dilakukan oleh guru saat
laksanakan pembelajaran sesuai dengan pembelajaran di kelas dicantumkan di da-
Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013, lam RPP.
namun terdapat beberapa ketidaksesuai- Kelemahan pada kegiatan penutup
an antara RPP yang dirancang oleh guru yang dilakukan oleh guru pada pelaksa-
dan pelaksanaannya di kelas. Ketidakse- naan pembelajaran, yaitu tes lisan yang
suaian tersebut salah satunya adalah ren- diberikan oleh guru belum bisa memberi-
cana kegiatan pembelajaran yang disam- kan gambaran yang akurat terhadap ke-
paikan oleh guru saat pelaksanaan pem- mampuan peserta didik dalam memahami
belajaran tidak dicantumkan di dalam materi mengenai teks anekdot, karena ti-
RPP. Dalam Permendikbud Nomor 81 A dak semua peserta didik menjawab perta-
Tahun 2013 disebutkan bahwa salah satu nyaan yang diajukan oleh guru. Hal itu se-
kegiatan yang harus dilakukan oleh guru ngaja dilakukan oleh guru karena dari tes
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
lisan itulah guru akan melihat keaktifan evaluasi lebih terarah. Apabila rubrik tidak
peserta didik pada saat mengikuti pembe- ada, maka guru akan kesulitan untuk me-
lajaran. Pada saat peserta didik menjawab ngetahui hasil belajar peserta didik. Se-
pertanyaan, guru akan mengetahui secara perti yang diungkapkan oleh Kunandar
langsung jawaban dari peserta didik, se- (2007:355) bahwa evaluasi hasil belajar
hingga guru dapat mengetahui konsep adalah suatu tindakan atau suatu proses
yang sudah tertanam dalam diri peserta untuk menentukan nilai keberhasilan bela-
didik. Hal tersebut senada dengan yang jar peserta didik setelah mengalami pro-
disampaikan oleh Sutikno bahwa tes lisan ses belajar selama satu periode tertentu.
adalah tes soal dan jawabannya menggu- Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ni
nakan bahasa lisan, siswa akan menja- Ketut Midiastini pada tahun 2014 dengan
wab dengan kata-kata sendiri sesuai de- judul penelitian “Pelaksanaan Pembelaja-
ngan pertanyaan perintah yang diberikan ran Bahasa Indonesia dengan Pende-
(Sutikno, 2007:88). Jadi, pemberian tes katan Tematik Berdasarkan Kurikulum 20-
lisan kepada peserta didik oleh guru itu 13 pada Kelas IV SD Saraswati Denpa-
sudah bagus, hanya saja guru harus me- sar”, juga terdapat temuan, yaitu guru ti-
rancang tes lisan yang dapat memberikan dak mencantumkan kriteria pemberian
gambaran yang jelas terhadap kemam- skor. Dalam penelitiannya, Midiastini me-
puan peserta didik dalam memahami ma- nyarankan bahwa pada pelaksanaan eva-
teri tentang teks anekdot dan melibatkan luasi hasil pembelajaran guru hendaknya
seluruh peserta didik. mencantumkan instrumen yang jelas ber-
Evaluasi merupakan suatu tinda- bentuk butir soal dan penskoran yang su-
kan atau proses untuk menentukan nilai dah ditetapkan pada standar penilaian da-
dari sesuatu (Want dan Gerald W. Brown, lam kurikulum 2013.
dalam Sudaryono, 2012:38). Menurut Beranjak dari implementasi pem-
Sudijono (2012:2), evaluasi merupakan belajaran menulis teks anekdot pada mata
kegiatan atau proses penentuan nilai pen- pelajaran bahasa Indonesia dalam kuri-
didikan, sehingga dapat diketahui mutu kulum 2013 di kelas X.A Akuntansi SMK
dan hasil-hasilnya. Evaluasi yang dilaku- Negeri 1 Singaraja, terdapat beberapa
kan oleh guru untuk mengetahui perkem- kendala yang dialami oleh guru dan siswa
bangan peserta didik, yaitu penilaian kom- dalam pembelajaran menulis teks anek-
petensi sikap, pengetahuan, dan kete- dot. Adapun kendala yang dialami oleh
rampilan. Secara umum, ketiga penilaian guru, yaitu guru mengalami kesulitan un-
tersebut sudah dilaksanakan oleh guru tuk membangkitkan semangat siswa da-
dan sudah sesuai dengan Permendikbud lam belajar. Dikatakan demikian, karena
Nomor 81 A Tahun 2013. Secara lebih selama ini siswa kurang memiliki kesada-
mengkhusus, evaluasi yang dilakukan ran akan pentingnya belajar mandiri. Se-
oleh guru memiliki beberapa kelemahan, jauh ini, guru mengamati bahwa siswa su-
salah satunya adalah tidak disediakannya lit sekali mencari informasi tentang materi
rubrik penilaian untuk tes lisan dan tulis, yang sedang dan akan dipelajari jika tidak
serta tidak disediakannya daftar perta- diperintahkan terlebih dahulu oleh guru.
nyaan untuk tes lisan. Hal ini disebabkan Oleh karena itu, guru harus memerintah-
karena tes lisan yang diberikan oleh guru kan siswa untuk mencari informasi tamba-
pada saat pembelajaran berlangsung me- han di internet, media massa, atau pun
rupakan pertanyaan yang muncul secara pada sumber lain, barulah siswa mau be-
spontan. Maka dari itu, guru tidak mem- kerja sesuai dengan apa yang diperintah-
buat daftar pertanyaan untuk tes lisan kan oleh guru. Kalau tidak ada tugas/
yang dilaksanakan dalam pembelajaran. perintah dari guru, siswa tidak memiliki
Rubrik penilaian untuk tes tulis dan kesadaran sendiri untuk belajar mandiri.
lisan juga tidak dibuat oleh guru karena Berdasarkan hambatan yang diha-
guru memberikan penilaian langsung ke- dapi oleh guru seperti disebutkan di atas,
pada peserta didik pada saat menjawab cara yang dapat dilakukan untuk menga-
soal yang diberikan. Untuk dapat menge- tasi kendala tersebut adalah dengan me-
valuasi hasil belajar siswa, guru harus ber- ngingatkan sekaligus memotivasi peserta
pedoman pada rubrik penilaian agar didik bahwa informasi bisa berasal dari
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
mana saja, kapan saja, dan tidak bergan- sebut, setidaknya siswa akan mengetahui
tung pada informasi searah dari guru. bagaimana memadukan unsur lucu yang
Oleh karena itu, kondisi pembelajaran sekaligus bermakna sindiran.
yang diharapkan adalah tercipta diarahkan
untuk mendorong peserta didik dalam SIMPULAN DAN SARAN
mencari tahu informasi dari berbagai sum- Berdasarkan hasil dan pembahasan,
ber melalui observasi, dan bukan hanya dapat disimpulkan beberapa hal mengenai
diberi tahu. penelitian ini.
Selain kendala yang dialami oleh Pertama, perencanaan yang dilaku-
guru, terdapat pula beberapa kendala kan oleh guru sebelum melaksanakan
yang dialami oleh siswa. Kendala-kendala pembelajaran, yaitu menyusun Rencana
tersebut meliputi, (1) siswa mengalami ke- Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP
sulitan dalam menentukan cerita yang ter- yang disusun oleh guru sudah sesuai de-
golong lucu. Hal ini disebabkan oleh ka- ngan Permendikbud Nomor 81 A Tahun
dar/tingkat kelucuan yang dimiliki oleh se- 2013, namun ditemukan beberapa kompo-
tiap siswa berbeda-beda. Boleh jadi apa nen RPP yang harus diperbaiki dan di-
yang menurut mereka lucu, tetapi menurut lengkapi oleh guru, yaitu: tujuan pembe-
orang lain itu tidak lucu; (2) siswa merasa lajaran belum seluruhnya sesuai dengan
kesulitan dalam menyusun dialog, utama- indikator, materi pelajaran perlu diperinci,
nya dialog-dialog yang menandai unsur- metode yang digunakan dalam pembela-
unsur teks anekdot seperti abstraksi, ori- jaran harus disesuaikan dengan kurikulum
entasi, krisis, reaksi, dan koda. Dengan 2013, pada bagian pendahuluan guru per-
kata lain, siswa merasa kesulitan ketika lu merumuskan kegiatan-kegiatan yang di-
menyusun dialog dengan mengaplikasikan lakukan oleh peserta didik, pada bagian
struktur teks anekdot. dan (3) siswa me- kegiatan inti guru perlu merumuskan lang-
rasa kesulitan dalam menyatu-padukan kah-langkah pembelajaran sesuai dengan
unsur lucu bernuansa sindiran. Dengan tahapan-tahapan pendekatan saintifik, pa-
kata lain, siswa merasa kesulitan dalam da kegiatan penutup pembelajaran guru ti-
menyusun cerita yang bersifat lucu, tetapi dak mencantumkan kegiatan pengayaan
sebenarnya unsur lucu tersebut dimak- atau remidi, dan pada rubrik “penilaian ha-
sudkan untuk menyindir seseorang. sil” contoh instrumen yang digunakan be-
Untuk mengatasi kendala yang be- lum seluruhnya sesuai dengan indikator.
rupa kesulitan dalam menentukan cerita Kedua, pelaksanaan pembelajaran
lucu, siswa hendaknya memilih dan men- menulis teks anekdot pada mata pelajaran
cari hal-hal unik yang jarang ditemui/diala- bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013
mi oleh orang lain, setidaknya cerita yang di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1
dipilih itu mengandung unsur lucu, se- Singaraja pada dasarnya sudah sesuai
hingga siswa lainnya pun akan merasa dengan Permendikbud Nomor 81 A Tahun
terhibur. Dengan mereka merasa terhibur, 2013. Namun, secara lebih mengkhusus,
cerita tersebut dapat digolongkan ke da- terdapat ketidaksesuaian antara RPP
lam cerita lucu. Untuk mengatasi kesulitan yang dirancang oleh guru dengan pelak-
siswa dalam menyusun dialog dengan sanaan pembelajaran di kelas, yaitu ren-
mengaplikasikan struktur teks anekdot, cana kegiatan pembelajaran yang disam-
siswa terlebih dahulu harus memahami paikan oleh guru saat pelaksanaan pem-
konsep struktur teks itu sendiri, setelah itu belajaran tidak dicantumkan di dalam
mulailah menyusun dialog dengan meng- RPP, kemudian pada kegiatan inti yang di-
gunakan bahasa yang ringan agar tidak rancang oleh guru belum memuat kegiat-
terlalu memberatkan pikiran. Untuk me- an pembelajaran dengan mengacu pada
ngatasi kesulitan siswa dalam menyusun tahapan-tahapan pembelajaran dengan
cerita lucu bernuansa sindiran, ada baik- pendekatan saintifik, akan tetapi dalam
nya jika siswa mencari dan membaca bu- pelaksanaannya guru sudah melakukan
ku-buku cerita humor, menonton acara- kegiatan pembelajaran sesuai dengan
acara lawak pada tayangan televisi, dan pendekatan saintifik. Kegiatan penutup
mencari contoh-contoh cerita lucu di inter- yang dilakukan oleh guru dan peserta di-
net. Dengan pengalaman-pengalaman ter- dik sudah sesuai dengan RPP buatan gu-
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
ru, hanya saja tes lisan yang diberikan o- 2013 secepat mungkin dapat terealisasi-
leh guru belum bisa memberikan gambar- kan dengan baik. Peningkatan pengadaan
an yang akurat terhadap kemampuan pe- fasilitas yang lebih lengkap berupa sarana
serta didik. Di samping itu, kegiatan pe- prasarana perlu diupayakan untuk menun-
ngayaan dan remidi yang diberikan oleh jang kegiatan pembelajaran di kelas.
guru kepada peserta didik perlu dicantum- Ketiga, peneliti memberikan saran
kan di dalam RPP. kepada pemerintah untuk memberikan
Ketiga, evaluasi pembelajaran me- pelatihan yang lebih intensif kepada guru
nulis teks anekdot pada mata pelajaran dalam penerapan Kurikulum 2013, sehing-
bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 ga guru dapat menerapkan pembelajaran
di kelas X.A Akuntansi SMK Negeri 1 Si- yang berbasis Kurikulum 2013 dengan
ngaraja sudah sesuai dengan Permen- baik dan sesuai dengan harapan. Selain
dikbud Nomor 81 A Tahun 2013, yaitu itu, pemerintah hendaknya selalu melaku-
menggunakan penilaian autentik. Pada kan supervisi ke sekolah-sekolah yang te-
pelaksanaan evaluasi, guru melakukan lah menerapkan Kurikulum 2013 agar da-
penilaian kompetensi sikap (berupa peni- pat mengetahui sejauh mana penerapan
laian diri, observasi, antarteman, dan jur- kurikulum sudah terlaksana dan dapat
nal), penilaian kompetensi pengetahuan, dengan cepat mengetahui penyimpangan
dan penilaian kompetensi keterampilan. yang ada dalam penerapan Kurikulum
Keempat, kendala yang dialami oleh 2013.
guru, yaitu guru mengalami kesulitan un- Keempat, peneliti lain disarankan
tuk membangkitkan semangat siswa da- untuk melakukan penelitian lanjutan de-
lam belajar. Sedangkan, kendala yang di- ngan memperluas masalah dan situs pe-
alami oleh siswa antara lain: (1) siswa me- nelitian ini dengan mengembangkan in-
ngalami kesulitan dalam menentukan ce- strumen penilaian sikap, pengetahuan,
rita yang tergolong lucu, (2) siswa merasa dan keterampilan. Dengan demikian, hasil
kesulitan dalam menyusun dialog, utama- penelitian ini menjadi lebih luas dan dapat
nya dialog-dialog yang menandai unsur- dipertanggungjawabkan.
unsur teks anekdot seperti abstraksi, ori-
entasi, krisis, reaksi, dan koda. dan (3) DAFTAR PUSTAKA
siswa merasa kesulitan dalam menyatu-
padukan unsur lucu bernuansa sindiran. Damayanti, Ni Komang Ayu. 2014.
Dengan kata lain, siswa merasa kesulitan Pembelajaran Menulis Teks
dalam menyusun cerita yang bersifat lucu, Anekdot Berpendekatan Saintifik
tetapi sebenarnya unsur lucu tersebut di- dengan Model Pembelajaran
maksudkan untuk menyindir seseorang. Berbasis Proyek (Project Based
Berdasarkan hasil penelitian dan Learning) pada Siswa Kelas X Tata
simpulan di atas, saran-saran yang dapat Kecantikan Kulit 1 Di SMK Negeri
disampaikan dalam penelitian ini adalah 2 Singaraja. Skripsi (tidak
sebagai berikut. diterbitkan). Singaraja:
Pertama, guru hendaknya selalu UNDIKSHA.
melakukan perbaikan, pengembangan ide,
dan konsep serta inovasi pembelajaran Kemendikbud. 2013. Buku Guru: Bahasa
baik pada aspek perencanaan, pelaksa- Indonesia Ekspresi Diri dan
naan, maupun evaluasi pembelajaran se- Akademik untuk Kelas X. Jakarta:
hingga mutu pendidikan dapat tercapai le- Kementerian Pendidikan dan
bih optimal. Kebudayaan.
Kedua, untuk menunjang pelaksana-
an pembelajaran sesuai dengan Kuriku- -------. 2013. Buku Siswa: Bahasa
lum 2013, hendaknya sekolah memberi- Indonesia Ekspresi Diri dan
kan pelatihan tentang implementasi Kuri- Akademik untuk Kelas X. Jakarta:
kulum 2013 secara berkelompok kepada Kementerian Pendidikan dan
guru yang bertugas menerapkan Kuriku- kebudayaan.
lum 2013 di kelas, sehingga pelaksanaan
pembelajaran yang berbasis Kurikulum
e-Journal JPBSI Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 3 No 1 Tahun 2015)
-------. 2013c. Salinan Peraturan Menteri Suandi, I Nengah. 1998. Pengantar
Pendidikan dan Kebudayaan Metodologi Penelitian Bahasa.
Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Singaraja: FKIP Universitas
Pedoman Implementasi Kurikulum Udayana.
2013. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Sudaryono. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi
Pembelajaran. Yogyakarta: Graha
Kunandar. 2007. Guru Profesional Ilmu.
Implementasi Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sudijono, Anas. 2012. Pengantar Evaluasi
Persiapan Guru Menghadapi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Grapindo Persada.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Midiastini, Ni Ketut. 2014. Pelaksanaan Pendidikan: Pendekatan
Pembelajaran Bahasa Indonesia Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
dengan Pendekatan Tematik Bandung: Alfabeta.
Berdasarkan Kurikulum 2013 pada
Kelas IV SD Saraswati Denpasar. Suryani, Putu. 2014. Pembelajaran
Tesis (tidak diterbitkan). Singaraja: Bahasa Indonesia Berbasis Teks
PPS UNDIKSHA. Di Kelas X SMA Negeri 1
Singaraja. Skripsi (tidak
Mulyasa, H.E. 2013. Pengembangan dan diterbitkan). Singaraja:
Implementasi Kurikulum 2013. UNDIKSHA.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sutikno, M. Sobry. 2007. Menggagas
Peraturan Menteri Pendidikan dan Pembelajaran Efektif dan
Kebudayaan Republik Indonesia Bermakna. Mataram: NTP Press.
Nomor 81A Tahun 2013 tentang
Implementasi Kurikulum Pedoman Widyastono, Herry. 2014. Pengembangan
Umum Pembelajaran. Jakarta. Kurikulum di Era Otonomi Daerah:
dari Kurikulum 2004, 2006, ke
Putra, Nusa. 2012. Penelitian Kualitatif: kurikulum 2013. Jakarta: Bumi
Proses dan Aplikasi. Jakarta: PT Aksara.
Indeks.

Salinan Lampiran Peraturan Menteri


Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 65
Tahun 2013 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah. 2013.